Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 3 - 1


Se Joo menjerit ketakutan saat Seol mengangkat sekopnya tinggi-tinggi... lalu menghujamkannya ke tanah dan Se Joo langsung pingsan saking shock-nya.

Wang Bang Wool menatap langit yang mendung dengan penasaran lalu bertanya pada Bang Jin tentang arti nama Seol yang atinya salju. Bang Jin jadi cemas kenapa Bang Wool tiba-tiba menanyakan hal itu. Entah apa yang Bang Wool pikirkan, tapi dia hanya menjawab pertanyaan Bang Jin dengan menyuruhnya angkat jemuran, bentar lagi hujan.

Tapi kemudian dia menatap langit lagi sambil menggumam, "Aku tidak yakin apakah yang berseberangan ini adalah takdir baik atau buruk. Aku harap semuanya tidak jadi runyam."


Sementara Seol terus menggali tanah tanpa mempedulikan Se Joo yang pingsan, pria di rumah Se Joo - Penulis Yoo, mulai mengetik naskah dengan menggunakan mesin ketiknya Se Joo.

Seol berhenti sejenak lalu mengeluarkan sapu tangannya untuk mengelap wajahnya tanpa menyadari jam sakunya terjatuh. Penulis Yoo pun berhenti untuk merokok, dia terdiam sejenak saat melihat tulisan Carpe Diem di korek apinya.

 

Hujan deras akhirnya berhenti dan. Se Joo pun mulai siuman dan hal pertama yang didengarnya adalah suara Seol yang meyakinkannya kalau dia akan segera sembuh dan tidak usah mencemaskan apapun karena Seol adalah penggemar beratnya Se Joo, dia pasti akan menjaga Se Joo dengan baik.

Tapi saat Se Joo hendak menggerakkan tubuhnya, dia malah mendapati tubuhnya diikat di kasur dan kepalanya terbungkus oleh sebuah benda bentuk kerucut. Awalnya dia tidak ingat, namun kemudian dia teringat pada Seol dan sekopnya.

Se Joo kontan ketakutan. Dia langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan melihat sebuah buku berjudul Penguntit dan Seol yang mengangkat sebuah suntikan besar. Se Joo semakin ketakutan melihat itu.

Melihatnya sudah sadar, Seol pun mendekatinya dengan membawa suntikan besar itu dan berkata bahwa Se Joo beruntung masih hidup dan kebetulan mereka bertemu di saat yang tepat.

"Bagaimana menurutmu? Bukankah ini cukup sempurna untuk disebut keajaiban?"

"Yang benar saja. Apa-apaan ini? Dia kira aku anjing apa?" Batin Se Joo.

"Tidak bisa dibilang tidak juga sih," lanjut Seol seolah bisa mendengar pikiran Se Joo. Se Joo semakin ketakutan dan berpikir apakah Seol itu psikopat.

"Tidak." Ujar Seol, lagi-lagi terdengar seolah dia bisa membaca pikiran Se Joo. Tapi yang dimaksudnya adalah lanjutan ucapannya tadi. Hujan deras membuat jalan ke tempat ini rusak parah jadi tim penyelamat tidak bisa datang dan dia sudah berusaha melakukan pertolongan pertama untuk menggunakan peralatan seadanya yang bisa dia temukan di sini.


Dia lalu mendekatkan suntikan besarnya ke mulut Se Joo. Tapi Se Joo menutup mulutnya rapat-rapat. Seol berusaha memperingatkannya untuk tidak bergerak, tapi Se Joo terus menggetarkan tubuhnya dan berusaha memberontak. Kesal, Seol berusaha membuka paksa mulut Se Joo dengan mencengkeram erat kedua pipi Se Joo. Tapi Se Joo bertahan sekuat tenaga.

Terpaksa akhirnya Seol menutup lubang hidung Se Joo untuk memaksanya mulutnya membuka. Se Joo tetap berusaha bertahan sekuat tenaga. Tapi lama-lama dia tidak kuat lagi dan akhirnya membuka mulutnya untuk menghirup udara dan saat itulah Seol memanfaatkan kesempatan untuk menyuntikkan isi suntikan itu kedalam mulutnya Se Joo.

Se Joo terpaksa harus menelannya tapi malah dibuat tercengang saat merasakan rasanya. Apa ini? Makanan cair, dia tidak bisa menyuapi Se Joo karena tidak ada sendok jadi terpaksa dia pakai suntikan itu. setelah makan, dia harus minum obat. Tapi Se Joo lagi-lagi menolaknya, curiga Seol akan memberinya obat aneh-aneh.

Seol sudah memperkirakan penolakan Se Joo ini, karena itulah dia sudah berinisiatif duluan dengan mencampurkan obatnya kedalam makanan cair ini. Se Joo langsung protes, seharusnya dia bilang-bilang dulu. Seol meyakinkannya untuk tidak cemas, dia barusan minum obat pereda sakit, sebentar lagi dia pasti akan mengantuk.

Se Joo menggerutu kesal, bagaimana bisa dia tidak merasa cemas. Entah apa yang akan Seol lakukan padanya saat dia tidur. Tapi protesnya tak sempat berlanjut karena saat itu juga efek obatnya mulai bekerja.


CEO Gal dan para karyawannya sedang galau. Sebentar lagi deadline tapi masih juga belum ada kiriman naskah dari Se Joo, dia bahkan tidak bisa dihubungi. Tapi kemudian ada fax masuk, naskah pertama berjudul 'Mesin Ketik Chicago', yang diketik dengan mesin ketik dan mereka kira dikirim oleh Se Joo. Lega, CEO Gal langsung memberikan perintah ini-itu pada anak-anak buahnya.


Di rumah Se Joo, Penulis Yoo memutar musik dan bersantai. Penasaran, dia membuka laci mejanya Se Joo dan menemukan kartu nama Bang Wool dan Seol.


Seol naik ke atas bukit lalu berteriak memanggil ayahnya. Suaranya menggema saat dia memberitahu Ayahnya bahwa dia baik-baik saja dan merindukan Ayahnya. Dia tersenyum sedih kala teringat masa lalunya.

Flashback,


Setelah beberapa lama tinggal bersama Ibunya, Seol akhirnya tinggal bersama Ayahnya. Dia tampak tak senang dan wajahnya cemberut terus bahkan saat Ayah menunjukkan sebuah ayunan yang Ayah buat sendiri khusus untuk Seol. Ayah lalu mendudukkan Seol di ayunan dan memberikan hadiah sebuah jam saku.

Ayah berkata kalau dia menemukan benda itu di tengah salju saat ia mendaki gunung. Jam itu memang sudah rusak, tapi bukankah kelihatannya benda ini menyimpan cerita yang luar biasa? Pegangannya terbuat dari emas. Sepertinya pemiliknya tahu bahwa bagian yang kecil harus benar, supaya bagian yang besar bisa bergerak dengan benar juga.

Ayah lalu memberikan jam saku itu di tangan Seol sambil berpesan, "Mulai sekarang, jangan tenggelam dalam masa lalu. Jangan mengorbankan masa kini untuk masa depanmu. Anggaplah setiap waktu yang kau jalani sebagai masa kini. Apa kau mengerti?"

Tapi saat Seol cuma menatapnya dengan keheranan, Ayah mencoba menjelaskannya dengan lebih sederhana. Lakukan saja apapun yang ingin Seol lakukan dan nikmati setiap saat dalam hidupnya. Saat itulah Seol akhirnya tersenyum dan menjawab, "Aku mengerti."

Flashback end.


Seol bergumam memberitahu Ayahnya bahwa dia mengukir pesan Ayah didalam hatinya dan mencoba untuk menikmati hidupnya. Dia lalu memasukkan tangannya ke saku baju untuk mengambil jam saku itu, dan baru saat itulah dia menyadari jam sakunya menghilang.


Di restoran, Bang Jin dan Dae Han sedang membahas tentang Seol. Ternyata Ayahnya Seol dulu meninggal dunia saat berusaha menyelamatkan orang hilang. Seol menebarkan abunya di gunung. Karena itulah, setiap tahun Seol selalu ke sana dan menghabiskan waktu beberapa hari di sana. Yang jadi masalah, jalan menuju wilayah itu terisolasi karena hujan deras.


Se Joo tersentak bangun dari tidurnya dan mendapati dirinya sudah tidak lagi diikat dan corong di wajahnya juga sudah tidak ada. Seol sedang tidak ada dan Se Joo pun langsung mengambil ponselnya untuk menelepon polisi. Tapi sayang, tidak ada jaringan sama sekali. Ada telepon di sana, tapi kabelnya bahkan tidak tersambung.

"Kau mencoba kabur?" tanya Seol tiba-tiba dari belakangnya dengan muka datar nan seram.


Se Joo langsung mojok ke tiang saking takutnya. Seol langsung mendekatinya sambil memberitahu kalau dia tidak akan bisa kabur karena saat ini mereka sedang berada di daerah yang terisolasi. Se Joo langsung mundur ketakutan sementara Seol terus maju mendekatinya.

Tepat saat Seol meraih sekopnya, Se Joo menemukan sesuatu di belakangnya dan langsung mengayunkannya ke depan seolah itu pisau... tapi ternyata cuma sendok. wkwkwk. Se Joo langsung protes, katanya Seol dia tidak punya sendok, lah ini sendok! Terus kenapa dia pakai suntikan besar itu?

Se Joo santai berkata bahwa dia tidak mungkin memberi Se Joo makan dengan sendok kotor bekas orang-orang itu. Terus apa Seol mengikat tubuhnya demi melindunginya dari orang-orang juga? Seol hanya takut tulangnya Se Joo ada yang patah dan sekarang dia melepaskan ikatannya karena sepertinya Se Joo baik-baik saja.

"Kau hanya ingin balas dendam padaku, kan?" tuduh Se Joo "Kau punya dendam padaku, kan?"

"Yang pertama salah, yang kedua benar." Ujar Seol. Dengan sinis dia berterima kasih karena Se Joo memberinya hadiah barang-barang bagus lalu keluar dengan membawa sekopnya.


Se Joo mengejarnya dan menuntut dia mau pergi kemana dengan membawa sekop itu. Saat Seol berkata kalau dia mau menggali sesuatu, Se Joo langsung menuduh Seol mau menggali kuburannya. Seol langsung sinis, khayalan Se Joo liar sekali. Dia berbalik mau pergi, tapi Se Joo langsung mencengkeram tangannya dan bertanya kenapa Seol ada di sini?

Seol berkata karena Se Joo memeganginya. Se Joo pun langsung melepaskan pegangan tangannya dan bertanya sekali lagi, bagaimana Seol bisa tahu kalau dia akan mengalami kecelakaan di sini? Bagaimana Seol bisa ada di lokasi tepat waktu?

Seol tak percaya mendengarnya. Apa menurut Se Joo, dia merencanakan semua ini? Apa Se Joo pikir dia menyembunyikan sesuatu didalam mobilnya Se Joo? Menurut Se Joo, kejadian ini memang terlalu aneh untuk dibilang cuma kebetulan. Habis sudah kesabaran Seol, apa yang harus dia lakukan agar Se Joo berhenti mencurigainya?


"Ini gubuk milik Ayahku. Puas? Aku sedang dalam perjalanan mencari hadiah warisan milik Ayahku yang kuhilangkan saat aku melihatmu di jalan. Aku mengambil sekop karena aku khawatir kalau-kalau benda yang kucari sudah terkubur! Akulah yang seharusnya penasaran kenapa kau bisa ada di sini?! Apa kau senang sekarang?!"

Seol menyesal sudah menyelamatkan Se Joo, seharusnya dia biarkan saja. Dia pikir mungkin saja Se Joo sudah berubah. Dia pikir mungkin Se Joo akan menyadari sesuatu kalau dia menyelamatkannya lagi. Dia benar-benar bodoh karena mengira kalau Se Joo akan meminta maaf padanya dan berterima kasih karena dia menyelamatkan Se Joo.

Dia mengingatkan Se Joo kalau mereka sedang terisolasi saat ini dan yang Se Joo miliki di sini hanya dia seorang. Jadi jika Se Joo ingin bertahan maka berhentilah meneriakinya dan mintalah pertolongan. Dia langung berbalik pergi ke tempat jatuhnya mobil itu untuk mencari jam sakunya.


Di rumah, Se Joo berusaha mencari sinyal ke berbagai sudut rumah itu tapi tetap saja gagal. Akhirnya dia terduduk lesu, teringat pada kemarahan CEO Gal. Tapi dia bisa sedikit tersenyum saat melihat bekas tanda perkembangan tinggi tubuh Seol di tiang.

Dia melihat-lihat foto Seol kecil bersama Ayahnya lalu mengambil buku 'Penguntit' yang tampak ada beberapa label di beberapa halaman. Dia membukanya dan menemukan sebuah foto di tengah halaman. Yang tak disangkanya, itu adalah foto dirinya beberapa tahun silam di resto sandwich. Se Joo akhirnya mulai mengerti maksud Seol dulu, saat dia bilang kalau mereka pernah bertemu sebelumnya.

Flashback,


Suatu malam saat Se Joo mengalami kesulitan dalam menulis di resto sandwich, dia tidak menyadari saat Seol mengganti gelas kopi kosongnya dengan gelas baru. Saat dia akhirnya dia menyadarinya, dia melihat ada pesan penyemangat di gelas kopi itu dari penggemar pertamanya.

Dia langsung celingukan bingung mencari orang yang memberikan kopi itu untuknya, sama sekali tidak menyadari Seol di meja samping diam-diam memotretnya.

Flashback end.


Langit sudah mulai gelap tapi Seol masih terus mencari dan mencari. Dia berjalan mundur dan tak sengaja kesandung sebuah batu yang sontak membuatnya oleng dan terjatuh tepat di tangan Se Joo. Selama beberapa saat mereka saling menatap dalam diam sebelum akhirnya Se Joo berkata, "Lihat, kan? Kalau kau menyelamatkan nyawaku. Aku juga akan menyelamatkan nyawamu. Aku orang yang seperti itu."

Kesal mendengar ucapan angkuh Se Joo, Seol langsung melepaskan diri darinya. Tapi baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dia merintih kesakitan di kakinya.


Beberapa saat kemudian, Se Joo akhirnya membantu Seol berjalan pulang. Awalnya dia membantunya berjalan dengan merangkul tubuh Seol, tapi kemudian ganti memegangi lengannya saja dan memperingatkan Seol bahwa jika semua ini cuma triknya Seol maka riwayat Seol akan tamat.

Kesal, Seol mencoba melepaskan diri. Tapi Se Joo mempererat genggamannya. Dia meminta maaf atas kejadian waktu itu dan terima kasih untuk kali ini. Se Joo menjelaskan kalau dia sebenarnya tidak pandai mengucapkan hal-hal semacam itu, makanya dia selalu berusaha menghindari keadaan dimana dia harus mengatakan hal-hal semacam itu.

"Kenapa kau tidak bisa percaya pada orang lain?" tanya Seol.

"Aku sudah berulang kali ditikam dari belakang. Mungkin itulah sebabnya."

"Semua orang pasti pernah ditikam dari belakang."



Se Joo heran kenapa Seol tidak tertawa lagi sekarang, biasanya kan dia suka tertawa. Karena Se Joo bilang kalau dia mengingatkannya pada film 'Misery'. Dia juga bukan penggemarnya Se Joo lagi sekarang karena Se Joo menuduhnya sebagai penguntit.

"Jadi karena itu jantungmu berdebar kencang?" tanya Se Joo. Malu, Seol langsung melepaskan diri darinya.


Sama-sama tidak bisa tidur, Seol dan Se Joo secara bersamaan berguling ke posisi saling menghadap satu sama lain. Se Joo terus menatapnya sampai membuat Seol canggung dan buru-buru merapatkan kantong tidurnya.

Se Joo tersenyum melihatnya, yah dia mengerti. Ini adalah keadaan yang selalu diimpikan semua penggemar di dunia. Seol tidak perlu menyembunyikan perasaannya, bisa-bisa dia hanya akan merasa menderita kalau melakukannya. Seol tidak perlu malu.

Orang bilang saat seseorang sudah jatuh cinta padanya, mustahil dia bisa lepas darinya. Sekarang dia tahu kalau Seol bukan penguntit. Seol hanya seorang gadis biasa yang agak berantakan. Semua kesalahpahaman mereka sudah selesai. Seol bisa terus jadi penggemarnya sekarang. Tapi satu-satunya jawaban yang didapatnya dari Seol malah suara dengkuran. hehe.


Tengah malam, Seol membuka kantong tidurnya dan mendapati Se Joo sudha meringkuk dalam tidurnya. Seol akhirnya bisa bernafas lega. Tapi kemudian dia mendengar Se Joo bernafas berat. Seol langsung cemas, dia menggulingkan Se Joo tapi malah mendapati Se Joo berkeringat dingin dan demam.

Seol jadi bingung harus bagaimana. Dia memberitahu Se Joo untuk menunggunya sementara dia pergi mencari tim penyelamat. Tapi saat dia hendak pergi, Se Joo membuka mata dan bergumam memintanya jangan pergi.

"Kalau kau pergi sekarang, persembunyianku akan terungkap. Aku merasa agak ketakutan. Sekarang, aku merasa baik-baik saja kalaupun aku harus mati dalam keadaan seperti ini. Aku tidak mau kembali ke masa-masa sebelumnya. 10 tahun yang lalu itu bagai mimpi buruk. Benar-benar mengerikan. Aku tidak mau kembali."

Seol berkaca-kaca mendengarnya. "Aku mungkin tidak tahu apa yang terjadi, tapi kita harus kembali."


Dia lalu berlari keluar mencari bantuan sembari membatin, "Orang bilang kalau bakatmu akan diambil lagi kalau kau tidak bisa mengatasi semua kesulitan. Aku tidak mau melihatmu kehilangan bakat yang kau miliki. Tulisanmu lah yang menyelamatkanku 10 tahun yang lalu. Jadi kumohon, jangan sampai kau kehilangan bakatmu. Demi dirimu... dan demi aku."

Bersambung ke part 2

1 comments:

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon