Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis Radiant Office Episode 11 - 2


Asisten Lee lagi-lagi dengan sinisnya menyinggung EunJangDo yang mendapatkan pekerjaan mereka karena mengenal putra ketua. Dia bahkan menuduh sikap berani Ho Won selama ini, pasti karena dia memiliki pendukung yang kuat.

EunJangDo berusaha membela diri kalau mereka sungguh tak tahu apapun, tapi Asisten Lee sama sekali tak mempercayai mereka. Ji Na langsung menyela dan membentak Asisten Lee untuk diam saja dan kembali kerja.

Dia lalu masuk ke dapur untuk melihat-lihat isi sosmed-nya EunJangDo. Sayangnya, dia tidak mendapati satupun gambar yang penting. Tapi di akunnya Ki Tae, dia mendapati sesuatu yang sontak membuatnya melongo, foto mesra Ki Taek dan Ji Na.


Saat mereka hendak berangkat ke toko, Ji Na memberikan berbagai instruksi pada Ho Won dan Ki Taek. Asisten Lee langsung menatap Ji Na dengan senyum licik lalu secara tak langsung menyindir hubungan Ji Na dan Ki Taek, perusahaan mereka ini benar-benar tempat yang bagus, bisa dapat gaji sekaligus bisa kencan.

Bingung maksud Asisten Lee, Ji Na mengacuhkannya dan memerintahkan EunJangDo untuk pergi bersama mengecek Toko di Gangseo sementara dia dan Asisten Lee pergi ke Gangnam. Asisten Lee langsung menggerutuinya begitu Ji Na pergi, dia benar-benar orang yang kaku. Iya, nggak Ki Taek?

"Entahlah. Menurut saya dia pintar," ujar Ki Taek.

"Selera wanitamu aneh." Sindir Asisten Lee.


Kedua GM berkumpul di ruangan Dirut Han, mendiskusikan masalah impor dan kurangnya karyawan yang menangangi masalah itu. Ngomong-ngomong masalah itu, Woo Jin mengusulkan agar Dirut Han segera mengangkat salah satu karyawan kontrak untuk jadi pegawai tetap.

Tapi Dirut Han tidak setuju kalau memilih ketiga orang itu, lebih baik merekrut orang baru. Lagipula mengingat bagaimana mereka direkrut, Dirut Han jadi semakin meragukan kelayakan mereka untuk mendapatkan posisi tetap. Memang sih ucapan Dirut Han benar.

Tapi Tuan Park mengingatkan kalau EunJangDo masih didukung Seo Hyun, bagaimana kalau mereka mengangkat ketiga orang itu jadi karyawan tetap? Mereka tak sempat melanjutkan lebih jauh karena Tuan Park mendapat telepon saat itu.


EunJangDo berada di klinik hewan gara-gara ditugasi TUan Park untuk menjemput anjingnya. Lucunya, anjingnya Tuan Park bernama Jung Tae (namanya Dirut Han). Ho Won sampai mendengus geli mendengar namanya. Entah Tuan Park menamainya begitu karena suka atau malah dendam dengan Dirut Han.

Ki Taek dan Ho Won kesal karena dikasih tugas semacam ini. Keterlaluan. Dan semua ini hanya karena mereka mendapatkan pekerjaan lewat koneksi. Saat dokter hewan tahu kalau anjing itu anjinga atasan mereka, kontan dia mendengus geli. Sepertinya dia anjing yang penting sampai punya 3 sekretaris. wkwkwk. EunJangDo merasa terhina.


Mereka lalu cepat-cepat kembali ke kantor untuk menyerahkan anjing kembali ke tuannya, apalagi mereka sudah terlambat ke toko.

Tapi di tengah jalan, mereka malah berpapasan dengan Dirut Han dan Woo Jin yang kontan saja marah-marah karena mereka bawa hewan ke tempat kerja. Parahnya lagi, mereka tidak bisa membela diri apalagi memberitahukan siapa pemilik anjing itu sebenarnya.

Dirut Han makin kesal melihat reaksi mereka, apa pantas orang-orang ini bekerja di sini? Mana bisa dia memberi posisi tetap pada mereka? Anak ketua itu ternyata mempekerjakan orang-orang tidak kompeten. Dia pikir ini perusahaan atau badan amal? Anaknya ketua itu pasti berpikir kalau perusahaan ini miliknya hanya karena dia anak pemilik perusahaan.

Dia terus marah-marah sambil mendekati mereka, dan saat itu lah dia melihat nama di kalung anjing itu: Jung Tae. Sontak saja dia ngamuk menuntut siapa pemilik anjing itu.


Beberapa saat kemudian, Tuan Park dipanggil ke ruangan Dirut Han tapi malah mendapati Jung Tae berada di pangkuan Dirut Han. Dengan dinginnya Dirut Han bertanya apakah Tuan Park mencari Jung Tae? Jung Tae yang mana yang dia cari? Pfft!

Tuan Park langsung tergagap panik, beralasan kalau dia menamainya Jung Tae karena dia menghormati Dirut Han. Sekarang Tuan Park jadi pede yah, sejak dia mengkhianatinya dan bekerja sama dengan putra ketua.

Apa Tuan Park pikir dia sudah hebat? Apa sebenarnya rencananya? Tidak seharusnya Tuan Park begini padanya, dia bilang kalau dia akan setia padanya seperti anjing. Seperti inikah setianya? Dasar brengs*k!


Asisten Lee hendak pergi ke toko saat Tuan Park tiba-tiba menghadangnya dan langsung menyerahkan Jung Tae padanya dan menyuruh Asisten Lee membawa Jung Tae pulang dalam perjalanannya ke toko.


Woo Jin melihat itu dan langsung mengkritik Tuan Park yang tidak mau mengurus sendiri peliharaannya, malah menyuruh para karyawan kontrak padahal Tuan Park pernah bilang kalau dia memilih mereka berdasarkan bakat dan hasrat kerja mereka.

Kalau Tuan Park benar-benar merekrut mereka karena apa adanya mereka maka anggap mereka seperti itu dan bukannya menganggap mereka hanya karena koneksi mereka. Tidak terima, Tuan Park membela diri bahwa jika anak ketua menyuruh mereka melakukan sesuatu maka mereka harus menurutinya. Dan apa salahnya dia sebagai seorang GM menyuruh-nyuruh anak-anak buahnya melakukan sesuatu?

Seharusnya Tuan Park bisa membedakan mana pekerjaan dan mana urusan pribadi. Apa-apaan menyuruh mereka mengurus anjing padahal mereka seharusnya pergi ke toko. Tuan Park ngotot kalau dia memberikan mereka pekerjaan sesuai tingkatan mereka lalu cepat-cepat mengakhiri perdebatan ini sampai di sini.

Tapi saking kesalnya, terlebih dulu dia balas dendam dengan menyatakan kalau dia berubah pikiran tentang masalah mengangkat EunJangDo jadi pegawai tetap. Lebih baik mereka bertiga dipecat saja setelah kontrak usai. Mana barusan dia dapat masalah dengan Dirut Han lagi.  

Woo Jin jelas tidak terima, bagaimana bisa Tuan Park menyalahkan EunJangDo gara-gara itu. Tuan Park tidak peduli, kenapa juga dia musti bilang-bilang ke Woo Jin tentang siapa saja yang harus dia pecat. Lagipula kalaupun dengan voting juga Woo Jin tetap akan kalah. Dia dan Dirut Han, 2 suara untuk memecat EunJangDo.


Dia masuk ke dapur sambil menggerutu marah dan mendapati EunJangDo di sana. Dia langsung kesal, mereka itu bodoh atau apa? Ho Won berusaha membela diri. Tapi Tuan Park tidak mau terima alasan apapun, seharusnya mereka bilang saja kalau anjing itu punya mereka. Pokoknya setelah masa kontrak mereka berakhir, mereka tidak perlu lagi datang kemari.


Manajer Heo memberitahu Woo Jin bahwa insiden tim audit itu ternyata ulahnya Tuan Park, dia mendapatkan info itu dari seoang kenalannya di tim audit. Woo Jin jelas tidak mau tinggal diam begitu saja. Ayo kita kumpulkan informasi sebanyak mungkin dan hancurkan mereka sekaligus.


Saat mereka rehat dari tugas mereka di toko, Ki Taek terlihat sangat murung. Dia berpikir kalau sebaiknya dia berhenti saja, tak peduli biarpun masa kontrak belum berakhir. Toh mereka tetap tidak akan menjadi pegawai tetap.

Ho Won setuju dan langsung ikut menyatakan mau berhenti juga, dia tidak akan menyesal, lagipula dia sudah berusaha semampunya. Kang Ho pun setuju untuk berhenti.

 

Woo Jin datang saat itu lalu membawa mereka makan malam bersama. Tapi mereka bertiga sama sekali tidak punya selera makan. Ki Taek memberitahunya kalau mereka berencana mengundurkan diri. Woo Jin heran, kenapa? Apa mereka sekolah bertahun-tahun hanya untuk mengurus anjinya Tuan Park?

"Bagaimana bisa kami menolak perintahnya?"


"Jadi apa kalian akan menuruti apa saja yang diperintahkannya? Diri kalian sendirilah yang bisa membuktikan nilai jual kalian. Jika kalian membiarkan orang lain memperlakukan kalian dengan buruk, maka orang lain juga takkan peduli pada kalian. Tak ada orang lain yang bisa memutuskan apakah kalian itu orang yang berguna atau tidak. Tentukanlah sendiri orang seperti apakah kalian dan pekerjaan apa yang harus kalian lakukan."

Kang Ho tetap pesimis, untuk apa juga kalau pada akhirnya mereka tetap tidak akan mendapatkan posisi tetap. Pasti akan sangat sulit bertahan satu bulan lagi. Semua orang bahkan membicarakan siapa pendukung mereka. Woo Jin menekankan bahwa apa kata orang itu tidak penting, kata-kata mereka pada orang lainnya yang paling penting.

Ho Won terisak saat dia mengucap maaf pada Woo Jin, seharusnya mereka lebih bertanggung jawab atas pekerjaan mereka. Woo Jin cepat-cepat mengalihkan topik, menyuruh mereka makan bahkan memperingatkan mereka bahwa siapapun yang makan paling sedikit maka dialah yang harus bayar. Mereka langsung panik mengambil sumpit masing-masing dan akhirnya mulai makan sambil berusaha menahan air mata.


Di tempat lain, kedua asisten manajer juga makan malam bersama. Asisten Lee tak buang waktu untuk tanya-tanya tentang mantan pacarnya Ji Na. Saat Ji Na menghindari pertanyaannya, Asisten Lee dengan senyum liciknya berkata kalau dia sudah tahu segalanya lalu menyebutkan nama Do Ki Taek dengan dijadikan pantun. Pantas saja Ki Taek selama ini selalu membela Ji Na.

Saat Ji Na memintanya untuk merahasiakan masalah ini, Asisten Lee langsung memanfaatkannya untuk memeras Ji Na dengan memintanya untuk membayari makan malam mereka ini. Ji Na membanting selembar uang lalu pergi.


Woo Jin lalu mengantarkan Ho Won pulang. Ho Won merasa apa yang dikatakan Seo Hyun ada benarnya, di dunia ini tidak ada yang namanya makan siang gratis. Mereka telah menjual harga diri mereka demi mendapatkan pekerjaan ini.

"Tidak banyak orang yang bisa mempertahankan harga dirinya setiap waktu."

"Tapi menurutku, anda bisa mempertahankan harga diri anda."

Begitukah? Padahal saat ini harga diri Woo Jin sendiri juga sedang diambang kehancuran. Ucapannya berhasil membuat senyum Ho Won mengembang seketika. Ho Won benar-benar merasa sangat marah atas apa yang Seo Hyun lakukan pada mereka.

Pekerjaan yang selama ini dikiranya memang pantas didapatkannya, ternyata diperoleh dengan merampas kesempatan para pelamar yang lain. Tapi dia mengakui kalau tanpa Seo Hyun, mereka pasti tidak akan mendapatkan pekerjaan ini.


Mereka lalu duduk bersama di ayunan. Ho Won mengakui bahwa dia terbiasa mengeluhkan ketidakadilan dunia ini dan bagaimana dia tidak pernah mendapatkan kesempatan. Tapi ternyata, dia malah merampas kesempatan orang lain. Tapi yang paling menyedihkan. Bahkan setelah dia tahu pun, dia masih ragu untuk berhenti dari pekerjaannya.

Tapi sekarang dia tidak akan berhenti. Dia akan menukar harga dirinya yang hancur untuk kesempatan ini melalui kerja keras. dia akan memasukkan pengalaman kerjanya ini di CV dan mendapatkan kembali harga dirinya. Lalu setelah masa kontrak habis, dia akan keluar dari perusahaan dengan percaya diri.

"Aku suka sikap optimismu itu," ujar Woo Jin. "Kau cukup berkualifikasi untuk pekerjaan itu"

Senyum Ho Won langsung mengembang lebar, ucapan Woo Jin memang selalu benar. Dia lalu beranjak bangkit, mau pulang. Tapi dia penasaran, bagaimana Woo Jin bisa tahu tentang mereka? Apa Seo Hyun sendiri yang memberitahu Woo Jin?


Ji Na termenung di sebuah restoran, memikirkan Ki Taek yang selalu memperhatikannya dan melindunginya biarpun mereka sudah berpisah. Saat Ki Taek datang tak lama kemudian, Ji Na bertanya apakah Ki Taek membencinya? Dialah yang membuat Ki Taek jadi masuk UGD dan akhirnya melewatkan wawancara kerjanya. Dia juga tidak pernah memperlakukan Ki Taek dengan baik.

Tapi Ki Taek malah menyalahkan dirinya sendiri. Ji Na mendesah frustasi mendengarnya, Ki Taek selalu saja menyalahkan dirinya sendiri.

"Sejak aku mulai bekerja di sini, aku menyadari betapa sulitnya pekerjaan yang kau hadapi."

Ji Na berkaca-kaca mendengarnya dan berkata kalau dia ingin mereka memulai lagi dari awal. Ki Taek sontak kaget mendengarnya. Tak masalah bagaimana mereka mendapatkan pekerjaan, yang penting mereka tetap bekerja keras. Tidak penting apa kata orang. Yang penting Ki Taek percaya diri saja.

Ki Taek mengaku kalau dia berencana mengundurkan diri. Dia tak yakin apakah dia layak bekerja di sana. Tapi Ji Na yakin kalau Ki Taek punya kekuatan. "Begitu kau punya tekad, kau bisa berhasil."


Ki Taek dan Kang Ho sama-sama tidak bisa tidur. Sama-sama bingung tentang apakah harus berhenti atau tidak, apapun keputusan yang mereka ambil tetap saja pada akhirnya mereka tidak akan mendapatkan posisi tetap. Ki Taek lalu bertanya apakah Ki Taek akan pulang kalau dia mendapatkan posisi tetap? Apa dia sudah menelepon Ibunya?

Kang Ho mengaku belum, lagipula Ibunya tidak terlalu senang menangkat telepon darinya. Ki Taek menasehatinya untuk menghubungi Ibunya saja. Ibunya Kang Ho pasti marah kalau sampai tahu Kang Ho tinggal di tempat seperti ini. Apa Kang Ho merasa berat tinggal di tempat seperti ini? Kang Ho menyangkalnya, dia baik-baik saja.

Ki Taek mengaku kalau dia sebenarnya hampir tidak mampi bayar uang sewa rumah ini dengan gajinya. Dia tidak mungkin bisa tinggal di tempat yang ada jendelanya ini jika saja Kang Ho tidak membayar setengahnya. Kang Ho heran, apa ada apartemen yang tidak ada jendelanya? Banyak.


Banyak orang yang tinggal di tempat tanpa jendela demi bisa menabung uang. Dia menyadarinya saat tinggal di goshiwon. Harga tempat yang dapat sinar matahari seukuran kecil saja, sekitar 70 ribu won per bulan. Kang Ho tak menyaka kalau sinar matahari pun sagat mahal harganya. Tapi hidup mereka berdua sekarang menjadi lebih baik, bisa tinggal di tempat yang ada jendelanya dan punya pekerjaan.

Tapi Ki Taek merasa tetap tak punya harapan, dia tetap tidak akan bisa membeli rumah biarpun dia menabung semua gajinya. Orang bilang bahwa saat kemiskinan mengetuk pintumu, cintamu pun akan kabur. Sepertinya itu benar, dia tidak akan bisa menikahi putri kesayangan keluarga orang dan menyusahkannya. Kang Ho penasaran apa maksudnya. Ki Taek cepat-cepat mengalihkan topik.


Ho Won sendiri sedang membaca bukunya Seo Hyun. Dalam flashback, Woo Jin mengakui bahwa dia mengetahui mereka dari bukunya Seo Hyun. Woo Jin tahu kalau Seo Hyun pernah bertemu mereka di rumah sakit, karena itulah dia langsung bisa mengenali mereka dalam kisah yang ada di bukunya Seo Hyun.

"Kata orang, ulat pun bisa berubah dan seekor tikus bisa menggigit kucing jika terus dipojokkan. Akan kutunjukkan ulat bisa jadi sehebat apa." tekad Ho Won.


Keesokan harinya, Ho Won bertemu Seo Hyun lagi di sebuah cafe dan menyerahkan seamplop uang sebagai ganti rugi biaya tagihan rumah sakit yang Seo Hyun bayarkan untuk mereka dulu. Seo Hyun menolak, tapi Ho Won terus memaksa. Seperti yang pernah Seo Hyun bilang, di dunia ini tidak ada yang namanya gratisan. Dia tidak mau punya hutang apapun pada Seo Hyun.

Seo Hyun menduga kalau Ho Won masih marah padanya. Tapi Ho Won menyangkal, dia hanya melakukan apa yang Seo Hyun ajarkan padanya, melakukan rencana yang tidak akan merugikannya. "Aku berencana untuk menuntutmu atas penghinaan karakter dan pelanggaran hukum medis."

Bersambung ke episode 12

1 comments:

You go girl..!!!

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon