Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis Ruler: Master of the Mask Episode 5



Sekelompok pemanah yang dipimpin oleh Gon tiba-tiba mengepung mereka dari atap, Chung Woon pun segera bersiap dengan pedangnya. Siapa mereka! Minggir!

Gon berkata kalau dia mendapat perintah untuk mengawal Putera Mahkota dan hanya Putera Mahkota yang dia inginkan. Para pemanah langsung menembak sesuai perintahnya, untunglah Chung Woon cekatan menghalau semuanya.


Tapi mereka terus-menerus menembak tanpa mempedulikan perintah Putera Mahkota. Sementara Chung Woon mati-matian menangkis semua anak panah, Pangeran Sun berusaha melindungi Sun bak seorang pengawal yang melindungi tuannya.

Saat itulah Gon memperhatikan sesuatu, Sun memegang medali giok milik Putera Mahkota. Chung Woon berbisik memberitahu Pangeran Sun kalau dia akan membuka jalan bagi mereka untuk melarikan diri. Jangan langsung pergi ke tempat pemujaan, tunggu saja Kepala Prajurit kerajaan.


Dia langsung melompat untuk memotong jaring yang menghalau mereka dan melawan semua pembunuh terdekat. Pangeran Sun pun langsung melarikan diri dengan membawa Sun.
 
Tapi Gon berlari lebih cepat dan menghalangi jalan mereka. Pangeran Sun berusaha melawannya, tapi dia kalah kekuatan. Gon hampir saja menebasnya tapi untunglah Chung Woon datang tepat waktu menghalanginya.

Sementara Chung Woon melawan Gon, Pangeran Sun berusaha melawan para pembunuh lainnya. Tapi kemudian Gon mulai mengungguli Chung Woon hingga dia terlontar.


Pangeran Sun berusaha melindungi Chung Woo dan melawan Gon, tapi Gon jauh lebih kuat darinya dan mengalahkannya dengan cepat. Pangeran Sun akhirnya mengalah dan bersedia ikut Gon.

Tapi karena melihat Sun membawa medali giok itu, Gon jadi berpikir kalau Lee Sun lah sang putera mahkota dan berniat mau membawanya.

Tapi tepat saat para pembunuh bergerak, tiba-tiba beberapa anak panah melesat membunuhi mereka. Kepala Prajurit Lee datang memimpin pasukan kerajaan. Pangeran Sun, Chung Woon dan Sun pun langsung melarikan diri.


Woo Jae memanggil Dae Mok untuk menghadiri rapat, tapi malah mendengar ayah mertuanya itu sedang berdebat dengan Hwa Goon yang menuntut Dae Mok berjanji padanya untuk tidak membunuh Putera Mahota. Dae Mok menuntut alasan kenapa dia harus melakukan itu.

"Jadi apakah kakek akan membiarkannya hidup?"

"Memangnya kapan aku bilang kalau aku akan membunuhnya?... tapi aku juga tak pernah bilang kalau aku akan membiarkannya hidup."

"Putera Mahkota... akan menjadi raja yang hebat."

Dia menyinggung kembali filosofi Dae Mok yang menggambarkan sebuah negara sebagai cangkir teh, rakyat adalah tehnya dan raja adalah daun tehnya, sementara mereka harus menjadi pemilik cangkir teh ini.

Tapi jika teh diseduh dengan daun yang sudah busuk maka rasanya takkan enak. Dae Mok tertawa senang mendengar pemikiran cucunya itu.

"Kau benar. Orang bodoh akan membunuh harimau, tapi seorang Tuan akan menaklukkan monster."

Hwa Goon tak sependapat. Seorang Tuan adalah pemilik kepercayaan karena jika yang ditumbuhkan adalah kepercayaan maka dia takkan pernah pergi meski tak lagi diberi apapun. Itulah pencapaian seorang Tuan yang sesungguhnya.

"Kakek. Jika aku memenangkan hati Putera Mahkota, apa yang akan terjadi?"

"Aku akan membiarkanmu memiliki Putera Mahkota."


Tuan Han dan Park Moo Ha sedang berusaha menginterogasi salah seorang Kakek pegawai Departemen Pengadaan Air yang dulu pernah memberitahu Moo Ha tentang masalah irigasi air itu.

Tapi sekarang Kakek menolak mengatakan apapun, dia sih memang sudah tua, tapi bagaimana dengan nyawa anak dan cucunya yang bisa dalam bahaya gara-gara ini?

Moo Ha yang tadinya kesal, akhirnya diam mengalah. Tapi Tuan Han tidak menyerah dan terus bertanya. Apakah saat Kakek membangun sistem irigasi, dia mengubah rute alirannya?Kakek membenarkannya, dia melihat orang-orang yang hampir mati kehausan, makanya ia memberitahu Moo Ha. Tapi bagaimanapun, Kakek tak mau membuat kesaksian resmi.

Tuan Han meyakinkan kalau mereka tidak akan memaksa Kakek sekarang. Tapi jika nanti Tuan Han sudah bisa menjamin keselamatan Kakek dan keluarganya, maukah Kakek bersaksi? Kakek setuju.


Sayangnya, mereka sama sekali tak menyadari ada seorang anak buah Pyunsoo-hwe (Kelompok Pyunsoo) yang mencuri dengar pembicaraan mereka dan langsung pergi untuk melapor.


Saat mereka bersembunyi, Pangeran Sun melihat lengan Chung Woo berdarah. Tapi Chung Woo bahkan tak peduli dengan lukanya dan lebih fokus melindungi Pangeran Sun.

Saat dia pamit untuk memeriksa Jongmyo, Pangeran Sun tergagap meminta maaf dan berusaha menjelaskan aksinya tadi. Tapi Chung Woo langsung menyelanya dengan geram, mengingatkan Pangeran Sun bahwa di dunia ini ada luka yang jauh lebih pedih daripada kematian.

"Hamba adalah pengawal Yang Mulia. Jangan pernah... menyelamatkan saya lagi."

Pangeran Sun senang mendengar Chung Woon akan menjadi pengawalnya sekarang. Chung Woon kontan berdehem canggung dan memperingatkan Putera Mahkota untuk tidak mempercayai siapapun selain Kepala Prajurit Istana.

Melihat luka di lengan Pangeran Sun, dia yakin kalau Putera Mahkota akan bertindak gegabah lagi, jadi dia juga memperingatkan Sun untuk mengawasi Pangeran Sun.


Begitu Chung Woon pergi, Pangeran Sun meyakinkan Sun kalau Chung Woon tidak marah pada Sun tapi marah padanya. Sun heran, kenapa Pangeran Sun baik sekali pada orang rendahan seperti dirinya.

"Lee Sun, kau adalah teman pertamaku. Bahkan nama kita sama. Kau menyerah untuk balas dendam dan memilih mempercayai serta mengikutiku."


Tuan Han sudah mendapatkan peta jalur sistem irigasi yang diubah Departemen Pengadaan Air untuk memenuhi suplay mereka sendiri. Sistem irigasi yang pastinya akan membuat air mengalir ke area mereka pada musim panas dan tidak bisa mengalir ke tempat lain.


Ibu Lee Sun menangis pilu di hadapan jasad suaminya. Seorang pria datang dengan penuh emosi dan mengusulkan agar mereka semua pergi melawan Departemen Pengadaan Air.

Tapi Woo Bo tegas melarang mereka. Dia hanya ingin mereka mempertahankan nyawa mereka. Apa mereka pikir orang-orang itu akan berhenti, mereka bahkan membunuh seorang pria hanya karena setimba air.

"Kalian pikir mereka akan mengampuni kalian jika kalian berdemo? Kalian pikir mereka akan mengubah cara mereka hanya karena kalian protes? Tidak, mereka justru akan lebih menyiksa mereka. Apa kalian masih mau pergi? Apa kalian mau membuat keadaan makin menyedihkan?"


Dae Mok rapat bersama para kroninya, kesal karena Gon gagal mendapatkan Putera Mahkota. Gon meminta maaf dan melapor kalau Putera Mahkota menyamar sebagai rakyat jelata. Dia yakin karena orang itu membawa medali giok Putera Mahkota, ditambah lagi cara pasukan kerajaan melindunginya.

Tae Ho gantian melapor tentang Tuan Han yang tengah menginvestigasi Depertemen Pengadaan Air atas perintah Putera Mahkota, mereka bahkan sudah bertemu dengan salah seorang tukang galian.

Seorang menteri melapor kalau Tuan Han dulunya seorang gubernur kota kecil tapi kemudian dia dipindahkan ke Hanseongbu karena Raja menyukai cara kerjanya. Seorang pejabat lainnya melapor bahwa Putera Mahkota palsu belum bergerak, sementara dua Lee Sun lainnya sudah dipindahkan tapi lokasinya belum diketahui.


Dae Mok merasa aneh, "Dia menginvestigasi atas perintah Putera Mahkota. Bukankah kau bilang Putera Mahkota bermental lemah?"

Si pejabat mengiyakan, Putera Mahkota menderita depresi makanya Raja sangat menjaganya.

Kalau begitu mereka tidak boleh membiarkan ini terjadi lagi, mereka harus menghukumnya dengan perintah langsung Raja. Mereka harus menekankan bahwa bahkan Raja pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka.

"Bersihkan Jongmyo," perintah Dae Mok. Tidak perlu lagi menangkap Putera Mahkota, buat saja Putera Mahkota datang sendiri kepadanya.


Para pengawal yang mengepung tempat pemujaan pun seketika mundur. Chung Woo melihat mereka semua pergi, tapi ada seorang menteri yang datang.

Dia datang untuk menyampaikan perintah Dae Mok yang menyuruh Raja untuk menangkap Tuan Han dan para staf-nya yang telah menyelidiki Departemen Pengadaan Air dan hukum mereka atas tuduhan menyalahgunakan nama Putera Mahkota.

Dia memperingatkan kalau nyawa Putera Mahkota sama pentingnya dengan Departemen Pengadaan Air dan mengingatkan kalau Putera Mahkota harus bergabung ke Pyunsoo-hwe.

Tapi jangan coba-coba mengirim Putera Mahkota palsu ataupun mencoba menjadikannya Raja yang melawan Pyunsoo-hwe. Jika tidak maka Putera Mahkota sendirilah yang akan terluka.


Saat si menteri memberitahu Raja tentang nasib Kakek tukang galian, saat itu pula seorang pembunuh datang untuk membunuh Kakek.

Dia bahkan memberitahukan nasib Lee Sun-Lee Sun palsu lainnya. Dan saat itu pula, Gon dan pembunuh lainnya mendatangi tempat-tempat persembunyian para Putera Mahkota palsu itu dan membunuhi mereka semua. Raja benar-benar marah, tapi tak ada yang bisa dilakukannya.


Park Moo Ha kesal merutuki orang-orang Pyunsoo-hwe saat Woo Bo datang dan langsung menabok kepalanya. Ia bertanya apa rencana Tuan Han sekarang, Tuan Han berkata kalau dia akan menginvestigasi sesuai peraturan.

Tapi Woo Bo menasehatinya untuk tidak melakukan itu karena hal itu bisa saja membahayakan nyawanya. Moo Ha kesal, Woo Bo selalu begitu. Dulu juga Woo Bo bilang dia akan mati jika dia bekerja di pemerintahan. Tapi kemudian Woo Bo memberinya soal-soal untuk ujian negara.

"Meski aku pejabat rendahan, aku tak pernah marah pada Guru. Tapi ini beda. Bagaimana bisa kita membiarkan mereka begitu saja?"

"Memangnya kau bisa apa dengan kekuasaan yang tidak seberapa itu?"

Yah, memang sih. Tapi mereka kan punya Putera Mahkota. Woo Bo terkejut mendengarnya. Ga Eun keluar saat itu dan melihat ayahnya memberikan surat perintah dari Putera Mahkota.


Tapi begitu membaca surat perintah itu, Woo Bo seketika cemas dan menyuruh Tuan Han menghentikan penyelidikan. Dia tidak akan bisa menggulingkan mereka, dia akan mati jika dia mencoba meluruskan kesalahan ini. Moo Ha tidak terima, mana bisa mereka mengabaikan perintah Putera Mahkota.

"Yah! Karena itu adalah satu-satunya cara bagi kalian dan dia tetap hidup."


Rombongan Pangeran Sun tiba di Jongmyo, tapi dia juga mengajak Sun masuk bersamanya agar Sun bisa mengadukan tentang apa yang terjadi pada ayahnya.

Tapi begitu mereka masuk, Raja langsung murka dan melabrak Pangeran Sun yang telah membuat Tuan Han menyelidiki Departemen Pengadaan Air. Bagaimana bisa dia bertingkah gegabah dan tidak memikirkan akibat perbuatannya.

Pangeran Sun membela diri, siapa lagi yang akan melindungi rakyat jika mereka diam saja. Depertemen Pengadaan Air menyiksa rakyat melalui air yang sesungguhnya adalah hak rakyat.

"Mereka menyalahgunakan wewenang untuk menekan rakyat, bahkan menghabisi nyawa orang-orang. Ayah anak itu dibunuh secara sadis hanya karena mencuri setimba air."


Karena itulah, Pangeran Sun memohon Raja untuk membantu Tuan Han dan Moo Ha untuk mengungkap kebenaran dan membubarkan Departemen Pengadaan Air. Tapi Raja malah mengkritiki tindakan Pangeran Sun ini yang hanya akan membuat lebih banyak nyawa melayang.

"Turunkan perintah itu saat kau sudah memiliki kekuatan untuk melindungi rakyatmu," perintah Raja.

"Apa gunanya itu jika mereka semua mati sebelum saatnya tiba?. Sekalipun kita lemah, kita harus berperang demi rakyat!"

"Departemen Pengadaan Air adalah kompensasi atas nyawamu!"


Semua orang kontan terkejut mendengarnya. Setelah semua orang keluar, Raja berlutut di hadapan Pangeran Sun dan melepaskan topengnya. Ia mengingatkan Pangeran Sun tentang kisahnya yang hampir mati tak lama setelah dia lahir.

Pangeran Sun tahunya itu karena penyakit. Tapi sebenarnya, dia hampir mati karena racun.

Teringat kesepatakan yang dibuatnya dengan Dae Mok demi nyawa Pangeran Sun, Raja mengaku kalau dia tidak bisa membiarkan Pangeran Sun bergabung ke kelompok itu dan menjadi anjing peliharaan mereka.

"Itu sebabnya... aku memakaikan topeng di wajahmu."


Raja menggenggam tangan Pangeran Sun dan meminta maaf padanya. Terlalu tercengang mendengar semua ini, Pangeran Sun mengira kalau Raja sedang mencandainya.

Tapi begitu menyadari keseriusan di mata Raja, Pangeran Sun kontan melepaskan tangannya dari genggeman Raja dengan kecewa. Air matanya mengalir saat dia mengkonfrontasi Raja.

Raja adalah anugerah langit yang tugasnya mengabdi demi kepentingan rakyat. Raja juga selalu mengajarinya untuk menjadi Raja yang melayani rakyatnya.

"Namun... Yang Mulia mengatakan bahwa Depertemen Pengadaan Air yang telah menyengsarakan rakyat, ada karena saya?"

"Itu... demi menyelamatkanmu."

 

Woo Jae pulang dan langsung disambut Hwa Goon yang bersikeras ingin menjadi Puteri Mahkota. Woo Jae mengiyakannya saja, tapi sedetik kemudian dia berubah pikiran. Dia tak mau memberikan Hwa Goon ke Putera Mahkota yang jelek itu.

Hwa Goon cemas, jika dia menjadi Puteri Mahkota, Dae Mok tidak akan membunub cucu mantunya sendiri, kan?

Woo Jae heran sendiri, kenapa Hwa Goon ingin sekali menjadi Puteri Mahkota. Dia pasti akan memberikan apapun yang Hwa Goon inginkan, tapi masalah menjadi Puteri Mahkota, dia yakin kalau Dae Mok takkan pernah menyetujuinya.



Hwa Goon tetap bersikeras. Dia bahkan memberitahu Woo Jae bahwa jika dia menjadi Puteri Mahkota maka Woo Jae akan memiliki keluarga kerajaan sekaligus Pyunsoo-hwe di tangannya, dengan begitu dia akan menjadi lebih kuat daripada Dae Mok.

"Kakekmu itu selalu menyukai karaktermu yang begini," komentar Woo Jae. Baiklah, besok ayo mereka temui Yang Mulia Ratu. Jika Ratu menyetujui maka akan lebih mudah meyakinkan Dae Mok.


Di istana, Kepala Prajurit Lee masuk dengan membawa Lee Sun palsu yang tampak sudah sekarat. Dengan lemah dia menyampaikan pesan Pyunsoo-hwe.

"Nyawa Putera Mahkota seharga dengan Departemen Pengadaan Air, menyerang Depertemen sama halnya dengan menyerang Putera Mahkota. Singkirkan Hanseongbu Han Gyu Ho dan Petugas Park. Putera Mahkota harus bergabung dengan Pyunsoo-hwe" ucapnya sebelum kemudian ambruk dan menghembuskan nafas terakhirnya dengan mulut berbusa.

Shock, Raja pun langsung memerintahkan penangkapan Tuan Han dan Moo Ha tanpa mempedulikan protes Pangeran Sun.


Tuan Han dan Moo Ha sedang berdiskusi saat beberapa prajurit datang untuk menangkap mereka atas tuduhan pencatutan nama Putera Mahkota.

Ga Eun langsung mengejar Ayahnya, berusaha mencegahnya pergi dan mengkonfirmasi kalau Tuan Han akan dibebaskan saat Putera Mahkota muncul nanti. Tuan Han yakin, tapi para pengawal langsung menyeretnya pergi dan memisahkan mereka.

 Pangeran Sun berusaha memohon agar Raja mencabut kembali perintah itu, tidak terima Raja mengorban rakyat lagi hanya demi menyelamatkannya. Tapi Raja tetap teguh dengan keputusannya.

"Sekarang ini bukan saat yang tepat melawan mereka. Kau marah pada ayahmu ini yang menyusahkan rakyat? Kalau begitu, kalahkan Pyunsoo-hwe dan menjadi Raja sesungguhnya."

Ia beranjak bangkit, tapi kemudian memerintahkan Kepala Prajurit Lee untuk mengurung Pangeran Sun disana.

Pangeran Sun kontan berusaha mendobrak pintunya dan terus memohon agar Raja menarik kembali peirntah penangkapan itu. Tapi protesnya tak didengar sedikitpun.


Sun hanya bisa diam di pojokan mendengar teriakan tak berdaya Pangeran Sun. Raja lewat saat itu sambil membicarakan mencari anak lain untuk menjadi Putera Mahkota. Saat Raja melihat Sun, ia langsung memerintahkan Kepala Prajurit Lee untuk memulangkan Sun.


Keesokan harinya, Ratu menemui Youngbin Lee dan membawakan nama-nama kandidat Puteri Mahkota. Walaupun Ratu lah yang paling berhak memilih, tapi Ratu ingin Youngbin Lee ikut memilih bersamanya karena Youngbin Lee adalah ibu kandung Pangeran Sun.

"Aku juga berusaha keras. Pilihlah kandidat yang kau sukai," ujar Ratu.

Tepat saat Youngbin Lee keluar, ia berpapasan dengan Woo Jae dan Hwa Goon yang baru datang. Dengan dingin, ia memperhatikan Hwa Goon yang hari ini datang dengan penampilan anggunnya.



Ratu dengan senyum ramah berkata kalau dia menyukai Hwa Goon. Tapi jelas ia menolak Hwa Goon dengan alasan Kakeknya Hwa Goon menentang keras. Woo Jae meyakinkan kalau dia bisa mebujuk Dae Mok jika Ratu menyetujuinya. Tapi Ratu dengan tenangnya menyindir halus Woo Jae yang tidak akan bisa melakukannya.

"Di negara ini, adakah yang selamat jika menentang Tuan Dae Mok? Apalagi yang bisa kita lakukan, kau pasti sangat kecewa. Aku sungguh minta maaf"

"Saya juga, Yang Mulia. Anda akan lebih menyesal... 10 tahun mendatang." Ancam Hwa Goon. Ratu tersenyum canggung mendengar ancamannya.


Raja menemui Tuan Han di penjaranya, kesal karena Tuan Han tidak mengindahkan perintahnya dulu. Ia ingin Tuan Han menunggu Putera Mahkota menjadi Raja dan menjadi abdi setianya di hari penobatan dirinya, tapi Tuan Han malah melaksanakan perintah Pangeran Sun sekarang.

Sekarang ini masih terlalu dini, dia mereka bertarung sekarang maka baik Tuan Han dan Putera Mahkota akan mati. Karena itulah Raja memutuskan untuk mengorbankan Tuan Han demi melindungi Putera Mahkota sesuai keinginan mereka.

"Apakah yang anda maksud adalah Pyunsoo-hwe? Apa yang mereka inginkan?"

"Mereka ingin aku menuduhmu atas pencatutan nama Putera Mahkota dan menjatuhimu hukuman mati."


Moo Ha shock mendengarnya, lalu bagaimana dengannya? Apa dia juga akan dihukum mati? Menerima nasibnya, Tuan Han bersedia menanggung segalanya dan meminta Raja untuk menyelamatkan Moo Ha, ia yakin suatu saat Moo Ha akan membantu Putera Mahkota.

"Juga, hamba... memiliki seorang putri."

Raja berjanji akan mencari cara untuk menyelamatkan Moo Ha dan melindungi putri Tuan Han. Dan ia juga punya sebuah permintaan pada Tuan Han.


Pangeran Sun masih terus berusaha memohon dan memohon agar Raja membebaskan Tuan Han.

"Jika dia sampai mati, aku takkan sanggup menghadapi Ga Eun. Tidak... bagaimana lagi aku akan menjalani hidup?"

Bersambung ke episode 6

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon