Powered by Blogger.

Images Credit: KBS2

Sinopsis Queen of Mystery Episode 5 - 2


Wan Seung akhirnya mulai benar-benar memperhatikan rekaman CCTV itu. Yang menarik perhatiannya pertama kali adalah arah yang dituju Tuan Cha saat dia keluar dari mini market. Alih-alih pergi ke arah kiri (bengkel si teman), dia malah pergi ke arah kanan (arah ke rumahnya).

Tuan Cha langsung terdiam panik dan cepat-cepat beralasan kalau waktu itu dia bingung sebentar karena mabuk. Tapi saat rekaman itu dipercepat, Tuan Cha tampak terekam kamera lagi, lewat di depan mini market dari arah kanan ke kiri sekitar satu setengah jam setelah dia meninggalkan mini market.

Flashback,



Si teman ketiduran pukul 23:15. Tuan Cha pun langsung pergi ke mini market lalu kembali ke rumahnya dan menusuk istrinya yang saat itu sedang tidur. Dia kembali ke bengkel temannya jam 1 malam lalu memutar ulang jam itu jadi jam 11:30 untuk membuat alibi.

Flashback end.
 

Si teman sontak marah. Bagaimana Tuan Cha membunuh istrinya? Kenapa? Tuan Cha tetap tenang, menatap Seol Ok dengan tajam. Seol Ok menduga-duga alasan Tuan Cha. Apa karena istrinya melakukan sesuatu yang membuatnya pantas dibunuh? Ataukah karena dia belum mati-mati juga bahkan setelah memiliki 3 polis asuransi? Apa Tuan Cha membunuhnya karena merasa frustasi?

Tuan Cha kontan emosi dan hampir saja melempar kursi ke Seol Ok. Tapi Wan Seung bergerak cepat melindunginya dan membekuk Tuan Cha yang berusaha memberontak sambil menjerit-jerit kalau istrinya layak mati, dia itu pecandu. Wan Seung pun langsung resmi menahannya.


Teman Tuan Cha langsung terduduk lemas, kenapa bisa jadi seperti ini? Mendengar itu, Seol Ok bertanya apakah dia tidak pernah menyangka kalau akan jadi seperti ini? Dia sebenarnya tahu kan kalau Tuan Cha selalu memukuli istrinya, tapi dia pura-pura tidak tahu padahal dia menganggap korban seperti adiknya sendiri.

"Aku tidak menyangka kalau dia akan membunuhnya."

"Jadi anda pikir, pemukulan itu wajar selama dia tidak membunuhnya? Anda benar-benar oppa yang sangat baik. Apa itu membuat anda merasa lebih baik? Anda juga termasuk komplotan. Kuharap anda merasa bersalah selama sisa hidup anda."

Tangisnya langsung pecah seketika. Mereka berdua pergi meninggalkannya, Seol Ok sempat melihat jam dinding yang ternyata sudah 20 menit lewat tengah malam.


Saat mau mengembalikan ponselnya Seol Ok, Wan Seung bertanya apakah Seol Ok sudah tahu kalau pembunuhnya memang Tuan Cha. Seol Ok mengaku kalau dia punya firasat. Aneh saja karena dia melaporkannya sebagai perampokan.

Bukannya temannya yang melaporkan perampokan itu? Tidak, Tuan Cha lah yang bilang ke temannya kalau itu perampokan makanya temannya bilang perampokan.


Ho Cheol sudah tiba di depan kantor polisi tapi ragu untuk masuk. Seol Ok baru saja keluar saat suaminya menelepon. Parahnya lagi, dia malah melihat suaminya di depan. Seol Ok sontak masuk kembali dan menyembunyikan dirinya.

Wan Seung heran, kenapa Seol Ok malah sembunyi dari suaminya? Seol Ok bingung musti beralasan apa, suaminya tidak suka kalau dia berhubungan dengan polisi. Kenapa Seol Ok begitu takut dengan suaminya? Apa dia suami yang sangat menuntut? Kenapa Seol Ok hidup seperti ini?

Seol Ok menyangkal, dia tidak seperti itu. Dia hanya tidak mau buat masalah dengan keluarganya. Karena itu Seol Ok berbohong pada keluarganya? Jujur itu tidak penting, yang penting keluarga harus selalu harmonis, jadi lebih baik jangan buat keributan. Sedikit perhatian bisa bertahan lama.

Wan Seung heran, apa Seol Ok nyaman hidup seperti itu. Seol Ok mengiyakannya, selama keluarganya juga begitu. Dia menyarankan Wan Seung untuk merawat lukanya, biar tidak kena tetanus.


Ponselnya berbunyi lagi, kali ini Wan Seung langsung merebutnya dan membantunya dengan berbohong pada Ho Cheol kalau Seol Ok terlibat kasus pembunuhan dan sekarang sedang memberikan keterangannya sebagai saksi.

Dengan sopan  dia meminta maaf pada Heo Cheol karena sudah menahan istrinya sampai selarut ini dan melarangnya menjawab telepon tadi, dia berjanji akan segera memulangkan Seol Ok lalu menutup teleponnya.

"Kau tidak perlu melakukan itu."

"Aku tidak mau kau berbohong. Pergilah, suamimu sudah menunggu."


"Detektif Cha..."

"Kau mau berterima kasih. Oke, oke."

Tapi bukan itu, "Aku menang. Kau harus ingat janjimu."

"Kau menemukannya berkat bantuanku. Seharusnya kau berterima kasih."

"Kau akan memenuhi janjimu, kan?" tuntut Seol Ok. Baiklah, pulang sana.

Seol Ok pun pergi ke suaminya dan saat itunya Wan Seung baru sadar dan langsung menampari dirinya sendiri dengan kesal, ngapain tadi dia minta maaf pada di si brengs*k Kim Ho Cheol itu.


Saat hendak menghampiri suaminya, Seol Ok melihat Kakek duduk di sana. Tampaknya ia mau mengatakan sesuatu tapi ragu. Seol Ok pun tak sempat mempedulikannya karena suaminya. Ho Cheol cemas mengira Seol Ok tadi diinterogasi Wan Seung, di kan terkenal sebagai pemburu narkoba.

Seol Ok merasa Wan Seung tidak seburuk itu, walaupun memang dia agak kuat. Ho Cheol langsung mengeluh, seharusnya dia memasukkan surat keluhan saja. Jangan, sudah cukup buruk dia turun jabatan dan dipindahkan ke polsek, belum lagi pacarnya mau menikah dengan pria lain. Pfft!


Saat mereka sudah jalan, Seol Ok malah tidak lagi melihat Kakek di sana. Seol Ok jadi tidak tenang dan akhirnya meminta Suaminya berhenti di tengah jalan. Dia harus kembali, ada yang harus dia periksa lalu berlari kembali ke kantor polisi.


Wan Seung pun masih tidak tenang, Kakek itu tidak membunuh orang tapi kenapa dia aneh sekali. Dia baru saja menjalankan mobilnya saat tiba-tiba saja Kakek muncul di depannya. Kakek menangis, bersikeras menyatakan bahwa dialah yang membunuh korban.

Ia bahkan sampai berlutut, memohon pada Wan Seung untuk mempercainya. Tepat saat itu juga, dia mendapat kabar mengejutkan dari Kopral Park (tim forensik).


Saat Seol Ok tiba, dia melihat Dong Ki membawa Kakek masuk ke kantor polisi. Seol Ok penasaran, apa karena Kakek yang membuang jenazah korban? Wan Seung memberitahu kalau hasil otopsinya sudah keluar.

Kopral Park menjelaskan bahwa korban bukan meninggal antara jam 11:30 malam sampai 1 subuh, melainkan pada pukul 3 subuh. Itu jelas membuktikan kalau pembunuhanya bukan Tuan Cha. Hasil otopsi menunjukkan penyebab kematian korban adalah tenggelam.

Seol Ok sulit mempercayainya, korban jelas-jelas ditikam, ada darah di kusen jendela dan di mobil juga. Iya, itu memang terjadi. Tapi dia meninggal karena air memenuhi paru-parunya, mereka bahkan menemukan plankton di paru-paru dan organ tubuh lainnya.

"Jadi, dia masih hidup saat mereka melemparnya ke sungai." Seol Ok shock. Tapi dia masih sulit mempercayainya dan terus berusaha membela Kakek-Nenek, dia yakin kalau Kakek dan Nenek pasti mengira korban sudah mati saat mereka membuangnya. Wan Seung tak yakin, benarkah begitu?


Saat diinterogasi, Kakek mengakui bahwa ia tahu kalau korban masih hidup saat mereka membuangnya.

Dalam flsahback, Kakek memang melihat bungkusan berisi korban itu tampak bergerak-gerak saat mereka dalam perjalanan untuk membuangnya. Konsentrasinya terganggu gara-gara itu dan hampir saja membuat mereka ketabrak truk. Untungnya dia berhasil mengendalikan diri dan setirnya.


Kakek langsung menangis penuh penyesalan padahal selama ini dia selalu menganggap korban sebagai keluarganya sendiri. Shock, Seol Ok langsung melabraknya, jika seaandainya korban yang membunuh putra Kakek, apa Kakek juga akan melakukan hal yang sama?

Tepat saat itu, Nenek datang dan langsung menangis, mendengarkan segalanya. Sungguh tak menyangka kalau korban ternyata masih hidup saat mereka melemparnya sekejam itu kedalam sungai yang dingin. Kakek mengaku tak punya pilihan, dia melakukannya demi Hee Chul.

 

"Apa yang akan dilakukannya setelah mengetahui Ayahnya seorang pembunuh?" tangis Kakek. Tapi tepat saat itu juga, ia melihat Hee Chul di depan pintu, tercengang mendengarkan penuturan Kakek. Melihat Hee Chul, membuat Seol Ok terkenang akan masa lalunya sendiri.

Flashback,


Saat dia masih remaja, kedua orang tuanya meninggal dunia. Entah apa yang terjadi, tapi Polisi bersikeras menyatakan kematian mereka karena bunuh diri. Seol Ok menolak mempercayainya, kenapa juga kedua orang tuanya bunuh diri.

"Seseorang membunuh mereka. Kumohon... Kumphon cari tahu siapa pelakunya."

"Kami yakin 99,9% kalau itu adalah bunuh diri."

"Tidak 100%!" jerit Seol Ok. Tapi Polisi sudah malas meladeninya dan pergi begitu saja, meninggalkan Seol Ok tersungkur di lantai, menangis dan menjerit menuntut 100%.

Flashback end.


Seol Ok keluar dengan langkah lesu. Saat Wan Seung menyinggung kesepakatan mereka, Seol Ok mengakui kekalahannya. Wan Seung benar, dia hanya bermain-main saja, mana mungki IRT jadi detektif. Wan Seung tak enak mendengarnya, Seol Ok tidak salah juga kok. Tidak, 0,01% salah tetap saja salah. Itu bisa mengubah hidup seseorang.

Wan Seung meyakinkan kalau Seol Ok sudah sangat membantu. Jika bukan karenanya, kasus ini pasti akan ditutup jadi kasus perampokan. Tuan Cha itu memang baj*ng*n. Tapi tetap saja dia bukan pembunuhnya. Dia langsung pergi dan tak lupa menitip pesan pada Petugas Hong bahwa dia berterima kasih atas segalanya.

"Dan juga, terima kasih karena sudah memberiku waktu 20 menit lebih."


Ho Cheol tiba saat Seol Ok keluar. Dia cemas melihat wajah sedih Seol Ok, tapi Seol Ok dengan cepat menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Mulai sekarang, takkan terjadi apapun."

Mereka pun pergi, tanpa menyadari Wan Seung yang menatap mereka dari kejauhan. Di rumah, Seol Ok berusaha tetap ceria dan ketawa-ketiwi bersama keluarganya, bahagia melihat senyum bahagia keluarganya.


Wan Seung pulang ke rumahnya yang gelap dan sepi. Melihat kantong obat pemberian Seol Ok , dia jadi teringat saat Seol Ok mengobatinya dan berpesan padanya untuk merawat lukanya. Wan Seung akhirnya menuruti perintah Seol Ok dan meminum obatnya.

Dia lalu berbaring dan melihat fotonya bersama Yeon Soo. "Kau menyurhku untuk tidak terluka, maaf." Gumamnya.

Flashback,

 

Malam itu, dia terburu-buru ke sebuah bangunan kosong sambil berteriak-teriak memanggil Hyun Soo. Saat akhirnya dia menemukan Hyun Soo, dia malah menemukannya dalam keadaan sudah sekarat.

Flashback end.


Tidak tenang memikirkan kenangan masa lalu yang indah bersama Hyun Soo, Wan Seung akhirnya berjalan sempoyongan di jembatan dan menjerit sekencang-kencangnya. "Kapan kau akan pulang? Berapa alama aku harus menunggu? Aku akan menemukanmu. Aku takkan mati sampai waktunya. Kau dengar aku, Hyun Soo? Aku merindukanmu."

Tak lama kemudian dia ditelepon Dong Ki yang memperingatkannya untuk tidak heboh. Lalu terdengar suara marah Gwang Tae kalau dia tidak akan menyerah. Dong Ki cepat-cepat mengambil alih, dengan tergagap dia berkata bahwa besok... mereka... entah apa tapi hal itu sontak membuat Wan Seung marah.

 

Keesokan harinya, Ibu terkejut mendapati sup buatan Seol Ok terasa enak hari ini. Tapi dia penasaran, bagaimana bisa Seol Ok sampai menyaksikan kasus pembunuhan.

"Aku juga tidak tahu. Aku merasa takut. Itu tidak akan terjadi lagi. Aku janji."

Dia lalu ditelepon suaminya yang memintanya mengambilkan dokumennya. Walaupun tetap ceria di hadapan keluarganya, tapi begitu masuk ruang belajar, Seol Ok langsung menangis diam-diam.


Dia lalu pergi ke kantor kejaksaan, tapi malah melihat Wan Seung sedang menarik kerah baju suaminya dan mengkonfrontasinya. Sepertinya kasus Jang Do Jang hanya dianggap sebagai kasus pencurian biasa. Dia curiga, Ho Cheol dapat beasiswa dari Firma Hukum Ha dan Jung, bukan?

Anehnya, Ho Cheol tidak menyangkalnya dan balas protes, tak terima karena Wan Seung mencurigai seorang jaksa. Kesal, Wan Seung langsung melayangkan tinjunya. Shock, Seol Ok langsung berteriak "Oppa!"

Bersambung ke episode 6

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon