Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis Radiant Office Episode 15 - 2


Kang Ho cemas, akankah mereka baik-baik saja. Apakah Woo Jin sedang memperhatikan mereka untuk memutuskan siapa yang harus dipecat. Ki Taek yakin tidak, dia memberitahu mereka karena Woo Jin sebenarnya tidak ingin melakukannya.

"Sejak Dr. Seo jadi direktur, perusahaan ini jadi sangat brutal." gerutu Ho Won.

Ki Taek setuju, dia benar-benar bukan direktur yang normal. Kang Ho cemas dengan Ho Won, sebaiknya dia berhati-hati, apalagi Seo Hyun kan tidak menyukainya.


Tuan Park melapor tentang Woo Jin yang memberitahu para pegawai tentang rencana restrukturisasi. Seo Hyun jelas kesal mendengarnya. Tuan Park pasti kaget yah mengetahui hal ini. Tuan Park pura-pura menyangkalnya dan pura-pura pengertian, Seo Hyun pasti punya alasan dengan melakukan ini.

Manajer Jo yakin kalau Woo Jin pasti tidak enak kalau harus melakukannya tanpa sepengetahuan para pegawai. Dia melakukan untuk mencari tahu jika ada yang mau mengundurkan diri secara sukarela. Seo Hyun kesal, Woo Jin sudah kelewat batas dengan melakukan hal ini.


Malam harinya, Woo Jin makan malam bersama tim marketingnya. Manajer Heo menilai Woo Jin sudah berubah sekarang, biasanya dia bukan orang yang melakukan hal seperti yang dilakukannya tadi. Ji Na cemas, apakah mereka akan baik-baik saja?

"Seseorang bilang padaku, 'Jika kau bahagia hari ini maka kau bisa bahagia sepanjang waktu'." Ujar Woo Jin sambil melirik Ho Won, sebaiknya mereka mencemaskan masalah itu besok saja. Hari ini jumat jadi mereka harus bersenang-senang. "Mari kita minum-minum dan membicarakan hal-hal menyenangkan, Asisten Ha."


Tapi tetap saja Ji Na tidak bisa menikmati suasana dan beberapa saat kemudian, dia membanting gelas kosong birnya. Sudah mabuk, dia menggerutu pada Woo Jin, tidak terima dengan rencana restrukturisasi itu. Ki Taek berusaha menghentikannya, tapi Ji Na terus nyerocos.

Dia tidak bisa berhenti dari pekerjaannya ini, dia masih harus mengurus tabungan investasinya yang masih lama. "Dan aku masih harus ngasih makan nih cowok."

Jelas saja Ki Taek jadi malu. Dia terus berusaha menghentikan Ji Na, tapi Ji Na tidak peduli. Memangnya wanita tidak boleh menghidupi pria. Ki Taek membantunya di rumah saja jadi suaminya, dia akan mengurus seganya dari luar. "Aku akan bertanggung jawab untuk cowokku! *Hiks*"

Malu, Ki Taek meminta maaf pada Woo Jin. Woo Jin iri pada Ki Taek, dia saja tidak memiliki seseorang yang mau bertanggung jawab di luar perusahaan.


Ho Won juga iri pada Ki Taek. Ki Taek menyarankan Ho Won untuk kencan buta saja kalau begitu. Woo Jin langsung melotot, kencan buta? Ho Won jelas langsung antusias melihat reaksi Woo Jin.

Ki Taek mengaku kalau dia mau memperkenalkan Ho Won pada seorang temannya yang cakep, baik hati, punya pekerjaan yang bagus dan pastinya masih single. Temannya itu menyukai wanita seperti Ho Won, wanita yang cute dan kepribadiannya baik.

"Dia tidak punya kepribadian yang baik," gerutu Woo Jin jealous.

Manajer Heo yang memperhatikan reaksi jealous Woo Jin pun langsung menggodanya. "Kepibadian Ho Won baik kok."


Woo Jin sinis, "Kukira kau bilang kau akan bekerja keras jika aku mengajarimu. Tapi sekarang kencan buta?"

"Memangnya aku tidak boleh kencan buta, GM Seo?

"Silahkan saja!... padahal belum lama kau bilang kalau kau menyukaiku." Gumam Woo Jin. Ho Won kan sekarang sudah jadi pegawai tetap, jadi seharusnya dia lebih fokus pada pekerjaannya.

Ki Taek tidak setuju, cinta itu lebih penting. Sambil menatap Ji Na dengan penuh cinta, dia berkata "Tak peduli aku berada dalam situasi apapun. Aku... akan hidup untuk cinta."


Woo Jin masih penasaran, Ho Won beneran mau kencan buta? Ho Won menatapnya dengan senyum penuh arti dan menjawab, "Iya. Aku kepingin"

Setelah itu Ki Taek menggendong Ji Na yang masih terus nyerocos, bersumpah akan mengacaukan perusahaan kalau dia sampai dipecat. Ki Taek geli mendengarnya. Baiklah, Ji Na bersamanya. Orang miskin kan juga boleh mencintai.

"Biarpun sekarang aku miskin dan menyedihkan, aku akan tetap mencintaimu."


Mendengar itu, Ji Na langsung minta diturunkan dan memprotesnya. Biarpun cinta yang miskin itu ada, tapi tidak ada yang namanya cinta menyedihkan. "Jangan membuatku jadi menyedihkan."

Tersentuh, Ki Taek pun menarik Ji Na kedalam pelukannya dan mengecup lembut keningnya.

 

Ho Won dan Woo Jin duduk di taman. Ho Won bertanya apakah Woo Jin menyuruhnya diam gara-gara rencana restrukturisasi itu. Dia mengaku cemas mengingat hubungan Ho Won yang buruk dengan Seo Hyun. Tapi dia yakin kalau Seo Hyun tidak akan melakukan apapun pada pegawai yang belum lama bergabung, entah dengan yang lain.

"Ah, terima kasih untuk dasi dan suratmu." Ucap Woo Jin.

Ho Won senang, "Aku yakin kau pantas pakai apapun. Bahkan sandal karet pun cocok untukmu dan dasi juga."

Kalau begitu, apa Ho Won sungguh mau kencan buta. Sepertinya Ho Won akan melakukannya. Seperti yang dikatakan Ki Taek, kita harus hidup untuk cinta. Bukankah itu artinya dia harus melakukannya? Woo Jin langsung menggerutu kesal, katanya Ho Won mau belajar bekerja, sekarang omongannya lain.

"Maksudku, aku ingin bekerja dan mencintai pada saat yang bersamaan. Aku ingin melakukan segalanya dengan baik."

Woo Jin dengar kalau Ho Won pandai membuat Kimbap. Jadi kalau Ho Won tidak ada rencana besok, bagaimana kalau dia membuatkan kimbap untuknya? Ooooh... ngajakin kencan nih? hihi. Ho Won setuju.
 

Kang Ho masih lembur di kantor berduaan saja dengan Manajer Jo. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tapi ragu. Manajer Jo menyuruhnya pulang duluan saja dan bertanya-tanya apakah Kang Ho sudah terbiasa hidup sendiri sekarang. Kang Ho membenarkan, rasanya menyenangkan.

Sebelum pergi, Kang Ho memberinya sebuah hadiah sebagai ungkapan terima kasih atas traktirannya di restoran hotel waktu itu. Manajer Jo kurang merasa nyaman menerima hadiah. Kang Ho meyakinkan kalau itu tidak mahal, dia hanya merasa itu cantik lalu buru-buru pergi. Tapi saking cerobohnya, dia sampai tersandung kursi. Hadih itu ternyata sebuah dompet kulit yang didalamnya berisi kartu nama Kang Ho yang baru.


Keesokan harinya, Ho Won menyiapkan kimbap dengan hati riang. Hyo Ri sampai heran, perasaan belakangan ini dia sering membuat kimbap. Kali ini dia ada acara apa? Kencan di akhir pekan? Ho Won menyangkalnya. Tapi wajahnya tampak sangat canggung sampai membuat Hyo Ri tak mempercayai omongannya.

Ho Won terus ngotot kalau ini bukan kencan. Tapi sesaat kemudian dia berubah pikiran. Jika ini kencan, bisakah Hye Ri membantunya. Kenapa juga Hyo Ri harus membantu kencannya Ho Won? Ho Won langsung menyogoknya dengan memberikan setengah kimbap-nya untuk Hyo Ri. Deal! Apa yang Ho Won inginkan?

"Kau tahu gaun yang kau beli tapi tidak pernah kau gunakan? Kau bilang kau tidak suka warnanya. Bisakah kau pinjamkan padaku? Ini bukan kencan, tapi aku harus pakai sesuatu yang cantik."


Beberapa saat kemudian, Ho Won dan Woo Jin sudah duduk berdua di taman. Ho Won cantik dengan gaun barunya dan Woo Jin mencicipi kimbap-nya Ho Won dan setuju dengan pendapat orang, kimbap-nya Ho Won memang enak. Dia mengaku kalau dia bisa sup kimchi dan sup kedelai tapi tidak bisa membuat kimbap dengan baik.

"Aku suka sup kimchi."

"Kalau begitu kita tukeran saja. Aku akan buat sup kimchi dan kau membuat kimbap."


Woo Jin tiba-tiba mendekat... hanya untuk mengambil nasi yang nempel di bibir Ho Won yang pastinya membuat Ho Won jadi malu-malu. Tapi Ho Won cemas kalau-kalau ada rekan kerja mereka yang melihat mereka berduaan di sini. Woo Jin santai, memangnya kenapa? Tidak boleh?


Ho Won itu tidak konsisten ternyata. Dia mengkhawatirkan omongan orang lain padahal dia sendiri selalu mengutarakan semua hal sesuka hatinya. Bukan begitu maksudnya, dia hanya mengkhawatirkan Woo Jin. Dia sendiri kan yang melarangnya bicara padanya di sekitar lingkungan mereka dan menyuruhnya merahasiakan fakta kalau mereka tinggal di lingkungan yang sama.

Woo Jin beralasan kalau dia melakukan itu hanya karena dia tidak mau rekan kerja mereka menggosipkan Ho Won. Jadi sekarang Woo Jin tidak masalah kalau rekan kerja mereka menggosipkan mereka? Yah, dia rasa begitu. Senyum Ho Won langsung mengembang seketika.

 

Mereka lalu keliling taman dengan sepeda. Woo Jin modus menyuruh Ho Won pegangan erat, alasannya biar tidak jatuh. Ho Won pun langsung mendekapnya erat.


Tuan Park melihat Dirut Park sedang makan di depan mini market. Dia berniat menghindar, tapi Dirut Han melihatnya duluan dan langsung memanggilnya. Tuan Park langsung protes, kenapa juag dia ada di sekitaran perusahaan saat akhir pekan.

Dirut Han terpaksa melakukannya. Kalau dia melakukannya di hari kerja, takutnya dia malah akan bertemu seseorang dan dia pasti akan malu. Dia penasaran bagaimana kabar kantor belakangan ini. Tuan Park pun memberitahunya tentang rencana restrukturisasi yang dilakukan Seo Hyun. Bagaimana dengan kabar Dirut Han sendiri.

"Istriku mengambil semua kartu kreditku. Saat aku menghasilkan uang, dia memperlakukanku seperti manusia. Tapi sekarang saat aku tidak lagi menghasilkan uang, tak ada seorangpun yang memperlakukanku seperti manusia."


Karena itulah dia punya rencana bisnis lain. Tepat saat dia mengatakan ide bisnis barunya, bos mini market datang mengantarkan pesanan mereka dan mendengar Dirut Han mengusulkan agar mereka memulai bisnis mini market dekat kantor.

Bos mini market jelas kaget mau ada saingan. Tuan Park setuju, bisnis mini market masih mending daripada bisnis ayam goreng.

Tak mau punya saingan, dia langsung lebai mencoba mengurungkan niat bisnis mereka dengan mengatakan berbagai macam hal negatif tentang bisnis ini. Tapi Dirut Han dan Tuan Park santai membalasnya, kalau begitu kenapa dia masih menjalankan bisnis ini. Mari kita lakukan bisnis ini. Bos mini market langsung stres.


Ji Na sudah menunggu di depan stasiun subway, tapi Ki Taek malah tak kunjung datang. Dia meneleponnya, tapi tidak diangkat.


Yang tidak diketahuinya, Ki Taek ternyata tidak bisa datang. Dia meringkuk di lantai dengan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya, berusaha meraih ponselnya yang berada di hadapannya, tapi pada akhirnya dia menyerah pada rasa sakit hebat di perutnya. Ji Na terus berusaha menghubunginya, tanpa menyadari ambulance yang lewat di belakangnya.


Selesai bersepeda, Ho Won dan Woo Jin duduk di bangku taman. Ho Won dengan agak ragu memberikan ampolop berisi jimat pada Woo Jin. Ibunya mendapatkan itu dari seorang duku terkenal. Tidak bisakah Woo Jin menyimpannya, katanya ini bisa membantu Woo Jin mencapai posisi presdir.

Woo Jin santai mengingatkannya bahwa jika dia menyukai jalan pintar maka dia akan bisa cepat dipecat. Tapi aturan itu kan tidak berlaku untuk Woo Jin, jadi tidak bisakah dia menyimpannya saja. Tapi Woo Jin langsung mengembalikannya kembali ke tangan Ho Won.

Ho Won coba sendiri saja untuk mencapai posisi presdir itu. Siapa tahu, dia bisa merangkak dari posisi manajer wanita lalu GM wanita lalu eksekutif wanita dan pada akhirnya presdir wanita.

"Kenapa kau tidak mencoba menulis ulang sejarah perusahaan kita."


Ho Won pesimis, bagaimana bisa dia melakukannya kalau Manajer Jo saja tidak bisa. Woo Jin yakin Ho Won bisa, karena dia Eun Ho Won. Tapi dia juga mengingatkan Ho Won untuk memikirkan adiknya dan berhati-hatilah dalam bertindak. Apa Woo Jin mengatakan ini karena kontes itu?

"Aku tahu dunia ini dipenuhi ketidakadilan. Tapi ketidakadilan tidak bisa kau ubah begitu saja."

"Jadi apa anda mau membantuku?"

"Aku juga tidak bisa membantumu. Tapi mari kita pikirkan bersama. Kita lemah jika kita sendirian. Tapi kita akan  kuat bila bersama. Semua orang hanya memikirkan bagaimana mereka akan sukses sendirian. Tapi jika kita memikirkannya bersama maka segalanya akan lebih baik."

Baiklah. Ho Won berjanji akan berusaha lebih baik mulai sekarang. Suatu hari dia akan jadi presdir, tunggu saja. Oke, Woo Jin ingin sekali bekerja pada Presdir Eun.


Malam harinya, Ji Na mondar-mandir gelisah di depan rumah Ki Taek. Ki Taek akhirnya pulang tak lama kemudian dan Ji Na langsung mengomel kesal, menuntut kenapa Ki Taek tidak mengangkat teleponnya dan lain sebagainya. Tapi Ki Taek langsung menghentikan protesnya dengan menarik Ji Na kedalam pelukannya.

Dia menyangkal terjadi sesuatu tapi terus memeluk Ji Na makin erat hingga akhirnya tangisnya pecah. Tapi dia berkata kalau teman lamanya yang sudah dikenalnya sejak lahir, sakit parah, sangat parah dan mungkin dia bisa mati. OMO! Dia sendiri kan yang sakit?


Ji Na mempercayainya dan menepuk-nepuk punggung Ki Taek, berusaha menenangkannya. Beberapa saat kemudian, Ki Taek memasakkan makan malam untuk Ji Na dan berusaha tetap tegar sembari memakan makan malamnya. Ji Na cemas melihatnya dan berusaha meminta Ki Taek untuk tidak terlalu khawatir.


Tiba di kantor hari ini, Ki Taek menatap perusahaannya itu dengan senyum sedih dan menyapa Kang Ho dengan ceria. Sepertinya dia sedang senang, yah? tanya Kang Ho.

"Iya. Semua yang kucintai ada di sini dan aku bisa melihat mereka setiap hari. Apa lagi yang lebih baik daripada itu?"

Kang Ho menduga kalau Ki Taek pasti bersenang-senang dengan Ji Na weekend kemarin. Ki Taek mengiyakannya saja, memang menyenangkan. "Kami bepergian jauh."


Ho Won datang tak lama kemudian. Ki Taek memperhatikan sepertinya Ho Won lah yang paling bahagia, apa saja yang dilakukannya selama akhir pekan. Ho Won berkelit kalau dia cuma melakukan pekerjaan rumah tangga biasa. Kang Ho mengaku mengunjungi orang tuanya dan sudah berdamai dengan ayahnya dengan minum-minum.

Ki Taek tersenyum melihat mereka. Tapi dia menolak masuk bersama dengan alasan mau ke mini market dulu. Tapi senyumnya perlahan menghilang saat melihat mereka semakin menjauh.


Hari ini Woo Jin memakai dasi pemberian Ho Won. Ji Na memperhatikannya dan berkomentar dasi itu cocok untuknya, sepertinya penampilan Woo Jin hari ini tidak seperti biasanya, apa hari ini hari spesial?

"Ini hadiah," aku Woo Jin "Sepertinya dia punya selera fashion yang bagus."

Ho Won kontan berusaha menahan senyum mendengarnya dan Manajer Heo geli memperhatikannya.


Woo Jin lalu beralih topik membahas pekerjaan mereka dan memberikan berbagai instruksi pada semua orang. Dia memerintahkan Ho Won dan Ki Taek untuk mengerjakan promosi online. Dia berharap yang terbaik seperti yang pernah mereka kerjakan saat bekerja sama membuat katalog.

Ki Taek terus melamun sampai Ho Won harus menarik bajunya untuk menyadarkannya. Ji Na jadi cemas melihatnya. Woo Jin lalu memerintahkan Ji Na untuk membuat perencanaan untuk meningkatkan penjualan Hauliz, sementara Manajer Heo dia perintahkan untuk membuat perencanaan penjualan produk mereka keluar negeri bersama tim penjualan.

Manajer Heo bertanya inikah rencana Woo Jin agar mereka bertahan selama yang mereka bisa. Woo Jin membenarkannya, "Tetaplah bertahan. Aku percaya pada kemampuan kalian."


Dia lalu mengakhiri rapat dan memberitahu kalau dia akan ke ruangannya Seo Hyun untuk meminta persetujuan. Tapi sesaat sebelum pergi, dia menatap mereka semua dengan pandangan aneh.


Tuan Park dan Manajer Jo ada di sana saat dia tiba di ruangannya Woo Jin. Seo Hyun memberitahu kalau dia berencana untuk memecat dua orang dari tim penjualan dan tim marketing. Tapi Woo Jin mengklaim tak ada seorang pun yang perlu dipecat di timnya. Tuan Park tidak terima, apa maksudnya pegawai dari tim mereka yang harus dipecat.

Woo Jin terlalu sulit memutuskannya, di timnya cuma ada 4 pegawai tetap termasuk dirinya. Dia tidak bisa kehilangan siapapun. Seo Hyun kesal, menurut Woo Jin akan berapa lama lagi dia akan bersikap lunak padanya. Woo Jin langsung sinis, memangnya selama ini Seo Hyun bersikap lunak padanya?


"Kau membuat para pegawai cemas dan suasana kantor jadi aneh. Apa yang sebenarnya kau lakukan?"

"Aku hanya bekerja."

"Apa kau sedang bercanda denganku?"

"Anda tidak punya selera humor jadi aku tidak akan bercanda. Saya datang untuk minta persetujuan." Ujar Woo Jin sambil menyerahkan mapnya.

Tapi saat Seo Hyun membukanya, isinya ternyata surat pengunduran diri yang diketik dengan huruf mandarin. Seo Hyun menuntut, apa ini?

"Apa perlu saya tulis pakai huruf hangeul? Apa anda tidak bisa membaca? Itu surat pengunduran diri."

Bersambung ke episode 16

1 comments:

Kak punya aktrisdrama konten gk bisa dbuka ep 16 terus the liar yg ep I3 dan ep 14 juga gk bisa punya aktrisdrama juga trims

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon