Powered by Blogger.

Images Credit: SBS

Sinopsis Suspicious Partner Episode 7


Entah bagaimana caranya si pembunuh masuk ke kantornya Bong Hee dan menaruh hadiahnya di atas meja. Mumpung lagi kosong, si pembunuh membuka-buka buku diary Bong Hee dan membaca curhatannya tentang Ji Wook.

Dan juga buku catatan khusus tentang pembunuhan Hee Jun dan foto barang bukti berupa pisau itu. Dia asyik membaca-baca dengan santai dan menaruh satu set kuncinya di atas meja.


Tapi kemudian Bong Hee kembali dan langsung merebahkan dirinya di sofa dengan sedih. Saat hendak mengambil tisu, dia menemukan hadiah itu. Isinya sepatu yang dia lihat di toko sepatu waktu itu dan disertai sebuah pesan dari si pembunuh.

"Jika kau terus mencariku, maka aku akan menemukanmu duluan."


Dalam perjalanan pulang, Ji Wook keheranan teringat ucapan Bong Hee tadi, apa sih yang sebenarnya dia pikirkan. Tapi kemudian dia melihat bedaknya Bong Hee yang lagi-lagi ketinggalan.


Menyadari itu pesan dari pembunuh, Bong Hee langsung celingukan waspada. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dari Ji Wook. Dia mau bilang kalau bedaknya Bong Hee ketinggalan, tapi Bong Hee langsung menyela, sepertinya tadi ada seseorang di kantornya.

"Orang itu ada di kantorku. Pelaku yang membunuh Hee Jun..." tapi tiba-tiba dia merasakan sesuatu aneh. "Kurasa... sepertinya... dia masih ada di sini."

Firasatnya benar, si pembunuh ternyata bersembunyi dibalik pintu dan saat itu juga dengan santainya dia menyelinap keluar dan menutup pintu. Cemas, Ji Wook mewanti-wanti Bong Hee untuk tidak gegabah.


Tapi Bong Hee tidak mendengarnya dan langsung keluar untuk mengejar si pembunuh. Ji Wook sontak putar balik. Sementara Ji Wook berusaha ngebut secepat mungkin, Bong Hee menegur si pembunuh itu.

Dia sempat terdiam sejenak tapi langsung melarikan diri. Bong Hee nekat mengejarnya tapi kehilangan jejaknya setibanya di luar karena banyaknya orang yang berlalu lalang.


Ji Wook tiba saat itu juga dan langsung mencemaskannya. Tapi Bong Hee sama sekali tidak mempedulikan dirinya sendiri, malah menggerutu kesal karena kehilangan jejak si pembunuh.

Ji Wook mendesah lega menyadari dia baik-baik saja dan menatapnya dengan tatapan aneh, entah terpesona atau heran.


Gara-gara insiden itu, Ji Wook pun langsung menelepon Tuan Bang dan meminta bantuannya. Tuan Bang bertanya apakah dia harus mengirimkan tim forensik besok atau tidak. Yah, lakukan saja.

Tapi bagaimana dia bisa yakin kalau dia pembunuh yang sebenarnya. Ji Wook juga sudah lama mengundurkan diri sebagai jaksa, bukankah sudah saatnya Ji Wook berhenti bersikap seperti seorang jaksa yang sedang menginvestigasi kasus.

"Berhentilah mengomeliku dan selamat malam!" Bentak Ji Wook kesal sampai Bong Hee kaget sendiri dibuatnya.

 

Tapi melihat meja yang Ji Wook duduki, Bong Hee langsung menyingkirkannya dari sana. Sidik jari si pelaku mungkin saja ada di sini dan Ji Wook malah mendudukinya. Dengan dramatis bin lebay, Bong Hee menceritakan kronologi kejadian tadi sedetil-detilnya dan Ji Wook cuma diam mendengarkannya.

Jadi tadi itu dia sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Terus tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lalu tiba-tiba dia merinding sekujur tubuh.

Saat itulah dia tahu ada seseorang atau hantu didalam kantornya. Lalu kemudian dia mendengar suara pintu tertutup. Lalu perlahan dia berbalik dan melihat pintunya tertutup padahal aslinya terbuka.

"Aku hampir saja pingsan, tapi aku menguasai diri lalu cepat-cepat mengejarnya. Tapi si bangs*t itu menyembunyikan dirinya diantara kerumunan orang."

Heran dia, padahal sudah tengah malam tapi masih saja banyak orang berkeliaran di jalan. Dia tidak bisa mengenalinya, semua orang tampak mirip seperti dia. "Aku sudah takut dia akan memukulku dari belakang atau menikamku dengan pisau. Aku nggak bercanda, loh."


Yah, Ji Wook yakin Bong Hee tidak bercanda. Tapi tetap saja kelihatannya seperti candaan karena Bong Hee barusan bercerita dengan sangat antusias.

"Kau sepertinya tidak tahu situasi macam apa yang sedang kau hadapi atau betapa berbahayanya hal ini. Kau sepertinya tidak sadar kalau kau bisa terluka. Bagaimana menggambarkannya, yah? Kau bicara seperti sedang menonton film thriller. Kau seperti anak kecil yang gelisah."

Bong Hee senang, apa Ji Wook mengatakan ini karena dia mengkhawatirkannya? Tentu saja. Tapi kemudian Ji Wook berkata bahwa semua orang juga pasti akan khawatir dalam situasi seperti ini. Dia pasti akan merasa seperti ini pada orang asing yang mengalami kejadian seperti ini.

"Kenapa? Karena aku pernah menjadi jaksa yang memerangi kejahatan."

Bong Hee kecewa. Kedatangan si pelaku itu yang tiba-tiba ini membuatnya lupa tentang janjinya untuk berhenti menyukai pria ini. Dia langsung menempeleng dirinya sendiri, sadarlah!


Dia mengakui kalau dia memang antusias. Wajarkan dia bereaksi seperti ini setelah dua tahun lamanya dia akhirnya bisa melihat si pelaku yang bersembunyi selama dua tahun ini. Ini adalah kesempatan baginya untuk membersihkan namanya.

"Kau bisa mati."

"Aku memang akan mati."

"Apa kau bercanda?"

"Lagipula aku... sudah hampir mati karena kelaparan."

"Itu beda dari dibunuh."

Apa bedanya? Lihatlah kondisinya ini, dia sudah diambang kebangkrutan. Dia sudah putus asa menginginkan pekerjaan karena dia membutuhkan nafkah, tapi tak ada seorangpun yang mau menyewanya.

"Kenapa? Karena aku adalah pembunuh yang membunuh anak Jaksa Wilayah. Aku benar-benar diasingkan."

Bahkan saat dia mulai membuka firma ini dulu, ada artikel yang berjudul 'Pembunuh Terkenal Skala Nasional Menjadi Pengacara'. Walaupun Ibunya pura-pura baik-baik saja di depannya, tapi beliau menangis saat dia tak ada, sedih karena putrinya disalahkan.


"Karena itulah aku harus menyelesaikan kasus ini bukan hanya demi diriku sendiri. Tapi juga demi ibuku dan demi kau yang kehilangan pekerjaan karena aku."

"Baiklah. Tangkap pelakunya..."

"Tentu."

"Bersama. Mari kita tangkap pelakunya bersama. Ayo pergi."

Bong Hee begitu tercengang sampai butuh waktu untuk mencerna ucapan terakhir Ji Wook. Mau kemana? Pulang, ayo dia antar. Tapi... Bong Hee tinggal di sini.


Beberapa saat kemudian, Bong Hee membawa barang-barangnya ke rumah Ji Wook tapi kemudian dia berhenti di depan gerbang dengan ragu. Dia datang kemari karena Ji Wook yang memohon-mohon, padahal sebenarnya Bong Hee tidak yakin apakah dia harus melakukan ini.

Ji Wook sampai tergagap dibuatnya, memohon-mohon? Kapan dia memohon? Bong Hee kan sudah bilang kalau dia akan jaga jarak dari Ji Wook 100 meter, tapi Ji Wook sendiri yang bilang kalau dia tidak bisa membiarkan Bong Hee tinggal di tempat yang berbahaya.

Omong kosong! Ji Woo tidak merasa pernah ngomong begitu. Bong Hee terus ngotot kalau Ji Wook lah yang bersikeras menyeretnya kemari. Jadi, dia tidak akan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang mungkin terjadi mulai sekarang.


Begitu masuk, Bong Hee langsung kagum. Tak ada yang berubah di rumah ini sejak dia datang kemari dua setengah tahun yang lalu. Bong Hee masih ingat semuanya. Waktu itu mereka sangat mabuk dan...

Mereka kontan berpandangan dengan canggung teringat kejadian di atas sofa malam itu. Ji Wook duluan yang menghindar dan Bong Hee maju-mundur bingung harus bagaimana.


Mereka lalu makan ramen bersama. Ji Wook merasa ada beberapa hal yang harus dibicarakan diantara mereka. Bong Hee setuju. Benar, ada sesuatu yang harus mereka klarifikasi.

Jin Wook hendak mengatakan sesuatu duluan, tapi Bong Hee menyela dan bertanya blak-blakan. "Apa kita tidur bersama?"

Ji Wook langsung protes, bukan ini yang mau dia bicarakan. Ah, Bong Hee pikir cuma masalah ini yang perlu diklarifikasi. Sepertinya dia salah, yah.


Keesokan harinya di kantor, Ji Wook datang kesiangan karena ketiduran. Bukannya mengomel, Tuan Byun malah bertepuk tangan. Eun Hyuk sampai heran, bukannya Ji Wook menderita insomnia.

"Saat seseorang kelelahan sampai pada tingkat dimana mereka tidak bisa menahannya, aku mengetahui kalau mereka bisa tepar."

"Apa yang membuatmu kelelahan?" tanya Eun Hyuk sambil duduk di mejanya Ji Wook. Ji Wook menolak menjawab dan langsung menyingkirkannya dari mejanya.

Tapi Eun Hyuk dan Tuan Byun langsung duduk lagi di mejanya sampai Ji Wook stres sendiri meladeni mereka. Tuan Byun datang sebenarnya memang untuk mengomeli Ji Wook karena banyak komplain tentangnya.

Ji Wook tidak boleh seperti ini, dia harus bersosialisasi dengan orang-orang dan kadang-kadang ambillah kasus-kasus yang tidak dia sukai. Ji Wook bisa dipecat kalau terus begini.


Ji Wook mengiyakannya saja dengan malas, malah melamun memikirkan Bong Hee. "Sejak kapan kau mulai memperhatikanku, Bong Hee?"

Flashback,



Tadi pagi, Bong Hee mengetuk pintu kamarnya dan berusaha membangunkannya. Tapi tak ada jawaban dari dalam. Akhirnya dia nekat membuka pintunya tapi malah mendapatinya masih tidur.

Jadilah Bong Hee urung membangunkannya, malah jongkok di pinggir kasurnya sambil mesam-mesem memandangi Ji Wook yang asyik tidur ganteng. Lagu romantis pun mengalun... saat mata Ji Wook mendadak terbelalak dan langsung menatapnya.


Panik, Bong Hee buru-buru kabur tapi malah kesandung dan BUK! jatuh terjerambap ke lantai. Malunya!

Flashback end.


Bong Hee berusaha menenangkan dirinya dari kenangan memalukan itu dengan meminum segelas air. Petugas forensik yang datang memeriksa sidik jari, keheranan mendengar gumamannya.

Petugas forensik tak yakin akan menemukan sesuatu mengingat banyaknya orang yang pernah mengunjungi kantor ini. Tetap saja Bong Hee memintanya untuk mengecek, dia harus mendapatkan sesuatu entah itu sidik jari atau DNA.

Petugas forensik bertanya apakah dia sudah mengecek CCTV. Bong Hee merasa itu percuma karena si pelaku menutupi wajahnya. Kalau begitu dia buat sketsa wajah si pelaku saja. Masalahnya, Bong Hee tidak melihat wajahnya.

 

Petugas forensik menyayangkannya lalu kembali menunduk ke pekerjaannya... dan menyembunyikan senyuman liciknya dari Bong Hee. OMO! OMO! Dia pembunuhnya!

Tapi saat itu juga, dia melihat sesuatu tersembul di kolong meja. Si pembunuh shock mengenali benda itu. Dia buru-buru minta air minum dari Bong Hee lalu menunduk untuk mengambil benda itu saat Bong Hee tak melihatnya.

Malam itu, saking terburu-burunya karena Bong Hee mendadak pulang, dia asal meraih kuncinya dan tak sengaja menjatuhkan alat itu (sepertinya itu cardlock pintu otomatis).

Bong Hee berbalik dengan cepat, si pembunuh pun langsung menggenggam alat itu. Tapi Bong Hee melihatnya, apa dia menemukan sesuatu. Si pembunuh menyangkalnya dan mengalihkan perhatian Bong Hee dengan menjatuhkan gelas airnya.


Tak lama setelah dia pergi, Bong Hee mencatat kedatangan si petugas forensik itu hari ini sambil bertanya-tanya keheranan, kenapa pelakunya baru muncul saat ini.

Pintu terketuk saat itu, Bong Hee langsung senang soalnya tadi Ji Wook bilang mau mampir. Bong Hee siap menyambutnya dengan senyum lebar. Tapi yang datang ternyata Tuan Bang, senyum Bong Hee langsung sirna. Tapi dia buru-buru mengubah sikapnya dan menyambut Tuan Bang dengan ramah.

Tapi Tuan Bang sudah terlanjur sakit hati dengan sambutan Bong Hee tadi dan dengan senang hati memberitahu kalau tadi dia bertemu tuan tanahnya Bong Hee yang berkata kalau listrik dan airnya Bong Hee akan dicabut mulai hari ini.


Mereka lalu pergi untuk mendapatkan salinan rekaman CCTV dari toko baju dekat tukang reparasi sepatu. Bong Hee sebenarnya tak yakin kalau rekaman itu akan berguna karena dia bahkan tidak pernah melihat wajah si pelaku.

Tuan Bang cuma menanggapinya dengan sinis sampai Bong Hee heran. Tuan Bang mengakui kalau dia memang bersikap dingin pada Bong Hee sebagai hukuman karena Bong Hee tadi kecewa dengan kedatangannya.

Bong Hee jadi tak enak. Dia sebenarnya hanya kecewa pada dirinya sendiri, dia berusaha untuk menekan perasaannya terhadap seseorang, tapi rasanya susah sekali. Tuan Bang tahu siapa yang dimaksudnya. Ji Wook, kan?

Dia tahu karena pernah melihat Bong Hee mengintipnya dari kejauhan. Tapi jangan khawatir, Ji Wook tidak tahu kok. Dulu pernah ada asistennya yang naksir Ji Wook. Semua orang tahu kecuali Ji Wook sendiri.

"Dia sangat tajam, tapi bodoh dalam hal perasaan, terutama perempuan."


Di kantor kejaksaan, Jaksa Jang diberitahu anak buahnya kalau Ji Wook bersama Bong Hee sekarang. Ji Wook sendiri mendatangi kantor kejaksaan untuk menemui. Dalam perjalanan masuk, dia berpapasan dengan anak buahnya Jaksa Jang yang kontan menghindari kontak mata dengannya.

Dia langsung to the point mengaku kalau kemarin saat dia mengunjungi Bong Hee, dia melihat sebuah mobil dekat kantornya Bong Hee. Awalnya dia tidak curiga, tapi setelah beberapa kali ke sana, dia terus melihat adanya mobil itu dan saat itulah dia baru sadar kalau itu adalah mobil dinas pemerintah.

Jaksa Jang beralasan kalau dia harus selalu mengawasi Bong Hee karena dia membunuh putranya. Tidak boleh kah? Apa Ji Wook kemari hanya ingin berdebat? Tidak, dia datang untuk bertanya apakah ada blackbox di mobil dinas itu.

Dia memerlukan rekamannya karena hanya mobil itu yang ada di sana waktu itu. Mungkin saja blackbox itu merekam seseorang. Jaksa Jang mendengus licik, tidak ada blackbox di mobilnya.


Ji Wook langsung menyindir sinis, biasanya kan para petinggi suka membicarakan masalah rahasia didalam mobil jadi dia pikir ada blackbox. Baiklah, kalau begitu dia pamit. Jaksa Jang penasaran, apa yang mau Ji Wook cari? Pelaku yang Bong Hee bicarakan itu?

"Apa kau pernah melihat pelaku yang Eun Bong Hee bicarakan? Kenapa kau mempercayainya?"

"Bukan berarti aku mempercayainya, tapi aku percaya pada bukti."

Bagaimana kalau Ji Wook salah? Ji Wook santai, Kalau dia salah maka dia sudah membiarkan seorang pembunuh bernama Eun Bong Hee bebas berkeliaran di jalan. Lalu bagaimana kalau Jaksa Jang lah yang salah?

"Bong Hee kan sudah bebas. Tak ada masalah, kan?"


Tapi teringat bagaimana Bong Hee yang berada diambang kebangkrutan karena masih dianggap sebagai pembunuh, Ji Wook tidak merasa dia bebas. "Jika Eun Bong Hee tidak bersalah, maka anda harus membayarnya karena telah menanamkan bukti palsu dan menuduhnya sebagai pelaku."

"Dan jika sebaliknya, kau yang harus bayar!"


Dalam perjalanan keluar, Ji Wook berpapasan dengan dua orang mantan atasannya. Berniat menghancurkan kedua orang itu, Jaksa Jang menyuruh kedua orang itu untuk menyebarkan rumor kalau Ji Wook datang menemuinya dan membuat keributan dan dia sangat marah padanya.

Dengan begitu, Ji Wook akan dibenci dan disalahkan setiap kali para pengacara yang berasosiasi dengan Ji Wook kalah di persidangan dan bukannya karena mereka tidak mampu.


Ibunya Ji Wook membeli bunga untuk diberikan ke tukang pijat yang hebat itu (Ibunya Bong Hee). Ibu Ji Wook putus asa ingin dipijat tapi Ibu Bong Hee selalu beralasan kalau dia sibuk tapi dia yakin kalau Ibu Bong Hee sengaja menghindarinya karena mereka bertengkar dulu.

Di panti pijat, Ibunya Bong Hee malah sedang berpamitan pada para rekannya, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari sana. Bong Hee datang untuk menjemputnya. Dia berusaha meminta Ibu untuk tidak bekerja lagi dan berjanji akan sukses suatu hari nanti. Tapi Ibu bersikeras mau mencari pekerjaan lain dengan alasan biar dia awet muda.


Ibu Ji Wook datang tak lama kemudian dengan membawa bunga, tapi malah diberitahu kalau Ibu Bong Hee sudah berhenti dan dia tidak diberitahu apa-apa. Ia langsung mewek ke Ji Wook, tidak terima diperlakukan seperti ini.


Ji Wook cuma menasehatinya untuk minum teh hangat dan tidur. Tuan Bang datang tak lama kemudian dan mengkonfrontasi rumor yang katanya Ji Wook bikin keributan di kantor Jaksa Jang tadi.

Ji Wook menolak membahasnya dan menanyakan CCTV itu. Tuan Bang berkata tak ada pria dalam rekaman. Ji Wook menyimpulkan kalau si pembunuh pasti menyuruh seseorang membeli sepatu itu atau dia membelinya di toko lain.

Terus bagaimana caranya mereka bisa menemukannya sementara tim penyidik tak ada yang mau bekerja sama dengan mereka? protes Tuan Bang. Dia heran kenapa Ji Wook tiba-tiba membuka kasus ini kembali.


Karena tiba-tiba dia kepikiran sesuatu. Tuan Bang tahu kan kalau dia orang yang punya hati nurani yang baik, bertanggung jawab dan keras pada diri sendiri. Tuan Bang mengiyakannya saja lah.

"Aku merasa harus melindungi Eun Bong Hee seperti seorang penjaga dan itu mengangguku."

Tapi Tuan Bang memperhatikan dia tidak tampak terganggu, dia malah kelihatan senang. Ji Wook ngotot menyangkalnya, dia benci banget harus terlibat dengan Bong Hee. Tapi Tuan Bang tetap tak percaya.


Sembari mengingat masa-masa dua tahun yang dijalaninya dengan penuh kebosanan, Ji Wook bercerita bahwa selama 2 tahun terakhir hidupnya tanpa Bong Hee terasa aman dan damai. Setiap hari terasa samar, tak ada seorangpun yang menyerbu hidupnya dan diapun tak pernah menyerbu hidup siapapun.

"Tapi setelah bertemu Eun Bong Hee, semuanya jadi kacau. Aku bertemu penguntit, pelaku yang sebenarnya muncul dan ruang pribadiku... diserbu."

 

Setibanya rumah, dia melihat Bong Hee sudah ada di depan pagar dengan membawa koper-kopernya. Ji Wook menatapnya dengan senyum, "Ini berbahaya dan melelahkan, tapi tidak pernah membosankan dengan Eun Bong Hee."

Dia tidak melihat Ji Wook datang dan asyik mengoceh sendiri. Galau antara malu karena harus numpang, tapi tak ada tempat lain yang bisa ditujunya selain rumah Ji Wook. Baiklah, dia akan coba pakai kartu simpati saja, dia butuh air dan listrik.

 

"Begitu," ujar Ji Wook di kupingnya. Bong Hee kontan berjingkat kaget dan kakinya sampai keseleo gara-gara. Ji Wook mengeluh manjah, "Aku mabuk."

Bersambung ke part 2

4 comments

Chang wook oppa guanteng maxsimal :-)

Setuju..guanteng pake bangetz..

tatapan matanya chang wook bikin meleleh...omg..btw makasih sinopsisnya & ditunggu kelanjutannya...

Duhh gak sabar dg cerita selanjutnya. Udah mulai ada benih benih cinta nihh. Ouuh.

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon