Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Bride of the Water God Episode 4 - 2


Setelah pria itu pergi, So Ah malah melihat Habaek datang. Dia berusaha menghindar tapi Habaek sudah terlanjur melihatnya dan langsung menyuruh So Ah untuk membelikannya baju baru, soalnya dia mau menemui Moo Ra. Moo Ra bisa merasa terhina kalau dia menemuinya dengan pakaian begini

Sang Yoo muncul saat itu dan Habaek langsung menyeretnya. Sang Yoo langsung sigap mencegahnya dan jadilah ketiga pria itu saling tarik-menarik sampai So Ah kesal sendiri dibuatnya dan langsung menyentak tangannya dari genggaman mereka.

 

So Ah lalu membawa Habaek ke mall dan Habaek mencobai berbagai macam baju. Tapi tidak ada satupun yang So Ah setujui dan akhirnya dia membawa Habaek ke toko baju biasa. Sementara dia di menawar harga di dalam, Habaek berdiri di luar dengan muka cemberut karena mereka tidak jadi beli baju bermerek.

Tapi si pemilik toko yang pintar bicara, langsung memuji-muji kesempurnaan fisik Habaek. Ketampanannya bisa membuat baju biasa kelihatan bermerek. Pujiannya sukses membuat Habaek tersenyum dan akhirnya mau memakai baju itu.


Habaek masih menggerutu saat mereka pergi. Tapi So Ah langsung mengalihkan topik dan mengajak Habaek makan siang. Habaek mengklaim kalau dia tidak merasakan sesuatu yang rendahan semacam rasa lapar karena dia adalah Dewa. Tapi kemudian perutnya berbunyi nyaring. Wkwkwk. Malunya...

 

So Ah membawanya makan mie. Tapi Habaek masih saja ngotot tidak mau makan padahal perutnya protes terus. Geli melihat keangkuhan Habaek, So Ah langsung menjejalkan sesendok mie ke mulut Habaek.

Habaek protes keras, tapi akhirnya dia mau juga memakannya. So Ah bertanya-tanya apakah si Moo Ra atau Hye Ra itu bakalan mau membantu mereka. Habaek mengiyakannya sambil memakan mie-nya.

So Ah mendengus sinis mendengar Habaek sudah memaafkan Moo Ra semudah itu. Dia merasa tindakan Habaek itu bodoh. Habaek bertanya heran, bagaimana bisa So Ah tidak memiliki orang seperti itu dalam hidupnya, seseorang yang bisa dia percayai kapanpun dan akan selalu ada di sisinya kapan saja.


"Kau akan sadar betapa rapuhnya kepercayaan itu saat kau dikhianati oleh orang yang kau percayai," ujar So Ah.

So Ah lalu meminta air panas untuk kemudian dia campur dengan air dingin. Habaek heran melihat So Ah yang sepertinya tidak menyukai air dingin. So Ah membenarkannya, dia memang tidak suka air dingin.

Tiba-tiba Habaek bertanya apakah saat itu musim dingin saat So Ah melompat ke sungai. Kenapa So Ah ingin bunuh diri. So Ah sontak kaget mendengar Habaek mengetahuinya, tapi dia menyangkal kalau dia mencoba bunuh diri waktu itu.

"Apa karena orang itu mengkhianatimu?" Tanya Habaek.


Mereka tak membahasnya lebih jauh karena So Ah mendapat telepon saat itu. Tapi saat mereka hendak keluar restoran, Habaek menyadari kehadiran pria berjas yang tadi, tampak sedang mengawasi mereka tapi bergegas pergi saat Habaek memergokinya.


Di jalan, Habaek menggerutu bahwa akan sulit bagi hamba Dewa Air takut pada air. So Ah sontak kesal disebut-sebut sebagai hamba lagi. Tapi akhirnya dia berusaha menahan diri dan menawarkan kesepakatan.

Dia berjanji akan membantu Habaek jika Habaek membantunya. Dan yang dia minta adalah agar Habaek berhenti memanggilnya sebagai hamba. Habaek sendiri tidak punya permintaan, dia justru punya peringatan untuk So Ah.

"Jangan terpesona padaku. Jika kau melakukannya, takkan ada obat yang bisa menyembuhkannya."

So Ah melongo sinis menatapnya dan berpikir kalau Habaek lah yang tidak bisa disembuhkan. Dia terus ngedumel sendiri menggerutui kegilaan Habaek sepanjang perjalanan kembali ke klinik.


Sang Yoo meneleponnya saat itu dan mengabarkan kabar baik, sepertinya So Ah bisa menjual tanahnya. Resort-nya Hoo Ye akan membangun resort di sana dan mereka membutuhkan tanahnya So Ah untuk itu.

So Ah langsung antusias berencana menaikkan harganya lima kali lipat. Telepon mereka berbunyi saat itu dari resort. So Ah langsung antusias, tapi semenit kemudian dia mulai sadar diri lalu berubah sikap sok jual mahal dan menyuruh CEO mereka untuk menghubunginya langsung.

So Ah bertekad mau jadi bos selama sehari saja soalnya Hoo Ye itu sudah sangat membuatnya kesal. Sang Yoo cemas, bagaimana kalau mereka mengurungkan niat mereka. Tapi So Ah tetap santai dan percaya diri.

Saat telepon mereka belum juga berdering, dia langsung gugup. Tapi untunglah teleponnya berbunyi tak lama kemudian dari Hoo Ye.


Habaek dan Soo Ri pergi mencari Moo Ra. Moo Ra melihat mereka duluan saat dia tak sengaja lewat dan sontak kesal melihat mereka. Saat Soo Ri menggerutui kepribadian Moo Rah yang angkuh, Habaek langsung membela Moo Ra.

Soo Ri heran dengan sikap Habaek. Kalau Moo Ra sampai tahu kalau kekuatannya Habaek menghilang maka Moo Ra pasti akan semakin semena-mena. Habaek memperingatkan Soo Ri untuk merahasikan masalah yang satu itu.

Sayangnya, Moo Ra sudah terlanjur mendengarnya dan langsung menuntut penjelasan Habaek. Apa maksudnya dia kehilangan kekuatannya.


Habaek meyakinkan Moo Ra kalau ini cuma sementara, kekuatannya pasti akan segera kembali. Soo Ri langsung mewek memberitahu Moo Ra segala kesulitan yang dihadapi Habaek selama dia di sini. Dia tidak punya tempat tujuan, tidak tahu menahu tentang dunia ini dan jadi kelaparan gara-gara si dewa kecil Joo Geol Rin itu.

Memang mereka menemukan keturunan hamba Dewa, tapi tidak berjalan lancar. Hamba itu terlalu bodoh, jadi Habaek harus pindah ke rumahnya Moo Ra dan menyuruh Moo Ra untuk mempersiapkan batu Dewa itu untuknya. Lalu di mana Bi Ryeom dan Joo Dong.


Tapi yang tidak disangkanya, Moo Ra menolak permintaannya bahkan mengklaim kalau dia tidak memiliki batu itu dan tidak tahu dimana batu-batu itu berada. Dia juga melarang Habaek ke rumahnya dan mengingatkan Habaek bahwa ketiga penjaga batulah yang bisa memutuskan apakah mereka akan memberikannya pada Habaek atau tidak.

Soo Ri langsung protes karena apa yang dilakukan Moo Ra ini melanggar aturan dasar. Dewa pelindung batu harus memberikan batu-batu itu pada calon raja selanjutnya. Tapi Moo Ra langsung membentaknya dan menegaskan kalau dia tidak bisa menerima raja yang sudah kehilangan kekuatannya.

"Lihatlah dirimu sekarang. Jika kau layak menjadi seorang raja, Bi Ryeom dan Joo Dong pasti sudah berada di sisimu, tapi kau bahkan tidak tahu di mana keberadaan mereka."
 

So Ah menemui Hoo Ye di restoran dengan gaya angkuh dan menyatakan kalau dia tidak akan menjualnya jika harganya tidak dinaikkan lima kali lipat dari harga awal.

Tapi Hoo Ye malah bilang kalau dia sebenarnya berencana menawarkan tujuh kali lipat karena tanahnya So Ah sangat penting. Tapi jika itu berlebihan maka dia akan menerima tawaran lima kali lipat itu saja. Hahaha.

So Ah sontak melongo penuh penyesalan dan buru-buru menyatakan kalau dia tidak akan menjualnya lalu beranjak pergi. Hoo Ye bergumam bingung, soalnya dia cuma bercanda tadi. Ha! Candaannya garing banget.


Moo Ra agak tergagap saat dia menyatakan kalau Habaek tidak berhak menjadi raja. Tapi saat Habaek hendak pergi, dia malah mendesah frustasi. Tapi Habaek kembali semenit kemudian dan bertanya apa yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan batu itu.

Dia marah-marah menuntut apa yang harus dia lakukan agar Moo Ra mau mengakui haknya sebagai raja baru. Moo Ra sontak ketakutan dan asal menyemburkan permintaannya, menyuruh Habaek untuk melaporkan semua komentar buruk tentangnya di internet.


Di luar, So Ah menggerutu penuh penyesalan karena sudah menolak penawaran tujuh kali lipat itu. Habaek dan Soo Ri kebetulan baru keluar dan melihatnya. So Ah langsung antusias bertanya apakah Habaek akan pindah ke rumah Hye Ra.

Tapi Habaek malah tanya balik, "Komentar buruk itu apa?"


Moo Ra menelepon Bi Ryeom dan mengeluhkan permintaan yang diajukannya pada Habaek tadi. Semua ini gara-gara dia terlalu kaget karena Habaek mendadak datang kemari. Bi Ryeom menduga kalau Moo Ra pasti gugup saat Habaek tanya apa yang dia bisa lakukan untuk Moo Ra. Tapi Moo Ra bersikeras menyangkal.


Habaek memberitahu So Ah kalau Moo Ra juga menyuruhnya untuk menjadi pengawalnya di acara tanda tangan. Tapi dia tidak mengerti, pengawal itu apa. So Ah sinis mendengar permintaan Moo Ra, apa dia seorang Dewi sungguhan. Dia lebih seperti anak remaja yang sedang kesal.

Hoo Ye datang saat itu untuk menegosiasikan kesepakatan mereka lagi. So Ah tidak enak dengan kehadiran Habaek dan langsung membawa Hoo Ye pergi. Sekilas, Hoo Ye menoleh kembali ke Habaek dan tampaknya Habaek mencurigai sesuatu tentangnya.


So Ah tak percaya mendengar Hoo Ye ternyata cuma bercanda tadi. Sepertinya mereka tidak cukup dekat untuk saling melontarkan candaan pada satu sama lain. Hoo Ye berkata kalau dia hanya ingin berteman baik dengan siapapun. Dia ingin jadi orang baik dan membantu banyak orang, dia ingin menjadi orang yang berguna bagi dunia ini.

So Ah heran kenapa, tidak mungkin juga dia bisa berteman dengan siapa saja. Karena jika dia ingin semua orang menyukainya maka dia harus mengabaikan perasaannya sendiri. Memang sih, tidak ada salahnya melakukan itu. Tapi So Ah pernah mengenal seseorang yang seperti itu, tapi rasanya sangat tidak baik.

Percakapan mereka tak sempat berlanjut karena Hoo Ye ditelepon sekretarisnya yang membritahu kalau dia bisa bertemu Ketua Shin sekarang. Hoo Ye pun menyerahkan kontraknya pada So Ah untuk So Ah pelajari, harganya tujuh kali lipat dari harga awal.


Ja Ya sedang merajuk manja pada Ketua Shin dan menuntut Kakeknya itu untuk memberikannya sebuah perusahaan entertainment. Dia kesal setengah mati karena harus makan jajangmyeon sambil naik roller coaster sampai wajahnya belepotan saus tapi tak ada satupun yang peduli dengannya.

Ketua Shin sontak ngamuk-ngamuk karena dia bahkan harus merelakan dua gedungnya demi menyekolahkan Ja Ya ke sekolah kedokteran. Ja Ya langsung pergi dengan kesal, tapi malah mendapati Hoo Ye sudah berdiri di depan pintu.

Dia langsung membentak Hoo Ye untuk minggir lalu mewek di atap gedung. Dia mengakui kalau jadi dokter itu hebat. Tapi dia tidak bisa melakukannya, dia terlalu bodoh untuk itu. Jadi dia harus bagaimana dong. Dia tahu kalau jadi artis takkan bisa menghasilkan banyak uang, tapi dia menyukai bidang ini.


Dia terus menangis saat turun dengan lift, tepat saat pintu lift terbuka dan Hoo Ye masuk. Hoo Ye memberikan selembar sapu tangannya untuknya. Ja Ya menolak, tapi Ho Ye tetap memberikan sapu tangan itu ke tangan Ja Ya lalu pergi tanpa mempedulikan protesnya Ja Ya.


Soo Ah bahagia bukan kepalang karena tanahnya terjual dengan harga tujuh kali lipat. Dia mencubit pipinya sendiri sampai kesakitan. Kini, dia akan sibuk mempersiapkan kepergiannya ke Vanuatu. Butuh passport, pemeriksaan kesehatan dalam bahasa inggris, kartu keluarga dan KTP. Ia tak perlu khawatir masalah uang lagi.

Dan untuk Sang Yoo, dia tak perlu khawatir karena ia akan memperkenalkannya pada rumah sakit bagus. Untuk merayakannya, mereka harus minum malam ini. Sang Yoo bilang kalau dia harus kerja paruh waktu. Tapi Soo Ah tak perduli, ayo!


Sang Yoo heran kenapa Soo Ah begitu membenci Korea. Soo Ah mengibaratkannya dengan ‘Joseon Hell’. Semua orang berusia 20 tahunan ingin pergi dari sana. Sang Yoo tidak berkeinginan untuk pergi tuh.

Siapa yang memperdulikan hal itu saat Korea membencinya? Korea menyukai orang dengan tipe lain. Soo Ah bertemu dengan dua yang tidak mengenal dunia. Salah satunya bukan manusia namun.. mereka punya sendok perak dimulut mereka (kaya). Korea lebih menyukai orang-orang seperti itu. Mereka mengutuk satu sama lain, namun sebenarnya mereka menyukainya. Dan saat bersikap seolah menyemangati, tapi sebenarnya mereka membencinya.

Mendengar omongan Soo Ah, Sang Yoo tahu kenapa klinik mereka tidak laku. Sepertinya Soo Ah sendiri kondisi mentalnya sedang tidak baik. Soo Ah kesal, ucapan Sang Yoo sudah membuat mood-nya memburuk. Lebih baik sekarang, mereka pindah karaokean saja.


Dirumah, Soo Ri sibuk membaca komentar-komentar negatif yang ditinggalkan netizen pada artikel Moo Ra. Ada yang mengatakan kalau dia kencan dengan enam pria sekaligus, dan ada juga yang mengatainya ratu silikon.

Habaek rasa Moo Ra juga mengalami masa yang sulit tinggal disini. Soo Ri melaporkan komentar negatif itu, dia menunjukkannya pada Habaek tapi Habaek sendiri belum bisa membaca hangul. Dia meletakkan buku dan meminta dia belajar Hangul.

“Kenapa wanita itu belum pulang?”

“Aku yakin dia akan segera pulang.”


Sang Yoo bernyanyi lagu yang liriknya berisi pujian pada tanah air mereka. Soo Ah buru-buru merebut mikrofonnya dan menyanyikan lagu yang liriknya tentang kebebasan hidup. Sang Yoo yang sudah pusing mendengar teriakan tak beraturan Soo Ah pun kembali mengganti lagunya dengan lagu kesukaannya, lagu kebangsaan.


Habaek sudah selesai belajar satu buku. Dia mulai membaca komentar-komentar di internet kemudian melaporkan komentar negatif satu persatu. Saat sibuk membaca, dia teringat dengan pria misterius yang belakangan berkeliaran disekitar Soo Ah. Dia pun mulai khawatir karena sampai sekarang Soo Ah belum pulang.


Setelah lelah, Soo Ah pulang dan melewati rumah makan. Ia sepertinya ingat dengan Habaek dan Soo Ri makanya dia membeli satu porsi ayam goreng. Sesampainya di gang dekat rumah, lampu jalan disana berkedip-kedip sampai akhirnya padam.

Gelap, Soo Ah agak ragu untuk melewatinya. Ia memungut batu untuk berjaga-jaga. Diujung jalan, ia melihat ada seseorang yang sedang bersender di tembok. Soo Ah pun berjalan dengan siaga sampai dia menyadari kalau orang itu tak lain adalah Habaek.

“Apa yang kau lakukan disini?”


Habaek beralasan kalau dia sedang berfikir caranya mengembalikan kekuatan. Kenapa memikirkannya disana? Soo Ah mengajaknya untuk pulang ke rumah. Lain kali, kalau memikirkannya, dia bisa melakukannya di gang sana (yang lampunya mati).

Bau apa ini? tanya Habaek. Soo Ah menunjukkan ayam yang dibelinya, dia mentraktinya karena harinya berjalan dengan sangat baik. Tanpa pikir panjang, Habaek langsung menolak, dia tidak membutuhkan makanan. Kriuk! Perut Habaek berbunyi nyaring.

“Kau sudah makan?”


“Aku tak butuh makanan.” Tolak Habaek. Tapi perutnya yang bandel pun kembali berbunyi kriuk menyuarakan keinginannya.

“Makan.” Ucap So Ah.

Kriuk~~

“Makan~~~”

Kriuk~~

Habaek sampai geregetan dan membungkam mulut So Ah. Soo Ah tertawa geli, dia tahu cara kerjanya sekarang. Orang akan semakin kelaparan kalau membicarakan makan. Terimalah kenyataan kalau dia adalah Dewa yang bisa merasakan lapar. Sudah saatnya dia mengakuinya.


So Ah berjalan masuk menuju rumahnya. Habaek mengekor dibelakang. Soo Ah tiba-tiba muncul lagi mengagetkan Habaek. Habaek sampai berjingkat kaget, Soo Ah tertawa terbahak-bahak setelah puas mengerjai dewa.

Dia sangat bahagia hari ini karena dia baru saja bertemu dengan dewa sesungguhnya. Dewa yang sebenarnya akan membebaskannya dari alam neraka ini.. Habaek teringat akan sosok Hoo Ye. Dia memperingatkan kalau tidak semua orang tampan adalah dewa. Sekarang, siapa yang menipunya?

Makhluk yang mengabulkan keinginan mereka adalah dewa yang sesungguhnya. Soo Ah melirik penampilan Habaek dari ujung kaki ke ujung kepala, “Merekalah Dewa sungguhan.”

“Aku... Dewa sungguhan.”

 

Soo Ah mengiyakan saja ucapan Habaek. Apa sekarang Habaek sudah melaporkan komentar negatif itu? Ah, tapi kan dia belum bisa membaca hangul. Habaek merebut batu yang ada ditangan Soo Ah kemudian menggoreskannya ke tembok. Dia menulis, ‘Yoon Soo Ah’.

Soo Ah tak menyangka kalau dia sudah mengetahuinya. Habaek berkata kalau ini adalah kehormatan untuknya karena dia yang melihat untuk pertama kalinya. Tak lupa, dia juga menuliskan namanya sendiri.

Habaek masuk ke rumah dengan cemberut. Soo Ah tersenyum memungut batu yang dibuangnya. Dia kemudian mengoreksi tulisan Habaek yang salah, dia tadi menulis namanya sendiri dengan ‘Habak’.


Soo Ri menyuapkan sepotong paha ayam pada Habaek. Meskipun perutnya keroncongan tapi dia masih menolak untuk makan. Soo Ah meletakkan paha ayam itu di tangan Habaek, dia sudah melihatnya kok. Sebelumnya, dia bahkan makan paha ayam yang sudah jatuh di tanah.

Setelah membatasi dirinya, dia pasti sudah tahu artinya lapar dan pengkhianatan. Dia akan menjadi Raja yang lebih baik sekarang. Dia pasti datang ke sana untuk belajar menjadi seorang Raja. Ngomong-ngomong, apa sekarang dia sudah tahu apa arti dari ‘pengawal’?

Habaek sudah mencarinya di internet. Itu adalah pekerjaan yang bagus dan patut dicoba. Soo Ah berdecak, jangan meremehkan orang.


Esok harinya, Habaek dan Soo Ri sudah mulai menjalani tugas menjadi pengawal. Mobil Moo Ra sampai didepan gedung dan banyak fans yang sudah menunggunya. Mereka langsung menggila saat Moo Ra keluar dari mobil. Habaek coba mengawalnya keluar dari mobil tapi rambutnya malah kena jambak.

Habaek pun terjatuh dan kena injak fans yang berjubel. Soo Ri khawatir dengan kondisi tuannya, dia pun melupakan tugasnya melindungi Moo Ra dan lebih memilih melindungi Habaek. Habaek kesal dan buru-buru mendorong Soo Ri. Soo Ri sakit hati dibuatnya, dia mewek sedih, kenapa dia begitu?


So Ah menyentuh hidungnya. Pasiennya yang bernama So Min berkomentar kalau Soo Ah sebenarnya sudah gagal dalam hidupnya. Dia baru saja menyentuh hidungnya. Ia dengar saat seseorang berbohong, sebuah hormon memicu hidung menjadi gatal. Itulah sebabnya dia memegang hidung tanpa disadari.

Tidak, hidung Soo Ah memang benar-benar gatal. So Min menambahkan kalau Soo Ah juga sudah menguap selama dua sesi terakhir. Soo Ah melihat jam-nya, ini sudah dua jam berlalu. Tapi So Min selalu mencari-cari kesalahannya, ini tidak akan baik untuk diagnosanya.

So Min tersinggung dan pergi dengan kesalnya. Soo Ah pun menahan dirinya, meyakinkan supaya ia harus bertahan.


Habaek mengajak Moo Ra untuk bicara berdua. Moo Ra tetap pada keputusannya, dia tidak bisa mempercayai Raja yang kehilangan kekuatan. Moo Ra pun kemudian meninggalkan mereka berdua. Moo Ra kemudian menelepon Bi Ryum, dia tak tahan lagi. Urus dia!


Karena stres, Habaek menelepon Soo Ah untuk minta kunci mobil. Dia mau menghilangkan stresnya. Soo Ah menolak, lebih baik dia pulang ke rumah saja. Habaek mengancam akan membuka mobilnya secara paksa. Dia sudah mencaritahu di internet caranya.

Soo Ah menemui Habaek. Dia memukulkan kepalanya ke stir mobil. Dalam batinnya dia mengutuk ingin membunuhnya. Soo Ah bertanya, apakah di internet ada tutorial untuk membunuh dewa?

“Hei, itu penghinaan.” Sentak Habaek.

 

Baiklah. Soo Ah bersedia untuk mengantarnya pergi meskipun dia lelah hari ini. Dia pun memacu mobilnya menuju ke pantai. Pokoknya, dia minta ganti untuk biaya bahan bakarnya. Keduanya berjalan-jalan di tepi pantai. Menikmati udara segar disana dan selfi berdua.

 

Tak lama setelah itu, mereka kembali memacu mobilnya menuju ke padang rumput. Soo Ah dan Habaek beristirahat dibawah pohon. Soo Ah rasa kalau menggunakan mobilnya saja tidak akan cukup.

“Suara mesinnya sangat aneh dan cukup berisik. Aku mendengar semua kebisingan. Yang perlu dilakukan adalah mengencangkan baut dan murnya. Aku akan memberikanmu harga khusus untuk memperbaikinya.”

Soo Ah sungguh tak bisa berkata-kata dengan kemampuan luar biasa Habaek. Apa benar dia bisa melakukannya setelah satu kali lihat tanpa keahlian? Habaek tidak membutuhkan keahlian karena dia adalah dewa.

Kalau begitu, Soo Ah penasaran dengan keluarga Habaek. Siapa ibunya? Puterinya? Istrinya? Dia sungguh ingin tahu. Menerima pertanyaan begitu, Habaek canggung mengatakan kalau dia belum menikah.


Soo Ah tidak percaya dengan ucapan Habaek. Ia kemudian merebahkan tubuhnya disamping Habaek. Hari ini, dia merasa sangat kesulitan. Seandainya dia punya kekuatan seperinya, apakah dia bisa membuat lautan dalam waktu 5 detik?

“Tentu saja.”

“Pasir putih dan matahari juga? Aku ingin menyusuri lautan. Aku... melihat lautan.”


Entah mimpi atau angan-angan, Soo Ah sudah berada dilautan. Ia berenang dan mengatakan kalau air tidaklah menakutkan. Dan bahkan jika kesepian, dia tak merasa sendirian. Habaek muncul menemani Soo Ah berenang. Soo Ah heran, kenapa dia ada disana?

“Aku harus disini agar kekuatanku bekerja.”

Soo Ah ingin sendiri, dia menyelam lebih dalam. Habaek mengikutinya dan menyentuh punggungnya. Soo Ah kaget, apa yang dia lakukan? Habaek berkata kalau Soo Ah tidak bisa berenang.

“Tapi aku sedang berenang sekarang.”

Habaek pun melepaskan tangannya dari punggung Soo Ah. Soo Ah yang tadinya bisa berenang tiba-tiba kesulitan dalam berenang setelah Habaek melepaskannya. Habaek menyuruhnya untuk percaya padanya, di air, dia akan melindunginya.


Kembali ke taman, Habaek memandangi wajah Soo Ah yang tengah memejamkan mata “Maafkan aku.”

“Untuk apa?” tanya Soo Ah.

Bersambung ke episode 5

1 comments:

Terima kasih, mbk
Sehat terus :D

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon