Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis Radiant Office Episode 15 - 1


Tidak terima dengan keputusan Seo Hyun, Ho Won langsung menyuarakan protesnya bahwa ini namanya penipuan.

Tanpa mempedulikan para atasan yang berusaha menghentikannya, Ho Won menuntut Seo Hyun untuk memberitahu para peserta atau menghapus janji perekrutan dari kontes ekshibisi Hauline jika memang mereka tidak ada niat untuk merekrut. apa yang Seo Hyun lakukan ini namanya membodohi 600.000 para pencari kerja di luar sana.

"Hauline... harus tetap jadi perusahaan yang jujur."


Rapat berakhir begitu saja tanpa ada keputusan dan Ho Won langsung diomeli Manajer Jo. Tidak seharusnya Ho Won bicara seperti itu pada Seo Hyun, dia kan bisa bicara melalui dia atau Woo Jin terlebih dulu.

Ho Won membela diri, Seo Hyun sendiri yang menunjuknya untuk menangani proyek ini jadi kenapa dia tidak boleh menyuarakan pendapatnya? Lagipula Seo Hyun sendiri yang bilang tentang tak usah mempedulikan posisi mereka, bukankah dia ikut rapat untuk mendengarkan opini mereka?

Manajer Jo berkata bahwa seperti inilah sister perusahaan bekerja, mau sampai kapan Ho Won akan mengatakan apapun seenaknya sendiri. Ho Won mengoreksi, dia bukannya mengatakan apapun seenak hatinya, dia hanya merasa bahwa itu adalah sesuatu yang harus dia katakan.

Manajer Jo mengingatkan bahwa Ho Won sekarang pekerja tetap, jadi sudah seharusnya dia mementingkan keuntungan perusahaan. Tapi Ho Won tidak merasa bahwa menipu para pencari kerja itu akan menguntungkan perusahaan. Mendesah frustasi, Manajer Jo menegaskan bahwa sekarang sudah terlambat untuk mengubah poin utama dari kontes.


Begitu kembali ke meja kerjanya, Ho Won lagi-lagi harus mendengarkan omelan Asisten Lee. Dia berusaha membela diri tapi Asisten Lee terus menyelanya dan mengingatkannya untuk menghormati level dan bersikap sesuai posisinya hingga akhirnya Ho Won bisa menggumamkan maaf dengan lemah.


Saat Woo Jin datang menyerahkan laporan, Seo Hyun tiba-tiba mengejutkannya dengan berkata kalau dia mau melakukan restrukturisasi perusahaan. Menurutnya perusahaan ini terlalu serampangan, Hauline perlu diatur ulang. Woo Jin tak percaya mendengarnya, jadi maksudnya Seo Hyun mau mengurangi, mentransfer para pegawai dan merestrukturisasi demi menjaga kestabilan perusahaan.

Seo Hyun membenarkan dan menugaskan Woo Jin untuk membuat laporan rencana restrukturisasi itu. Woo Jin sontak protes, tidak terima kalau mereka harus memecat pegawai. Para pegawai pasti akan melawan jika mereka merestrukturisasi tanpa dasar. Seo Hyun santai, mereka kan bisa menilai dari skor performa pegawai.

Woo Jin berusaha memberitahu kalau perusahaan mereka baik-baik saja. Tapi Seo Hyun terus keras kepala, dia beda dari Ayahnya, mereka harus melakukan ini sebelum perusahaan ini hancur. Data saja para kandidat yang akan direstrukturisasi.

"Kenapa harus saya?"

"Kalau perusahaan memberimu perintah, lakukan saja tugasmu. Kenapa kau terus bertanya-tanya? Aku cuma menyuruh seorang pegawai yang obyektif dan tenang untuk melakukan tugas ini."


Ho Won berjalan pulang sambil berusaha menahan emosinya. Saat dia mendapati Woo Jin sudah menunggunya di depan rumah, tangis Ho Won pecah seketika. Mereka (para pencari kerja) bukan pengemis yang hidup dari harapan palsu. Woo Jin pasti tidak akan mengerti betapa kerasnya tekanan di luar sana. Memang itu cuma sekedar kata-kata tapi hal itu benar-benar memberi mereka sebuah harapan.

"Kurasa tidak seharusnya kau melakukan apapun semaumu hanya karena kau tidak mengerti. Tidak seharusnya kau bersikap masa bodoh hanya karena itu bukan harapanmu."


Woo Jin langsung memeluk Ho Won dan membiarkannya meluapkan semua kesedihannya. Saat Ho Won sudah lebih tenang, mereka duduk bersama di taman. Woo Jin mengaku kalau belakangan ini dia merasakan apa yang Ho Won rasakan, dia harus tersenyum biarpun dia sebenarnya merasa sedih dan tidak bisa komplain biarpun dia merasa itu tidak adil.

"Biarpun syarat kontes itu tidak adil, apa kau tahu kenapa tidak ada yang komplain? Karena mereka putus asa. Jika kita komplain dan seseorang memperhatikan, kita akan tahu jawaban apa yang akan kita dapatkan. 'Kalau begitu jangan dilakukan'."


Woo Jin mengerti perasaan Ho Won, tapi bisakah dia mengabaikannya, kali ini saja. "Aku punya alasanku sendiri, jadi tolong dengarkan aku."

Ho Won langsung mengingatkan Woo Jin akan hal yang diucapkannya saat dia direkrut jadi pekerja tetap, bahwa tanda tangan artinya kita berjanji untuk bertanggung jawab atas kesepakatan yang kita tanda tangani. Memanfaatkan keputusasaan dan harapan para pencari kerja sebagai pancingan untuk menipu mereka, ini adalah tugas pertamanya sebagai pegawai tetap. Jadi harusnya dia menipu mereka dengan namanya sendiri?

"Tutup saja matamu, sekali ini saja. Berpalinglah sekali ini."

Ho Won kecewa mendengarnya, dia kira Woo Jin itu berbeda, dia kira Woo Jin akan mendukungnya untuk melakukan apapun yang dia percayai.


Woo Jin langsung pergi menemui Seo Hyun di rumah sakit untuk menyatakan janji bahwa dia akan berusaha yang terbaik untuk melaunching produk proyek baru tapi dia memohon agar Seo Hyun mempertimbangkan kembali masalah merestrukturisasi perusahaan.

Memang dia orang yang fokus pada hasil. Tapi dia tidak bisa mengevaluasi performa para pegawai hanya dari angka-angka saja. Skor performa kerja memang tidak akan bohong, tapi itu bukan segalanya.

"Jika anda bekerja di perusahaan yang sama sebagai pegawai kami, anda akan mengerti. Hasil tidak akan bisa dicapai hanya dari skor performa seseorang."

Seo Hyun tidak suka mendengarnya. Sepertinya dia sudah salah menilai Woo Jin, apa dia memang orang sentimentil begini? Keputusan Seo Hyun sudah bulat, dia akan melihat laporan daftar para kandidat yang akan Woo Jin buat dan mempertimbangkan berapa banyak orang yang akan dia lepaskan.


Terpaksalah keesokan harinya, Woo Jin harus mulai mendata para pegawai dengan sangat berat hati. Saat dia sampai pada resumenya Ji Na, dia benar-benar bingung dan galau harus bagaimana. Ji Na datang saat itu untuk menyerahkan laporan.

Dia mencoba bertanya-tanya tentang keluarganya Ji Na dengan alasan cuma penasaran, apakah Ayahnya masih bekerja? Berapa banyak saudara yang dimilikinya? Apakah mereka semua bekerja? Apakah Ji Na punya rencana menikah? Keheranan mendengar rentetan pertanyaan itu, Ji Na mengaku kalau dia punya adik yang masih sekolah dan tentu saja dia mau menikah.

"Tidak biasanya anda menanyakan pertanyaan-pertanyaan pribadi, jadi saya kaget. Tapi saya senang karena rasanya anda memperhatikan saya."


Begitu Ji Na pergi, Woo Jin menggumam sendiri kalau ternyata dia benar-benar tidak mengetahui apapun tentang bawahannya sendiri. Saat Ji Na kembali ke meja kerjanya, Ji Na dan Ki Taek saling bertukar tiket nonton dan tiket liburan bareng sambil pura-pura saling mengecek laporan. Mumpung sepi, Ki Taek menggenggam erat tangan Ji Na.


Lagi asyik-asyiknya lovey dovey, Asisten Lee muncul dan langsung cemburu menuduh Ji Na dan Ki Taek mengabaikan tugas dan mengganggu yang lain, dia sampai berpendapat kalau sebaiknya perusahaan melarang pacaran didalam kantor saja.

Ji Na santai beranjak bangkit dan mengancamnya, "Asisten Lee, aku kan sudah memperingatkanmu tentang masa lalumu yang... me-ma-lu-kan. Haruskah kukasih tahu semua orang?"

Asisten Lee kontan ketakutan. Baiklah, lanjutkan saja apapun yang dia lakukan bersama Ki Taek Sunbaenim. Dia bahkan langsung pura-pura meneriakkan dukungan pada Ki Taek sunbaenim-nya. Ki Taek penasaran, apa sih masa lalu Asisten Lee yang memalukan itu. Ada deh.


Asisten Lee langsung masuk dapur sambil merutuki Ji Na seperti orang kesetanan. Sebentar-sebentar bilang kalau dia menyukai Ji Na, sebentar-sebentar bilang kalau dia benci Ji Na dan bersumpah akah balas dendam.


EunJangDo istirahat di taman. Ki Taek mengeluh kecapekan sampai-sampai dia tidak enak makan. Dia heran kenapa dia merasa kecapekan padahal dia tidak melakukan apapun dan menduga mungkin ini penyakitnya para pekerja. Kang Ho melihat Ki Taek belajar sampai subuh, apa Ki Taek mau ikut ujian negara lagi?

Tidak, dia mengaku kalau dia sedang bersiap untuk mengambil ujian lisensi memasak. Orang tuanya punya restoran kecil-kecilan yang sudah punya banyak pelanggan. Jadi Ki Taek mau menjalankan bisnis restoran? Dia berpikir apa yang harus dilakukannya setelah melihat mereka berdua mendapatkan posisi tetap.

Manajer Heo memang pernah bilang kalau dia bisa memperpanjang kontrak saat perekrutan pegawai baru di musim berikutnya nanti. Tapi bagaimana kalau mereka tidak akan mempekerjakan siapapun nanti. Lagipula dia sudah memikirkan akan apa yang ingin dilakukannya.
"Impianku adalah bertemu seseorang yang kucintai dan menjalani hidup sederhana bersama anak-anak kami. Tapi aku selalu mengejar pekerjaan dan kebahagiaan yang dihargai oleh orang lain, aku berpikir kalau aku harus hidup seperti orang lain."


Kang Ho sependapat dengannya, terkadang dia juga bertanya-tanya apakah dia sungguh menginginkan kehidupan seperti ini, ataukah ini keinginan ibunya. Karena itulah Ki Taek memutuskan kalau dia mau mengejar impiannya saja, dia suka memasak, memasak itu menyenangkan.

"Asisten Ha sangat beruntung," ujar Ho Won.

"Aku akan mendapatikan sertifiksiku, membantu orang tuaku, lalu mendirikan tempatku sendiri. Aku akan memberi kalian makanan gratis kalau kalian mampir."

"Kalau kau asal memberi makan gratis, Asisten Ha tidak akan suka."

"Kurasa kau tidak mengenalnya. Dia tidak sepelit itu."


Ho Won lembur untuk membalas email para peserta kontes. Tapi kemudian dia mendapat email yang bertanya apakah benar pemenang akan dipertimbangkan untuk dipekerjakan. Ho Won bingung bagaimana harus membalasnya. Woo Jin keluar dari ruangannya saat itu untuk menyuruh Ho Won memfotokopi.

Dia mendesah frustasi sembari menunggu fotokopiannya selesai saat Ji Na datang dan menyuruhnya untuk beli kue besok sebelum berangkat kerja. Memangnya ada yang ultah?


Woo Jin gelisah memikirkan laporan daftar evaluasi pegawai yang akan dia serahkan pada Seo Hyun. Pulang kerja, dia minum-minum bersama Manajer Heo yang mengejutkannya dengan meminta agar namanya ditempatkan di daftar teratas sebagai kandidat dalam rencana restrukturisasi perusahaan.

Dari mana Manajer Heo mengetahui itu? Heran Woo Jin. Manajer Heo mengingatkan kalau dia po\unya banyak mata dan telinga. Woo Jin mengaku bahwa dia baru tahu sekarang tentang para pegawai.

Manajer Jo yang ternyata single mom, Tuan Park yang ternyata hidup sendirian karena dia menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri, Asisten Lee yang ternyata punya banyak hutang karena harus membiayai biaya sekolah adik-adiknya. Dan juga...


"Dan saya sekarang ini sedang merawat kedua orang tua saya yang menderita demensia," aku Manajer Heo.

Woo Jin meminta maaf karena tak pernah perhatian pada mereka, selama ini dia terlalu fokus pada pekerjaan dan hasil. Manajer Heo mengaku tak mendapat skor performa yang baik tahun lalu, memiliki seorang manajer tua seperti dirinya pasti sebuah beban. Karena itulah dia sudah bersiap diri dan ingin membicarakannya dengan Woo Jin hari ini.

"Kukira Ketua Seo berjanji padamu."

"Aku tidak percaya dengan janji yang dibuat oleh atasan. Sepertinya Direktur Seo melakukan ini untuk melatihmu. Aku tahu kalau aku tidak akan bertahan lama dibawah Direktur Seo. Karena apapun yang terjadi, aku ada di sisi Ketua Seo."

Woo Jin mendesah, tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Gampang saja, turuti perintah Seo Hyun atau tidak menuruti perintahnya. Bagi pekerja kantoran... perbedaannya akan terlihat di slip gajinya Woo Jin yang berikutnya, canda Manajer Heo.


Woo Jin datang ke kantor keesokan paginya, tapi malah mendapati tak ada siapapun di sana. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba semua orang muncul menyanyikan lagu ultah untuknya dan mengucap selamat ultah untuknya. Senang, Woo Jin mengajak semua orang untuk makan sup rumput laut nanti siang, dia yang traktir.


Tapi saat mereka berkumpul makan kue bersama, Woo Jin dengan berat hati mengumumkan rencana Seo Hyun untuk melakukan restrukturisasi. Semua orang sontak shock mendengarnya, bahkan Tuan Park pun terkejut kecuali Manajer Jo yang tampak canggung. Dia bertanya-tanya apakah Manajer Jo mengetahuinya. Manajer Jo menyangkalnya, tapi Tuan Park tidak percaya.

Ho Won sekarang mengerti alasan Woo Jin menyuruhnya diam. Woo Jin mengaku kalau dia memberitahu mereka agar bisa mencari solusinya bersama. Jika ada yang mau mengundurkan diri secara sukarela, mereka datang saja ke ruangannya.

Ji Na dan Asisten Lee kontan ketakutan kalau-kalau mereka akan terseret. Melihat EunJangDo tertunduk lesu, Manajer Heo mencoba meyakinkan mereka kalau hal ini tidak akan mempengaruhi pegawai muda yang baru bergabung.


Saat kembali ke ruangannya, Woo Jin menemuian sebuah hadiah dan surat dari Ho Won yang Ho Won tulis dengan pena pemberian Woo Jin.

Dalam suratnya, Ho Won mengaku bagaimana dulu saat mereka pertama kali bertemu, dia ingin sekali membuat Woo Jin terkesan padanya, dia merasa takut saat kedua kalinya mereka bertemu tapi waktu itu dia juga merasa sangat berani. Saat mereka bertemu ketiga kalinya, Woo Jin menolaknya. Tapi pada akhirnya, dia malah bekerja pada Woo Jin dan banyak belajar darinya.


"Aku belajar untuk bekerja keras, bertanggung jawab dan diatas semua itu... kau mengajariku bahwa hanya aku yang bisa membuktikan nilai ku. Aku akan belajar lebih banyak mulai sekarang. Kurasa aku bisa lebih baik jika kau mengajariku. Di pekerjaan pertamaku, aku bertemu denganmu sebagai atasanku, dan itu adalah berkat terbesar dalam hidupku. Terima kasih GM Seo. Selamat ulang tahun."

Woo Jin membuka hadiahnya yang ternyata dasi. Woo Jin tersenyum melihat itu.

Bersambung ke part 2

3 comments

Gomawo eonni. Ditunggu part 2nya. Hwaiting

Gomawo eonni, ditunggu part 2nya dan episode selanjutnya
Sehat terus...

Ditunggu part 2nya kak...semangat ya nulisnya ☺😊

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon