Powered by Blogger.

Images Credit: KBS

Sinopsis Fight For My Way Episode 3 - 2


Sul Hee cemas, induk semang mereka belum tahu tentang tempat ini, kan? Dong Man malah penasaran, soalnya mereka selama ini belum pernah melihat induk semang mereka yang baru. Sul Hee merasa induk semang yang baru itu aneh.

"Jangan-jangan dia hantu?" Duga Ae Ra. Soalnya kan belum pernah ada orang yang melihatnya, aneh juga rasanya dia mendadak pindah. Mereka bertiga kontan berpandangan takut.

 

Di bawah, pintu terbuka dan tampak sepasang kaki memakai sandal. Tapi dia bukan hantu, Ahjumma yang sepertinya induk semang baru mereka itu, langsung celingukan sambil memegangi kalung salib-nya dengan takut-takut soalnya dia merasa seperti mendengar ada orang bicara tapi tak tak ada orangnya. hehe.


Ae Ra mengoplos bir dan soju. Sul Hee mau juga, tapi Ae Ra menolak memberikannya karena Sul Hee tidak kuat minum. Sul Hee tidak peduli dan langsung merebut gelasnya Ae Ra, tapi baru juga seteguk, dia langsung tersedak.

Ae Ra jadi cemas melihatnya, apa dia dan Joo Man bertengkar. Tidak, hanya saja di kantor ada seorang karyawan magang yang gayanya nyebelin banget. Dia pakai perhiasan di kukunya, kemarin dia pakai baju seperti Tuan Putri dan hari ini dia mengenakan setelan rok pink. Sul Hee sebal, sepertinya wanita itu cuma mau pamer.

Dong Man penasaran apa dia cantik. Ae Ra langsung memukulnya dan bertanya apakah wanita itu menyukai Joo Man. Sul Hee yakin kalau Joo Man tidak akan tertarik pada wanita itu biarpun wanita itu menggodanya.


Dong Man ngotot mau tahu apakah wanita itu cantik, tidak terima pertanyaannya diacuhin. Dia bertanya-tanya pada mereka, wanita tidak menyukai pria yang melakukan seni bela diri campuran, kan? Ae Ra curiga mendengarnya, apa sebenarnya yang dilakukan Dong Man belakangan ini.

Sul Hee langsung pergi meninggalkan mereka. Dong Man dan Ae Ra menyuruhnya untuk tidak menelepon Joo Man, jual mahal lah sedikitpun. Sul Hee mengklaim kalau dia tidak akan meneleponnya.

 

Ae Ra terus menerus mengulang-ulang rekaman siarannya tadi saking senangnya. Dong Man menyemangatinya untuk mencoba jadi penyiar berita saja, bukankah ada perekrutan penyiar baru di TV. Berusahalah yang terbaik walaupun gagal nantinya.

Tapi Ae Ra ngotot tidak mau. Dia tidak mau ada di posisi sampingan, yang bilang kalau latar belakang pendidikan dan usia tidak penting itu bohong. Bagaimana dengan impian Dong Man sendiri?

"Impianku? Impianku adalah menjadi kaya raya."


Ae Ra nyinyir, itu impian yang bodoh, tapi memang begitulah Dong Man. Dong Man langsung balas dendam dengan mengambil gulungan tisu yang Ae Ra pakai sebagai bantal. Kesal, Ae Ra langsung membentangkan tangan Dong Man dan menggunakannya sebagai bantal. Dong Man diam saja walaupun dia mengepalkan tangannya karena pastinya sakit.

Mengenang masa sekolah mereka, Ae Ra bercerita bahwa dulu saat mereka diminta menulis impian mereka, dia menulis mau jadi Miss Korea bahkan presiden. Dong Man mengaku kalau impiannya selalu berubah hampir setiap hari.

Flashback,


Waktu masih kecil, Ibunya Dong Man membawanya ke pasar dan membelikannya sate kue beras. Saat Ibu bertanya dia mau jadi, Dong Man asal saja menjawab mau jadi sate kue beras.

Saat dia beranjak remaja, dia mengganti penampilannya ala-ala rocker dan menyatakan kalau dia mau jadi Yoon Do Hyun (musisi rock). Lalu saat dia menenangkan kompetisi di tahun yang sama, dia mengganti harapannya untuk masuk tim nasional.

Flashback end.


Saat Ae Ra menanyakan apa impiannya sekarang. Dong Man hanya menjawab, anggap saja tak punya. Lebih baik pura-pura tak punya impian karena memiliki impian itu hanya membuatnya merasa menyedihkan.

Ae Ra mendesah setuju, apa gunanya punya impian jika kenyataannya bertentangan. Dia juga merasa kesal setiap kali memimpikan bisa membaca berita. Dong Man merasa impian itu tidak penting, hidup akan tetap berjalan meksi tak punya mimpi.


Ae Ra tiba-tiba tidur. Dong Man menakut-nakutinya untuk tidak tidur di sini atau dia akan terkena penyakit saraf wajah. Tapi tiba-tiba saja dia terpana menatap wajah mulus Ae Ra, kulit Ae Ra bagus juga untuk ukuran orang jelek.

Dia hampir menyentuh wajahnya tapi Ae Ra tiba-tiba membuka mata, jangan sentuh. Dia membiarkan Dong Man saat Dong Man memeluknya waktu itu, tapi menyentuhnya lagi. Dia gadis dari desa, jadi dia bisa salah paham.

 

Dong Man benar-benar bodoh, sepertinya dia tidak mengalami pubertas. Dia lalu memperagakan berbagai macam pelukan pada Dong Man yang kontan membuat Dong Man gugup.

"Kau mungkin tidak akan merasakan apapun (berpelukan). Tapi aku... hampir muak." Protes Ae Ra. "Jangan membuatku ingin muntah. Jangan menyentuhku. Jangan melewati batas."

Dia langsung pergi meninggalkan Dong Man dengan kesal, padahal apa yang dilakukannya tadi membuatnya gugup kepanasan. Dong Man pun sama gugup dan kepanasan selepas kepergian Ae Ra.


Keesokan paginya, Joo Man terbangun oleh alarm seperti biasanya dan mendapati Sul Hee di lantai sedang memasukkan barang-barangnya kedalam sebuah tas laptop baru yang dia beli untuk Joo Man seharga 300 dollar.

Joo Man tak nyaman mendengarnya, kenapa Sul Hee terus bertingkah seperti ibunya? Apa Sul Hee pikir dia suka memakai tas kulit baru sementara Sul Hee memakai tas kulit imitasi yang sudah robek?

Sul Hee santai kalau tas ini bisa membuatnya kelihatan pintar, Joo Man kan harus bertemu banyak orang dan tanda tangan kontrak.

"Aku tidak ingin dianggap seperti anakmu. Jangan bersikap seperti keluarga. Tidak bisakah kita bersenang-senang dan menikmati hidup?"

 

"Sayang. Apa kau tidak menyukaiku lagi?"

"Dasar bodoh, aku mengatakan ini karena menyukaimu. Terkadang kau sangat menyebalkan," Dong Man mencium Sul Hee.


Mereka berempat keluar rumah bersama tak lama kemudian dan mendapati truk makanannya Jang Ho sudah ada di depan. Jang Ho baru keluar dan membuka bisnisnya begitu dia melihat Dong Man mendekat.

Dong Man langsung menggodanya karena sekarang Jang Ho malah datang kemari setelah kemarin teriak-teriak padanya untuk tidak lagi menemuinya. Ternyata Jang Ho sangat posesif. Jang Ho langsung menyenggolnya kesal, minggir!

"Jangan pura-pura mau buka toko. Apa maumu?"

Memangnya Dong Man mau melakukannya untuknya? Malas, Dong Man berjalan meninggalkannya. Jang Ho langsung kesal melemparinya dengan dua tiket pertandingan seni bela diri campuran. Dia membeli itu seharga 198 dollar hanya untuk menemui Dong Man, terserah dia mau membuangnya atau menjualnya.


Ae Ra berlenggak-lenggok masuk mall dengan pedenya. Tapi tiba-tiba terdengar suara orang lain yang membuat pengumuman di speaker. Saat Ae Ra masuk studio, dia malah mendapati Pak Kim sedang memberi instruksi pada wanita lain yang sedang duduk di kursi penyiaran.

Pak Kim langsung gelagapan bingung, tapi wanita itu langsung memperkenalkan dirinya sebagai penyiar baru. Ae Ra jelas langsung menuntut penjelasan Pak Kim. Seorang manajer masuk dan langsung menuntut ada keributan apa ini.


Pak Kim menjelaskan kalau dia mempekerjakan penyiar baru itu atas rekomendasi penyiar sebelumnya. Ae Ra tidak terima, Pak Kim bilang akan ada wawancara, tidak adil kalau mereka tidak memberinya kesempatan.

Ini masalah kepercayaan tenaga kerja dan manajemen. Ini bisa menjadi pemicu bagi masalah tenaga kerja. Ketakutan mendengar ucapan Ae Ra, si manajer akhirnya menuruti Ae Ra, mari kita adakan wawancara.


Sunbae-nya Dong Man lagi-lagi menyerahkan pekerjaannya pada Dong Man hanya karena dia habis minum-minum setelah pacarnya mau memutuskannya. Dong Man berusaha protes, tapi si Sunbae malah menyuruhnya menepi lalu mengomelinya, meninju dadanya dan mempermalukannya di tengah jalan.


Si penyiar baru itu menelepon temannya dan langsung mengumpati Ae Ra dengan kesal dan marah-marah menuntut temannya yang ternyata istrinya si manajer tadi untuk mengurus masalah ini. Dia pergi tanpa menyadari Ae Ra menguping semuanya dari bilik toilet.

Wawancara dimulai dan penilainya cuma si manajer dan Pak Kim. Si penyiar baru membacakan berita tentang bensin dan si manajer langsung menyanjungnya setinggi langit. Giliran Ae Ra, dengan lancarnya dia membuat pengumuman diskon daging sapi.


Jelas gaya siarannya Ae Ra lebih bagus dan lebih tepat sasaran, tapi si manajer tetap mencari-cari kekurangan Ae Ra dengan menanyakan umur mereka. Wanita itu lebih muda dan si manajer langsung memutuskan memilih wanita itu.

Sakit hati, Ae Ra langsung menyinggung mereka. Yah, tentu saja dia gagal. Dia bukan lulusan akademi, usianya sudah tua dan tak punya koneksi. Seharus dia tidak perlu berkata kalau dia akan mewawancarainya.

Ae Ra akhirnya kembali ke meja informasi dengan sedih. Apalagi suara wanita itu langsung terdengar menyiarkan acara peralatan rumah tangga. Dengan mata sembab dia mengsms ayahnya untuk tidak datang dan berusaha tetap tersenyum saat ada pelanggan datang.


Di jam istirahat, dia mendapati Dong Man menunggunya di luar. Tanpa memberitahukan masalahnya, Dong Man hanya beralasan kalau dia kebetulan lewat dan ingin makan siang bersama Ae Ra. Tapi dia heran melihat seragamnya Ae Ra yang tidak berubah.


Mereka akhirnya duduk di taman. Ae Ra mengaku kalau dia berhenti dengan alasan kalau dia tidak bisa duduk diam sepanjang hari. Dong Man mendengarkannya tanpa mengucap apapun.

Saat melihat air mata Ae Ra hampir tak terbendung, dia langsung geser memunggungi Ae Ra. Bukan tidak mau melihatnya menangis, tapi melindungi Ae Ra biar orang lain tidak bisa melihatnya menangis. Aww, manisnya Dong Man.

"Menangis saja. Jika kau pura-pura kuat saat ingin menangis, itu tidak keren. Tidak masalah menangis saat ingin menangis."

Ae Ra pura-pura menyangkalnya, siapa yang mau menangis. Dong Man langsung menggerutu marah pada para atasannya Ae Ra. Bagaimana bisa mereka memberi lalu mengambilnya kembali. Padahal Ae Ra sudah begitu bahagia, bagaimana bisa mereka memecatnya.


Ae Ra akhirnya tak bisa lagi menahan air matanya dan menyuruh Dong Man menutupinya dengan baik. Dia tidak mau ada kenalannya melihatnya menangis. Dong Man langsung menutupinya dengan jaket dan menepuk-nepuk bahu Ae Ra sementara Ae Ra meluapkan semua kesedihannya di dada Dong Man.


Jang Ho sedang makan sosis bersama murid kecilnya. Tapi dia memperhatikan anak itu sepertinya habis dibully, dia bahkan menemukan kertas menempel dipunggung anak itu dan tertulis 'Bodoh'. Frustasi, Jang Ho langsung menyuruh anak itu latihan menendang 100 kali.


Dong Man datang tak lama kemudian dan langsung mengadu kalau hari ini dia dipukuli didepan banyak orang oleh seorang brengs*k yang berhenti jadi prajurit. Jang Ho kontan kesal karena kedua muridnya dipukuli hari ini lalu memberi Dong Man sosis. Jadi Dong Man datang kemari karena hal itu?

"Kau bisa pergi kalau kau mau."

Jang Ho berpikir kalau Dong Man ingin dia menghajar orang itu. Tapi maksud Dong Man bukan itu, ayo nonton pertandingan.


Ae Ra memastikan ayahnya untuk tidak datang ke Seoul dan beralasan kalau dia berhenti karena ruang penyiarannya terlalu pengap. Dia mulai kesal saat ayahnya menanyakan makan malamnya dan memprotes perhatian ayah yang terlalu berlebihan dan langsung mematikan teleponnya sebelum dia benar-benar menangis.


Mereka tiba di tempat pertandingan. Dong Man berkata kalau ini karir bela diri mereka yang terakhir, mari bersenang-senang dan mengakhirinya selamanya. Jang Ho heran mendengarnya, dia kedengaran seperti takkan pernah bertemu dengannya lagi.

Dong Man menyarankan agar mereka berhenti jadi pelatih dan pemain, lebih baik mereka berteman. Jang Ho protes, mereka tidak boleh jadi teman.


Semua penonton bersorak dan Jang Ho pun tampak antusias menyaksikan pertandingan, hanya Dong Man yang bosan sendiri malah ingin pertandingan cepat-cepat berakhir.

Jang Ho meyakinkan cuma tinggal satu pertandingan lagi kok. Petarung yang terakhir ini, langsung bisa mendominasi hanya dalam waktu dua tahun. Dong Man malas dan langsung beranjak mau pergi. Tapi Jang Ho mencegahnya dan memaksanya untuk menonton saja.



Sekarang saatnya pertandingan utama, tapi Jang Ho malah tampak aneh. Pembawa acara mulai mengumumkan nama petarungnya: Kim Tak Su. Dong Man jelas kaget, dia Tak Su yang dulu pernah menjadi lawannya.

"Lihatlah. Lihatlah hidupnya sekarang. Kalian melakukan hal bodoh bersama, kenapa kau harus malu?"

"Pelatih. Kenapa kau begitu kejam padaku?"

Epilog:


Dong Man dan Ae Ra duduk di tangga depan rumah mereka. Dong Man tiba-tiba mengelus sayang rambut Ae Ra sambil bilang kalau Ae Ra sangat jelek dan langsung mengumpat sebal saat mengendus tangannya. Ini bau rambut Ae Ra, yah? Dia habis makan iga, yah?

"Hei, berhentilah menyentuh rambutku. Aku tidak suka. Akan kuhajar kau!"

"Augh! Haruskah aku tahu apa yang kau makan? Menjijikkan! Aku mau pulang saja."

Bersambung ke episode 4

2 comments

Hah? Dong Man mencium Sul Hee 😂 kaget aing.

Hah? Dong Man mencium Sul Hee 😂 kaget aing.

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon