Powered by Blogger.

 Images Credit: SBS

Sinopsis Suspicious Partner Episode 20


Bong Hee, Tuan Byun dan Tuan Bang menguping pertengkaran mereka dari ruang sebelah. Itu memang dilema seorang pengacara.

"Biarkan saja mereka. Semua anak berkelahi saat tumbuh dewasa." Ujar Tuan Byun.

Persidangan pertama dimulai, Ji Hye mulai membacakan dakwaannya terhadap Nyonya Park. Bahwa dia bertengkar dengan suaminya di rumah lalu mendorongnya dengan sangat keras sampai korban terjatuh dan mengenai kepalanya dengan keras yang membuatnya mengalami pendarahan otak dan meninggal dunia.

Tapi bahkan setelah itu, terdakwa menusuk korban dengan senjata tajam. Karena itulah, jaksa menuntutnya atas pembunuhan dan merusak mayat

Eun Hyuk mengakui semua tuduhan itu, namun itu terjadi karena terdakwa mengalami stres dan depresi traumatis yang diakibatkan penyiksaan fisik dan verbal selama puluhan tahun.

Jae Young duduk di kursi penonton, sedih melihat ibunya menjadi terdakwa. Di kursi sebelah, Bong Hee keheranan melihat interaksi Jae Young dan Ibunya yang saling tersenyum seolah saling menguatkan satu sama lain.


Ji Wook datang tak lama kemudian dan duduk di samping Bong Hee. Bong Hee langsung curiga, Ji Wook tidak datang untuk bikin keributan, kan?

"Iya," canda Ji Wook. Tapi tidak kok, ini sidangnya Eun Hyuk, kenapa juga repot-repot bikin keributan.


Jaksa menolak alasan terdakwa melakukan kejahatannya karena mengalami gangguan mental. Selain itu, mereka tidak menemukan bukti yang menunjukkan kalau terdakwa dilecehkan secara fisik oleh korban pada hari kejadian.

Eun Hyuk mengakui tidak ada penyiksaan fisik pada hari kejadian, tapi terdakwa dianiaya selama 20 tahun yang membuatnya depresi berat. Karena itulah, ia berharap Hakim mempertimbangkan kondisi mental terdakwa.


Setelah persidangan usai, Bong Hee buru-buru mengejar Jae Young untuk menanyakan sesuatu. Entah apa yang mereka bicarakan karena setelah itu, Bong Hee langsung mempelajari semua dokumen kasus Nyonya Park.



Dia benar-benar fokus sepanjang hari sampai dia stres sendiri dan mengacak-acak rambutnya. Saat malam tiba, dia sudah seperti orang gila yang sedang berputar-putar di kursinya dengan penampilan acak-acakan.

Eun Hyuk sampai heran melihatnya. Tuan Bang dan Ji Wook nggak kaget, dulu Bong Hee juga seperti itu. Setiap kali dia harus melakukan sesuatu yang menantang atau saat dia harus banyak menggunakan otaknya, dia selalu seperti itu. Dia jarang mandi kalau lagi fokus kerja sampai rambutnya jadi berminyak.


Saat Bong Hee tiba-tiba mendatangi Ji Wook dengan penampilan gembelnya, Ji Wook kontan melompat kaget. Bong Hee mengaku ada banyak hal yang dikerjakannya dalam 3 hari belakangan ini. Dia bertemu Nyonya Park, lalu anaknya, lalu dokter sekaligus petugas otopsi dan juga pergi ke TKP.

"Banyak yang kau kerjakan, yah? Bagus. Tapi, rambutmu... apa kau jalan-jalan seperti ini?"

"Iya. Ada masalah?"

"Tidak. Tidak sama sekali. Tidak masalah."


Kalau begitu, dengarkan dia dulu. Karena dia sendiri pernah dipenjara, hal yang dia benci adalah saat ibunya mengkhawatirkannya. Dia dan Ibunya bersikap seolah mereka baik-baik saja.

Dan itulah yang diperhatikannya dari Nyonya Park dan Jae Young. Mereka seperti saling mengatakan pada satu sama lain kalau mereka baik-baik saja melalui tatapan mata mereka. Mereka jelas saling menyayangi lalu bagaimana bisa Jae Young membiarkan ibunya menanggung kesalahan yang diperbuatnya.

Saat Bong Hee menanyainya waktu itu, Jae Young mengaku kalau dia menyesal. Seharusnya dia di rumah saja waktu itu, dengan begitu ini tidak akan terjadi.

Flashback,


Saat itu, Jae Young dan ayahnya bertengkar hebat hingga Jae Young berharap ayahnya akan menghilang saja. Ayahnya jelas kesal bahkan sampai mengancam akan memukul Jae Young juga. Tak tahan lagi dengan ayahnya, Jae Young pun langsung pergi dan itulah terakhir kalinya dia melihat Tuan Kang dalam keadaan hidup.

Tapi di sisi lain, saat Nyonya Park terakhir kali melihat suaminya, dia sudah meninggal dunia. Karena Nyonya Park berasumsi bahwa anaknya lah yang membunuh Tuan Kang, jadi dia sengaja menusuk suaminya yang telah meninggal demi menanggung kesalahan.

Yang jadi pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua waktu sebelum dan setelah Tuan Kang ditemukan tewas. Dia sudah mencoba memikirkan segala kemungkinan, mulai dari perampokan sampai kecelakaan.

Tapi kemudian Jae Young menunjukkan sebotol obat yang biasanya diminum ayahnya. Di sinilah anehnya, kenapa tak ada yang berpikir untuk memeriksa rekam medis Tuan Kang.

Flashback end.


Bong Hee sudah bicara dengan Dokternya Tuan Kang dan Dokter memperkirakan kalau Tuan Kang mungkin mengalami pendarahan otak yang diakibatkan pecahnya pembuluh darah di otak. Karena itulah, Bong Hee meminta diadakan pemeriksaan postmortem. Mungkin saja pemeriksa melewatkan sesuatu karena luka yang lebih terlihat.

Setelah menyerahkan dokumennya, Bong Hee langsung garuk-garuk kepalanya yang belum dikeramasi. Tapi biarpun jorok, Ji Wook tetap begitu bangga pada Bong Hee sampai mengacuhkan dokumennya dan langsung menarik Bong Hee kedalam pelukannya.

"Jangan salah paham. Ini pelukan dari pengacara senior."

"Itu cuma alasan, kan?"

"Iya. Eun Bong Hee, kau... *endus-endus* kau kotor, tapi cantik." Ji Wook bangga padanya, dia sudah bekerja keras dan banyak mengalami kemajuan.


Yoo Jung menyerahkan laporan hasil otopsi kedua. Penyebab kemarian adalah pendarahan aneurisma otak, jadi tuntutan pembunuhan terhadap Nyonya Song akan dibatalkan. Mereka hanya akan menuntutnya karena merusak mayat.

Eun Hyuk sungguh berterima kasih padanya. Ji Wook berdehem canggung, dia juga berterima kasih. Tapi Yoo Jung tak mempercayai mereka, dia tahu kalau mereka tidak senang. Mereka lalu pergi mengabarkan hal ini pada Nyonya Park dan putranya. Kontan kedua ibu dan anak itu langsung menangis penuh haru.


Bong Hee menunggu di luar saat Ji Hye kebetulan lewat dan langsung menyapanya sok akrab. Bong Hee malas meladeninya dan mau pergi saja. Tapi Ji Hye menghentikannya dengan paksa dan tanya sejak kapan hubungan Bong Hee dan Ji Wook dimulai.

Apa hubungan mereka dimulai sejak di hotel. Waktu Bong Hee dan Hee Jun bertemu di hotel waktu itu. Bong Hee jelas heran, bagaimana Ji Hye bisa tahu? Tentu saja karena dia melihatnya... oops! Keceplosan.

Bong Hee sekarang mengerti. Jadi gadis berpakaian kuning yang bersama Hee Jun di hotel waktu itu ternyata Ji Hye. Ji Hye langsung canggung, itu kan sudah tidak penting lagi sekarang.

Yah, memang. Selingkuh bukan alasan untuk membuat keributan. Tapi... Bong Hee langsung menarik baju Ji Hye dengan kesal dan mengingatkan Ji Hye kalau Ji Hye lah yang membullinya dan menuduhnya tidak etis.


Jadilah kedua wanita jambak-jambakan, tepat saat Yoo Jung, Ji Wook dan Eun Hyuk baru keluar. Ji Wook buru-buru melerai mereka, tapi yang dia lepas cuma tangan Ji Hye dari rambutnya Bong Hee.

Ji Hye langsung menyindir kedekatan mereka dan Bong Hee hampir saja menyerangnya lagi. Bahkan saat mereka semua sedang menunggu lift, kedua wanita itu masih seperti dua kucing yang siap cakar-cakaran setiap saat.


Begitu lift membuka, Ji Wook dengan sengaja mendorong Bong Hee seorang bersamanya kedalam lift dan menyuruh yang lain naik lift berikutnya. Yoo Jung cemburu, Eun Hyuk senyam-senyum geli melihat mereka, mereka imut.

Aman berduaan di lift, Ji Wook langsung mengelus rambut Bong Hee. Tapi Bong Hee tak nyaman dengan sentuhannya, tidak apa-apa kok, rambutnya banyak, rontok sedikit tidak masalah.

"Tapi aku tidak suka itu." Ujar Ji Wook dengan tatapan polos.

"Jangan menggodaku."

Ji Wook senang, apa godaannya berhasil? Tidak! Ji Wook langsung menyudutkannya, lalu apa yang harus dia lakukan untuk membuatnya berhasil? Bong Hee makin gugup sampai dia harus ngelus dada untuk menenangkan degup jantungnya.

"Kau tidak bernafas lagi, yah?"


Lift membuka saat itu dan Bong Hee buru-buru melarikan diri. Tapi tentu saja Ji Wook terus membuntutinya. Bong Hee merasa bangga dengan hasil kerjanya. Dia merasa ibu itu luar biasa karena mereka bahkan mau berkorban dan dipenjara demi anak-anak mereka.

Ji Wook setuju, "Mereka memang menakjubkan."

Bong Hee tiba-tiba keceplosan bilang bahwa walaupun dia menyukai Ji Wook, tapi dia ingin bertemu ibunya hari ini. Ji Wook kaget, Bong Hee barusan bilang suka padanya, iya kan? Bong Hee berkelit menyangkalnya.

Ji Wook senang, "Aku juga harus menemui ibuku hari ini seperti Eun Bong Hee~~~"


Di restoran pizza, kedua ahjumma masih seperti biasanya. Bertengkar dan saling membanggakan anak-anak mereka masing-masing seolah anak masing-masing yang paling hebat.

Bong Hee datang saat itu, dan mereka langsung peluk-pelukan kangen. Bok Ja sinis, kangen apaan? Mereka kan sering bertemu... padahal dia juga kangen sama putranya.


Pada saat bersamaan, Ji Wook juga pergi mengunjungi ibunya... ke krematorium. Oh, ternyata Bok Ja bukan ibu kandungnya. Air mata Ji Wook mengalir melihat potret mendiang kedua orang tuanya, meminta maaf pada sang ibu karena jarang berkunjung.

"Astaga. Aku merindukanmu hari ini lebih dari sebelumnya... Ibuku."


Hyun Soo ditelepon seseorang dan mendapat kabar yang kurang mengenakkan. Dia langsung menghubungi Ji Wook dan mereka kemudian bertemu di cafe. Dia langsung to the point menyinggung kasus kriminal saat dia menyerang seorang pria cabul.

Tadi dia ditelepon wanita yang dia bantu waktu itu, dia bilang kalau tadi ada orang yang mengunjunginya dan bertanya-tanya tentangnya dan kejadian itu. Ketahuan, Ji Wook dengan cepat berakting meminta maaf, dia tidak bermaksud menyinggung Hyun Soo.

Hyun Soo pura-pura polos, kenapa sebenarnya Ji Wook terus mengawasi dan meragukannya. Memangnya apa salahnya? Dia sangat menyukai mereka, tapi kenapa Ji Wook seperti ini padanya?


"Karena kau berbohong padaku."

Hyun Soo ketawa geli mendengarnya. Apa Ji Wook tidak pernah berbohong sepanjang hidupnya. Manusia memang selalu berbohong, biasanya orang akan berbohong setidaknya 10-200 kali dalam sehari, apa Ji Wook tidak tahu itu.

Tidak, Ji Wook tidak tahu kalau manusia bisa berbohong sebanyak itu. Baiklah, anggap saja begitu. Tapi bukankah penting untuk membedakan jenis kebohongan. Hyun Soo tersenyum percaya diri, memangnya dia berbohong tentang apa? Apa Ji Wook tahu?

"Tidak. Jika aku tahu, aku takkan ada di sini sekarang."


Berusaha meredakan ketegangan, Ji Wook meminta maaf sekali lagi dan beralasan kalau ini hanya kebiasaannya sebagai mantan jaksa. Dia merasa harus selalu menyelidiki jika ada sesuatu yang mengganggunya.

Dia mengakui kalau dia memang menyelidiki Hyun Soo, tapi tak mendapatkan apapun. Dia janji takkan lagi menanyai orang-orang tentang Hyun Soo mulai sekarang. Hyun Soo jelas tak mempercayainya dan usul agar mereka bertemu lagi lain kali bersama Bong Hee. Ji Wook sontak cemas tapi dia berusaha tetap tenang. Tentu, tapi sementara waktu ini dia sibuk. Akan dia pikirkan.

 

Bong Hee baru keluar dari kamarnya saat Ji Wook datang tapi wajahnya tampak murung. Apa ada masalah? Ji Wook menyangkal, tapi Bong Hee tak mempercayainya. Apa ada yang ingin Ji Wook katakan kepadanya?

"Belum," batin Ji Wook. Tapi mulutnya berbohong bilang tidak ada.

Dia berpikir bahwa terkadang orang mengakui kebenaran kecil demi menyembunyikan sesuatu yang besar. Maka kemudian dia mengalihkan topik dan membahas tentang keluarganya. Dia mengaku kalau tadi dia pergi menemui ibunya.

Flashback,


Tepat setelah Bong Hee pergi dari restoran pizza, Ji Wook datang untuk menemui Bok Ja yang langsung menyambutnya gembira. Sementara Ji Wook makan pizza, Bok Ja sibuk menatap putranya itu dengan penuh kekaguman.

Ji Wook mengaku kalau dia barusan pergi menemui ibu kandungnya. Bok Ja mengaku kalau kemarin dia juga sempat memimpikan ibunya Ji Wook datang kemari.


Ji Wook mengaku pada Bong Hee kalau dia memiliki dua ibu. Ibunya yang sekarang adalah teman ibu kandungnya. Bok Ja sudah mengagumi dan menyayangi Ji Wook sejak dia baru lahir. Dia bahkan menyatakan pada Ibunya Ji Wook kalau dia juga ibunya Ji Wook.

Waktu kecil, Ji Wook kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kebakaran. Ayahnya meninggal lebih dulu. Ibunya sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi pada akhirnya dia meninggal tak lama kemudian. Setelah pemakaman orang tuanya, Bok Ja memberitahu Ji Wook kalau dialah yang akan menjadi ibu Ji Wook mulai sekarang.
 

Bok Ja menggelandot manja ke Ji Wook sampai Ji Wook protes, takut salah dikira kalau dia anak mami manja. Bok Ja protes, memangnya tidak boleh?

"Salah dalam banyak hal," sahut Tuan Byun yang ternyata oh ternyata suaminya Bok Ja, tapi sepertinya mereka lagi perang dingin. Bok Ja sampai tidak mengizinkannya pulang ke rumah dan cuma memanggilnya 'CEO Byun'.

Bok Ja menyangkal pernah mengusir Tuan Byun, dia cuma menyuruh Tuan Byun untuk pergi dari hadapannya. Biarpun tak tahu apa masalah mereka, tapi Ji Wook yakin kalau ini salahnya CEO Byun.

"Kenapa kau memanggilku 'CEO Byun', kau memanggilnya ibu?"

"Karena aku selalu ada di pihak ibu."

Flashback end.


Bong Hee mengaku kalau dia juga sama, dia sebenarnya memiliki dua ayah. Tapi dia ragu menceritakannya sekarang. Lain kali saja dia ceritakan kisahnya kalau ada kesempatan.

Ji Wook setuju. Kalau begitu, sekarang mereka tidur saja. Bong Hee langsung melotot kaget sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Maksudnya Ji Wook, mereka tidur di kamar masing-masing. Bong Hee mikir apaan sih? Udah gila apa?

Mereka langsung beranjak bangkit bersamaan dan hampir saja bertubrukan. Ji Wook tiba-tiba terpesona menatap bibir Bong Hee. Dia langsung mendekat untuk mencium Bong Hee... tapi gagal gara-gara gelas-gelas yang mereka bawa, tabrakan duluan.


Bong Hee buru-buru mengucap selamat malam dengan formal lalu kabur... lalu kembali sedetik kemudian untuk memberitahu Ji Wook, jika dia kesulitan tidur, coba saja Ji Wook bayangkan dia di sisi Ji Wook.

"Tidak bisakah kau temani aku saja?"

"Tidak bisa!" Bong Hee langsung kabur ke kamarnya.


Ji Wook berbaring di kamarnya sambil senyam-senyum gaje memikirkan Bong Hee. Dia akhirnya bisa tidur... tapi lagi-lagi dia memimpikan saat-saat kebakaran itu. Tapi kali ini, dia ingat lebih jelas wajah pria yang masuk dan berjalan mendekatinya setelah ayahnya meninggal. Ji Wook langsung tersentak bangun dengan nafas terengah-engah.


Bong Hee sedang mengagumi boneka kelinci pasangannya lalu membuka buku diary-nya. Ada foto ibu dan dirinya masa kecil, juga fotonya bersama dengan ayahnya. Tapi Ayahnya Bong Hee adalah pria yang Ji Wook lihat dalam mimpinya.

Epilog:


Bong Hee memutar uang koin dan bertekad untuk menerima Ji Wook jika dapat kepala dan jika dapat yang ekor maka dia akan menolak. Tapi bahkan setelah dia mencoba memutarnya berulang kali, yang keluar ekor terus.

Ji Wook muncul tak lama kemudian sambil protes karena Bong Hee berisik banget sedari tadi. Dia langsung memutar koin itu lalu pergi begitu saja. Koin itu berhenti berputar dan akhirnya, Bong Hee mendapat kepala. Bong Hee langsung senang.

Bersambung ke episode 21

3 comments

D tunggu kelanjutan y, sy suka bgt sama drama ini.makasih sinopsis y.

hhuhuhu knp jadi 40 episode... apa yg terjadi...??huhuhu ditunggu sinopsisnya

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon