Powered by Blogger.

Images Credit: KBS

Sinopsis Queen of Mystery Episode 1 - 1


Pada suatu malam, seorang detektif memasuki suatu tempat dan bertemu detektif yang lebih senior. Mereka adalah Detektif Lee dan Detektif Bae (si detektif senior). Mereka berjalan masuk sambil ngobrol dan epertinya mereka sedang dalam sebuah misi.
Tapi saat Detektif Lee mempertanyakan bala bantuan, Detektif Bae merasa itu tidak penting, ia yakin kalau mereka bisa meringkus para penjahat itu berdua saja. Loh Detektif Lee heran, bukankah Detektif Bae sendiri yang minta bala bantuan. Detektif Bae menyangkal dan jadilah mereka ribut otot-ototan.

Tapi langkah mereka terhenti seketika saat tiba-tiba saja mereka dikepung sekawanan gangster dalam jumlah yang cukup banyak. Si pemimpin mereka yang tangannya tampak bertato, dengan santainya mengolok kedua detektif dengan memberitahu anak-anak buahnya tentang tembakan ala polisi, tembakan pertama cuma tembakan peringatan sementara tembakan berikutnya adalah tembakan yang sebenarnya.

Detektif Bae balas menantang dan seketika itu pula para gangster itu langsung bangkit dan bersiap dengan senjata-senjata mereka.

 

Tapi tiba-tiba terdengar suara seseorang yang meneriakkan nama Jang Do Jang. Orang itu berjalan masuk sambil memiting seorang gangster dan menantang Jang Do Jang untuk keluar. Dia adalah Detektif Ha Wan Seung.


Para gangster langsung beralih padanya. Wan Seung mendesis kesal sebelum akhirnya menyerang para gangster itu dengan semprotan tabung pemadam kebakaran. Perkelahian pun akhirnya pecah, 3 polisi lawan sekumpulan preman.

Sementara si Jang Do Jang, tampak jongkok santai menonton perkelahian ini dari lantai atas lalu memberikan sebuah pipa besi pada seorang pria.


Wan Seung berhasil mengalahkan beberapa preman saat tiba-tiba saja pria tadi menghantam kepalanya dengan pipa besi. Wan Seung kontan roboh seketika. Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat Do Jang sedang melihatnya dari kejauhan. Darah mengucur deras dari kepalanya saat Wan Seung mendesis lemah, "Jang Do Jang, kau baj*ng*n!"

Episode 1: Sebuah Kemenangan Mutlak Bagi Detektif Yang Berpengalaman.


Di sebuah mini market, seorang ahjumma tampak sedang berbelanja sementara Ahjumma pemilik toko sedang ngotot pada kedua polisi yang ada di hadapannya bahwa dia sangat yakin menghilangnya barang-barangnya adalah ulah pencuri.

Polisi yang lebih muda (Hong Joon Oh) serius meneliti rekaman CCTV, sementara polisi yang lebih senior tidak percaya dugaan Ahjumma karena tidak ada bukti dan berasumsi kalau ini mungkin ulah pegawainya.


Joon Oh juga tidak mendapati sesuatu yang mencurigakan di semua rekaman CCTV itu. Polisi senior tidak mau tahu lagi dan memutuskan mau pergi saja dengan alasan mau memeriksa keadaan sekitar. Joon Oh tidak mau ditinggal begitu saja dan berusaha membujuknya tetap tinggal, ini kan hari pertama dia bertugas di sini.

Polisi senior malah memanfaatkan alasan itu agar Joon Oh bekerja sendiri dengan alasan kalau ini kesempatan yang bagus sebagai pengalaman pertama Joon Oh lalu pergi. Ahjumma langsung berteriak kesal, bagaimana bisa dia meninggalkan kasus ini pada anak baru. Joon Oh langsung berpaling menatapnya, tampak agak tersinggung.


Dia menduga mungkin barang-barang ini menghilang di gudang. Tapi itu tidak mungkin, karena hanya Ahjumma yang punya akses kedalam gudang. Dia kan sudah bilang kalau ini ulah pencuri.

"Tapi kenapa tidak ada rekaman yang menunjukkan seseorang mencurinya, padahal ada banyak kamera CCTV di toko?" tanya Joon Oh.

"Itu yang harus kau cari tahu, pak perwira."

"Saya bukan perwira, tapi seorang letnan. Saya kepala kantor polisi."

Jelas saja Ahjumma heran mengingat Joon Oh masih muda, dia kira kepala polisinya adalah polisi yang lebih tua tadi. Sepertinya Joon Oh bahkan belum berumur 30 tahun. Joon Oh cuma bisa mengiyakannya canggung lalu beralih kembali ke rekaman CCTV-nya.
 
"Berhenti!" seru Ahjumma yang tadinya sedang berbelanja dan tiba-tiba saja ikutan nimbrung.


Tanpa memberitahukan identitasnya lebih dulu, Ahjumma yang akan kita kenal sebagai Yoo Seol Ok itu menunjuk pada sebuah rekaman yang memperlihatkan seorang karyawan yang menurutnya terlihat aneh. Ahjumma pemilik toko berkata kalau itu bukan karyawan melainkan putranya sendiri yang kadang membantunya menjaga toko saat dia sedang keluar.

"Dia terlihat sangat gugup," ujar Seol Ok "Lihat, tubuhnya tegang"

Ahjumma menduga mungkin anaknya cuma lelah saja. Tapi Seol Ok tidak sependapat karena di rekaman yang lain, Putra Ahjumma tidak terlihat setegang dalam rekaman yang satu itu. Dia memperhatikan Putra Ahjumma tampak jadi tegang hanya saat ada anak tertentu yang datang, tangannya bahkan tampak gemetaran.

Joon Oh mencoba melihat rekaman lainnya dan mendapati Seol Ok benar. Ahjumma pemilik toko tidak terima putranya dituduh dan menyuruh Seol Ok untuk membayar belanjaannya saja. Seol Ok akhirnya mengeluarkan semua belanjaannya tapi matanya tetap tertuju ke rekaman di layar hingga matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya: anak itu membayar dengan kartu.


Ahjumma tetap tidak merasa itu aneh, sekarang kan memang jamannya bayar pakai kartu. Seol Ok santai menyerahkan sebuah kartu pada Ahjumma untuk membayar belanjaannya. Tapi Ahjumma langsung protes karena itu kartu anggota perpus.

"Kartu anggota perpustakaan daerah Seodong?" Joon Oh keheranan.

Mendengar itu, Seol Ok langsung memperlihatkan kartu perpusnya itu pada Joon Oh, kartu yang mirip dengan kartu yang dipakai anak dalam rekaman itu untuk membayar belanjaannya. Dia bisa langsung mengenali kartu yang dipakai anak itu karena dia juga punya kartu yang sama.

Ini jelas membuktikan tak pernah ada pencurian, Putra Ahjumma lah yang memberikan barang-barangnya secara cuma-cuma pada anak itu. Dia sengaja pura-pura bayar pakai kartu perpus karena dia menyadari dirinya direkam dan hanya datang kemari saat Putra Ahjumma yang jaga.


Tepat saat itu juga, Putra Ahjumma datang dengan mengenakan seragam yang sama dengan yang digunakan anak dalam rekaman itu yang menunjukkan kalau mereka satu sekolah. Kesal, Ahjumma langsung memukuli Putranya dengan sapu. Putra Ahjumma berusaha membela diri, dia juga tak tahu harus bagaimana.

Seol Ok memperhatikan satu kancing seragamnya hilang dan kancing yang satunya beda dari kancing lainnya, sepatunya juga tampak terlalu besar untuk ukuran kakinya yang sebenarnya. Dia langsung bisa menduga kalau Putra Ahjumma dibully di sekolah dan menyarankan Ahjumma untuk mencoba bicara pada wali kelas Putranya.

Ahjumma seketika menyesali perbuatannya, dia terlalu sibuk bekerja hingga tak tahu apapun tentang situasi putranya. Joon Oh meyakinkannya untuk tidak cemas karena polisi memiliki tim khusus pencegahan kekerasan dalam sekolah.


Sukses memecahkan kasus Ahjumma, Seol Ok langsung menatap Ahjumma sambil tersenyum manis penuh arti, "Apa ada diskon?"


Suatu pagi, Seol Ok membangunkan Ibu Mertuanya untuk sarapan. Dia melapor kalau suaminya tidak pulang semalam karena banyaknya pekerjaan. Ibu langsung mendesah, prihatin karena putranya sangat sibuk. Ibu jelas sangat menyayangi putranya, apalagi putranya seorang jaksa.

Kim Ho Soon, adik iparnya Seol Ok, pamit tanpa sarapan. Seol Ok santai, sudah paham betul kalau adik iparnya itu memang tidak pernah sarapan. Ibu mencoba mencicipi sayur buatan Seol Ok dan hampir muntah karena rasanya yang nggak banget.


Ibu langsung tidak nafsu makan dan memutuskan untuk langsung pergi saja. Seol Ok penasaran dia mau kemana? Ibu berkata kalau dia ada seminar. Sebelum pergi, Ibu bertanya Seol Ok tidak akan pergi kaman-mana kan hari ini?

Seol Ok tampak berpikir sebentar sebelum menjawab kalau dia mau pergi ke toko lauk nanti. Baiklah. Tapi Ibu mewanti-wanti Seol Ok untuk tidak ngobrol dengan wanita tidak berkelas, biar tidak bikin malu suaminya.

"Baik. Semoga seminarnya lancar, Ibu."


Dan seminar yang Ibu maksud ternyata main Go Stop dengan teman-temannya. Pfft! Para ahjumma lalu menanyakan Menantunya Ibu dan memberitahu Ibu kalau mereka pernah melihat Menantu Ibu sedang belanja dan minum teh bersama seorang pria tinggi yang mereka kira suaminya.

Ibu malah heran, dia yakin Menantunya dan Putranya tidak pernah berbelanja bersama. Tapi Ahjumma terus nyerocos kalau pria yang mereka lihat itu memiliki tubuh yang bagus, kulitnya juga bagus dan tersenyum dengan matanya. Pria itu tampak masih muda dan terlihat seperti mahasiswa.

Seorang Ahjumma menduga, "Apa mungkin dia Petugas Hong?"


Yups, dugaan mereka benar. Joon Oh menelepon Seol Ok dan mereka janjian ketemuan di tempat loker. Sepertinya hubungan mereka jadi akrab sejak kasus mini market waktu itu. Seol Ok pun buru-buru menyelesaikan pekerjaan rumahnya.


Ibu sukses mengalahkan teman-temannya lagi. Tapi dia tidak percaya kalau Menantunya selingkuh dengan polisi muda itu saat suaminya adalah seorang jaksa yang jelas-jelas jabatannya lebih tinggi daripada polisi.

Lagipula selingkuh itu tidak bisa dilakukan sembarang orang. Apalagi menantunya itu tidak berpendidikan, tidak kaya, latar belakangnya bahkan tidak baik. Dia beruntung bisa punya suami seorang jaksa, pria tidak mungkin jatuh cinta padanya.


Seol Ok ganti baju dan berdandan dengan ceria seperti wanita yang hendak pergi kencan. Dia lalu menelepon temannya, Gyung Mi, dan meminta Gyung Mi untuk mengarang sesuatu jika Ibu Mertuanya menelepon dan menanyakannya, soalnya dia mau bertemu Petugas Hong lagi hari ini.

"Kau menikmatinya sekali, yah?" sindir Gyung Mi. "Hei, ini berbahaya. Kau tidak bisa menipu Ibu Mertuamu..."

"Aku tidak peduli! Sebodo amat. Aku sangat senang."


Ibu masih terus asyik main tapi seorang Ahjumma ngotot menyuruh Ibu untuk menyelidiki menantunya, apalagi Menantu Ibu itu sering keluar. Ibu mulai goyah mendengarnya. Ahjumma bertanya, Menantu Ibu itu suka menjawab panggilan diam-diam di teras, kan? Itu salah satu tanda perselingkuhan.


Ibu jadi teringat saat suatu kali dia mendapati Seol Ok sedang menelepon seseorang di teras dan langsung panik saat melihatnya. Pernah pula suatu hari dia melihat Seol Ok terburu-buru pulang dengan senyum lebar entah dari mana.


Ibu benar-benar mulai merasa aneh sekarang. Seol Ok punya teman yang buka usaha makan siang, Seol Ok selalu kesana setiap hari untuk belajar masak tapi hasil masakannya tak pernah ada perubahan. Cemas, ia langsung menghubungi Seol Ok dan menanyakan keberadaannya. Seol Ok mengaku di tempat makan siang.

Tapi Ahjumma satu tak percaya. Ahjumma dua malah menyarankan agar mereka pergi kesana saja untuk mengeceknya. Ahjumma tiga setuju, dia juga lagi bosan bermain kartu terus. Mereka bahkan langsung semangat pergi, mengacuhkan Ibu yang masih ngotot ingin mempercayai omongan menantunya.


Joon Oh pamit pada kedua rekannya, dia mau menyelidiki kasus loker Pasar Bangtan. Seorang rekannya ingin ikut, tapi Joon Oh menolak. Dengan senyum ramah dia beralasan kalau dia pasti sibuk jadi dia tinggal saja di kantor.

Polisi itu benar-benar kagum dengan Joon Oh yang sukses memecahkan beberapa kasus. Tapi Polisi senior menanggapinya dengan sinis dan beranggapan kalau Joon Oh itu cuma beruntung.


Para Ahjumma tiba di tempat makan siangnya Gyung Mi. Tapi dari kejauhan, mereka hanya melihat Gyung Mi di sana. Ahjumma satu jadi semakin yakin dengan kecurigaannya. Ia bahkan langsung menelepon kantor polisi untuk mengecek keberadaan Petugas Hong dan diberitahu kalau dia sedang patroli ke Pasar Bangtan.

Para Ahjumma semakin yakin kalau mereka pasti bersama di sana sekarang. Ayo pergi. Ibu tetap tidak percaya, bagaimana kalau dugaan mereka salah. Para Ahjumma tetap ngotot, kalau dugaan mereka salah yah sudah, setidaknya mereka bisa beli snack di sana.


Seol Ok tiba duluan di ruang loker Pasar Bangtan. Beberapa loker tampak menjeblak terbuka, tampak dibuka paksa. Seol Ok memperhatikan loker-loker itu dibuka secara berurutan dari kiri. Dia hendak memakai satung tangan plastik saat Joon Oh datang dan memberitahunya bahwa pakai sarung tangan itu tidak ada gunanya karena tempat ini memang punya banyak sidik jari.

Dia berkomentar kalau apa yang dilakukan si pencuri ini adalah usaha yang sia-sia, terlalu berlebihan. Joon Oh jadi antusias, apa Seol Ok sudah mendapatkan sesuatu. Seol Ok menduga kalau metode yang digunakan si pencuri tidak terfokus dan membingungkan, intinya dia amatiran.

Pencuri yang berpengalaman tidak akan sejelas ini, dia akan mencuri loker dengan cepat dan mudah dengan cara membuat tiruan kunci lokernya dan membuat kunci masternya yang bisa dia gunakan untuk membuka semua loker. Seol Ok yakin pencuri loker yang ini belum pernah membobol loker sebelumnya.


"Awalnya, dia pikir akan mudah. Dia memasukkan sesuatu yang tajam lalu mencari lubang kunci. Saat tidak berhasil terbuka, dia menggunakan alat lain." Duga Seol Ok dan Joon Oh langsung mencatat semua dugaannya di buku.

Seol Ok menduga si pencuri membuka lokernya dengan seluruh kekuatannya. Awalnya susah, tapi kemudian kemampuannya dalam membuka koper-koper lainnya jadi semakin membaik. Joon Oh memperhatikan loker terakhir dan menyadari Seol Ok benar. Seol Ok menduga kalau si pencuri membuka loker-loker ini berurutan dari kiri ke kanan.

"Tapi menurutmu, kenapa dia berhenti di tengah jalan?" tanya Joon Oh.

"Siapa yang menjaga loker-loker ini?"


Joon Oh menjawab kalau tempat ini dijaga oleh dua orang satpam yang patroli saat pasar tutup jam 7 malam. Mereka sedang patroli dan menemukan loker dalam kondisi seperti ini sejam kemudian. Seol Ok menduga kalau kehadiran satpam pasti mengagetkan si pencuri sebelum dia selesai.

Kira-kira apa yang diambil si pencuri? tanya Seol Ok. Itu anehnya, si pencuri tidak mengambil uang ataupun barang-barang berharga lainnya. Barang-barang yang hilang justru bahan-bahan untuk upacara kematian, susu bubuk formula dan satu set ginseng. Kenapa dia hanya mengambil barang-barang itu? Joon Oh juga tidak mengerti tentang itu.


"Kira-kira mengapa demikian?" tanya Seol Ok seolah menyuruh Joon Oh menebak.

Joon Oh menebak kalau si pencuri adalah orang yang miskin yang sebelumnya tak pernah mencuri karena dia orang yang baik. Hari peringatan kematian Ayahnya sudah semakin dekat, tapi dia tidak punya uang dan akhirnya nekat membobol loker-loker ini.

"Apa ada yang menggunakan susu formula untuk upacara peringatan?"

Joon Oh bingung dan akhirnya mengarang tebakan kalau si pencuri punya seorang hyung yang terluka saat bekerja di tempat konstruksi. Si pencuri terpaksa harus merawat keponakannya yang masih bayi makanya dia mencuri susu formula. Lalu satu set ginseng-nya? Joon Oh menduga kalau mereka tinggal bersama Ibu mereka yang sudah tua.


Kalau seperti itu, bukankah jauh lebih mudah bagi si pencuri untuk mengambil uang saja. Kenapa dia musti repot-repot mengambil barang-barang itu? Seol Ok yakin ini ulah seorang amatir, tapi bukan anak-anak. Dia bukan profesional tapi caranya mencuri terlalu bagus bagi seorang amatir, jadi sudah pasti pelakunya adalah orang dewasa.

"Orang dewasa yang sangat berbahaya."


Para Ahjumma akhirnya sampai di Pasar Bangtan. Kecapekan, mereka pun duduk-duduk di bangku. Ahjumma satu memberitahu mereka tentang pencurian loker itu lalu menunjuk dua orang pria tak jauh dari mereka.

Dua orang pria yang menurutnya tampak mencurigakan dan menduga kalau mereka adalah preman, padahal kedua pria itu adalah Wan Seung dan Detektif Lee. Wan Seung dan Detektif Lee lalu berjalan pergi melewati mereka.


Mereka berdiri di luar restoran sambil mengobati luka di wajah Wan Seung. Sementara di dalam restoran, Joon Oh bersama Seol Ok sedang meneliti rekaman CCTV. Seol Ok memperhatikan seorang pria yang menurutnya mencurigakan karena terlihat beberapa kali tertangkap kamera.

Dan orang yang dimaksudnya itu ternyata Wan Seung, tapi dia sama sekali tidak melihat Wan Seung yang sedang berdiri di luar. Dilihat dari luka-luka di wajahnya, Seol Ok menduga kalau Wan Seung adalah ketua misi tapi bukan bos, soalnya bos biasanya tidak melakukan hal-hal yang bisa melukai diri mereka.


Dia menyarankan Joon Oh untuk menangkap orang ini dan menginterogasinya. Tapi Joon Oh merasa itu akan sulit mengingat kantor ingin kasus ini diselesaikan dengan cepat karena ini kasus kasus kriminal besar. Seol Ok menyangkalnya, ini bukan kasus perampokan kecil.

"Kasus ini... adalah kasus narkoba."

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon