Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 10 - 1

 

Saat pasukan Jepang terdengar semakin mendekat, Hwi Young tiba-tiba memeluk Soo Hyeon dengan erat dan menciumnya mesra. Tapi begitu pasukan Jepang sudah berlalu, dia langsung melepaskan Soo Hyeon.

Melihat Soo Hyeon tampak begitu tercengang, Hwi Young santai menasehatinya untuk melakukan ciuman dengan benar jika tujuannya demi negara. Soo Hyeon masih yakin kalau Hwi Young lah pria bercadar yang menyelamatkannya di hutan dulu dan menuntut Hwi Young menjawabnya. Hwi Young diam menatapnya beberapa saat sebelum kemudian menyangkalnya.

Kecewa, Soo Hyeon kembali memakai topinya lalu mengembalikan jam sakunya Hwi Young. Dia hendak pergi, tapi Hwi Young mencegahnya untuk melihat luka di tangannya. Soo Hyeon santai-santai saja dan memperingatkan Hwi Young untuk tidak berpikir macam-macam tentang ciuman barusan, itu cuma bagian dari taktik revolusi.


Begitu Hwi Young kembali ke Carpe Diem, Yul memberitahunya bahwa pengiriman sudah beres. '(Anjing) Sapsali' mereka sudah kembali dengan selamat dan cuma luka sedikit.

Beberapa saat kemudian, Soo Hyeon bernyanyi di atas panggung sementara Hwi Young sibuk sendiri menulis novelnya. Yul menyatakan kalau dia mau berkencan saja sekarang dan wanita yang dipilihnya adalah Soo Hyeon. Hwi Young tampak sedih mendengarnya.

Selesai tampil, Soo Hyeon kembali ke penampilan tomboinya dan teringat kembali akan ciumannya dengan Hwi Young saat dia sedang menghapus lipstiknya. Tapi kemudian dia teringat akan peringatan Madam bahwa seorang pejuang tidak boleh jatuh cinta, karena itu bisa membahayakan hidupnya.


Di tempat lain, Hwi Young menghisap batang kayu manis seolah itu rokok seraya mengingat kembali ciumannya dengan Soo Hyeon tadi dan pernyataan Yul untuk mengencani Soo Hyeon. Yul mendatanginya tak lama kemudian dan menyinggung kayu manis yang dihisapnya alih-alih rokok. Apa Hwi Young sudah berhenti merokok?

"Chaya pemantiknya di malam hari, bisa saja membuatmu jadi target musuh. Aku tidak mau kena tembak." Ujar Hwi Young.

Dia lalu menyuruh Yul untuk bilang ke Soo Hyeon bahwa Yul lah pria yang menyelamatkannya dulu. Yul tak mengerti kenapa, kan memang Hwi Young yang menyelamatkannya, bilang saja pada Soo Hyeon kebenarannya. Mau sampai kapan Hwi Young akan membiarkan Soo Hyeon menganggapnya pria mata keranjang.

Hwi Young bersikeras tidak mau. Karena jika dia memberitahu Soo Hyeon, maka Soo Hyeon pasti akan tahu kalau dia ada hubungan dengan organisasi dan takkan butuh waktu lama bagi Soo Hyeon untuk menyadari kalau dia adalah ketua organisasi. Pokoknya Soo Hyeon tidak boleh tahu. Mereka takkan tahu kapan, di mana dan bagaimana Soo Hyeon akan tertangkap dan disiksa.

"Soo Hyeon lebih kuat dari dugaanmu. Dia tidak akan mengumbar rahasia kita dengan mudahnya."

"Berbohong dengan pengetahuan itu berbeda dengan tidak bisa menjawab karena tidak tahu. Dia tidak perlu tahu. Jangan pernah memberitahunya."


Soo Hyeon menghampiri mereka tak lama kemudian dan dengan antusias mengajak mereka jalan-jalan besok. Hwi Young menolak dan menyuruh mereka pergi berdua saja dengan alasan kalau dia sudah ada janji kencan dengan wanita lain.

Soo Hyeon langsung mengejarnya sambil mengomeli sifat playboy-nya. Hwi Young bertanya kesal. "Siapa kau berani bilang begitu? Siapa kau berani menyuruh-nyuruh aku? Apa kau istriku?"

Hwi Young langsung mendekati Soo Hyeon sambil terus mengkonfrontasinya. Jangan-jangan... Soo Hyeon cemburu atau punya maksud tersembunyi lainnya. Apa Soo Hyeon suka dengan 'pelajaran' tadi, apa dia mau lagi, atau dia mau balas dendam.

Saat dia sudah sangat dekat, dia bisa mencium bau parfum dari tubuh Soo Hyeon. "Sudah kubilang berhentilah pura-pura jadi perempuan."


Sakit hati, Soo Hyeon langsung keluar dan menangis di tangga. Yul tiba-tiba menghampirinya dan saat Soo Hyeon menengadah, dia sontak kaget mendapati Yul di depan matanya dengan memakai cadar.

Melakukan perintah Hwi Young, Yul memberikan korek api Carpe Diem pada Soo Hyeon dan mengatakan setiap kalimat yang pernah Hwi Young ucapkan pada Soo Hyeon dulu. Soo Hyeon shock mendengarnya, jadi Yul pria bercadar itu. Senyum Soo Hyeon langsung merekah seketika.

"Lihatlah. Kau cantik kalau tersenyum." Ujar Yul.

Dia lalu mengajak Soo Hyeon bangkit dan pergi ke pasar malam bersama. Mereka bersepeda dengan gembira tanpa menyadari kalau mereka melewati Yul yang memperhatikan mereka dengan sedih.

Flashback end.


Se Joo dengan lancarnya mengetik semua ingatan masa lalunya ini. Keesokan harinya, naskah episode terbaru sudah selesai tercetak sementara Se Joo ketiduran di atas meja. Saat Jin Oh membacanya, dia bertanya-tanya apakah isi naskah ini khayalannya Se Joo atau ingatannya.

"Entahlah. Aku hanya menulis apa yang muncul dalam ingatanku."

"Kalau begitu, berarti ingatanmu lebih banyak daripada aku."

Se Joo ingat kalau Jin Oh pernah bilang bahwa Soo Hyeon adalah kekasih dan kamerad mereka. Jadi, siapa sebenarnya dicintai Soo Hyeon diantara Hwi Young dan Yul. Jin Oh juga tak tahu karena hanya Soo Hyeon yang bisa menjawabnya.

Apalagi Soo Hyeon hidup di masa di mana dia harus menyembunyikan perasaannya demi sesuatu yang lebih besar. Tapi Jin Oh memperhatikan, orang-orang di zaman sekarang ini, memilih menyembunyikan perasaan mereka karena gengsi.

"Sepertinya, di manapun kau hidup, cinta adalah persoalan yang rumit." Komentar Jin Oh.

Tapi kenapa Se Joo menanyakan masalah itu. Karena selama dia menulis, dia merasa kasihan pada Hwi Young. Se Joo menyadari kalau tidak pernah mencintai seseorang seperti Hwi Young. Karena itulah, alih-alih menutupi perasaannya, sekarang Se Joo mau melakukan apapun demi cinta.


Dia langsung menelepon Seol dan mengajaknya olahraga sekarang juga... atau kencan. Seol sontak bangkit dari kasurnya dan pergi ke taman untuk menemui Se Joo yang sudah menunggunya dengan membawa dua sepeda.

"Aku selalu ingin mencoba naik sepeda denganmu. Kau bisa bersepeda, kan?"

Bisa, sih. Tapi Seol malas melakukannya. Jadi Se Joo bersepeda sendiri saja. Tapi kemudian Se Joo menantangnya balapan dan kalau Seol menang maka dia akan membelikan novel Stalker cetakan pertama dan cetakan asli novel Unfair Game untuk Seol.


Seol sontak mengambil sepeda dan melaju duluan. Sementara mereka bersepeda bersama dengan riang gembira, Jin Oh sedang sibuk membrowsing tentang bagaimana cara hantu menampakkan diri pada manusia.

Puas bersepeda, mereka beristirahat dengan nafas ngos-ngosan. Seol menggerutu karena ini acara kencan tapi rasanya seperti lomba, mana Se Joo tidak mau mengalah padanya lagi, ini tidak adil.

Mendengar itu, Se Joo mengusulkan mereka lomba lagi dan kali ini akan adil, mari mainkan permainan yang bisa menguntungkan Seol.


Dan permainan yang dimaksudnya adalah menembak. Saat Seol berusaha protes dan mengingatkan Se Joo akan traumanya, Se Joo cuek malah menantang Seol untuk menembak masing-masing 4 peluru.

Se Joo menembak duluan dan langsung tepat mengenai bullseye. Seol langsung kagum, Se Joo ternyata berbakat, dia mirip sniper. Se Joo pun langsung bertanya, "Apa kau ingat aku? Kita sudah pernah bertemu dulu sekali."

Dia menembakkan peluru keduanya dan Seol bertanya bingung, apa yang Se Joo maksud pertemuan mereka 10 tahun yang lalu. Se Joo menembakkan peluru ketiganya dan menyangkal, jauh lebih lama dari itu.

Seol mulai geli, terus kapan mereka pernah bertemu. Apa 100 tahun yang lalu atau 1000 tahun yang lalu. Se Joo menembakkan peluru ke-4 dan berkata, "Sekitar 80 tahun yang lalu."


Tapi peluru terakhirnya gagal mengenai bullseye. Se Joo berbalik menghadapi Soo Hyeon dan memutuskan untuk memberitahukan segalanya, bahwa mereka dulu pernah bersama-sama di Kyungsung. Seol dulu adalah Soo Hyeon dan dia adalah Hwi Young.

"Kita adalah bagian dari sebuah komunitas bernama Aliansi Pemuda Joseon. Kau adalah seorang penembak jitu yang berbakat yang penuh percaya diri. Kau adalah pejuang negara."

Sebelumnya, Se Joo tak ingin Seol mengingat kehidupan masa lampaunya. Tapi sekarang semuanya berbeda. Dia meyakinkan Seol bahwa siapapun yang Seol bunuh di kehidupan sebelumnya, itu adalah apa yang harus dia lakukan demi negara. Karena itulah, tidak seharusnya Seol ketakutan karenanya. Justru itu adalah sesuatu yang harus Seol banggakan.


Dia memanggil Seol dengan sebutan 'Sapsali' dan memberitahu Seol untuk menyelesaikan misinya sekarang. Dia menjelaskan kalau 'Sapsali' adalah code name penyamarannya Soo Hyeon dulu.

Seol pun maju dan mulai membidik sasarannya. Dia tampak begitu percaya diri saat dia mulai menembakkan 4 peluru dan tepat mengenai bullseye. Seol tersenyum puas dan Se Joo tampak begitu bangga melihat itu lalu mengusap-usap kepala Seol.

"Aku jadi merasa seperti Gyun Woo," gerutu Seol.


Saat mereka kembali melanjutkan acara jalan-jalan, Seol berterima kasih pada Se Joo karena tak pernah ada orang yang pernah menghiburnya seperti yang dilakukan Se Joo tadi, mengira semua ucapan Se Joo tadi hanya sekedar untuk menghiburnya agar dia tidak takut pada masa lalunya lagi. Novelnya Se Joo juga selalu bisa menenangkannya, Se Joo sudah memberinya penyembuhan melalui novel-novelnya.

"Kau bisa berpikir semaumu, tapi kau harus ingat kalau pertemuan kita bukan sekedar kebetulan. Aku yakin ada alasan di balik semua itu."

Dia juga memberitahu Seol kalau kalau episode terbaru novelnya akan dipublikasikan besok dan menyuruh Seol untuk membacanya. Cerita itu tentang kisah mereka berdua. Begitu Seol membacanya, dia mungkin akan mengingat kehidupan lampaunya lebih banyak.

"Apapun kenangan yang muncul nanti, kau harus memberitahukan padaku semua yang kau ingat. Jangan menyimpannya dan menderita seorang diri. Mengerti?"

Seol mengiyakannya, dia janji akan memberitahukan semua yang diingatnya. Puas, Se Joo langsung mengacak-acak rambut Seol dan berjanji akan membelikan edisi pertama Stalker dan cetakan asli novel Unfair Game untuk Seol. Dia lalu menggandeng tangan Seol dan mereka pun kembali berjalan-jalan.


Ibu Seol hendak buang sampah saat dia melihat seorang pelanggannya sedang asyik membaca novel. Ia penasaran, novel apa yang sedang dibacanya. Wanita berkata novel itu berjudul Mesin Ketik Chicago. Langkahnya sontak membeku shock dan langsung bergegas membaca novel itu.


Jin Oh terkagum-kagum saat membaca berbagai komentar positif tentang novel itu. Se Joo langsung sok membanggakan dirinya sendiri, hanya dia yang bisa mencapai prestasi semacam ini. Semua novelnya selalu dapat sambutan bagus.

Tapi dia langsung sebal saat Jin Oh berkata bahwa banyak pembaca yang ingin Soo Hyeon berakhir bersama Yul. Tidak usah ditanggapi serius, memang selalu ada orang-orang yang lebih menyukai 'Karakter kedua'.

Jin Oh jelas tersinggung disebut sebagai karakter kedua. Tidak terima, Jin Oh menyatakan kalau dia sendiri yang harus menulis kisah cinta Soo Hyeon dan Yul nanti. Se Joo sinis, memangnya dengan melakukan itu bisa membuat Soo Hyeon menyukai Yul.

"Bagaimana kau bisa tahu. Kita harus tanya Soo Hyeon langsung..." Jin Oh tiba-tiba kepikiran kalau novel ini hanya bisa disempurnakan dari ingatan mereka bertiga.


Selama membaca episode terbaru novel itu, Seol perlahan menyadari bahwa setiap detil kisah novel itu sama persis seperti kenangan masa lalunya. Teringat ucapan Se Joo kemarin, bahwa mereka pernah sama-sama hidup di Kyungsung, Seol mulai teringat wajah Hwi Young yang sama persis seperti wajah Se Joo.



Dia masih shock saat Se Joo tiba-tiba menegurnya dan hampir saja membuatnya jantungan. Dia membawakan apa yang dia janjikan kemarin lalu tanya apakah Seol sudah membaca episode terbaru Mesin Ketik Chicago.

Seol mengangguk. Dan saat Se Joo bertanya apakah ada ingatan yang muncul, Seol tiba-tiba tersipu malu sampai pipinya memerah dan gelagapan bingung musti ngomong apa, soalnya yang dia ingat adalah kenangan ciuman mereka. Se Joo terkekeh melihatnya, dia bisa menebak apa yang sedang Seol ingat.


Malu, Seol berusaha menghindar keluar dengan alasan mau mengecek pengiriman obat. Tapi Se Joo langsung mengikutinya dan mengancam kalau Seol terus menghindarinya, maka dia akan melakukan sesuatu 'Demi menciptakan negara yang lebih baik'.

Dia langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Seol yang kontan membuat Seol semakin malu dibuatnya. Tapi dia tidak mencium Seol dan hanya memperhatikan ekspresi Seol, dia semakin yakin kalau kejadian itulah yang diingat Seol.

Dia lalu menjauh dan mengajak Seol makan malam bersama hari ini. Seol setuju. Mereka asyik membicarakan mau makan apa tanpa menyadari kalau Ibunya Seol sedang memperhatikan mereka dari kejauhan dengan ketakutan.


CEO Gal dan ketiga anak buahnya makan siang bersama di restoran tempat Bang Jin bekerja. Mereka senang karena novelnya Se Joo mendapat respon yang bagus. Tapi mereka heran, kenapa Nyonya Hong melakukan hal semacam itu pada Se Joo.

Seseorang diantara mereka bertanya-tanya apa mungkin rumor itu benar, rumor yang mengatakan kalau Tae Min dan Se Joo itu sebenarnya bersaudara dan Se Joo itu anak haramnya Tuan Baek.

BRAK! CEO Gal membanting sendoknya dengan kesal dan mati-matian membela Se Joo dan menyuruh mereka makan saja. Tapi makan siangnya tersela saat mendapat telepon dari Tuan Baek.


CEO Gal pun langsung kembali ke kantor untuk menemui Tuan Baek yang meminta CEO Gal untuk berhenti mencetak ulang novel Takdir walaupun novel itu sangat terkenal karena sepertinya Tae Min jadi terlalu bergantung pada novel itu dan membuatnya sulit menulis sesuatu yang baru.

CEO Gal tak bisa menjawabnya sekarang, tapi dia berjanji akan membicarakan masalah ini dengan Tae Min nanti. Dia juga memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya dengan hati-hati pada Tuan Baek, "Apa ada sesuatu yang terjadi selama Se Joo tinggal dengan anda?"

Beberapa saat kemudian, Tuan Baek berjalan linglung sembari mengingat ucapan CEO Gal tadi yang memberitahunya tentang ulah istrinya yang mencoba mempengaruhi media dan para investor secara diam-diam. CEO Gal benar-benar penasaran apa sebenarnya alasan Nyonya Hong melakukan itu.


Setibanya di rumah, Tuan Baek langsung melabrak perbuatan licik Nyonya Hong itu. Nyonya Hong santai mengakuinya. Dia malah semakin bertekad mau menghancurkan Se Joo sampai luluh lantak.

"Kumohon. Berhentilah sekarang juga. Tae Min dan akulah yang seharusnya berlutut padanya dan bukannya Se Joo!"

Nyonya Hong tak mengerti apa maksudnya. Tuan Baek dengan kesal memberitahu Nyonya Hong kalau dia dan Tae Min sudah melakukan sesuatu yang buruk pada Se Joo 10 tahun yang lalu. Nyonya Hong tetap tak mengerti, memangnya Tae Min mencuri karyanya Se Joo atau apa... dan saat itulah Nyonya Hong langsung mendelik kaget, menyadari dugaannya barusan lah yang dimaksud Tuan Baek.

Bersambung ke part 2

1 comments:

Makasih unnie di lanjut lagi sinopsisnya,suka banget sma drama ini....
Semangat....

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon