Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis Radiant Office Episode 13 - 2


Ji Na membagikan selebaran evaluasi pada EunJangDo dan para manajer. Ji Na menjelaskan bahwa berdasarkan kriteria baru, evaluasi rekan kerja bernilai 50, evaluasi kemampuan 30 dan pemasaran mandiri 20 persen, yang mana masing-masing kandidat harus mempromosikan diri mereka masing-masing tentang bagaimana mereka akan berhubungan baik dengan rekan kerja lainnya.

Siapapun yang mendapat skor paling tinggi, dialah yang akan menjadi pegawai tetap. Para manajer dan para eksekutif lah yang akan menjadi penilai. Karena sekarang penilaian asisten manajer dan direktur utama memiliki pengaruh yang sama, Asisten Lee langsung songong memberitahu EunJangDo kalau nasib mereka ada di tangannya.

Manajer Heo menilai kerja keras mereka bertiga selama ini sangat memuaskan dan pasti akan sangat sulit memberikan penilaian. Manajer Jo setuju dengan Manajer Heo, jadi mungkin nilai pemasaran diri mereka lah yang akan menjadi penentu nantinya.

Kalaupun ada yang tidak terpilih, mereka tetap masih bisa bekerja karena masa kontrak mereka belum habis. Manajer Jo agak cemas dengan Kang Ho mengingat dia ada di tim penjualan. Tapi Kang Ho meyakinkan kalau dia tidak masalah. Manajer Jo lega mendengarnya dan menasehati mereka untuk tidak perlu dipikirkan, yang penting tunjukkan saja kreativitas mereka sebagai talenta muda.

Asisten Lee masih dengan sombongnya berkata bahwa mereka seharusnya menghormati dan melayani senior mereka. Ho Won dan Kang Ho diam saja, tapi Ki Taek malah menjawab iya dengan antusias. Asisten Lee menyuruhnya untuk membuktikannya, jangan cuma omdo.


Begitu rapat usai, Kang Ho dan Ki Taek sepakat mau menyuap asisten Lee makan siang ke restoran mewah demi mendapatkan nilai tinggi dalam evalusai. Hanya Ho Won yang tidak setuju. Kalau seperti ini caranya, tidak ada bedanya dengan sogokan subkontraktor yang dulu.

"Kalau begitu kau tidak usah melakukannya," sergah Kang Ho. Ho Won sontak tercengang mendengar ucapannya. Kang Ho tak peduli, pokoknya dia akan melakukannya, dia pasti akan sangat sakit hati kalau tim penjualan menolaknya. Jadi lebih baik dia mentraktir makan siang dan hidup tenang. Yang semakin mengejutkan Ho Won, Ki Taek setuju dengan Kang Ho.


Kedua pria itu pun akhirnya membawa Asisten Lee ke restoran mewah dan hanya bisa tercengang jijik saat melihat Asisten Lee menyusun beberapa makanan jadi satu lalu melahap semuanya sekaligus.

Ki Taek sampai hampir muntah melihatnya, "Dia itu binatang buas apa manusia?" Pikir Ki Taek heran.

Dia mempersilahkan mereka makan seolah dialah yang mentraktir mereka. Tapi saat Ki Taek dan Kang Ho mau mengambil makanan, Asisten Lee malah menampik sumpit-sumpit mereka dan memerintahkan mereka makan tahu saja.

Dengan mulut masih penuh, dia mengomentari Ho Won yang menurutnya tidak akan bisa bertahan karena dia sangat cuek. Ki Taek berusaha membela Ho Won, dia sebenarnya orang yang peduli pada orang lain.

Tapi Asisten Lee tak suka mendengarnya sampai langsung memuntahkan makanannya kembali. Tapi begitu Ki Taek buru-buru mengoreksi ucapannya, Asisten Lee langsung memakan muntahannya lagi. JOROK!!!


Seo Hyun sendiri sedang makan di ruang private restoran bersama para Manajer. Tuan Park langsung memuji-muji traktiran Seo Hyun yang jauh beda daripada traktiran direktur utama yang dulu. Seo Hyun to the point memberitahu mereka kalau dia ingin mengubah budaya kantor.


Dia ingin para karyawan pulang begitu jam kerja usai, dia tidak mau mereka kebanyakan lembur. Dia juga ingin mereka memakai pakaian santai seminggu sekali. Woo Jin langsung protes duluan, sulit menerapkan aturan pulang tepat waktu dalam budaya dimana para bawahan takut pada para atasan.

Manajer Heo juga kurang setuju dengan masalah pakaian, aturan itu hanya akan membuat mereka mengeluarkan lebih banyak uang untuk beli pakaian. Tuan Park juga menyatakan ketidaksetujuannya, sulit bagi para eksekutif untuk melepaskan setelan jas yang jelas merupakan lambang status mereka.

Hanya Manajer Jo satu-satunya yang mendukung ide itu dan berkata kalau ide itu mungkin bisa diterima oleh karyawan muda. Dia bahkan tak ragu untuk membantu Seo Hyun mengajukan ide ini.

Mendengar itu, Seo Hyun langsung membalasnya dengan berkata kalau dia berencana untuk mewujudkan proyek furnitur mewah rumah tangga yang Manajer Jo usulkan. Terkejut, Tuan Park langsung menatap Manajer Jo curiga.


Dalam perjalanan keluar, Manajer Jo melihat Asisten Lee makan siang bersama Kang Ho dan Ki Taek. Tampaknya dia menyadari apa yang sedang mereka lakukan dan tak menyukainya, apalagi saat melihat sikap Kang Ho yang sedang melayani Asisten Lee.

Dia langsung pergi tapi tepat saat itu juga, Kang Ho sempat melihatnya. Saat Kang Ho hendak membayar, kasir memberitahunya bahwa makanannya sudah dibayar oleh seorang wanita yang tinggi dan cantik.


Keesokan harinya, Kang Ho berangkat pagi-pagi dan mendapati Manajer Jo sudah mulai bekerja. Dengan canggung dia memberikan segelas kopi untuk Manajer Jo dan bertanya apakah Manajer Jo yang membayari makan malam mereka semalam. Manajer Jo tak menyangkalnya dan beralasan kalau dia hanya ingin mentraktir mereka bertiga.

Dengan senyum ramah dia mendoakan keberhasilan Kang Ho untuk hasil putaran pertama yang akan keluar hari ini dan menasehati Kang Ho untuk tidak merasa terintimidasi ataupun mencoba mendapatkan penilaian dengan cara lain karena Kang Ho sangat berkualitas.


Di dapur, Kang Ho dan Ki Taek sama-sama menyesali tindakan mereka dalam mentraktir Asisten Lee semalam. Kang Ho benar-benar merasa malu saat menghadapi Manajer Jo. Ki Taek juga merasa begitu, mendapatkan posisi tetap seharusnya tidak perlu seperti ini. Terlebih lagi, semua ini hanya membuat hubungan mereka jadi canggung dengan Ho Won.

Ho Won masuk saat itu. Walaupun dia menyapa mereka dengan ramah tapi dia terus bersikeras menolak tawaran Kang Ho yang ingin membuatkannya kopi. Saat Kang Ho masih saja ngotot, dia langsung melempar tatapan setajam silet. Tapi semenit kemudian, dia berubah ceria dan menghentikan aktingnya, dia cuma bercanda.


Para atasan mulai mengisi formulir penilaian. Asisten Lee membisiki Ji Na untuk menilai secara adil, jangan menilai berdasarkan perasaan pribadi. Ji Na sinis menyuruhnya untuk mengurusi urusannya sendiri.

EunJangDo tegang menunggu di dapur, Ki Taek bertanya-tanya evaluasi siapa yang paling Kang Ho harapkan. Kang Ho cuma tersenyum gugup dan tidak bisa menjawabnya... Tapi kemudian kita melihat Manajer Jo yang sedang menulis penilaiannya.

Bagaimana dengan Ho Won? Ho Won juga ragu menjawab, tapi kemudian kita beralih melihat Woo Jin yang sedang galau menatap surat pengunduran diri lalu mulai menulis penilaiannya. Tuan Park yang paling pelit nilai.

Saking tegangnya, EunJangDo memutuskan untuk saling bergenggaman tangan dan saling memberi kekuatan. Kang Ho penasaran evaluasinya siapa yang paling Ki Taek harapkan. Tentu saja orang yang sudah membuatnya harus menghabiskan semua uangnya.

Asisten Lee juga memberi nilai cukup rendah biarpun sudah ditraktir makanan mahal, dan Ho Won dia kasih nilai nol hanya karena Ho Won tidak mencoba menjilatnya. Ji Na pastinya memberikan angka yang sangat tinggi pada Ki Taek.


Saat semua formulir itu diserahkan pada Seo Hyun, dia melihat nilai Ho Won lah yang paling rendah. Tapi dia berkomentar kalau penilaiannya pada mereka mungkin bisa mengubah peringkatnya. Dia lalu membahas masalah proyek furnitur mewah.

Tuan Park memberitahunya bahwa proyek itu sebenarnya sudah pernah mereka usulkan, tapi gagal. Kalau ingin diulang sepertinya akan makan banyak waktu dan menyulitkan. Seo Hyun tidak mau tahu, dengan dinginnya dia berkata kalau dia menggaji Tuan Park untuk bekerja.

Mendengar itu Tuan Park langsung menyalahkan tim marketing yang awalnya merencanakan itu. Woo Jin jelas terima, tim penjualan sendiri yang menentang ide itu. Tuan Park membela diri kalau situasi bisa berubah. Seo Hyun setuju dan mengusulkan agar mereka menarget orang-orang berduit saja daripada orang-orang yang membeli produk murah.


Woo Jin menyela dan berkata bahwa konsumen menyukai mereka mereka karena citra mereka yang familiar. Lagipula mereka tidak memiliki kapasitas untuk memproduksi, memasarkan dan menjual produk mewah. Seo Hyun ngotot untuk mendukung proyek ini dengan anggaran yang cukup.

"Uang tidak bisa menyelesaikan ini. Mana bisa kita melakukannya tanpa meninjau..."

Seo Hyun menyela dan dengan dinginnya menyindir posisi Woo Jin yang bisa dikerjakan oleh siapapun, untuk apa juga mereka menghabiskan semua uang mereka untuk mempekerjakan Woo Jin. Bukankah Woo Jin yang tidak memiliki kapasitas.

Mencoba bersabar, Woo Jin mengingatkan bahwa saat memulai sebuah proyek baru maka mereka harus terlebih dulu mengumpulkan pendapat para pekerja langsung dan meninjau segalanya secara menyeluruh. Seo Hyun ngotot menyuruh Woo Jin melakukan semua itu tapi tetap lanjutkan proyek sesuai rencana.

Dia lalu membubarkan rapat ini. Tapi sebelum pergi, Woo Jin mengingatkan bahwa memberi perintah tanpa memahami situasi, bisa membahayakan perusahaan dan karyawan lah yang akan kena dampaknya. Seo Hyun cuma menerima peringatan itu dengan masa bodoh.


Begitu kembali ke ruangannya, Woo Jin memberitahu Manajer Heo kalau dia mau mengundurkan diri saja setelah evaluasi karyawan tetap selesai. Manajer Heo langsung mengkritiknya yang mau melarikan diri lagi dan meminta Woo Jin untuk mempertimbangkannya kembali. Tapi Woo Jin sudah memutuskan, dia tidak bisa bekerja dibawah pimpinan semacam Seo Hyun.


Kang Ho dan Ho Won sedang berkutat dengan komputer masing-masing. Ki Taek penasaran apa yang Kang Ho buat untuk promosi dirinya, tapi Kang Ho langsung mematikan layar komputernya, tak mau Ki Taek melihatnya. Ki Taek langsung kesal dan mengatai Kang Ho yang sama seperti orang pintar lainnya yang suka berbohong kalau mereka belum belajar.

Kang Ho berusaha menyangkalnya dan ngotot kalau dia belum mengerjakan apapun. Melihat Ho Won tampak serius menatap layar komputernya, Kang Ho bertanya-tanya apa yang sedang Ho Won kerjakan. Tapi sepertinya dia juga belum membuat apapun.


Saat sedang memfotokopi dokumen, Ho Won bingung harus membuat apa. Tapi sedetik kemudian, tiba-tiba dia dapat ide bagus. Begitu pulang kerja, dia langsung mencari toko percetakan.


Kedua pria masih di kantor, saling berusaha membuat satu sama lain pulang duluan tapi sama-sama ngotot tak ada yang mau pulang duluan. Kang Ho ternyata membuat Analisis SWOT (Metode perencanaan strategis untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) tentang dirinya sendiri sebagai pemasaran mandirinya. Sementara Ki Taek memutuskan untuk menggunakan foto-foto masa kecilnya.


Keesokan harinya, kedua pria menyerahkan USB yang berisi pemasaran mandiri mereka masing-masing pada Manajer Heo. Hanya Ho Won yang belum datang. Asisten Lee menegaskan Manajer Heo untuk ketat dalam masalah keterlambatan.


Ho Won ternyata sedang terjebak macet di tengah-tengah. Dia sudah panik berusaha meminta supir untuk cepat, tapi si supir taksi malah santai.

Saat akhirnya dia tiba di kantor, dia langsung berlari secepat mungkin hingga akhirnya dia berhasil menyerahkannya pada Manajer Heo tepat waktu dan langsung tersenyum lega setelahnya. Berbeda dari kedua rekannya, pemasaran mandirinya Ho Won berupa buku yang dia beri judul 'Kisah Pengenalan Diri'.

 

Di jam makan siang, Ho Won sudah membeli beberapa makanan di mini market untuk kedua rekannya. Saat Ho Won sedang menunggu kedua rekannya, Bos mini market memberinya sebungkus gula-gula untuk keberuntungan biar Ho Won diterima jadi pegawai tetap. Ho Won menerimanya dan berterima kasih, tapi bisakah bos memberi Ki Taek dan Kang Ho juga. Baiklah.


Kedua pria datang tak lama kemudian dan sekarang akhirnya mereka mau sama-sama mengakui apa yang mereka buat. Kang Ho mengaku dia membuat Analisis SWOT tentang dirinya sendiri, sementara Ki Taek membuat kumpulan video dari kumpulan foto dirinya sejak masa kecil sebagai perkenalan diri.

Ho Won mengaku kalau dia mengumpulkan 101 perkenalan diri yang dia tulis semasa mencari kerja dan membuat semuanya jadi sebuah buku. Kang Ho heran, bukankah itu semuanya kurang lebih sama. Tidak, karena latar belakangnya Ho Won buruk dan tidak punya pengalaman jadi pengenalan dirinya berbeda-beda.


Woo Jin tersenyum saat membaca bukunya Ho Won, terutama saat Ho Won menulis Hauline sebagai epilog-nya. Para manajer dan Seo Hyun pun mulai membacanya. Dalam epilognya Ho Won berkata bahwa setelah 101 keputusasaannya, 101 penolakan, akhirnya dia berhasil menapakkan kakinya di sini.

Akhirnya dia berhasil mengatasi saat paling menyedihkan mencari pekerjaan selama 28 tahun hidupnya dan bisa berangkat kerja pagi-pagi. Hauline bagaikan sumber pendapatannya. Karena itulah, perusahaan ini juga merupakan garis hidupnya.

"Demikianlah, perusahaan ini pun menjadi hidupku. Inilah cerita pendek tentang diriku, 101 cerita pendekku menjadi awal dari cerita besarku yang ke-102. Mungkin ada yang bilang kalau aku bekerja baru dua bulan saja. Namun aku bangga berangkat kerja ke perusahaan yang kusayangi. Karena itulah, aku ingin mengungkapkan rasa sayangku ini."

Woo Jin pun selesai membaca buku itu lalu menatap surat pengunduran dirinya dengan ragu.


Malam harinya, dia mengajak Ho Won minum soju. Ho Won penasaran ada apa Woo Jin memanggilnya kemari. Woo Jin cuma ingin mereka minum bersama, dia sudah ingin melakukannya sejak kemarin-kemarin tapi rasanya tidak pantas karena evaluasi kerja Ho Won masih berlangsung.

Ho Won mengingatkan kalau mereka pernah bertemu malam itu. Itu kan keadaan darurat, apa Ho Won sudah memastikan mengunci semua pintu. Ho Won langsung menggerutu kalau dia hampir telat gara-gara itu, tapi Woo Jin ngotot agar Ho Won memastikan semua pintu terkunci dengan benar.

Saat Woo Jin membahas pemasaran mandirinya Ho Won, Ho Won langsung mengeluh tentang kisahnya tadi pagi. Toko percekatannya yang lama sekali buka, lalu saat mau berangkat malah kena macet di tengah jalan, dia sudah putus asa saat tiba-tiba lalu lintasnya berubah lancar.


"Saat itu aku berpikir, hidup itu bagaimana serangkaian penutupan dan pembukaan."

Woo Jin mendengus geli mendengarnya, "Kau kedengaran seperti sudah hidup lama sekali dan akhirnya mencapai kebangkitan spiritual."

Ho Won malah menyarankan Woo Jin untuk mencoba merasakan bagaimana rasanya melarikan diri dari kematian. Setelah pengalamannya itu, Ho Won mulai bisa menggambarkan hal-hal yang sebelumnya tak bisa dilihatnya. Memangnya apa yang Ho Won lihat.


Ho Won tersenyum malu-malu saat dia mengaku "Aku... sangat menyukai seseorang..."

Tapi tepat saat itu juga, seorang pria berteriak lantang minta tambah soju. Ho Won akhirnya urung meneruskan ucapannya dan usul agar mereka tambah soju juga. Woo Jin masih penasaran dia tadi mau bilang apa. Tapi Ho Won cuma bilang kalau di belakangnya Woo Jin ada kucing. Woo Jin kontan berpaling ketakutan dan baru menyadari kalau Ho Won cuma menggodanya.


Keesokan harinya, Asisten Lee lagi-lagi mengejek Ho Won yang dia yakin takkan berhasil jadi karyawan tetap. Ho Won memang pantas mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan. Apa yang dia tabur, itulah yang akan dia tuai.

Ho Won langsung balas menyindir Asisten Lee yang sudah menabur banyak hal, jadi bagaimana kalau mereka menuainya bersama-sama? wkwkwk. Ji Na langsung mendengus geli, sudah dia duga kalau Ho Won bakalan membalas.

Asisten Lee jelas kesal. Jadi Ho Won menantangnya nih? Oke, ayo mereka tuai bersama-sama. Ho Won masih saja biar onar. Ho Won tidak sedikitpun merasa takut, malah meminta maaf berulang kali dengan nada bercanda. Dia bahkan langsung berlutut dengan sok dramatis. Ki Taek dan Kang Ho langsung mengumpati Asisten Lee via chat.


Woo Jin akhirnya kembali tak lama kemudian dengan membawa hasil evaluasi. Sebelum membacakan hasilnya, terlebih dulu dia memberitahu bahwa ada perubahan dalam jumlah posisi tetap yang ditawarkan, sekarang mereka akan merekrut dua orang.

Woo Jin pun mulai membacakan nama dua orang yang mendapatkan posisi tetap, sementara EunJangDo menunggu dengan tegang.

Bersambung ke episode 14

2 comments

Ditunggu episode 14nya. Gak ada skene kissue wojin dan howon nih. Penonton lgi nunggu mereka jadian.

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon