Powered by Blogger.

Images Credit: SBS

Sinopsis Suspicious Partner Episode 8

Ji Wook mengompres kakinya Bong Hee yang keseleo. Dia menyarankan Bong Hee ke rumah sakit, tapi Bong Hee tidak mau dan senyam-senyum menikmati perhatian Ji Wook padanya.

Tapi Ji Wook ketiduran tak lama kemudian dengan masih memegangi kompresnya. Bong Hee keasyikan memandanginya sampai harus menyadarkan dirinya sendiri dan mengingatkan dirinya kalau dia tidak boleh punya perasaan pada Ji Wook. Dengan lembut dan sepelan mungkin, dia melepaskan kakinya lalu menidurkan Ji Wook di sofa dan menyelimutinya.


Dalam tidurnya, Ji Wook memimpikan pertemuannya dengan Jaksa Jang tadi. Saat dia hendak pergi, Jaksa Jang tiba-tiba berkata kalau dia kira Ji Wook akan berbeda dari ayahnya tapi ternyata tidak.

"Kau pasti menganggap dirimu benar dan berpikir kalau itu orang benar. Tapi tidak, itu tidak benar. Kaulah yang membuat kesalahan besar. Sama seperti ayahmu."


Kenangan masa kecilnya tiba-tiba muncul kembali. Rumah Ji Wook terlalap api sementara Ji Wook kecil terperangkap di kamarnya. Dia menangis melihat ayahnya tergeletak tak berdaya di depannya, tapi dia tak bisa meraihkan karena mereka terhalang oleh api.

Ayahnya pingsan dan saat itulah, tiba-tiba dia melihat sesosok pria berwajah misterius datang dan berjalan mendekatinya.


Ji Wook tersentak bangun dengan nafas terengah-engah sebelum dia sempat mengingat wajah pria misterius itu. Dia langsung joging untuk menenangkan dirinya.


Siang harinya, Bong Hee sedang melihat-lihat harga apartemen di sebuah cafe. Tapi bahkan yang paling kecil pun harganya mahal. Sepertinya dia tidak punya malu agar bisa terus tinggal di sana.

Flashback,


Pagi tadi saat dia baru keluar dari kamar, Ji Wook baru kembali dari jogingnya. Bahkan pemandangan keringat dan air yang mengalir di tenggorokannya pun tampak sangat seksi dan membuat Bong Hee terpana.

Flashback end.


Bong Hee mesam-mesem gaje teringat kenangan itu, tapi dengan cepat dia menggalau lagi. Kebetulan mantannya Jin Wook - Cha Yoo Jung, juga ada didalam cafe itu. Tapi saat seorang pelanggan ke toilet dan meninggalkan laptopnya di meja, dia melihat beberapa orang pria bergerak cepat mencuri laptop itu.

Yoo Jung langsung melawan sekawanan pencuri itu dengan ilmu bela dirinya. Keadaan jadi kacau gara-gara itu dan Bong Hee melihatnya. Mengira mereka adalah pria pemabuk yang sedang mengganggu wanita, dia langsung bangkit dan melayangkan tendangan ke seorang pria yang hendak menghantamkan kursi ke Yoo Jung.


Tapi gara-gara itu juga, kakinya yang kemarin keseleo sekarang jadi tambah parah. Para pencuri itu akhirnya diringkus polisi sementara Bong Hee dan Yoo Jung saling berkenalan. Yoo Jung memperkenalkan dirinya adalah seorang jaksa dan Bong Hee dengan bangga menunjukkan lencana pengacaranya.

Tak lama kemudian, Yoo Jung membantu Bong Hee keluar dari klinik ortopedic dengan kaki di-gips. Mereka lalu saling bertukar kartu nama dan saling memuji satu sama lain sebelum kemudian berpisah arah.


Bong Hee masuk rumah dengan hati-hati, tak ingin Ji Wook tahu. Tapi ternyata Ji Wook sedang ada di sana dan langsung cemas saat melihat kakinya. Bong Hee berusaha menjelaskan kalau ini bukan karena kejadian kemarin.

Tapi Ji Wook tidak mendengarkannya dan langsung menunduk, mencemaskan kakinya dengan penuh rasa bersalah. Dia bahkan langsung meminta maaf dengan canggung. Bong Hee sudah mau menjelaskannya lagi, tapi kemudian dia melihat Ji Wook menggaruk belakang lehernya dengan wajah murung dan kelihatan sangaaaat tampan.

Terpsona, dia langsung berubah pikiran. Yah, Ji Wook salah tapi Ji Wook tidak perlu merasa bersalah. Dia mau masuk, tapi Ji Wook menghentikannya, terlebih dulu dia meminta maaf lalu menyentuh pinggang Bong Hee untuk membopongnya. Bong Hee tentu saja makin berbunga-bunga mendapat perlakuan itu.


Tapi belum apa-apa, Ji Wook nggak kuat duluan. Gendong di punggung saja. Dia mendudukkan Bong Hee di kamarnya dan melayaninya sepenuh hati. Mengambilkannya air, kopi, mengompres kakinya dan menuruti apapun keinginan Bong Hee.


Yoo Jung baru saja meletakkan makan siangnya di meja saat Ji Hye mengikutinya dan memperkenalkan dirinya sebagai alumni SMA dan Universitas yang sama dengan Yoo Jung. Dia mengaku kalau Ji Hye adalah panutannya.

Dia sudah ingin bertemu dari dulu tapi Yoo Jung melanjutkan studi ke Amerika. Tapi Yoo Jung menyangkal, dia ke Amerika bukan untuk belajar melainkan karena ingin kabur setelah dia ketahuan selingkuh.

Mendengar itu, Ji Hye mengaku kalau dia juga sama, dia tidur dengan pacar temannya. Dalam flashback, wanita yang keluar dari hotel bersama Hee Jun dulu adalah Ji Hye. Yoo Jung penasaran siapa pria itu.


Ji Hye balas bertanya, Yoo Jung sendiri selingkuh sama siapa. Yoo Jung mengklaim kalau dia sudah lupa. Dia harus lupa karena dia ingin kembali pada mantan pacar yang dikhianatinya dulu.

"Aku akan pura-pura lupa dan kembali padanya."

Ji Hye tak percaya mendengarnya, "Sunbae, kau benar-benar jal*ng."

"Benar. Jadi aku akan minta maaf padanya."


Seorang pengacara tiba-tiba masuk dan membanting dokumen dengan penuh amarah, menyalahkan Ji Wook sebagai penyebab kekalahannya di persidangan. Eun Hyuk buru-buru membawa pria itu keluar dari sana dan berusaha membela Ji Wook, sidang itu sendiri memang sulit jadi bukan salah Ji Wook.

Tapi pengacara itu tetap ngotot menyalahkan Ji Wook. Mereka terus berdebat sampai Tuan Byun harus menegur mereka.


Tuan Byun kesal sekali pada Jaksa Jang itu. Ji Wook santai saja melipat kertas origaminya, dia pasti akan terus disalahkan atas segala hal bahkan sekalipun para pengacara itu sendiri yang kurang kompeten.

"Kenapa? Karena jauh lebih mudah menyalahkan orang lain daripada menerima kekurangan diri sendiri."

Tuan Byun langsung sinis, terus kenapa Ji Wook cari perkara dengan Jaksa Jang. Pokoknya mereka harus berdamai dengan para rekan kerja mereka, bergaullah dan minum-minum dengan mereka. Eun Hyuk bingung, kok dia juga, dia kan sudah dekat dengan yang lain.

"Yang benar saja. Mereka juga tidak menyukaimu, semua orang bilang kau arogan."

 

Bong Hee berjanji pada tuan tanahnya untuk mengosongkan tempat ini minggu depan. Bong Hee bingung harus bagaimana, komputernya sudah tidak bisa nyala dan biaya internet mahal banget. Tapi ditengah kegalauannya, dia mendapat telepon dari teman sekelasnya dulu, Woo Hee Gyu, yang memberinya kabar baik.


Malam harinya, Ji Wook dan Eun Hyuk duduk bersama para pengacara lainnya di bar. Tapi mereka semua malah diem-dieman dan minum sendiri-sendiri seperti orang asing yang duduk semeja. Eun Hyuk berusaha mengajak semua orang bersulang. Tapi belum juga gelas-gelas mereka berbunyi 'ting', Ji Wook sudah minum duluan.


Perhatian mereka teralih saat Eun Hyuk melihat Bong Hee datang bersama 3 orang pengacara pria. Ji Wook langsung cemas memperhatikan mereka.

Para pengacara senior memuji penampilan Bong Hee dan menolak perkenalan dirinya, Bong Hee kan sudah terkenal. Ayo minum saja. Jadilah Bong Hee dan Hee Gyu menggila sambil meracik minuman keras.


"Apa Pengacara Eun lagi cari kerja lagi?" tanya Eun Hyuk.

"Mana kutahu. Aku tidak tahu dan tidak penasaran."

Tapi saat Eun Hyuk berkata kalau dia mengetahui sesuatu tentang firma hukum para pengacara itu, Ji Wook langsung mendekatkan kupingnya dengan penasaran. Katanya dia tidak penasaran, apa sekarang dia mau tahu? Goda Eun Hyuk. Tidak.


Bong Hee baru keluar dari toilet saat Ji Wook memanggilnya dan bertanya cemas, dia sedang apa dengan para pengacara itu. Tentu saja melakukan wawancara awal. Ji Wook protes, wawancara macam apa di bar seperti ini.

Bong Hee tak peduli mau masuk akal atau tidak karena dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Dia tak peduli biarpun mereka busuk karena ini adalah satu-satunya kesempatan saat ini.

"Ini bukan satu-satunya kesempatan. Kalau kau terus mencari..."

"Pengacara Noh. Aku tidak punya waktu untuk itu. Lihatlah aku, aku pura-pura baik-baik saja karena aku tinggal di rumahmu tanpa malu dan merepotkanmu. Aku tidak bisa jadi benalu selamanya."


Saat dia kembali, para pengacara senior yang sudah mabuk itu memutuskan saat itu juga untuk menerima Bong Hee. Bong Hee tentu saja senang bukan main. Tapi kemudian mereka malah berkata kalau Bong Hee cocok jadi resepsionis dan menyuruh Bong Hee untuk pakai pakaian seksi dan terbuka.

Merasa tertipu, Bong Hee jelas marah dan mau menyiram mereka dengan bir. Tapi Ji Wook mencegahnya tepat waktu, tidak perlu buang-buang energi untuk para baj*ng*n seperti mereka. Dia meminum bir itu lalu mengajak Bong Hee keluar dari sana, Eun Hyuk tersenyum melihat mereka.

 

Bong Hee tak mau bicara tapi Ji Wook menghentikannya dan meyakikan Bong Hee kalau Bong Hee tidak merepotkannya. "Aku ingin kau bekerja untukku lagi. Aku ingin mempekerjakanmu."

Bong Hee bingung maksudnya, tapi tiba-tiba saja Ji Wook yang sudah mabuk, ketiduran di pundaknya.


Eun Hyuk mendengar ketiga pengacara itu sedang menggosipkan Bong Hee di toilet. Kesal, Eun Hyuk pura-pura mabuk dan sempoyongan menubruk mereka saat mereka masih belum selesai buang air.


Keesokan paginya, Ji Wook terbangun hanya dengan selembar selimut menutupi tubuhnya. Dia mengecek kebawah selimut dan langsung shock. Apa yang terjadi semalam?


Dia ingat ketiduran di pundak Bong Hee lalu Bong Hee memapahnya ke kamar. Lalu kemudian mereka terjatuh bersama ke kasur dengan posisi Ji Wook di atas Bong Hee. Mereka bertatapan dengan intens. Dan... Ji Wook tak ingat apa-apa lagi. Wah, gawat! Tidak mungkin! Tidak mungkin!


Dia turun dengan hati-hati, tak ingin bertemu Bong Hee. Tapi mereka malah bertemu. Anehnya, Bong Hee malah senyum malu-malu meong. Kenapa Bong Hee malu-malu begitu? Bong Hee terus malu-malu dan menjawab ambigu.

Ji Wook jadi tambah gelisah, "Semalam... apa mungkin... bagaimana ngomongnya, yah? Pria dan wanita... tidak, kan?"

Bong Hee cuma menjawab ambigu, entahlah. Ji Wook jadi berpikir kalau mereka memang melakukannya. Wah, kacau.


Begitu masuk kamar, ketawa licik, puas habis ngerjain Ji Wook. Salah sendiri Ji Wook juga tidak memberitahunya, biar Ji Wook tahu bagaimana rasanya tidak tahu dia tidur dengan seseorang atau tidak.

Tapi, dia penasaran, apa maksud perkataan Ji Wook semalam itu? Ah, sudahlah. Paling juga Ji Wook sudah lupa karena mabuk.


Si pembunuh masuk ke sebuah rumah dengan menggunakan cardlock-nya sambil menelepon Bong Hee tapi tidak diangkat.


Ji Wook mengendap-endap keluar saat Bong Hee tiba-tiba menegurnya dan hampir saja membuatnya jantungan. Ji Wook mau kerja? Dia kan tidak bekerja di akhir pekan? Bukan urusan Bong Hee. Bong Hee sendiri mau kemana? Ada yang harus Bong Hee urus di kantor.

Dia mengeluarkan ponselnya saat itu dan baru menyadari misscall dari si petugas forensik. Mengira hasilnya sudah keluar, dia pun langsung menelepon balik. Mereka keluar dengan telinga saling menempel ke ponsel. Tapi Bong Hee mengisyaratkannya kalau dia tidak sedang bicara dengan si petugas yang waktu itu.


Ji Wook pun keluar duluan, tapi langkahnya langsung membeku di tengah jalan melihat Yoo Jung di sana. Bong Hee selesai menelepon saat itu. Dia langsung senang melihat Yoo Jung. Dia hampir saja mau menyapa Yoo Jung, tapi kemudian dia menyadari interaksi aneh antara Yoo Jung dan Ji Wook.

Bersambung ke episode 9

6 comments

Aish...ga sabar nunggu ep 9...seruuuu...makasih sinopnya...

waaaaaaa seru bgt,ditunggu lanjutannya eonnie..tetep smngat ya

Makin seru semangat nulisnya min...

D tunggu kelanjutan y, cerita y semakin seruu..

Ditunggu kelanjutan sinopsisnya

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon