Powered by Blogger.

Images Credit: SBS

Sinopsis Suspicious Partner Episode 21


Ji Wook sedang jogging pagi di taman yang sama dengan Eun Hyuk. Eun Hyuk langsung mengejarnya, senang karena mereka bisa joging bersama lagi setelah sekian lama. Tapi Ji Wook dingin menanggapinya, pergi sana.

Eun Hyuk kecewa mendengarnya. Teringat hari kematian orang tua Ji Wook, Eun Hyuk langsung mengejar Ji Wook lagi dan menolak pergi biarpun Ji Wook berusaha mengusirnya berulang kali.


Di rumah, Bong Hee menulis jadwal hari ini adalah hari berkunjung ke ayahnya. Saat kedua pria itu pulang, Bong Hee langsung menatap mereka sambil mesam-mesem. Ji Wook aneh melihat senyumannya, ngapain Bong Hee senyam-senyum begitu?

"2 pria berkeringat setelah olahraga. Ini fantasi semua wanita. Bagus!"

Eun Hyuk sependapat. Ji Wook kontan cemburu, "Bagus apanya? Kau cuma butuh 1 pria. Mengerti?"

"2 lebih baik dari 1."

Ji Wook langsung berusaha menyeret Eun Hyuk keluar dari sana, tapi Bong Hee malah mengundang Eun Hyuk sarapan bersama. Ji Wook protes tak setuju, ini rumahnya dan makanannya. Kedua orang itu santai saja mengedikkan bahu mereka.

Cemburu, Ji Wook berusaha menjauhkan Bong Hee dari Eun Hyuk dengan cara menyeret Bong Hee ke dapur biar Bong Hee melihatnya masak. Sementara Ji Wook mencari bahan makanan di kulkas, Bong Hee dan Eun Hyuk diam-diam saling memberi jempol. Sepertinya mereka sengaja membuat Ji Wook cemburu. hehe.


Siang harinya, Ji Wook memberitahu Tuan Bang untuk menghentikan penyelidikannya terhadap Hyun Soo karena Hyun Soo ternyata sudah mengetahui aksi mereka. Dia punya firasat buruk tentang masalah ini, jadi sebaiknya mereka berhenti menyelidiki masa lalu Hyun Soo.

Tuan Bang menyetujuinya lalu kembali ke mejanya dengan perasaan tak tenang menatap fotonya Chan Ho bersama dua orang pria.


Di tempat lain, Hyun Soo juga sedang melihat-lihat beberapa foto pria. Beberapa wajah orang-orang dalam foto-foto itu sudah dia coret, mungkin mereka orang-orang yang sudah dibunuhnya.

Termasuk salah satunya adalah foto pria yang tampak di sebelahnya Chan Ho. Dia juga hendak menyayat foto wajah Chan Ho, tapi entah apa yang membuatnya ragu.


Ji Wook bersama kedua orang tua angkatnya pergi ke krematorium untuk mengunjungi orang tua Ji Wook. Tampak di guci abu sang ayah, tertulis tanggal kematiannya 15-06-1994.

Bok Ja menangis dan mengutuki Ayahnya Ji Wook, jika saja dia tidak melakukan hal itu dulu maka mereka pasti bisa melihat putra mereka tumbuh.


Di bagian lain krematorium itu, Bong Hee dan Ibunya juga datang untuk mengunjungi mendiang Ayah Bong Hee dan tampak di guci abunya, Ayah Bong Hee ternyata meninggal dunia pada hari yang sama dengan Ayahnya Ji Wook.

Bong Hee dan Ibu meyakinkan Ayah kalau mereka baik-baik saja sekarang. Ibu dengan bangga memberitahu Ayah kalau Bong Hee sekarang sudah menjadi pengacara yang keren.

"Aku belum menjadi pengacara yang baik sekarang. Tapi akan berusaha jadi pengacara yang baik."


Tuan Byun keluar duluan dan melihat Bong Hee sedang turun bersama Ibunya. Tapi mungkin karena keseringan dituduh suka berkhayal, Tuan Byun jadi tak yakin dengan apa yang dilihatnya dan akhirnya memutuskan kalau pasti dia salah lihat lagi.


Di sebuah cafe, seorang pria sedang duduk seorang diri sambil mengsms pacarnya dan berkata kalau dia akan menunggu kedatangan sang pacar. Dia lalu melihat seorang pria masuk tak lama kemudian.

Pria kedua itu berjalan mendekati seseorang. Kedua pria itu tidak saling mengenal. Tapi entah mengapa, tiba-tiba pria pertama tadi menghadang si pria kedua dan melarangnya melakukan apapun yang hendak dilakukannya seolah dia tahu betul apa yang mau dilakukan si pria kedua.

Pria kedua jadi emosi dan langsung menghajar pria pertama. Jadilah kedua pria itu saling serang hingga merusak properti cafe dan membuat seorang pelanggan yang tak bersalah terluka.


Sekarang, pria pertama bernama So Jung Ha itu duduk di hadapan Ji Wook dan Bong Hee karena dia dituntut atas tuduhan penyerangan, mencederai seseorang karena kelalaian, pengrusakan properti dan mengganggu jalannya bisnis orang lain.

Ditambah lagi, Tuan So sebenarnya sedang menjalani masa percobaan atas tuntutan yang sama saat ini. Tuan So dengan rendah hati mengakui semua tuduhan itu dan mengakui kalau dialah yang memulai perselisihan.

Ji Wook sontak emosi, kenapa dia melakukan itu. Kenapa dia terus menerus melakukan kesalahan yang sama. Bong Hee sampai harus bertindak menenangkannya dan mengingatkan kalau sekarang dia pengacara dan bukannya jaksa.


Eun Hyuk dan Tuan Bang melihatnya dari luar dan mengisyaratkan Ji Wook untuk tersenyum pada klien mereka. Ji Wook akhirnya berusaha menahan emosi dan memaksakan senyum di mulutnya dan memperbaiki nada bicaranya, jadi apa alasan Tuan So melakukan perbuatannya itu?

Hanya jika dia mengetahui alasannya, dia bisa menyelesaikan kasus ini, minta tawaran untuk mengajukan permohonan dan memohon pengampunan di pengadilan.

"Aku bisa melihat apa yang ada di depanku." Ujar Tuan So.

"Tentu. Kita semua juga semua juga bisa melihat apa yang ada di depan."

"Maksudku, aku bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan." Aku Tuan So.

Jelas semua orang langsung menatapnya aneh. Tapi Tuan So langsung membuktikan klaimnya dengan berkata 'Pizza'. Dan beberapa detik kemudian, Tuan Byun datang dengan membawakan beberapa pizza untuk semua orang.


Setelah Tuan So pergi, mereka berkumpul untuk menikmati pizza bersama sambil membicarakan kemampuan Tuan So yang bisa meramal masa depan. Ternyata pada hari itu, Tuan So melihat lawannya itu masuk kedalam cafe untuk menyerang pegawai cafe dan karena itulah Tuan So menghalanginya.

Tapi Tuan Byun tak percaya, dia yakin kalau Tuan So itu sudah gila. Mereka dapat klien gila karena pengacara yang kerja di tempat ini juga pada gila. Ji Wook juga tak percaya, dia sudah memeriksa rekaman CCTV dan tidak ada bukti yang membuktikan kalau si lawan itu membawa senjata.

"Mungkin dia berbohong atau tidak waras, mungkin dia cuma berkhayal. Mungkin dia salah satu dari orang-orang yang mengira mereka alien atau punya kekuatan supranatural." Pendapat Eun Hyuk.

Tapi Tuan Bang percaya padanya, buktinya Tuan So tadi meramal mereka akan makan pizza. Ji Wook menduga kalau Tuan So cuma mencium bau pizza duluan. Pokoknya dia menolak kasus ini. Tapi Tuan Bang tidak setuju, mereka harus mengambil setiap klien yang datang pada mereka.


Tuan Byun setuju, apalagi dia menghabiskan banyak uang untuk gaji bulanan mereka dan biaya perawatan kantor ini, terutama untuk Ji Wook dan Bong Hee yang juga tinggal di kantor ini. Ji Wook dan Bong Hee sontak kabur dari sana.


Tuan Bang lalu pergi ke kantor polisi untuk menyelidiki rekaman CCTV. Memang tidak tampak ada pisau di tangan pria itu, tapi Pak Polisi berkata kalau sebenarnya ada pisau didalam jaket pria itu. Mereka baru menemukan pisau itu saat mereka menggeledah tubuh pria itu.


Tuan Bang jadi semakin yakin dengan kemampuan Tuan So dalam meramal masa depan. Waktu itu, Tuan So dengan yakin berkata kalau pria itu punya pisau dan dia pasti akan mengeluarkannya jika saja dia tidak menghalangi pria itu.

Ji Wook masih menolak mempercayainya, mungkin saja Tuan So sudah melihat pisaunya waktu itu. Tuan Bang yakin tidak, soalnya dalam rekaman CCTV, pria itu tidak pernah terlihat mengeluarkan pisau.

"Astaga, Tuan Bang. Kau percaya pada dukun?"

"Omo. Kau saja percaya pada Biksu. Wanita yang menghancurkan hidupmu..."

Ji Wook buru-buru menutup mulut Tuan Bang sebelum dia nyerocos lebih jauh. Bong Hee jelas penasaran dengan sikap aneh mereka.


Tuan So datang tak lama kemudian, tapi seketika itu pula mendadak dia berkata, "Hati-hati dengan cangkirnya."

Dan beberapa detik kemudian, Tuan Byun tiba-tiba kesandung dan menjatuhkan cangkirnya sampai pecah, persis sesuai ramalan Tuan So. Semua orang kontan tercengang menatapnya. Tuan So tersenyum canggung tapi tiba-tiba saja senyumnya memudar.

Ekspresinya berubah serius saat dia merasakan sesuatu yang aneh. Seolah dirasuki sesuatu, dia berkata "Kemungkinan ada dua orang didalam firma ini yang akan segera mati."

Episode 21: Di Dunia Terbatas Ini.


keesokan harinya, Bong Hee mendapati kantor kosong dan hanya ada Eun Hyuk. Kemana semua orang? Eun Hyuk berkata kalau Tuan Byun sedang check-up ke rumah sakit, karena dia pikir kalau dialah yang akan segera mati. Kalau Tuan Bang, dia sedang pergi mencari jimat.Lalu Ji Wook?

"Aku tahu kalau kau pasti paling penasaran dengan Ji Wook. Tapi aku tidak mau bilang." Goda Eun Hyuk.

Tapi beberapa saat kemudian, Bong Hee tiba di sebuah taman dan melihat Ji Wook sedang piknik seorang diri dibawah pohon dan membayangkan Ji Wook kecil dan Ji Wook remaja piknik seorang diri di tempat itu.

Flashback,


Eun Hyuk memberitahu Bong Hee bahwa hari ini sebenarnya adalah hari Ji Wook dan kedua orang tuanya berjanji untuk piknik bersama. Akan tetapi, sehari sebelumnya, Ayah Ji Wook meninggal dunia.

Karena itulah satu hari setelah peringatan hari kematian orang tuanya setiap tahun, Ji Wook selalu piknik seorang diri dan mereka semua tak pernah mengganggu Ji Wook.

Bong Hee mengaku kalau dia juga punya pengalaman yang sama. Karena itulah dia tahu betul kalau pada saat seperti ini, rasanya sebenarnya sangat kesepian. "Sendirian itu tidak enak. Dia mungkin ingin seseorang menganggunya."

Flashback end.

 

Bong Hee langsung mendekati Ji Wook dan beralasan kalau dia tak sengaja lewat di sana. Jadi dia pikir mungkin dia harus menganggu Ji Wook. Ji Wook senang-senang saja diganggu olehnya dan mengajaknya duduk disampingnya.

Tapi Ji Wook langsung serius memberikan dokumen tentang kejiwaan pada Bong Hee dan menyuruh Bong Hee mempelajarinya karena dia masih berpikir kalau Tuan So itu gangguan jiwa. Bong Hee ketawa garing dan tampak jelas kecewa.


Tak lama kemudian, Bong Hee melihat seorang ayah yang sedang mengajari anaknya bersepeda. Bong Hee tersenyum menatap mereka. Bong Hee mengaku kalau dia tak punya banyak kenangan dengan mendiang ayahnya.

Tapi salah satu kenangan paling membekas adalah sepeda. Ayahnya bilang kalau dia akan membelikan Bong Hee sepeda dan mengajarinya bersepeda, tapi kemudian dia meninggal dunia. "Mungkin karena itu, aku merasa bahagia setiap kali melihat anak kecil."


Mendengar itu, Ji Wook langsung bangkit. Dia akan mengajari Bong Hee bersepeda. Bong Hee menolak dan berusaha menjelaskan maksudnya. Tapi Ji Wook langsung menyeretnya pergi. Jadilah Ji Wook mengajari Bong Hee bersepeda.

Tapi tiba-tiba Bong Hee melihat seorang pria sedang diam-diam memotreti para wanita. Bong Hee ingat kalau pria itu adalah si pria cab*l yang pernah memegangi bokongnya di subway dulu.

Pria itu melihat Bong Hee dan langsung mengenalinya. Pria itu sontak panik mau melarikan diri. Bong Hee tiba-tiba memacu sepedanya dengan ahli untuk mengejar si pria cab*l itu, Ji Wook sampai kaget melihatnya dan akhirnya baru sadar kalau Bong Hee sebenarnya bisa mengendarai sepeda.


Bong Hee berhasil menghadang orang itu dan langsung melompat untuk menendang pria itu, tapi tendangannya luput beberapa senti. Bong Hee langsung mencekik orang itu dan berhasil merebut memory card-nya sebelum pria itu sempat menelannya.
 
Seolah mereka akrab, pria itu bersimpati dengan apa yang pernah Bong Hee alami, dia mengetahuinya dari berita di TV. Dia terus nyerocos bahwa di sekitar apartemen tempat tinggal mereka dulu telah terjadi beberapa pembunuhan di atap. Dia takut, makanya dia langsung pindah ke tempat lain.


Beberapa saat kemudian, pria itu ditangkap polisi dan Ji Wook langsung mengkonfrontasi Bong Hee yang ternyata sudah ahli bersepeda. Bong Hee canggung mengaku kalau dia sebenarnya sudah belajar bersepeda sendiri setelah Ayahnya meninggal.

Tapi saat mereka pergi, ucapan pria tadi mulai menganggu Bong Hee. Dia mulai teringat kembali akan pengakuan pria itu dulu, bahwa dia pernah menyaksikan pembunuhan di sebuah atap apartemen saat dia sedang melakukan aksi mengintipnya.

Bong Hee memikirkan kembali kejadian malam pembunuhan Hee Joon waktu itu. Dia membuka jendela untuk mencari udara segar tapi waktu itu dia tidak bisa melihat apapun karena sedang tidak pakai kacamata.

Bong Hee mulai memikirkan kemungkinan yang pernah dipikirkan Ji Wook dulu. Mungkin waktu itu, Bong Hee menyaksikan sesuatu yang tidak disadarinya. Ji Wook pun langsung mengajaknya untuk mengecek daerah itu lagi untuk mencari tahu.


Lingkungan itu masih belum berubah tapi tampak lebih sepi. Karena adanya rencana pembangunan ulang, Bong Hee pikir mungkin sudah banyak orang yang pindah dari sini.

Saat mereka hendak memeriksa atap sebuah gedung apartemen, mereka malah tak sengaja bertemu Yoo Jung dan Ji Hye yang hendak melakukan investigasi ulang. Bong Hee langsung menyudutkan Ji Hye dengan kesal dan pura-pura mau menghajarnya lagi.

Yoo Jung dan Ji Wook cuma diam melihat kedua teman itu berdebat. Ji Wook mengaku kalau hari-harinya jadi tak pernah membosankan berkat Bong Hee. Yoo Jung tak senang mendengarnya, Ji Wook terdengar seperti sedang balas dendam padanya. Terserah, Ji Wook tak peduli apapun yang Yoo Jung pikirkan.


Ji Wook dan Bong Hee lalu naik ke atap. Tapi saat mereka mendekat ke sebuah tandon besar di sana, Ji Wook tiba-tiba mencium bau busuk. Dia langsung mendekati tempat itu dan melihat genangan darah kering yang tampak mengucur dari lubang kecil di tandon itu.


Beberapa saat kemudian, tempat itu sudah ramai oleh kedatangan polisi dan petugas forensik. Ji Wook, Bong Hee, Yoo Jung dan Ji Hye melihat beberapa petugas menggotong dua mayat yang mereka temukan didalam tandon itu.

"Apa mungkin, aku menyaksikan sesuatu tanpa tahu kalau aku melihatnya." Bong Hee bertanya-tanya. "Dan karena itu Hee Jun mati seperti itu dan aku mengalami masa-masa sulit. Kurasa, aku dan Hee Jun menderita secara tak adil."

Ji Wook lansung menggenggam tangan Bong Hee untuk menyemangatinya. Tanpa mereka sadari, Hyun Soo lewati agak jauh dari sana dan menyaksikan kehebohan itu. Tapi dia yakin tidak akan masalah karena dia menanganinya dengan sempurna.


Bong Hee masih gelisahnya setibanya di rumah. Ji Wook masuk ke kamarnya tak lama kemudian dan dengan canggung mengakui kegagalannya dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang jaksa dulu.

Bong Hee langsung menyelanya dan mengomentari sikap Ji Wook yang selalu minta maaf karena tidak bisa menjaga perasaan pribadinya dari pekerjaan dan terus mencoba merayunya dengan alasan menjadi mentornya. Ji Wook menyangkalnya, permintaan maaf kali ini murni tentang
.
"Kita sudah membiarkan perasaan kita menghalangi. Karenanya, aku akan uabh rencananya untuk bersikap jual mahal dan memberimu jawaban. Jawaban atas pengakuanmu itu. Aku akan menjawabmu sekarang."

 
Ji Wook sontak senang mendengarnya dan langsung memeluk Bong Hee, terima kasih. Tapi Bong Hee langsung melepaskan pelukannya dan mengingatkan kalau dia belum memberi jawaban. Ji Wook langsung merajuk kayak anak kecil, cepat beritahu jawabannya.

"Tidak hari ini. Aku mau pilih hari agar kita bisa pergi dan melakukannya dengan benar."

"Kalau begitu, kita pergi nanti malam."

Bong Hee ngotot tidak hari ini, lusa saja. Ji Wook tidak mau, besok saja. Oke, deh. Ji Wook senang. Dia pun pergi dengan senyum lebar tanpa memperhatikan foto Bong Hee dan ayahnya yang ada di mejanya Bong Hee.

Bersambung ke episode 22

4 comments

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon