Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis Ruler: Master of the Mask Episode 13


Putera Mahkota masuk ke kamar Woo Jae tapi malah mendapati ada orang lain yang mencuri peta itu duluan. Putera Mahkota langsung menyerangnya. Orang itu pun langsung balas menyerang dengan belatinya dan saat itulah Putera Mahkota melihat gelang si pencuri yang sama persis dengan gelangnya si gisaeng.

Woo Jae tiba-tiba mengigau dan Putera Mahkota kehilangan fokus gara-gara itu. Gisaeng itu pun dengan cepat memanfaatkan kesempatan untuk mendorong Putera Mahkota, melemparkan segepok uang koin lalu kabur.

Woo Jae jadi terbangun gara-gara keributan itu dan langsung berteriak memanggil penjaga. Putera Mahkota langsung melempar uang koin itu pada Chung Woon lalu bergegas mengejarnya. Tae Ho keluar dan melihat Chung Woon di sana.


Chung Woon sontak berlari ke arah yang berlawanan dari Putera Mahkota. Moo Ha keluar dari persembunyiannya saat itu dan langsung bergegas mengejar Chung Woon. Woo Jae panik mengacak-acak alas tidurnya tapi tak menemukan petanya. Putera Mahkota berusaha mengejar Gisaeng itu. Tapi pada akhirnya, dia kehilangan jejak.

Moo Ha membantu Chung Woon bersembunyi. Chung Woon pun buru-buru mencopot baju ninjanya, dan saat itu lah dia melihat wajah Chung Woon yang selama ini tersembunyi dibalik topi jeraminya dan langsung mengenali Chung Woon sebagai pengawalnya Putera Mahkota.


Moo Ha akhirnya dibawa menemui Putera Mahkota. Chung Woon berusaha menyangkal kalau dia adalah Putera Mahkota, tapi Putera Mahkota sendiri yang malah mengakuinya. Jika dia Putera Mahkota, lalu siapa Raja yang duduk diatas tahta?

"Dia teman yang menggantikan posisiku, namanya Lee Sun. Saat ini dia menjadi Raja Boneka dibawah Pyunsoo-hwe."

Moo Ha sontak menarik bajunya Putera Mahkota dengan kesal. Jadi selama ini dia berkelana bebas sebagai kepala pedagang, dia benar-benar tidak berubah. Orang-orang mengorbankan nyawa mereka demi dirinya dan dia malah menikmatinya. Ayah Ga Eun bahkan mengorbankan nyawanya hanya demi seorang pengecut sepertinya.


Chung Woon berusaha membelanya, tapi Putera Mahkota menghentikannya dan langsung berlutut dihadapan Moo Ha. Setulus hari dia memohon pengampunan Moo Ha atas kecerobohannya yang pada akhirnya malah mengorbankan nyawa orang yang tidak bersalah.

Kaki Moo Ha langsung lemas seketika, menyesali tindakannya yang telah mengajukan ide untuk melakukan investigasi itu. Kenapa dia musti mendorong pemuda 17 tahun untuk melawan Pyunsoo-hwe.
Moo Ha menangis teringat permohonan Ayah Ga Eun agar dia menjadi abdi setia Putera Mahkota suatu hari nanti. Tanpa mereka sadari, ada seorang wanita di luar yang sedang mendengarkan mereka.


Setelah Moo Ha akhirnya bisa tenang, Putera Mahkota meyakinkan kalau kematian Ayah Ga Eun tidak akan sia-sia. Dia akan terus berjuang sampai Pyunsoo-hwe musnah. Moo Ha pun menyatakan kesetiaannya, dia akan berjuang bersama Putera Mahkota.

Kalau begitu, Moo Ha meminta Putera Mahkota untuk jujur kepadanya, apa sebenarnya hubungan Pyunsoo-hwe dengan tembaganya. Putera Mahkota memberitahu kalau Pyunsoo-hwe menginginkan hak percetakan uang dengan menimbun tembaga.

Karena itulah mereka harus memiliki stok tembaga dan menyerahkannya pada Menteri Keuangan sebelum Pyunsoo-hwe membuat ulah. Lalu, apa Putera Mahkota punya ide untuk mendapatkan tembaga?


Seorang pria melapor tentang Kepala Pedagang pada Dae  Mok. Bagaimana awalnya orang itu bermula hanya sebagai asisten hingga menjadi Kepala Pedagang yang kemudian membentuk sebuah organisasi bersama 8 kepala pedagang lainnya.

Dia menjadi pemimpin tertinggi karena dia berwibawa dan pintar. Sekarang dia bahkan bukan hanya menjadi Kepala Pedagang negeri ini, melainkan pusat perdagangan seantero negeri.

Tapi saat Dae Mok menanyakan keberadaannya, pria itu mengaku tak tahu. Kalau begitu, temukan dia. Katakan padanya kalau Dae Mok ingin bertemu. Perdana Menteri heran, apa Dae Mok begitu penasaran dengan Kepala Pedagang itu?
"Dia salah satu dari dua pilihan untukku. Sosok yang harus kubuat berpihak padaku, atau jus tru harus kubunuh."


Ga Eun sedang mendata obat-obatan herbalnya saat Ibunya Sun membahas masalah Kepala Pedagang yang katanya sangat tampan itu. Teringat sikap dingin Putera Mahkota yang terus menyangkal dirinya adalah Chun Soo, Ga Eun mengklaim kalau dia kelihatan biasa-biasa saja dan namanya juga pasaran.

Saat Ibu Sun mengeluarkan barang dari dalam guci, Ga Eun tiba-tiba teringat permintaan terakhir Youngbin menjelang ajalnya yang memintanya untuk menemukan sebuah pot besar jika dia ingin mengetahui kebenaran dibalik kematian ayahnya.


Kko Mool tiba-tiba mengeluh dengan polosnya kalau menunggu itu sulit, kapan makan malamnya, dia sudah lapar. Kecuali saat seseorang sedang menungguiku saat aku memakai toilet di malam hari, penantian lainnya itu sulit. Mendengar itu, Ga Eun tiba-tiba punya ide bagus dan meminta Ibu Sun untuk membantunya.


Begitu dia kembali ke istana, dia mendatangi kedua pengawal yang berjaga di greenhouse-nya Raja dengan membawa beberapa butir obat. Dia mengklaim kalau itu adalah kiriman dari Raja.

Mereka mempercayainya begitu saja dan langsung meminumnya. Tapi beberapa saat kemudian, perut mereka tiba-tiba mules. Tak tahan lagi, keduanya pun bergegas ke toilet dan jadilah tak ada yang menjaga tempat itu.


Tapi saat Ga Eun hendak masuk, Hyun Suk - pengawal Raja, menempelkan pedang ke lehernya. Ga Eun berusaha beralasan kalau dia datang mengantarkan obat atas perintah Raja.

"Kau bilang atas perintahku?" Tanya Sun. "Balikkan tubuhmu dan tatap aku."

Shock, Ga Eun terpaksa berbalik. Sun kontan terkejut melihatnya. Mengira dia Putera Mahkota bertopeng yang dulu, Ga Eun menatapnya dengan penuh kebencian, teringat bagaimana dulu dia berusaha memohon pengampunan untuk ayahnya tapi permohonannya tak pernah didengar.

Kedua pengawal tadi kembali saat itu dan langsung menangkap Ga Eun. Tapi Sun langsung menyuruh mereka untuk melepaskannya dan berbohong kalau dialah yang memanggil Ga Eun karena ada yang harus dia bicarakan dengannya.


Sun membawa Ga Eun masuk ke greenhouse-nya dan menanyakan alasannya kemari. Ga Eun balas bertanya kenapa Raja mengampuninya. Apa mungkin Raja mengingatnya? Sun langsung tergagap menyangkalnya, dia bahkan tidak mengenalnya.

Air mata Ga Eun menitik saat dia bertanya sekali lagi, apa Raja sungguh tak ingat padanya? "Tapi Yang Mulia dan saya pernah berjumpa, dan hambah mengingat Yang Mulia."

Sun sontak tercengang, menyadari Ga Eun mengira dia adalah Putera Mahkota sekaligus orang yang membunuh ayahnya. Panik, dia hendak membuka topengnya dan memperlihatkan dirinya yang sebenarnya.

Tapi pada akhirnya, dia urung melakukannya dan hanya menyuruh Ga Eun pergi. Begitu Ga Eun pergi, Sun langsung memerintahkan Hyun Suk untuk mencari tahu kenapa Ga Eun ada di sini dan sejak kapan.


Ga Eun keluar dari istana dengan berlinang air mata. Teringat bagaimana Raja bersikeras menyangkal mengenalnya, Ga Eun berpikir kalau kematian ayahnya pastilah tidak terlalu penting bagi Raja.


Hyun Suk kembali malam harinya dan melapor kalau Ga Eun sekarang menjadi pemasok obat-obatan herbal untuk tabib istana. Dia menyarankan Sun untuk bertanya langsung saja pada Ga Eun tentang kenapa dia menyelinap masuk ke greenhouse.

Hyun Suk tahu kalau Sun selama ini merahasiakannya demi melindungi keluarganya dan Ga Eun. Tapi karena mereka sudah bertemu di istana seperti ini, bagaimana kalau Sun jujur saja pada Ga Eun.

"Jika aku bisa berjumpa lagi dengannya dan mengatakan kalau aku Lee Sun, juga perasaanku terhadapnya. Saat itu, akan menjadi klimaks membahagiakan dalam hidupku. Hyun Suk, apa kau bisa mencari cara membawanya padaku?"

"Ya, Yang Mulia. Hamba akan membawanya."


Putera Mahkota, Chung Woon, Moo Ha dan Hwa Goon berkumpul di rumah gisaeng sambil mendengarkan lagu yang tengah dinyanyikan gisaeng bernama Mae Chang itu. Mereka saling berbagi informasi.

Hwa Goon melapor kalau para pedagang yang tembaganya diambil alih para bajak laut, terus berfoya-foya menghabiskan uang mereka. Chung Woon melapor tentang seseorang beryopeng yang muncul di kamar anaknya Dae Mok.

"Tapi... dia bukan pria." Ujar Putera Mahkota sambil melirik Mae Chang tajam.


Woo Jae cemas karena di peta itu tertera lokasi dan waktu untuk pertukaran tembaganya. Tae Ho santai menduga kalau pencuri itu pasti ingin mendapatkan banyak uang. Apa perlu mereka mengganti jadwal pertukarannya?

Tidak bisa, jika begitu maka tenggat waktu dari Dae Mok tidak akan terpenuhi. Woo Jae punya ide untuk membuat perangkap saja. Jika dia bukan pencuri biasa, melainkan seseorang yang mencoba menghalangi mereka, maka dia akan jatuh kedalam perangkap.


Putra Mahkota, Chung Woon dan Moo Ha mengendap masuk ke penginapannya Woo Jae dan menemukan sebuah buku catatan yang tertulis tentang para pedagang Jepang yang dirampok bajak laut, membeli banyak ginseng dan ginseng merah.

Jelas ini bukan perampokan, jika iya lalu bagaimana bisa mereka membeli ginseng. Mereka harus memastikan apakah mereka bajak laut sungguhan.


Tapi saat mereka hendak pergi, Moo Ha melarang mereka, karena ternyata Woo Jae dan semua anak buahnya sudah berjaga di luar. Putera Mahkota menutup pintu sepelan mungkin. Tapi Moo Ha malah kesandung dan terjatuh. Para pengawal pun langsung mengarahkan pedang-pedang mereka ke arah kamar. Putera Mahkota mendesis kesal menyadari mereka hampir ketahuan.

Tapi tiba-tiba Mae Chang muncul dari balik tembok dan menyuruh mereka mengikutinya jika mereka tidak ingin tertangkap, ada jalan pintas rahasia menuju laut. Mereka bergegas pergi melalui lorong rahasia itu.


Setibanya di pantai, mereka mendapati Hwa Goon sudah menunggu mereka di sana, syukurlah mereka selamat. Dia mengaku kemari karena dia diberitahu Mae Chang bahwa mereka akan kemari jika dia menunggu di sini.


Mae Chang mengaku kalau awalnya dia pikir Putera Mahkota adalah pencuri, tapi ternyata dia Kepala Pedagang. Putera Mahkota menyindir sinis, dia juga awalnya mengira Mae Chang itu pencuri. Tapi ternyata Mae Chang mengetahui segala sesuatu dengan sangat jelas, dia tahu rencana Pyunsoo-hwe dan punya jalan pintas rahasia untuk penyelamatan darurat.

Tak mau kalah, Mae Chang balas menyindir Putera Mahkota yang katanya amat teliti dan bijak sana. Melihatnya bersikap tidak hati-hati begini, sungguh membuatnya terkejut. Yah Putera Mahkota mengakui kalau dia ceroboh dan dia sungguh berterima kasih pada Mae Chang.


Mae Chang langsung serius memberitahu mereka bahwa Departemen Pengadaan Air menyamar jadi bajak laut dan bernegosiasi dengan pedagang Jepang. Mae Chang penasaran untuk apa sebenarnya tembaga itu bagi mereka?

Moo Ha langsung berdehem untuk menarik perhatian Mae Chang kepadanya dan memberitahu kalau Pyunsoo-hwe lah dalangnya. Mereka mencoba menekan kerajaan dengan memanfaatkan tembaga itu.

"Pyunsoo-hwe adalah raja para iblis. Mereka bahkan memprivatisasi air demi keuntungan mereka. Aku! Sedang mencoba menyelamatkan pasokan tembaga dengan menghentikan aksi mereka."

Mae Chang langsung meremas tangannya dan memujinya luar biasa karena telah membantu orang-orang yang berada dalam kesulitan. Moo Ha langsung balas meremas tangannya dan ngegombal, "Demi kau... err... Demi rakyat, aku siap mengorbankan nyawaku."


Tapi Mae Chang buru-buru melepaskan tangannya dan bertanya apa yang akan terjadi jika Putera Mahkota berhasil menyelamatkan pasokan tembaga. Mengirimnya pada pemerintah, jika berhasil maka rencana pyunsoo-hwe akan gagal.

"Kalau begitu, anda harus mendapatkan tembaganya. Pyunsoo-hwe harus dihentikan."

Belum bisa mempercayai Mae Chang, Putera Mahkota menuntut Mae Chang untuk membeberkan rencananya juga dan kenapa dia menyelamatkan mereka. Siapa Mae Chang sebenarnya?

Alih-alih menjawab, Mae Chang balik menuntut Putera Mahkota untuk jujur dulu padanya. Siapa dia sebenarnya dan apa tujuannya? Suasana langsung hening seketika. Menyadari Putera Mahkota tak bisa menjawabnya sekarang, Mae Chang hanya meyakinkannya kalau dia hanya ingin membantu mereka.


Dia lalu memberikan peta itu pada Putera Mahkota. Jika dugaannya benar, disitu pasti tertulis lokasi dan waktu pertukaran tembaganya. Putera Mahkota menyerahkan peta itu pada Hwa Goon yang menerjemahkan kata-kata yang tertulis di peta itu: Haedongpi, pukul 6 pagi.


Dae Mok diberitahu kalau barangnya akan sampai sekitar pertengahan bulan ini. Dae Mok menyadari kalau itu adalah saat Sun harus minum pil bunga poppi lagi. Dia langsung memerintahkan Perdana Menteri untuk mendapatkan hak percetakan uang untuknya pada hari itu.

"Sampai aku berhasil, teruslah memanipulasi Raja bahwa rakyat mengalami kesulitan akibat langkanya peredaran koin dan terus mencetak Sangpyeong Tongbo (koin yang dicetak sebagai alat pembayaran pada masa pemerintahan tahu kelima Raja Sukjong)."


Keesokan harinya dalam rapat pagi, Para menteri kroninya Dae Mok menyinggung kacaunya perekonomian rakyat akibat langkanya peredaran uang dalam negeri, dan hal itu merambat sampai ke provinsi-provinsi lainnya

Karenanya mereka menuntut Raja untuk menambah pasokan uang demi menstabilkan kondisi rakyat. Menteri Pertahanan berusaha mengusulkan agar mereka memakai perak saja. Tapi Perdana Menteri tidak setuju dan mengusulkan agar mereka mencetak Sangpyeong Tongbo untuk menstabilkan situasi.

Sun melihat ada tiga titik di pojokan dokumen itu dan langsung menyetujui usulan perdana menteri tanpa pikir panjang.


Begitu Sun menyetempel dokumen itu, menteri keuangan maju dan berkata kalau mereka perlu mencetak seratus ribu Sangpyeong Tongbo tapi mereka tidak memiliki stok tembaga untuk itu. Dia mengklaim kalau kurangnya stok mereka karena impor tembaga mereka dirampok bajak laut.

Perdana Menteri usul agar Menteri Pertahanan yang harus memeriksanya jika ini karena bajak laut. Sun lagi-lagi langsung menyetujuinya begitu saja. Menteri Pertahanan tampak keberatan tapi terpaksa menerimanya.


Menteri Pertahanan langsung melaporkan masalah kekurangan stok tembaga itu pada Ibu Suri. Sepertinya Dae Mok telah menjalankan muslihatnya. Ibu Suri langsung mengerti kalau ini pasti rencana Dae Mok untuk mendapatkan hak percetakan uang.

Ibu Suri memerintahkan Menteri Pertahanan untuk mendapatkan stok tembaga apapun caranya. Tapi Menteri Pertahanan cemas karena mereka tidak bisa mendapatkan stok dari tempat lain.

"Lalu, maksudmu kita harus membiarkan Dae Mok mendapatkan apa yang dia mau? Aku akan meyakinkan Raja dan memberimu cukup waktu. Kau harus pastikan untuk mendapatkan tembaga, bagaimanapun caranya."


Putera Mahkota cemas karena biarpun mereka sudah mengetahui waktu dan lokasi pertukaran, tapi mereka tidak bisa menangkap orang-orang itu dengan tangan mereka sendiri.

Tapi kemudian dia punya ide untuk memakai pasukan kerajaan, merekalah yang harus bertindak jika ada bajak laut. Tapi bagaimana caranya membuat pasukan kerjaan membantu mereka?

"Diantara parta pemimpin pasukan kerajaan, apa kau mengenal satu yang mudah goyah dan ambisius?" Tanya Putera Mahkota pada Mae Chang. "Akan lebih baik lagi kalau dia orang yang berpikir kalau dia milik provinsi ini."


Keesokan harinya, Komandan Angkatan Laut baru tiba di pelabuhan. Terdengar jawaban Mae Chang pada Putera Mahkota tentang si komandan, dialah yang akan jadi sasaran mereka. Mae Chang dan Hwa Goon sengaja lewat di depannya dengan membawa seorang pria Jepang yang kontan menarik perhatian si komandan.

Mae Chang pura-pura kaget seolah mereka tak sengaja bertemu. Saat Komandan menanyakan Hwa Goon, Mae Chang memberitahunya kalau dia adalah Kepala Saudagar dan barusan dia bilang kalau dia melihat penyelidik rahasia kerajaan yang sepertinya dikirim Raja ke tempat ini.


Mempercayai mereka, Komandan langsung membawa kedua wanita itu ke tempat sepi. Hwa Goon terlebih dulu memperingatkan Komandan untuk tutup mulut rapat-rapat tentang si penyelidik rahasia.

Dia memberitahu kalau nama si penyelidik rahasia itu adalah Park Moo Ha, seorang menteri pertahanan yang merupakan saudara dari Ibu Suri.


Dia langsung diajak untuk melihat Park Moo Ha dari kejauhan yang tampak sedang berbincang dengan seorang pria Jepang. Komandan mengira kalau Moo Ha mahir Bahasa Jepang, padahal Moo Ha dan pria Jepang itu sama-sama nggak ngerti satu sama lain ngomong apa. wkwkwk.

"Kau bisa bicara Bahasa Jepang?" tanya Chung Woon.

"Tentu saja... tidak." Jawab Moo Ha sambil nyengir.
 

Hwa Goon mengklaim kalau karir si penyelidik rahasia itu akan maju pesat jika penyelidikan rahasia ini sukses dan orang itu adalah orang yang sangat loyal, dia selalu membalas budi pada siapapun yang berbuat baik padanya.

Komandan mempercayainya dan langsung pergi membuntuti mereka. Tapi saat dia belok ke sebuah gang, dia malah kaget mendapati mereka bertiga sudah menunggunya di sana. Moo Ha pura-pura marah karena dikuntit. Dia siapa? Berani sekali dia mengikuti mereka!

Bersambung ke episode 14

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon