Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis Radiant Office Episode 13 - 1


Hyun tiba-tiba datang ke kantor pagi-pagi dan mengejutkan semua orang saat dia mengumumkan kalau dia adalah Direktur Utama yang baru menggantikan Dirut Han. Asisten Lee pun tak buang waktu untuk memberi salam hormat padanya, sementara Ho Won dan Woo Jin saling berpandangan cemas.

Dia lalu memanggil semua GM dan manajer ke ruangannya. Tuan Park berbohong kalau dia tidak terkejut dengan penunjukkan dadakan ini. Tapi Woo Jin terang-terangan mengaku kalau dia kaget, apalagi mengingat penunjukan jabatan biasanya harus melalui prosedur terlebih dulu.

Manajer Jo pun langsung mulai menjilat Hyun dengan memberitahunya bahwa dia harus menerima laporan operasional penuh. Tuan Park dengan senyum garingnya berkata kalau Hyun harus belajar dari departemen ini, Home Furniture adalah pondasi Hauline.

Sambil menatap Woo Jin tajam, Hyun mengkritik kinerja departemen Home Furniture yang sangat buruk dan banyaknya hal yang harus dia perbaiki.


Asisten Lee keheranan dengan semua situasi ini. Apa rumor yang mengatakan kalau Woo Jin itu putra sulung Ketua tidak benar? Ji Na memang tak pernah mempercayai gosip itu, kalau memang Woo Jin itu putra sulungnya Ketua, maka dari dulu dia pasti sudah menyingkirkan tim penjualan.

Asisten Lee juga baru menyadari kalau Tuan Park tidak akan naik jabatan dan itu artinya, ketiga karyawan kontrak punya pengaruh yang lebih besar karena Seo Hyun lah yang mempekerjakan mereka.


EunJangDo duduk di luar membicarakan masalah itu. Kang Ho merasa situsi ini baik bagi mereka, apalagi dalam evaluasi pegawai tetap, penilaian direktur utama lah yang lebih penting. Tapi Ho Won masih kesal dengan Hyun yang sudah sangat mempermalukan mereka. Dalam hatinya, dia mengeluh kalau evaluasi ini takkan adil jika Seo Hyun lah yang akan mengevaluasinya.

"Benar-benar penyalahgunaan kekuasaan," gumam Ho Won.


Kang Ho dan Ki Taek sama-sama berpikir bahwa karena penilaian direktur utama sebesar 50% jadi dialah yang akan menentukan segalanya, dan karena Ho Won cukup dekat dengannya maka dia pasti akan memilih Ho Won.

Seolah bisa membaca pikiran mereka, Ho Won meyakinkan mereka kalau dia tidak akan mendapat nilai tinggi dari direktur utama karena dia pernah memeras Seo Hyun dan berkat kalau dia akan menuntutnya.


Seo Hyun membubarkan rapat bersama para manajer kecuali Woo Jin. Seo Hyun mengaku bahwa sebagian besar alasannya memilih departemen ini sebagai pintu masuknya adalah karena karena Woo Jin. Tapi karena Woo Jin tidak suka memihak kepada seseorang, karena itulah dia akan membuat Woo Jin memihaknya.

Dia memuji dirinya sendiri atas kepintaran idenya ini lalu sengan sinis berterima kasih atas hadiah yang dia berikan lewat Ho Won, mengira kalau Woo Jin lah yang sudah menyuruh Ho Won untuk mengancamnya. Woo Jin mengerti, jadi karena itu Seo Hyun menyuruh tim HRD mengubah kriteria penilaian evaluasi kinerja agar dia sebagai direktur utama bisa membuat keputusan akhir.

"Aku pemberi kerja, bukankah itu artinya aku punya pengaruh paling besar."

Woo Jin dengan tenang mengingatkan kalau pemberi kerja adalah Hauline dan meminta Seo Hyun untuk meninjau dan mempertimbangkan kembali penilaiannya. Tapi Seo Hyun menolak, memangnya apa alasan dia harus mengikuti standarnya Woo Jin?


Berusaha menahan kesal, Woo Jin akhirnya keluar tanpa mengucap sepatah kata dan baru menggerutu lirih di luar. Seo Hyun itu benar-benar sangat mengandalkan dukungan ayahnya.


Tuan Park sedang meringkuk sedih di mejanya saat Asisten Lee masuk dan dengan gugup mengeluarkan papan nama Tuan Park yang dia pesan gara-gara dia yakin sekali kalau dia akan jadi direktur utama.

Tuan Park menatapnya dengan penuh tekad, apapun yang terjadi dia akan membuat papan ini ada di mejanya. Tapi sekarang singkirkan ini dulu dan simpan baik-baik.


Woo Jin melihat Ho Won mendesah berat. Apa Ho Won menyesal sekarang setelah mengancam putra kedua Ketua. Ho Won menyangkal. Woo Jin menggodanya, apa yang akan Ho Won lakukan setelah mengetahui kalau setengah hasil evaluasinya nanti berasal dari Seo Hyun.

Ho Won berkata bahwa mati atau tidak, kesempatan itu 50-50. Dia pernah selamat dari krisis hidup dan mati. Biarpun Seo Hyun berkontribusi setengah dari keputusan akhir, tapi dia sendiri masih punya setengahnya, jadi dia pasti bisa.

Woo Jin tersenyum mendengarnya lalu berjalan pergi sambil bergumam lirih "Semangat dia bangkit kembali saat aku memprovokasinya. Dia ini harus dibilangin dulu baru mengerti."


Ji Na memanggil Ki Taek ke dapur dan menyarankannya untuk mendekatkan diri ke Seo Hyun biar dia dapat simpatinya Seo Hyun dan mengevaluasinya dengan nilai yang lebih baik. Ki Taek ragu melakukannya, tapi Ji Na bersikeras, kerja kantoran memang seperti ini.

Dia bahkan menyarankan Ki Taek untuk mengirim hadiah pada para manajer dan langsung merencanakan berbagai macam hadiah untuk dikirim ke para manajer. Saat melihat ekspresi Ki Taek, dia langsung mendesah dan mengingatkan kalau evaluasinya Ki Taek ini juga kesempatan yang penting baginya.


Asisten Lee mendatangi Kkot Bi untuk mulai melakukan acara menjilat atasannya. Bersikap sok perhatian pada Kkot Bi padahal niat aslinya mencari tahu informasi segala hal yang disukai Seo Hyun. Kkot Bi santai mengingatkan kalau ini adalah hari pertama Seo Hyun bekerja.


Manajer Jo memberikan laporan pada Seo Hyun di kamar rawat Ketua Seo. Begitu membacanya, Seo Hyun berkomentar kalau laporan Manajer Jo beda dari laporannya Tuan Park yang sepertinya dipalsu demi memberikan pesan pertama yang baik padanya.

Karena itulah Seo Hyun meminta Manajer Jo untuk melaporkan segalanya secara pribadi padanya, Manajer Jo harus melakukan sesuatu yang bisa memperkuat posisi Seo Hyun. Jika Manajer Jo melakukan itu maka dia membuat Manajer Jo sebagai penanggung jawab saat kedua tim digabung nantinya.

Dia terang-terangan mengaku kalau dia tidak suka Tuan Park dan merasa terbebani bekerja dengan orang-orang yang tidak kompeten semacam Tuan Park.


Sementara itu, Tuan Park masuk ke ruangan Seo Hyun di kantor dan menatap papan nama Se Hyun dengan kesal. "Untuk mendapatkan posisi ini aku sampai melakukan semua kecurangan, tapi sekarang ada anak muda yang mendapatkan posisi ini dengan mudahnya. Cih!"

Seolah menganggap papan nama itu adalah Seo Hyun sendiri, dia menggerutu kalau Seo Hyun seharusnya mengambil jabatan yang lebih tinggi karena dia anaknya ketua. Dia bahkan tidak tahu apapun tentang furnitur. Tapi baiklah, dijalani saja, toh dia sudah terbiasa dengan semua ini.


Ho Won pulang dengan lesu dan bertanya-tanya haruskah dia mencari pekerjaan paruh waktu lagi. Hyo Ri mengirim pesan saat itu, berkata kalau dia ada acara minum dengan teman-temannya. Dia hendak membuka pintu saat dia menyadari gagang pintunya copot dan lampu rumahnya yang kosong menyala. Ho Won sontak berlari turun dengan ketakutan.


Pada saat yang bersamaan, Woo Jin berhenti di depan rumah Ho Won sambil menggalau bingung antara ingin pulang bersama Ho Won tapi tidak, dia harus mengevaluasi Ho Won, bisa-bisa ada yang memperhatikan mereka nanti.

Tepat saat itu juga, dia melihat Ho Won berlari keluar dengan panik. Cemas, Woo Jin pun langsung keluar dari mobilnya dan bertanya ada apa. Ho Won langsung menghambur padanya dan berkata sepertinya ada pencuri didalam rumahnya.

 

Mereka pun langsung naik kembali ke atap. Woo Jin mendekat dengan sok berani padahal jelas-jelas dia takut. LOL.

Dia mengisyaratkan Ho Won untuk mengambil apapun sebagai senjata, Ho Won pun memberinya sebuah sapu. Setelah memberi isyarat Ho Won untuk menunggu di luar, Woo Jin langsung masuk sambil meraung heboh seolah mau menantang siapapun yang ada didalam.


Tapi tempat itu kosong. Sepertinya memang ada pencuri tadi dilihat barang-barangnya yang berantakan, tapi sudah tak ada siapapun di sana. Akhirnya dia keluar tak lama kemudian sambil ngos-ngosan seolah dia habis olahraga berat dan berkata tak ada siapapun di dalam. Ho Won pun lega. Tapi, apa Woo Jin baik-baik saja? Woo Jin mengiyakannya sebelum akhirnya melorot ke lantai.

Tukang kunci datang tak lama kemudian dan Woo Jin menyuruhnya untuk memasang kunci tambahan. Ho Won menolak, takut repot kalau pakai kunci tambahan. Tapi Woo Jin bersikeras sampai akhirnya Ho Won mengalah.


Setelah itu, mereka duduk bersama di teras sambil minum kopi dan Ho Won berterima kasih padanya. Woo Jin bertanya apakah Ho Won bisa tidur malam ini? Ho Won berkata bahwa dia pernah harus bertahan dalam situasi yang jauh lebih menakutkan daripada ini.

Dia mengaku bahwa saat dia mengancam akan menuntut Seo Hyun, dia sudah merelakan harapan untuk menjadi pegawai tetap. Setidaknya itulah yang bisa dilakukannya demi teman-temannya yang menangis dan merasa sakit bersamanya di saat susah.

Dia juga merasa sepertinya Seo Hyun masuk ke departemen mereka karena dirinya, karena itulah dia merasa tak enak. Tapi Woo Jin meyakinkan Ho Won bahwa alasan Seo Hyun masuk ke departemen bukan karena Ho Won, jadi Ho Won tidak perlu khawatir.


Ho Won memutuskan mempercayai Woo Jin. Mereka saling bertatapan sejenak tapi mungkin karena malu, sedetik kemudian Ho Won berpaling membelakanginya dan berkata kalau pemandangan di sini indah. Woo Jin setuju, tapi dia mengatakannya sambil menatap Ho Won. heeeee...


Begitu sampai rumah, Woo Jin langsung mengirim pesan berantai ke Ho Won, menyuruhnya untuk mengunci pintu rapat dan bertanya ini-itu dengan cemas. Ho Won menjawab singkat kalau dia baik-baik saja.

Woo Jin langsung menggerutu saat melihat cuma itu balasannya dan mengirim pesan lagi, menyuruh Ho Won mengecek jendelanya juga dan hubungi dia kalau ada apa-apa. Ho Won menurutinya dan berpikir kalau Woo Jin itu ternyata jauh lebih penakut daripada dirinya. Dia langsung guling-guling saking senangnya mendapat perhatian dari Woo Jin.


Keesokan harinya, Woo Jin mengetik perubahan penilaian karyawan tetap. Woo Jin yakin kalau ide revisinya ini tidak akan disetujui tapi dia tetap nekat mengirim emailnya ke Seo Hyun.

Pada saat yang bersamaan, Tuan Park sedang memberikan panduan bagi karyawan baru pada Seo Hyun dan mengajari Seo Hyun cara memakai email kantor untuk menyetujui proposal dan permintaan. Emailnya Woo Jin masuk saat itu. Tanpa memeriksa itu email apa, Tuan Park asal saja memencet tombol setuju. Pfft!


Seo Hyun baru sadar saat sudah terlanjur dan jelas saja dia langsung mengomeli Tuan Park dengan kesal. Tuan Park santai meyakinkan Seo Hyun kalau para eksekutif tidak akan menyetujuinya semudah itu dan pasti butuh waktu lama. Tapi sedetik kemudian, malah muncul email-email persetujuan dari para eksekutif. hahaha!

Jelas saja Tuan Park kaget, Woo Jin apalagi. Secara bersamaan, mereka paham kalau ini terjadi pasti karena Seo Hyun adalah anak ketua. Dengan takut-takut Tuan Park meminta maaf berkata kalau dia akan mencoba bicara dengan Woo Jin biar dia merevisi ini, tapi Seo Hyun menolaknya.


Tuan Park akhirnya keluar sambil menggerutu kesal. Saat melihat Ho Won, dia langsung sinis berkata kalau ini adalah masalah nepotisme. Saat Woo Jin keluar dan bertanya apakah Tuan Park barusan dari ruangannya Seo Hyun, Tuan Park berkata bahwa Woo Jin seharusnya berterima kasih padanya karena dia melakukan kesalahan saat mengajari Seo Hyun sistem komputer perusahaan.

Woo Jin langsung tersenyum geli mendengarnya. Ho Won menatapnya bingung. Woo Jin cuma menanggapinya dengan jempol dan senyum lebar.

Bersambung ke part 2

3 comments

Gak sabar part 2 nya kak....

Semangat terus mbak!! gak sabar nunggu lanjutannya:D

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon