Powered by Blogger.

 Images Credit: JTBC

Sinopsis Strong Woman Do Bong Soon Episode 11 - 2


Gook Du melihat hadiah kalung yang ia persiapkan untuk Bong Soon dengan senyum mengembang.


Sedangkan Bong Soon masih disibukkan dengan pekerjaannya membuat karakter game. Sekretaris Gong datang memberikan secangkir kopi.

Bertepatan saat itu juga, Bong Soon menerima telepon dari Gook Du, dia meminta waktu untuk bertemu sebentar di cafe dekat perusahaan Bong Soon. Bong Soon pun mengiyakan permintaan Gook Du.


Namun saat Gook Du bersiap pergi ke cafe, Ketua Tim Yook meneleponnya. Dia memberitahukan jika Jang Hyun sepertinya tengah menargetkan seorang gadis yang pergi ke studio musik di Hannamdong, namanya Yo Hee Ji.

Dengan berat hati, Gook Du memutuskan untuk mengurus pekerjaannya dulu. Dia coba menghubungi Hee Ji namun ponsel Hee Ji tertinggal di meja sehingga tidak diangkat. Gook Du mengirimkan SMS padanya, menyuruh dia tetap tinggal di studio dan jangan keluar karena berbahaya.


Setelah menyelesaikan meeting-nya, Min Hyuk kembali ke ruangannya namun Bong Soon tidak ada ditempat. Dia tanya pada Sekretaris Gong, dimana keberadaan Bong Soon? Sekretaris Gong kira Bong Soon sedang pergi ke cafe. Tadi dia menerima panggilan dari seorang pria yang bernama Gook.. Gook.. Du?

“In Gook Du?” Min Hyuk tersenyum ramah tapi kesannya malah mengerikan.


Bong Soon masih terus menunggu kedatangan Gook Du. Tapi sayangnya, Gook Du tengah sibuk menjalankan tugasnya untuk mencari keberadaan Hee Ji sekarang juga. Dia menghubungi kantor polisi supaya mereka bisa melacaknya. Saat sudah tahu letak dimana Hee Ji berada, Gook Du langsung meluncur kesana secepat mungkin.


Namun kecemasan Gook Du nyatanya sia-sia, dia malah melihat Hee Ji baru saja keluar dari cafe bersama Bong Ki. Meskipun begitu, Gook Du tetap menghampiri keduanya. Kontan suasana menjadi canggung.

Gook Du tanpa basa-basi memberitahukan jika kemungkinan penculikan berantai dobong-dong tengah menargetkan Hee Ji.


Lelah menunggu, Bong Soon memutuskan untuk kembali ke kantornya. Tapi bertepatan saat ia ingin pergi, Min Hyuk berdiri dihadapannya. Menatap Bong Soon yang tampak kecewa, kenapa dengan wajahnya? Dia kelihatan seperti baru saja melihat pria jelek, tapi ia langsung terkesan saat melihat pria menawan dihadapannya?

Min Hyuk menyindir Bong Soon yang sudah menolak ajakan nontonnya dengan alasan sibuk bekerja. Perusahaannya sungguh kejam, bukankah itu melanggar undang-undang? Bong Soon mengelak, dia menyukai pekerjaannya.


Min Hyuk mengajak Bong Soon untuk pergi sekarang juga. Namun Bong Soon menolaknya. Kalau begitu, Min Hyuk menyarankan agar mereka bisa mengerjakan pekerjaan Bong Soon bersama-sama dirumahnya. Bong Soon kembali menolak, dia akan menyelesaikannya di kantor.

“Aku tidak ingin menyalahgunakan kekuasaannya begini tapi aku akan membatalkan presentasinya jika kau terus begini.”

“Picik sekali.”

Min Hyuk menatap Bong Soon lembut, ia memintanya untuk membalas perasaannya. Sepertinya, dia tidak akan bisa fokus bekerja setelah ini jadi ia meminta Bong Soon untuk berada disampingnya hari ini. Min Hyuk mengulurkan tangannya namun Bong Soon bimbang untuk menerima uluran tangan itu. Dirinya berbeda dari orang lain, apa tidak apa-apa?


Apakah itu penting? Ujar Min Hyuk masih menanti keputusan Bong Soon. Bong Soon masih terus dibayangi rasa bimbang, sampai akhirnya Min Hyuk memutuskan untuk meraih tangan Bong Soon lebih dulu. Ia menarik tubuh mungil Bong Soon dalam pelukannya erat.


Bong Soon kembali ke kantor sambil terus menutupi wajahnya, bagaimana dia bisa terus bekerja disana? Min Hyuk heran karena Bong Soon berjalan dengan sangat kencang, apa dia takut dipecat? Bong Soon beralasan jika dia mau melanjutkan pekerjaannya. Min Hyuk tidak menyangka, setelah apa yang mereka lakukan, Bong Soon masih ingin bekerja?

Bong Soon tidak berani menatap wajah Min Hyuk. Dia mau mengambil tas-nya, jadi dia meminta Min Hyuk untuk tetap menunggunya disana. Bong Soon berlarian menuju ke lift dengan salting-nya. Sedangkan Min Hyuk tidak bisa menahan senyumnya selepas kepergian Bong Soon.


Sesampainya di ruang kerja, Bong Soon mencoba menenangkan diri. Seketika itu pula, ia berimajinasi seolah ruang kerjanya dipenuhi dengan cahaya indah. Bong Soon spontan tersenyum melihat cahaya bak bintang di langit, ia menggelengkan kepala melenyapkan bayangan tersebut dan bergegas mengambil tasnya.


Min Hyuk bersembunyi dibalik tembok saat Bong Soon turun dari lantai atas. Bong Soon celingukan mencarinya, Min Hyuk langsung muncul dari belakang dan meraih tangan Bong Soon. Sepanjang perjalanan pulang, tangan mereka saling bertautan tanpa pernah terlepas. Mereka ngobrol dengan asyiknya seolah dunia serasa cuma berdua.


Gook Du terburu-buru masuk ke kantor Bong Soon setelah menyelesaikan urusannya. Dia pun menelepon Bong Soon, namun Bong Soon dalam perjalanan pulang bersama Min Hyuk. Meskipun sempat ragu, Bong Soon memutuskan untuk mengabaikan telepon dari Gook Du.


Sesampainya didepan rumah, Min Hyuk sekali lagi memastikan supaya Bong Soon tidak berubah pikiran besok. Dia harap, hubungan mereka akan berubah besok. Bong Soon mengiyakan, tentu. Keduanya saling lempar senyum manis satu sama lain sebelum Min Hyuk pergi.


Bong Soon berniat masuk ke rumah, namun Gyeong Sim menghentikannya. Dia mendengar pembicaraan mereka berdua dan meminta penjelasan akan apa yang terjadi. Mereka berdua terlihat berbeda dan sangat nyaman.

Bukannya menjawab, Bong Soon malah mengomeli Gyeong Sim yang keluar malam-malam. Dia harus tetap dirumah karena pelaku penculikannya belum tertangkap. Gyeong Sim tidak betah terus-terusan dirumah, lagipula dia sudah menggunakan pager-nya.

“Apa gunanya pager itu? Jadi ini sebabnya dia tidak suka aku jalan-jalan.” Bong Soon menghela nafas berat.


Sebelum tidur, Gyeong Sim masih menuntut penjelasan tentang hubungan Bong Soon dan Min Hyuk. Ketika seorang pria dan wanita jatuh cinta, mereka akan menciptakan jenis udara yang aneh di sekitar mereka.

Malam ini, dia melihat mereka berdua sangat aneh. Bertepatan saat itu juga, ponsel Gyeong Sim berdering menerima panggilan dari Gook Du.


Gyeong Sim mengangkat teleponnya dan Gook Du langsung bertanya tentang Bong Soon. Dia mengkhawatirkan Bong Soon karena dia tidak mengangkat teleponnya.

Bong Soon kontak mata dengan Gyeong Sim, bertanya-tanya apa yang sedang mereka bicarakan. Namun Gyeong Sim tak merespon isyarat Bong Soon dan mengatakan pada Gook Du jika Bong Soon sudah pulang, ia sedang bersamanya sekarang.


Tidak lama kemudian, Bong Soon keluar dari rumahnya untuk menemui Gook Du. Gook Du bertanya, kenapa dia tidak mengangkat teleponnya? Ia sangat mengkhawatirkannya. Bong Soon meminta maaf, apa ada sesuatu lagi? Tadi dia sudah menunggunya.

Gook Du balas meminta maaf, ada sesuatu yang tak bisa dihindari. Hee Ji tengah di incar, padahal dia tidak tinggal di lingkungan ini. Sepertinya pelaku melakukan ini untuk membalas perbuatannya. Mendengar hal itu membuat Bong Soon ikut khawatir, seharusnya Gook Du menemani Hee Ji sekarang.

“Hee Ji sedang berada di studio musiknya dengan Bong Ki sekarang. Apa kau tahu itu?”


Bong Soon tertunduk merasa tidak enak, apa Gook Du tidak apa-apa? Gook Du mengaku jika ia baik-baik saja. Gook Du mengambil satu langkah lebih dekat pada Bong Soon. Dia sudah menyadari perasaannya dan tidak ingin menjadi sekedar teman untuk Bong Soon.

Kontan Bong Soon menyela ucapan Gook Du, dia sangat senang berteman dengan Gook Du. Dia tidak ingin kehilangan teman spesial-nya. Melihat ekspresi sedih Bong Soon, Gook Du tidak jadi mengungkapkan perasaannya dan menyembunyikan hadiahnya di balik punggung.


Gook Du pulang dengan langkah gontai. Ia duduk memandangi hadiah yang sudah ia persiapkan, kilasan kebersamaannya dengan Bong Soon sampai saat ini terngiang dalam benaknya. Perasaan suka yang ada semenjak SMA dan ia baru menyadarinya saat ini. Namun waktu mereka selalu tidak tepat. Sampai pada akhirnya, Bong Soon memintanya untuk tetap menjadi temannya.


Gyeong Sim sibuk memandangi wajahnya di cermin. Dia mau pulang ke Busan besok. Melihat wajah sahabatnya begitu murung, Gyeong Sim yakin ada yang terjadi antara dia dan Gook Du.

Mata Bong Soon berkaca-kaca, “Sepertinya cinta bertepuk sebelah tangan ada tanggal kedaluwarsanya juga.”


Gook Du masih sulit berkosentrasi dengan pekerjaannya. Hee Ji datang ke kantor polisi, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Gook Du menjelaskan jika pelaku sepertinya tengah mengincarnya. Tapi tim mereka akan mengawasi Hee Ji dari dekat. Hee Ji heran, dari sekian banyaknya orang, kenapa dia yang diincar? Lalu kenapa mereka tidak menangkap pelakunya jika sudah tahu?

“Itu karena tim kami tidak memiliki kuasa atas kasus saat ini. Tim lain yang mengerjakan kasus ini. Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu. Ingat wajah ini, untuk berjaga-jaga.” Ujar Gook Du menyerahkan foto Jang Hyun.

Jang Hyun memperhatikan pembicaraan mereka berdua melalui layar monitornya. Dia pun tersenyum licik.


Bong Soon tengah mengerjakan karakter game-nya. Min Hyuk datang memberitahukan jika presentasi akan diadakan dalam dua hari lagi, maka dia harus menyelesaikannya dalam dua hari. Ia pun mengajaknya untuk melakukan meeting.

Bong Soon fokus membuat karakter game-nya tapi Min Hyuk menyuruhnya mengerjakan bagian lain saja karena karakter game akan dikerjakan oleh Tim Grafis. Min Hyuk dengan telaten memberikan masukan pada Bong Soon. Omong-omong, siapa yang akan diselamatkan si Bongssuni (karakter game) ini?

“Seorang pangeran yang tinggal sendirian di istana. Pangeran itu sangatlah kesepian.”

Min Hyuk sempat tertegun dengan jawaban Bong Soon. Baiklah, mereka memang harus menyelamatkan pangeran karena dia kesepian. Jadi, jangan gunakan senjata pedang, gunakan saja palu godam. Bong Soon setuju dengan saran Min Hyuk. Min Hyuk tersenyum sambil memperagakan palu godam memukul musuh. Bong Soon menatapnya, kontan Min Hyuk buang muka dengan kikuk.


Saat makan siang, Min Hyuk tidak jemu-jemu memandangi wajah Bong Soon. Bong Soon tersenyum lembut padanya, nikmatilah makananmu. Min Hyuk balas dengan senyuman pula, kau juga.


Semua karyawan memperhatikan kemesraan keduanya seolah ikut bahagia. Namun hal sebaliknya dirasakan oleh Ketua Tim Oh, dia langsung bergetar marah melihat mereka sangat akrab. Sekretaris Gong menenangkan dia dan menyuapkan nasi pada Ketua Tim Oh.

Karyawan lain melihat sikap Sekretaris Gong, mereka menatapnya dengan tatapan menuduh. Sekretaris Gong mencoba menjelaskan kalau dia cuma menenangkannya saja, tapi karyawan lain masih menatapnya dengan tatapan penuh kecurigaan.

 

Baek Tak sudah sembuh, lebam diwajahnya sudah hampir hilang sepenuhnya dan wine kotoran di nakasnya sudah hampir habis. Dia dipulangkan dari rumah sakit dan ia meninggalkan surat untuk anak buahnya.

Selepas kepergian Baek Tak, mereka membaca suratnya “Hidupku akan bagaimana? Hidupku akan seperti apa? Apa yang kita dapatkan, akhirnya? Apa mungkin kita lebih baik dari kotoran, yang kata semua orang sangat menjijikan? Kita akhirnya hanya seperti sepotong kotoran. Kita adalah kotoran.”


Disisi lain, Preman SMA berniat membalas dendam perlakuan gangster yang mengeroyok Bong Soon. Mereka menyusup ke rumah sakit dengan membawa pentungan dan skop. Mereka membuka bangsal pada gangster dengan gaya sangar. Si Bos bertanya, siapa pemimpin disini?

Mereka menunjuk Gwang Bok yang terbaring di ranjang. “Siapa kau?”

“Kau bukan pemimpinnya. Dimana pemimpinnya?” teriak Bos Preman SMA.


Baek Tak tengah dalam perjalanan menyusuri kota dengan penuh ketenangan. Dia kini sudah mendapatkan pencerahan setelah meminum wine kotoran. Dia akan menyusuri perjalanan panjang setelah mendapat pencerahan.

Disisi lain, Preman SMA dan para gangster sedang ribut besar di rumah sakit. Si Bos Preman SMA masih terus bertanya, dimana pemimpin mereka? Gwang Bok yang terlempar ke lantai bahkan diseret dengan sadis oleh anak SMA tadi. Dia pun berteriak dengan nyaring seperti biasanya.


Bos Preman SMA membawa keluar wine kotoran dan menyuruh anak buahnya menguji cairan itu di Badan Forensik Nasional. Ada artikel tentang obat baru dalam majalah ilmiah yang ia baca. Warna obatnya persis seperti ini. Anak buahnya agak sangsi, apa benar dari majalah ilmiah?

“Gini-gini nilai IPA-ku bagus loh!” klaim Bos. Dia mengintruksikan anak buahnya untuk mengikuti para gangster, dia yakin mereka akan menjeput si Bos Gangster. Mereka harus mendapatkannya.


Bong Soon dan Min Hyuk membaca buku di perpustakaan. Min Hyuk rasa-rasanya terus mengikuti Bong Soon dan curi-curi pandang terus padanya. Tapi saat Bong Soon balas menatapnya, Min Hyuk buru-buru memalingkan wajah dan pergi.

Saat duduk di bangku pun, dia masih terus memandanginya dengan tatapan penuh cinta. Duduk disampingnya dan meraih tangannya. Bong Soon malu sendiri, dia menutup wajahnya dan mencoba melepaskan genggaman tangan Min Hyuk. Sayangnya Min Hyun tidak perduli dengan orang disekitarnya dan menggenggamnya semakin erat.

 

Bong Soon sudah mau pulang ke rumah. Min Hyuk menawarkan diri untuk mengantarnya tapi mereka makan malam dulu. Bong Soon pikir-pikir, makan malam? Min Hyuk tersenyum karena Bong Soon jual mahal padanya. Dia tahu tempat mie yang enak jadi makan malamnya dengannya.

Ia meraih tangan Bong Soon namun Bong Soon menolak bergandengan tangan. Baiklah, Min Hyuk tidak akan menggandeng Bong Soon. Tapi dia akan melakukan ini.. ujarnya merangkul pundak Bong Soon. Aw!


Ibu datang ke toko kue untuk menarik uang seperti biasanya. Ayah meminta Ibu untuk datang lebih cepat lain kali, biar pegawai mereka bisa tidak pulang kemaleman. Ibu santai, dia kan bukan wanita kurus. Ayah tanya dimana keberadaan Bong Soon. Ibu menyuruhnya supaya tak perlu khawatir, dia pun meminta setoran dari Ayah.


Hee Ji pulang dari studio dengan penuh kewaspadaan. Detektif Kim terus mengawasinya dari kejauhan.


Polisi lain juga ditempatkan di sekitar tempat Jang Hyun. Polisi itu yakin jika Jang Hyun sudah mengenal mereka, tapi ada yang mencurigakan. Dia sudah masuk tapi belum keluar sama sekali sampai sekarang. Kedua Polisi bertatapan dengan kaget menyadari ada yang aneh dan langsung bergegas masuk ke tempat rongsokan.


Di kantor polisi, Ketua Tim Yook sudah mendapatkan laporan dan menebak jika ada jalan keluar lain di tempat rongsokan itu. Gook Du yakin jika jalan pikiran Jang Hyun lebih pintar dari mereka. Ketua Tim Yook menjelaskan taktiknya untuk menjaga Hee Jin pada Gook Du.


Polisi terus mengawasi Hee Ji sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya Detektif Kim melihat ada seorang pria menggunakan hoodie hitam mencurigakan. Dia mengabarkan pada rekannya jika pelaku sudah mulai bergerak. Gook Du mengiyakan, dia pun bergegas menjalankan rencana mereka.

Hee Ji mulai khawatir saat dia merasa sedang diikuti seseorang. Sedangkan Jang Hyun sepertinya mengambil jalan pintas lain. Hee Ji mulai berlari dengan panik dan saat melewati persimpangan, dia berteriak kaget dan jatuh.


Tampak seorang pria berpakaian serba hitam sudah menggendong seorang wanita yang tidak sadarkan diri. Dia meninggalkan koper dan pager milik wanita itu dijalan. (Gyeong Sim?)

Min Hyuk mengantar Bong Soon sampai ke rumahnya. Tepat saat itu, mobil polisi melintas dan Bong Soon seolah punya firasat buruk karenanya.

Bersambung ke episode 12

4 comments

Ah makin penasaran,makin seru d tunggu lanjutan nya mba

Ah makin penasaran,makin seru d tunggu lanjutan nya mba

Kayak e kurang motif gitu.
Kasus e bae tak gak jelas pula
O

Sebel. Kok hebat men si psikopat iku

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon