Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Bride of the Water God Episode 2 - 1


Di Kerajaan Air, Pendeta Tertinggi mengetuk sebuah guci air. Airnya tiba-tiba membentuk wajah Soo Ah dan Pendeta Tertinggi berkata bahwa wanita itu ditakdirkan berumur pendek. Dia ditakdirkan mati sebelum Dewa Habaek kembali dan menjadi raja. Wah?

Di dunia manusia, Habaek menyatakan kalau dia akan memberikan berkat ilahi lalu tiba-tiba mengecup bibir Soo Ah. Soo Ah kaget sejenak tapi kemudian dia memejamkan mata dan menikmati ciuman itu. Sementara Habaek malah semakin terbelalak, mungkin menyadari ada suatu perasaan aneh.

Mereka terdiam seperti itu selama beberapa saat sebelum akhirnya Habaek sadar dan langsung mendorong Soo Ah dan menyatakan kalau sekarang Soo Ah adalah budak dewa. Kalau Soo Ah tidak mau menerimanya maka dia akan mengalami kesengsaraan.

"Bagaimana? Rasanya seolah ada sesuatu yang merayap kedalam hatimu dan menghantam kepalamu, kan? Ketahuilah kalau diberi ciuman dewa adalah suatu kehormatan."


Soo Ah cuma bisa terbengong-bengong saat Nam Soo Ri tiba-tiba menggotong Habaek menjauh dari sana, dan baru saat itulah Soo Ah sadar dan langsung menjerit mengumpati Habaek. Soo Ri panik, dia sudah tahu kalau ini takkan berhasil. Habaek berniat balik untuk mengatasi kemarahan Soo Ah, tapi Soo Ri langsung mencegahnya.

Habaek jelas langsung kesal, tapi Soo Ri menegaskan kalau Habaek tidak boleh memaksakan dirinya pada manusia wanita dan menciumnya seperti tadi.  Soo Ah belum sadar, Habaek hanya akan ditampar jika dia memaksa Soo Ah.


Soo Ah pulang sambil mengomeli dirinya sendiri karena tadi dia malah memejamkan mata. Dia berusaha menasehati dirinya untuk mencari alasan logis tentang kenapa dia memejamkan mata saat tiba-tiba saja dia mendengar suara Habaek dan membayangkan ciuman tadi di cermin dan melihat Habaek sedang menatapnya dengan mata nakal lalu tanya apakah ada sesuatu yang merayap kedalam hati Soo Ah.

Soo Ah ngotot menyangkalnya. Habaek bayangan ngotot pasti ada, tapi Soo Ah terus ngotot menyangkalnya. Dia langsung kesal mengusir bayangan itu dan seketika itu pula, kaki Soo Ah langsung lemas.


Memikirkan ucapan Soo Ri tadi, Habaek bergumam heran. Dia memberikan berkat pada Soo Ah tapi Soo Ah malah tidak mengenalinya. Soo Ri sendiri sudah ngorok sambil ngelantur kalau dia lapar.

Habaek sebal melihat si pelayan bodohnya. Dia yakin kalau Soo Ri salah, "Dia akan tersadar dan akan kembali untuk mencariku atas kemauannya sendiri."

Tiba-tiba dia teringat ciuman mereka tadi. Tapi dia memberitahu dirinya sendiri kalau itu bukan apa-apa, itu hanya karena dunia sudah berubah. Dia kembali fokus menatap sungai di hadapannya... sementara di dasar sungai itu, tampak ada sebuah ponsel lawas.


Soo Ah terbangun keesokan paginya dan ingatan pertamanya adalah ciuman kemarin. Dengan takut-takut dia berpaling ke cermin, tapi malah kaget mendapati ada lingkaran hitam di bawah matanya.

Dia berniat mau berangkat kerja, tapi tiba-tiba terdengar suara rekaman Sang Yoo di jam alarm yang mengingatkannya kalau ini hari minggu dan mencerewetinya terus-menerus untuk bangun dan olahraga biar nggak diabetes.


Di taman, Habaek mendesah heran, tak mengerti kenapa hari ini ada banyak manusia di sini. Tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya dan saat dia berbalik, dia malah kaget mendapati beberapa ahjumma sedang memakai topi visor dan masker dan langsung menyuruhnya minggir, menghalangi jalan saja!

Para ahjumma itu pun kembali melanjutkan acara olahraga mereka. Habaek keheranan saat ada pasangan yang bersepeda bersama. Soo Ri muncul dan sok tahu bilang kalau itu adalah mobil otomatis. Habaek bingung, kalau itu mobil, lalu kenapa rodanya cuma dua dan mereka tidak jatuh.


Soo Ri juga bingung kenapa, tapi ada benda lain yang ada rodanya. Dia lalu membawa Habaek melihat kompetisi skateboard yang sedang jadi tontonan ramai. Para penonton terkagum-kagum, tapi Habaek menganggap semua itu biasa aja, itu tidak seberapa hebat hanya karena benda itu punya 4 roda.

"Sejak kapan kau jadi ahli dengan benda-benda beroda," gumam Soo Ri sebal.

Habaek kesal mendengarnya, apa sebenarnya yang Soo Ri mau darinya. Beberapa saat kemudian, Soo Ri terus berusaha memohon-mohon, sementara Habaek berkonsentrasi memperhatikan dan mempelajari berbagai teknik para skater yang sedang memperagakan beberapa trik skateboard mereka.


MC acara lalu menantang siapapun untuk melakukan 4 teknik yang barusan diperagakan dengan benar. Yang menang akan dapat hadiah pertama. Beberapa kontestan maju silih berganti, tapi semuanya gagal dan Habaek langsung sinis.

Soo Ri terus berusaha memohon-mohon ke Habaek untuk mengikuti kompetisi itu dan memenangkan hadiah pertamanya. Mereka kan tidak tahu sampai kapan mereka akan tinggal di sini. Mereka tidak akan bertahan tanpa uang di sini.

Kontestan ke-4 selesai dan sekarang giliran Habaek yang dipanggil, tapi Habaek masih saja diam. MC jadi mengira kalau dia mau mundur karena takut. Habaek jelas tersinggung mendengarnya.

"Aku akan mendapatkan hadiah pertama jika aku melakukan 4 trik?" Tanya Habaek. Menatap poster pengumuman hadiah pertama, kedua dan ketiga, Habaek bertanya apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan ketiga hadiah itu.

"Kau harus memberikan semua itu padaku." Perintah Habaek, lalu dengan pedenya dia mengumumkan pada para penonton untuk menganggap ini sebagai kehormatan. Dia lalu mengangkat skateboardnya bak seorang ahli lalu maju ke tengah arena.


Pada saat yang bersamaan, Soo Ah akhirnya keluar juga ke taman untuk olahraga dengan memakai topi visor dan masker. Tapi keramaian acara skateboard itu, lebih menarik perhatiannya. Tapi dia langsung kaget saat melihat Habaek di sana.

Habaek pun mulai meluncur dengan begitu ahlinya yang kontan mendapat sambutan sorak sorai penuh kekaguman dari para penonton. Bahkan Soo Ah pun tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

 

Tapi Soo Ri sontak mewek karena kompetisi ini untuk pemula, tapi Habaek malah beraksi bak seorang skater ahli. MC jelas langsung protes ke Soo Ri, dia kan sudah bilang kalau skater pro tidak boleh ikut.

"Sejujurnya, ini pertama kalinya dia melihat skateboard." Ujar Soo Ri frustasi.


Habaek tampak benar-benar menikmati permainan itu. Dia tengah melayanga saat dia melihat Soo Ah di antara para penonton dan dia langsung bisa mengenalinya biarpun Soo Ah pakai topi dan masker.

Dia terus meluncur dengan santainya sambil tersenyum senang menatap Soo Ah dan berkata, "Kau sudah datang."


Soo Ah panik dan buru-buru kabur dari sana. Tapi tiba-tiba saja terdengar suara teriakan Habaek. "Hei, kau! Kau, budak yang di sana! Aku di sini!"

Soo Ah sontak mempercepat larinya sambil keheranan kenapa Habaek mengejarnya, dan kenapa pula dia malah melarikan diri. Soo Ri tak yakin itu keturunan budak. Tapi Habaek yakin, dia kan sudah bilang kalau Soo Ah pasti akan sadar.

"Lalu kenapa dia melarikan diri?"

"Dia tidak melarikan diri. Dia mencariku!" (hahaha)

"Tidak. Dia jelas melarikan diri."


Tapi Habaek tidak mendengarkannya dan terus mengejar Soo Ah dengan skateboardnya. Dia melihat Soo Ah berbelok ke terowongan. Tapi setibanya dia di sana, dia malah mendapati sekumpulan ahjumma pakai topi visor dan masker, sedang senam.

Habaek jelas bingung berusaha mencari Soo Ah, tapi susah. Soo Ah memang di tengah-tengah mereka dan berusaha menyembunyikan wajahnya. Para ahjumma tiba-tiba berjalan pergi, tapi Habaek masih berdiri menghalangi jalan mereka.


Dia tampak mencurigai seseorang diantara mereka, tapi si pemimpin para ahjumma itu marah dan langsung menyingkirkan Habaek dari hadapan mereka. Kesal, Habaek sontak menjerit. "BUDAAAK!!!"

Para ahjumma itu langsung berbalik serempak dan Habaek sontak mundur ketakutan. Ha!


Soo Ah akhirnya berhenti setelah aman dari Habaek sambil mengerutu kesal, tak mengerti apa salahnya sampai harus melarikan diri. Tiba-tiba sebuah bola meluncur melewatinya hingga tercebur ke sungai. Melihat air malah membuat dada Soo Ah tiba-tiba sesak... teringat saat dia pernah tenggelam dulu.


Habaek dan Soo Ri gagal mendapatkan hadiah mereka karena si MC mengira kalau Habaek itu skater pro dan mereka menipunya. Habaek mendesah santai, dia kan sudah bilang kalau manusia itu tidak bisa dipercaya.

Kesal, Soo Ri langsung mengkonfrontasi Habaek. Dia kan sudah bilang untuk santai saja, lakukan seperti seorang pemula. Habaek terlalu berlebihan, kalau dia punya kemampuan seperti Habaek maka dia pasti akan menggunakannya untuk kepentingan Habaek.

"Aku juga. Aku ingin mendapatkan hadiah pertama, kedua dan ketiga untuk membuatmu bahagia." Ujar Habaek.

Soo Ri sungguh terharu mendengarnya... sampai saat Habaek tanya, "Kau tidak berharap aku mengatakan hal-hal seperti itu, kan?" (Pfft!)

Terpaksalah Soo Ri akhirya hanya bisa mengelus perutnya yang keroncongan dan menyarankan Habaek untuk menyerah saja dan mengaku kalah.


Anak buah Hoo Ye sedang melaporkan tanah yang harus mereka beli. Dari 20.000 pyeong (satuan hitungan tanah di Korea) yang harus mereka beli, dia sudah berhasil mendapatkan 15.000 pyeong.

Tapi... sepertinya akan sulit mendapatkan sisa yang 5.000 pyeong, karena tanah itu milik Ketua Shin yang tidak akan mungkin mau bernegosiasi dengan mereka. Mendengar itu, Hoo Ye berkata kalau dia yang akan mengurusnya sendiri.

Sekretaris Min mengeluh, kenapa harus Ketua Shin pemilik tanah itu. Hoo Ye santai-santai saja, dia yakin harganya akan sangat tinggi. Saat Hoo Ye duduk, tampak papan nama lengkapnya adalah Shin Hoo Ye (Hmm... apa dia berhubungan dengan Ketua Shin?).

Sekretaris Min mendapat telepon dari Supir Kim yang mengabarkan tentang wiper mobilnya Hoo Ye yang sepertinya akan butuh waktu lama untuk diperbaiki. Hoo Ye santai saja. Tapi kemudian dia teringat pada Soo Ah dan kesulitan keuangan yang dihadapinya. Sepertinya biaya perbaikan wiper akan sangat luar biasa untuk mereka.


Di klinik, Sang Yoo mendapat telepon tentang masalah biaya perbaikan wiper. Dia langsung lemas mendengar biayanya yang sangat mahal. Soo Ah menyuruhnya untuk bilang ke orang-orang itu kalau mereka akan mengurusnya melalui perusahaan asuransi.

Soo Ah duduk lemas di kursinya saat tiba-tiba dia mendengar suara desahan aneh yang entah dari mana datangnya. Dia langsung celingukan, tapi tak ada siapapun atau apapun di sana.


Soo Ri keenakan tidur dan mendapati Habaek duduk bersila dengan wajah kesal di tendanya. Soo Ri menjelaskan kalau dewa rendahan sepertinya bisa lelah seperti manusia dan bisa lapar juga.

Cukup sudah Habaek mendengarkan keluhan itu terus. Ayo, pergi. Ke rumah mereka. Soo Ri bingung, dimana rumah mereka. Habaek menjawabnya dengan memberikan kartu klinik psikiatrisnya Soo Ah.

Mereka pun naik taksi ke sana. Soo Ri nyerocos sendiri sementara Habaek keasyikan memperhatikan supir yang sedang menyetir lalu tiba-tiba menyatakan kalau dia mau menyetir seolah dia majikan yang meminta mobilnya pada supirnya. Supir taksi jelas kesal dan langsung menurunkan mereka di tengah jalan.


Sang Yoo melapor kalau Kepala Seksi datang dan mengultimatum mereka untuk memberinya deposit 50 juta won. Shock, Soo Ah langsung berlari ke jalan untuk mencari Kepala Seksi dan mendapatinya di zebra cross.

Pada saat yang bersamaan, Sekretaris Min dan Hoo Ye lewat jalan itu dalam perjalanan pergi menemui Ketua Shin. Lampu merah menyala, para pejalan kaki termasuk si Kepala Seksi pun langsung menyeberang.

Saat itu juga, Habaek tiba di sana dan melihat Soo Ah sedang berlari di seberang jalan. Habaek langsung kepedean mengira Soo Ah sudah sadar.

Seorang kakek tertatih-tatih menyeberangi zebra crosss, tapi ia bersikeras menolak semua orang yang ingin membantunya. Soo Ah berusaha mengejar Kepala Seksi dan melewati Kakek itu.

Tapi tiba-tiba saja dia sengaja berhenti, pura-pura sibuk dengan ponselnya dan sengaja memperlambat langkahnya agar dia bisa berjalan sejajar dengan Kakek, melindungi Kakek agar mobil-mobil itu tidak langsung jalan saat lampu hijau menyala kembali.

Habaek dan Hoo Ye memperhatikan apa yang Soo Ah lakukan. Kakek pun berterima kasih atas apa yang Soo Ah lakukan untuknya. Tapi karena itu juga, Soo Ah jadi kehilangan jejak Kepala Seksi.


Sekretaris Min kagum dengan apa yang Soo Ah lakukan tadi. Mungkin karena dia seorang psikiater, dia jadi bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain. Hoo Ye setuju dengannya.


Soo Ah mendesah putus asa saat Habaek tiba-tiba muncul di hadapannya dan membuatnya kaget setengah mati. Habaek menuntut kenapa Soo Ah pergi kemarin, tidak seharusnya Soo Ah meninggalkannya jika dia sudah sadar.

Dia memerintahkan Soo Ri untuk mengajari Soo Ah dan memberitahu Soo Ah kalau Soo Ah tidak perlu banyak membantunya. Soo Ah hanya perlu memberi mereka tempat berlindung, makanan untuk Soo Ri dan pakaian setiap hari untuknya.

"Dan pastikan kau memberiku banyak hal yang kau sebut 'Uang'itu. Kudengar itu bisa membuat hidup jadi lebih mudah. Aku akan memberitahumu apapun yang kuperlukan."

Dia juga harus menemukan beberapa dewa lain dan menyuruh Soo Ah untuk segera menemukan mereka agar para dewa itu bisa mengobatinya. Soo Ah cuma menatapnya sinis lalu menyeret Soo Ri menjauh dan tanya apakah pria itu dirawat di RS.


Menyadari si pria gila itu tidak mendapat perawatan apapun, Soo Ah langsung mengomel panjang lebar tentang pentingnya perawatan mental. Habaek bersikeras memberitahu Soo Ah kalau Soo Ri butuh makanan dan dia butuh air.

"Kalau begitu, pulangnya dan urus semuanya."

"Di mana rumahmu?"

"Tidak. Bukan rumahku, tapi rumahmu sendiri."

Soo Ri menjelaskan kalau mereka tak punya tempat tujuan sekarang. Kalau begitu, Soo Ah menyarankan mereka untuk pergi ke pusat pelayanan masyarakat saja dan bilang kalau mereka kelaparan.

"Aku percaya bahwa itu sepenuhnya kewajiban dan tugas negara untuk mengurus orang-orang sepertimu dan bukannya tugas warga negara."


Soo Ah teringat masa kecilnya saat dia pulang dan melihat banyak anak-anak di rumahnya, sedang makan dengan lahapnya. Soo Ah tampak kesal melihat itu dan langsung membanting tasnya.


"Itu sebabnya kami membayar pajak." Ujar Soo Ah. "Dalam hidupku, aku tidak memiliki kemewahan untuk membantu orang lain."

"Lalu kenapa kau berjalan dengan pria tua itu?" Tanya Habaek. Soo Ah canggung menyangkal. Tapi tentu saja Habaek tak percaya, dia melihat semuanya, Soo Ah berjalan bersama pria itu.

Soo Ah terus ngotot menyangkalnya dan beralih topik mengancam akan menelepon polisi jika mereka muncul lagi. Habaek mengancam akan meninggalkan Soo Ah jika Soo Ah meninggalkannya. Soo Ah sinis, justru itu yang dia inginkan.


Dia berjalan pergi saat Sang Yoo meneleponnya dan menyuruhnya balik ke klinik sekarang... Tapi tiba-tiba saja Soo Ah mendengar suara seseorang yang berkata, "Kau berada dalam masalah sekarang. Kau tahu siapa orang itu?"

Soo Ah mengira Sang Yoo yang bicara, tapi Sang Yoo sendiri bingung soalnya dia tidak mengatakan apapun. Suara itu terdengar lagi, "Kau mau mati?"
 
Kesal, Soo Ah langsung berbalik mau melabrak Habaek, tapi malah tak mendapati siapapun di sana. Dia malah melihat Habaek dan Soo Ri sudah pergi cukup jauh.

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon