Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis Radiant Office Episode 10 - 1


Seo Hyun bergegas ke Rumah Sakit Universitas Hankook, wajahnya tampak cemas. Hmm, apakah dia mengetahui Ho Won dibawa ke sana?... Oh tidak, sepertinya dia datang mencari orang lain. Dia berlari masuk tepat saat Woo Jin datang dengan membopong Ho Won.

Saat Ho Won tengah dilarikan ke UGD, ingatannya terkenang kembali saat dia terjun ke Sungai Han dan bernarasi "Hari-hari itulah hari-hari terbaik selama 28 tahun aku hidup. Suatu kehidupan yang tidak memiliki hari esok adalah kutukan terakhirku dan hadiah pertamaku dari hidup yang tidak adil ini."

Teringat saat dia blak-blakan mengatai para rekan kerjanya sebagai pembohong, Ho Won menyadari bahwa dia ternyata orang yang selalu menyuarakan pendapatnya. Teringat pada kedua temannya dan Woo Jin, Ho Won bernarasi bahwa dia bertemu orang-orang baik yang bisa tertawa dan menangis bersamanya dan juga membuatnya bisa menikmati musim semi yang indah.

"Itu adalah hadiah bagiku. Setiap hari adalah mukjizat."
 

Dalam mimpinya, Ho Won berjalan di taman kantor dan melihat Woo Jin berdiri menunggunya di sana. Ho Won langsung lari kedalam pelukannya. "Terima kasih, GM Seo. Selamat tinggal."


Saat Ho Won membuka matanya beberapa saat kemudian, orang pertama yang dilihatnya adalah Woo Jin. Dia lalu membantu Ho Won duduk dan memberitahu kalau dokter sudah menjalankan pemeriksaan untuk Ho Won dan sebentar lagi hasilnya pasti akan keluar.

Ho Won mendesah meyadari pada akhirnya dia datang ke rumah sakit juga. Sebenarnya selama dia terlalu takut datang ke rumah sakit. Masalah biaya dan keluarganya itu cuma alasan agar dia tidak ke rumah sakit. Dia ingin menghindarinya selama mungkin dengan pikiran bahwa jika dia tidak tahu kapan dia akan mati, maka dia bisa melakukan banyak hal.

"Karena itu kau tidak takut?"

"Ingatkah saat kau bertanya padaku, apakah aku mencoba sesuatu seolah hidupku bergantung pada hal itu? sama seperti yang kau katakan. Saat aku bekerja seakan hidupku bergantung pada hal itu, aku tidak takut. Dan karena aku tidak takut jadi aku bisa bertahan."

Awalnya dia ingin menunjukkan kemampuannya pada dunia. Tapi setelah beberapa waktu, Ho Won sadar kalau dia tidak ingin menunjukkan apakah dia berguna atau tidak pada orang lain, dia justru ingin menunjukkan diri kalau dia bisa. Dia juga ingin membuktikan pada dirinya sendiri kalau dia adalah orang yang berpotensi.

Air matanya mengalir dan suaranya tercekat saat Ho Won mengaku kalau dia tidak ingin mati, dia sungguh ingin hidup. Masih banyak hal yang belum dia lakukan. Woo Jin tak tahu harus mengatakan apa dan hanya bisa menepuk-nepuk punggung Ho Woon.


Dokter masuk saat itu dengan membawakan hasil tesnya Ho Won. Ho Won langsung menggenggam lengan bajunya Woo Jin, terlalu takut mendengar apapun yang hendak dikatakan Dokter.


Seo Hyun menelepon seseorang dan meminta orang di seberang untuk datang kalau dia sempat. Setelah itu dia kembali ke kamar rawat dimana Ayahnya lah yang ternyata dirawat di sana dan belum sadarkan diri.

Seo Hyun mendesah melihat Ayahnya, "Pada akhirnya orang yang menemani ayah adalah aku. Sekarang, ayah harus mempercayakan segala sesuatunya kepadaku... meskipun ayah tidak mau."


Dokter mendesah saat mulai membacakan hasil tesnya Ho Won. Selama ini Ho Won pasti kesakitan, pencernaannya pasti tidak lancar. Rasa sakitnya selama ini pasti datang tiba-tiba lalu menghilang begitu saja seolah tak pernah terjadi.

Air mata Ho Won semakin mengalir mendengarnya. Dia menggenggam erat tangan Woo Jin, berusaha tegar sebelum mendengarkan ucapan Dokter selanjutnya. Tapi saat Dokter mulai bicara lagi, Ho Won langsung menutup telinganya rapat-rapat.

Woo Jin cemas, apa sakitnya Ho Won parah. Dokter berkata kalau sakitnya memang tidak perlu diobati tapi Ho Won bisa saja merasakan sakit yang hebat. Ho Won semakin takut mendengarnya dan menutup kedua lubang telinganya makin erat hingga dia tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan Dokter pada Woo Jin.


Setelah Dokter pergi, Woo Jin kembali menghadapi Ho Won dan menyampaikan apa yang dikatakan Dokter tadi bahwa besok Ho Won harus dioperasi. Berusaha menahan emosinya, Ho Won bertanya berapa lama dia bisa hidup kalau dia dioperasi?

"Entahlah..." jawab Woo Jin dengan wajah cemas, tapi kemudian dia bilang "Ada batu di hatimu."

Ho Won makin shock, "Kanker hati?"

"Dokter bilang kau kena penyakit batu empedu. Dokter juga bilang kalau hidupmu masih panjang. Seharusnya aku tahu dari banyaknya kesalahan-kesalahanmu, kau ini luar biasa sekali."

Woo Jin terus mengomeli. Seharusnya Ho Won malu sekarang ini, kejadian ini tidak akan terjadi kalau dia mau ke rumah sakit sedari dulu. Sadar dirinya tidak sakit parah dan tidak akan mati, tangis Ho Won pun langsung pecah sambil mengucap terima kasih pada Woo Jin dan berjanji akan menjalani hidupnya dengan baik. Woo Jin tersenyum melihatnya.


Seo Hyun keluar ke lobi saat dia melihat Woo Jin di sana sedang menelepon Ji Na terkait pekerjaan. Dia langsung menghampiri Woo Jin dan memberitahu kondisi Presdir Seo yang cukup parah, bahkan tak ada yang bisa menjamin berapa lama Presdir Seo akan bertahan dalam kondisi seperti ini.

Seo Hyun pasti khawatir. Tentu saja sebagai anak, dia khawatir. Tapi dia yakin ada beberapa orang yang lega dengan kondisi Ayahnya. Woo Jin yakin masih banyak orang yang mendukung Presdir. Tapi Seo Hyun berkata bahwa sebagai presdir, Ayahnya harus mengkategorikan orang-orang, mana yang kawan dan mana yang lawan. Beliau bahkan mengkategorikan anak-anaknya sendiri.

Woo Jin menduga kalau hubungan ayah-anak mereka pasti tidak akrab. Seo Hyun bertanya balik, bagaimana hubungan Woo Jin sendiri dengan Ayahnya. Biasanya kalau Ayahnya Woo Jin menelepon, dia hanya tanya keadaannya dan apakah dia sudah makan.


Seo Hyun berkomentar kalau hubungan Woo Jin dan Ayahnya tidak jauh berbeda dengan hubungannya dan Ayahnya. Tapi Woo Jin menekankan bahwa baginya dan Ayahnya hubungan seperti itu sudah cukup bagi mereka. Ayahnya akan bahagia selama dia makan dan tidur teratur.

"Dia tidak peduli jika anaknya punya kekuasaan atau tidak, dan akupun begitu." Ujar Woo Jin, mengingatkan Seo Hyun akan percakapan mereka tentang kekuasaan saat mereka makan siang bersama waktu itu.

Dia mendoakan kesembuhan Presdir Seo lalu pamit. Seo Hyun hanya diam menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.


Ki Taek dan Kang Ho berkaca-kaca haru saat Ho Won menelepon mereka dan mengabarkan penyakitnya bukan penyakit parah. Mereka begitu bersyukur dan langsung saling berpelukan saat itu juga, tepat saat Asisten Lee masuk dan langsung salah paham. wkwkwk.

 

Tuan Park dan Manajer Jo berkumpul di ruangan Dirut Han, membicarakan Presdir Seo yang jatuh sakit. Jelas ini adalah berita baik bagi Tuan Park karena jika Seo Hyun mengambil alih kekuasaan maka akan harapan baginya untuk naik jabatan.

Dirut Han berdecih melihat Tuan Park senyam-senyum nggak jelas dan mengingatkannya kalau tim penjualan dalam situasi buruk dan bisa saja diberhentikan, tapi sekarang mereka bisa aman sejak Presdir Seo sakit.

Manajer Jo bertanya-tanya, kabarnya Presdir Seo mempekerjakan orang-orang dari luar perusahaan, apakah Woo Jin salah satunya? Dirut Han tak yakin, tapi dari sikap Woo Jin yang suka menuduh mereka, dia yakin kalau Woo Jin pasti didukung seseorang.


Manajer Heo memberikan laporan pada Woo Jin sambil bertanya apakah dia sudah mengetahui kondisi Presdir Seo. Woo Jin mengiyakannya dia sudah bertemu Seo Hyun di rumah sakit saat dia mengantarkan Ho Won ke rumah sakit. Manajer Heo menyemangatinya untuk memenangkan penghargaan insentif pada hari ulang tahun perusahaan nanti.

 

Saat Tuan Park mengetahui Woo Jin mengincar penghargaan itu, sontak ia marah besar. Heran dia, memangnya bisa meluncurkan lini produk baru itu mengesankan apa? Dia terus mengoceh panjang lebar dengan kesal dan makin kesal saat Manajer Jo malah memuji kesuksesan tim marketing dalam peluncuran produk baru itu.

Tuan Park tidak terima kalau Woo Jin sampai memenangkan penghargaan itu. Kalau dia sampai memenangkannya maka skor laporan kinerjanya akan berlipat ganda yang bisa dia manfaatkan untuk melakukan negoisasi gaji. Tuan Park tidak rela kalau Woo Jin sampai mendapatkan kesempatan itu.

Karena itulah, dia bersumpah tidak akan membiarkan itu sampai terjadi. Jika dia tidak bisa memenangkan penghargaan maka Woo Jin juga tidak akan bisa memilikinya.

 

Ki Taek dan Kang Ho masuk ke rumah sakit sambil menyembunyikan wajah-wajah mereka dibalik poster, takut ketahuan pihak rumah sakit dan disuruh bayar tagihan rumah sakit mereka yang dulu. Tentu saja tingkah mereka itu malah tambah mencurigakan, tapi untungnya mereka selamat sampai kamarnya Ho Won.


Ho Won pun telat sadar kalau ini adalah rumah sakit tempatnya di rawat dulu. Ki Taek mengusulkan agar mereka membayar tagihan mereka yang dulu saat mereka sudah mendapatkan gaji mereka bulan depan.

Kang Ho meyakinkan Ho Won untuk tidak cemas. Dia sudah menabung sejumlah uang untuk membantu biaya pemeriksaannya Ho Won. Aww, sweet. Ho Won terharu mendengarnya dan berterima kasih.

"Ini sangat mengagumkan, bagaimana semuanya bermula di sini dan akan berakhir di sini juga." Ujar Ki Taek.

Mendengar itu, mereka bertiga teringat kembali saat mereka bertiga hendak bunuh diri bersama malam itu dan meneriakkan masalah masing-masing di jembatan. Ingatan yang membuat air mata mereka kembali menitik dan membuat para pria menyadari bahwa kisah bahwa hidup itu adil dan kerja keras pasti akan terbayar itu cuma ada dalam kisah anak-anak.

Ho Won meminta mereka untuk tidak sepesimis itu. Mereka memang diberkati kok, sekarang mereka punya pekerjaan jadi sekarang mereka harus rajin bekerja agar kerja keras mereka terbayar. Kalau begitu, jika bukan salah satu dari mereka bertiga, lalu siapa yang dibicarakan dokter di UGD waktu itu? Ki Taek menduga pasti ada pasien lainnya.

 

Beberapa saat kemudian, Ho Won mengantarkan kedua temannya keluar. Kang Ho berkata kalau dia akan datang lagi besok setelah pulang kerja, tapi Ho Won malah langsung menolaknya. Ki Taek bertanya-tanya, apakah dia menunggu orang lain kalau begitu?

Ho Won kaget, sepertinya iya tapi dia menyangkalnya. Ki Taek mengomelinya untuk membereskan kekacauan yang dia buat di kantor saat dia sudah kerja lagi nanti, setelah itu mereka pun pulang.


Ho Won hendak kembali ke kamarnya saat Seo Hyun tiba-tiba memanggilnya. Mereka lalu duduk bersama di lobi dimana mereka membahas operasi yang akan dijalani Ho Won besok. Seo Hyun protes karena Ho Won tidak bilang-bilang padanya kalau dia dirawat di rumah sakit ini.

Karena Ho Won datang kemari mendadak dan tidak punya waktu untuk memberitahu Seo Hyun. Lagipula Seo Hyun sudah banyak membantunya. Ah, Seo Hyun baru ingat kalau tadi dia bertemu dengan Woo Jin tadi, tapi kenapa Woo Jin tidak bilang apa-apa tentang Ho Won, dia cuma bilang kalau dia datang kesini karena seseorang yang dia kenal. Ho Won beralasan kalau Woo Jin datang untuk menjenguk orang lain dan mampir sebentar ke kamar rawatnya.


Woo Jin datang saat itu dan melihat mereka dari kejauhan, tapi akhirnya dia memutuskan untuk langsung pergi. Saat Ho Won kembali ke kamarnya beberapa saat kemudian, dia mendapati bubur labu manis yang ditinggalkan Woo Jin untuknya.


Ho Won langsung berkeliling mencari keberadaan Woo Jin. Tapi Woo Jin tidak ada dimana-mana. Ho Won sudah mulai menyerah saat tiba-tiba dia mendengar Woo Jin memanggilnya. Ho Won tampak begitu lega sebelum dia berpaling ke Woo Jin.


Mereka lalu kembali ke kamar rawatnya Ho Won yang sepi. Dia sebenarnya berharap ada pasien lain agar dia tidak sendirian, tapi sepertinya tidak akan ada pasien yang datang hari ini. Dia tidak suka sendirian, apalagi ini rumah sakit, rasanya menakutkan.

Woo Jin langsung menawarkan diri untuk menemani Ho Won, lagipula dia tidak ada kerjaan di rumah. Ho Won bertanya-tanya, saat dia salah kirim email ke semua orang waktu itu, waktu itu kan Woo Jin setuju untuk diadakan voting tentang apakah dia akan dipecat atau tidak, waktu itu Woo Jin memilih setuju atau tidak setuju?


Woo Jin tidak mau menjawabnya semudah itu dan bertanya balik dulu. Apakah Ho Won mencoba bunuh diri waktu itu karena dirinya. Dari mana Woo Jin mengetahui masalah itu? Woo Jin mengaku pernah melihatnya di berita. Ho Won mengaku kalau hari itu adalah hari yang sangat berat hingga membuat keputusan yang tidak tepat.

"Apa kau pikir mati itu gampang?"

"Tidak. Tapi hidup itu juga tidak gampang. Saat tak ada harapan, sangat sulit melalui hari-hari. Aku merasa harapan terkecilku dirampas semua."

Menurut Woo Jin pikirkan konyol semacam itu sangat tidak dewasa. Ho Won membenarkannya, tapi kalau dipikir-pikir lagi, hari itu jugalah keajaiban dalam hidupnya bermula.


"Aku punya pekerjaan dan bertemu orang-orang yang baik," ujar Ho Won (sambil menatap Woo Jin).

Woo Jin tersenyum mendengarnya. Jadi apakah Ho Won sudah belajar dari kesalahannya? "Kau harus hidup untuk bisa melihat adanya keajaiban."

Ho Won memang sangat menyesali perbuatannya itu. Dia memberitahu Woo Jin kalau hari itu, ada seorang Ahjumma yang memberi mereka nasih gratis. Ahjumma itu berkata bahwa ada malaikat pencabut nyawa yang menunggu semua orang di dunia ini, tidak banyak hal yang membuat kita bertahan hidup.

Ho Won selalu menganggap itu sebagai sebuah beban. Tapi sekarang dia mulai menyadari, bahwa setiap hari adalah istimewa. Woo Jin tersenyum mendengarnya.


Beberapa saat kemudian, Ho Won sudah tidur nyenyak. Woo Jin dengan selimut merapatkan selimutnya Ho Won lalu mengecek suhu tubuh Ho Won. Dalam perjalanan pulang, dia kembali teringat ucapan Ho Won tentang hidup manusia yang singkat dan setiap hari adalah istimewa.


Ho Won terbangun tak lama kemudian dan menemukan sebuah kertas tertempel di dahinya. Kertas itu hanya berisi gambar bulat, tapi sontak membuat Ho Won senang karena itu adalah jawaban Woo Jin, dia memilih setuju dalam votingnya Ho Won dulu.

Woo Jin baru sampai rumah dengan membawa beberapa paket. Dia hendak membuka paketnya saat dia mendapat sms ucapan terima kasih dari Ho Won. Woo Jin bingung harus menjawab bagaimana. Ho Won pun terus menanti pesan balasan Woo Jin yang tak kunjung datang.

Tapi tak lama kemudian akhirnya dia mendapat sms dari Woo Jin yang berkata kalau dia akan menjemput Ho Won kalau dia sudah boleh keluar dari rumah sakit nanti. Ho Won makin bahagia mendapat sms itu, dalam hatinya dia berpikir kalau keajaiban sepertinya mulai terjadi sejak hari ini.

Bersambung ke part 2

2 comments

Terima kasih mba sudah buat sinopsis radiant office ep 10 nya. Di tunggu part 2 nya. Semangat ya nulis nya...

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon