Powered by Blogger.

Images Credit: SBS

Sinopsis My Sassy Girl Episode 4


Gyun Woo menemui Da Yun untuk meminta maaf atas kejadian waktu itu dan berharap Da Yun tidak akan salah paham. Da Yun yakin kalau Gyun Woo bukan orang semacam itu, jika iya maka seantero Joseon pasti sudah mengetahuinya. Tapi, siapa wanita itu? Sepertinya dia bukan sekedar orang asing bagi Gyun Woo.

"Itu... dia penguntit yang terobsesi padaku."

Maksudnya, dia tipe wanita yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan prianya? Gyun Woo membenarkan, wanita itu sangat gigih sampai dia kerepotan dibuatnya. Kalau begitu, seharusnya Gyun Woo melaporkannya. Siapa tahu apa yang akan diperbuatnya lagi. Gyun Woo mengklaim kalau dia sudah menegurnya, dia pasti tidak akan pernah melihatnya lagi.


Di istana, Hye Myung lagi-lagi berusaha keluar dari istana. Tapi dia melihat penjagaan di luar sangat ketat. Young Shin buru-buru datang, kenapa Hye Myung masih di sini? Apa Hye Myung lupa tentang hari ini? Hye Myung bingung, memangnya ada apa dengan hari ini?


Ternyata hari ini adalah hari penunjukkan guru spesialnya Pangeran dan orang yang ditunjuk oleh Raja adalah Gyun Woo. Raja berharap Gyun Woo akan mengajari Keturunan Kerajaan dengan pengetahuan dan kebijakannya.

Gyun Woo pun berjanji akan melakukan yang terbaik. Dia dan Pangeran lalu saling memberi hormat, tapi Menteri Gyun menatap mereka dengan cemas.


Setelah acara itu usai, Gyun Woo jalan-jalan bersama Pangeran. Pangeran bertanya-tanya, bisakah dia pergi melihat dunia seperti Gyun Woo. Gyun Woo yakin kalau Pangeran akan mendapatkan kesempatan itu suatu hari nanti.

"Sampai saat itu, saya akan memberitahu apa yang saya lihat dan dengar."

"Kakakku juga senang mendengarkan hal-hal baru. Dia bisa menjadi teman baikmu juga."

"Anda dan Tuan Putri pasti akrab."


Mereka bertemu Hye Myung tepat saat itu juga. Mereka tidak langsung saling mengenali karena Gyun Woo menundukkan kepalanya. Baru setelah mereka saling berkenalan dan bertatap muka, keduanya sontak mendelik kaget. Hye Myung keceplosan menyebutnya 'Orang mes*m'.

Pangeran heran, apa mereka saling mengenal? Hye Myung mengklaim kalau dia merasa seperti pernah melihatnya, dia kelihatan seperti pria tak tahu malu yang suka melecehkan wanita tiap malam. Pangeran langsung memprotes tuduhan tidak masuk akalnya Hye Myung itu.

"Tuan Putri pasti salah. Untuk apa Yang Mulia mengundang seseorang seperti itu sebagai guru Pangeran?"


Ki Joon rapat bersama para kroninya. Bagaimana bisa Raja menunjuk putranya Mentero Gyun sebagai guru Pangeran, beliau bahkan memutuskannya tanpa membahasnya dulu dengan Ki Joon. Belakangan Raja menunjukkan pertanda membahayakan.


Menteri Gyun menemani Raja latihan panahan. Menteri Gyun cemas dengan reaksi para pejabat. Raja percaya diri, sudah banyak hal yang berubah sejak saat itu. Tepat sasaran bukanlah segalanya selama kita bisa menarik busur.


Gyun Woo lalu dibawa menghadap Ibu Suri dan Ratu Park. Ibu Suri langsung suka padanya dan penasaran tipe wanita idealnya Gyun Woo. Katakan saja, siapa tahu Ibu Suri bisa menjodohkannya dengan seseorang.

Gyun Woo langsung melirik Hye Myung sinis dan berkata kalau wanita idealnya adalah wanita yang lemah lembut, sederhana, anggun, elegan, berkelas dan cantik seperti mentari musim panas.

"Itu kebalikannya kakakku," kata Pangeran. "Bukankah begitu Ibunda?"

"Bagiku, tak ada yang lebih baik daripada Tuan Putri." Ujar Ratu Park *bohong*


Dalam perjalanan keluar, Gyun Woo tak habis pikir kalau ternyata wanita mata duitan itu adalah Tuan Putri. Tiba-tiba Hye Myung muncul mencegatnya di tengah jalan. Dengan suara lembut dan sopan dia bertanya apakah Gyun Woo akan mengembalikan cincinnya sekarang setelah dia tahu kalau dia Tuan Putri.

"Kedengarannya anda mengira saya menyembunyikan cincin giok anda."

"Kedengarannya kau mengaku kalau kau tidak memilikinya."

Guru Gyun pasti menganggapnya lelucon. Jika Gyun Woo tidak menemukan cincin itu maka hidupnya disini akan sengsara. Dia tadi menahan diri didepan Neneknya karena dia hanya ingin menjaga citranya Gyun Woo.

Tapi dia ini orang bermulut besar dan entah kapan dia akan membeberkannya. Ayahanda Raja pasti akan sangat kecewa jiak dia tahu siapa Gyun Woo yang sebenarnya.


Gyun Woo santai, ayo mereka temui Raja sekarang. Apa Raja tahu segalanya tentang Hye Myung? Apa beliau tahu tentang Hye Myung yang berjalan mabuk, mengancam orang-orang dan bersikap kasar? Hye Myung sontak panik sampai-sampai tidak bisa lagi menahan emosi dan sopan santunnya.

"Apa kau ingin melawanku?!"

"Anda seharusnya bicara seperti seorang Tuan Putri." Tegur Gyun Woo lalu pamit. Hye Myung sontak kesal tapi terpaksa harus menahan diri.


Raja menemui Ibu Suri dan Ratu Park. Ibu Suri senang karena Raja sudah menemukan pria hebat dan berbakat. Sekarang karena Pangeran sudah memiliki seorang guru, sudah saatnya mereka mengumumkannya sebagai Putra Mahkota. Ratu Park kaget mendengarnya. Jelas dia keberatan tapi tak bisa membantah.


Tapi begitu kembali ke kediamannya, dia langsung ngamuk melempar mangkok airnya. Ki Joon datang saat itu dan menegurnya untuk memelankan suaranya. Dia kan sudah menyuruhnya untuk berhati-hati, kenapa dia malah berulah.

Lagipula dia juga tahu kalau Pangeran dinobatkan sebagai Putra Mahkota itu tak terelakkan. Akan lebih baik jika Ratu Park memiliki putra tapi beginilah keadaannya. Ratu Park protes, apa yang bisa dia lakukan jika Raja bahkan menghindarinya.

"Anda bilang kalau anda yakin bisa meraih hatinya. Raja meyakini Pangeran adalah putra anda. Walaupun dia menjadi Putra Mahkota, tidak akan ada yang berubah."

"Tapi, jika Tuan Putri mengatakan sesuatu..."

"Cari alasan. Nikahkan atau usir dia. Kau cuma harus mencabut duri itu!"


Setelah melihat Gyun Woo, Young Shin tak yakin kalau Gyun Woo adalah orang mes*m seperti yang dituduhkan Hye Myung. Dia terlalu sempurna untuk jadi orang semacam itu. Sempurna apaan, jelas-jelas Hye Myung melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Gyun Woo membuka pakaiannya.

Young Shin menduga kalau Gyun Woo mungkin cuma sedang menyeka sesuatu dari baju Hye Myung. Hye Myung kesal, apa mereka berdua memihak pria itu? Memangnya orang mes*m harus kelihatan seperti orang mes*m?


Gyun Woo minum-minum bersama kedua temannya. Se Ho penasaran, apakah Gyun Woo sudah bertemu Tuan Putri. Kabarnya kecantikan Tuan Putri melebihi kecantikan apapun di dunia. Katanya dia sangat baik hati dan meraih hati semua pria di Joseon. Dia berharap sekali bisa melihat Tuan Putri satu kali saja.

Gyun Woo sinis, "Barhati baik? Inilah alasannya rumor itu menyeramkan."


Gwang Soo setuju, memang ada rumor yang mengatakan kalau Tuan Putri itu sebenarnya lancang dan ceroboh. Pemilik toko buku tiba-tiba muncul membawakan hadiah untuk Gyun Woo. Ini lembar rumor tentang Tuan Putri.


Rumor pertama mengatakan kalau Tuan Putri itu bersifat buruk. Lembar rumor itu bahkan disertasi sebuah gambar yang menggambarkan perilaku kasar Tuan Putri di sebuah meja makan super panjang dengan berbagai hidangan lezat. Tapi Tuan Putri langsung membentak-bentak para pelayannya karena makanannya itu-itu terus, keasinan lagi.

 

Rumor kedua mengatakan kalau Tuan Putri itu mes*m dan liar. Mereka menggambarkan Tuan Putri sedang menjejer para pria dan bertingkah genit, memilih para pria berotot untuk bersenang-senang dengannya.


Hye Myung ditandu melewati padang yang asri. Pemandangannya indah, ini yang dia suka dari menjadi Puteri. Ia terus memakan camilan kacang sampai habis. Dia mau tambah lagi kacangnya.

Young Shin gemetaran mengatakan kalau persediaan kacangnya sudah habis. Ia memohon ampunan atas kesalahannya. Hye Myung marah-marah dengan lebaynya, apa dia tak lihat tangannya sudah bergetar begini tanpa kacang? Putar balik sekarang!

Kontan barisan arak-arakan ribut putar balik arah. Rumor ini dinamakan “Menyalahgunakan kekuasaan"

Perilaku buruk Tuan Puteri menjadi perbincangan rakyat. Tak akan ada yang lolos dari tuan puteri. Kalau dia tak menyukaimu, tamatlah riwayatmu.


Gyun Woo merenung di jembatan. Ia menyesali ucapannya sendiri yang terkesan mengancam puteri masalah dia keluar malam-malam dan mabuk. Aish! harusnya dia tak mengatakan hal itu. Tapi sebenarnya, apa pentingnya cincin itu sampai dia terobsesi sekali?


Dibalik tingkah gila Hye Myung siang tadi, dia menyimpan kesedihan karena belum menemukan cincin gioknya sampai sekarang. Cincin giok itu diberikan oleh seorang pria padanya, dan pria itu berpesan agar Hye Myung bisa menyimpannya dengan baik.

Joon Young yang tengah berkeliling tanpa sengaja melihat Hye Myung yang tengah murung di tepi kolam.


Hari ini adalah hari pertama Gyun Woo resmi bertugas di istana. Begitu keluar gerbang, Gyun Hee dan Ibunya sudah melemparinya dengan kacang merah. Ini untuk membuang kesialannya, meskipun dia tak suka hal yang berbau takhayul.

Tak disangka, Gyun Woo malah merentangkan tangannya dan meminta mereka melemparinya dengan kacang merah lagi. Gyun Hee dan Ibu semakin bersemangat melakukannya.

“Apa yang kalian lakukan? Petani bekerja keras menanamnya.” Bentak Menteri Gyun.

Ibu mengiyakan, dia akan memungutinya nanti. Ia pun buru-buru menghabiskan kacang merahnya kemudian menyuruh Gyun Woo menginjak baskomnya. Gyun Woo pun mengikuti perintah Ibunya dengan mantap, seolah dia memang benar-benar ingin menghindari nasib buruknya.


Dalam kelasnya, Gyun Woo menunjukkan kipas yang berhias tulisan Kaisar Qing. Pangeran kecil sungguh takjub melihatnya, Guru memang hebat. Dalam kipas itu tertulis, “Aku ingin kamu tetap di sini, apa pun yang terjadi”

Gyun Woo mengatakan kalau di Qing sedang ada gelombang besar pengaruh Joseon. Mulai dari pakaian, tradisi, lagu tarian dari Joseon sedang menjadi trend. Kebanyakan mau belajar lebih dalam tentang Joseon. Yah tidak bisa dibilang semua ini karenanya sih..

“Berhentilah menyombong.” Decih Hye Myung.

Gyun Woo menyambut kedatangan Puteri Hye Myung dengan penuh hormat. Hye Myung tersenyum ke arah adiknya kemudian memberikan nasihat, kalau dia mau menjadi Raja hebat, dia tidak boleh dibutakan bualan kesombongan cendekiawan. Benar tidak, Guru Gyun?

Tak mau kalah, Gyun Woo balas menjawab “Penting juga menerima nasihat dari cendekiawan.”


Sekarang, Gyun Woo sedang mengajar Pangeran Bahasa Mandarin. Tiba-tiba, Hye Myung datang dan bertanya menggunakan bahasa mandarin, apa dia sudah makan? Gyun Woo coba mengabaikannya dan terus fokus pada pelajarannya.

Hye Myung terus mengulangi ucapannya. Dia kemudian meledek, apa dia tak tahu maknanya? Dia dari tadi tanya, apa dia sudah makan? Gyun Woo benar-benar geregetan dan tidak bisa berkosentrasi lagi.


Gyun Woo mendesah lelah saat pulang, apa dia akan terus begini sampai ia menemukan cincinnya. Belum apa-apa, Hye Myung sudah memanggilnya dengan sebutan orang mes*m penggila s*ks.

Dengan penuh hormat, Gyun Woo mempertanyakan dimana sopan santun Hye Myung. Hye Myung santai, lalu bagaimana dia harus memanggilnya? Penggoda Wanita? Tuan Mes*m? Atau pemain wanita?

Tak mau banyak masalah, Gyun Woo buru-buru undur diri. Namun Hye Myung menghentikannya, dia mengancam akan mengatakannya pada Letnan Kang kalau Guru Pangeran adalah orang mes*m. Ah, tiba-tiba dia sangat merindukan Letnan Kang.

Gyun Woo menahan tangannya, “Jika aku menemukan cincin Anda, akankah Anda berhenti memanggilku orang mes*m penggila s*ks?”

“Tentu saja. Aku berjanji.”

“Anda sudah berjanji.”

 

Mereka berdua pergi ke sebuah tempat pelelangan yang dikelola para preman. Itu tempat barang selundupan dari Dinasti Qing dan Jepang dijual. Semua barang rampasan atau curian, pada akhirnya akan berakhir disana. Tapi di sana banyak pria tangguh, dia harus berhati-hati.

Tanpa takut, Hye Myung langsung berjalan ke arah tempat pelelangan. Gyun Woo sempat bengong tak menyangka, ia pun akhirnya memberanikan diri untuk masuk kesana.


Didalam tempat pelelangan, Preman (yang sempat satu sel dengan Gyun Woo) tengah menyiksa seseorang yang tidak bisa membayar hutang. Tepat saat itu pula, Hye Myung dan Gyun Woo datang. Preman itu menemui mereka berdua dan menunjukkan cincin curian mereka.

Tapi sekali lihat saja, Hye Myung sudah tahu cincinnya tidak ada dalam tumpukan itu. Hal yang menarik perhatiannya malah buku catatan hutang yang ada ditangan Preman, rakyatnya berhutang ratusan yang pada preman itu dan barusan, dia melihat bagaimana barusan ada pria yang dipukuli sampai babak belur.

Hye Myung bertanya apakah mereka menjual jepit rambut emas? Si Preman mencari barangnya di dalam lemari. Sementara Preman mencarinya, Hye Myung dengan cepat menyembunyikan buku hutang itu dibalik bajunya. Setelah berhasil mengambilnya, dia pun buru-buru pamit pergi.


Si Preman kembali ke mejanya, dia sadar kalau bukunya sudah raib. Ia berteriak menyuruh anak buahnya untuk mengejar mereka. Hye Myung dan Gyun Woo berlari secepat mungkin untuk keluar dari sana.


Namun sesampainya di pintu depan, disana sudah ada puluhan preman. Hye Myung sebisa mungkin menghindarinya dan berlari ke arah lain. Tapi tiba-tiba preman plotos menghalangi jalannya. Dengan segenap tenaga, Hye Myung mengangkat kakinya dan menendang selakangan preman itu.


Terkepung, Hye Myung dan Gyun Woo saling membantu untuk berkelit dari mereka. Keduanya terjebak di lantai atas bangunan itu. Tanpa ragu, Hye Myung melompat darisana sedangkan Gyun tak punya pilihan selain ikut melompat.


Tapi begitu keluar dari tempat pelelangan, sudah ada preman lain yang berjaga di jalanan. Untungnya Byul datang tepat waktu dan menahan mereka. Gyun Woo pun menarik tangan Hye Myung untuk kabur dari serbuan para preman.

Memang dasarnya apes, mereka kembali terkepung saat sudah sampai di tengah pasar. Mereka tak punya celah sama sekali untuk kabur. Byul punya ide, dia menyuruh mereka untuk mengikutinya.


Ia berlari ke arah seorang pedagang yang mengumpulkan uang dan sengaja menendang wadahnya. Kontan perhatian semua orang tertuju pada uang yang berceceran itu. Mereka semua berlari dan berebut memunguti koin yang berceceran.

Gyun Woo dan Hye Myung terjepit diantara orang yang berdesakan. Buku hutang yang sedari tadi ditangan Hye Myung pun tanpa sengaja terlempar ke udara.

Bersambung ke episode 5

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon