Powered by Blogger.

Images Credit: SBS

Sinopsis Suspicious Partner Episode 11


Kita kembali sebelum mayat Koki Yang ditemukan... Ji Wook terbangun tengah malam dan mendapati Bong Hee ketiduran di sampingnya. Ia terpana menatap Bong Hee sambil membatin, "Ini adalah definisi dari kata 'Permulaan'."

Tiba-tiba kepala Bong Hee oleng, Ji Wook langsung sigap menahan kepala Bong Hee dengan tangannya. Mungkin dikira itu bantal yang nyaman, Bong Hee tersenyum dan keenakan tidur.

"Langkah pertama dalam sebuah tindakan atau situasi, atau langkah pertama dari sebuah emosi."

Episode 11: Permulaan yang belum dimulai.


Selama beberapa lama, Ji Wook tidak bergerak sama sekali. Perlahan dia bangkit, berusaha untuk tidak sampai membangunkan Bong Hee. Dia menangkup kepala Bong Hee dengan kedua tangannya dan berusaha sepelan mungkin untuk menegakkannya.

Tapi tepat saat itu juga, Bong Hee membuka mata. Ji Wook langsung melepaskan tangannya dengan kikuk. Jangan salah paham. Bong Hee bingung, kenapa?

"Aku tidak mengerti kau menyuruhku untuk tidak apa?"

"Aku cuma bilang agar kau tidak salah paham karena ini bukan apa-apa. Kalau kau bertanya kenapa, aku tidak tahu musti jawab apa?"

Bong Hee mendengus geli, "Menggodamu itu menyenangkan."


Ji Wook kesal, sepertinya belakangan ini dia pasti baik banget sama Bong Hee. Bong Hee pasti mengira dia gampangan. Dia CEO dan Bong Hee cuma pegawai biasa.

"Sesaat aku lupa kalau kau adalah orang yang menginjak-injak orang lain dengan statusmu."

"Begitu? Kalau begitu biarkan aku mengingatkanmu akan saat-saat magangmu."

Bong Hee kontan meminta maaf dan berjanji akan bersikap baik mulai sekarang. Dia kelewat batas karena sedang hyper. Dia juga mengucap terima kasih untuk Ji Wook, karena Ji Wook selalu menyelamatkannya setiap kali dia menghadapi jalan buntu.

Ji Wook hanya menyuruhnya membayar kembali dengan bekerja keras. Bong Hee berjanji akan berusaha sebaik mungkin. Oke, dia langsung menyingkirkan Bong Hee dari hadapannya dan berjalan ke kamarnya.


"Pastikan kau mengunci pintumu. Aku mungkin tak sengaja masuk nanti," goda Bong Hee.

Ji Wook langsung menoleh ketakutan. Bong Hee santai berkata, "Bercanda. Aku sedang hyper."

Di kamarnya, Bong Hee menulis di buku diarynya. "Selamat atas perekrutanmu dan menjadi jaminan."


Keesokan harinya, mereka mengadakan rapat kerja pertama mereka. Ji wook membatin bahwa saat pertama selalu menegangkan. Belum juga rapat dimulai, Tuan Byun sudah protes duluan, menyuruh Ji Wook untuk memecat si 'Nona Kurang Bukti'.

Tuan Bang memberitahukan daftar perekrutan yang mereka perlukan. Pertama mereka butuh sekretaris. Tuan Byun menyela, mereka sudah punya sekretaris - sambil nunjuk Nona Kurang Bukti.

"Saya seorang pengacara yang memiliki lisensi."

Tuan Byun ngotot kalau Bong Hee harus jadi keduanya, kalau tidak suka maka dia harus membayar posisinya sendiri soalnya Bong Hee hanya akan membawa efek negatif untuk firma hukum mereka.


Eun Hyuk ketawa canggung, berusaha meredakan ketegangan ini. Dia yang akan membuat keuntungan nanti. Tuan Byun setuju, memang hanya Eun Hyuk harapan mereka satu-satunya.

Eun Hyuk usul agar Ji Wook membuat nama firma hukum yang benar. Daripada 'Firma Hukum Noh Ji Wook', ganti saja jadi 'Ji dan Noh'... atau 'Noh dan Ji'.

Tuan Byun juga mau namanya diikutsertakan. Bong Hee juga tak mau kalah. Tuan Bang malah usul untuk memasukkan nama marga mereka semua jadi satu.


Ji Wook diam saja walaupun sepertinya dia mulai kesal. Dia ingin mereka lanjut membahas agenda berikutnya. Tapi Tuan Byun menyela lagi. Wajah mereka berdua kenapa? Habis kelahi?

Begitu Eun Hyuk bercerita kalau mereka habis kelahi sama sekitar 20-an anak SMA, Tuan Byun malah membual tentang masa mudanya yang menghajar 37 preman seorang diri.

Eun Hyuk stres, "Permulaan selalu canggung. Tapi ini... jauh leih buruk dari itu."

Tak tahan lagi, dia langsung menggila. "Kacau sekali! Kembali kerja!"


Setelah rapat usai, Tuan Byun penasaran, apa sebenarnya hubungan Ji Wook dengan Bong Hee. Dia lihat semuanya tadi.

Ternyata saat dia mengancam Ji Wook dengan rebahan di lantai, dia dan Tuan Bang melihat Bong Hee keluar dari kamarnya. Jelas saja mereka keheranan.

"Apa kau tinggal bersamanya?" Tanya Tuan Byun.

Ji Wook menjelaskan kalau dia hanya membiarkan Bong Hee tinggal di sini karena Bong Hee tak punya tempat tujuan. Tuan Byun tak percaya, Ji Wook bisa jujur padanya kok, sungguh tidak ada apa-apa diantara mereka? Ji Wook mengiyakannya.


Bong Hee baru kembali saat Eun Hyuk menegurnya. Bong Hee tampak canggung dan berusaha menghindarinya. Eun Hyuk bisa menduga kalau Bong Hee pasti tahu tentang apa yang terjadi diantara dirinya dan Ji Wook.

Bong Hee terdiam, teringat saat Ji Wook mengaku bahwa pria yang bersama Yoo Jung malam itu adalah temannya.


Bong Hee bisa menduga teman yang dimaksud Ji Wook adalah Eun Hyuk. Eun Hyuk mengaku kalau berkat Bong Hee lah, Ji Wook menghubunginya lagi dan memintanya untuk membela kasus Bong Hee.

"Kurasa, aku menjadi tersangka pembunuhan untuk membantu kalian berhubungan kembali."

Benar. Karena itulah, Eun Hyuk benar-benar berterima kasih. Yah, dia tahu kalau Bong Hee pasti membencinya. Tapi jangan membencinya terlalu banyak.

Itu bukan love affair-nya, jadi Bong Hee merasa tidak punya hak membenci Eun Hyuk. Tapi dia tidak suka dengan baj*ng*n dan wanita jal*ng... maksudnya, pria dan wanita yang berselingkuh.


Eun Hyuk cuma bisa ketawa garing. Bong Hee heran, kenapa Eun Hyuk selalu bercanda dan tertawa. Karena hanya dengan bercanda, dia bisa mendekati Ji Wook. Dia tidak tahu cara lainnya.

Bong Hee mendesah mendengarnya, sepertinya dia memang ditakdirkan jadi pengacara. Bong Hee sama sekali tidak bisa membayangkan dirinya jadi jaksa atau hakim.

"Alih-alih menuduh atau menghakimi seseorang atas kejahatan mereka, aku jenis orang yang lebih suka memohon belas kasihan. Aku ii lebih cocok jadi pengacara."

"Itu karena kau orang baik."

"Aigoo, teman-temanku bisa ketawa kalau mendengar apa yang kau katakan. Aku ini pembunuh, aku membunuh orang."


Kebetulan Ji Wook sedang ngopi di balkon dan bisa melihat mereka sedang bercanda tawa di halaman. Tuan Bang muncul dan langsung tersenyum penuh arti saat melihat apa yang Ji Wook lihat.

"Mereka sepertinya dekat," komentar Tuan Bang.

Ji Wook tak sependapat. Tuan Bang curiga, jangan-jangan Ji Wook cemburu. Nggak tuh, jangan bicara omong kosong. Kalau otaknya Bong Hee itu waras, dia tidak akan pernah berteman dengan kampr*t macam Eun Hyuk itu. Tuan Bang langsung tersenyum penuh arti mendengar kecemburuan Ji Wook.


Ngomongnya sih nggak cemburu. Tapi kemudian, dia ambil selang air dan menyemprotkannya tepat ke arah Eun Hyuk tanpa ampun. hahaha.


Hari ini, Ibu Bong Hee mulai bekerja di restoran pizza-nya Bok Ja. Rekan kerjanya memberitahu kalau bos mereka datang. Bok Ja pun langsung berbalik sambil membungkukkan ucapan terima kasih tanpa melihat wajah Bok Ja terlebih dulu.

Tapi begitu dia melihat wajah Bok Ja, dia langsung refleks mengumpat dan buru-buru bersikap sopan lagi sedetik kemudian. Bok Ja langsung menyindir sengit dan memperingatkan Ibu untuk berhati-hati, dia akan balas dendam.

Ibu sontak kesal dan hampir saja membanting celemeknya, tapi langsung berubah pikiran dan memakainya kembali. Dia meyakinkan Bok Ja kalau dia adalah pekerja yang rajin biarpun dia sudah tua.


Dia membutuhkan gaji bulanan karena suaminya tidak bisa menghasilkan sepeserpun. Putrinya berusaha yang terbaik, tapi dia masih belum mendapatkan pekerjaan tetap. Jadi dia harus bekerja sendiri untuk menafkahi hidupnya. Bok Ja yang tadinya kesal, langsung berubah prihatin mendengarnya.

Ibu menggerutu kesal pada almarhum ayah dan ibunya. Bisa-bisanya mereka mengirimnya ke tempat si jal*ng itu. Tapi dia langsung berubah sikap saat melayani dua orang pelanggan yang sedang menonton berita pembunuhan Koki Yang.


Si Petugas Forensik menonton berita pembunuhan Koki Yang sambil teringat ucapan Bong Hee tentang situasi dan alasan apa yang bisa membenarkan sebuah pembunuhan.


Dalam flashback, Petugas Forensik  duduk di sofa setelah membunuh korbannya. Dia menonton sesuatu di TV sambil bergumam seolah menjawab pertanyaan Bong Hee. "Balas dendam seorang wanita. Sebuah hukuman yang masuk akal."


Seorang wanita masuk ke rumah korban dan langsung menjerit histeris menemukan Koki Yang terkapar tak bernyawa. Dia sudah berniat mau menghubungi polisi, tapi kemudian dia melihat sesuatu di TV yang langsung membuatnya panik.

Dia juga menemukan sebuah pesan yang ditulis dengan darah di bingkai fotonya Koki Yang: Deutoronomy (Alkitab) 22:25, yang berbunyi 'Jika seorang pria bertemu dengan seorang wanita yang telah bertunangan dan memperkosanya, maka hanya pria yang melakukan itu yang harus mati'.

Wanita itu langsung panik menurukan foto itu dan menghapus pesan berdarah itu. Tiba-tiba dia punya ide untuk menyamarkan pembunuhan ini jadi kasus perampokan dan pembunuhan. Dia pun langsung mengacak-acak rumah itu dan mengambil beberapa benda berharga.


Lalu tak lama kemudian, Jung Hyun Soo, yang merupakan seorang kurir, ditangkap dan dituduh membunuh Koki Yang.


Yoo Jung lah jaksa yang bertugas menginterogasi Hyun Soo. Walaupun Hyun Soo bersikeras menyangkal tuduhannya, tapi tak ada yang percaya. Yoo Jung menjelaskan kalau dia ditangkap karena ada seorang saksi mata (seorang nenek tetangga korban) yang mengaku melihatnya.


(Hmm, sebenarnya yang dilihat Nenek adalah pria bertopi yang dia sangka si kurir yang biasanya mengantarkan paket ke rumah itu, tapi entah apakah Nenek sebenarnya melihat wajahnya atau tidak.)
 

Yoo Jung juga menunjukkan sebuah dokumen yang menyatakan kalau jejak kaki dan DNA Hyun Soo ditemukan di TKP. Jadi intinya, percuma saja menyangkal,

"Aku akan menuntutmu atas perampokan dan pembunuhan."

Saat Hyun Soo diam saja, Yoo Jung menyindirnya, apa dia sedang menggunakan Peringatan Miranda-nya (hak untuk tetap diam). Hyun Soo yakin kalau Yoo Jung takkan mempercayainya. Yah, Yoo Jung mengakuinya, dia tidak mempercayai Hyun Soo.

"Apa ada orang yang bisa mengerti dan percaya padaku?" tanya Hyun Soo yang tampaknya sudah sangat putus asa.


Bong Hee mendatangi Ibunya di restoran pizza sambil curhat. Bong Hee kesal sekali pada Tuan Byun. Ibu pun langsung nggosipin bosnya itu. Kata-kata bosnya itu seperti racun dan sangat dingin sampai-sampai Ibu bisa merasakan energi dinginnya dalam jarak 15m... tepat saat Bok Ja datang dan mendengarkannya.


Ibu langsung membeku menyadari aura dingin itu ada di dekatnya. Kesal, Bok Ja langsung menyindir Putrinya Ibu. Wah, dia tak menyangka kalau sembarang orang bisa jadi pengacara.

Tersinggung, Bong Hee langsung balas dendam dan memberitahu Ibunya bahwa pelecehan di tempat kerja juga bisa dianggap sebagai kecelakaan industri. Bok Ja jelas tidak terima, tapi Bong Hee buru-buru menahannya karena dia harus angkat telepon.

Ji Wook meneleponnya dan menuntutnya untuk segera kembali sekarang juga. Bong Hee pura-pura sok cool bak seorang pengacara penting. Sekali lagi dia mengingatkan ibunya kalau pelecehan di tempat kerja bisa dianggap sebagai kecelakaan kerja lalu bangkit dengan penuh harga diri. Tapi begitu sampai di luar, dia langsung lari secepat mungkin.


Begitu dia kembali, mereka semua menonton siaran berita tentang kasus itu. Hyun Soo akan menjadi klien mereka, bahkan dia sendiri yang memilih Bong Hee menjadi pengacara pembelanya. Bong Hee kecewa, Hyun Soo pasti memilihnya karena dia pernah jadi tersangka pembunuhan.

Yang lain malah bergosip heboh. Tuan Byun tak menyangka kalau ternyata Nona Kurang Bukti bisa berguna juga untuk firma hukum mereka, pengacara yang punya pengalaman ditangkap, pengacara yang mengerti perasaan pembunuh.

"Tidak! Aku tidak mengerti."


Beberapa saat kemudian, Bong Hee mendatangi Ji Wook yang baru saja selesai menelepon Ibunya. Ji Wook memberitahu Bong Hee kalau tadi ada seorang wanita muda yang menghina Ibunya. Bong Hee sontak mengumpati wanita muda itu. Pfft!

Dia datang untuk mencoba mengajak Ji Wook ikut bersamanya menemui Hyun Soo. Ji Wook tidak mau, dia CEO, dia membuka firma hukum sendiri biar dia bisa membuat pegawainya melakukan semua pekerjaan. Eun Hyuk langsung menawarkan diri ikut.


Dan akhirnya, Bong Hee pun pergi bersama Ji Wook. wkwkwk. Setibanya di kantor jaksa, mereka bertemu dengan mantan rekannya Ji Wook. Bong Hee pun masuk duluan tapi malah bertemu Yoo Jung di lorong.

Setelah berbasa-basi sinis, Yoo Jung to the point menanyakan status hubungan Bong Hee dengan Ji Wook. Yoo Jung kesal, padahal dia menyukai Bong Hee, tapi kenapa harus Bong Hee (pacarnya Ji Wook).

Bong Hee juga, dia awalnya menyukai Yoo Jung, tapi kenapa Ji Wook malah pacaran dengan wanita cantik. Nyebelin. Ji Hye kebetulan lewat dan menguping perdebatan mereka. Tapi karena nggak ngeh dengan perdebatan mereka, dia langsung pergi.

"Aku tanya, apa kalian beneran pacaran?" tuntut Yoo Jung.

"Yah, kami pacaran." Tapi Bong Hee ngomongnya sambil melirik ke arah lain.


Jelas saja Yoo Jung langsung tahu dia bohong. Dia sudah tahu, dengan adanya dia, Ji Wook tidak mungkin... Ji Wook tiba-tiba muncul dan menyela. "Benar, kau memang ada. Tapi aku pilih dia."


Dia langsung merangkul Bong Hee dan membawanya pergi. Bong Hee mengikutinya dengan tubuh dan muka tegang dan baru ingat untuk bernafas setelah Ji Wook melepaskannya. Bong Hee protes, Ji Wook sudah membuatnya kesulitan dengan pura-pura jadi pacarnya Ji Wook. Loh, Ji Wook kan cuma memetik benih yang Bong Hee tabur.


Bong Hee bertanya-tanya kenapa Hyun Soo memilihnya alih-alih pengacara lain yang punya tingkat kemenangan lebih tinggi. Apa Hyun Soo berencana bertanya bagaimana caranya lolos dari pembunuhan atau meminta tips tentang kurangnya bukti.

Hyun Soo langsung ketawa miris. Jadi, apakah Bong Hee ingin dia menjawab kalau dia membunuh korban. Apa tak ada cara lain selain mengakui tuduhan palsu dan memohon belas kasihan. "Pengacara Eun, kupikir kau mungkin satu-satunya harapanku."


Mendengar itu, Ji Wook jadi teringat kembali saat Bong Hee menyatakan kepercayaan penuh padanya karena hanya Ji Wook satu-satunya harapan bagi Bong Hee.


Hyun Soo sungguh tak menyangka kalau pekerjaannya yang sering mengantarkan paket ke rumah itu, malah dijadikan sebagai bukti pembunuhan itu. Dia bahkan tidak mengerti kenapa dia duduk di sini dan kenapa hal ini terjadi padanya.

"Sesungguhnya, aku benar-benar kesepian. Situasi ini membuatku takut, sangat. Kemudian aku berpikir, mungkin ada orang yang tulus memahami dan mempercayaiku. Mungkin ada orang yang bisa kuandalkan. Itu saja."

Bong Hee terdiam, teringat bagaimana dulu dia merasakan apa yang Hyun Soo rasakan sekarang.


Yoo Jung ragu tentang Bong Hee yang katanya membunuh anak Jaksa Wilayah, soalnya Bong Hee tidak tampak seperti orang yang bisa melakukan itu.

Ji Hye tak sependapat. Berdasarkan pengalamannya bertemu berbagai macam penjahat, dia menyimpulkan kalau semua orang mampu membunuh seseorang. Jangankan orang yang terlahir psikopat, orang normal pun bisa membunuh orang lain karena berbagai macam alasan.

Karena itulah menurutnya, Bong Hee membunuh Hee Joon. Sekarang dia akan membiarkannya, tapi suatu hari, dia pasti akan menangkap Bong Hee.

"Jaksa Na, kata-katamu itu membantuku membuat alasan." Ujar Yoo Jung.


Hyun Soo menceritakan apa yang dilakukannya pada hari pembunuhan itu terjadi. Dia sedang jalan-jalan sendirian di taman. Dia melihat anak-anak perempuan bermain balon sambil berlarian. Dia lalu ke bioskop tapi karena jadwalnya tidak ada yang cocok dengannya, jadi dia langsung pergi.

Dia juga makan jajanan pinggir jalan lalu pergi minum-minum sendirian di bar yang sering dia kunjungi. Hari itu di bar ada pasangan yang mengadakan pesta ultah.

Bong Hee tampaknya sudah mulai mempercayai Hyun Soo. Tapi Ji Wook tidak dan terus memperhatikan setiap ekspresinya. Dia tampak semakin curiga saat melihat ekspresi aneh Hyun Soo saat dia menatap Bong Hee.

Bersambung ke episode 12

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon