Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 7 - 1


Setelah Carpe Diem tutup, Soo Yeon kaget mengetahui kalau novel yang ditulis Hwi Young itu tidak akan dirilis. Dia tidak mengerti kenapa, kalau tidak akan dirilis lalu apa gunanya ditulis. Dia salah satu tokoh dalam novel itu, jadi dia punya saham didalamnya.

Kedua orang itu terus berdebat sampai Jin Oh lah yang harus berteriak menghentikan mereka. Heran dia, mereka selalu saja bertengkar tiap kali bertemu. Memangnya mereka musuh bebuyutan di kehidupan sebelumnya apa?

Dia lalu meminta Hwi Young untuk memeriksa luka Soo Yeon nanti, dia terkena luka tembak. Soo Yeon menolak, dia tidak mau kalau Hwi Young yang merawat lukanya, dia itu dokter gadungan. Hwi Young langsung mebanting gelasnya dengan kesal, tidak terima tuduhan Soo Yeon.

Jin Oh menjelaskan kalau Jin Oh memang tidak punya ijazah, tapi dia pernah kuliah jurusan medis. Dia DO saat hampir lulus demi menjadi penulis. Hwi Young juga banyak membantu mereka dengan mengobati luka tembak secara diam-diam. Selain itu, keluarganya juga menjalankan bisnis apotek dan kerabatnya juga dokter.


Jin Oh lalu bersiap pergi. Dia mendesah kalau hari ini adalah upacara kematian Kakeknya. Di saat seperti ini, para tetua pasti berkumpul dan mendiskusikan cara mendapatkan koneksi dengan pemerintahan. Sebelum pergi, dia mengingatkan Hwi Young untuk merawat luka Soo Yeon. Tapi baik Hwi Young dan Soo Yeon malah kompak berteriak menolak.

"Kalau begitu kalian berdua minggat saja dari sini!" balas Jin Oh.


Jin Oh pergi dengan cemas, apa tidak masalah meninggalkan mereka berduaan. Pelayannya bertanya apakah Jin Oh cemas kalau kedua lelaki itu akan jatuh cinta. Jin Oh mendengus menyangkalnya, dia hanya berharap mereka tidak bunuh.


Sambil memegangi pisau bedah, Hwi Young memerintahkan Soo Yeon untuk melepaskan bajunya biar dia bisa merawat lukanya. Tapi Soo Yeon tidak mau, malah merapatkan bajunya. Hwi Young sinis, memangnya ada yang menganggap Soo Yeon wanita.

Saat Soo Yeon mau melarikan diri, Hwi Young mencegahnya dan mengancam akan menelanjanginya kalau begitu. Soo Yeon malah langsung memukul Hwi Young. Jadilah mereka kejar-kejaran keliling ruangan. Hwi Young memperingatkannya kalau lukanya bisa infeksi jika tidak diobati, tetap saja Soo Yeon menolak diobati oleh seorang dokter gadungan sepertinya.

"Jangan memprovokasiku. Atau akan kuberi kau 10 jahitan meski kau cuma butuh 2 jahitan," ancam Hwi Young.

"Apa wajar berpikir menjahitnya padahal melihat lukanya saja belum?"


Soo Yeon langsung berlari ke pintu keluar, tapi Hwi Young berhasil menghadangnya tepat waktu. Makanya, mari kita lihat dulu lukanya. Soo Yeon akhirnya mengalah dan membiarkan Hwi Young memeriksa lukanya. Dia memberikan selembar kain dan menyuruh Soo Yeon menggigitnya, lukanya perlu dijahit dan bakalan sakit, teriak saja kalau Soo Yeon mau.

Hwi Young mulai membedah lukanya. Tapi walaupun kesakitan, Soo Yeon sama sekali tidak berteriak. Saat dia memperban luka Soo Yeon, Hwi Young kagum juga karena Soo Yeon bahkan tidak tidak bersuara sedikitpun.

"Ada banyak orang yang menangis dan kesulitan di Joseon, aku tidak akan menangis hanya karena luka sekecil ini." Ujar Soo Yeon.


Saat Hwi Young fokus memperban lukanya, Soo Yeon terpana menatapnya. Tapi saat Hwi Young menatapnya, Soo Yeon langsung mengalihkan tatapannya dan beralih topik membahas keluarganya Hwi Young. Dia pasti kaya mengingat keluarganya dokter dan apoteker.

Tapi Hwi Young mengaku kalau keluarganya memutuskan hubungan dengannya karena dia memutuskan keluar dari pendidikan medis dan lebih memilih untuk menjadi penulis. Pada akhirnya, dia tidak menjadi penulis yang sukses dan tidak pula menjadi dokter. Putra tunggal mereka berakhir seperti ini saja, mana ada orang tua yang akan senang.

"Tapi kamerad kita banyak mendapat bantuan darimu," ujar Soo Yeon berusaha menyemangatinya.

"Kau bilang aku gadungan?"

"Pistol bukan satu-satunya penyelamat negara."
 
Hwi Young sampai heran sendiri mendengar kata-kata Soo Yeon yang tiba-tiba jadi baik padanya. Soo Yeon mengaku kalau dia merasa novelnya Hwi Young sensasional. Dia berpikir kalau Hwi Young akan menjadi seorang penulis fenomenal.

"Karena itulah teruslah menulis. Aku akan memegang pistol, kau tetaplah goreskan penamu dan gunakan peralatan di sini untuk merawat para kamerad. Jika seorang orang bekerja keras, bukankah negara kita mungkin akan merdeka? Novel itu, aku sungguh berharap kau menyelesaikannya, tak peduli berapa lama."

Kembali ke masa kini,


Jin Oh memberitahu Se Joo bahwa nama Jeon Seol di kehidupan sebelumnya adalah Ryu Soo Yeon. Dia kamerad mereka sekaligus kekasih. Soo Yeon berharap Se Joo akan menyelesaikan novelnya, karena itulah Jin Oh pun memohon pada Se Joo untuk melanjutkan novelnya.

Dia bertanya-tanya, apakah Se Joo tidak ingin tahu bagaimana mereka awalnya bertemu hingga menjadi teman, kenapa Soo Yeon menyamar sebagai pria dan mengapa dia memegang pistol, bagaimana kehidupan mereka di masa itu dan bagaimana akhir kisah mereka.

Se Joo justru tidak mengerti kenapa dia harus penasaran. Anggaplah ucapan Jin Oh benar. Tapi kehidupan saat ini saja sudah sangat sulit, kenapa juga dia harus menambahkan kehidupan masa lampau sebagai beban. Memangnya hal itu akan membantunya. Masa lalu adalah masa lalu, masa kini adalah masa kini.


Ucapan Se Joo itu tampak sangat menohok bagi Jin Oh. Tidak bisakah Se Joo mempertimbangkannya atas persahabatan mereka di masa lalu? Se Joo mendengus mendengarnya, "Kurasa kau tidak tahu, pengkhianatan mengintai dibalik persahabatan. Sekali membantu seseorang, dia akan menjadi tergantung pada kita. Itulah realitanya."

Jin Oh sungguh tak percaya mendengar, "Kau... banyak berubah."

"Waktu juga sudah berlalu. Kita hidup di zaman dimana kita harus berhati dingin agar bisa bertahan."

Tidak bisa lagi meyakinkan Se Joo, Jin Oh akhirnya mengalah. Ternyata menemui Se Joo adalah sebuah kesalahan, dia meminta maaf karena telah megusik Se Joo dan pamit. Se Joo menuntut nama Jin Oh, tapi saat dia menoleh, Jin Oh sudah menghilang.


Jin Oh mendatangi Gyun Woo yang diikat di sebuah pohon dekat kedai kaki lima untuk berterima kasih atas segalanya. Sementara didalam, Seol dan Bang Jin minum-minum sambil ngomongin Se Joo yang merobek tasnya dan hampir memukul Gyun Woo.


Bang Jin merutuki Se Joo lalu pamit ke toilet dulu. Tapi Seol belum selesai dan terus mengeluh segala hal tentang Se Joo. Bang Jin mendengarkannya dengan tak sabaran dan buru-buru menyela untuk mengutuki Se Joo.

Tapi Seol malah membela Se Joo. Bang Jin sampai heran sendiri, jadi Seol itu sebenarnya fan-nya Se Joo atau bukan. Seol minta waktu untuk memikirkannya. Tapi Bang Jin tidak ada waktu meladeninya dan langsung keluar.


Dia bertemu Jin Oh di luar. Dia tertunduk kecewa saat dia menduga kalau Jin Oh datang kemari untuk menemui Seol, tapi saat Jin Oh berkata kalau ada sesuatu yang ingin dia katakan padanya, Bang Jin kontan berubah senang.

Jin Oh mulai mengucap terima kasih karena Bang Jin mau menjadi temannya. Dia hendak memberitahukan jati dirinya yang sebenarnya, tapi Bang Jin buru-buru menyetopnya. Nanti dulu, dia sudah kebelet dan langsung melesat pergi.

 

Seol minum-minum terus sambil mengeluhkan sikapnya sendiri yang nggak jelas pada Se Joo. Jin Oh melihatnya dengan cemas dan berusaha meminta Seol untuk berhenti minum. "Aku datang untuk mengucap selamat tinggal, aku tidak bisa pergi kalau kau begini."

Seolah mendengar permintaan Jin Oh, Seol urung meminum soju-nya dan mendesah sedih tentang Se Joo. Kenapa Se Joo begitu egois dan tidak mempercayai siapapun. Jin Oh sependapat dengannya, padahal di kehidupan yang sebelumnya Se Joo tidak begitu.

"Seandainya aku lebih dulu bertemu denganmu, apa kau akan mempercayaiku. Seandainya kau menatapku lebih dulu, apa kau akan menyambutku ramah seperti dulu?"


Seol tiba-tiba berbalik menatapnya dan tersenyum. Oh, dia bisa melihat Jin Oh, kah? Jin Oh tentu saja terkejut melihatnya. Seol lalu mendekat lalu pingsan di dada Jin Oh.


Bang Jin akhirnya kembali tak lama kemudian, tapi mendapati Jin Oh sudah tak ada di sana dan Seol sudah pingsan di bangku. Beberapa saat kemudian, Dae Han membantu Bang Jin menggendong Seol pulang. Dae Han heran melihat Seol minum-minum sebanyak ini dan berpikir kalau Seol pasti minum-minum karena merasa bersalah karena telah menyakitinya.


Dalam tidurnya, Seol memimpikan kehidupan masa lampaunya. Soo Yeon ngelindur memanggil ayah dan Ibunya dalam tidurnya. Hwi Young yang mendengarnya, langsung duduk di samping ranjangnya Soo Yeon dan membelai kepala Soo Yeon sampai akhirnya Soo Yeon tenang.

Seol terbangun dari tidurnya dan langsung memegangi keningnya seolah masih bisa merasakan sentuhan Hwi Young dalam mimpinya tadi.


Se Joo sendiri tak tenang dalam tidurnya, memimpikan kehidupan masa lalunya dan teringat kata-kata Jin Oh. Sebuah tangan tiba-tiba membelai kepalanya, tangan Soo Yeon yang perlahan membuat Se Joo mulai tenang.


CEO Gal dan anak buahnya rapat membahas kegiatan camping mereka bersama para penulis. Tapi seorang staf melapor kalau Se Joo tidak akan ikut. Seorang staf lainnya menduga kalau Se Joo sepertinya bakalan berhenti menulis.

CEO Gal langsung emosi membela Se Joo, dia merasa yang Se Joo alami saat ini wajar. Penulis pasti mengalami batu sandungan tiap 3 tahun sekali. Seusai rapat, dia langsung menelepon Sekretaris Kang untuk menanyakan Se Joo. Dia sedang menulis, kan?

Tapi Sekretaris Kang malah bilang kalau Se Joo sedang memacul sekarang. Se Joo bilang dia ingin membuat kebun blueberry. Sebelumnya juga Se Joo mencoba memasak dan membuat robot mainan... tapi tidak menulis sama sekali.


Saat Ji Seok datang tak lama kemudian, dia mendapati Se Joo sedang asyik berkebun. Se Joo lagi ngapain, sih? Se Joo dengan tenangnya menjawab "Carpe Diem."

"Diem apaan?"

"Artinya, nikmati waktumu. Nimati setiap momen kehidupanmu sekarang. Selama ini, aku hanya mengurung diri untuk menulis hingga tak punya waktu untuk menikmati hidup. Sekarang, aku sedang menimatinya."

CEO Gal langsung mewek mendengarnya, "Kau ini sebenarnya kenapa, sih?"


Malam harinya, dia membawa Se Jo makan malam di restoran dihiasi banyak buku di sekitarnya sambil ngomel-ngomel keheranan, sama sekali tak mengerti kenapa Se Joo tidak mau menulis. Cobalah untuk bangkit, dia kan sudah memulai novel itu.

Se Joo berusaha bilang kalau novel itu bukan dia yang menulis. Tapi CEO Gal masih saja tak mempercayai klaimnya tentang ghostwriternya itu. Frustasi, CEO Gal berusaha mengingatkan Se Joo akan perjuangan mereka hingga sampai ke titik ini.


Apa Se Joo tidak ingat bagaimana mereka berdua pertama kali bertemu dulu? Hari itu adalah hari yang cerah di bulan April dan dia memakai setelan jas. Tapi Se Joo langsung mengoreksi, hari itu mendung di bulan April dan CEO Gal pakai baju setelan olahraga.

Jadilah mereka ribut berdebat tentang hari cerah dan mendung sambil mengenang masa lalu. Jadi waktu itu CEO Gal mendatangi Se Joo di kampus dan langsung memuji ketampanan Se Joo, buku Se Joo pasti bisa jadi bestseller hanya dengan ketampanannya itu.


Dia memperkenalkan dirinya sebagai kuda hitam dalam industri penerbitan yang akan membuat Se Joo menjadi seorang penulis bestseller. Tapi Se Joo malah pergi mengabaikannya.

Tapi CEO Gal dengan cepat menarik perhatiannya dengan menyinggung novelnya Se Joo yang katanya menjiplak novelnya Tae Min yang berjudul 'Fate'. Apa Se Joo tidak mau membalas mereka yang telah menudingnya sebagai peniru?

Se Joo pesimis, memangnya ada caranya. Penampilan CEO Gal saja tidak terlihat seperti orang sukses. CEO Gal mengaku kalau dia barus mendirikan perusahaan penerbitan dan dia akan memberi Se Joo kesempatan untuk menjadi penulis pertama yang akan mereka orbitkan.

Saat Se Joo bertanya kenapa musti dia, CEO Gal bisa langsung tahu kalau Se Joo punya bakat, karakter dan penampilan hanya dari membaca tulisannya Se Joo. Dengan ketiga modal ini, jelas Se Joo bisa menjadi seorang bintang di Korea.

"Lalu aku... maksudku kita akan menjadi super duper kaya. Bagaimana? Mau bergabung denganku atau tidak?"

Yang tak disangkanya, Se Joo langsung menerimanya saat itu juga. CEo Gal sampai bingung kenapa Se Joo setuju secepat itu. Karena CEO Gal lebai dan omong besar, Se Joo suka dengan CEO Gal yang tergila-gila akan uang dan memintanya untuk tidak pernah berubah.


Kembali ke masa kini, CEO Gal heran kenapa Se Joo sekarang malah berubah. Se Joo berkata karena dulu dia punya tujuan pasti, tapi sekarang dia tidak punya tujuan, dia bingung akan segala hal. CEO Gal berusaha meminta Se Joo untuk curhat saja padanya, biar dia bisa membantu memperjelas apa yang membuatnya bingung.

Tapi Se Joo sendiri bingung, dia tidak memahami apa yang ditulisnya dan tidak mengerti alasannya menulisnya. Diatas semua itu, dia tidak lagi merasa bahagia saat menulis. Dia sudah lelah menulis demi mendapatkan banyak uang. Dan juga...


Dia tidak mengatakannya dan langsung pergi ke klinik hewan sambil membatin tentang alasan yang tidak dia ucapkan tadi. "Aku bingung tentang kehidupan masa kini dan masa lampau. Apa sungguh aku yang menulisnya atau bukan? Apakah hatiku ini berdebar karena Soo Yeon dari kehidupan lampau atau..."

Dia berhenti di depan klinik dan melihat Seol di sana. Seol juga melihatnya, tapi pasiennya memanggilnya saat itu hingga perhatiannya pun teralih dari Se Joo. Saat dia menoleh kembali, Se Joo sudah tidak ada. Dia langsung keluar untuk mencari Se Joo tapi Se Joo tidak terlihat dimana-mana. Seol pun masuk kembali tanpa menyadari Se Joo sebenarnya ada di pojokan.


Seol membawa Gyun Woo ke menemui Bang Jin di restoran. Klinik dengan terpaksa melepaskan Gyun Woo karena takut orang-orang berpikir mereka menampung hewan liar. Kalau seperti itu, bisa-bisa orang-orang akan meninggalkan anjing-anjing mereka di klinik. 

Seol bingung harus bagaimana. Dia tidak enak meminta pada Tae Min karena hubungan mereka tidak seakrab itu. Pemilik restoran datang saat itu dan langsung mengeluhkan kehadiran anjing itu.



Dalam perjalanan pulang, Seol meminta maaf pada Bang Jin karena tadi kena omel bosnya. Dia merasa bersalah karena sudah numpang di rumah Bang Jin, sekarang malah bawa anjing. Tapi dia sungguh tak bisa mengabaikan Gyun Woo karena Gyun Woo mengingatkannya akan masa lalu.

Saat dia sebatang kara setelah kematian Ayahnya dan tak punya tempat tujuan, Bang Wool lah yang mengajaknya kemari. Jika Bang Wool dan Bang Jin tidak menerimanya, mungkin sekarang dia akan kebingungan seperti Gyun Woo.

Mengingat masa lalu itu kontan membuat Bang Jin menangis. Seol lah satu-satu orang yang mau bermain bersamanya saat anak-anak lain menjauhinya karena Ibunya dukun, Seol selalu membala dan menjagaku. Dia sungguh berterima kasih pada Seol karena itu.


Terharu, kedua sahabat itu langsung menangis dalam pelukan masing-masing... tepat saat Bang Wool membuka pintu dan langsung membentak mereka. Seol dan Bang Jin langsung saling melepaskan diri dan berdiri jejer untuk menyembunyikan Gyun Woo, tapi Bang Wool melihatnya. Apa itu?

Bersambung ke part 2

2 comments

This comment has been removed by the author.

Bak ima .... Mana lanjutannya??? Pnsranx kptong dr kmrin.
Smg sehat sll y... Biar updatex c4😀

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon