Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 6 - 2


Jin Oh muncul kembali saat Se Joo dalam perjalanan pulang dan bertanya apakah Se Joo yakin kalau dia tidak akan menyesalinya. Se Joo bersikeras kalau dia tidak bisa mendengar dan melihat Jin Oh, ini cuma mimpi. Jin Oh terus menuntut Se Joo untuk meneruskan novelnya, lagipula dia kan cuma hantu, tidak akan ada yang tahu.

Kesal, Se Joo langsung menepikan mobilnya dan menjerit frustasi. Dia pikir dia akan merasa lebih baik kalau dia mengungkapkan segalanya, tapi ternyata tak ada yang mempercayainya, malah menganggapnya gila. Mereka takkan pernah membiarkannya berhenti menulis, mereka tidak akan membiarkannya menebus semua ini.

Jin Oh meyakinkan kalau dia tidak perlu menebus apapun, karena novel ini sebenarnya bukan dia yang menulisnya. "Novel itu... kaulah yang menulisnya 80 tahun yang lalu."

Di kehidupan sebelumnya, dia dan Se Joo adalah teman dekat dan sama-sama penulis. Se Joo tak percaya tapi Jin Oh terus berusaha meyakinkannya. Naskah novel itu belum selesai, tapi novel itu adalah kisah hidup mereka yang penuh perjuangan pada masa itu.

Jin Oh benar-benar ingin menyelesaikan novel itu. Se Joo tak tahan lagi mendengarnya dan langsung meneriaki Jin Oh untuk keluar dari sana, dan seketika itu pula Jin Oh menghilang.


Setibanya kembali ke rumah, Se Joo melihat Sekretaris Kang sedang memasang kembali lukisan Eugene O'Neill. Tapi sekarang, lukisan itu pakai kacamata hitam. Se Joo yang sedang tidak mood, langsung membentaknya keluar dan meninggalkannya sendirian.

Dia janji takkan memikirkan hal-hal aneh ataupun melakukan sesuatu yang berbahaya, jadi pulanglah. Di meja, dia melihat buku yang diberikan Seol padanya yang mengingatkannya akan ucapan Seol semalam.


Seol sedang dinas di klinik. Tapi dia kalah dalam game dan jadilah dia harus mentraktir semua rekan kerjanya. Tapi tepat saat itu juga, Tae Min datang dengan membawa kucingnya, Seol. Wajahnya tampak sangat cemas saat dia memberitahu mereka kalau kucingnya terluka. Tapi begitu tim dokter membawa Seol masuk, wajah cemasnya seketika berubah.

Sunbae dan Seol keheranan saat mereka melihat hasil rontgen-nya Seol. Tulangnya tampak retak cukup parah dan harus dioperasi. Setelah operasi selesai, mereka mendapati Tae Min mentraktir mereka semua makan siang.

Sunbae dan Seol memberitahunya bahwa mereka sudah mengoperasi Seol dan sekarang tinggal menunggu hasil. Lega, Tae Min pun berterima kasih kasih pada mereka semua dan bertanya apakah Seol ada waktu sepulang kerja nanti.


Malam harinya, Tae Min membawa Seol ke studio kerjanya dan memberitahu bahwa mereka akan bekerja bersama di sini. Seol bingung mendengarnya. Tae Min menduga kalau Seol pasti mabuk banget waktu itu, malam itu kan dia meminta Seol untuk jadi asistennya. Seol bingung, memangnya dia menerima tawaran Tae Min? Perasaan waktu itu dia sudah menolak deh.

Tae Min mengajaknya minum kopi dulu dan membenarkan kalau Seol memang menolak tawarannya waktu itu. Karena itulah sekarang dia meminta Seol sekali lagi untuk menjadi asistennya. Seol terus berusaha menolaknya, dia tidak punya waktu sekarang karena dia sudah bekerja di klinik sekarang, lagipula dia sama sekali tidak ada niat untuk menjadi penulis.


Tapi Tae Min tahu kalau Seol cuma bekerja 3 hari dalam seminggu di sana. Lagipula yang Tae Min butuhkan adalah seorang editor, bukan seorang ghost writer. Seol bisa menganggap ini sebagai hobi dan bayarannya lumayan, loh. Apalagi Seol kan sangat menyukai buku, dia punya banyak buku langkah di sini.

Seol galau memikirkan tawaran Tae Min, dan akhirnya memutuskan untuk menerimanya dan mereka menyepakati kerja sama mereka dengan jabat tangan. Senang, Tae Min pun memberikannya hadiah berupa novelnya yang berjudul Takdir yang didalamnya dia beri tanda tangan dan pesan.


Se Joo membaca buku-nya Seol, terutama bagian yang di-stabilo. "Aku meletakkan tanganku di dahimu. Kau hidup dengan sepenuh hati. Mohon letakkan juga tanganmu di dahiku. Diwaktu seseorang meletakkan sidik jarinya di kening orang lain dan menenangkannya, segala hal yang tidak penting akan segera memudar. Dan keheningan yang tidak pernah kita nikmati selama ini, menjelma menjadi rasa hangat yang ingin memeluk kita."

"Kau sudah bekerja keras dan bertahan hidup untuk mencapai titik sejauh ini. Aku berdoa dengan kedua tanganku, agar hari-hari paling bahagia dalam hidupmu segera datang."


Se Joo berjalan-jalan sendirian lalu berhenti di depan sebuah toko saat dia melihat sebuah tas cantik. Teringat tasnya Seol yang rusak, dia langsung memotret tas itu dan menelepon Sekretaris Kang untuk menyuruhnya memesankan tas itu untuknya. Tapi sedetik kemudian dia berubah pikiran dan memutuskan untuk melakukannya sendiri.


Se Joo lalu pergi ke klinik hewan untuk mencari Seol, tapi malah mendapati Seol kembali bersama Tae Min. Dia buru-buru bersembunyi dan mendengar Seol membahas tentang keraguannya sebagai asistennya Tae Min nanti. Seol hendak masuk saat dia melihat anjing liar itu kembali di sana.

Tae Min memperhatikan saat Seol membelai sayang anjing itu dan memberinya makan. Tae Min berkomentar kalau anjing ini sepertinya sangat menyukai Seol. Seol berkata kalau binatang biasanya lebih bisa mencintai daripada manusia. Anjing ini adalah penggemarnya nomor satu.


Tae Min penasaran bagaimana mereka bertemu dulu. Seol memberitahunya kalau dia bertemu anjing ini secara tak sengaja, berkat anjing inilah dia dan Se Joo bisa bertemu seperti dalam dongeng Gyun Woo dan Jik Nyo. Seol tiba-tiba punya ide untuk menamai anjing itu sebagai Gyun Woo.

Tapi Seol cukup menyayangkannya karena dia anjing jenis Sapsali (dipercaya sebagai anjing penangkal roh). Seandainya dia bukan jenis Sapsali, dia pasti bisa meminta izin Bang Wool untuk mengizinkannya tinggal di rumah mereka.

Mendengar itu, Tae Min menawarkan diri untuk membawa Gyun Woo pulang bersamanya. Seol senang-senang saja dan menyerahkan Gyun Woo ke Tae Min.

 

Tapi saat Tae Min hendak memasukkan Gyun Woo ke mobilnya, Se Joo muncul dan langsung menyindirnya. Sepertinya Tae Min sibuk sekali, yah. Mulai dari mengantarkan seorang gadis sampai merawat anjing, pasti karena kesibukannya inilah dia belum menerbitkan buku apapun belakangan ini. Apa yang Tae Min lakukan di sini sebenarnya.

Tae Min menjelaskan kalau dia kemari untuk menemui dokter hewan dari kucing peliharaannya dan anjing ini adalah hadiah dari dokternya. Se Joo langsung sinis, tatapan Tae Min pada dokter hewan itu sepertinya lebih daripada sekedar tatapan untuk seorang dokter hewan.


Tae Min juga tahu kalau Seol cukup spesial bagi Se Joo. Dia bisa melihat segalanya hanya dari ekspresi Se Joo dan dari foto skandal yang pernah dilihatnya, sepertinya mereka berdua punya hubungan khusus. Wah, Se Joo tak menyangka kalau Tae Min membaca artikel tentangnya. Kenapa Tae Min kepo sekali tentangnya.

"Aku memang selalu penasaran pada semua hal yang kau lakukan."

Se Joo mengoreksi, Tae Min bukannya tertarik padanya, tapi tertarik pada apapun yang menjadi miliknya. Dia bahkan akan mencuri apapun yang dia mau. Senyum di wajah Tae Min langsung luntur seketika. Malas berdebat lebih jauh, Se Joo berniat pergi.


Tapi Tae Min bertanya-tanya, apa menurut Se Joo ini bukan salah Se Joo sendiri yang telah membiarkannya mencuri milik Se Joo. "Kehilangan sesuatu artinya kau gagal menjaganya. Kau tidak berhak memiliki apa yang tidak sanggup kau jaga. Tidak ada bedanya dengan mencampakkan sesuatu seenaknya."

"Benar, aku tidak tahu itu. Karena itulah, mulai sekarang aku tidak akan membiarkan siapapun mencuri apa yang menjadi milikku." Geram Se Joo.

"Apa misalnya?"

"Apa saja."

Apa Seol masuk dalam hitungan itu? tanya Tae Min. Dia langsung mendengus saat melihat Se Joo terdiam dan tampak jelas goyah mendengar pertanyaan itu. Se Joo menjawabnya dengan merebut Gyun Woo darinya, karena anjing ini sebenarnya miliknya.


Se Joo termenung memikirkan ucapan Tae Min dalam perjalanan pulang. Tapi tiba-tiba saja dia mendengar suara Jin Oh bertanya cemas, apa dia baik-baik saja. Se Joo celingukan tapi Jin Oh tidak nampak di mana-mana. Se Joo akhirnya berjalan lagi, tapi lagi-lagi dia mendengar suara Jin Oh.

Gyun Woo tiba-tiba mengibaskan tubuhnya dengan cukup keras untuk menarik perhatian Se Joo dan saat itulah Se Joo shock menyadari Jin Oh ada didalam tubuh Gyun Woo. Jin Oh seketika menampakkan diri dan mengingatkan, dia kan sudah bilang kalau dia bisa merasuki hewan.


Teringat saat pertama kali bertemu anjing itu, Se Joo sekarang mulai mengerti segalanya. Jadi Jin Oh lah yang dulu membiarkan Seol masuk kedalam rumahnya,lalu menelan USB berbentuk tulangnya, dan dia juga yang melompat ke pelukan Seol.

Jin Oh tidak terima, dia lah yang sudah berjasa memberitahu Seol kalau Se Joo sedang dalam bahaya dan menyelamatkan nyawanya. Se Joo berusaha memintanya keluar dari tubuh Gyun Woo dan membicarakannya setelah itu. Tapi Jin Oh berpendapat kalau bicara dengan anjing akan jauh kelihatan lebih baik daripada ngomong pada udara kosong.

Kesal, Se Joo langsung mencengkeram dagu Jin Oh/Gyun Woo dan terus memaksanya keluar. Saat Jin Oh masih saja belum mau keluar, Se Joo langsung melayangkan tangan untuk memukulnya... tepat saat Seol menegurnya.


Se Joo panik berusaha membela diri, tapi Seol langsung merebut Gyun Woo darinya dan bertanya apakah Se Joo mau dilaporkan ke Organisasi Perlindungan Hewan dan membuat wajahnya muncul di halaman pertama koran besok.

Se Joo berusaha memberitahunya tentang Gyun Woo, bahwa terkadang sesuatu yang kita lihat tidak seperti kelihatannya. Seoo kesal mendengarnya, kenapa Se Joo mendadak bersikap seperti ini padahal dulu dia bahkan tidak mau dengar saat dia meminta Se Joo untuk merawat anjing ini.

Dia baru saja merasa tenang karena Tae Min mau merawat anjing ini, kenapa Se Joo malah mendadak ikut campur. Se Joo bahkan tidak berniat untuk menjaga anjing ini, Se Joo pasti akan menyiksa dan membuang anjing ini lagi.


"Kau hanya mencintai dirimu sendiri."

"Siapa yang bilang begitu? Siapa yang bilang padamu kalau aku adalah orang semacam itu?"

Seol mengklaim kalau dia bisa mengetahui semua itu dari semua sikap, ucapan dan segalanya dari dalam diri Se Joo. Jin Oh/Gyun Woo berusaha meminta Se Joo untuk menghentikan semua ini, tapi Se Joo langsung membentaknya kesal.

Shock, Seol menyatakan kalau sekarang dia merasa tidak bisa lagi menjadi penggemarnya Se Joo. Dia berterima kasih tapi berharap agar mereka takkan pernah bertemu lagi lalu membawa Gyun Woo pergi dari sana walaupun Jin Oh/Gyun Woo terus menerus menoleh ke belakang, merasa bersalah pada Se Joo.


Setibanya kembali ke rumah, Se Joo mendapati Jin Oh sudah menunggunya di sana. Dia langsung meminta maaf, tapi Se Joo tidak mau mendengar apapun dan menolak bicara dengannya. Dia menyatakan kalau dia akan menjual rumah ini dan mengembalikan mesin ketiknya ke Chicago. Terserah Jin Oh mau pergi ke alam baka atau gentayangan jadi roh jahat.

Dia berbalik, tapi langsung dicegat Jin Oh yang bertanya-tanya apakah Se Joo benar-benar akan membiarkan Tae Min mengambil segalanya dari Se Joo, mulai dari novelnya sampai Seol? Apa Se Joo bahkan tidak penasaran sedikitpun tentang kenapa dia mengirimkan dirinya sendiri kepada Se Joo?

Se Joo mengklaim tidak, mungkin saja Jin Oh cuma ingin dipajang di rumah seorang penulis terkenal, atau mungkin juga karena Jin Oh ingin agar tulisannya diterbitkan atas namanya.


"Karena aku ingin menulis novel bersamamu!" Sembur Jin Oh

"Tulis saja sendiri."

"Aku tidak bisa. Terlebih, itu adalah novelmu. Dan aku... tidak ingat bagaimana kenangan terakhir hidupku di masa lalu."

Se Joo langsung mendengus sinis mendengarnya, terus apakah dia harus menangis sekarang? Enyahlah! Saat Jin Oh masih juga tak mau pergi dari hadapannya, Se Joo bertekad mengakhiri segalanya sampai di sini.


Dia langsung masuk ke ruang kerjanya lalu mengangkat mesin ketik itu tinggi-tinggi untuk membantingnya...


Tepat saat dia mendapat penglihatan masa lalu dan mendengar suara Jin Oh di masa lalu bertanya, "Apa ini mesin ketik Korea yang baru saja keluar itu?"

Hwi Young dan Jin Oh berhenti di sebuah toko untuk melihat mesin ketik yang terpajang di etalase itu. Jin Oh antusias karena dengan mesin ketik itu, mereka tidak perlu lagi memakai mesin ketik Jepang. Haruskah mereka membelinya?

Hwi Young pesimis mereka bisa membelinya mengingat harganya yang teramat sangat mahal dan hanya orang kaya yang bisa membeli dan menjadikannya dekorasi dalam rumah. Jin Oh berkata bahwa mereka memang tidak sanggup untuk membeli dua buah, tapi dia menawarkan diri untuk membelikannya untuk Hwi Young sebagai hadiah.

Mengeluarkan penanya, Hwi Young mengklaim kalau yang dia butuhkan hanya pena itu semata. Orang bilang pena lebih tajam daripada pedang, benda ini punya kekuatan dua kali lipat daripada pedang dan akan sangat berguna untuk mengubah dunia.


Tapi pada akhirnya, mesin ketik itu menjadi milik Hwi Young. Saat dia sibuk dengan ketikannya, Soo Yeon datang dan langsung membahas masalah mesin ketik itu. Jin Oh membangga-banggakan mesin ketik itu sebagai mesin ketik yang dibuat dengan tangan dan hanya satu-satunya mesin ketik yang ada.

"Dan dia menulis novel murahan dengan mesin ketik itu?"

Jin Oh tidak yakin, Hwi Young hanya bilang kalau dia tidak akan menulis untuk koran, dia juga tidak menulis demi uang dan wanita. "Dia bilang kalau itu adalah sesuatu yang sudah lama ingin ia tulis."

Mendengar itu, mata Soo Yeon langsung berbinar. Jin Oh langsung memahami maksud tatapan matanya dan langsung melarangnya saat itu juga. Kesal, Soo Yeon langsung mengatai Jin Oh "Dasar pengkhianat!"


Soo Yeon langsung beranjak bangkit mendekati Hwi Young dan mencuri kertas-kertas yang baru saja Hwi Young keluarkan dari mesin ketik. Hwi Young mengejarnya, tapi Jin Oh mencegahnya. Hwi Young langsung kesal dan mengatai Jin Oh pengkhianat yang lebih memilih wanita daripada teman.

"Sebesar itulah kekuatan cinta," kata Jin Oh. Sementara Soo Yeon serius membaca tulisan-tulisannya Hwi Young.


Malam harinya di Carpe Diem, Hwi Young mondar-mandir gelisah menanti Soo Yeon yang belum mengembalikan naskahnya. Tiba-tiba suara bel berbunyi nyaring. Soo Yeon lah yang membunyikannya untuk menarik perhatian semua pengunjung.

Dia lalu naik panggung dengan membawa segelas champagne dan berkata bahwa langit Joseon masih diliputi kegelapan dan membuat mereka merasa putus asa. Hwi Young dan Jin Oh sontak cemas mendengar ucapan Soo Yeon. Tapi Soo Yeon tetap melanjutkan.

Dia berkata bahwa hari ini dia melihat secercah cahaya didalam kegelapan yang melingkupi mereka. Chaya itu mungkin akan menjadi obor yang menyingkirkan kegelapan. "Aku menyaksikan kelahiran seorang penulis fenomenal dan aku ingin berbagi kebahagiaan dengan kalian karena aku telah menemukannya. Inilah dia penulis bersinar masa depan, Seo Hwi Young."


Semua pengunjung kontan berpaling ke Hwi Young dan bertepuk tangan untuknya. Soo Yeon bahkan mengumumkan kalau minuman mereka semua gratis malam ini. Jin Oh cuma bisa mendesah canggung mendengarnya.

Soo Yeon lalu mendekat ke mereka sambil mengocok-ngocok botol champagne. Hwi Young dan Jin Oh kontan mundur menjauhinya sementara Soo Yeon mulai menyemprotkannya ke mereka.


Di masa kini, Jin Oh bertanya apakah Se Joo percaya padanya sekarang. Dia memohon pada Se Joo untuk menyelesaikan novel itu. "Hanya dengan cara ini, aku bisa mengetahui kenapa aku mati dan kenapa jiwaku terkurung didalam mesin ketik itu dan kenapa aku tidak bisa berenkarnasi. Jadi kumohon."

"Biarkan aku bertanya satu hal. Kehidupan masa lalu yang kau bicarakan, apa didalamnya ada Jeon Seol juga? Apa dia juga ada?"

Jin Oh mengangguk, "Namanya dulu adalah Soo Yeon. Dia adalah rekan kita dan juga seorang kekasih."

Bersambung ke episode 7

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon