Powered by Blogger.

Images Credit: SBS

Sinopsis Suspicious Partner Episode  4


Mereka lalu masuk ke rumah Bong Hee. Ji Wook masuk ke balkon dan teringat pernyataan Bong Hee kalau pernah membuka jendela sekitar pukul 12.30 malam itu tapi dia tidak melihat apa-apa karena dia sedang tidak pakai kacamata.

Ji Wook jadi bertanya-tanya, apakah mungkin Bong Hee sebenarnya menyaksikan sesuatu malam itu tapi dia tidak mengetahui apa yang dilihatnya. Dan karena itukah...

Dia langsung menanyai Tuan Bang tentang segala kasus yang diselidikinya di sekitar wilayah ini. Tapi Tuan Bang melapor kalau dia tidak mendapatkan apapun. Ji Wook pun memerintahkannya untuk memeriksa keberadaan wara sekali lagi untuk jaga-jaga.


Melihat tempat pembunuhan, Ji Wook membayangkan bagaimana Hee Joon terbunuh saat dia baru masuk lalu terjatuh kedalam rumah. Ji Wook yakin si pembunuh masuk kedalam rumah ini dan menikam korban. Mengedarkan pandangannya, perhatian Ji Wook tertarik pada foto masa kecil Bong Hee, sepertinya dia pernah melihatnya di suatu tempat.


Tuan Bang membuka buku diary-nya Bong Hee tapi langsung melotot melihat berbagai curhatan Bong Hee tentang Ji Wook. Ji Wook penasaran dia lihat apa. Tuan Bang buru-buru menyembunyikannya, tapi langsung mengulurkan tangan menuntut benda itu. Kontan dia langsung melotot membaca semua cacian Bong Hee tentang dirinya.

"Itu membuatku berpikir kalau dia mungkin ingin membunuhnya dan bukannya Tuan Jang," komentar Tuan Bang.


Sementara Tuan Bang mengangkat telepon, Ji Wook mengedarkan pandangannya dan tiba-tiba saja dia melihat sesuatu dibawah kulkas. Dia hendak mengambilnya saat Tuan Bang memberitahunya kalau senjata pembunuhannya sudah ditemukan di sebuah tempat yang berjarak 7km dari sini. Panjang dan lebarnya sesuai dengan luka tusuk di tubuh Hee Joon.

Tapi kemudian Ji Wook mengambil benda dibawah kulkas itu dan ternyata itu juga sebuah senjata yang sama persis seperti senjata yang digambarkan Tuan bang, "Pasti terlihat seperti ini."

Flashback,


Jaksa Jang marah-marah pada Ji Wook karena Bong Hee masih saja belum didakwa. Ji Wook beralasan kalau tersangka belum didakwa karena masih perlu penyelidikan lanjutan. Mereka perlu bukti langsung seperti senjata pembunuhan dan saksi mata. Selain itu, tersangka juga belum mengakuinya.

Tapi Jaksa Jang tampaknya sudah bertekad untuk menetapkan Bong Hee sebagai pelaku dan menjebloskannya ke penjara. Dia bahkan berkata kalau Ji Wook akan mendapatkan bukti sebentar lagi. Ah, karena itulah Ji Wook tiba-tiba menemukan senjata itu di bawah kulkas.

Flashback end.


Tuan Bang tentu saja keheranan melihat senjata itu padahal mereka sudah berulang kali menggeledah tempat ini dan tak pernah menemukan apapun. Ji Wook yakin kalau mereka akan menemukan dua senjata.

Mereka lalu pergi membawa kedua senjata temuan mereka itu ke Pusat Forensik dan memita petugas forensik untuk merahasiakannya terutama senjata yang mereka temukan di tempat lain itu.


Di ruang interogasi, Bong Hee bertanya-tanya berapa IQ-nya Eun Hyuk. Eun Hyuk dengan bangga menjawab 143. Bong Hee mengaku IQ-nya cuma 101, tapi dia lulus ujian dengan IQ segitu. Dulu dia seorang atlet. Menurut Eun Hyuk, berapa banyak usaha yang harus dilakukannya untuk bisa lulus ujian pengacara.

Setiap hari dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, haruskah dia menghentikan semua ini dan cari uang saja untuk membantu keluarganya. "Belajar itu sulit, tapi melihat ibuku harus berjuang itu lebih sulit lagi. Begitulah aku bisa sampai sejauh ini. Tapi semua waktu dan usahaku itu... akan sia-sia. Jadi tolong jangan anggap ini sebagai lelucon."

Dia juga tidak mau Eun Hyuk berpikir untuk membantunya hanya karena kasihan. Hidup dan keluarganya dipertaruhkan dalam hal ini.


Eun Hyuk lalu mengajak Ji Wook ketemuan, tapi Ji Wook tak mau satu meja dan duduk di meja depan. Ji Wook beralasan kalau dia meminta Eun Hyuk untuk menjadi pengacaranya Bong Hee adalah... errr... itu karena haknya mendapatkan pengacara tidak dihormati. Itu saja alasannya.

Yah, Eun Hyuk tahu. Dia yakin tak ada pengacara yang mau membantunya. Dia mau melakukan ini juga karena Ji Wook yang meminta. Dia berjanji akan melakukan yang terbaik sebagai pengacaranya Bong Hee.

"Aku tidak pernah melarangmu."

"Maksudku, aku akan mengalahkanmu, Jaksa No."

"Berusalah semampumu untuk mengalahkanku."

"Kau tidak akan menyerah? Kau mau menghukum dan mengurungnya?"

"Jaksa macam apa yang menuntut kasus lalu menyerah dan kalah?"

"Begitu."


Ji Wook mengakhiri pertemuan mereka dari sini dan langsung beranjak pergi. Eun Hyuk mengejarnya dan berusaha mengajaknya minum kopi. Ji Wook menolak, Eun Hyuk sudah lupa apa. Dia tidak tahan melihat Eun Hyuk barang sedetikpun.

"Kau masih belum memaafkanku?" tanya Eun Hyuk.

Kelamaan nunggu lift, Ji Wook langsung lari lewat tangga dan membenarkan pertanyaan Eun Hyuk. Eun Hyuk terus saja mengejarnya dan bertekad untuk terus memohon. Pokoknya dia tidak mau melepaskan Ji Wook, Ji Wook adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya.

"Ji Wook, kau datang ke sidang, kan? Sampai ketemu di pengadilan. Sampai ketemu lagi. Ji Wook, aku mencintaimu."


Ji Wook langsung membanting pintu ruang interogasi dan langsung ngamuk-ngamuk menyalahkan Bong Hee yang sudah membuatnya harus menemui seseorang yang tak ingin diajaknya bicara lagi. Bong Hee bingung, apa lagi salahnya sekarang?

"Semua yang kau lakukan itu salah! Kau adalah lambang kesalahan! Keberadaanmu sendiri saja itu kesalahan!"

Bong Hee langsung menatapnya sedih. Tak enak juga melihat ekspresi Bong Hee, Ji Wook langsung ganti topik menanyakan perkembangan interogasi. Tuan Bang malah bilang kalau mereka belum makan jadi mereka barusan sedang memutuskan menu makan siang.


Saat Bong Hee menikmati Jjajangmyeon-nya, Ji Wook menatapnya sambil teringat tentang percakapannya dengan Tuan Bang tadi. Bahwa jika kedua pisau sama-sama memiliki darah Hee Joon, maka sudah pasti Bong Hee tidak bersalah.

Ji Wook memberitahunya bahwa hari ini adalah terakhir kalinya dia menginterogasi Bong Hee sebagai tersangka, jadi sebentar lagi Bong Hee akan menjadi terdakwa. Dia mengalihkan fokus pada dokumennya saat Bong Hee berkata kalau dia mempercayai Ji Wook.

"Aku yakin kau percaya padaku. Aku sungguh percaya padamu. Itu satu-satunya pilihan yang kumiliki saat ini."


Hari persidangan pertama pun akhirnya tiba. Ji Wook hanya menatapnya sekilas sebelum disang dimulai. Dia lalu membuka sidang dengan menuduh Bong Hee berencana membunuh Jang Hee Joon setelah diselingkuhi lalu pada 11 mei 2015, dia memancing korban ke rumahnya lalu membunuhnya. Dan karenanya dia menuntut Bong Hee dengan UU pidana.


Ji Hye menjadi saksi pertama yang mengaku kalau dia sering melihat terdakwa mengancam akan membunuh korban. Bukan cuma dia, banyak teman-teman kelas mereka yang menyaksikan saat Bong Hee marah-marah dan bersumpah akan membunuh korban.

Tapi Eun Hyuk tidak merasa itu sebagai suatu ancaman serius. Saat orang kesal, mereka bisa dengan mudahnya mengucapkan kalimat semacam itu. Tapi orang-orang yang mengatakan itu, benar-benar mati? Ji Hye ngotot kalau Bong Hee serius dengan ucapannya. Dia bisa menjadi pembunuh yang potensial setelah dia mengatakan ancaman itu.

Eun Hyuk santai mengingatkan Ji Hye tentang saat dia marah-marah di kantor polisi. Waktu itu dia juga mengancam akan membunuh Bong Hee. Ji Hye langsung gelagapan ingin menjelaskan, tapi Eun Hyuk menyela dan bertanya.

"Anda serius dengan ucapan anda. Itu bukan lelucon, kan? Lalu apakah itu juga membuat anda menjadi pembunuh petensial?"


Seorang rekan mereka juga bersaksi kalau Bong Hee sering menyanyikan lagu-lagu aneh tentang kebencian dan dendam dan sering mengganti liriknya dengan kata-kata membunuh. Tapi Eun Hyuk kemudian bertanya padanya, dia sudah 3 kali berusaha mengajak Bong Hee kencan dan ditolak. Jika Bong Hee memang sekejam itu, lalu apakah mungkin dia akan berpikir untuk mengajaknya kencan.


Dalam kesaksiannya, Bong Hee mengakui kalau dia memang mengancam dan mengutuk korban. Tapi itu cuma reaksi refleks dari kemarahannya, dia tidak pernah berniat untuk benar-benar membunuhnya. Jika dia memang punya niat untuk membunuhnya maka tidak akan mungkin dia mengumumkannya kepada dunia. Orang tidak selalu serius saat bertindak.

Tapi kemudian dia malah berkata kalau dia yakin ada banyak wanita yang ingin membunuh pacar atau suami mereka pada waktu tertentu. Eun Hyuk langsung panik mendengar kata-kata Bong Hee itu dan para penonton kasak-kusuk menggosipkannya.

Reporter tak buang waktu mengetik omongan Bong Hee yang kontroversial tadi. Berita itu pun viral dengan cepat di berbagai media.


Ji Wook buru-buru mendatangi Pusat Forensik untuk mendapatkan hasil laporan kedua pisau itu dan hasilnya kontan membuat Ji Wook frustasi.


Saat Ji Wook baru tiba di depan gedung pengadilan, dia melihat Bong Hee yang langsung diserbu wartawan. Saat persidangan kedua dimulai, Ji Wook mengajukan pisau yang ditemukannya di rumah Bong Hee sebagai bukti tambahan tapi dengan sengaja dia menyembunyikan fakta tentang pisau kedua.

Eun Hyuk jelas langsung mengajukan keberatan dengan munculnya bukti yang tiba-tiba itu padahal sebelumnya tak pernah ditemukan senjata apapun di TKP. Dokter forensik pun dipanggil sebagai saksi ahli dan dia membenarkan jika bentuk senjata itu hampir identik dengan bentuk luka di tubuh korban.


Eun Hyuk bertanya-tanya, mungkinkah DNA korban pada senjata itu bisa dibuat. Dokter menjawab ambigu bahwa klaimnya Eun Hyuk bukan tidak mungkin, tapi dia juga tak bisa membuktikan klaim itu mungkin.

"Jadi mungkin saja," Eun Hyuk menyimpulkan.



Selama Ji Wook membacakan argumen penutupnya, dia mengingat masa kecilnya yang bahagia bersama mendiang ayahnya yang juga seorang jaksa. Dulu ayahnya pernah bilang kalau dia kehilangan saudaranya karena penjahat.

Ayahnya menjadi seorang jaksa karena itu. Beliau adalah seorang jaksa yang menjauhkan diri jaksa politik dan korup dan berjuang melawan penjahat di persidangan. "Ayahku adalah pahlawanku."

Karena kemudian Ayahnya meninggal dunia, dan menjadi korban kejahatan sama seperti saudaranya. "Aku ingin memenuhi impian ayahku yang tak bisa beliau penuhi. Aku ingin menjadi seperti ayahku. Aku ingin melawan kejahatan seperti ayahku dan menangkap penjahat sebanyak mungkin. Dan suatu hari aku mati sebagai jaksa. Tapi..."



Ji Wook tampak berat saat dia mengajukan tuntutan hukuman maksimum untuk Bong Hee. Dia menuduh Bong Hee melakukan pembunuhan berencana, tidak menyesali kejahatannya. Dia bahkan menuduh Bong Hee berbohong selama persidangan.

"Pihak keluarga korban juga menuntut hukuman seberat-beratnya. Dengan mempertimbangkan hal ini maka menurut KUHP 250... saya meminta agar dia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara."

Tapi dia tampak merasa bersalah saat mata mereka bertemu kemudian. Nuraninya tercabik antara karirnya atau kepercayaan Bong Hee padanya. Saat Eun Hyuk tengah menyampaikan argumen penutupnya, Ji Wook tiba-tiba bangkit kembali.

 

Menyingkirkan keraguannya, akhirnya dia berkata kalau dia ingin mengajukan bukti tambahan dan mengakui bahwa sebenarnya ada senjata satu lagi yang ditemukan. Dia mengeluarkan pisau kedua beserta hasil uji forensiknya dan mengakui bahwa kedua senjata ditemukan pada hari yang sama namun di tempat yang berbeda dan darah Hee Joon ada di kedua senjata ini.

Dia menunjukkan peta tempat ditemukannya senjata itu. jaraknya sekitar 7km dari TKP. Mengingat waktu pembunuhan dan waktu respon kedatangan ambulance, maka tidak mungkin terdakwa punya waktu untuk membunuh dan membuang senjatanya di tempat sejauh itu keculi kalau dia punya kaki tangan yang bisa membuang senjatanya, atau superhero yang bisa berteleportasi.


"Tapi mengapa anda mengajukan bukti ini sekarang?" tanya Hakim.

Ji Wook mengakui kalau dia sengaja mengecualikan bukti ini karena baginya, melanjutkan persidangan lebih penting daripada kebenaran itu sendiri. Jika ada dua senjata pembunuhan, maka berarti salah satunya adalah bukti buatan.

"Jadi, menurut pasal 255 Hukum Acara Pidana... saya membatalkan tuntutan saya."


Persidangan langsung heboh karenanya, Bong Hee tercengang menatap Ji Wook. Ibu bingung apa yang tengah terjadi sebenarnya.

Tuan Byun dengan senang hati menjelaskan kalau si jaksa itu sedang menggali kuburannya sendiri. Dia akan membebaskan terdakwa. Jaksa itu mengakhiri kasus ini dengan tangannya sendiri. Bong Hee akan dibebaskan. Walaupun frustasi dengan keadaan ini, tapi tampak terbersit senyum kecil di bibir Ji Wook.


Para wartawan langsung menyerbunya saat Ji Wook baru keluar, tapi Ji Wook terus berjalan pergi mengacuhkan mereka. Bong Hee keluar saat itu dan wartawan pun langsung ganti mengerubunginya tapi Bong Hee terus menjulurkan lehernya menatap kepergian Ji Wook.

Saat dia hendak masuk bus, tiba-tiba dia mendengar suara siulan yang sama seperti yang didengarnya malam itu. Tapi saat dia mengedarkan pandangannya, dia tidak mendapati seorangpun yang tampak mencurigakan.


Ji Wook pun langsung kena tamparan keras berulang kali oleh Jaksa Jang gara-gara ulahnya itu. Malam harinya dia bertemu dengan Tuan Byun yang bertanya-tanya apakah Ji Wook melakukan itu karena takut kejaksaan akan naik banding walaupun Bong Hee dibebaskan.

"Entahlah," desah Ji Wook. Tuan Byun penasaran, apa sebenarnya hubungan Ji Wook dengan Bong Hee hingga dia melakukan ini untuknya.

"Takdir."


Di rumah, Bong Hee memberitahu Ibunya bahwa jaksa tidak akan bisa naik banding karena sekali jaksa membatalkan tuntutan, dia tidak bisa menuntut lagi, kecuali mereka menemukan bukti lain yang bisa membuktikannya bersalah.

"Jaksa berkorban besar untukku, Ibu."

Saat dia membuka-buka diary-nya, dia terkejut mendapati tulisan yang sebelumnya tak pernah ada. Tulisannya Ji Wook menanggapi rutukan tentang dirinya. Senang, Bong Hee langsung memeluk buku diary itu.


Ji Wook dipecat dari kejaksaan gara-gara itu. Tuan Bang berat berpisah dengannya. Dia kecewa dengan hati nuraninya Ji Wook, dia pikir Ji Wook akan bisa mengabaikan kebenaran dengan mudah. Mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dan jubah jaksanya untuk yang terakhir kalinya, Ji Wook pun melangkah pergi.


Bong Hee kembali ke kejaksaan sembari berpikir kalau awalnya dia takkan pernah bisa lagi mempercayai pria. "Tapi aku mulai percaya dan menyukai seseorang lagi."

Tepat saat itu juga, dia melihat Ji Wook keluar. "Dia adalah pria itu. Orang yang menyelamatkanku."

Bong Hee menghampirinya dengan senyum, tapi Ji Wook berjalan mendekat dengan wajah dingin. Dia berkata kalau dia pikir mereka bertemu karena takdir. Bahagia, Bong Hee juga berkata kalau dia pikir Ji Wook adalah takdirnya.

Tapi kemudian Ji Wook menyela dan meneruskan "Takdir yang buruk. Jadi, sebaiknya kita tidak saling bertemu lagi."

Bersambung ke episode 5

5 comments

Ji wook-aaaaaaaa so sweet banget dirimu >< pantes ya rating episode ini naik. Gubrak banget liat jaksa gali kuburan sendiri hihi. Dan mmmmm jadi curiga sama eun hyuk ya. Apa yang bikin dia segitunya sama ji wook lol cinta segitiga yang aneh tp saya suka bromance. Oh swnim^^

Heeeeem,,, seru jg y crtanya...

Paling2 eun hyuk tu slingkuhan mntan pacar ji wook, mngkanya dia mnghindar krna bnci ��

Ji chang wook lagi galau aja kiutnya banged banged..

ji wookk keren kerreeen kereeeeennnn,,,hadechh pesonany tu lohhhh,,,,jd gk sbr nunggu sinop lnjutnny

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon