Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis Radiant Office Episode 6 - 2


Semua karyawan akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit. Asisten Lee yang mengerang-erang paling lebay. Woo Jin langsung mengomeli Ho Won karena tidak pasang seatbelt tadi. Tapi Ho Won tidak terluka di bagian lain, kan? Ho Won langsung bangkit untuk membuktikan kalau dia sehat, tapi kepalanya tiba-tiba pening dan tubuhnya langsung oleng.

Woo Jin jadi cemas, lebih baik dia melakukan tes X-Ray mumpung ada di sini. Ho Won sontak panik dan bersikeras tidak mau melakukan tes apapun. Woo Jin mengalihkan perhatiannya sebentar gara-gara Asisten Lee yang lebay abis. Tapi saat dia berpaling kembali, Ho Won malah sudah hilang entah kemana.


Ho Won melarikan diri, terlalu takut untuk melakukan tes apapun, lagipula itu tidak akan mengubah apapun. Berniat mau langsung pulang saja, dia langsung menuju ke terminal bis. Tapi di sana, ponselnya lowbet lalu mati. Parahnya lagi, dia tidak bawa uang.

Terpaksa dia harus mengemis pada seorang ahjumma, tapi ahjumma cuma mendengus sinis lalu pergi. Dia terus mencoba pada seorang ahjussi, tapi tetap saja gagal. Melihat beberapa anak SMA duduk di sana, Ho Won pun langsung memperkenalkan perusahaannya dan menjelaskan situasinya.


Tapi Woo Jin tiba-tiba muncul dari belakangnya dan menegurnya karena berani menggunakan nama perusahaan untuk mengemis. Kenapa juga Ho Won lari kalau dia tidak punya uang. Lepas saja rompi ini, bikin malu saja.


Kang Ho tergesa-gesa menghampiri Ki Taek dengan cemas, dia sendiri baik-baik saja sementara Ki Taek tampaknya terluka di bagian tulang iganya. Ki Taek lalu pergi mengecek keadaan Ji Na. Ji Na berterima kasih karena Ki Taek melindunginya tadi. Ki Taek tak mempermasalahnya, syukurlah kalau Ji Na baik-baik saja, dia pun langsung pergi.


Woo Jin membelikan Ho Won makan siang yang langsung melahap sandwich-nya dengan lahap. Bukannya karena dia kelaparan, hanya saja dia belum sarapan tadi pagi. Tapi keadaan yang lain tidak apa-apa, kan? Woo Jin menyuruhnya untuk mengkhawatirkan keadaannya sendiri saja karena dia bahkan belum diperiksa tadi.

Kenapa Ho Won melarikan diri tadi? Apa karena dia takut dengan biaya taguhan rumah sakit? Dia pasti merasa tidak adil karena mengalami kecelakaan di akhir pekan. Tidak, Ho Won menyangkal. Malah tadi saat Bis melaju dengan kencangnya, dia merasa seolah dia bisa bernafas lagi.

Musim semi itu musim yang sangat kejam bagi para pencari kerja. Selama bulan Januari sampai Maret, para pelamar kerja harus menyiapkan berbagai dokumen, menyerahkan aplikasi, mengikuti ujian dan ditolak lalu tersesat setelah itu.

""Masih banyak waktu tersisa musim semi ini."

"Begitu, kah?"

Ho Won mengaku bahwa selama ini dia selalu bermimpi ingin menggunakan gaji pertamanya untuk melihat-lihat bunga. Dia berjanji pada dirinya sendiri setiap bulan Maret, tapi semuanya hanya janji-janji yang selama beberapa tahun ini tersia-sia.


"Jadi maksudmu, kau ingin melihat bunga hari ini?"

"Iya. Mungkin ini bisa jadi musim semi terakhir dalam hidupku."

Woo Jin agak heran mendengar ucapannya. Ho Won cepat-cepat beralasan kalau itu adalah apa yang dia rasakan saja, seolah dia sedang liburan gratis. Dia tidak pernah membayangkan akan liburan seperti ini. Woo Jin merasa keinginan itu seharusnya tidak terlalu sulit diwujudkan.

"Benar. Kenapa aku tidak mewujudkannya. Ini sangat tidak adil. Seharusnya aku lebih sering jalan-jalan memandangi bunga-bunga. Aku menyesalinya sekarang."


Setelah makan siang, Woo Jin membelikan tiket kembali ke Seoul untuk Ho Won. Dia tidak ikut karena harus mampir ke suatu tempat dulu. Mereka pun berpisah arah. Tapi baru beberapa langkah, Woo Jin tiba-tiba memanggil Ho Won lagi.


Beberapa saat kemudian, mereka berjalan-jalan dibawah pohon-pohon bunga sakura yang indah yang ternyata kampung halamannya Woo Jin. Ho Won benar-benar senang melihat bunga-bunga indah itu.


Mereka terus berjalan hingga akhirnya sampai ke rumah Ayahnya Woo Jin. Ayahnya Woo Jin menyambut mereka dengan makanan. Ia memahami situasi Ho Won, pasti sulit bekerja dengan Woo Jin, dia ini orangnya terlalu kaku jadi pasti banyak membuat bawahannya kesusahan.

Saat Ho Won mulai makan, dia langsung tersedak. Bukan karena makanannya tidak enak, hanya saja makanan ini membuatnya teringat pada almarhum Ayahnya. Dulu Ayahnya selalu memasak untuknya setiap kali dia pulang sekolah.

Ayah bercerita bahwa Woo Jin juga seperti itu. Ibunya Woo Jin meninggal dunia saat Woo Jin masih kecil jadi Ayah lah yang memasak untuk Woo Jin sampai dia dewasa. Woo Jin tak ingin membahas masalah itu lebih jauh dan menyuruh semua orang untuk makan saja.


Setelah makan, Woo Jin langsung mencuci piring. Ho Won ingin membantu tapi Woo Jin menolak, Ho Won melihat-lihat bunga saja. Ho Won tak enak kalau harus melihat bunga sementara Woo Jin bekerja. Tapi Woo Jin mengingatkan kalau ini bukan tempat kerja. Ayahnya yang memasak jadi dia yang harus cuci piring.

Ho Won geli melihat sepatu karet yang Woo Jin pakai, "Kau keren juga pakai sepatu karet."

"Aku memang keren pakai apa saja," narsis Woo Jin.


Ho Won akhirnya pergi memotreti bunga-bunga sakura. Ayah datang tak lama kemudian dan berkomentar kalau putranya itu pasti menyebalkan dan parah banget di kantor. Ho Won tertawa mendengarnya. Tapi walaupun begitu, apa yang Woo Jin ucapkan selalu benar.

Ayah setuju, itulah masalahnya. Woo Jin selalu benar, menyebalkan. Ho Won merasa Ayah dan Woo Jin sangat berbeda. Benar, Woo Jin selalu berada di urutan pertama dalam segala hal. Tapi dia juga mengalami banyak rintangan karena keluarganya miskin. Bahkan selama masa kuliahnya, Woo Jin harus bekerja paruh waktu karena Ayah tak mampu menyokong hidup Woo Jin.

"Walaupun dia anakku, aku merasa tidak enak padanya karena aku selama ini belum melakukan apapun untuknya."

Tapi tumben-tumbennya hari ini Woo Jin mengajak rekan kerjanya kemari, biasanya tidak pernah. Ho Won menjelaskan kalau sebenarnya yang lain juga ikut. Tapi mereka terpisah dari rombongan. Woo Jin membawanya kemari karena tadi dia bilang mau melihat-lihat bunga.

Ayah senang-senang saja dengan mendapat kunjungan ini dan mengundang Ho Won untuk kembali kemari kapan-kapan bersama rekan kerja mereka yang lain.

"Tapi sebagai gantinya. Kalau Woo Jin bersikap menyebalkan lagi, jangan diambil hati, yah."


Beberapa saat kemudian, Ho Won menyentuh salah satu bunga, iri karena mereka bisa mekar dengan indahnya. Woo Jin datang tak lama kemudian dan menyuruh Ho Won untuk memetiknya saja kalau mau. Tapi Ho Won menolak.

"Lagipula, bunga ini akan layu dengan sendirinya. Jika aku memetiknya, mereka tidak akan bisa menjalani sisa hidupnya."


Mereka pulang bersama malam harinya. Ho Won mengaku kalau selama ini dia mengira Woo Jin itu terlahir kaya dan tidak pernah hidup susah. Tapi saat dia menoleh, dia melihat Woo Jin tidur.

"Berarti aku harus bekerja lebih keras lagi, kan?" gumam Ho Won. Dia memalingkan wajahnya menatap keluar jendela, tanpa menyadari Woo Jin ternyata tidak tidur.


Sesampainya di Seoul, Woo Jin menyarankan agar Ho Won izin sakit saja besok jika dia merasa tidak enak badan. Dia menawarkan uang untuk ongkos naik taksi. Tapi Ho Won menyarankan agar mereka pulang bersama saja dan turun di depan rumah Woo Jin karena tempat tinggalnya dekat dengan rumahnya Woo Jin.

Sesampainya di depan rumah Woo Jin, Ho Won berterima kasih karena Woo Jin mengajaknya menikmati indahnya musim semi. Woo Jin menawarkan mengantarkan Ho Won pulang, tapi Ho Won menolak. Rumahnya dekat sini kok, cuma perlu jalan kaki sebentar.

Tapi Woo Jin bersikeras dan akhirnya mereka berjalan bersama ke rumahnya Ho Won. Tapi bukannya melindungi Ho Won, Woo Jin malah melompat ketakutan saat mendengar suara kucing mengeong. hehe. Ho Won sampai geli sendiri melihatnya.


Setibanya di depan rumah Ho Won, dia berjanji pada Woo Jin kalau dia akan berusaha lebih keras. Dia berterima kasih karena Woo Jin telah menerimanya bekerja lagi lalu masuk. Woo Jin tersenyum melihat Ho Won naik ke kamarnya.


Memutuskan kalau dia tidak akan menyerah, Ho Won akhirnya menyobek-nyobek formulir asuransi itu. Woo Jin menatap tanaman-tanaman pot yang perbaiki Ho Won sambil keheranan, ada apa sebenarnya dengan Ho Won. Sebentar menangis, sebentar tersenyum.


Keesokan harinya, Ho Won melihat kantor agak kosong karena Asisten Lee, Ji Na dan Jae Min izin sakit. Manajer Jo tetap masuk walaupun tangannya terluka.

Manajer Jo lalu rapat bersama Dirut Han dan Tuan Park. Tuan Park lebay mengklaim kalau waktu itu dia punya firasat buruk makanya dia naik mobil sendiri. Dirut Han sinis, bukahkah itu karena Tuan Park sudah pesan tempat di lapangan golf dekat tempat itu.

Dirut Han memuji dengan semangat kerja Manajer Jo yang tetap kerja walaupun tangannya masih sakit lalu mulai membahas angka penjualan mereka. Manajer Jo menyarankan agar sebaiknya mereka meluncurkan produk baru saja, dia yakin bisa mendapat respon positif dari pelanggan berdasarkan laporan survei tim marketing. Dirut Han tiba-tiba menyuruh Tuan Park untuk bersiap-siap, entah ada rencana apa diantara Dirut Han dan Tuan Park.


Di ruangannya, Woo Jin juga rapat bersama timnya. Mereka juga membahas masalah peluncuran produk baru dan Ho Won ditugaskan untuk memotret produknya dan pilih untuk pemasaran opnline. Manajer Heo penasaran, kapan Woo Jin pulang ke Seoul kemarin? Ho Won langsung tegang, tapi Woo Jin santai menjawab kalau dia langsung pulang dan istirahat kemarin.


Trio Eun Jang Do makan siang bersama di kantin. Tapi Ki Taek memperhatikan Ho Won senyam-senyum sendiri, dia jadi penasaran, sepertinya hari ini Ho Won beda dari biasanya. Manajer Heo dan Woo Jin ikut bergabung di meja mereka tak lama kemudian. Woo Jin dengan santainya duduk di sebelahnya Ho Won. Ho Won sontak terdiam tegang dengan kehadiran Woo Jin.


Manajer Jo tetap di kantor, berusaha menyelesaikan pekerjaannya tapi dia cukup kesulitan dengan tangannya yang terluka. Saat Kang Ho menyerahkan laporan padanya, dia juga memberikan sekotak sandwich dan kopi karena dia lihat tadi Manajer Jo tidak bisa makan gara-gara tangannya.

Dia bahkan menawarkan diri untuk membantu Manajer Jo mengetik. Manajer Jo sungguh berterima kasih padanya dan menerima tawarannya mengetik.


Seorang pengantar paket datang tak alma kemudian, membawakan paket untuk Ho Won. Didalamnya berisi baju kerja yang dikirim adiknya Ho Won. Bersama baju itu, Ho Jae juga mengirim sebuah surat. Dia sengaja mengirim baju kerja itu karena dia sudah bisa menduga jika dia mengirim uang pada Ho Won, maka Ho Won pasti akan langsung mengembalikannya.

Ho Jae benar-benar senang karena Ho Won akhirnya bekerja di sebuah perusahaan dan tidak lagi bekerja paruh waktu di berbagai tempat. Dia meyakinkan Ho Won untuk tidak mencemaskan mereka.

"Kau dandan saja dan cari pacar, nikmati hidupmu. Sejak Ayah jatuh sakit, kita belum pernah tertawa lepas. Kerja kerasmu akhirnya telah dihargai. Selamat, kakakku, Eun Ho Won. Aku bangga padamu."


Ho Won begitu terharu hingga air matanya menitik. Ho Jae menelepon saat itu, tapi Ho Won terlalu emosi hingga tidak sanggup mengangkat teleponnya.


Ho Won akhirnya berubah pikiran dan memutuskan bertemu dengan Seon Nyeo untuk menandatanginya formulir pendaftaran asuransinya.


Malam harinya, Ki Taek menunggu Ji Na pulang di luar apartemennya. Tapi tak lama kemudian, dia malah melihat Ji Na pulang dengan diantarkan Jae Min setelah mereka jalan-jalan. Ki Taek hanya melihat mereka sedang sedih dan baru menghampiri Ji Na setelah Jae Min pergi. Dia berkata kalau dia datang hanya untuk menjenguk karena Ji Na tidak masuk kerja hari ini.

Ji Na berkata kalau dia baik-baik saja dan menanyakan kondisi Ki Taek juga. Ki Taek lega karena Ji Na baik-baik saja lalu berbalik pergi. Tapi kemudian dia berbalik kembali untuk mengembalikan fotonya Ji Na yang selama ini disimpannya didalam dompet.


Suaranya agak bergetar menahan emaosi saat dia mengaku kalau dia tidak sanggup membuangnya jadi lebih baik dia mengembalikannya. Dia benar-benar melepaskan Ji Na sepenuhnya dengan mengubah panggilannya pada Ji Na sebagai Asisten Ha lalu berjalan pergi dengan berlinang air mata.


Woo Jin sedang di toko buku saat dia mendengar dua orang siswi sedang bergosip tentang sebuah kisah di buku. Kisah tentang 3 orang pencari kerja yang mencoba bunuh diri dan akhirnya dilarikan ke UGD dan akhirnya dipekerjakan di perusahaan yang sama setelah itu.

Penasaran, Woo Jin mengambil buku yang sama dengan yang mereka baca dan buku itu ternyata ditulis oleh Seo Hyun.


Ho Won tiba di depan rumahnya dengan wajah tampak sangat pucat dan mendapati Woo Jin sedang menunggunya. Woo Jin langsung mengomelinya karena baru pulang sekarang dan ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Dia perlu menanyakan sesuatu, dia tidak akan bisa tidur nyenyak jika tidak menanyakannya.

"Apa kau benar-benar melakukannya karena aku? Apa kau mencoba bunuh diri karena aku?"

Ho Won menghela nafas berat lalu tiba-tiba saja dia terjatuh pingsan.

Bersambung ke episode 7

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon