Powered by Blogger.

Images Credit: SBS

Sinopsis Suspicious Partner Episode 3


Kita kembali sebelum pembunuhan itu terjadi, Bong Hee sedang menulis surat ungkapan terima kasih untuk Ji Wook. Bahwa selama 3 bulan ini, dia banyak belajar tentang semangat hukum dari Ji Wook . Tapi pada akhirnya dia meremas kertasnya, siapa yang dia bohongi sebenarnya.

Dia lalu membuka buku diary-nya dimana dia menulis curhatan tentang Ji Wook yang nyebelin seperti biasanya hari ini. Tapi saat teringat Ji Wook yang menasehatinya untuk melupakan mantannya saja dan hidup dengan baik, senyum Bong Hee merekah seketika sampai-sampai dia tidak sadar saat tangannya menulis "Tapi dia keren."


Dia kontan ketawa histeris waktu dia sadar sampai kursinya terjungkal dan saat itulah tiba-tiba dia teringat saat dia menjatuhkan Ji Wook ke sofa lalu monyongin bibir dengan gaya menggoda. Awalnya Ji Wook memang kaget, tapi kemudian dia mulai terpesona lalu menarik wajah Bong Hee... Oh, apakah mereka kiss?


Entahlah, karena Bong Hee tidak bisa mengingatnya lagi setelah itu. Panas gara-gara kenangan malam yang sulit diingatnya itu, akhirnya dia membuka jendela tanpa memakai kacamata.

Bong Hee bernarasi bahwa setiap kejadian selalu ada sebab dan akibat, "Tapi masalahnya adalah... di sinilah masalahnya dimulai. Terkadang kita tidak bisa menemukan sebabnya."


Karena pandangan matanya yang buram, dia sama sekali tidak melihat di atap gedung yang agak jauh dari sana, ada seorang pria bercadar tengah menggotong sesuatu, mungkin mayat. Pria itu sontak kaget melihat Bong Hee, sama sekali tidak menyadari kalau Bong Hee sebenarnya rabun jauh.

"Sesuatu pasti terjadi, tapi kita tidak akan pernah menemukan alasan kenapa itu terjadi."

Setelah Bong Hee menutup jendela, si pembunuh itu cepat-cepat memasukkan mayat itu kedalam tandon. Dia berjalan pergi, sementara kita mendengar Bong Hee berkata "Sama seperti bagaimana sekarang aku tidak bisa mengetahuinya."


Hee Joon datang saat Bong Hee keluar. Dia mengira Bong Hee sudah mengganti passcode pintunya, tapi ternyata tidak. Hee Joon pun masuk, tapi tepat sebelum pintu sempat menutup, si pembunuh mencekalnya. Hee Joon menoleh dan langsung mendelik shock.


Bong Hee pulang sambil melompat-lompat riang tepat saat si pembunuh pergi dengan mengayuh sepedanya. Saat mereka berpapasan, Bong Hee mendengar suara siulannya. Si pembunuh tampaknya baru mengenali wanita yang dilewatinya barusan hingga dia langsung berhenti dan menoleh ke Bong Hee.

Langkah Bong Hee juga terhenti, mungkin karena dia menyadari tatapan pria itu. Tapi saat dia berbalik, pria itu buru-buru pergi mengayuh sepedanya. Bong Hee akhirnya melanjutkan perjalanannya pulang.


Tapi sesampainya di rumah, dia malah mendapati Hee Joon terkapar di sana dalam keadaan sudah tak bernyawa. Saat listrik akhirnya menyala, petugas datang dan Bong Hee meringkuk dan gemetaran di pojokan, sementara si pembunuh membuang senjatanya di rerumputan.

"Suatu akibat yang mendatangiku tanpa aku tahu apa sebabnya. Ini adalah sebuah insiden yang sial, keras dan begitu tiba-tiba."


Bong Hee masih menatap darah di tangannya yang gemetaran saat polisi menginterogasinya. Shock membuatnya sulit fokus pada sekitarnya, tapi dia buru-buru mengomeli dirinya sendiri untuk sadar. Jawaban pertama itu yang paling penting.

Maka dia langsung berusaha menyadarkan dirinya dengan menampari dirinya sendiri dan mengkonfirmasi bahwa statusnya sekarang adalah tersangka dan bukannya saksi. Dia menyadari orang yang paling dicurigai biasanya memang orang terdekat korban atau orang pertama yang menemukan mayat, ditambah dengan TKP dan kondisinya saat itu. Jadi mungkin saja dia kelihatan seperti tersangka.

"Dia mengakuinya," komentar seorang polisi.

"Aku bilang mungkin, bukan berarti aku pelakunya!"

Dia berusaha meyakinkan mereka kalau mereka sudah salah menyasar orang yang sebenarnya tidak bersalah sebagai tersangka. Pembunuh yang sebenarnya adalah orang lain dan seharusnya mereka mencari orang itu. Jika tidak maka dia akan menghilang dan mereka akan kehilangan saksi dan bukti.


Tapi tepat saat itu juga, Ji Hye datang dan langsung marah-marah melabrak Bong Hee. Dia sungguh tak menyangka kalau Bong Hee ternyata akan benar-benar membunuh Hee Joon. Dia memang sudah mencampakkan Bong Hee, tapi apakah dia pantas dibunuh hanya karena itu.

Bong Hee berusaha meyakinkan bukan dia pembunuhnya. Tapi tentu saja Ji Hye tak percaya mengingat selama ini Bong Hee terus menerus menyanyikan lagu tentang membunuhnya. Bong Hee terus berusaha meyakinkan semua orang kalau dia bukan pelakunya, tapi pada akhirnya dia tetap dicap sebagai tersangka.


"Jika aku bisa memberikan spoiler tentang hidupku di masa lalu, aku akan memberitahukan ini kepadanya (dirinya di masa lalu): Eun Bong Hee, jangan pernah mempercayai pria. Pria itu cuma membuat masalah dalam hidupmu."


Ji Wook memimpikan masa kecilnya saat dia bertemu seorang biksu yang menasehatinya untuk berhati-hati terhadap wanita. Saat pria bertemu dengan wanita yang sama atau sebaliknya maka hidupnya akan berakhir. Biksu meramalkan akan ada satu wanita seperti itu dalam hidup Ji Wook nantinya.

Ji Wook akan kena masalah besar jika dia bertemu wanita itu. Wanita yang benar-benar akan menghancurkan hidupnya. Ji Wook kecil bertanya siapa wanita itu. Tapi tepat saat itu juga, Ji Wook terbangun dari mimpinya.


Bawahannya Ji Wook, Tuan Bang, cemas melihat Ji Wook yang cuma tertidur 17 menit. Ji Wook mendesah, seandainya ada seseorang yang bisa membantunya tidur nyenyak maka dia rela memberikan seluruh jiwa raganya untuk orang itu.

"Kudengar kau bisa insomnia jika tempat tidurmu terlalu besar. Kau mungkin akan tidur seperti bayi jika kau bertemu wanita yang baik," goda Tuan Bang.

Boro-boro, Ji Wook malah bermimpi tentang seorang wanita yang tidak boleh dia temui. Dulu waktu dia kecil, ada seorang biksu gadungan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Waktu itu, Biksu itu mengatakan sesuatu hal yang tidak masuk akal padanya.

Dia sudah lupa tapi tiba-tiba saja dia memimpikan hal itu lagi. Tapi dia tidak begitu ingat apa yang dikatakan Biksu itu, tentang wanita yang tidak seharusnya dia temui... Tepat saat itu juga, Bong Hee meneleponnya. Tuan Bang langsung menyahut, Bong Hee kah wanita yang dimaksud Biksu itu?


Bong Hee dengan agak ragu memberitahu Ji Wook kalau dia ditahan tanpa surat perintah. Ji Wook mengira kalau Bong Hee ditahan karena mabuk. Ji Wook langsung menyebutkan berbagai tuduhan yang mungkin dilakukan Bong Hee, tapi Bong Hee menyangkal semuanya. Terus apa?

"Pembunuhan." Jawab Bong Hee. Mungkin karena saking tak percayanya, Ji Wook langsung ketawa histeris. Tapi tawanya menghilang dengan cepat.


Dia langsung pergi menemui Bong Hee di penjara dan langsung ngomel-ngomel kesal. Saking kesalnya, dia hampir saja menyerang Bong Hee. Tapi untunglah dia bisa menahan diri. Dengan takut-takut Bong Hee mengakui ada sesuatu yang salah, tapi dia sungguh tak tahu apa kesalahannya.

"Tatap aku! Biar aku melihat wajahmu yang tidak tahu malu itu! Tatap aku!"


Bong Hee menurutinya. Tapi dia berusaha meyakinkan Ji Wook kalau dia sebenarnya tak pernah menginginkan ini terjadi, tapi tetap saja terjadi. Oke, anggap saja dia salah. Tapi yang dia lakukan tadi hanyalah keluar untuk membeli bir dan saat dia kembali, segalanya sudah jadi seperti ini.

"Aku sama sekali tidak mengerti kenapa hal seperti itu harus terjadi. Aku tidak bisa mempercayainya dan aku ketakutan. Tapi hanya kau satu-satunya orang yang kupercayai."

"Kenapa kau mempercayaiku? Jangan."

"Aku akan mempercayaimu. Hanya kau orang terdekatku yang mengetahui hukum dan punya kekuatan."

Tercengang mendengar ucapan Bong Hee, Ji Wook menyuruhnya ganti baju dan mandi, baju itu harus diserahkan sebagai bukti.


Saat dia mandi, Bong Hee menyeka darah di tangannya yang terus membuatnya teringat akan mayat Hee Joon. Saat itulah akhirnya dia benar-benar sadar kalau Hee Joon sudah meninggal. Kesadaran itu kontan membuat tangisnya pecah.

Dia mengakui kalau dia sebenarnya sangat menyukai Hee Joon. Walaupun Hee Joon mengkhianatinya, mencampakkannya dan menyakitinya, tapi sebenarnya dia tidak benar-benar berharap kalau Hee Joon salah.

"Kumohon, beristirahatlah dengan tenang. Aku akan mendoakanmu setulus hati. Tapi... kenapa kau harus mati di tempatku? Dari segala tempat di di bumi ini, kenapa kau harus mati di tempatku?! Apa kau memang berniat mengacaukan hidupku?! Memangnya apa yang yang sudah kulakukan sampai aku harus mendapatkan semua ini, brengs*k!"

Tapi sedetik kemudian, dia menyesali rutukannya dan meminta maaf pada almarhum. Dia sungguh tak pernah menginginkan Hee Joon untuk mati.


Sementara itu di kamar mayat, Jaksa Wilayah Jang, Ayahnya Hee Joon menatap jenazah putranya dengan penuh amarah. Beberapa polisi di belakangnya menggosipkannya. Jaksa Jang lalu menutupi jenazah putranya dan menanyakan tersangka yang katanya sudah ditahan itu.

Keesokan harinya, Ji Wook dan kedua bawahannya menonton berita Bong Hee membunuh Hee Joon. Berita itu menyebutkan kalau tersangka membunuh korban karena tidak terima diputusin. Tepat saat itu, mereka mendapat telepon dari kantor Jaksa Wilayah.

"Firasat buruk biasanya selalu benar," batin Jin Wook.


Beberapa saat kemudian, dia sudah duduk di hadapan Jaksa Jang dengan wajah murung. Beberapa jaksa lainnya, merekomendasikan Jaksa Jang untuk memakai Ji Wook dalam kasus ini. Dia yang terbaik dalam menangani kasus kriminal, dia hebat dalam membuat tersangka mengakui kejahatan mereka.

"Tolong investigasilah kasus ini dengan adil. Buktikan kalau hukum masih hidup." Pinta Jaksa Jang.

Ji Wook hanya membisu dan membatin, "Ini adalah situasi yang paling buruk."


Saat Bong Hee tiba, para wartawan langsung mengerubunginya dan rebutan menanyainya. Kenapa dia membunuhnya, apakah pembunuhan ini sudah direncanakan atau impuls, dll. Saat Bong Hee tak menjawab, seorang wartawan menampik kacamatanya sampai terlepas. Si wartawan makin heboh dan salah seorang langsung meraih maskernya sampai lepas.

Kontan mereka langsung heboh memotreti wajah Bong Hee, sementara Bong Hee hanya bisa menunduk ketakutan karena semua kamera itu. Kacamatanya bahkan langsung hancur terinjak-injak.

 

Ji Wook datang untuk menginterogasinya. dia mulai membacakan hak-haknya Bong Hee saat dia teringat peringatan salah satu jaksa yang memerintahkannya untuk membuat Bong Hee mengaku dan tuntut dia dengan hukuman paling berat, jika Ji Wook gagal maka dia akan dipecat dan tidak akan bisa lagi bekerja sebagai jaksa.

Dengan dinginnya dia bertanya apakah Bong Hee mengakui dirinya sebagai pelaku. Saat Bong Hee masih diam, Ji Wook menunjukkan pernyataan si kasir mini market yang mengakui memang ada pelanggan datang malam itu tapi dia tidak mengingat wajahnya.


Bong Hee menyela, "Aku tidak bisa mendengarmu."

Ji Wook meninggikan suaranya. Malam itu ada pemadaman, CCTV rusak sehingga tidak ada apapun yang bisa membuktikan kalau Bong Hee sedang berada di luar saat pembunuhan terjadi. Sudah dengar sekarang? Bong Hee mengiyakan, tapi dia mengoreksi kalau sebenarnya dia tidak bisa melihat Ji Wook dengan jelas.

Dia tidak diizinkan memakai lensa kontak dan seorang kunyuk... maksudnya, seorang rporter menginjak kacamatanya tadi. Anehnya, saat dia tidak bisa melihat dengan jelas, dia juga tidak bisa mendengar dengan baik.

"Aku tidak bisa melihat ekspresimu. Sulit bagiku untuk menerka bagaimana perasaanmu atau apa yang kau pikirkan."

"Terus?"


Sesaat kemudian, Bong Hee sudah pindah duduk di dekatnya Ji Wook dan menatapnya lekat-lekat saat Ji Wook nyerocos dengan manisnya. Dia mengerti bagaimana situasi Bong Hee saat ini, dia mengerti keputusasaan Bong Hee malam itu karena dikhianati Hee Joon. Jadi...

"Tidak akan berhasil padaku," sela Bong Hee. "Aku sudah sering melihatmu menginterogasi banyak orang. Kau sedang berusaha untuk menenangkanku dengan bicara manis."

Jadilah Ji Wook ganti taktik sok kejam, marah-marah dan membanting dokumen di hadapan Bong Hee. Tapi Bong Hee tetap santai, ini juga tidak akan berhasil. Aish! Ji Wook mulai frustasi sekarang.


Akhirnya dia duduk tenang kembali dan memberitahu kalau Bong Hee akan tetap dituntut karena dia punya motif yang jelas dan tidak punya alibi. Selain itu, korban itu terbunuh di rumah Bong Hee dan tak ada tersangka lain selain Bong Hee.

"Tapi aku tidak membunuhnya."

"Itu tidak penting," ujar Jin Wook. Dia tidak mengatakannya, tapi dalam hatinya dia berkata. "Kau bersalah atau tidak, kau akan tetap mendapatkan vonis hukum paling berat. Hanya dengan cara itu, aku bisa menyelamatkan karirku."

Bingung dengan pernyataan Ji Wook tadi, Bong Hee bertanya-tanya apakah Ji Wook mempercayainya. Dia yakin Ji Wook mempercayainya. "Aku yakin kau ada di pihakku. Kau satu-satunya harapan yang kumiliki sekarang."


Ji Wook diam teringat ucapan Biksu di masa kecilnya dulu. Saat Ji Wook kecil bertanya siapa wanita yang akan menghancurkan hidupnya itu, Biksu berkata bahwa Ji Wook hanya akan mengetahuinya jika sudah bertemu dengan wanita.

Ji Wook langsung mendengus miris, "Aku jadi tidak beradab. Karenamu, aku jadi mempercayai omongan si Biksu gadungan itu. Dia bilang aku akan mengetahuinya jika sudah bertemu wanita itu. Sekarang aku tahu siapa wanita itu. Dia adalah... kau, Bong Hee."


Tuan Byun sedang bersama Eun Hyuk sambil mendiskusikan kasus Bong Hee. Eun Hyuk mengaku pernah bertemu dengan wanita ini dan dia memang sangat menakutkan. Dia bertanya-tanya apakah Bong Hee menyewa pengacara.

Tuan Byun tak yakin, Ayah korban adalah jaksa wilayah, pengacara mana yang mau membela Bong Hee. Kalau begitu, Eun Hyuk menduga kalau mereka akan menggunakan jasa pembela umum.

Tuan Byun menduga kalau mereka mungkin akan memberinya pembela umum paling buruk di negeri ini. Tepat saat itu juga, Eun Hyuk tiba-tiba dikejutkan oleh telepon dari Ji Wook. Sekian lama, baru ini Ji Wook meneleponnya.


Ji Wook dengan sangat terpaksa meminta bantuannya Eun Hyuk. Tapi begitu dia mematikan teleponnya, dia langsung heboh garuk-garuk tubuhnya sampai Tuan Bang prihatin sendiri melihat tingkah gila Ji Wook.


Ibunya Bong Hee datang membawakan kacamata lamanya. Kedua ibu dan anak itu saling berusaha untuk tegar sembari mengingat masa lalu. Tapi kemudian, Bong Hee cemas saat melihat koyo di tangan Ibu. Ibu meyakinkan Bong Hee untuk tidak mencemaskannya, ini bukan pertama kalinya. Dulu waktu ayah Bong Hee...

Entah apa yang hendak dikatakannya, tapi Ibu cepat-cepat menutup mulut dan beralih topik. Melihat apa yang diperhatikan Bong Hee, Ibu langsung menutupi lengannya dan meyakinkan Bong Hee untuk tidak mencemaskannya. Bong Hee berkaca-kaca sedih tapi tetap berusaha untuk tetap tegar dan meyakinkan Ibu kalau dia ditakuti para tahanan lain.

Mereka terus saling menunjukkan senyum tegar saat polisi menyeret Bong Hee kembali ke selnya. Tapi Ibu tak bisa lagi menahan emosinya saat Bong Hee sudah menghilang dari pandangannya.


Eun Hyuk mondar-mandir gelisah di ruang interogasi menunggu Bong Hee. Dia menempelkan kepalanya di pintu, tepat saat Bong Hee membuka pintu dan jadilah kepalanya terbentur pintu lagi. Eun Hyuk ketawa garing, Bong Hee memukul kepalanya lagi.

Saat mereka duduk bersama, Eun Hyuk memperhatikan penampilan Bong Hee dan hampir saja tak bisa menahan tawa. Dia terus berusaha menahan senyum gelinya saat memberitahu kalau dia ditunjuk jadi pengacaranya Bong Hee. Bong Hee sampai heran sendiri melihat tingkahnya, apaan sih?

"Kacamatamu. Aku tidak bermaksud bilang kalau itu lucu, tapi kacamata itu tampak menetralkan wajahmu yang menakutkan. Itu bagus, taktik yang bagus."


Bong Hee mengucap terima kasih dengan bingung. Justru Eun Hyuk lah yang berterima kasih padanya. Soalnya berkat Bong Hee, Ji Wook jadi meneleponnya. Apa hubungan Bong Hee dan Ji Wook? Bong Hee heran sendiri, memangnya Eun Hyuk tak punya pertanyaan lain untuknya.

Tentu saja ada, "Apa kau membunuh Jang Hee Joon?"

"Tidak."

Bukannya tanya-tanya lagi, Eun Hyuk malah cuma bilang. "Aku tahu segalanya sekarang, hahahaha."


Jin Wook dan Tuan Bang sedang menyelidiki area sekitar TKP dan mendapati CCTV terdekat rusak dan karena daerah ini masih dalam proses konstruksi jadi masih banyak bangunan kosong. Tuan Bang berkomentar kalau tempat ini sempurna untuk melakukan pembunuhan. Ji Wook berkomentar kalau tempat ini memang cocok untuk Bong Hee.

Tuan Bang melapor kalau mereka sama sekali belum menemukan senjata pembunuhannya di manapun. Tapi dia sudah menghubungi semua kantor polisi di daerah Seoul dan Gyeonggi untuk melapor ke mereka kalau mereka menemukan senjata yang panjangnya 13cm dan lebar 3,5cm. Tapi Tuan Bang tidak mengerti kenapa Ji Wook melakukan ini.



"Aku hanya membuka kemungkinan. Seperti yang dikatakan Bong Hee, mungkin saja pelakunya adalah orang lain"

Bersambung ke part 2

5 comments

Whuaaa sudah ada.... Ditunggu ep 4 nya mbq. Semangat nulisnya ya.

Sepertinya kita bisa percaya sama swnim jg kali ini. Udah pengalaman mah swnim sama drama kriminal dicampur kecute.an pemainnya haha. Meski ga terlalu fresh ceritanya tp tetep tetep nyegerin drama-drama sekarang. Lumayan nih^^

Ji chang wook..keren..mksih sinopnya..

Ji chang wook..keren..mksih sinopnya..

Mkasih.... Smg bs c4 update smwnya y...

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon