Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Bride of the Water God Episode 6 - 1


1200 tahun yang lalu pada era kerajaan Shilla, seekor burung besar tiba-tiba menjatuhkan dirinya kedalam sungai di tempat seorang nelayan sedang memancing ikan bersama putranya lalu tiba-tiba saja elang itu berubah bentuk jadi Bi Ryeom.

Si anak sontak ketakutan dan memanggil ayahnya. Saat sang ayah berbalik, Bi Ryeom langsung menyerangnya hingga sang ayah terjatuh kedalam sungai lalu tersenyum nakal.


Sekarang pun dia kembali melakukan hal yang sama pada So Ah dengan membuat tempat di sekitarnya retak dan membuat hujan di sekitarnya. Soo Ri mengingatkan Bi Ryeom kalau dewa tidak boleh menyakiti manusia.

Bi Ryeom masa bodoh, hamba dewa itu pengecualian. Dewa bisa melakukan apapun yang mereka suka pada hamba dewa. Habaek menatapnya tajam langsung curiga dengan sikapnya ini, mereka pasti menghilangkan batu dewa-nya, kan?

Semua orang sontak kaget mendengarnya. Bi Ryeom seketika batal menjentikkan jarinya dan jalan di sekitar So Ah mulai utuh kembali dan hujannya pun berhenti. Bi Ryeom berusaha menyangkal tuduhan itu dengan canggung, tapi Moo Ra langsung mengadu.


"Dia yang salah. Aku tidak bersalah, Habaek." Kata Moo Ra. "Dia yang selalu ingin menunda-nunda untuk memberikannya padamu."

Moo Ra meyakinkan kalau dia ingin jujur pada Habaek, tapi Bi Ryeom yang ngotot untuk menyembunyikannya dari Habaek karena Habaek sudah pasti akan menghukum mereka.


So Ah akhirnya punya kekuatan untuk bangkit kembali dan langsung menampar Bi Ryeom keras-keras. Habaek tampak cemas melihat kondisi So Ah, tapi dia diam saja. So Ah terisak saat menatap Habaek dengan kesal lalu pergi dengan membawa mobilnya Moo Ra.

Bi Ryeom tertawa gila sambil menggumamkan nama So Ah. Moo Ra ingin mereka menyelesaikan masalah ini sekarang. Tapi Habaek tidak mau membahasnya sekarang, sebaiknya mereka pergi saja lalu menonjok Bi Ryeom.

"Ini adalah pukulan yang sebenarnya, tidak seperti dipukul manusia selama 100 hari berturut-turut."

Moo Ra nyerocos mengkritiki sikap Habaek, mengingatkannya kalau kekuatannya hilang sekarang, Bi Ryeom bisa saja menyingkirkannya. Tapi Habaek terlalu marah untuk menanggapinya.


So Ah berhenti di tengah jalan dan mencoba menghubungi Yeom Mi, tapi nomornya masih belum bisa dihubungi. Mau menelepon Sang Yoo tapi tidak ingat nomornya. Terpaksalah dia harus menderita di sana seorang diri sambil merutuki Bi Ryeom.

 

Moo Ra mondar-mandir gelisah sesampainya di rumah. Heran dia, bagaimana bisa Habaek mengetahuinya. Bi Ryeom santai berenang dan berpikir kalau Moo Ra lah yang memberi Habaek petunjuk.

Tapi kemudian dia memikirkan sesuatu lalu ketawa karenanya. Kejadian seperti ini pernah juga terjadi pada mereka sekitar 2000 tahun yang lalu. Waktu itu Habaek juga memergoki mereka saat mereka sama-sama mencuri kunang-kunang air yang diberikan pada Habaek oleh ibunya.

Flashback,


Habaek mengkonfrontasi Moo Ra dan menuntutnya untuk mengembalikan kunang-kunangnya. Moo Ra menolak memberikannya dan menyuruh Habaek mengambilnya dari Bi Ryeom dulu. Tapi Bi Ryeom juga menuntut Habaek untuk mengambilnya dari Moo Ra duluan.

Jadilah Habaek musti mondar-mandir, tapi jawaban yang didapatnya dari mereka berdua terus sama hingga dia mulai curiga.

Flashback end.


Bi Ryeom mengenang kembali saat itu. Bagitu Habaek menyadari mereka menghilangkan kunang-kunangnya, Habaek langsung menonjoknya. Dan bodohnya Bi Ryeom, sekarang dia malah memakai rencana yang sama.

Moo Ra langsung kesal. Kalau dia memang sebodoh itu, seharusnya dia khawatirkan saja Negeri Langit alih-alih bikin perkara dengan Negeri air.

Bi Ryeom santai mengklaim kalau masalah ini membuat kekacauan besar di Alam Dewa, jadi tentu saja sebagai Dewa Negeri Langit dia harus terlibat untuk memperbaiki situasi ini.

"Memperbaiki? Kau menyebut mengobarkan kemarahan Suh Wang Mo da membuat manusia itu menjadi hamba dewa itu sebagai 'memperbaiki situasi'? Kau melakukan ini hanya karena kau ingin menyiksa Habaek untuk kesenanganmu sendiri."

Bi Ryeom mengakuinya dan dia kecewa karena Habaek tidak tertipu. Dulu Habaek tidak berbuat apapun. Moo Ra sinis, apa Bi Ryeom akan melakukan sesuatu jika dia jadi Habaek. Kesal, dia mau pergi sambil bertanya-tanya heran, kenapa Habaek ingin bicara besok.

"Kurasa dia punya masalah lain yang lebih penting." Ujar Bi Ryeom. Moo Ra langsung berbalik heran, apa maksudnya.

 

Habaek terus menatap ke jalan dan menunggu kedatangan So Ah yang masih belum pulang sampai sekarang. Soo Ri juga cemas, tidak seharusnya mereka membiarkan So Ah pergi sendirian tadi. So Ah pasti sangat shock. Teringat ketakutan So Ah tadi, Habaek sontak mencengkeram pagar dengan penuh amarah.


So Ah ternyata pergi mengunjungi makam ibunya. Sambil mencabuti rumput liar di gundukan makam sang ibu, dia meminta maaf karena jarang datang mengunjunginya lalu tanya apakah Ibu pernah dengar kalau keturunan keluarga mereka adalah hamba dewa. Apa sih yang dilakukan para leluhur mereka.

Dia terus curhat kalau belakangan ini banyak hal-hal aneh yang dialaminya tapi tak ada seorang pun yang bisa dia ajak bicara tentang hal itu. Yang dia miliki hanya Yeom Mi dan Sang Yoo.

"Apa Ibu ingat Sang Yoo. Itu tuh anak yatim piatu yang dulunya paling pengecut. Dia masih belum mau meninggalkanku sampai sekarang. Dia cerewet dan menyebalkan sekali. Apa ibu tahu nomor kontaknya? Apa Ibu tahu nomor klinik kami?"


Dia mengaku belum mendengar kabar apapun dari ayahnya. Orang bilang kalau Ayah menghilang, tapi tentu saja mereka lebih tahu kalau Ayah hanya memilih untuk tidak kembali.

"Bukannya aku merindukannya. Aku hanya menginginkan penyelesaian, itu saja. Biarpun dia mau pergi lagi, bukankah setidaknya dia harus menjelaskan segalanya dulu?"

Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang aneh, tapi tak tampak ada seorang pun di sana. So Ah sontak ketakutan mengira arwah ibunya akan menampakkan diri lalu buru-buru pamit, dia berjanji akan datang berkunjung lagi nanti.


Habaek terus menunggu dan menunggu. Semakin cemas, dia akhirnya turun dan menunggu di gang hingga akhirnya dia melihat So Ah pulang dengan berjalan kaki. Tapi So Ah masih terlalu marah untuk menghadapinya dan langsung melewatinya begitu saja.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Habaek.

So Ah akhirnya berbalik dan menuntut apa sebenarnya dosa yang telah dilakukan para leluhurnya. "Hal buruk apa yang mereka lakukan hingga hidupku jadi mainan para dewa?"

Dia menyadari kalau hidupnya tidak cukup baik ataupun berarti. Dia bahkan tidak punya kemewahan untuk memikirkan impian dan masa depannya. Tentu saja dulu dia pernah memiliki semua itu, tapi sekarang dia harus menanggung akibat dari impiannya yang terlalu tinggi.

"Tapi itu bukan berarti aku harus setuju untuk menderita dalam segala cara. Kau bilang kau dewa. kalau begitu kabulkan satu permintaanku. Biarkan aku bertemu ayahku."

Dia mau tanya kenapa ayahnya menyerahkan segala beban ini kepadanya dan apakah dia bisa tidur tenang dan makan dengan lahap sekarang. Dia ingin ayahnya mengambil kembali semua beban ini sekarang juga.

"Dia bahkan tidak bisa menyelamatkanku, lalu hak apa yang miliki hingga dia berusaha menyelamatkan dunia? Aku hanya ingin menanyakan hal itu kepadanya."

Itu saja yang So Ah inginkan. Karena itulah dia tidak boleh mati sampai dia bertemu ayahnya dan mengatakan semua hal ini padanya.


Dia langsung berbalik pergi, tapi Habaek menahannya dan berjanji bahwa dia tidak akan lagi membuat So Ah dalam bahaya karena masalah para dewa.

"Aku akan melindungimu, karena itu adalah tugas dewa."

So Ah mengaku kalau sebenarnya dia ingin bilang kalau dia bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi dia tidak sanggup menghadapi mereka, para dewa. Karena itulah dia akan menerima janjinya Habaek dan pastikan Habaek menepati janjinya.

"Aku akan menepatinya, ini janji dewa. Deal?"

Begitu So Ah menyetujuinya, Habaek langsung menautkan jari kelingking mereka dan menyetempelnya dengan jempol mereka. Ini adalah janjinya.

 

Habaek naik kembali ke loteng sambil memikirkan pertanyaan So Ah tentang dosa yang dilakukan para leluhurnya. Langkah Habaek terhenti teringat saat itu.

Flashback,


Si nelayan dan putranya berlutut di hadapan Ibu Habaek. Ketakutan pada para dewa di hadapannya, si nelayan langsung menjanjikan seluruh hidupnya untuk mengabdi pada mereka asalkan mereka membiarkannya dan anaknya hidup.

Tapi Ibu Habaek tak mau kalau cuma hidupnya dan menuntut seluruh keluarga nelayan dan semua keturunannya juga harus melayani para dewa. Keturunan mereka akan diberikan satu anak dan pasangan keturunannya nanti akan pergi begitu anak mereka terlahir.

Karena pengkhianatannya terhadap dewam, Ibu Habaek menghukum mereka dengan cinta yang singkat, hidup panjang umur tapi penuh dengan pengkhianatan. Alasan hidup keturunannya nanti hanyalah demi melayani para dewa untuk membayar kembali pengkhianatan mereka terhadap dewa.

Flashback end.


Keesokan harinya, So Ah naik ke loteng dan langsung menunduk karena lagi-lagi mendapati Habaek sedang berendam di bak sambil baca koran. Tapi begitu melihat So Ah, Habaek langsung menyudahi acara mandinya dan menghampiri So Ah dengan hanya berbalut handuk.

So Ah tanya di mana rumahnya Moo Ra karena dia mau mengembalikan mobilnya. Tapi Habaek dengan santainya bilang kalau mobil itu miliknya sekarang, dia sudah bilang ke Moo Ra kalau dia akan mengambil mobil itu. Dia bahkan sudah meminta Moo Ra untuk mengalihkan kepemilikan mobil itu padanya.

"Bagaimana bisa dia melakukannya kalau kau bahkan tidak punya SIM?"

"Itu yang dia katakan. Karena itulah aku menyuruhnya untuk mengalihkan kepemilikannya atas namamu."

 

Tapi dia menegaskan kalau mobil itu miliknya dan nama So Ah cuma formalitas. Dia mau merebut kunci mobilnya, tapi So Ah langsung menariknya dan membawa mobil itu ke klinik. So Ah jelas senang punya mobil baru, mobilnya bagus lagi. Tapi dia berniat mau menjualnya saja.


Ja Ya baru tiba di parkiran sambil menerima telepon dari Kakeknya yang ngamuk-ngamuk gara-gara gosip yang mengatakan kalau Hoo Ye adalah sugar daddy-nya Ja Ya. Untung saja mereka ketahuan kalau mereka saudara.

Ja Ya kesal, tak terima Hoo Ye disebut-sebut sebagai saudaranya. Hoo Ye cuma anak yatim yang mengadopsi nama marga keluarga mereka dan menuntut Ketua Shin untuk memecat Hoo Ye. Kesal, Ketua Shin mengancam Ja Ya datang sekarang juga sebelum dia mencukur kepala Ja Ya sampai botak dan mengirimnya ke kuil.


Ketua Shin lalu tanya perkembangan pembelian tanah di Gangwon-do, tidak ada pemilik tanah yang menolak menjual tanah mereka, kan? Kepala Seksi Jang mengiyakannya, segalanya berjalan lancar.

Pada dasarnya, tanah-tanah di sana memang susah dijual, jadi kebanyakan pemilik tanah ingin langsung menjualnya. Tapi... si pemilik tanah yang tanahnya rencananya hendak dijadikan jalan, menunda menjual tanahnya karena alasan pribadi.


Ja Ya ditelepon seseorang yang memintanya untuk melakukan interview bersama Hoo Ye. Ja Ya jelas tidak mau sebenarnya. Tapi demi interview-nya, akhirnya dia menyetujuinya saja. Tiba-tiba sebuah mobil melintas cukup dekat hingga hampir menyerempetnya.

Sekretaris Min yang ternyata mengendarai mobil itu. Ja Ya jelas kesal dan langsung melabraknya. Sekretaris Min dengan entengnya menyalahkan Ja Ya yang berdiri di tengah jalan dan dia cuma berusaha menghindari Ja Ya.

Ah, jika Ja Ya kemari untuk bertemu Hoo Ye, sepertinya dia hanya akan buang-buang waktu karena Hoo Ye sedang keluar. Hoo Ye juga menolak memberikan pernyataan ataupun melakukan interview.

Dan jangan lupa untuk mengembalikan sapu tangan itu secepat mungkin. Tidak sopan menyimpan barang milik orang lain terlalu lama.


Sang Yoo mondar-mandir gelisah sambil mendengarkan berita tentang leopard yang hilang. So Ah akhirnya datang tak lama kemudian, tapi langsung memerintahkannya untuk mencari tempat yang mau membeli mobil bekas.

Sang Yoo langsung membentaknya dan mengingatkannya tentang janji ketemuannya dengan Hoo Ye kemarin tapi So Ah malah tidak muncul dan tidak bisa dihubungi. Apa yang sebenarnya terjadi pada So Ah. So Ah baru ingat tapi tak menjelaskan apapun dan hanya mengucap maaf.

"Aku benar-benar mengira kalau terjadi sesuatu padamu! Bagaimana bisa aku menghadapi ayahmu kalau begitu? Kalau kau seperti ini terus, aku akan pindah kembali ke daerah tempat tinggalmu."

"Hentikan omong kosongmu dan urus saja urusanmu sendiri!" Kesal So Ah.


Begitu masuk ruangannya, dia langsung menelepon Hoo Ye dan meminta maaf. Tapi tepat saat itu juga, Sang Yoo membukakan pintu untuk Hoo Ye. Hoo Ye cemas, dia tak tahu apa yang terjadi pada So Ah atau apa yang harus dia lakukan, karena itulah dia terus mampir kemari.

So Ah langsung nyerocos meminta maaf dan menjelaskan kalau kemarin di ada urusan mendadak dan dia tidak bisa menghubungi Hoo Ye karena ponselnya rusak. Dia juga tidak ingat nomornya Hoo Ye dan dia pergi cukup jauh.

Hoo Ye cepat menghentikan ocehannya dengan menggenggam tangan So Ah. Syukurlah kalau So Ah baik-baik saja, itu saja cukup.



So Ah sekali lagi meminta maaf dan hendak membahas tentang kontraknya... saat tiba-tiba saja dia baru ingat kalau kontraknya ketinggalan di mobilnya Bi Ryeom.

So Ah sontak galau dan hendak menjelaskan. Tapi seolah tahu pikiran So Ah, Hoo Ye menyelanya dan hanya meminta So Ah untuk menghubunginya jika dia sudah siap, lalu pamit.

"Aku akan mengunjungi anda sore ini. Anda akan ada di mana? Aku yang akan mendatangi anda."

"Aku akan berada di sebuah tempat yang sangat private malam ini." Ujar Hoo Ye serius.

So Ah langsung canggung mendengarnya, kalau begitu dia akan menghubungi Hoo Ye sesegera mungkin. Begitu Hoo Ye pergi, So Ah langsung kesal merutuki si Ahn Bin itu (Bi Ryeom). Masa dia harus menemuinya lagi.


Habaek menemui Moo Ra dan Bi Ryeom untuk menuntut penjelasan. Dari ketiga batu dewa, mereka hanya memiliki dua saja. Moo Ra mengadu kalau ini salahnya si kunyuk itu. Dia suka main-main lalu memulai perkelahian.


Bi Ryeom bercerita kalau kejadiannya terjadi 13 tahun yang lalu, Moo Ra dan Bi Ryeom terlibat perkelahian sengit. Mereka saling menyerang dengan melempar kekuatan masing-masing. Saat mereka hendak berlari pada satu sama lain, Joo Dong (yang tidak diperlihatkan wajahnya) tiba-tiba muncul diantara mereka untuk menghentikan mereka.

Saat itulah ketiga batu dewa terlempar dari mereka. Dua batu berhasil mereka dapatkan, tapi batu ketiga milik Moo Ra terlempar cukup jauh. Joo Dong pergi mencarinya, tapi setelah itu dia tidak pernah kembali lagi. Ujung-ujungnya kedua dewa itu seperti anak kecil yang saling mengadu dan saling menyalahkan satu sama lain.


"Kalian berdua! Bagaimana bisa kalian begitu tidak bertanggung jawab?!" Geram Habaek.

Bi Ryeom menolak disalahkan dan ganti menyalahkan Habaek. Masalah ini tidak akan terjadi seandainya seandainya Habaek tidak kehilangan koordinat-nya karena koordinat itu bisa menuntun Habaek kemanapun mereka pergi.


Habaek terus cemberut saat mereka naik lift. Moo Ra dengan takut-takut meyakinkan Habaek kalaud dia sudah berusaha sebisanya untuk mencari, tapi dia juga sibuk. Belum lagi ada masalah dengan sungai selatan. Tahu sendiri kan kalau Joo Dong itu suka menghilang tanpa pesan jika dia ada urusan.

Habaek tanya kenapa Moo Ra pergi ke tempat itu waktu itu. Karena Moo Ra pikir kalau Joo Dong kerja di sana. Waktu itu Joo Dong bilang ada sesuatu yang aneh dan menyuruh mereka datang. Tapi dia mengaku tidak tahu apa yang mau dikatakan Joo Dong karena dia dan Bi Ryeom langsung bertengkar setibanya di sana.

"Kenapa kalian bertengkar?" Tanya Habaek. Moo Ra langsung canggung dan menolak memberitahu lalu buru-buru pergi.

Bersambung ke part 2

1 comments:

hm.. aku rasa Joo Dong itu Hoo ye..

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon