Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 5 - 2


Se Joo membawa Seol ke ruang meeting kosong dan menyuruhnya untuk tidak melakukan apapun yang CEO Gal suruh. Saat Seol tanya apa alasannya, dia menolak memberi jawaban apapun.

Jika Se Joo tidak mau memberitahukan alasannya, lalu kenapa juga dia musti menuruti Se Joo? Dia juga korban di sini. Sejak informasi tentang dirinya bocor, dia terus menerus menerima telepon ancaman sampai dia tidak bisa kerja. Se Joo menyela dan menawarkan uang sebagai kompensasi, berapa yang Seol inginkan.

Seol sungguh tak percaya mendengarnya, "Aku tidak melakukan ini demi uang. Aku bilang akan membantu jika memang kebenaran itu bisa membantumu."

"Dan sudah kubilang kalau aku tidak butuh bantuanmu!" Bentak Se Joo.

"Aku tahu kau itu seorang penulis, tapi apa kau tidak merasa dirimu terlalu moody? Marah begini tidak akan membuat masalah selesai."


Se Joo mendesis kesal kalau dia sudah sering mengalami masalah seperti ini. Tidak perlu dipedulikan, dan pada akhirnya akan berlalu layaknya angin lewat. Jadi sebaiknya Seol tidak usah memperumitnya. Seol terus menuntut Se Joo untuk membuatnya mengerti daripada cuma sekedar memberinya larangan tanpa alasan yang jelas.

Apa mungkin rasa bersalah yang membebani Se Joo, "Apa sungguh ada ghostwriter di ruang kerjamu itu?"

Seol terus nyerocos tanpa menyadari ekspresi tegang Se Joo. Jika itu tidak benar, maka Se Joo pasti marah atas fitnah itu. Dia tidak melakukan kesalahan apapun, jadi kenapa dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

"Kenapa juga kau harus membantuku?!"

"Karena aku tidak benar-benar membencimu!"

Kalau begitu, lakukan saja sesuka Seol. Tapi jangan pernah lagi muncul di hadapannya. Sejak bertemu dengan Seol, tidak ada yang berjalan lancar baginya. Jangan coba membantunya lagi dan berpalinglah darinya. Dia akan mencari jalan keluarnya sendiri.


Dia langsung pergi meninggalkan Seol yang berusaha keras menahan air matanya. Dalam perjalanan pulang, Se Joo terus teringat ucapan Seol tadi dan fakta kalau dia sungguh memiliki seorang ghostwriter - Jin Oh. Se Joo meyakinkan dirinya sendiri kalau ini cuma sebuah kesalahan kecil dan dia pasti bisa mengembalikan segalanya seperti semula.


Maka begitu pulang, dia langsung duduk kembali di meja kerjanya, mulai membaca semua penelitiannya. Bertekad untuk menulis kembali dengan kemampuannya sendiri, Se Joo pun akhirnya mulai mengetik.


Keesokan harinya, dia terbangun oleh bunyi telepon dari CEO Gal yang dengan bimbang berpendapat bahwa naskah yang Se Joo kirim padanya terasa aneh dan berbeda dalam segala hal, sama sekali tidak menarik... seperti bukan tulisannya Se Joo.

CEO Gal menduga ini terjadi pasti karena Se Joo merasa sangat tertekan oleh gosip tentang ghostwriter itu. Karena itulah, CEO Gal memutuskan untuk menunda perilisannya saja.

Se Joo mengklaim kalau dia salah kirim naskah. CEO Gal langsung mempercayainya dan langsung antusias meminta Se Joo mengirim ulang file yang benar dalam waktu 10 menit. Se Joo beralasan kalau dia sedang di luar sekarang dan berkata kalau dia akan mengirim ulang naskahnya 2 jam lagi.


Se Joo buru-buru kembali ke laptopnya untuk mengedit filenya saat tiba-tiba dia teringat kalimat yang pernah dia baca di potongan kertas yang dibakarnya waktu itu. Se Joo pun keluar untuk mencari potongan kertas itu di antara tumpukan sampah, tapi tidak ada.


Saat dia masuk kembali, dia mendapati Jin Oh sudah duduk menunggu di sana lalu menyodorkan salinan naskahnya. Dia akan memberikannya pada Se Joo jika Se Joo menginginkannya. Tapi saat Se Joo hendak mengambilnya, Jin Oh menariknya kembali dan mengajukan syarat.

Dia membutuhkan Se Joo untuk menyelesaikan naskah ini. Sebagai ganti naskahnya maka biarkan dia tinggal di sini bersama Se Joo sampai novel ini selesai, itulah syaratnya. Se Joo kesal, kenapa juga dia harus melakukannya? Jin Oh santai mengingatkan kalau dia punya naskah untuk minggu ketiga dan Se Joo membutuhkannya.

"Akui saja. Tanpaku, kau tidak akan bisa menyelesaikan novel ini. Tapi jika kita menyelesaikannya bersama, maka novel ini bisa selesai. Apa yang akan kau pilih?" tanyanya sambil menyodorkan naskah itu.


Se Joo menatapnya ragu sebelum akhirnya menyerah dan menarik naskah itu dengan penuh amarah lalu menyalinnya kedalam komputer. Dia hendak mengirimnya lewat email, tapi jarinya gemetar ragu saat hendak memencet tombol 'kirim'.

Apalagi dia tiba-tiba teringat pada Seol, percakapannya dengan Seol dulu dan bagaimana selama ini Seol selalu mendukungnya dan mendoakannya untuk bisa selalu menghadapi setiap kesulitan hidup dan menjadi penulis besar. Ingatan itu membuatnya air matanya menitik sedih.


Saat sedang tugas di klinik hewan, Seol mengecek update novelnya Se Joo. Tapi malah mendapat pemberitahuan kalau bab selanjutnya tidak akan dirilis minggu ini. Parahnya, para netizen banyak menulis komentar jahat tentang penundaan itu. Seol jelas kesal membaca semua komentar itu dan meninggalkan pesan penyemangat untuk Se Joo.


Sunbae-nya Seol datang tak lama kemudian dan Seol pun akhirnya bisa pergi. Dia memakai topi untuk menyembunyikan wajahnya dan memastikan keadaan aman dulu sebelum melangkah keluar. Tapi baru berjalan beberapa langkah, dia malah mendapati Se Joo sudah menunggunya di depan klinik sambil mesam-mesem.

Tapi bukannya menghampirinya, Seol langsung pergi meninggalkannya. Se Joo membuntutinya dalam diam sampai Seol kesal sendiri dan berbalik mengkonfrontasinya. Se Joo berusaha menyangkal membuntuti Seol awalnya, tapi akhirnya dia mengakui juga kalau dia memang membuntuti Seol.

"Kau kan menyuruhku tidak muncul lagi di hadapanmu!"

"Itu sebabnya aku yang mendatangimu. Aku yang menemuimu. Aku datang agar kau bisa melihatku."

Seol tak mengatakan apapun dan langsung berbalik pergi. Se Joo terus saja membuntutinya sambil nyerocos narsis. Seol heran, bagaimana Se Joo bisa tahu kalau dia ada di sini. Se Joo santai mengklaim kalau dia bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Kalau begitu kenapa Se Joo kemari?


Ada yang mau Se Joo tanyakan. Jadi dia kemari bukan untuk meminta maaf? Se Joo berkata kalau dia bisa minta maaf jika itu yang Seol inginkan. Dia mengaku mengalami kesulitan dalam menulis, dia ingin tahu tentang psikologi wanita. Seol sudah menduga kalau kedatangannya kemari pasti karena pekerjaan.

Se Joo menjelaskan ide ceritanya. Ada seorang bintang papan atas dan penggemar biasa. Lalu suatu hari, si bintang sakit parah dan akan mati keesokan harinya dan si bintang itu ingin melakukan sesuatu untuk penggemarnya. Kira-kira apa yang si penggemar itu sukai?

Seol sinis mendengar kisah picisan itu, memangnya Se Joo mau mati besok. Se Joo menegaskan kalau itu kisah novel, jawab saja, dia tidak punya banyak waktu.

"Hmm... mungkin penggemar itu ingin pamer dulu." Ujar Seol.


Beberapa saat kemudian, mereka duduk di restoran tempat kerjanya Bang Jin yang melayani Se Joo dengan manisnya sementara Seol dia layani dengan setengah hati dan mendesis kesal kalau di kehidupannya yang dulu, Seol pasti pengkhianat negara.


Se Joo geli mendengarnya. Dia tidak sependapat dengan Bang Jin, dia yakin Seol pasti seorang aktivis independe di masa lalu. Penembak jitu, mungkin? Bagaimana Se Joo bisa tahu tentang kehidupan lampau-nya? Se Joo terdiam canggung, teringat berbagai kehidupan masa lampau mereka yang selama ini pernah dilihatnya.

Tapi dia tidak mengatakannya dan hanya berkata kalau dia asal menduga seperti itu karena Seol radikal dan pernah jadi atlit tembak. Seol bertanya-tanya apakah dia adalah visualisasi dari tokoh Yoo Soo Yeon didalam novel. Apakah dia inspirasinya Se Joo. Tapi Se Joo langsung mengkritiknya untuk tidak lebai dan makan saja.


Setelah makan, Seol memintanya untuk jalan-jalan bersama di hadapan publik, tapi pakai masker. Semua penggemar pasti memimpikan ini buat pamer dan membuat semua orang iri. Kalau begitu kenapa musti pakai masker. Sambil menatap Se Joo tajam, Seol mengingatkan bahwa sekarang dia tidak bisa bebas beraktifitas gara-gara 'seseorang'.

Langkah Se Joo terhenti mendengar itu. "Maafkan aku. Dan..."

Seol langsung mikir antusias "... Aku mencintaimu?" (Pfft! I'm Sorry, I Love You - dramanya Im Soo Jung dan So Ji Sub)


Tapi Se Joo malah hanya menunjuk tempat game dan menyeret Seol ke arena menembak, menempatkan pistol di tangan Seol lalu memilih sebuah boneka besar untuk dimenangkan. Seol malas dan menyuruh Se Joo melakukannya sendiri saja. Tapi Se joo terus memaksa, ada yang harus dia pastikan.


Maka Seol pun mulai bersiap dengan senjatanya dan membidik targetnya. Tapi Se Joo memperhatikannya gemetaran. Dia pun langsung memegangi tangan Seol dan memperbaiki posisi Seol dengan mendekapnya. Seol tampak gugup dengan kedekatan mereka, tapi dia langsung mengingatkan Se Joo kalau dia dulu seorang penembak jitu.

Se Joo juga mengingatkannya kalau dia sering menulis kisah tentang gangster jadi dia juga tahu teori tentang senjata dan sebagainya. Seol langsung menggeliat mau melepaskan diri dan menyuruh Se Joo melakukannya sendiri saja. Tapi Se Joo kembali mendekapnya dan memposisikannya untuk membidik target.

"Ketakutan muncul dari ketidakyakinan akan diri sendiri dan ketakutan akan hal yang tidak pasti. Jika kau tidak ingin ketakutan mengalahkanmu maka percayalah pada dirimu sendiri. Percaya diri dan fokuslah pada targetmu."

Se Joo melepaskannya lalu mulai memberi aba-aba. Seol pun melepaskan tembakan dan sukses tepat sasaran.


Mereka pun keluar dari sana dengan Se Joo menenteng boneka besar itu. Se Joo sekarang sadar kalau Seol memang bukan alkoholik.

"Kau bahkan tidak pernah tanya sebabnya," gerutu Seol.

"Kau bilang hanya akan memberitahu kalau kita sudah dekat."

Seol langsung senang, jadi Se Joo ingin dekat dengannya? Tapi Se Joo malah menyangkal dan mengklaim kalau sekarang bad timing. Dia rasa, mereka tidak akan bisa lebih dekat daripada ini. Seol tidak mengerti kenapa, bukankah hari ini lebih baik daripada sebelumnya. Jangan-jangan... Se Joo beneran akan mati? Dia sungguh sakit parah?


Se Joo tertawa menyangkalnya, dia tidak akan mati. Dia langsung pamit, tapi kemudian berbalik kembali dan memanggil Seol dengan sebutan hormat "Jeon Seol-ssi. Terima kasih untuk segalanya. Jeon Seol-ssi, aku tidak akan melupakan kalau kau adalah penggemar pertamaku."

Dia langsung pergi meninggalkan Seol yang cuma bisa terheran-heran dengan salam perpisahan yang aneh itu.


Se Joo lalu membawa Jin Oh ke perusahaan penerbitannya. Dalam perjalanan masuk, Jin Oh menyinggung episode terbaru yang ternyata belum dirilis. Apa naskahnya tidak cukup membantu? Se Joo hanya memberitahunya kalau Jin Oh harus mencari tempat tinggal baru.

"Bukankah kita akan bersama sampai novelnya selesai?"

"Tidak. Karena... aku tidak lagi membutuhkanmu."


Se Joo lalu masuk ke suatu ruangan yang ternyata sudah pernuh dengan para reporter, termasuk Reporter Son. Jin Oh yang tidak terbiasa, kontan mengangkat tangannya untuk melindungi matanya dari flash kamera. Se Joo naik ke panggung lalu menyuruh Jin Oh ikut naik juga.

Semua reporter kontan menoleh ke belakang mereka dengan penasaran. Se Joo menarik satu kursi untuk Jin Oh sementara dia duduk di kursi satunya. Begitu mereka berdua sudah duduk, Se Joo mengeluarkan kertas pidatonya. CEO Gal keheranan menanti apa yang sebenarnya mau Se Joo lakukan.

Se Joo memulai pidatonya dengan berterima kasih sekaligus meminta maaf terlebih dulu lalu menyatakan kalau hari ini dia akan meluruskan perihal gosip tentangnya yang katanya memiliki seorang ghostwriter. Reporter Son terdiam antusias mendengar pernyataan itu.


Seol melamun di restorannya Dae Han, tak tenang memikirkan ucapan Se Joo tadi. Dae Han datang membawakannya menu makanan baru, tapi Seol terus memikirkan Se Joo dan sama sekali tidak mendengarkan saat Dae Han memberitahunya kalau nama makanan itu adalah 'Perasaanku'. Tapi Seol malah mengumpat kesal sampai Dae Han patah hati mendengarnya, Seol tidak suka nama menu itu?

"Kenapa serius sekali, sih?" gerutu Seol. Dae Han semakin salah paham, mengira Seol benar-benar tidak menyukai makanan itu. Patah hari, Dae Han pun mau kembali ke dapur sambil mewek.

 

Tepat saat itu juga, Bang Jin terburu-buru masuk dan memberitahu tentang konferensi pers-nya Se Joo itu. Seol bergegas menonton acara itu dimana Se Joo mengaku kalau dia merasa sangat amat terganggu setiap kali dia dituduh memiliki seorang ghostwriter. Karena itulah dia harus mengatasinya demi mempertahankan harga dirinya sebagai seorang penulis.

Rasa frustasi terkadang membuatnya mempertanyakan dirinya sendiri tentang mengapa dia menjadi seorang penulis. Dia selalu dapat mengatasi rasa frustasi itu berkat keyakinannya bahwa dia telah menulis karya yang hanya bisa ditulis olehnya sendiri.


CEO Gal sudah tegang menanti kelanjutan pidatonya Se Joo. Jin Oh mau mengatakan sesuatu pada Se Joo, tapi Se Joo menyelanya sebelum dia sempat mengatakan apapun dan menyatakan bahwa rumor tentang dirinya memiliki seorang ghostwriter itu dulu salah... tapi sekarang benar.

Para reporter kontan heboh kasak-kusuk dan berlomba mengetik pernyataan Se Joo. Reporter Son langsung tanya duluan, dimana ghostwriter-nya itu sekarang?

"Serial berjudul 'Mesin Ketik Chicago' yang tengah berjalan saat ini... ditulis oleh pria ini," ujar Se Joo sambil menunjuk sebelahnya.

Dan seketika itu pula, Para reporter berhenti sejenak dari apapun yang sedang mereka lakukan dan saling berpandangan dengan bingung. Bahkan CEO Gal pun tampak kebingungan. Se Joo menegaskan bahwa pria ini adalah ghostwriter-nya dan dia akan bertanggung jawab sepenuhnya atas situasi ini, bahkan sekalipun itu artinya dia harus berhenti menulis.


Dia meminta mereka untuk tidak menyeret orang yang tidak bersalah kedalam masalah ini, wanita yang digosipkan dalam artikel sebelumnya, wanita itu adalah orang yang telah menyelamatkan hidupnya sekaligus penggemar novel-novelnya. Dia memohon agar mereka tidak lagi menganggu ataupun mengancam wanita itu lagi. Seol tersentuh mendengar itu.

Dia meminta para reporter untuk bertanya pada pria di sebelahnya itu saja kalau ada pertanyaan lalu pergi. Para kameramen terus membuntutinya sampai dia keluar, sementara CEO Gal ketawa histeris "Dia sudah gila."


Se Joo lalu rapat bersama para staf-nya. Dia berterima kasih pada mereka dan meminta maaf terutama pada Sekretaris Kang yang selama ini selalu mempercayainya. Sekretaris Kang ingin mengatakan sesuatu, tapi Se Joo menyela dan mengumumkan bahwa dia ingin sendirian entah sampai kapan dan mungkin dia tidak bisa mempekerjakan mereka lagi.


Dia berterima kasih untuk yang terakhir kalinya lalu masuk ke ruang kerjanya dan menghela nafas sebelum membuka laptopnya untuk melihat berita tentang dirinya. Tapi malah mendapati berita yang mencengangkan.


Dalam video saat dia menunjuk Jin Oh sebagai ghostwriter-nya, kursi itu malah kosong. Se Joo jelas shock, apa yang sebenarnya terjadi. jelas-jelas Jin Oh duduk di situ waktu itu.

"Kau baik-baik saja? Kau pasti terkejut, yah?" tanya Jin Oh yang tiba-tiba muncul di belakangnya entah kapan.


Se Joo langsung bangkit mendekatinya dan menuntut, siapa sebenarnya Jin Oh? Apa yang sebenarnya terjadi? Saat Jin Oh cuma tersenyum, Se Joo langsung menarik bajunya dengan kesal dan berteriak, "Siapa kau sebenarnya, brengs*k?!"

"Aku kan sudah bilang. Aku yang menulis atas nama Penulis Han Se Joo, ghostwriter Yoo Jin Oh." Saat Se Joo mencengkeramnya makin erat, Jin Oh melanjutkan "Masalahnya... aku ghost (hantu) sungguhan."

"Ha-hantu?"

Bersambung ke episode 6

1 comments:

mba lanjutkan ya please. saya suka saya ceritanya.

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon