Powered by Blogger.

 Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 10 - 2


Setelah Tae Min selesai mengajar, ada seorang mahasiswi yang mendekatinya dan meminta tanda tangannya untuk novel Takdir edisi cetakan pertama yang dimilikinya. Tae Min memberikan tanda tangannya dengan senang hati saat wanita tiba-tiba bertanya, "Bagaimana perasaanmu menandatangani buku yang bukan tulisanmu?"


Tae Min sontak membeku mendengarnya. Wanita itu mengaku kalau oppa-nya bilang, bukan Tae Min yang menulis novel Takdir, melainkan Se Joo. Oppa-nya banyak tahu tentang Se Joo. Tae Min sontak menggeram kesal, "Siapa kau sebenarnya?"

"Entahlah. Menurutmu aku siapa?"

 

Se Joo hendak keluar saat dia mendapati Jin Oh sedang berlatih merasuki tubuh para pelayannya tapi gagal yang langsung membuatnya frustasi, kenapa tidak ada buku yang mengajarkan cara merasuki tubuh manusia. Se Joo menyuruhnya untuk menulis saja sendiri lalu pergi, tapi dia tidak menjawab saat Jin Oh bertanya dia mau kemana.

Di tengah perjalanan, Jin Oh mendadak muncul di mobilnya dan mengagetkan Se Joo. Kesal karena Se Joo mau kencan berdua dengan Seol, Jin Oh mengingatkan Se Joo tentang salah satu pasal kontrak mereka, yaitu Se Joo harus berbagi segala hal tentang kencannya pada Jin Oh.

Dia juga tidak terima karena Se Joo banyak memotong cerita yang ditulisnya. Pokoknya Jin Oh bertekad mau mencari cara memperlihatkan dirinya pada manusia secepat mungkin.


Di restoran, Jin Oh duduk di samping Seol saat Seol dan Se Joo serempak menyebutkan nama club Carpe Diem untuk menguji kebenaran ingatan Se Joo akan kehidupan masa lampau mereka. Seol semakin melongo mendengarnya.

Tapi Seol tidak puas mendengar nama club-nya saja soalnya itu sudah ada di dalam novel. Jadi dia menguji Se Joo sekali lagi dengan menanyakan lagu yang dia nyanyikan di panggung dan Se Joo langsung menjawabnya dengan benar.


Seol semakin tercengang dan akhirnya mau mempercayai Se Joo. Sejak kapan Se Joo mulai mengingat kehidupan masa lampaunya. Se Joo mengaku sejak saat dia melihat sebuah mesin ketik di Chicago dan saat Seol mengantarkan mesin ketik itu ke rumahnya. Mesin ketik itu adalah mesin ketik yang dia gunakan di kehidupan sebelumnya.

Dia juga memberitahu Seol bahwa jam saku yang ada pada Seol, sebenarnya adalah miliknya di masa lalu. Seol benar-benar terperangah mendengar semua ini, lalu bagaimana bisa jam saku itu berakhir di keluarganya.

"Sudah kubilang kan, kita sudah ditakdirkan untuk bertemu."

Dae Han kesal setengah mati mendengarkan pembicaraan mereka dari dapur, mengira semua itu cuma omong kosongnya Se Joo untuk merayu Seol. Seol penasaran satu hal lagi, tentang satu orang lain selain mereka berdua, seorang pria tampan bernama Shin Yul.


Jin Oh kontan menatapnya dengan sedih. Se Joo kaget mendengar Seol mengetahui tentang Yul juga. Seol mengaku kalau Yul adalah orang pertama yang dia ingat tentang kehidupan masa lalunya, tapi dia baru mengetahui namanya lewat novelnya Se Joo.

Jin Oh sungguh terharu mendengarnya, "Dia mengingatku duluan."

Seol mengaku ingat saat Yul mengajarinya menembak dan dia sangat manis. Seol bertanya-tanya, apakah Yul juga hidup di suatu tempat seperti mereka sekarang. Tapi momen sendu Jin Oh tiba-tiba diganggu Dae Han yang sedang cemburu berat pada Se Joo lalu memberitahu Seol kalau Bang Jin mau datang kemari.


Jin Oh sontak panik, Se Joo pun bicara padanya dengan pura-pura menelepon. Jin Oh memberitahu Se Joo kalau Bang Jin itu bisa melihatnya. Masalahnya saat ini dia tidak bisa menghilang karena kekuatannya melemah jika terlalu lama jauh dari mesin ketik. Maka Se Joo pun dengan geram memerintahkannya untuk pergi secepatnya.

Jin Oh pun pergi, tapi Dae Han jadi salah paham mengira ucapan Se Joo tadi ditujukan kepadanya. Kesal, Dae Han langsung meminta Seol untuk memperbaiki lampu toilet wanita sebagai alasan agar dia bisa berduaan dengan Se Joo.


Bang Jin sudah ada di depan saat Jin Oh hendak pergi. Dia berusaha memakai kekuatannya untuk menghilang, tapi gagal. Terpaksa dia berbalik dan keceplosan memanggil nama Bang Jin. Jelas saja Bang Jin heran, dari mana Jin Oh tahu namanya.

Jin Oh tergagap berkata kalau dia mengetahuinya dari Seol. Dia berusaha pergi, tapi Bang Jin mencengkeram tangannya erat-erat dan mencoba meminta nomor telepon atau alamat rumahnya. Tapi Jin Oh menghindari semuanya dengan berbagai alasan.

"Kalau begitu namamu. Aku ingin tahu nama lengkapmu. Bisa kau beritahukan namamu, kan?" Tuntut Bang Jin.

Jin Oh meminta Bang Jin melepaskan cengkeramannya dulu baru dia akan menjawab. Bang Jin akhirnya melepaskannya dan Jin Oh pun memberitahu kalau namanya adalah Yoo Jin Oh. Bang Jin langsung memejamkan mata untuk meresapi nama itu, dan Jin Oh langsung memanfaatkan saat itu untuk kabur.


Sementara itu, Se Joo dan Dae Han sedang perang pelotot-pelototan sampai akhirnya Dae Han yang menyerah duluan. Dae Han dengan bangga menyebut Seol sebagai 'Senorita', itu adalah nama panggilan sayangnya pada Seol. Hanya dia yang boleh memanggil Seol begitu.

Dia hendak mengancam Se Joo untuk tidak main-main dengan Seol, tapi Se Joo dengan cepat memotongnya, menyindir nama panggilan alay itu dan berkata kalau dia tidak ada waktu main-main.

Tak mau menyerah begitu saja, Dae Han tanya berapa banyak yang Se Joo ketahui tentang Seol. Dengan bangganya Dae Han mengklaim kalau dia banyak tahu tentang Seol daripada Se Joo karena mereka sudah saling mengenal selama 22 tahun.

"Aku sudah mengenalnya sejak 80 tahun yang lalu," balas Se Joo.


Dae Han jelas tak percaya, memangnya dia vampir apa. Tepat saat itu juga, Seol kembali setelah memperbaiki lampunya. Tapi sepertinya lampu itu dirusak dengan sengaja, bukan Dae Han kan yang melakukannya.

Dae Han kontan tergagap menyangkalnya. Se Joo tiba-tiba memanggil Seol dengan sebutan 'Sapsali' dan mengklaim kalau itu adalah panggilan sayangnya untuk Seol, hanya dia yang boleh memanggilnya begitu.


Dia lalu menyeret Seol pergi dari sana dan mengantarkannya pulang. Saat Se Joo cuma mau pergi dengan hanya pamitan, Seol langsung mengeluh kecewa dengan ketidakpekaan Se Joo. Seol hendak berbalik, tapi Se Joo langsung menarik Seol kedalam pelukannya.

"Kalau kau mengingat sesuatu, katakan padaku. Jangan menderita sendirian," ujar Se Joo.

Begitu dia pergi, Bang Jin yang tadinya bersembunyinya, langsung keluar dan bersorak untuk Seol.


Di dalam rumah, Ibu Seol datang dan Bang Wool langsung ngomel-ngomel kesal karena Ibu Seol berani kembali lagi kemari setelah 20 tahun lamanya dia meninggalkan Seol. Ibu Seol ngotot kalau dia harus bertemu Seol, ada yang harus dia katakan. Tapi Bang Wool tak percaya dan menyuruhnya pergi saja sebelum Seol pulang.

Tapi tepat saat itu juga, Seol dan Bang Jin masuk. Mereka tak langsung melihatnya karena Ibu membelakangi mereka, tapi kemudian Ibu berbalik dan Seol langsung tercengang melihatnya.


Mereka lalu duduk berjauhan di kamar. Ibu meminta maaf pada Seol karena telah menelantarkan Seol. Berusaha menahan amarah, Seol bertanya kenapa Ibu kembali sekarang. Apa Ibu kehabisan uang.

Dia benar-benar kecewa pada Ibu yang telah meninggalkannya demi pria lain. Saat Ayahnya meninggal, dia kira kalau Ibu akan datang ke pemakamannya dan mengajaknya tinggal bersama Ibu. Dia bahkan pernah berencana untuk menolak Ibu sekali saja sebelum kemudian ikut Ibu. Seperti itulah dia menunggu Ibu, tapi ternyata Ibu tak pernah datang.

Ibu langsung menangis dan menyesali segalanya. Tapi tentu saja hati Seol sudah tertutup, lebih baik Ibu pergi saja, dia tidak mau melihat Ibu lagi. Dia hendak pergi saat Ibu tiba-tiba bertanya apakah Seol masih bisa melihat kilasan kehidupan lampaunya.


Bukankah Seol pernah bilang waktu dia masih kecil akan betapa sedihnya dia karena teringat pernah menembak seseorang di kehidupan lampaunya. Apa Seol mengingat hal lainnya. Seol sinis mendengarnya, jadi Ibu kembali hanya untuk menanyakan masalah itu.

"Kenapa, apa Ibu sekarang mau kembali padaku setelah memastikan kalau aku sudah normal?"

"Tidak. Ibu datang untuk memberitahumu tentang alasan yang sebenarnya kenapa aku pergi meninggalkanmu."

"Memangnya alasan apalagi selain karena pria?"

"Ibu juga... bisa mengingat kehidupan masa lalu ibu," aku Ibu.

Ibu memberitahu bahwa dia memiliki ingatan yang sama dengan Seol karena mereka juga bersama-sama di kehidupan mereka sebelumnya. Tapi Ibu memilih pergi karena Ibu takut hubungan mereka yang buruk di masa lalu, akan terulang kembali di masa kini.

Ibu takut kalau Seol akan mengingat sesuatu yang tidak seharusnya dia ingat. Seol jadi penasaran, ingatan apa yang Ibu maksud. Ibu tidak menjawab, tapi kemudian dia menunjuk fotonya Se Joo dan memperingatkan Seol untuk menjauh dari pria itu, mereka tidak seharusnya bertemu.

Ibu tidak bisa mengatakan alasannya karena itu mungkin saja bisa membuka ingatan yang selama ini berusaha keras ia kunci. Ibu hanya memperingatkan Seol bahwa dia tidak boleh mengulang kembali hubungan buruk di masa lalu dan jangan lagi memikirkan kehidupannya yang sebelumnya. Lupakan semuanya dan lanjutkan hidup.


Sesampainya di rumah, Jin Oh menggerutu kecewa karena belum bisa memperlihatkan wujudnya pada Seol padahal dia berharap Seol bakalan jadi orang pertama yang bisa melihatnya, tapi yang bisa melihatnya malah Bang Jin.

Se Joo malas meladeninya, ayo kerja... dan Jin Oh langsung muncul secara ajaib di hadapan mesin ketiknya. Se Joo jadi penasaran melihat kekuatan Jin Oh yang tiba-tiba kembali sekarang, apa kekuatan hantu akan melemah jika mereka lelah.

Jin Oh menjelaskan bahwa dia adalah roh yang terjebak di dalam mesin ketik, jadi jika dia terlalu jauh dari mesin ketik maka kemampuannya jadi melemah.

"Kalau begitu, kau tidak lebih hebat dari manusia." Komentar Se Joo.

Dari awal juga hantu itu tidak lebih hebat dari manusia. Dia tidak bisa menampakkan diri di depan orang yang dia sukai. Dia bahkan tidak bisa menatap matanya dan bicara padanya dan juga tidak bisa tumbuh menua bersamanya. Tapi bagaimanapun, Jin Oh berharap Seol akan mengingatnya.


Mereka hendak mulai mengetik saat bel pintu tiba-tiba berbunyi. Firasat Jin Oh tak enak, karena selalu ada hal tak menyenangkan setiap kali bel pintu itu berbunyi.

Tae Min lah yang datang dalam keadaan mabuk berat dan langsung memeluk Se Joo. Se Joo langsung mendorongnya dengan kesal dan berniata mau memanggilkan supir untuk mengantar Tae Min pulang.

Tapi Tae Min tiba-tiba berlutut di hadapan Se Joo dan memohon pada Se Joo untuk memberikan naskah asali Takdir padanya. Ayahnya menyuruhnya membereskan semuanya dan memulai lagi dari awal.

Tapi dia tidak akan bisa melakukan itu, dia takkan bisa berdiri dengan kemampuannya sendiri. Lebih baik dia mati saja daripada harus menghadapi tatapan orang-orang padanya. Prihatin padanya, Se Joo mengalah dan bersedia memberikan naskah asli Takdir. Tapi tepat saat itu juga, Tae Min tiba-tiba pingsan. Terpasa Se Joo harus menidurkan Tae Min di salah satu kamarnya.

Tapi Jin Oh memperingatkan Se Joo untuk tidak merasa kasihan pada Tae Min dan jangan pula mempercayainya. Di kehidupan mereka yang dulu, Tae Min juga ada di Kyungsung bersama mereka dan adalah pria bermuka dua.

Dia tidak segera memberitahu Se Joo karena tadi dia mengamatinya lebih dulu. Penjahat tidak selalu bereinkarnasi jadi penjahat. Se Joo mengerti, jadi Jin Oh membuat kontrak dengannya sebenarnya demi menjauhkan Seol dari Tae Min. Jin Oh membenarkannya.

Tapi sebenarnya dia ingin melacak dua orang untuk mengetahui bagaimana dia bisa mati. Tae Min salah satunya dan orang kedua adalah Madam Carpe Diem, Sophia (Ibunya Seol).


Ibu Seol terbangun tengah malam. Ibu menangis saat melihat Seol yang sedang tidur, ia sungguh menyesali perbuatannya dulu. Ia meminta maaf pada Seol lalu pergi, tanpa menyadari kalau Seol sebenarnya belum tidur.

Seol langsung keluar mengejar Ibu dan memanggilnya. Langkah Ibu terhenti tapi ia tidak berbalik. Dalam hatinya, Seol mengancam Ibu untuk tidak lagi menemuinya jika Ibu tidak mau berbalik.

Seorang mendengarkan kata hati Seol, Ibu pun berbalik menghadapinya. Seol mengklaim kalau dia tidak mempercayai apa yang Ibu katakan tadi. Dia tidak akan hidup seperti Ibu, dia tidak akan meninggalkan orang yang dia cintai hanya karena kehidupan masa lalunya.

"Aku tidak takut, aku tidak takut sama sekali. Karena aku tidak sendirian, aku akan menghadapu semuanya dengan seseorang. Yang tidak bisa kumaafkan adalah kenyataan bahwa Ibu bahkan tidak pernah berpikir untuk menghadapinya bersamaku. Bahkan sekarangpun, Ibu melarikan diri."

"Takdir dan nasib buruk mungkin akan terulang."

"Tidak, tidak akan. Takdir bisa diubah dan aku tidak sama dengan Ibu. Aku tidak akan hidup seperti Ibu!" Seol pun langsung masuk kembali.


Keesokan harinya, Se Joo mengingat kembali percakapannya dengan Jin Oh semalam tentang sosok Tae Min di masa lalu dan Madam Sophia. Jin Oh tidak ingat apa yang dilakukan kedua orang itu pada mereka, tapi dia mengingat nama dan wajah mereka. Jin Oh yakin kalau kedua orang itu ada hubungannya dengan kematiannya.

Lamunannya terganggu saat Seol meneleponnya dan mengajaknya ketemuan karena dia mau menceritakan masalahnya. Se Joo langsung bangkit dan pergi. Tepat saat itu juga, Tae Min terbangun dan mendengar Se Joo berkata di telepon kalau dia mau pergi sekarang.


Kesempatan, Tae Min langsung masuk ke ruang kerjanya Se Joo dan mengobrak-abrik meja dan rak buku untuk mencari naskah asli Takdir, tanpa menyadari Jin Oh yang sedang memperhatikannya di pojok jendela. Tae Min akhirnya menemukan naskah itu di dalam laci dan langsung tersenyum penuh kemenangan.

"Kau masih saja hidup seperti seekor tikus, Heo Young Min." Nyinyir Jin Oh

Dan tiba-tiba saja Tae Min menoleh ke arahnya dan bertanya, "Kau siapa?"

Jin Oh sontak shock mendengarnya, "Kau bisa melihatku?" Batin Jin Oh.


Seol berada di arena menembak. Dia mulai membidik targetnya saat dia teringat peringatan Ibu untuk tidak lagi menemui Se Joo. Dia mulai menembak saat dia teringat ucapan Se Joo bahwa mereka ditakdirkan bertemu.

Dia menembak lagi saat tiba-tiba saja dia mendapat ingatan masa lalunya, saat Soo Hyeon menerobos masuk dan langsung menodongkan senjatanya ke belakang kepala seorang pria yang sedang mengetik.

Pria itu perlahan berbalik dan ternyata dia Hwi Young. Dia teringat pistol itu meletus dan seketika itu pula Seol langsung melepaskan pistolnya dan terjatuh lemas ke lantai sambil memegangi dadanya.


Se Joo datang tak lama kemudian dan mendapati Seol gemetaran di lantai. Perlahan dia menatap Se Joo, tapi peringatan Ibunya terngiang kembali di benaknya. Seol pun langsung menangis.

Bersambung ke episode 11

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon