Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis Ruler: Master of the Mask Episode 6

 

Chun Soo tak tega mendengar rintihan Pangeran Sun. Dia mencoba membujuk Chung Woon untuk melepaskan Pangeran Sun, ia bahkan belum meminum air setetes pun, dia bisa pingsan. Lebih buruknya lagi, jika Tuan Han sampai mati, Pangeran Sun mungkin takkan mau bertahan hidup.

Saat Raja kembali tak lama kemudian, Chung Woon berusaha memohon agar Pangeran Sun dilepaskan. Yang tak disangkanya, Raja menyuruhnya untuk mengikuti keinginan Pangeran Sun.


Bgeitu keluar, Pangeran Sun dan Chung Woon langsung pergi ke penjara untuk melepaskan Tuan Han. Dia beralasan kalau dia dikirim Putera Mahkota kemari untuk melepaskan Tuan Han.

Mempercayai alasan Pangeran Sun, Tuan Han menolak keluar dan hanya menitip pesan agar Putera Mahkota tidak jatuh hanya karena masalah ini. Tapi Pangeran Sun menolak menyampaikan pesannya, bertahanlah hidup dan katakan itu sendiri pada Putera Mahkota.


Tuan Han tetap tak beranjak lalu menyerahkan secarik surat dan meminta Pangeran Sun untuk menyampaikan pesan ini pada Ga Eun. Pangeran Sun jadi berpikir kalau Tuan Han tak mau keluar karena mengkhawatirkan Ga Eun.

"Tolong jaga Ga Eun."

Mendengar itu, Pangeran Sun pun berjanji akan membawa Ga Eun ke tempat yang aman dan setelah itu dia akan segera kembali untuk membebaskan Tuan Han.

Bukan itu maksud Tuan Han, tapi Pangeran Sun langsung pergi saat itu juga sambil memanggil Chung Woon dengan sebutan guru. Seketika itu juga Tuan Han langsung sadar kalau dialah Putera Mahkota.


Pangeran Sun dan Chung Woon bergegas menemui Ga Eun yang dikurung pengawal militer di rumahnya. Tapi kemudian, mereka melihat kedua pengawal yang menjaga rumah Ga Eun pergi.

Ga Eun langsung ingin menemui Ayahnya. Tapi Pangeran Sun melarang, dia sudah bertemu Ayahnya Ga Eun tadi. Dia tak bisa menjawab saat Ga Eun bertanya kapan Ayahnya akan dilepaskan.

Sambil menunjuk Chung Woon, ia mengklaim kalau Chung Woon adalah orang kiriman Putera Mahkota dan Ayah Ga Eun baru akan melarikan diri kalau Ga Eun sudah berada di tempat yang aman.

Ga Eun bingung, "Ayahku kan tidak melakukan kesalahan apapun. Kenapa dia harus melarikan diri?"


"Itu... karena mustahil membersihkan namanya untuk saat ini. Kau dan ayahmu harus menyelamatkan diri dulu, setelah itu baru dia akan..."

Pangeran Sun baru ingat untuk menyampaikan surat dari Ayahnya Ga Eun dan meminta Ga Eun untuk pergi dulu agar Ayahnya bisa selamat. "Ini demi menyelamatkan nyawa Ayahmu, kumohon."


Beberapa saat kemudian, Pangeran Sun memberikan tali kekang kudanya untuk Ga Eun. Dia pun pergi bersama seorang pria yang mengawalnya. Dia masih sempat menoleh ke Pangeran Sun, merasa berat pergi dari sana.

Pangeran Sun terus memperhatikan kepergiannya, tapi Chung Woon tiba-tiba merasakan sesuatu... atau seseorang. Saat dia berbalik, tampak tak ada siapapun. Tapi sebenarnya Gon sedang mengawasi mereka dari belakang semak.


Hwa Goon ngambek ke Kakeknya, gara-gara Dae Mok ikut campur, rencananya jadi Puteri Mahkota jadi terhalang padahal Dae Mok sudah berjanji akan membantunya.

"Karena itulah, jika kau sungguh menginginkan sesuatu, kau harus berusaha sendiri untuk mewujudkannya. Jangan mengandalkan orang lain untuk menggapainya. Hal yang mudah didapat, akan mudah terlepas juga. Karena itu tidak sepenuhnya usahamu," nasehat Dae Mok.

Memikirkan nasehat itu, Hwa Goon tiba-tiba punya ide lalu meminta pada Dae Mok untuk memberikan Gon kepadanya sebagai hadiah ultahnya. Entah apa yang dipikirkan Dae Mok, tapi dia langsung menyetujuinya dengan mudah.
 

Moo Ha berlutut di depan penjara Tuan Han dengan penuh rasa bersalah dan mengaku kalau dia barusan membuat kesaksian palsu bahwa semua semua hal itu hanya bohong belaka.

Seandainya saja dia tidak memulai penyelidikan. Seandainya saja dia tidak memberikan laporan itu pada Putera Mahkota. Tuan Han menyela dengan senyum, ia mengerti hanya itu yang bisa Moo Ha lakukan agar bisa selamat.

Dia sama sekali tidak menyesali apa yang Moo Ha lakukan. Jika saja Moo Ha tetap diam maka dia akan jadi orang bodoh yang tak tahu kalau rakyat mendertita karena Pyunsoo-hwe. Dan dia berterima kasih pada Moo Ha karena hal itu.

Pun begitu, Tuan Han tetap meminta bantuan Moo Ha untuk membantu Putera Mahkota, "Tetaplah di sisi Putera Mahkota agar beliau sanggup bertarung sampai akhir."

Moo Ha menolak, "Saya tidak bisa. Saya tidak mampu. Saya tidak sanggup menahan semua ini."

"Kalau begitu, maukah kau mengabulkan permintaanku yang satu ini?"


Beberapa saat kemudian, Moo Ha terhuyung keluar dari sana, masih shock dengan permintaan terakhir Tuan Han. Ia ternyata meminta agar Ga Eun tidak menyaksikan kematiannya.


Tepat setelah dia pergi, Pangeran Sun dan Chung Woon kembali untuk membebaskan Tuan Han dan memintanya menyusul Ga Eun. Tapi Tuan Han hanya berlutut dan memanggilnya Yang Mulia.

"Hamba hanya orang rendahan, tapi maukah Yang Mulia mengenang hamba?"

Dia ingin kematiannya dikenang bukan karena penyelidikan terhadap Departemen Pengadaan Air, melainkan karena Pyunsoo-hwe, kelompok kuat dibalik departemen itu. Dia tidak memiliki cukup kekuatan melawan kelompok itu. Jika dia tidak melindungi orang lain dengan kematian ini maka tidak akan ada rencana masa depan.

"Kau bisa tetap hidup dan merancang rencana baru bersamaku. Jangan seperti yang dikatakan Ayahanda, bahwa kau mati demi melindungiku."


Tuan Han teringat kembali dengan permintaan Raja tadi. Raja menyadari kematian Tuan Han akan membuat Pangeran Sun merasa sangat terpuruk, karena itulah Raja ingin Tuan Han menjadi motivasi sekaligus kekuatan bagi Pangeran Sun.


Karena itulah, sekarang Tuan Han menasehati Pangeran Sun untuk tetap bertahan agar dia bisa mengalahkan Pyunsoo-hwe dan berjuang demi rakyat dan mengembalikan hak air kepada mereka.

Pangeran Sun tidak mengerti, kenapa Tuan Han tak mau berusaha bertahan hidup. Apa dia tidak merindukan Ga Eun yang sedang menantinya?

"Apa Yang Mulia mengira hamba bodoh sehingga memilih keadilan dibanding putri hamba sendiri? Apa Yang Mulia merasa kematian hamba tak ada artinya?"

Pangeran Sun tercekat mendengarnya, bukan begitu. Tapi jika Tuan Han mati, dia tak yakin akan bisa melawan Pyunsoo-hwe. Karena itulah, Pangeran Sun memohon padanya untuk tetap bertahan hidup.

"Yang Mulia harus bertahan meski itu menyakitkan. Yang Mulia harus kuat. Yang Mulia tidak boleh menyalahkan diri dan menganggap tidak melakukan apapun. Jika Yang Mulia menyerah maka mereka akan menjadi lebih buruk lagi."

"Tidak, tidak. Tolong jangan bicara begitu. Kumohon, tetaplah hidup."

"Yang Mulia akan melalui jalan yang panjang dan berliku mulai sekarang. Meski begitu, jangan menyerah. Hamba telah menjadi batu loncatan bagi Yang Mulia, hamba akan mensyukurinya sampai kapanpun juga."

Pangeran Sun kontan terjatuh lemas mendengarnya.


Gon melapor ke Dae Mok bahwa pengawal Putera Mahkota membantu putri Tuan Han kabur. Gon langsung senang mendengarnya, menyadari dia bisa menggunkan putri Tuan Han sebagai cara untuk menangkap Putera Mahkota.

Gon tiba-tiba menyadari ada Hwa Goon yang menguping mereka, tapi dia langsng kabur saat Gon meliriknya. Dae Mok memberitahunya kalau Hwa Goon ingin Gon menjadi pengawalnya.

Jadi mulai sekarang, dia tidak akan memanggil Gon lagi kecuali ada urusan darurat. Dia memerintahkan Gon untuk melindungi dan mematuhi Hwa Goon, tapi dia juga memerintahkan Gon untuk melaporkan segalanya kepadanya.


Pangeran Sun dan Chung Woon menghadap Raja untuk sekali lagi memohon pengampunan bagi Tuan Han. Seorang Raja tidak seharusnya membunuh orang yang tidak berdosa, terlebih orang itu adalah rakyatnya.

Tapi pertemuan mereka tersela oleh kedatangan Chung Soon yang mengaku kalau dia datang untuk menyampaikan pesan tambahan dari Pyunsoo-hwe.

Dengan suara tersendat-sendat dia berkata bahwa mereka ingin Putera Mahkota sendiri yang mengeksekusi Tuan Han besok. Jika tidak, maka mereka akan membunuh semua orang yang ada di lingkaran Putera Mahkota.

Dia tak sanggup lagi meneruskan karena saat itu juga dia tiba-tiba kejang-kejang lalu roboh dengan mulut berbusa karena racun. Shock, Pangeran Sun sontak meminta dipanggilkan tabib istana.


Dia terbangun dari pingsannya tak lama kemudian, tapi keadaannya benar-benar sudah sangat sekarat, pandangannya pun sudah sangat buram. Chun Soo menyesal, seandainya saja dia tahu akan mati seperti ini, dia pasti akan memilih untuk melihat wajah Putera Mahkota waktu itu.

Pangeran Sun pun langsung melepaskan topi dan topengnya untuk Chun Soo tanpa mempedulikan protesnya Chung Woon. Saat itu pula pandangan Chung Woon mulai jelas dan dia akhirnya bisa melihat wajah Pangeran Sun yang berlinang air mata.

"Yang Mulia... begitu tampan."

"Benar, kan? Aku tahu kau akan berkata begitu?" isak Pangeran Sun.


Chun Soo tersenyum sebelum akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya. Tangis Pangeran Sun pecah seketika saat dia menarik jasad Chun Soo kedalam pelukannya.

Tanpa mereka sadari, Gon dan Hwa Goon menyaksikan segalanya dari atap. Hwa Goon pun sedih melihat air mata Pangeran Sun. Begitu mengkonfirmasi Gon sudah jadi orangnya sekarang, Hwa Goon memerintahkan Gon untuk merahasiakan segala sesuatu tentang Putera Mahkota dari Kakeknya.


Jika Putera Mahkota terluka maka sama saja dia menghancurkan hatinya. Jika dia menghunus pedang pada Putera Mahkota, sama artinya dia mengoyka jantungnya.

"Jika Putera Mahkota mati, maka aku juga akan mati. Jadi, kau juga harus melindungi Putera Mahkota sebagaimana kau melindungiku. Dengan begitu, aku bisa hidup."


Keesokan harinya, Raja mendapati Pangeran Sun masih menangis. Tapi dnegan tegas dia memerintahkannya untuk mengeksekusi Tuan Han dengan tangannya sendiri.

Tuan Han akan menjadi orang pertama yang harus membayar atas tindakan gegabah Pangeran Sun. Semua ini salah Pangeran Sun sendiri.

"Inilah kau, Putera Mahkota Joseon, Raja Joseon selanjutnya. Satu kata saja darimu dapat membahayakan rakyatmu. Satu keputusan darimu, bisa menyelamatkan atau justru menghabisi rakyatmu. Setiap keputusan yang kau buat, mempertaruhkan seluruh Joseon. Itulah... dirimu."


Di tempat persembunyiannya, Ga Eun membuka surat dari Ayahnya yang ternyata surat wasiatnya. Ia berkata bahwa kematiannya bukanlah salah Putera Mahkota. Cemas, Ga Eun pun langsung memacu kudanya kembali ke ibukota, sementara kita mendengarkan kelanjutan isi surat Tuan Han.

"Ayah pun tidak ingin meninggalkanmu, namun ada yang lebih ayah benci dibanding kematian. Kita harus memilih antara hidup atau keadilan. Itu bukanlah kebebasan sesungguhnya. Tolong pahami keputusan ayahmu ini yang memilih keadilan dibanding kehidupan. Maafkan aku, ayah selalu menyayangimu."


Pangeran Sun benar-benar tak percaya dengan ucapan Raja tadi, jadi maksudnya sekarang dia harus menyingkirkan Tuan Han dengan tangannya sendiri?

Tidak bisa, Pangeran Sun tidak bisa melakukannya. Lebih baik dia mati saja daripada melakukannya. Lebih baik dia menyerahkan diri ke Pyunsoo-hwe dan meminta mereka membunuhnya saja.

Raja langsung menghentikan ocehannya dan mengingatkan Pangeran Sun untuk tetap kuat, siapa lagi yang akan memimpin Joseon jika Raja meninggal dunia? Dan dia menyebut dirinya Putera Mahkota Joseon?!

"Memangnya saya yang ingin jadi Putera Mahkota?! Apa saya yang mau hidup memakai topeng begitu?! Kenapa saya harus hidup dengan mengorbankan nyawa Tuan Han?! Kenapa anda melakukannya?! Kenapa anda harus membuat perjanjian dengan Pyunsoo-hwe? Kenapa anda memberikan Departemen Pengadaan Air sebagai balasan atas nyawa saya? Kenapa? Kenapa? KENAPA?!"

Pangeran Sun pingsan seketika. Cemas, Chung Woon tiba-tiba punya ide.


Persediaan makanan di rumah Lee Sun tinggal sedikit dan hanya cukup untuk memasak semangkok bubur. Woo Bo datang tak lama kemudian, memberikannya sekarung bahan makanan dan sekarung lagi untuk mereka bawa ke rumah Ga Eun.

Dalam perjalanan, Sun bertanya bagaimana cara meruntuhkan Departemen Pengadaaan Air. Bukankah Raja mampu melakukannya. Woo Bo pesimis, menemukan raja yang mau melakukannya jauh lebih sulit dibanding mengubah dunia ini.

"Bagaimana jika aku yang melakukannya dan bukan Raja?" tanya Sun.

"Tidak akan ada yang bisa melakukannya. Karena... Joseon ini bukan milik Raja."


Setibanya di rumah Ga Eun, seorang pria terburu-buru datang dan mengabarkan kabar buruk. Tuan Han akan dieksekusi oleh Putera Mahkota sendiri.

"Siapa katamu yang akan dieksekusi?" tuntut Ga Eun yang baru saja datang dengan berlinang air mata, "Siapa yang akan dieksekusi?!"


Saat Pangeran Sun terbangun, dia malah mendapati dirinya dikurung dipenjara tanpa memakai baju kebesarannya. Dia sontak berusaha mendobrak pintu dengan panik.

Tapi yang tak disangkanya, seseorang datang saat itu dan membukakan pintu penjaranya. Orang itu ternyata Hwa Goon. Pangeran Sun mengenalinya, tapi tentu saja dia keheranan, bagaimana bisa Ga Eun masuk kemari.

Tapi tak ada waktu untuk berbasa-basi, Pangeran Sun pun buru-buru keluar. Tapi Hwa Goon menghentikannya dan menawarkan kudanya.


Secara bersamaan, rombongan Ga Eun dan Lee Sun berusaha berlari secepat mungkin, sementara Pangeran Sun berkuda bersama Hwa Goon yang tampak begitu senang bisa bersama Pangeran Sun.


Rakyat sudah berkumpul di tempat eksekusi Tuan Han. Tuan Han pun dibawa kesana tak lama kemudian. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat Moo Ha berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca.

Putra Mahkota datang tak lama kemudian dengan membawa pedangnya. Tapi, dia bukan Putera Mahkota, melainkan Chung Woon yang memakai jubah dan topeng Putera Mahkota. Tangan Chung Woon gemetar saat dia mengangkat pedangnya untuk mengeksekusi Tuan Han.


Ga Eun sudah tiba di sana, tapi dia tak berdaya karena terhalang para pengawal. Pangeran Sun akhirnya tiba tak lama kemudian dan langsung menerobos kerumunan warga sambil berteriak-teriak berusaha menghentikan eksekusi ini. Tapi Chung Woon tak mendengarkannya dan rakyat sontak berteriak ngeri.

Bersambung ke episode 7

5 comments

Cerita y makin seru, d tunggu kelanjutan y & makasih sinopsis y..

Deg deg"an bnged bacanya

gomawo >_<

Sedih banget ceritanya bikin nyesek.

Makasih sinopsisnya,, ditunggu kelanjutannya..

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon