Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 5 - 1

 

Tae Min tengah menulis saat tiba-tiba dia teringat ucapan ayahnya yang mengkritiknya karena masih terus berusaha meniru tulisan Se Joo. Melihat copy bukunya, dia teringat masa 10 tahun yang lalu. Dia sedang membaca draft novelnya Se Joo saat Se Joo tiba-tiba masuk dan memergokinya.

Se Joo sama sekali tidak marah, malah mempersilahkan Tae Min membacanya. Tae Min sampai heran karena biasanya Se Joo selalu protes, tapi kali ini dia tampak sangat percaya diri. Se Joo membenarkannya, Tae Min mungkin akan berseru usai membacanya.

Dia sendiri membaca buku lain seolah cuek, padahal diam-diam dia melirik Tae Min untuk melihat reaksinya. Tapi Tae Min terus membacanya dalam diam dan tampak iri. Se Joo lama-lama tidak tahan berdiam diri dan menanyakan pendapat Tae Min.

Tae Min berkelit kalau dia baru membaca empat halaman. Tapi jawabannya itu malah membuat Se Joo kecewa mengira kalau novelnya itu jelek. Novel yang bagus pastinya sudah bisa menarik perhatian pembaca sejak dua halaman pertama dan memutuskan kalau dia tidak perlu menunjukkannya pada Tuan Baek.

 

Kembali ke masa kini, Jin Oh bertanya-tanya apakah Se Joo adalah ghostwriter novelnya Tae Min berjudul 'Takdir'. Kesal, Se Joo membakar naskah ketikan Jin Oh dan menyatakan bahwa dia lebih suka karyanya dicuri orang lain daripada mengakui karya orang lain sebagai miliknya.


Tae Min hendak mengerjakan tulisannya kembali saat dia mendengar kedua orang tuanya bertengkar di ruang kerja Tuan Baek. Nyonya Hong ingin Tuan Baek meluangkan waktu menghadiri perilisan novelnya Tae Min, tapi Tuan Baek menolak. Nyonya Hong tidak terima dengan sikap Tuan Baek pada putranya sendiri.

Tuan Baek balas mengkritik sikap picik Nyonya Hong yang berencana menghancurkan hidup orang lain demi menyukseskan novel kelas tiga seperti ini. Nyonya Hong sama sekali tidak merasa apa yang dia lakukan salah. Wanita itu sudah menghancurkan hidupnya dan putra wanita itu menghalangi masa depan putranya.

"Dalam bidang ini, kemampuan dan bakatlah yang paling penting. Dia harus bisa bersinar sendiri! Jika dia butuh namaku untuk membuat namanya diakui, lebih baik dia berhenti menulis demi kebaikanku dan demi kebaikan dirinya sendiri!" bentak Tuan Baek.


Tak tahan lagi, Tae Min kembali ke kamarnya dengan mood buruk. Kucingnya, Baek Seol, mendekat saat itu dan mencoba mengajaknya bermain. Tae Min tidak mood dan berusaha menyuruhnya pergi saja. Tentu saja Seol tidak mendengarnya dan terus mengeong-ngeong. Wajah Tae Min seketika berubah menakutkan. Dia bahkan langsung mencengkeram Seol dan melemparnya.


Seol sedang membaca saat ponselnya berbunyi dan saat dia mengangkatnya, si penelepon yang ternyata penggemarnya Se Joo itu langsung menembakkan rentetan makian dan sumpah serapah pada Seol, tidak terima oppa-nya dituduh pakai ghostwriter.

Saat telepon kedua berbunyi, Bang Jin langsung merebut ponselnya dan mematikannya, abaikan saja telepon-telepon dari para penggemar sinting itu. Bang Jin tak menyangka tebakan Ibunya benar tentang Seol yang katanya akan mengalami hal buruk.

Mengingat segala kesialan dan kegagalan yang selama ini menimpanya, Seol mendesah kalau di kehidupan sebelumnya dia mungkin pengkhianat negara. Bang Jin tak setuju, justru keturunan para pejuang hidup miskin sementara keturunan para pengkhianat hidup enak dan kaya raya.


Bang Jin menyarankannya untuk menggunakan kesempatan ini untuk keluar dari pekerjaannya yang sekarang dan kembali jadi dokter hewan. Bukankah sunbae-nya Seol katanya ingin mempekerjakan Seol jadi asistennya.

Seol mengaku kalau dia memang sudah memutuskan untuk menerima pekerjaan itu, tapi untuk sementara ini hanya 3 hari dalam seminggu. Bang Jin tentu saja senang mendengarnya dan usul agar mereka merayakannya dengan minum bir.


Bang Jin langsung keluar dengan antusias. Tapi di luar, langkahnya terhenti karena melihat Jin Oh di depan. Senyumnya kontan mengembang lebar melihat Jin Oh yang tampak begitu berseri-seri. Dia sedang apa di sini. Jin Oh hanya menjawabnya dengan menunjuk ke arahnya.

"Kau... ingin menemui aku?"

"Bukan, handuknya." Koreksi Jin Oh sambil menunjuk handuk di kepalanya Bang Jin.

Bang Jin sontak melepaskan handuknya sambil mengernyit malu dan buru-buru mengalihkan topik menanyakan maksud kedatangannya. Jin Oh mengaku kalau dia habis diusir dari rumah setelah adu argumen. Bang Jin salah paham mengira Jin Oh sudah menikah.

Jin Oh menyangkal. Senang, Bang Jin berusaha mengajaknya minum-minum bersama. Tapi Jin Oh malah bertanya apakah Seol hidup bahagia di sini. Bang Jin kecewa. Mengira dia datang untuk Seol, dia pun masuk kembali untuk memanggil Seol, sama sekali tidak mendengarkan Jin Oh yang bilang tidak usah.


Seol sendiri sedang memperhatikan jam sakunya. Dia terus menatapnya dengan intens saat tiba-tiba saja jarum jamnya bergerak berlawanan arah dan seketika itu pula Seol mendapat penglihatan masa lalunya saat Soo Yeon sedang latihan menembak.

Dia sukses menembak semua botol-botol kaca itu kecuali botol terakhir. Jin Oh datang menghampirinya dan membantu membetulkan posisinya dan menasehatinya untuk tidak merasa takut agar dia tidak kehilangan stabilitas dan kontrol diri.

Begitu Jin Oh menginstruksikannya untuk menembak, Soo Yeon langsung melepaskan tembakan dan sukses mengenai sasaran. Seketika itu pula Seol tersadar dan jam saku itu kembali berjalan sebagaimana mestinya. Bang Jin kembali saat itu dengan tertunduk lesu dan menyuruh Seol keluar, ada yang mau menemuinya.


Seol keluar menemui tamunya dengan memakai topi, tapi malah tidak mendapati siapapun di sana. Dia hendak masuk kembali saat tiba-tiba dia mendengar suara siulan aneh yang entah dari mana datangnya. Dia berjalan mencari asal suara saat angin tiba-tiba bertiup kencang menerbangkan topinya hingga terjatuh di aspal...


Yang kemudian membawa kita kembali ke masa lalu, saat Soo Yeon memungut kembali topinya yang terjatuh ke jalanan. Dia lalu masuk ke Carpe Diem lewat pintu belakang sambil mengepalkan tangannya yang terluka erat-erat.


Dia bertemu Jin Oh di dalam dan melapor tentang kereta jam 8 ke Sinuiju dimana Choi Min Gyo akan mengantarkan uang kampanye ke Mancuria.

Jin Oh senang mendengarnya dan memuji kerja bagus Soo Yeon dengan membelai kepalanya. Dia langsung cemas saat melihat tangan Seol yang berdarah. Dia mau memeriksanya, tapi Soo Yeon melarang karena polisi masih mengikutinya.
 
Dia buru-buru masuk ke gudang dimana mereka menyimpan persediaan senjata mereka dan memperban lukanya sendiri.


Jin Oh melihat kedua polisi datang dan langsung memberi isyarat pada seorang rekannya. Kedua polisi memeriksa setiap pria di sana. Dan saat tak berhasil menemukan buruan mereka, mereka pun langsung mencari ke bagian dalam hingga akhirnya mereka melihat sebuah tempat yang tampak mencurigakan. Polisi membuka tirainya...
 

Dan para wanita sontak jejeritan. Ternyata itu ruang ganti para penghibur wanita. Soo Yeon sudah ganti penampilan jadi wanita dan kedua polisi sama sekali tak mengenalinya. Soo Yeon pun meminta mereka keluar dalam Bahasa Jepang. Salah satu staf menghampiri mereka dan mengajak mereka keluar.


Dia lalu naik panggung untuk menyanyi sambil terus mengawasi kedua polisi yang sedang asyik minum-minum. Dia melihat Hwi Young yang duduk membelakanginya, mengeluarkan jam sakunya. Hwi Young hendak berbalik... saat tiba-tiba saja Seol tersadar berkat teguran Bang Wool.
 

Bang Wool cemas menyadari Seol mulai mendapat penglihatan lagi. Saat mereka minum-minum bersama, Bang Wool memberitahu Seol tentang apa yang pernah dia katakan waktu dia kecil, 'Aku membunuh seseorang. Aku membunuh seseorang yang tidak semestinya mati'.

Seol heran kenapa dulu Ibunya tidak membawanya ke rumah sakit saja malah ke dukun. Tentu saja Ibunya Seol pernah melakukan itu, tapi Dokter hanya bilang kalau Seol hanya terlalu imajinatif. Ibunya Seol sama sekali tidak mempercayainya, jadi Bang Wool memberitahu Ibunya Seol kalau Seol tidak akan jadi dukun.

"Saat manusia meninggal, mereka akan melewati sungai kenangan. Tapi jika mereka menyesali kehidupannya atau memiliki gairah yang tersimpan atau tidak dapat melupakan kenangan tentang yang dia kenal, mereka pasti menoleh ke belakang. Mereka semestinya tidak boleh menoleh ke belakang saat melintasi sungai kenangan. Itu meninggalkan sisa kenangan."

"Semacam hukuman?"


Tidak juga. Kenangan yang tidak sempurna, akan menimbulkan ketakutan. Seol bergumam penasaran, kenapa dia bisa memiliki kenangan kehidupan lampau yang tersisa. Bang Wool merasa mencari tahu alasannya itu tidak penting.

Yang penting sekarang adalah jalani saja kehidupannya yang sekarang dengan sebaik-baiknya agar dia tidak memiliki penyesalan, gairah terpendam atau kisah sedih saat nantinya dia meninggalkan dunia ini.

"Apakah ini penyesalan atau gairah... ataukah ada orang-orang serta kisah yang tidak ingin kulupakan... atau tak boleh kulupakan bahkan setelah aku mati?"


Se Joo termenung di ruang kerjanya. Dia bangkit tak lama kemudian untuk memunguti kertas-kertas yang berserakan. Tapi beberapa kalimat yang tertulis di sebuah potongan kertas, menarik perhatiannya. Se Joo membacanya seolah melihat sosok Hwi Young di sana, sedang mengucapkan kalimat yang itu.

"Sekalipun kita kehilangan negara ini, tak ada seorang pun yang dapat menghentikan tulisanku. Jika aku tidak menulis, aku tak ubahnya dengan sesosok hantu. Selama Joseon masih ada, aku akan terus menulis sampai gila."


Seketika itu pula dia mendapat penglihatan akan masa lampau, saat Soo Yeon tampil di panggung sementara Hwi Young bicara dengan Jin Oh. Hwi Young sama sekali tidak tertarik dengan penampilan Soo Yeon karena sibuk dengan tulisannya. Dia mengeluarkan jam sakunya dan berkata kalau deadline-nya tinggal 1 jam lagi.

Jin Oh heran, masa Hwi Young mau terus menulis novel murahan seperti itu. Yah, soalnya dia sudah di-blacklist jadi hanya ini yang bisa dia tulis. Kalau begitu kenapa tidak sekalian saja Hwi Young berhenti menulis. Hwi Young pun menjawabnya dengan mengatakan kalimat yang sama persis seperti yang dibaca Se Joo tadi.

Jin Oh meyakini bahwa setelah Joseon merdeka, takkan ada lagi blacklist bagi penulis. Hwi Young setuju, itu hanya terjadi selama negara ini masih dijajah. Dia penasaran kenapa Jin Oh tidak lagi menulis. Jin Oh enteng berkata kalau dia mau berkencan saja... sambil menunjuk Soo Yeon di panggung. Hwi Young berbalik menatap Soo Yeon...


Dan seketika itu pula, Se Joo tersadar dari penglihatannya. Shock, dia menjatuhkan potongan kertas itu dengan ketakutan. Sementara itu di luar, Jin Oh menatap rumahnya Se Joo sambil bergumam. "Tolong tetaplah menulis. Novel itu harus terselesaikan... agar aku... dapat hidup"


Keesokan harinya, Se Joo terbangun oleh suara gemerisik Sekretaris Kang yang sedang membersihkan serakan kertas-kertas itu. Sekretaris Kang lalu memberitahunya tentang hasil penyelidikannya dan ternyata Reporter Son ada kerja sama dengan Nyonya Hong. Apa Se Joo mau membawa masalah ini ke hukum.

Se Joo tertawa geli mendengarnya, tapi dia menolak tawaran Sekretaris Kang, dia akan merelakannya saja. Sekretaris Kang bertanya-tanya apakah Se Joo ragu karena tak ingin menyulitkan Tuan Baek. Se Joo tak menjawabnya dan hanya menyuruh Sekretaris Kang pergi.

Tapi saat dia hendak beranjak pergi, Sekretaris Kang memberitahu kalau CEO Gal sepertinya sedang menyiapkan tuntutan dengan memanfaatkan Seol.


Bahkan saat itu, Seol sudah duduk di hadapan CEO Gal yang langsung to the point membahas masalah isu tak sedap yang menimpa Se Joo itu, meyakinkan Seol kalau Se Joo sangat amat frustasi dan sedih karena masalah itu dan mengusulkan agar Seol membantu memberi pelajaran untuk si Reporter Son itu dengan cara menggugat Reporter Son ke pengadilan.

Dia memberitahu bahwa masalah biaya tuntutan akan ditanggung oleh pihaknya. Saat Seol tampak ragu, CEO Gal mengingatkan Seol bahwa dia sudah menyelamatkan nyawa Se Joo dua kali. "Bantulah dia sekali lagi, biar pas jadi tiga kali."


Seol masih ragu dan menanyakan apa pendapat Se Joo dalam masalah ini. CEO Gal meyakinkan kalau Se Joo punya pikiran yang sama dengannya. Tapi tepat saat itu juga, Se Joo datang dan menyangkal ucapan CEO Gal.

Dia menegaskan kalau dia tidak akan menuntutnya, lalu menyeret Seol keluar dari sana dan mengancam CEO Gal untuk berhenti atau hubungan mereka berakhir.

Bersambung ke part 2

2 comments

Ditunggu episode selanjutnya ya mba..dramanya sdh tayang sampai episode 8.tp sy merasa masih kurang klo blm baca sinopsipnya

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon