Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 3 - 2


Se Joo terbangun dari tidurnya setelah sempat demam tinggi. Tapi anehnya, ia sudah berada di rumahnya sekarang. Ia sempat kebingungan bagaimana bisa dia berada disana.

Terdengar suara gemelotak dari luar kamarnya. Ia mengira CEO Gal ada disana, ia pun berjalan keluar namun tak menemukan seorang pun di rumahnya. Yang ada hanyalah makanan yang sudah terhidang di meja makan.

Ia beralih memeriksa ruang kerjanya dan mendapati ada putung rokok yang masih berasap. Ia makin keheranan dengan adanya skrip naskah berjudul ‘Mesin Ketik Chicago’ tergeletak di mejanya. Kontan dia terpikir kalau CEO Gal sebelumnya menawarkan supaya dia menggunakan ghost writer.


Tidak lama kemudian, CEO Gal datang kesana. Se Joo menatapnya dengan serius, “Apa itu kau?”

“Ya, ini aku. Apa kau tidak mengenaliku?” CEO Gal memeluk Se Joo sambil mewek. Dokter Park datang kesana setiap hari karena Se Joo tidak sadar selama dua hari penuh. Dia terlalu kelelahan dan terlalu sering minum obat penenang.

Se Joo masih terus serius menatap CEO Gal. Menyuruh dia menjawabnya dengan jujur, dia kan yang sudah melakukannya? CEO Gal tidak mau disalahkan, Se Joo sendiri yang melakukannya. Dia yang minum obat penenang sampai mabuk dan tidak sadarkan diri.

Bukan itu yang Se Joo maksud, dia sedang membicarakan tentang novel seri itu. CEO Gal heran, memangnya ada masalah apa? Dia yang sudah mengirimkannya sendiri melalui fax sebelum kecelakaan. Bukankah dia mengirimkannya karena ingin mempublikasikannya? 

Sudah banyak pembaca dan komentar, tulisannya meledak kali ini. banyak investor yang menunjukkan ketertarikan mereka. CEO Gal memeluk Se Joo dengan bahagia, semoga besok bisa mengirimkan cerita yang bagus lagi. Se Joo masih terus terdiam, belum terlalu yakin dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi.


CEO Gal keluar rumah Se Joo sambil menggerutu sebal dengan insting peka Se Joo. Penulis Yoo sudah menunggunya di depan rumah. Dia menenangkan CEO Gal, tidak masalah selama dia tidak ketahuan. Tapi dia juga kejam pada Se Joo, dia kan sudah bekerja keras untuknya selama beberapa tahun ini. Bagaimana bisa dia mengancamnya hanya karena merengek sedikit?

“Aku tahu itu kejam. Tapi kalau hanya dengan cara ini dia bisa bertahan tidak perlu menghindarinya.”

Penulis Yoo menggumam sinis melihat kepergian CEO Gal, “Karena inilah orang-orang bilang bahwa para pendosa itu biasanya terlahir kembali sebagai penulis.”


Se Joo memeriksa naskah novel ‘Mesin Ketik Chicago’, dalam batinnya masih terus bertanya-tanya tentang kebenaran kalau novel itu memang hasil karyanya. Benar memang dia mabuk setelah minum obat penenang, tapi apakah dia menulis dalam kondisi mabuk?

Tapi CEO Gal kekeuh mengklaim novel itu adalah buatannya. Atau dia yang sudah membohonginya? Se Joo meremas kepalanya yang serasa pusing tak bisa menemukan jawaban atas tanda tanya di kepalanya.


Esok paginya, disaat Se Joo masih dilanda kebimbangan, CEO Gal meneleponnya mengabarkan kalau novelnya sudah dibaca lebih dari satu juta orang. Mereka sudah mendapatkan permintaan penerbitan ke seluruh dunia. Se Joo bangkit dari tempat duduknya dengan kaget.

Novel ‘Mesin Ketik Chicago’ menjadi topik paling panas. Semua orang membaca novelnya dan meninggalkan review positif. Mereka sangat menyukai karya Se Joo kali ini. Bahkan novelnya mendapat rating 9.9.

Se Joo memeriksa komentar positif yang ditinggalkan pembaca. Dia mensugesti dirinya, meyakinkan kalau novel itu memang novel yang ia karang. Pasti dia yang menulisnya, tidak mungkin ada orang yang bisa menulis sama persis dengan ide yang ada di otaknya.


Tak lama kemudian, saking meledaknya novel Mesin Ketik Chicago, mereka akan mempublikasikannya dalam bentuk komik. Ada pula yang akan membuat film dan drama musikalnya.

Penulis Yoo memperhatikan jalannya konferensi produksi Mesin Ketik Chicago. Seorang wartawan duduk disampingnya, dia memuji wajah tampan Se Joo. Penulis Yoo membenarkan, sangat sayang wajah setampan itu harus berdiam di studio. Wartawan menatap Se Joo penuh kecurigaan, jadi karena itu dia menyewa seorang penulis bayaran?

“Apa kau mau menyebarkan gosip?” tanya Penulis Yoo.


Jadwal Se Joo sangatlah padat, kali ini dia harus syuting iklan layanan masyarakat. Kontan ia kesal pada CEO Gal menyetujui permintaan syuting iklan bersama Tae Min. Meskipun sebenarnya enggan, Se Joo tetap menjalani proses syuting. Tapi begitu syuting berakhir, dia langsung pergi menjauh dari Tae Min.


Tae Min menegurnya tapi Se Joo dengan dingin menanggapi kalau dia tak mau minum kopi dan tak ingin mendengarkan novel yang judulnya “Tinggal Se-atap”. Tae Min tak berniat mengajaknya minum kopi.

Ia pun memuji novel baru Se Joo yang ceritanya begitu orisinil. Dia suka gaya menulis Se Joo yang berubah berdasarkan subyek yang bercerita. Awalnya dia tidak merasa novel itu seperti gaya Se Joo, seperti ada yang aneh.

Se Joo tersinggung dengan ucapan Tae Min, dia tanya apa tujuan Tae Min sebenarnya. Tae Min agak terkejut dengan reaksi berlebihan Se Joo. Dia cuma ingin mengatakan kalau Se Joo tidak biasa-biasanya membuat novel cinta. Se Joo tertegun untuk sesaat, dia menyuruh Tae Min untuk lebih giat menulis. Jangan sok seleb dan nyalon, menulislah seperti orang gila.


Tuan Baek sedang membaca naskah, ia memberi banyak sekali koreksi pada naskah itu sampai dia lelah sendiri. Tae Min masuk ke ruangannya, ada apa ayah memanggilnya? Apa dia sudah selesai membaca naskah buatannya? Ia yakin masih harus memperbaiki sedikit tulisannya, tapi menurutnya, ini jauh lebih baik dari versi pertamanya.

Tuan Baek menyuruh Tae Min menulisnya ulang dari awal. Kalimat yang tidak mengandung jiwa penulisnya itu seperti setumpuk sampah. Sampai kapan dia mau meniru-niru cara Penulis Han menulis?

Kalau dia tidak cukup percaya diri  untuk melampaui kemampuan penulis yang dia tiru, sebaiknya sejak awal dia tidak usah menirunya. Kalau memang Tae Min ingin tetap mempublikasikan sampai itu, dia sudah mengecewakannya.

Tae Min kecewa mendengar ucapan menohok ayahnya, namun lebih kecewa lagi melihat ayahnya menyimpan buku karya Se Joo di mejanya. Tae Min duduk di ruang kerjanya sendiri dengan frustasi.


Seol pulang ke rumahnya tengah malam. Dia sudah disambut oleh Bang Jin dan Bang Wool yang sedang ribut. Bang Wool memukuli Bang Jin yang berdoa pada semangkuk air supaya bisa jadi penulis hebat. Tapi kerjaannya cuma belanja dan menghabiskan uang tanpa sisa. Bagaimana kalau sampai dia kesurupan?

“Astaga, jangan cemas. Pikirannya sangat kacau dan hantu tidak akan sanggup mengatasinya. Rohnya hanya akan keluar masuk, keluar masuk saja. Akhirnya tidak akan bertahan.” Ujar Seol.

Bang Wool dan Bang Jin baru sadar kalau Seol ada disana. Seol merentangkan tangannya lebar-lebar, dia sudah kembali. Bang Wool dan Bang Jin kontan memeluknya kangen.


Ketiganya pun merayakan kembalinya Seol dengan minum-minum. Apa yang dilakukan Seol selama sebulan di gunung?

Seol melakukan banyak hal, mendapatkan penyembuhan dari gunung, bertemu ayahnya dan menyelamatkan seorang pria.. opss, keceplosan. Dia mengaku menghabiskan waktu yang berkesan untuknya. Bang Wool menatap curiga, dia sudah jadi peramal bertahun-tahun, pasti ada sesuatu yang terjadi. Apa dia bersama seorang pria disana?

Pfft! Seol menyemprotkan isi mulutnya, apaan sih! Bang Jin mendesis jorok kena semprotan air Seol. Oiya, Han Se Joo berhasil keluar dari jurang keterpurukannya. Dia baru mengeluarkan novel dan tulisannya sangat terkenal. Benarkah? Seol tersenyum bahagia, dalam batinnya dia bersyukur mengetahui Se Joo kembali dengan sukses.


Sekretaris Kang memberitahukan kalau tenggat waktu naskah baru Se Joo sampai jam 10 esok hari. Apa dia tidak masalah dengan tenggatnya? Apa perlu dia membenahinya?

Se Joo menolaknya, tak masalah, dia akan mempublikasikan naskahnya tepat waktu. Sebelum pergi, Sekretaris Kang mengungkapkan kebahagiannya karena Se Joo bisa kembali dari keterpurukannya.

 

Se Joo sudah duduk di depan layar komputer. Tapi ia tidak berhasil menuliskan apapun. Tiba-tiba erdengar suara memanggilnya, “Hei, bung!” Se Joo mencari sumber suara dan keluar dari ruang kerjanya.

Di luar ruang kerjanya, ada kabut tebal yang menyelimuti. Ia mengedarkan pandangan dan melihat siluet seorang pria bertubuh tinggi dibalik kabut. Siapa dia?

“Hei, Seo Hwi Young.” kata sosok pria kemudian menyalakan korek api. Se Joo terus mengikuti cahaya korek api itu, namun tebalnya kabut yang menyelimuti membuat ia kehilangan jejaknya.


Sampai akhirnya, terdengar suara seseorang berseru menyuruhnya minggir. Seorang pria gempal berlari sembari menarik becaknya yang di tumpangi seorang pria. Sekilas, Se Joo bisa melihat sosok pria di becak tersebut.


Kabut yang menyelimuti tiba-tiba menghilang, suasana senyap berubah menjadi keramaian kota dengan gemerlapan lampu yang bersinar. Se Joo mengedarkan pandangannya dengan kebingungan. Tepat saat itu pula, seorang wanita berpakaian pria, Soo Yeon meraih tangannya dan mengajaknya untuk cepat-cepat lari.

Se Joo menurutinya dengan keheranan. Jam saku terjatuh dari saku Soo Yeon. Meskipun kondisi terjepit akibat kejaran gerombolan pria, Soo Yeon masih sempat kembali untuk memungut jamnya. Dia menarik Se Joo ke dekat tembok untuk bersembunyi.


Soo Yeon mencari akal supaya tak ketahuan, dia langsung memojokkan Se Joo ke tembok kemudian melepaskan topinya membuat rambut panjangnya tergerai. “Daripada menulis kisah cinta murahan, kenapa kau tidak membantu memperjuangkan negara seperti ini saja?”

Dia seketika mencium Se Joo tanpa persetujuannya lebih dulu. Gerombolan pria yang melewati mereka cuma meringis remeh, mengira ada pasangan kekasih yang mesra-mesraan di pinggir jalan. Begitu melepaskan ciuman mereka, Se Joo masih keheranan, apa yang dia...


Soo Yeon menekuk rambutnya ke dalam topi dengan santai, “Jangan sok polos kau. Aku tahu kau ini pria mata keranjang.”

Dia kemudian memberikan jam saku yang sempat terjatuh barusan pada Se Joo. Bukankah katanya itu warisan dari ayahnya? Dia selalu saja membuat kerusuhan seolah-olah benda itu istri simpanannya. Bahkan ia selalu melarangnya memegangnya, bagaimanapun, hutangnya sudah lunas sekarang.

Se Joo masih belum bisa mencerna apa yang tengah terjadi. Dia meraih tangan Soo Yeon yang terluka, kenapa dia dikejar-kejar? Soo Yeon mengira kalau Se Joo sikapnya sok berubah. Ia memperingatkan supaya Se Joo tidak menyukainya. Ia melakukannya demi revolusi negara. Soo Yeon pun melenggang pergi dengan gaya tomboy-nya.


Matahari sudah meninggi, Se Joo terbangun dari tidurnya tepat jam sepuluh kurang sepuluh menit. Ia menghela nafas berat merasa belum menyelesaikan pekerjaannya. Tapi ia dikejutkan dengan adanya naskah novel yang sudah tergeletak disana.

Se Joo mengedarkan pandangan ke ruangannya dengan heran. Dia meraih naskah itu untuk membacanya. Isinya sama persis dengan peristiwa yang ia mimpikan semalam. Apa yang sebenarnya terjadi?

Sekretaris Kang masuk ke ruangannya untuk menanyakan naskah barunya. Ia melihat setumpuk kertas naskah yang diketik Se Joo. Dia akan mengetiknya ulang menggunakan komputer sebelum mengirimnya.

Reflek, Se Joo menahan kertas itu. Batinnya terus menyerukan kalau naskah itu bukan hasil tulisannya. Dia melihat laptopnya, tak ada satu katapun yang terketik disana. Meskipun dalam batinnya dia terus memberontak tak mau percaya, Se Joo gemetar melepaskan kertas naskahnya dan membiarkan Sekretaris Kang mengambilnya untuk dikirim.


Nyonya Hong  bertemu dengan wartawan yang sebelumnya nyinyir pada Se Joo. Dia memberikan uang padanya, ia cukup senang dengan artikel yang dirilis wartawan itu. Wartawan itu juga senang kalau Nyonya Hong menyukainya, apa dia punya ide untuk skandalnya?

“Skandal hanya akan membuktikan ketenarannya. Aku mau Han Se Joo hancur sehancur-hancurnya.”

“Lantas, bagaimana kalau kita buat gosip kalau dia menggunakan jasa ghost writer?”

Nyonya Hong tersenyum licik, “Dikombinasikan dengan skandal, benar-benar akan jadi cerita baru. Aku suka idenya.”


CEO Gal siap menyesap kopi panasnya. Tapi tiba-tiba saja Se Joo datang, menarik kerah bajunya dan mengkonfrontasinya supaya memberitahukan kebenaran kalau dia-lah yang menyewa ghost writer. CEO Gal gemetaran, bagaimana dia bisa tahu?

“Sudah kubilang aku yang akan menulisnya. Aku yang akan menulisnya! Sudah kubilang aku akan melakukannya, tidak peduli apapun!”

CEO Gal mengakui kalau memang dia sempat menghubungi Penulis Yoo. Tapi bukankah Se Joo sudah berhasil membuat novel sendiri? Dia sudah membatalkan perjanjiannya, Penulis Yoo bahkan sampai marah karena pembatalan itu. Dia sampai memberikan uang kompensasi untuk pembatalan kontrak.


Dalam perjalanan pulang, Se Joo masih terus memikirkan ucapan CEO Gal yang meyakinkannya kalau tulisan itu memang tulisannya. Tapi dia masih terus ragu. Mendadak, jalanan kembali berkabut seperti semalam.

Ketika turun dari mobilnya, Se Joo sudah berada di tempat ia mengalami kecelakaan. Ia mengedarkan pandangan melihat gunung kering itu. Tanpa sengaja, ia melihat sebuah benda yang berkilauan di rumput.


Seol curhat pada Bang Jin kalau jam pemberian ayahnya hilang digunung. Akan sulit untuk menemukannya disana. Bang Jin ingat ucapan Ibunya, sebuah benda bisa saja menyimpan jiwa di dalam dirinya. Mereka juga punya kebebasan dan bisa bicara. Bukankah Ayahnya menemukannya di gunung? Jam-nya pasti kembali ke tempat asalnya, ke pemilik yang sebenarnya.

“Siapa memangnya? Jam-nya sudah berumur lebih dari 80 tahun. Kalau pemiliknya masih hidup, coba kulihat 10, 20, 30, 40. Orang itu pasti sudah berumur 90 tahun sekarang. Bagaimana bisa orang setua itu naik gunung yang bersalju?”

Bang Jin menyarankan supaya Seol merelakan saja jam-nya. Jam-nya sudah tak bisa berdetik lagi, mungkin itu tandanya kalau jam itu bukanlah miliknya.


Bersamaan saat itu, Se Joo menemukan jam saku Seol di balik semak. Dia melihat jam yang sudah mati itu. Ia pun teringat akan mimpinya semalam bertemu dengan wanita yang menyamar menjadi pria, sosoknya mengingatkan ia akan Seol.

Se Joo kembali memperhatikan jam saku kuno itu. Tiba-tiba saja, jarum jam yang tadinya sudah berhenti bergerak kembali berputar.


Se Joo sampai ke rumahnya setelah hari sudah gelap. Ia tanpa sengaja mendengar suara mesin ketik dari dalam ruangannya. Penasaran, ia mengintip ke ruang kerjanya melalui celah buku. Tak disangka seorang pria tengah duduk di kursi kerjanya dan mengetik menggunakan mesin ketik kuno miliknya.

Se Joo memperhatikannya cukup lama sampai akhirnya dia menghampiri pria itu, “Siapa kau?”

“Seperti yang kau lihat, aku adalah ghost writer-nya Han Se Joo. Yoo Jin Oh.”

Bersambung ke episode 4

1 comments:

semangat kak, drama ini bagus banget :)

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon