Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

  Sinopsis Radiant Office Episode 8 - 2

 

Keesokan harinya, semua orang berpesta di kantor, merayakan kesuksesan launching produk baru mereka. Woo Jin berterima kasih pada Ki Taek dan Ho Won atas kerja keras mereka dalam mengerjakan katalognya.
 

Tapi kemudian Manajer Jo mendapat telepon yang langsung membuatnya panik. Dia langsung memerintahkan Ji Na dan Asisten Lee untuk mengecek katalognya, ada yang salah dengan daftar harga katalognya.

Sontak semua orang langsung panik menelepon sana-sini untuk mencegah para penjual menjual produk-produk mereka dan meminta para pelanggan yang terlanjur membeli untuk membatalkan pesanannya.


Ho Won dan Ki Taek keheranan melihat daftar harga katalog yang sebelumnya sudah mereka cek berulang kali itu. Woo Jin langsung murka pada mereka karena tidak mengecek terlebih dulu sebelum dicetak, Ki Taek dan Ho Won cuma bisa diam tak tahu harus menjawab apa.

Ji Na melapor kalau kesalahan ini cuma ada di katalog, tapi berpengaruh pada semua toko offline. Woo Jin berpikir kalau satu-satunya jalan keluar saat ini adalah menghubungi setiap pelanggan satu per satu dan meminta mereka membatalkan pesanan.


Tuan Park kembali tak lama kemudian dan mengumumkan bahwa karena adanya insiden ini, Dirut Han memutuskan untuk menggabungkan kedua tim. Woo Jin yang sedari tadi belum sempat bertemu Dirut Han, jelas langsung protes karena keputusan itu diambil tanpa kehadirannya. Tuan Park dengan seringai liciknya, mengingatkan Woo Jin untuk menyelesaikan masalah ini dulu.

Manajer Heo berusaha meminta izin Manajer Jo meminjam tim penjualan untuk membantu mereka menangani masalah ini. Tapi Manajer Jo membuat-buat alasan untuk menolaknya. Manajer Heo mendesah, menyadari Manajer Jo sudah berpihak sepenuhnya pada Tuan Park.


Malam harinya, Ho Won masih terus berusaha menghubungi para pelanggan satu demi satu sembari berusaha menahan isak tangisnya. Woo Jin melihatnya dari kejauhan. Dia berusaha menelepon Ho Won, tapi Ho Won terlalu takut untuk mengangkatnya dan hanya menggumamkan kata maaf berulang kali.


Ki Taek juga menangis dan melampiaskan frustasinya dengan menenggak soju, sama sekali tidak mengerti kenapa katalognya bisa salah padahal dia sudah mengeceknya berulang kali sebelum dicetak. Kenapa ini bisa terjadi padahal dia ingin sekali bisa bekerja dengan benar dan bangga dengan hasil kerjanya.


Keesokan harinya, Seo Hyun datang ke kantor dengan membawakan makanan dan minuman. Tapi dia tidak melihat Ho Won padahal dia datang untuk mengajak Ho Won makan siang bersama. Kang Ho memberitahu kalau tim marketing sedang mengunjungi toko sekarang.

Saat Tuan Park melihatnya datang, dia langsung mengundang Seo Hyun masuk ke ruangannya lalu memperkenalkannya pada Manajer Jo. Dia memberitahu Seo Hyun kalau tim marketing membuat masalah besar dan sekarang mereka sedang sibuk menyelesaikan masalah mereka.


Woo Jin baru kembali bersamaan dengan Seo Hyun yang hendak pergi. Seo Hyun menyapanya dan mendoakan semoga Woo Jin bisa segera menyelesaikan masalahnya, dia bahkan menawarkan bantuan sebisanya jika Woo Jin membutuhkannya. Tuan Park sontak kaget mendengar tawaran bantuannya Seo Hyun.


Selepas kepergian Seo Hyun, Woo Jin kembali mempelajari katalognya hingga akhirnya sebuah kalimat yang tertera di bagian depan katalog, menarik perhatiannya, 'Penjualan barang tertentu mungkin terbatas'. Woo Jin langsung mendesah lega, akhirnya dia menemukan sesuatu yang bisa menyelamatkan keadaan ini.


Ho Won baru saja kembali dari toko. Ki Taek memberitahunya kalau mereka sudah memasang label harga baru dan mengirim ulang semua produk.

Ji Na langsung mendampratnya habis-habisan. Dia sudah menyuruh Ho Won untuk mengikuti instruksi tahun lalu dan memberikan peringatan kalau harga barang bisa berubah sewaktu-waktu dan beberapa barang mungkin terbatas, tapi Ho Won malah mengabaikannya. Ho Won membela diri, dia memang sudah membuatnya sama persis seperti tahun lalu.

Woo Jin menyela dan memberitahu kalimat itu ada didalam katalog, untunglah Ho Won tak lupa menyertakan peringatan itu di katalog. Tapi tetap saja Woo Jin menyuruh mereka untuk menghubungi setiap pelanggan dan meminta maaf.


Woo Jin lalu kembali ke ruangannya untuk menghubungi seorang pelanggan. Tapi pelanggan itu berkata kalau dia sudah mendapat surat tulisan tangan dari Hauline, surat permintaan maaf itu dikirim oleh karyawan yang membuat kesalahan dan dia juga sudah memesan furniturnya dengan harga asli. Woo Jin pun mendesah melihat Ho Won yang masih sibuk menelepon pelanggan lainnya.


Keesokan harinya, Woo Jin melapor ke Dirut Han bahwa masalah ini sudah berhasil ditangani. Mereka sudah meminta maaf pada para pelanggan, semua pesanan juga sudha dibatalkan dan sebagian besar pelanggan sudah memesan ulang. Tuan Park sinis, biarpun masalahnya sudah selesai tapi tetap saja reputasi perusahaan jadi jelek gara-gara insiden ini.

Woo Jin membela anak-anak buahnya dan memberitahu mereka tentang surat permintaan maaf yang dikirim pada setiap pelanggan mereka yang tampaknya membuat para pelanggan terharu. Dirut Han berkomentar kalau upaya mereka itu memang mengesankan tapi dia tetap memerintahkan Woo Jin untuk memecat mereka.

Woo Jin tidak terima, situasinya sudah ditangani, dia juga sudah bertanggung jawab atas pemeriksaan katalog akhir, tidak seharusnya mereka menyalahkan segalanya pada karyawan sementara. Tapi Dirut Han malah mengancam Woo Jin, dia memecat mereka atau Woo Jin sendiri yang akan dipecat.


Ji Na bicara berdua dengan Ki Taek dan bertanya apakah ini sungguh kesalahannya Ki Taek dan bukannya Ho Won. Dia menggerutu cemburu dengan kedekatan hubungan Ki Taek dan Ho Won sampai-sampai Ki Taek rela disalahkan demi Ho Won. Ki Taek bersikeras kalau Ho Won tidak salah, dialah yang bersalah.

Ji Na semakin kesal mendengarnya, seharusnya Ki Taek mengecek segalanya dulu. Ki Taek memberitahu kalau dia sudah mengeceknya berulang kali, tapi ternyata dia masih saja, jadi dia tidak pantas bekerja di sini. Pokoknya dia akan memberitahu Woo Jin kalau masalah ini adalah kesalahannya dan bukannya Ho Won. Ji Na heran mendnegarnya, memangnya sudah berapa kali Ki Taek mengeceknya?

"Aku sudah mengeceknya lebih dari 20 kali. Apa itu belum cukup juga? Waktu kau menelepon, aku mengeceknya sekali lagi."

Ji Na semakin heran, "Kau mengeceknya malam itu. Tapi bukannya kau mencetaknya keesokan paginya?"


Dia langsung mengecek file katalog itu dan mendapati ada yang aneh. Pada jam itu, Ki Taek sedang bersamanya memberikan ongkos taksi. Dia langsung menelepon pihak sekuriti untuk mengecek rekaman jam pulang kantor.


Woo Jin terus berusaha membela dan mempertahankan kedua karyawan sementaranya, lagipula saat ini mereka kekurangan tenaga manusia jadi tidak seharusnya mereka asal memecat. Ho Won dan Ki Taek adalah pekerja keras dan mereka mau belajar.

Dirut Han tetap bersikeras, toh kalau mereka keluar akan ada banyak orang yang melamar untuk menggantikan posisi mereka. Woo Jin tetap tidak terima dan lebih memilih untuk bertanggung jawab penuh sebagai pimpinan mereka.


Manajer Heo sedang memuji tulisan tangan Ho Won pada para pelanggan, sementara Ji Na menerima telepon dari pihak sekuriti. Dia tampak terkejut saat mendengar siapa orang yang terakhir yang keluar kantor malam itu.

Saat itu juga, di hadapan semua pegawai, Ji Na langsung memanggil Jae Min dan bertanya, "Apa kau mengedit file daftar harga katalog?"

Semua orang jelas langsung kaget mendengarnya. Jae Min pura-pura tak mengerti apa maksudnya, tapi Ji Na dengan dinginnya memperingatkan Jae Min untuk jujur saja. Sambil menunjuk kamera CCTV di pojokan, dia memberitahu Jae Min bahwa CCTV masih menyala setelah jam 9 malam. Dia bisa mengeceknya sekarang juga.


Beberapa saat kemudian, Jae Min langsung disidang para atasannya. Jae Min beralasan kalau dia hanya kesal karena sebagai pegawai baru, seharusnya dialah yang banyak bekerja, tapi malah pekerja kontrak yang banyak diberi pekerjaan.

Dia mengklaim kalau dia cuma iseng, dia pikir kalau file-nya akan diperiksa lagi. Dia mengklaim bahkan sekalipun dia mengaku, tetap saja tidak akan mengatasi keadaan saat itu dan akan selesai jika ditangani dengan baik.

Dirut Han kesal, "Siapa yang merekrut 'berandalan yang tidak tahu dasar-dasar bekerja' ini?"

Tersinggung, Jae Min balas menyindir, memangnya perusahaannya ini punya dasar-dasar juga? Apa perusahaan ini cukup memenuhi syarat untuk mempekerjakan orang-orang kompeten? Seharusnya mereka mempekerjakan orang yang setingkat dengan mutu perusahaan.


Tuan Park jelas langsung membentaknya. Jae Min tidak terima, Tuan Park tidak punya hak memanggilnya brengs*k saat dia sendiri juga sama. Setiap hari Tuan Park kerjanya cuma marah-marah dan menuntut mereka untuk memenuhi target pernjualan.

Dia bahkan mengklaim kalau dia sekolah selama 16 tahun bukan untuk melayani mereka. Dia lebih suka hamburger waktu makan siang, dia sudah bosan makan sup ikan terus. Woo Jin sontak mendengus geli mendengarnya. Malas berdebat lebih jauh, dia langsung membanting surat pengunduran dirinya di meja.

"Daripada mencari orang yang kompeten, lebih baik mereka menjadikan perusahaan ini jadi perusahaan yang bagus dulu biar bisa mempekerjakan orang kompeten seperti aku." Ujarnya sebelum melempar ID-nya dan pergi.


Woo Jin lalu memanggil Ho Won dan Ki Taek ke ruangannya dan mengomeli mereka sekali lagi untuk melakukan pemeriksaan final sebelum mengirim file ke percetakan. Mereka berdua pasti banyak belajar dari insiden ini, bahkan hal seremeh apapun bisa membuat perusahaan rugi besar. Ho Won dan Ki Taek meminta maaf sekali lagi dan berjanji untuk lebih teliri mulai sekarang.

"Dan aku juga minta maaf," ucap Woo Jin "tanpa mencari tahu dulu apa penyebabnya, aku langsung saja memarahi kalian. Jadi aku minta maaf."

Ho Won dan Ki Taek sampai tercengang sendiri mendengarnya. Tapi walaupun begitu, dia tetap menyuruh mereka untuk menulis permintaan maaf atas keteledoran mereka yang tidak melakukan pemeriksaan final.


Ho Won dan Ki Taek keluar dengan masih tercengang, karena awalnya mereka kira kalau mereka bakalan dipecat tapi ternyata cuma disuruh menulis surat permintaan maaf. Baru kali ini Ho Won merasa sangat bahagia disuruh menulis surat permintaan maaf. Ki Taek juga hampir menangis tadi waktu Woo Jin meminta maaf pada mereka.


Hari itu, Ho Won membantu Ki Taek dan Kang Ho pindahan ke sebuah kamar kontrakan kecil. Kang Ho tampak agak cemas karena dia baru kali ini tinggal di tempat sekecil ini, takut ada kecoa. Ho Won meyakinkannya kalau dia pasti akan terbiasa nantinya dan panggil saja dia kalau ada kecoa, dia akan membantu menangkapnya. Mereka lalu pergi makan-makan di pasar.


Mereka makan es krim dalam perjalanan kembali saat tiba-tiba sebuah mobil mengklakson mereka. Mereka pun terpaksa menyingkir. Kesal, Ki Taek asal melempar es krim-nya tapi malah mengenai mobil itu.

Mobil itu langsung mundur ke arah mereka. Dan yang tak mereka sangka, pemilik mobil itu ternyata Woo Jin. Mereka sontak meminta maaf. Woo Jin tanya siapa yang melempari mobilnya tadi. Kang Ho dan Ho Won sama-sama menunjukkan es krim di tangan masing-masing sambil nunjuk Ki Taek.


Untunglah Woo Jin tidak mempermasalahkannya dan beberapa saat kemudian, dia mengantarkan mereka ke kontrakannya Ki Taek dan Kang Ho. Ki Taek mengundangnya masuk karena sekarang mereka bertetangga, tapi Woo Jin menolak menjadi tetangga mereka dan memperingatkan mereka untuk tidak bilang siapa-siapa di kantor kalau mereka tetanggaan.


Presdir Seo mendatangi Seo Hyun di rumah sakitnya. Seo Hyun mengira kalau ayahnya datang untuk mengajaknya makan malam. Tapi yang tidak disangkanya, Presdir Seo ternyata datang untuk melabraknya. Apa Seo Hyun punya mata-mata dalam perusahaan? Apa sebenarnya yang Seo Hyun ingin ketahui?

Seo Hyun sama sekali tidak menyangkalnya, Presdir Seo sendiri yang menyuruhnya untuk membuktikan apakah dia memenuhi syarat untuk mengambil alih posisi Presdir Seo. Tentu saja dia harus tahu tentang perusahaan jika dia ingin mendapatkan posisinya Presdir Seo. Dia perlu tahu tentang perusahaan itu karena Presdir Seo lebih peduli dengan perusahaan daripada anaknya sendiri.

Flashback,


Saat mereka makan malam bersama waktu itu, Presdir Seo mengkritik Seo Hyun yang selama ini tak pernah mengatakan apapun yang dia inginkan. Mendengar itu, Seo Hyun pun langsung blak-blakan mengaku "Hauline, berikan perusahaan itu padaku, ayah. Dan berhentilah membuat kakakku dan aku saling bersaing."

Presdir Seo salah jika dia berencana menyerahkan perusahaan kepada kakaknya tapi membuatnya ikut terlibat hanya demi formalitas. Presdir Seo santai menegaskan kalau dia menyuruh Seo Hyun untuk membuktikan diri dan bukannya bersikap memaksa seperti ini.

"Kalau begitu, aku sendiri yang akan mendapatkan bagianku di perusahaan itu." Desah Seo Hyun.

Flashback end.


Presdir Seo memberitahu Seo Hyun bahwa jika ini cara Seo Hyun untuk mengamankan bagiannya di perusahaan, maka Seo Hyun salah. Yang dia inginkan adalah melihat seperti apa kepribadiannya Seo Hyun, bukannya melihat sebagus apa Seo Hyun dalam memanfaatkan namanya dan memanfaatkan orang lain.

Seo Hyun membela diri kalau perusahaan itu sudah dipenuhi oleh orang-orangnya Presdir Seo yang pastinya berpihak kepada kakaknya, dia juga membutuhkan seseorang yang memihaknya agar dia tahu apa yang terjadi. Presdir Seo mendesah kalau apa yang Seo Hyun lakukan ini justru membuktikan kalau dia tidak memenuhi syarat.

"Bukankah itu karena ayah memang tidak menginginkanku di perusahaan sejak awal?"

"Mungkin. Kau itu terlalu iri dan tidak mau berbagi. Aku tidak pernah suka dengan sikapmu itu. Kau mirip sekali dengan ibumu."

Selepas kepergian Presdir Seo, Seo Hyun bergumam kecewa. Hari ini ulang tahunnya, tapi ayahnya bahkan tidak mengatakan apapun untuk itu, ucapannya tadi benar-benar hadiah yang bagus.


Trio Eun Jang Do minum-minum. Ki Taek yang tampaknya sudah mulai mabuk, nyerocos tentang rasa bahagianya setelah mendapatkan gaji pertamanya dan membelikan hadiah untuk orang tuanya.

"Aku baru sadar, semua amarah yang ditujukan pada kita dan stres yang kita rasakan tidak bisa menghentikan orang agar tetap berangkat kerja tiap pagi. Sekarang aku bisa mengerti kenapa Ji Na dulu begitu."

Kang Ho jelas heran mendengarnya. Ho Won cepat-cepat menutupinya dengan mengalihkan topik dan bertanya apakah Ibunya Kang Ho sudah tahu kalau dia pindah kemari. Kang Ho mengiyakannya, tapi Ibunya tetap tidak mau menemuinya di sini. Tapi tidak mengapa, lagipula dia sudah dewasa dan bisa tinggal jauh dari orang tua.

"Kukira orang sepertimu, tidak punya rasa khawatir."

"Mana ada orang yang tidak punya rasa khawatir."


Setelah Ho Won pulang, Ki Taek masih saja terus minum-minum, sementara Kang Ho berusaha menghentikannya tanpa hasil. Ki Taek menangis saat dia menyarankan agar mereka membawa Ho Won periksa ke rumah sakit. Hatinya terasa sakit setiap kali memikirkan Ho Won.

Kang Ho berpendapat kalau mereka harus menghargai keputusan Ho Won yang katanya butuh waktu. Ki Taek langsung emosi dan memutuskan untuk menelepon Ho Won saat itu juga. Kang Ho berusaha menghentikannya dan mengingatkan kalau ponselnya Ho Won ketinggalan di kantor, tapi Ki Taek terlalu mabuk hingga tidak mempedulikannya dan terus menelepon.

Teleponnya ternyata diangkat. Ki Taek langsung nyerocos panjang lebar bahkan sebelum orang di seberang sempat mengatakan apapun, memberitahu Ho Won untuk ke rumah sakit dan menawarkan semua uang gajinya, setidaknya dia harus memastikan penyakit apa yang dideritanya dan berapa lama lagi sisa waktu hidupnya.


 Tapi yang mengangkat teleponnya ternyata bukan Ho Won melainkan Woo Jin.

"Mukjizat itu ada. Tidak semua orang yang mengiap penyakit fatal harus mati!" teriak Ki Taek. Woo Jin langsung shock mendengarnya.

1 comments:

Chingu ditunggu sinopsis radiant office ep 10 nya ya... Semangat nulis nya ya mba..

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon