Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Bride of the Water God Episode 6 - 2


Moo Ra baru berhenti menghindari Habaek di parkiran dan meyakinkannya untuk tidak cemas. Masih ada waktu tersisa hingga air merah tiba, mereka pasti bisa menemukannya. Bi Ryeom pipunya koneksi dengan dewa-dewa kecil di sini. Dia mungkin sudah mulai bertindak sekarang.

Masalahnya bukan karena Habaek kehilangan koordinat. Hanya saja batu dewa itu ada di bumi entah di mana. Moo Ra tidak mengerti, apa hubungannya antara pengangkatan raja dengan batu-batu itu.

Ucapan Moo Ra itu membuat Habaek teringat saat dia menggerutu tentang hal yang sama pada Pendeta Besar. Moo Ra pamit karena ada syuting. Tapi sebelum pergi, tiba-tiba dia memeluk Habaek dan meminta maaf... dan mengomentari bajunya Habaek yang jelek itu, dia tidak suka.

 

So Ah baru saja selesai membeli ponsel baru sambil menggerutu kesal. Dia juga tidak punya nomor teleponnya Ahn Bin dan si Habak itu. Sebodoh amat, mereka tidak boleh jadi orang pertama yang namanya tersimpan di kontak ponsel barunya.

Tapi tepat saat itu juga, ponsel barunya berbunyi dan yang menelepon adalah Habaek yang langsung menuntutnya untuk membawa mobilnya kemari sekarang juga, dia harus pergi ke suatu tempat.


Beberapa saat kemudian, So Ah mengantarkan Habaek ke suatu tempat. Habaek menggerutu karena So Ah ngotot mengantarnya lalu tanya cara membuat SIM. So Ah menyebutkan berbagai syarat yang harus dipenuhi seperti KTP ujian tertulis dan uji lapangan. Habaek dengan pedenya berkata kalau dia mau membuat SIM.

So Ah mendengus sinis, "Lalu bagaimana dengan KTP-nya?"

"Belikan satu untukku dan simpan struknya."

 

Malas membahasnya lebih lanjut, So Ah ganti topik membahas alasan Habaek datang ke tempat ini. Mereka ternyata mendatangi tempat saat Habaek pertama kali jatuh ke bumi, dia mau mencari koordinat-nya yang jatuh di situ.

So Ah heran mendengarnya, kebetulan dia juga kehilangan sesuatu di tempat ini. Dia langsung mengutuki si pencuri jaketnya malam itu, bahkan memohon pada Habaek untuk membuat kaki si pencuri jadi penyakitan.

Habaek geli mendengarnya, "Aku tidak mengenal Dewa yang akan mengabulkan permohonanmu itu."


So Ah mencoba menawarkan bantuannya, tapi Habaek mengklaim kalau So Ah tidak akan bisa melihatnya. Bahkan sekalipun dia memberitahunya juga, So Ah tidak akan bisa mendapatkannya. Lagian susah juga dijelaskan. So Ah terus ngotot, siapa tahu hamba dewa bisa melihat, mendengar dan memahaminya dengan baik.

"Koordinat itu memiliki air yang membara namun juga memiliki kejernihan api. Koordinat itu juga adalah kebenaran yang ditandai dengan kuat. Semua detik berhenti, namun tiba-tiba semua detik itu berjalan kembali. Hanya itu jawabanku yang paling lengkap dan utuh. Jika kau melihat sesuatu seperti itu, cepatlah mengambilnya."

Wkwkwk... jelas saja penjelasan itu terlalu membingungkan bagi akal manusia biasa. Kalau begitu Soo Ah akan menunggu di sana saja. Dia langsung duduk di bangku dan membiarkan Habaek mencarinya sendiri.


So Ah lalu mengeluarkan pulpennya yang didalamnya terselip peta Vanuatu. Tapi tempat impiannya itu sekarang terhalang gara-gara si Ahn Bin itu. Dia lalu menelepon Habaek walaupun Habaek tak terlalu jauh darinya dan meminta Habaek untuk mengirimkan nomornya Ahn Bin atau si Bi Ryeom padanya.

Habaek langsung kesal, dia kan sudah bilang jangan berhubungan dengan Bi Ryeom lagi. So Ah menjelaskan kalau dia meninggalkan sesuatu di dalam mobilnya Ahn Bin, tapi Habaek tak mau tahu dan langsung menutup teleponnya.

So Ah menyimpan nomor Habaek. Awalnya dia memikirkan berbagai nama kontak mulai dari Tuan Alam, Pelindung, dll. Tapi kemudian punya ide bagus dan akhirnya menamai Habaek sebagai 'Hantu Air'. Hehe.

 

Diam-diam dia merekam Habaek sambil bergumam senang melihat Habaek akhirnya melakukan sesuatu karena biasanya Habaek cuma malas-malasan di dalam bak air sambil baca koran atau main internetan sepanjang hari.

Tiba-tiba Habaek diam, teringat kembali ucapan Moo Ra tentang Jong Doo yang pernah bilang bahwa ada sesuatu yang aneh. So Ah heran melihat Habaek diam, tapi tiba-tiba dia melamun teringat janji Habaek malam itu.

 

Dia keasyikan melamun sampai tidak sadar saat Habaek mulai bergerak lagi lalu tiba-tiba menegurnya dari belakang dan membuatnya hampir jantungan. Habaek sudah menemukannya? Tanya So Ah. Tidak, sepertinya dia kehilangan koordinat itu di jalan.

Dia penasaran dengan apa yang So Ah rekam dan langsung merebut ponselnya. Tapi So Ah buru-buru merebutnya kembali lalu mengalihkan perhatian Habaek dengan mengajaknya selfie. Buat kenang-kenangan, ini kan tempat mereka pertama kali bertemu.


Habaek setuju. Mereka pun mulai foto So Ah mulai mencari angle yang tepat tapi tangannya tidak cukup panjang untuk membuat mereka berdua dalam satu frame. Habaek langsung merebut ponselnya lalu dengan santainya menarik So Ah mendekat padanya hingga membuat So Ah gugup dibuatnya.

Begitu mendapatkan angle yang tepat, Habaek tiba-tiba saja menoleh ke So Ah dalam jarak yang sangat dekat. Keduanya sama-sama gugup karena kedekatan itu. Habaek cepat-cepat memotret tapi tak ada satupun yang hasilnya benar. Dia terus mencoba berulang kali, tapi tetap saja gagal.

 

Sudahlah, dia menyerah. Ayo pergi saja. So Ah lalu menyuruh ponsel barunya untuk mengirimkan ke-6 foto selfie mereka itu ke 'Hantu Air' dan si ponsel mendengarkannya dengan baik. Habaek jelas kesal mendengar So Ah mengatainya Hantu Air, tapi langsung tersenyum lagi begitu melihat foto-foto mereka.

"Apa semuanya akan selesai setelah kau menemukan batu dewa yang terakhir?" tanya So Ah.

"Iya?"

"Lalu kau akan kembali ke asalmu?"

"Iya."

"Kalau begitu, kau tidak akan melindungiku dalam waktu yang lama." Gumam So Ah.


Tapi bagaimana kekuatannya Habaek tidak kembali. Habaek yakin itu tidak mungkin, dia kan Dewa Negeri Air. Pada hakikatnya, alam akan menyatu kembali ke alam. So Ah benar-benar heran, semua ini terjadi karena Habaek kehilangannya kekuatannya.

Sepertinya masih banyak yang harus Habaek lewati demi menjadi raja. Contohnya, pertempuran antar para Raja. Tapi sepertinya di sana tidak terjadi hal seperti itu, yah. Habaek menegaskan kalau dia terlahir untuk menjadi raja, tidak seperti manusia yang rajanya dipilih.

"Di sini tidak ada yang namanya raja. Mereka hanya diberi kepercayaan untuk menjalankan pemerintahan dalam waktu yang dibatasi karena masyarakat memiliki kesibukan masing-masing."

Tapi terkadang, mereka lupa akan kepercayaan yang diberikan pada mereka itu. Karena itulah mereka harus memilih pemimpin yang memilih ingatan yang baik. Tapi masalah ini kan tidak penting untuk Habaek karena dia akan segera pergi meninggalkan tempat ini.

"Tidak penting? Jika aku harus meninggalkan Negeri Air, apa yang akan terjadi padaku? Jika aku tidak kembali, apa yang akan terjadi padaku? Aku penasaran apa aku juga akan menganggap hal itu tidak penting atau tidak. Namun itu tidak akan terjadi. Aku tidak bisa membayangkan Negeri Air tanpa kehadiranku."

 

Saat mereka kembali ke mobil, mereka malah mencium bau tidak enak. Soo Ri ternyata habis minum-minum dengan pemilik tempat kerja paruh waktunya.

So Ah mau pergi menemui Ahn Bin sekarang. Tapi Habaek bersikeras melarangnya menemui Bi Ryeom lagi dan menyuruh So Ah untuk melihat tanahnya, ada yang harus dia periksa. So Ah protes dan jadilah mereka otot-ototan sampai Soo Ri menyela untuk tanya apa mereka tidak lapar. Dan seketika itu pula perutnya Habaek protes minta makan.


Ponselnya So Ah berbunyi saat itu. Yeom Mi akhirnya meneleponnya dan sekarang dia sedang ada di klinik. So Ah sontak ngamuk-ngamuk dan menggerutu panjang lebar sampai Yeom Mi malas sendiri mendengarnya dan langsung mematikan teleponnya. Yeom Mi cuma mengiriminya sms dan menyuruh So Ah datang ke tempatnya, ada yang harus So Ah temui.

 

So Ah tak mau peduli lagi dengan perintah Habaek dan langsung membawa mereka ke tempat perdukunannya Yeom Mi. So Ah dengan santainya memperkenalkan Habaek sebagai Dewa Air dan Nam Soo Ri adalah pengawalnya.

Yeom Mi langsung menyeret So Ah menjauh dan meyakinkan kalau dia punya alasannya sendiri untuk pergi. Dia bertemu dengan seseorang di Gaerongsan, seorang guru yang sehebat dewa. Orang ini sudah lama tidak berkomunikasi dengan dewa, tapi dia masih sangat hebat. Orang itu akan kembali ke Gaerongsan besok, makanya dia menyuruh So Ah menemui orang itu hari ini.


Dia lalu menyeret So Ah masuk untuk menemui orang itu dan menyuruh So Ah untuk menceritakan masalahnya ke orang ini. Yeom Mi mengaku kalau dia bisa meramal orang lain, tapi entah kenapa dia tidak bisa meramal So Ah, makanya dia pergi ke Gaerongsan.

So Ah tidak mau dan berniat pergi. Tapi orang itu tiba-tiba bicara dan menunjukkan kehebatan ramalannya dengan mengomentari peruntungan buruk So Ah dengan orang tuanya.

Yeom Mi pun keluar meninggalkan mereka berduaan. Orang itu terus meramal segala sesuatu tentang So Ah dengan sangat tepat. Peruntungan buruk So Ah dengan pria dan juga masalah tanahnya.

Tanah itu memang tanahnya So Ah, tapi bukan miliknya dan bukan pula milik orang lain. Jadi So Ah tidak akan menjualnya. Kalau So Ah bersikeras menjualnya maka dia hanya akan kehilangannya. Tak ada apapun yang bisa So Ah lakukan.

"Kenapa?"

"Karena roh yang cukup kuat ada di sekitarmu dan mengambil semua peruntungan baikmu. Seorang bajingan gigih yang berada di sampingnya."

Hmm... ucapannya jelas menyinggung Habaek yang dia klaim sebagai dewa kecil dan menyarankan So Ah untuk mengusirnya. Jika tidak maka peruntungannya akan semakin memburuk.


"Siapa yang kau sebut dewa kecil?" tegur Habaek yang tiba-tiba masuk.

Orang itu membuka tirainya dan ternyata dia Joo Geol Rin. Dia langsung tergagap ketakutan melihat kemarahan Habaek. Tapi kemudian dia nekat mendorong So Ah ke Habaek lalu melarikan diri.


Habaek dan Soo Ri sontak berlari mengejarnya. Tak sengaja Yeom Mi lewat saat itu dan Geol Rin langsung menubruknya hingga Yeom Mi oleng. Tapi untunglah Soo Ri sigap menangkap Yeom Mi dalam posisi yang romantis.

Yeom Mi terperangah dibuatnya. Tapi Soo Ri tidak ada waktu dan langsung membaringkan Yeom Mi dengan lembut ke lantai lalu bergegas mengejar mereka.


Habaek mengejar Geol Rin tanpa lelah melewati berbagai gedung dan rintangan dan melompat kesana-kemari dengan gaya kerennya hingga akhirnya mereka tiba di atap sebuah atap gedung.


Habaek akhirnya berhenti mengira tak ada jalan lain bagi Geol Rin. Tapi kemudian Geol Rin nekat melompat dari atap gedung tinggi itu... dan menghilang begitu saja dan hanya meninggalkan bekas terjatuh di aspal. Habaek dan Soo Ri jelas keheranan, bagaimana bisa Geol Rin terbang lalu menembus tanah.


Habaek kesal, mana perutnya protes terus lagi. Sepertinya rasa laparnya jadi semakin menghebat setelah bertemu Geol Rin. Mereka akhirnya masuk restoran untuk makan mie. Tahu kalau Habaek bakalan keras kepala tidak mau makan, So Ah langsung saja mengambilkan sesendok mie untuk Habaek.

So Ah penasaran, apa yang akan mereka lakukan setelah menangkap dewa kecil itu. Tentu saja mereka harus menghilangkan kutukan ini. Soo Ri dengan antusias mau ngasih tahu cara menghilangkan kutukannya, tapi Habaek menegurnya untuk tutup mulut.

Soo Ri akhirnya hanya bisa melirik Habaek dengan canggung. Melihat itu, So Ah langsung punya dugaan. Apa Habaek harus mencium Geol Rin lagi. Pfft! Dugaannya tepat sasaran, Habaek langsung tersedak mendengarnya.

So Ah mencoba menyemangatinya. Tidak masalah kok, kan lebih baik darpada kelaparan. Habaek cuma perlu menutup mata lalu chu~~~


Tapi saat memikirkan Habaek akan kembali ke asalnya begitu kutukannya musnah dan kekuatannya kembali, So Ah tampak sedih. Ngomong-ngomong tentang kutukan, bagaimana caranya agar So Ah bisa mematahkan kutukan keluarganya.

"Itu bukan kutukan, tapi sebuah janji."

"Kenapa leluhurku membuat janji semacam itu?"

"Karena mereka melakukan dosa."

So Ah menuntut dosa apa, jika alasanya masuk akan maka dia rela menyerahkan dirinya. Habaek langsung menggebrak meja penuh amarah. Dulu pernah ada seorang wanita yang diserang lalu dilempar kedalam air. Aturan harus dilanggar agar wanita itu bisa hidup di Negeri Air.

Wanita itu hidup enak di negeri air sampai saat dia jadi lemah karena merindukan ayahnya yang buta. Maka wanita itu pun kembali ke alamnya dengan segala bantuan yang diterimanya dari Negeri Air.

Tapi setelah itu, wanita itu tak pernah kembali. Wanita itu malah jatuh cinta pada raja di dunia manusia dan menikah dengannya. Seluruh Penghuni Negeri Air merasa terkhianati setelah segala hal yang telah mereka lakukan untuk wanita itu.

So Ah tanya, apa wanita itu bernama Shim Chung. (Karena cerita Habaek itu mirip legenda Shim Chung). Habaek tak menjawabnya tapi moodnya jadi memburuk gara-gara membahas itu dan langsung pergi.


So Ah ingin menemui Ahn Bin sekarang. Tapi Habaek melarang dan langsung menyerahkan robekan kertas. Dalam flashback, mereka sebenarnya sudah menemukan surat penjualan itu sejak awal. Dan robekan kertas itu tenryata kontrak penjualan tanahnya.

Tapi Habaek kesal karena So Ah ternyata mau menjual tanah milik dewa. Sebaiknya So Ah tidak usah buang-buang waktu untuk menjualnya, tidak akan laku. Sekarang bawa dia ke tanahnya. So Ah tidak terima, itu tanahnya dan bukan tanah dewa. Kenapa Habaek melakukan ini padanya.

"Kau bisa menjual semuanya tapi tidak tanah dewa."

"Tak ada lagi yang bisa kujual!" Kesal So Ah, lalu pergi. Habaek langsung mengejarnya dan menggenggam tangan So Ah.


So Ah benar-benar kecewa pada. Padahal dia cukup senang saat Habaek bilang mau melindunginya. Dia ingin mempercayai Habaek saat Habaek bilang kalau itu adalah tugasnya. Dia senang memikirkan ada seseorang di sisinya.

Dengan bodohnya dia berpikir kalau hidup bersama mungkin adalah jalan keluar baginya. Dia menyadari kalau dia hanya punya sisa waktu sedikit sampai Habaek kembali ke dunianya. Tapi dia benar-benar bahagia karenanya walau hanya sebentar. Bahkan hari ini pun, dia merasa cukup bahagia.


"Aku marah karena itu. Aku tak tahu kau orang seperti apa... maksudku, aku tak tahu kau dewa seperti apa."

"Aku dewa negeri air..."

"Karena itulah. Kau adalah seseorang yang datang dari dunia yang lebih besar. Tujuanmu adalah melakukan tanggung jawab yang lebih besar. Tak peduli apakah hal-hal kecil lainnya pergi tanpa jejak atau tidak."

Dia langsung melepaskan tangannya dari cengkeraman Habaek dan pergi. Dia lalu menelepon Hoo Ye dan minta bertemu sekarang juga. Hoo Ye tampak cemas mendengar suara So Ah yang terdengar muram.


So Ah lalu menyeberang jalan dengan santai karena jalan itu sepi. Tapi tiba-tiba saja ada sebuah truk melintas dengan kecepatan tinggi tepat ke arah So Ah. Habaek melihatnya dan langsung berteriak panik memanggil nama So Ah.

Dia berusaha mengejar So Ah... tepat saat truk itu melindas So Ah. Errr... tapi tak nampak jejak So Ah begitu Habaek tiba di sana, seolah So Ah menghilang entah kemana. Habaek langsung panik berteriak-teriak memanggil nama So Ah.

Bersambung ke episode 7

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon