Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Bride of the Water God Episode 4 - 1


So Ah pingsan saking shocknya dan Soo Ri langsung bersorak saking bahagianya karena kekuatan Habaek sudah balik. Mereka membawa So Ah ke tenda malam harinya. Soo Ri masih belum bisa mempercayainya dan bersikeras meminta Habaek mencoba kekuatannya sekali lagi dengan meletakkan sebuah batu ke tangan Habaek.

Habaek mencoba menggenggam batu itu kuat-kuat. Tapi batu itu malah tidak berubah jadi emas. Soo Ri sontak frustasi melihatnya, bagaimana bisa kekuatan Habaek menghilang lagi.

Dalam tidurnya, So Ah memimpikan kejadian tadi. Si penyerangnya menyalahkan So Ah sebagai orang yang telah menghancurkan hidupnya entah karena apa dan mendorong So Ah sekuat tenaga ke tepi gedung sampai So Ah benar-benar terjatuh.

Saat pandangan matanya bertemu Habaek sekilas, dia membatin meminta pertolongan Habaek. Lalu Habaek pun berlari dan menembus kaca yang seketika berubah menjadi air dan menyelamatkannya dengan kekuatan airnya dan menegaskan dirinya adalah dewa.


So Ah tersentak bangun dari tidurnya sambil menjerit ketakutan. Tapi begitu Habaek, dia memutuskan kalau dia pasti masih bermimpi dan memejamkan mata. Tapi Habaek masih di sana bahkan saat dia membuka mata lagi.

Kesal, Habaek langsung mencubit pipi So Ah untuk memaksanya bangun. So Ah masih ngotot kalau ini cuma mimpi dan Habaek terus ngotot ini bukan mimpi. Tapi kemudian So Ah mendengar Soo Ri terus bergumam berulang kali, "Kenapa kekuatannya hilang lagi?"


Saat itulah So Ah sadar kalau ini memang bukan mimpi. Tapi dia masih menolak mempercayainya dan sontak kabur dari sana dengan ketakutan. Dia terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau kejadian tadi cuma mimpi, itu pasti terjadi hanya karena dia merasa bersalah.

Dia mendengar suara-suara dan melihat-lihat hal-hal aneh itu pasti karena rasa bersalahnya dan dia cuma perlu minum obat.


Tapi kemudian, dia teringat si pria misterius yang menyalahkannya dan ingatan itu benar-benar nyata. So Ah sontak gemetar ketakutan karenanya dan langsung celingukan waspada. Menyadari tempat itu begitu sepi, dia langsung melarikan diri scepat mungkin dari sana hingga dia tidak kuat lagi berlari dan menarik nafas di parkiran.


Tepat saat dia baru bangkit, tiba-tiba seseorang menangkapnya. So Ah sontak menjerit-jerit ketakutan. Tapi yang menangkapnya ternyata Habaek yang memang sengaja mengejarnya untuk mengembalikan kunci mobilnya So Ah.

Tapi tangan So Ah gemetar hebat hingga dia bahkan tidak bisa memasukkan kuncinya dengan benar. Pikirannya benar-benar kacau sampai-sampai dia salah memundurkan mobilnya alih-alih memajukannya.


Habaek makin prihatin melihatnya dan akhirnya dia dan Soo Ri yang harus mengantarkan So Ah pulang. Habaek bertanya siapa pria yang menyerangnya itu. So Ah tidak tahu, tapi Habaek memaksanya untuk memikirkan apakah So Ah pernah melakukan sesuatu yang membuat seseorang jadi dendam padanya.

Soo Ri berkomentar kalau So Ah tidak akan bisa melaporkan insiden ini ke polisi. Dia mau bilang apa, masa dia mau bilang kalau ada seseorang berusaha membunuhnya lalu dia diselamatkan oleh raja negeri air yang ganteng abis. Siapa yang bakalan percaya.


Mereka akhirnya tiba di rumah So Ah. Tapi So Ah masih penasaran, apa Habaek sungguh dewa dan bukannya monster atau hantu. Dia benar-benar sulit mempercayainya, soalnya Habaek sangat berbeda dari dewa-dewa yang dia kenal.

Soo Ri panik melihat So Ah mau menutup pintu tapi tidak mengundang mereka dan Habaek pun tidak melakukan apapun untuk memaksa So Ah. Tepat saat So Ah hendak menutup pagar dan Habaek berniat pergi, Soo Ri langsung menahan pagar itu dan mendorong Habaek masuk dan menyatakan kalau sekarang So Ah sudah membawa dewa masuk kedalam rumahnya jadi So Ah harus melayaninya.


Habaek kesal dan berniat pergi, tapi Soo Ri langsung pasang badan menghalanginya dan menutup pagar. So Ah berusaha protes tapi Soo Ri bertanya apakah So Ah percaya bahwa Tuan Habaek adalah dewa air.

Dia terus memaksa So Ah menjawab dan dia tampak begitu berapi-api sampai-sampai So Ah bergumam ketakutan kalau dia percaya. Kalau dia percaya dan sudah membiarkan dewa yang dia percayai masuk kedalam rumahnya, lalu bagaimana bisa So Ah menyuruhnya pergi.

"Aku juga tidak mau masuk," gumam Habaek.

Tapi Soo Ri terus saja nyerocos mengancam So Ah, kalau dia tidak setia maka dewa yang agung akan meninggalkan rumah ini dan jika begitu maka keluarga So Ah akan menghadapi segala kesulitan dewa dan segala keberuntungan akan keluar dari rumah ini dan semua keturunannya Si Ah tidak akan berumur panjang.

"Intinya, hidupmu akan sengsara! Jika kau tidak percaya diri maka tidak seharusnya kau membiarkan dewa masuk ke dalam rumahmu!"

So Ah sampai speechless dibuatnya. Kapan juga dia membiarkan Habaek masuk rumahnya. Terpaksalah akhirnya So Ah membiarkan mereka semua masuk dan membawa mereka ke loteng yang ternyata tempat jemuran dan gudang.


Habaek jelas tidak terima, berani sekali dia menawarkan tempat semacam ini. Tapi saat Habaek berbalik, So Ah malah sudah ngabur duluan. Habaek menyesal sudah masuk kemari, kalau tahu tempat seperti apa ini, dia tidak akan masuk kemari. Soo Ri mengingatkan Habaek untuk tidak mengucapkan sesuatu yang arogan. Lebih baik punya rumah daripada tidak.

Mereka membuka gudang, tapi tak mendapati ada apapun di sana. Soo Ri berjanji akan membuat Habaek tinggal nyaman di sini dengan bekerja di perahu bebek. Habaek kesal teringat ucapan Pendeta Tertinggi waktu itu, bahwa dunia manusia jauh lebih menarik dari pada yang Habaek pikirkan.


"Dasar si tua bangka itu. Ini karena kebohongannya aku jadi berakhir seperti ini." Rutuk Habaek. Tapi saat dia melihat ke jalanan, dia melihat ada pria mencurigakan memakai masker dan berjalan pergi dari sana.


So Ah masih sulit mempercayai semua ini dan langsung meng-ggogling tentang Habaek. So Ah masih menolak mempercayainya dan langsung menelepon Yeom Mi, tapi Yeom Mi tidak mengangkat teleponnya malah mengirim sms dan bilang kalau dia pergi ke gunung Gyeryongsan dan melarang So Ah menghubunginya sampai dia balik.


Habaek tidak bisa memejamkan mata dengan tenang karena Soo Ri yang tidur sangat nyenyak sampai ngorok keras. Habaek kesal, tapi saat Soo Ri berguling, dia langsung mengulurkan kakinya biar Soo Ri tidak terjatuh dan akhirnya menghabiskan malam dengan menatap pemandangan kota.


Keesokan harinya, semua orang sibuk melakukan kegiatan masing-masing dan So Ah mendadak bangun karea teringat ucapan Habaek malam itu saat dia meminta ini-itu pada Habaek dan Habaek dengan entengnya berkata kalau bisa memberikan semua itu dengan hanya menjentikkan jari.

So Ah jadi tambah kesal, kalau begitu kenapa Habaek malah mengganggunya terus. Dia langsung naik ke loteng untuk melabrak Habaek. Tapi saat dia hendak menegur mereka, tiba-tiba saja dia menunduk menyembunyikan dirinya dan teringat saat dia meminta Habaek untuk menjadikannya kaya raya tapi Habaek berkata kalau dia tidak bisa sekarang karena situasinya yang tidak memungkinkan. So Ah penasaran, situasi apa yang dimaksud Habaek.

"Situasinya memang agak sulit," kata Soo Ri tiba-tiba. "Kau pasti merasa aneh karena dia dalam keadaan seperti ini padahal dia dewa, iya kan? Sesuatu terjadi padanya."

Dia hendak menjelaskan. Tapi So Ah menolak mendengarnya, dia benci mendengar orang lain beralasan. Tiba-tiba perutnya Soo Ri berbunyi nyaring.


So Ah pun memberinya makan ramen dimana Soo Ri memberitahunya kalau tujuan Habaek kemari adalah mencari batu dewa yang harus dia dapatkan dari dewa penjaga yang ada di dunia ini. Tugas itu kedengarannya gampang, tapi entah kenapa jadi seperti ini.

"Ini pertama kalinya dia menghadapi kesulitan seperti ini dalam 2800 tahun terakhir. Aku yakin dia merasa sangat kesulitan sekarang. Dia bahkan tak bisa mandi, sesuatu yang sangat dia sukai." Ujar Soo Ri.

Pada saat yang bersamaan, Habaek akhirnya mengalihkan pandangannya ke selang air dan sebuah bak yang terisi iar.

So Ah shock mendengar Habaek berusia 2800 tahun. Tapi dia mengaku kalau dia tidak peduli dengan kesulitan mereka karena tidak suka mendengarkan penderitaan orang lain. Soo Ri jelas heran, kalau begitu kenapa So Ah bekerja di bidang ini, bukankah pekerjaannya So Ah adalah medengarkan kisah hidup orang lain.


So Ah lalu naik untuk menemui Habaek. Kalau Habaek kehilangan kekuatannya, berarti dia tidak perlu takut. Tapi setibanya di loteng, dia malah melihat Habaek sedang berendam di bak. Dia sontak marah-marah menyuruh Habaek keluar dari sana.

Kesal, Habaek berniat bangkit saat itu juga dalam keadaan telanj*ng bulat. Sontak saja So Ah menjerit heboh dan buru-buru mengambil handuk untuk Habaek. Habaek menggerutu kesal karena dia hanya ingin mandi setelah sekian lama dan menolak handuknya So Ah.


Tapi So Ah memaksanya pakai handuk atau dia akan dilaporkan ke polisi oleh para tetangga. Habaek terpaksa memakainya sambil menggerutui keanehan manusia yang melapor ke polisi hanya karena dia sedang mandi.

"Bukan itu alasan mereka akan melaporkanmu. Tapi atas perlakuan tidak senonoh."

Dia menoleh tapi malah melihat Habaek memakai handuknya terlalu rendah dan langsung memerintahkannya untuk menaikkan handuknya. Habaek tidak terima diperintah-perintah dan mengingatkan So Ah kalau dia adalah Tuan-nya So Ah dan seorang dewa.

So Ah santai, dia dengar kalau Habaek kehilangan kekuatannya. Dewa yang kehilangan kekuatannya, apa masih bisa disebut sebagai dewa. Kesal, Habaek langsung keluar dari bak dan mendekati So Ah. Yah, dia mengakui kalau kekuatannya menghilang. Tapi kekuatannya pasti akan segera kembali.


"Dan juga, kurasa kau belum mendengar bagian itu, bukan? Apa seorang dewa bukan dewa lagi jika dia kehilangan kekuatannya? Lalu apa kau bukan manusia lagi jika rasa kemanusiaanmu sudah hilang?"

Apa So Ah masih belum mengerti juga kenapa bunga-bunga itu bicara padanya sampai membuatnya hampir gila. Habaek menyatakan kalau dia akan membuat So Ah ingat lalu menarik So Ah mendekat dan memperingatkan So Ah untuk tidak macam-macam dengannya. Karena dialah So Ah berhenti mendengarkan suara-suara aneh itu, jika dia meninggalkan So Ah maka So Ah akan mendengarkan suara-suara itu lagi.

"Apa kau mengancamku?"

"Mengancam? Simpan dendammu untuk para leluhurmu yang bodoh itu yang sudah membuat perjanjian dengan Dewa."

Habaek tidak ingin tinggal lama-lama di sini. Dia juga tidak berharap So Ah akan membantunya. So Ah hanya perlu melayaninya dengan baik agar dia bisa tinggal nyaman di sini. Tapi melihat So Ah yang sepertinya masih enggan menerimanya, Habaek menuntut So Ah untuk membayar semua kebaikan yang selama ini dilakukannya untuk So Ah. Dialah yang telah menyelamatkan nyawa So Ah.


Baiklah, So Ah setuju. Tapi dia lebih suka dianggap sebagai pendamping Dewa daripada seorang hamba dan memperingatkan Habaek untuk tidak melepas baju dan mandi di sembarang tempat. Dia juga mengingatkan Habaek kalau manusia bukan obyek, jadi Habaek tidak boleh menyebut manusia sebagai miliknya.

"Dan juga! Kalau kau menciumku lagi tanpa seizinku..."

"Itu adalah hakku."

"Akan kulaporkan kau ke polisi."


Saat Habaek mengalihkan pandanganya ke jalan, lagi-lagi dia melihat si pria misterius yang langsung pergi begitu Habaek melihatnya.


Setelah menjalani pemotretan, Moo Ra merenung kesal menatap kartu namanya So Ah dan teringat kedekatan Habaek dan So Ah. Hoo Ye datang tak lama kemudian dan meminta maaf atas kejadian kemarin.

Melihat kartu namanya So Ah, Hoo Ye berkomentar kalau dokter itu cukup hebat dalam menangani pasiennya. Moo Ra kesal mendengarnya, dia dokter yang hebat atau tidak, tapi dia rada kurang ajar.


Karyawannya Hoo Ye menyerahkan daftar pemilik tanah yang tanahnya akan mereka beli untuk Block World. Tapi dia khawatir kalau Ketua Shin akan menolaknya sampai Block World mendapatkan tempat untuk sebuah mall.

Hoo Ye santai menyuruh si pegawai untuk menghubungi para pemilik tanha saja. Tapi begitu dia pergi, Hoo Ye tampak cemas dan menyuruh Sekretaris Min untuk menghubungi Ketua Shin.


Dia lalu bercerita ke Sekretaris Min kalau dia suka menonton acara komedi yang lucu. Tapi dia sejujurnya dia tidak merasa itu lucu, dia bahkan tidak mengerti kenapa orang-orang menertawakan hal seperti itu.

"Aku sangat iri dengan selera humor manusia. Aku tidak bisa mengerti bagaimanapu aku mencoba mencari tahu." Ujae Hoo Ye.

Saat dia melihat-lihat daftar itu. Ternyata salah satu pemilik tanah adalah So Ah. Hoo Ye bergumam heran, "Karena suatu hal yang aneh, aku selalu bertemu dengan Yoon So Ah-ssi."


So Ah termenung, teringat pria misterius yang menyerangnya kemarin. Dia berniat mau melapor ke polisi, tapi tiba-tiba dia teringat ucapan Soo Ri. So Ah sontak galau harus bagaimana.

Sang Yoo masuk saat itu sambil menggerutui So Ah karena melewatkan satu-satunya pasien mereka. So Ah langsung curhat dan menceritakan kejadian mengerikan yang dialaminya kemarin. Dia diserang dan hampir mati tapi ada seorang Dewa Air yang menyelamatkannya.

Tapi tentu saja Sang Yoo tidak percaya dan jadi cemas mendengarnya, kenapa So Ah tiba-tiba jadi seperti ini. So Ah mencoba bertanya-tanya, apakah ada seorang pasien yang sangat membencinya dan menganggapnya sangat hina sampai ingin membunuhnya.

"Banyak orang yang seperti itu," kata Sang Yoo dengan santainya.

Dia langsung menyebutkan berbagai nama orang-orang yang membenci So Ah dan mereka adalah teman-temannya. So Ah bingung, kenapa juga dia mengenal teman-temannya Sang Yoo dan kenapa juga mereka membencinya.

"Kau tidak ingat?" Desah Sang Yoo.


Dia lalu mengingatkan So Ah tentang bagaimana dulu saat mereka masih kecil, So Ah sangat benci dengan anak-anak gelandangan yang dibawa ayahnya ke rumah mereka. So Ah selalu membulli mereka dan merampas apapun yang mereka miliki, termasuk Sang Yoo yang dulunya juga salah satu dari anak gelandangan itu.

Sang Yoo mengaku kalau dulu mereka selalu berkata kalau mereka ingin sekali memberi So Ah pelajaran saat dia sudah besar nanti. Mereka bahkan masih membicarakan itu saat mereka kumpul-kumpul bersama.


So Ah termenung teringat saat itu. Pernah suatu kali setelah dia merampas jaket salah satu anak gelandangan yang kekecilan, dia marah-marah pada ayahnya, tidak terima karena jaket itu miliknya walaupun ukurannya sudah kekecilan dan berlubang.

Setelah dia merampas sosisnya Sang Yoo, dia langsung muntah-muntah dan menangis karena Ayahnya tidak pernah memberinya sosis tak peduli berapa kalipun dia memohon. Sekarang, So Ah bersikeras kalau dia tidak salah karena dia adalah korban.


Soo Ri senang sekali karena So Ah meninggalkan kunci rumahnya dan bilang kalau mereka boleh memakan apapun yang ada di kulkas. Tapi saat dia membuka kulkas, isinya cuma ramen. LOL. Habaek sedang kesal karena baju baru yang dikasih Soo Ri malah baju training serba hijau.

"Hanya itu yang bisa kutemukan di tempat donasi pakaian bekas." Alasan Soo Ri. Habaek menolak pergi dengan pakaian begini. Tapi kemudian dia memerintahkan Soo Ri untuk memanggil taksi.


So Ah malas keluar tapi Sang Yoo ngotot memaksanya makan siang sampai So Ah akhirnya pergi dengan kesal. Di jalan, dia melihat seorang pria berjalan ke arahnya dengan tangan tampak menggenggam sesuatu di dalam saku.

So Ah sontak ketakutan. Dia hendak menghindar, tapi pria itu mendekatinya. So Ah sontak menjerit ketakutan, padahal pria cuma ingin tanya jalan.

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon