Powered by Blogger.

Images Credit: SBS

Sinopsis Suspicious Partner Episode 22


Ji Wook langsung naik tanpa menyadari Tuan Byun yang baru keluar dari dapur dan keheranan melihatnya keluar dari kamarnya Bong Hee.

Saat mereka hendak rapat, Tuan Byun lagi-lagi menyela hanya untuk bertanya apakah Ji Wook dan Bong Hee pacaran. Ji Wook dan Bong Hee sontak lirik-lirikan. Bong Hee menyangkal, Ji Wook sontak kecewa mendengarnya.

Tapi Tuan Byun malah berharap mereka pacaran. Bong Hee jelas heran, Tuan Bang berpikir kalau Tuan Byun pasti sangat menyukai Bong Hee.

Tapi Tuan Byun langsung menjelaskan maksudnya, "Mereka harus pacaran biar aku bisa menentang hubungan mereka! Aku tidak akan menyetujui hubungan mereka bahkan sampai aku mati! Aku akan menyirammu dengan segelas air dan melemparkan uang padamu."

Bong Hee santai, "Kalau begitu aku akan menghindari airnya dengan cepat dan menerima uangnya."

"Jadi maksudmu kau akan mengencaninya apapun yang terjadi?"

"Anda sendiri yang suruh."


Ji Wook heran, memangnya apa urusan Tuan Byun dalam masalah ini. Tuan Byun tambah emosi, tentu saja ini urusannya. Ji Wook tidak peduli, pokoknya mulai sekarang Tuan Byun dilarang ikut meeting. Soalnya gara-gara Tuan Byun, mereka jadi tak pernah bisa mencapai tujuan meeting. Tuan Byun stres mendengarnya.


Keesokan harinya, Ji Wook membuka mata dan hal pertama yang diingatnya adalah janji Bong Hee untuk memberinya jawaban hari ini. Dia langsung semangat berdandan dan memilih-milih baju yang tepat. Di kamarnya sendiri, Bong Hee juga sama antusiasnya memilih-milih baju dan mempercantik dirinya.


Sebelum bertemu Ji Wook, Bong Hee pergi ke kantor kejaksaan. Tapi di tengah jalan, dia malah tak sengaja bertemu dengan Hyun Soo yang baru keluar setelah mengantarkan paket. Bong Hee membeku seketika sebelum kemudian ingat untuk menyapanya dengan ramah.

Tiba-tiba Hyun Soo melihat seorang pengendara motor yang ngebut ke arah Bong Hee. Dia langsung sigap menjauhkan Bong Hee dan membuat barang-barang bawaan mereka terjatuh, termasuk ponsel dan headset-nya Hyun Soo.

Saat Bong Hee tengah memunguti dokumennya, tiba-tiba dia mendengar lagu yang melodinya sama persis dengan melodi yang selama ini dicari-carinya, dan lagu itu datangnya dari ponselnya Hyun Soo.

Bong Hee sontak tercengang menatap Hyun Soo. Menyadari apa yang Bong Hee sadari, Hyun Soo buru-buru mengambil ponsel dan headset-nya. Bong Hee pun cepat-cepat menutupi keterkejutannya dengan pura-pura tersenyum.


Begitu berpisah dari Hyun Soo, Bong Hee berjalan linglung memikirkan saat dia mencoba menanyai ahjussi pemasang spanduk tentang pria yang katanya mau membuat laporan dulu.

Dia menunjukkan foto Hyun Soo, tapi Ahjussi itu tampak gugup dan mengklaim kalau dia tak pernah melihat pria itu. Tapi saat Bong Hee menunjukkan foto Chan Ho, Ahjussi langsung mengkonfirmasi kalau Chan Ho lah orang itu.

Tapi sekarang Bong Hee mulai meragukan pernyataan Ahjussi. Dia langsung menelepon Ahjussi dan berusaha meminta Ahjussi untuk mengatakan yang sebenarnya, pria yang katanya mau membuat laporan itu sebenarnya pria yang pernah bersamanya waktu itu, kan. Tapi Ahjussi malah menutup teleponnya begitu saja tanpa memberi jawaban.


Dalam flashback, Ahjussi memang sengaja membohongi Bong Hee karena Hyun Soo ternyata pernah mendatanginya dan mengancamnya. Hyun Soo menunjukkan foto Chan Ho padanya dan memerintahkan Ahjussi untuk bilang kalau Chan Ho lah orang yang mau membuat laporan itu.


Berusaha tetap percaya pada Hyun Soo, Bong Hee memberitahu dirinya sendiri bahwa mendengarkan lagu yang sama, bukan berarti Hyun Soo pembunuhnya. Mungkin saja itu cuma sekedar kebetulan.

Tapi pikirannya berkata lain. Tidak mungkin itu cuma sekedar kebetulan. Bong Hee jadi semakin gelisah saat teringat segala ekspresi aneh Hyun Soo dulu yang seolah menganggap semua ini menggelikan.

Dia berusaha memaksa dirinya untuk tenang dan memikirkan segalanya dengan baik. Dia menduga kalau Hyun Soo sengaja mendekatinya untuk mendapatkan simpatinya dan mencoba mengecek apakah dia mengenali Hyun Soo atau tidak.
Air mata Bong Hee mengalir saat dia memikirkan kemungkinan itu, "Jika semua itu benar, berarti aku terlibat dengan seorang pembunuh dan membuat Pengacara No membela seorang pembunuh."


Tanpa dia sadari, Hyun Soo mengintipnya dari belakang sambil bergumam, "Kau tidak seharusnya mengenaliku. Jika iya maka aku harus menyingkirkanmu."


Ji Wook sudah menunggu di cafe tempat janjian mereka dengan membawa sebuket bunga. Tepat saat itu juga, Ji Hye dan Yoo Jung datang. Ji Hye berusaha menghalangi Yoo Jung untuk menyapa Ji Wook, lagipula Ji Wook tidak menyukai Yoo Jung.

Tapi Yoo Jung tidak peduli dan langsung menghampiri Ji Wook. Ji Wook sudah senang saat ada seseorang yang mendekatinya, tapi langsung berubah kecewa saat melihat yang datang ternyata Yoo Jung.

Yoo Jung mau duduk, tapi Ji Wook tegas melarang, dia ada janji penting sekarang ini. Dia melihat Bong Hee tepat saat itu juga. 


Merasa bersalah pada Ji Wook, Bong Hee membatin meminta maaf pada Yoo Jung karena dia akan memanfaatkan Yoo Jung. Dia langsung berbalik pergi seolah dia cemburu melihat kebersamaan Yoo Jung dengan Ji Wook.

Ji Wook bergegas mengejarnya dan berusaha menjelaskan agar Bong Hee tidak salah paham dan berjanji kalau dia akan lebih hati-hati mulai sekarang. Pura-pura marah, Bong Hee berkata kalau dia memutuskan berubah pikiran dan tidak akan memberi jawaban untuk Ji Wook hari ini, dia akan jual mahal saja.

Ji Wook tidak masalah, tapi dia cemas memperhatikan wajah Bong Hee yang sepertinya tidak baik-baik saja. Bong Hee dingin menyuruhnya mengkhawatirkan diri sendiri saja.

"Maksudku, aku ingin kau memberitahuku tentang apa yang terjadi padamu hari ini."

"Aku hanya tiba-tiba merasa terbebani harus perasaanmu. Aku merasa agak tak nyaman. Itu saja. Kau bilang, kau akan menghormati keputusanku. Tolong hormati perasaanku dan keputusanku."


Bong Hee merenung di taman saat Eun Hyuk datang tak lama kemudian. Bong Hee mengaku kalau dia butuh bicara dengan seseorang dan hanya Eun Hyuk satu-satunya orang yang dia pikirkan. Bong Hee mengaku kalau dia sangat ketakutan saat ini, perasaannya saat ini persis seperti apa yang dia rasakan saat Hee Jun meninggal dan dia dituduh sebagai pembunuh.

"Aku merasa seperti melakukan sesuatu yang salah, tapi aku tak tahu apa. Tapi sekarang ini, aku jauh lebih takut daripada saat Hee Jun meninggal."

Dulu dia hanya perlu menangani situasinya seorang diri. Tapi sekarang, dia punya orang-orang yang berharga baginya. Sekarang dia punya Ji Wook. Semakin banyak orang yang dia cintai, dia jadi semakin takut. Eun Hyuk langsung mengerti kalau orang ditakuti Bong Hee adalah Hyun Soo.

 

Di kantor, Tuan Bang masih terobsesi mencari berbagai jimat penangkal petaka. Tuan Byun lebay meyakini dirinya lah salah satu diantara mereka yang akan mati karena dia sudah tua.

Ji Wook sendiri terus melamun sedih di mejanya. Tuan Bang mengajaknya bicara berdua dan bertanya apa sebenarnya yang mengganggu Ji Wook. Ji Wook heran saja, apa alasan (Bong Hee) bersikap seperti itu. (Bong Hee) bukan tipe orang yang akan melakukan hal semacam itu hanya karena salah paham.

"Ada apa dengannya? Apa yang terjadi?" Ji Wook mendesah frustasi. Tuan Bang langsung tahu siapa yang Ji Wook maksud sekalipun Ji Wook tidak pernah menyebut siapa yang dimaksudnya.


Hujan tiba-tiba mengguyur saat Bong Hee baru tiba. Dia mencari payung di mobilnya, tapi tak ada. Terpaksa dia berniat pakai koper untuk memayungi kepalanya. Tapi baru saja dia keluar, Ji Wook datang memayunginya.

"Kau tidak akan menolak kebaikanku hanya karena kau memutuskan untuk menolakku, kan?"

Mereka berjalan masuk saling saling berdiam diri. Tapi Ji Wook tiba-tiba berhenti di tengah jalan dan mencoba membujuk Bong Hee agar mereka saling jujur pada satu sama lain. Jika Bong Hee sulit mengatakan apa masalahnya, maka dia yang akan mengatakannya duluan.

Tapi Bong Hee menolak, dia tidak ingin melakukan apapun sekarang ini. Ada banyak hal memenuhi pikirannya saat ini. Lebih baik mereka bicara setelah kepalanya jernih. Baiklah, Ji Wook mengalah, dia akan memberi Bong Hee waktu.

"Sampai saat itu, haruskah aku memperlakukanmu sebagai rekan kerja? Itu akan lebih nyaman, bukan?" Usul Ji Wook. Bong Hee setuju.


Mereka sama-sama gelisah di kamar masing-masing. Bong Hee lalu menulis semua petunjuk tentang pembunuhan Hee Jun. Mulai dari melodi, Ahjussi pemilik toko spanduk hingga pria cab*l yang menyaksikan pembunuhan.

Dia memutuskan mau menemui Ahjussi lagi. Tapi baru saja membuka pagar, dia langsung membeku shock melihat Hyun Soo sudah ada di depannya. Hyun Soo menatapnya dengan senyum mengejek, kenapa Bong Hee sekaget itu?

Bong Hee buru-buru menutupi keterkejutannya dengan beralasan kalau dia hanya kaget karena mendadak melihat Hyun Soo. Hyun Soo sedang apa disini? Tentu saja karena dia sedang mengantarkan pesanan di daerah ini. Hyun Soo tiba-tiba bergerak mendekatinya dengan senyum menakutkan. 


Tapi untunglah, tepat saat itu juga, Eun Hyuk muncul. Dia menyapa Hyun Soo ramah lalu mendorong Bong Hee masuk, sudah malam, lanjutkan pekerjaan besok saja.

Tak lupa dia mengundang Hyun Soo masuk. Hyun Soo menolak. Kalau begitu datanglah kapanpun, klien mereka seperti keluarga bagi mereka. Hyun Soo menanggapinya dengan senyum saja, tahu betul kalau mereka cuma pura-pura.


Begitu aman didalam, Bong Hee merasa kalau Hyun Soo mungkin  sudah tahu apa yang dia pikirkan. Eun Hyuk pikir mungkin saja. Tapi apa Bong Hee benar-benar tidak akan memberitahu Ji Wook. Memang seharusnya dia memberitahu Ji Wook, tapi Bong Hee merasa tak sanggup mengatakannya.

"Aku tidak sanggup memberitahu dia kalau kami mungkin... sudah emmbebaskan seorang pembunuh."

Ji Wook keluar saat itu. Tapi langsung masuk kembali, tak mau menganggu percakapan mereka.


Keesokan harinya, persidangan kasus Tuan So dimulai. Sementara Ji Hye membacakan dakwaannya, Tuan So santai sms-an dengan pacarnya, yakin kalau sebentar lagi mereka bisa bertemu.

Ji Wook mengakui bahwa terdakwa mengakui sebagian tuduhan itu. Semua tuduhan sudah diselesaikan secara damai, kecuali tuduhan penyerangan. Mereka berusaha menyelesaikan masalah itu.

Tapi masalahnya, pria yang berkelahi dengan terdakwa waktu itu, tidak bisa dihubungi saat ini. Karena itulah, Ji Wook meminta tambahan waktu agar mereka bisa menyelesaikan perkara itu.


Tuan Bang dan Bong Hee mencoba mendatangi rumah pria itu tapi tak ada jawaban. Bahkan para tetangga tak ada yang mengenalnya. Mereka akhirnya pulang tanpa hasil. Tapi saat Bong Hee melapor pada Ji Wook, Tuan Bang tiba-tiba memanggil mereka ke depan TV.

Berita di TV menyiarkan sebuah penyerangan yang terjadi di cafe itu. Penyerangan itu dilakukan oleh pria yang berkelahi dengan Tuan So. Dan kali ini, dia benar-benar menyerang pegawai cafe sesuai prediksi Tuan So.

Jika prediksi Tuan So benar tentang pria itu, Tuan Bang menduga kalau ramalan Tuan So bahwa akan ada dua orang diantara mereka yang akan mati itu juga benar. Tapi Ji Wook tetap tak percaya, jangan bicara omong kosong.


Di bandara, tampak seorang wanita yang baru keluar dari terminal. Di belakangnya, pria yang ada di foto bersama Chan Ho juga baru mendarat. Tanpa dia sadari, Hyun Soo diam-diam membuntutinya.


Persidangan Tuan So baru saja selesai. Ji Wook memberitahunya bahwa mungkin dia akan didenda. Tapi kenapa dia terus menerus sms-an selama persidangan tadi? Tuan So mengaku kalau pacarnya yang sudah lama tidak ditemuinya, akan kembali.

Dia penasaran dengan kemampuan meramal masa depan Tuan So, apa itu sungguhan? Atau itu cuma semacam tipuan. Tuan So meyakinkan kalau kemampuannya itu sungguhan. Dia punya firasat walaupun itu hanya terjadi kadang-kadang.

Lalu ramalannya tentang dua orang di firmanya yang mungkin akan mati, apa itu juga sungguhan. Iya, sungguhan. Tapi Ji Wook tetap tak percaya. 


Mereka kemudian kemudian berpisah arah di jalan. Tuan So terus saja memandangi ponselnya sambil menyeberang jalan... tepat saat sebuah mobil melintas dan langsung menabraknya. Ji Wook kontan membeku mendengar suara tabrakan di belakangnya.

Tuan So melayang di udara dan saat itulah, dia memikirkan ramalannya tentang dua orang yang ada di firmanya Ji Wook yang mungkin akan meninggal. "Aku tak menyangka kalau salah satu diantaranya adalah aku."

Tuan So kontan terbanting ke aspal dan darah mengucur deras dari kepalanya. Ji Wook sontak berbalik arah dan menemani Tuan So saat dia dilarikan ke rumah sakit.


Kondisi Tuan So sekarat, tapi dia menolak dioperasi. Ji Wook langsung menelepon pacar Tuan So dan memintanya untuk cepat datang karena Tuan So bersikeras menolak dioperasi sebelum bertemu sang pacar.

Ji Wook terus berusaha membujuk Tuan So untuk operasi sekarang juga. Tapi Tuan So ngotot tidak mau. Lagipula dia diberitahu kalau mungkin dia tidak akan selamat. Jika begitu, lebih baik dia melihat orang yang selama ini sangat dia rindukan.

"Ngomong-ngomong, aku bukan penipu, kan?"


Tiba-tiba dia mendapat penglihatan akan Ji Wook yang menjerit-jerit dan menangis begitu memilukan. Dia tidak mengatakan apa yang dilihatnya dan hanya memberitahu Ji Wook untuk tidak menangis, segalanya akan baik-baik saja.


Tepat saat itu juga, wanita yang baru mendarat di bandara tadi, datang dengan panik. Tuan So lega melihat sang pacar akhirnya datang dan seketika itu pula dia menghembuskan nafas terakhirnya.

Sembari menatap tubuh Tuan So yang sudah tak bernyawa, Ji Wook berpikir bahwa kita semua pernah kehilangan seseorang.

"Beberapa orang kehilangan keluarga, beberapa orang kehilangan teman, beberapa orang kehilangan kekasih. Entah orang baik atau jahat, tak ada seorang pun yang tidak pernah kehilangan seseorang."

Dalam narasi Ji Wook, kita melihat Ji Hye yang menangis dan menyalahkan Bong Hee atas kematian Hee Jun, Bok Ja yang menangisi kepergian orang tua Ji Wook yang merupakan temannya, Bong Hee yang kehilangan ayahnya, Jaksa Jang yang membelikan kue ultah untuk mendiang putranya dan Hyun Soo yang berjalan di taman dan membayangkan seorang wanita berjalan melewatinya.


Bong Hee sedang berjalan saat Ji Wook meneleponnya dan menanyakan keberadaannya. Ji Wook langsung keluar dari rumah sakit sambil memberitahu Bong Hee untuk diam saja disana sampai dia datang.

Dia langsung berlari secepat mungkin mencari Bong Hee. Saat akhirnya dia menemukan Bong Hee, dia berjalan mendekat sambil berpikir bahwa hidup ini kejam. "Jika memang begitu, maka selama periode yang kejam dan terbatas ini, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah..."

Dia lalu berlari ke Bong Hee dan menarik Bong Hee kedalam pelukannya dan memohon agar Bong Hee membalas perasaannya sekarang juga. "Maaf karena aku tidak bisa menepati janji untuk menunggumu. Kumohon cintai aku sekarang, Bong Hee-yah."

Bersambung ke episode 23

4 comments

Saya menduga yang meninggal itu temannya ji wook. Ia menangis krn selama ini selalu mencuekin n menganggapnya penghianat

Aih penasaran sangat,lanjut ya min....semangat!

😊😊ditunggu eps selanjutny

Ternyata yg meninggal tuan bang.
Oh sedihnyaa

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon