Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis Radiant Office Episode 11 - 1



EunJangDo shock menonton acara wawancaranya Seo Hyun itu, menyadari ketiga orang yang Seo Hyun bicarakan itu adalah mereka.

Seo Hyun datang tak lama kemudian dan langsung menghampiri mereka bertiga, sengaja memperkenalkan pada para pegawai dan wartawan sebagai ketiga orang yang dimaksudnya.
Dia menyapa mereka dengan akrab tapi mereka terlalu tercengang dengan semua ini saampi speechless. Saat Wartawan meminta mereka memberitahukan pendapat mereka tentang kisah mereka yang mirip film ini, mereka semua diam.

"Ini bukan film, tapi mimpi buruk." batin Ho Won sembari menatap Seo Hyun dengan tatapan seperti merasa terkhianati.

 

Tidak mendapat jawaban apapun, Wartawan akhirnya usul agar mereka foto bareng saja. Seo Hyun dengan senang hati merangkul EunJangDo dan pose manis pada kamera, padahal EunJangDo sama sekali tidak nyaman dengan semua ini, mereka bahkan terlalu malu untuk mengangkat kepala mereka. Woo Jin diam saja di belakang, memperhatikan mereka dengan prihatin.

Selesai foto, Seo Hyun langsung pergi bersama sekumpulan eksekutif yang mengekorinya. Ho Won mengejarnya, tapi Seo Hyun tidak ada waktu bicara dengannya sekarang, malah meminta Woo Jin untuk menjelaskan segalanya pada EunJangDo.

Begitu Seo Hyun pergi, Ho Won langsung berpaling ke Woo Jin. Dia juga mengetahui hal ini? Woo Jin mengajak mereka bertiga naik dulu.


Tak ayal, begitu mereka datang, langsung jadi pusat perhatian. Asisten Lee menatap mereka dengan sinis, sementara Ji Na menatap Ki Taek dengan prihatin.

Begitu EunJangDo masuk ruangannya Woo Jin, Asisten Lee langsung sibuk menggosip ria sambil niruin gayanya Woo Jin. Dia yakin EunJangDo bakalan kena masalah dengan Woo Jin, soalnya Woo Jin kan tidak suka dengan karyawan yang masuk ke perusahaan lewat koneksi.

 

Tapi Woo Jin sama sekali tidak marah. Dia mengkonfirmasi kalau mereka bertiga memang diterima berkat pwngaruh atasan. Seo Hyun datang pada hari wawancara kerja dan melihat mereka.

Ho Won kecewa pada Woo Jin. Sejak kapan dia tahu? Kenapa dia tidak memberitahu mereka? Krena Woo Jin berpikir lebih baik seperti itu. Karena inukah Woo Jin selalu mengira kalau mereka diterima kerja secara tidak sah? Tidak, Woi Jin mengetahui masalah ini baru-baru ini.

Lalu apa yang harus mereka lakukan sekarang? Haruskah mereka berhenti? Entahlah, keputusan itu ada di tangan mereka sendiri. Mereka memang tidak bisa menghentikan hal yang tak diinginkan terjadi, tapi mereka juga tidak bisa menyalahkan orang lain setiap kali masalah seperti ini terjadi. Jadi mereka harus membuat keputusan sendiri. Yang penting jangan biarkan masalah ini mempengaruhi mereka dan fokus kerja saja.


Mereka akhirnya keluar. Tapi kemudian Ho Won berbalik lagi. Jika saja Woo Jin memberitahunya sebelumnya, setidaknya dia tidak akan membuat dirinya jadi kelihatan bodoh. "Aku marah pada Dr.  Seo. Tapi aku juga marah padamu, GM Seo."


EunJangDo duduk di luar setelah itu, gelisah memikirkan semua orang akan segera tahu kalau merekalah yang diterima kerja melalui koneksi, memalukan sekali. Kalau dipikir-pikir memang banyak yang aneh, ternyata mereka naif sekali. Ki Taek heran, bukankah Ho Won katanya dekat dengan Seo Hyun?

"Sepertinya aku keliru," desah Ho Won.

Teganya dia melakukan ini pada mereka. Kalau begitu, dokter yang membicarakan orang yang sakit parah waktu itu, apa dia Seo Hyun? Kalau iya, berarti dia jahat sekali. Jika dia mengatakan dengan jelas tentang kesehatan mereka maka Ho Won pasti tidak akan kesusahan.

Tapi Kang Ho merasa Seo Hyun memang tidak tahu. Okelah kalau dia tidak memberitahu mereka, tapi tega sekali tidak memberitahu Ho Won tentang masalah ini padahal mereka sudah pernah bertemu beberapa kali. Ki Taek bertanya-tanya, sekarang mereka harus bagaimana? Apa sebaiknya mereka berhenti saja?

"Mana bisa kita berhenti. Kalau kita berhenti, apa ada hal lain yang bisa kita lakukan?"

Tepat saat itu juga, ada dua orang pegawai lewat dan langsung menggosipkan mereka dengan cukup lantang, mereka benar-benar malu gara-gara itu.

 

Dirut Han melirik Tuan Park dengan sinis, tak menyangka kalau Tuan Park bisa menutup mulut serapat itu, seharusnya dia memberi isyarat kalau dia mengenal putra kedua presdir. Tuan Park sok rendah hati mengklaim kalau dia tidak begitu dekat dengan Seo Hyun, bahkan mengklaim kalau dia belum pernah mendengar kabar darinya sejak saat itu. Kesetiannya hanya pada Dirut Han seorang kok.


Sontak keduanya saling lempar lirikan sinis sambil sindir-menyindir dalam hati seolah mereka bisa bertelepati. Tuan Park pasti sangat setia sekali sampai mengkhianatinya dengan membantu putra kedua presdir, dia benar-benar licik. Apa Dirut Han menyesal sekarang karena sudah mencoba meyingkirkannya?

"Walau begitu, jika dia meminta bantuan padamu seperti ini, bukankah itu artinya dia sangat berharap tinggi padamu?"

Tuan Park lagi-lagi sok rendah hati menyangkalnya. Tapi Seo Hyun pernah bilang kalau dia menganggap Tuan Park seperti hyung-nya sendiri. Secara bersamaan, mereka hendak mengambil satu kue yang sama tapi garpunya Tuan Park yang sampai duluan. Dia langsung sok-sokan menyesalinya dan menawarkannya ke Dirut Han.

Dirut Han mengalah, makan saja. "Toh sapi tetap tidak bisa menjadi raja hanya karena dia kuat. Ketua mungkin sebentar lagi sembuh. Lagipula Dr. Seo itu bukan anak pertama."


Tuan Park mengklaim kalau Seo Hyun itu tidak serakah, padahal dalam hatinya dia berkata kalau Seo Hyun itu sangat serakah. Manajer Jo datang saat itu. Saat Dirut Han bertanya apakah dia mengenal Seo Hyun, dia pura-pura menyangkalnya. Tuan Park tercengang melihat kelihaian Manajer Jo.

Manajer Jo bahkan berkomentar kalau Tuan Park pasti sangat terkejut karena masalah ini mendadak terungkap. Dirut Han dengan sinis berkomentar kalau Tuan Park kan memang pengecut, dia pasti sangat terkejut. Tuan Park jelas kesal mendengarnya. Tapi dia merasa kisah EunJangDo yang menggerakkan hati Seo Hyun itu baik bagi sitra perusahaan?

"Tapi waktunya agak tidak tepat." Ujar Dirut Han.


Woo Jin juga sedang mendiskusikan masalah ini dengan Manajer Heo. Apa yang Seo Hyun lakukan ini membuktikan kalau dia secara terbuka menunjukkan keinginannya untuk menguasai perusahaan. Teringat tawaran Seo Hyun waktu itu, Woo Jin berpikir kalau Seo Hyun pasti sedang mempertimbangkan timing-nya.

Sepngetahuan Manajer Heo, putra pertama ketua tidak menginginkan warisan Ketua. Karena Ketua jatuh sakit, Seo Hyun bisa bertindak sebagai walinya dan menjalankan wewenangnya atas perusahaan. Manajer Heo yakin akan ada perubahan politik perusahaan. Ini masalah serius. Sepertinya dia juga ada hubungan dengan Tuan Park. Apa dia berencana memindahkan pemegang saham.

Diskusi mereka tak sempat berlanjut karena Seo Hyun datang saat itu. Manajer Heo keluar sambil bergumam lirih. "Sekarang aku mengerti kenapa Ketua Seo bilang kenapa anak keduanya tidak boleh menggantikannya. Apa GM Seo mampu menghadapinya?" (Hmm, ternyata dialah orang dalam Ketua Seo)


Saat Seo Hyun membahas Ho Won cs yang sedang tidak ada di kantor, Woo Jin dengan sinis menyindir kejutan yang Seo Hyun berikan tadi sampai membuat pikiran mereka kacau. Seo Hyun pasti suka sekali yah memberi kejutan. Apa harus dia memanfaatkannya dalam situasi ini juga?

Seo Hyun mengklaim kalau dia terpaksa harus melakukan sesuatu yang bisa berdampak seperti ini, semua itu gara-gara Ayahnya sehingga dia tidak pernah dianggap di perusahaan. Woo Jin makin sinis, Seo Hyun tidak bekerja di perusahaan tapi dia sibuk sekali mengurusi banyak hal, mulai dari tuduhan suapnya hingga membintangi acara wawancaranya sendiri. Dia sampai kewalahan untuk mencoba memahami maksud Seo Hyun ini.

"Haruskah saya merasa terhormat karena orang sibuk seperti anda datang ke kantor saya? Apa sebenarnya rencana anda?"

Sikap Woo Jin inilah yang Seo Hyun sukai. Dia lugas, jujur dan mengatakan semua yang dia inginkan tanpa berlebihan. Karena itulah Seo Hyun akan terus berusaha membujuk Woo Jin sampai Woo Jin setuju. Woo Jin lah orang yang tepat untuk tugas seperti ini.


Woo Jin santai menegaskan kalau dia dipekerjakan untuk bekerja bagi perusahaan dan bukannya untuk Seo Hyun. "Aku akan bekerja keras untuk perusahaan, sekarang dan seterusnya. Menurutku anda tidak perlu repot-repot mencoba merekrut saya. Saya ada urusan, saya pergi dulu."

"Baiklah. Aku sepenuhnya mengerti apa yang ingin kau katakan. Kurasa aku sudah tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya."


Seo Hyun lalu makan siang bersama Tuan Park dan Manajer Jo. Saat Seo Hyun mengomentari suasana perusahaan yang menyenangkan, Tuan Park langsung sok mengklaim semua itu berkat dirinya yang berusaha mempertahankan budaya demokrasi yang adil di kantor.

Tapi Seo Hyun tidak terlalu menyukainya dan menegaskan kalau ketertiban dan keseganan moderat tetap dibutuhkan. Bukankah sekarang ini saat yang tepat untuk kepemimpinan yang kuat? Dia mengumumkan kalau dia sudah menutup rumah sakitnya dan akan bekerja di perusahaan.

Dia lalu menyinggung laporan keuangan yang menurutnya sangat kacau sejak Ayahnya jatuh sakit. "Sepertinya sebuah perusahaan tanpa bimbingan dari sang empunya perusahaan pasti punya banyak masalah."

Tuan Park diam saja, padahal batinnya menyindir sinis. "Jadi kau pikir kaulah empunya?"


Dia juga memuji kemampuan kerja Manajer Jo dan dengan tajam memperingatkannya untuk bekerja sebaik mungkin, dia orang yang sangat teliti dalam masalah penghargaan dan hukuman. Sikapnya jelas membuat kedua orang itu tak nyaman. Tuan Park bertanya-tanya, kalau Seo Hyun mau kerja di perusahaan, dia mau menempati posisi apa?

"Entahlah. Apa kau bisa menyiapkan posisiku, GM Park?" Seo Hyun mengklaim kalau dia masih pemula dan masih perlu banyak belajar, jadi dia menginginkan posisi yang paling pantas untuknya. Mungkin posisi yang tidak menimbulkan ketidakharmonisan diantara para karyawan.

Tuan Park dan Manajer Jo berpendapat kalau mencari posisi untuknya tidak akan bisa semudah itu mengingat mereka baru saja mengalami perubahan posisi kerja. Seo Hyun dengan tajam mengisyaratkan mereka untuk memecat seseorang. Tuan Park mengiyakannya saja.


Begitu mereka kembali ke kantor, Tuan Park langsung menggerutu kesal dengan sikap Seo Hyun tadi. Manajer Jo cemas, posisi apa yang sebaiknya mereka berikan padanya. Tuan Park berkata kalau dia punya ide tapi nanti saja dia beritahu.


Woo Jin menyuruh Ho Won pergi ke percetakan. Ji Na minta izin keluar bersama Ki Taek untuk mengecek desain interior toko di Ilsan. Asisten Lee bertanya kapan laporannya selesai. Saat Kang Ho berkata masih lama, Asisten Lee langsung sinis menyindir Kang Ho yang diterima kerja lewat koneksi.

Kang Ho cuma bisa terdiam sedih dan Manajer Jo prihatin melihatnya. Saat mereka bertemu di dapur, Manajer Jo memberikan secangkir kopi untuknya dan memuji laporan yang Kang Ho buat kemarin. "Kang Ho-ssi, bersemangatlah."


Ho Won berjalan dengan langkah lesu teringat pertemuannya dengan Seo Hyun dulu yang berpura-pura tidak mengenalinya, tapi nyatnya dia tahu semuanya. Teringat saat mereka makan tteokbokki waktu itu, rahasia yang Seo Hyun katakan waktu itu pasti masalah ini.

Dia berdecih sinis saat teringat ucapan Seo Hyun yang memintanya untuk tidak mencapnya sebagai orang jahat jika nantinya dia menyakiti Ho Won.

Saat hendak menyeberang, seseorang tak sengaja menubruknya dan meminta maaf dengan sangat sopan padanya. Emosi Ho Won langsung tersulut, mau mendapatkan permintaan maaf dari Seo Hyun.


Dia langsung mengajak Seo Hyun ketemuan di cafe dan tanpa basa-basi mengkonfrontasinya, kenapa Seo Hyun melakukan itu?

Selama ini Seo Hyun punya banyak waktu untuk memberitahunya, seharusnya dia memberitahunya. Seo Hyun mengklaim susah mencari waktu yang tepat untuk memberitahu Ho Won, tapi tidak usah khawatir dengan foto tadi, dia sudah meminta media untuk tidak mempublikasikan foto mereka bertiga.

"Apa itu penting bagimu? Dr. Seo yang kukenal sangat baik dan lemah lembut. Tega sekali kau melakukan ini padaku?"

Seo Hyun dengan dinginnya memperingatkan Ho Won untuk tidak terkecoh dengan perbuatan baik tanpa motif tersembunyi. Perbuatan baik yang pernah dia lakukan pada mereka bertiga, hanyalah membuat mereka diterima kerja. Karena itulah mereka bertiga bisa memakai tanda pengenal itu di leher mereka. Anggap saja ini sebagai hadiah kecil dari perbuatan baiknya.


Tetap saja Ho Won tidak bisa terima, dia membuat dunia tahu tentang situasi mereka tanpa memberitahu mereka terlebih dulu. Seo Hyun santai berkata kalau di dunia ini tidak ada yang namanya makan siang gratis.

Ho Won berterima kasih karena dia membantu mendapatkan pekerjaan untuknya, tapi Ho Won marah karena dia mengungkapkan kebenaran? Lalu haruskah dia merampas semua yang sudah dia berikan pada Ho Won?

"Kau tidak ingin dipermalukan, tapi kau ingin enaknya saja. Itu namanya egois, Ho Won."

Ho Won sungguh tak percaya mendengarnya. Selama ini dia menganggap dirinya sakit parah. Di ruang UGD waktu itu, dia mengira orang yang dibicarakan dokter adalah dirinya. Dia sengaja tidak menemui dokter dan pergi kerja dengan bahagia seakan dia menukar nyawanya dengan pekerjaan ini.

Saat-saat itu adalah saat yang berharga dan dia bangga pada dirinya sendiri. Tapi Seo Hyun malah ingin menjadi pahlawan dengan memanfaatkan mereka bertiga demi kepentingannya sendiri. Seo Hyun sudah membuatnya kehilangan pekerjaan yang selama ini begitu dibanggakannya ini, dia juga kehilangan dokter luar biasa yang pernah dikenalnya.

"Tapi, aku hanya akan mengingat dokter yang kukenal kemarin." Ho Won pun beranjak pergi.

"Dia ternyata panda menepati janjinya, dia tidak memanggilku orang jahat."


Saat Ho Won tiba di percetakan, dia mendapati Woo Jin sudah menunggunya di sana. Tak tahan lagi, Ho Won langsung menangis. Setelah dia tenang, Woo Jin membawanya ke pinggir sungai dan bertanya-tanya apakah Ho Won masih kesal karena dia tidak memberitahu?


Bukannya kesal, hanya saja dia merasa sangat malu pada Woo Jin, dia mengkritik Woo Jin karena mencurigai mereka diterima kerja dengan cara tidak adil tapi ternyata mereka memang diterima kerja karena rasa kasihan. Ho Won meminta maaf untuk itu.

"Saat aku mengira kalau aku sekarat, setiap hari terasa seperti mukjizat. Kupikir aku akan bahagia asalkan bisa hidup."

"Bukankah sekarang lebih baik daripada hari-hari itu?"

Tidak, Ho Won tidak merasa sebahagia saat itu. Mereka sama sekali tidak tahu kalau mereka diterima kerja karena Dr. Seo, tapi entah kenapa dia merasa seolah dirinya lah yang melakukan kesalahan. Apa yang harus mereka lakukan sekarang?


Di tempat lain, Ji Na mengomeli Ki Taek untuk bertahan dan menasehatinya untuk menganggap hal ini sebagai hadiah atas kerja kerasnya saja alih-alih merasa malu karenanya. Tetap saja KI Taek sulit menerimanya, dia juga punya harga diri.

"Mempertahankan harga diri tidak akan membuatmu maju!" bentak Ji Na. Banyak karyawan biasa yang tidak punya kesempatan untuk bisa bicara dengan putra ketua, seharusnya Ki Taek manfaatkan saja kesempatan ini untuk mendekati Seo Hyun.


Di rumah sakit, Seo Hyun meletakkan jas dokternya di samping Ayahnya yang masih koma dan menyatakan kalau dia tidak akan lagi memakai jas dokternya. Lagipula, selama ini dia hanya memakainya untuk menunjukkannya pada Ketua Seo saja.

Sambil menggenggam tangan Ketua Seo, dia berkata bahwa seandainya Ketua Seo memilihnya saat Ketua Seo menceraikan Ibunya dulu maka sekarang hidupnya pasti akan berbeda. Sejak hari itu, semua keputusan yang dibuatnya semata-mata hanya demi mendapatkan perhatian Ketua Seo.

"Aku akan mengambil alih posisi Ayah. Aku akan menunjukkan pada Ayah kalau aku bisa sehebat Ayah."

Bersambung ke part 2

2 comments

terima kasih mba ima atas sinopsis nya ditunggu part 2 nya dan ep 12.... Semangat mba nulisnya...

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon