Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 11 - 1


Entah bagaimana, Tae Min bisa melihat Jin Oh dan tanya siapa dia. Jin Oh menyayangkan Tae Min tidak mengingatnya, padahal ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Tae Min. Dia lalu menggunakan kekuatannya untuk mengambil naskah asli Takdir dari tangan Tae Min yang jelas saja membuat Tae Min ketakutan.

Dia berusaha kabur, tapi Jin Oh tiba-tiba muncul di depan pintu. Saat Tae Min mencoba kabur dari pintu lain, Jin Oh langsung menerbangkan kertas-kertas dan menempelkannya di pintu untuk memerangkap Tae Min.


Se Joo cemas melihat Seol menangis gemetaran, apa Seol melihat sesuatu lagi. Seol mengangguk. Tapi saat Se Joo tanya apakah Seol melihat wajah orang yang dibunuhnya, Seol berbohong menyangkalnya.

"Kalau begitu kenapa kau menangis? Apa yang kau takutkan?" Tanya Se Joo.

Seol beralasan kalau dia menangis hanya biar Se Joo memeluknya, itu menyenangkan. Se Joo tertawa mendengarnya lalu menarik Seol kedalam pelukannya. Seol kontan menangis makin keras di bahunya.


Tapi saat mereka sarapan tak lama kemudian, Se Joo melongo melihat Seol menghabiskan makanannya dengan begitu lahapnya. Tapi bagaimanapun, dia lega melihat Seol baik-baik saja sekarang.

Seol mencoba menanyakan akhir kisah novelnya Se Joo, tapi Se Joo menolak memberitahu. Seol protes, kisah itu kan juga tentang kehidupan masa lalunya, dia juga ambil bagian dalam kisah itu.

Se Joo akhirnya mengaku kalau dia sendiri sebenarnya tak tahu, tapi dia mendapatkan bantuan pihak ketiga dalam penulisan novel ini lalu tanya lagi apakah Seol mempercayai makhluk supranatural. Khususnya, hantu.

Dia maklum saat Seol masih belum mempercayainya dan berjanji akan memeritahu Seol segalanya jika waktunya tepat. Seol bertanya cemas, apa novelnya harus diselesaikan. Menyadari kecemasan Seol, Se Joo bertanya-tanya apakah Seol tidak mau kisah ini berakhir.


Seol mengaku kalau dia akan sedih jika akhir ceritanya menyedihkan. Tapi dia mengerti kalau Se Joo tetap harus menyelesaikannya karena jika tidak akan dia akan kena sanksi.

"Bukan cuma karena itu. Aku berjanji pada seseorang kalau aku akan menyelesaikan novel ini apapun yang terjadi." Aku Se Joo.

"Siapa?"

"Pihak ketiga itu."

"Wah, aku hampir saja cemburu pada orang yang kau sebut pihak ketiga itu."


Se Joo masih cemas saat mengantarkan seol pulang. Tapi seol meyakinkan kalau dia sungguh baik-baik saja sekarang. Seol bertanya apakah dia bisa bertemu si pihak ketiga itu secara langsung.

Se Joo takin yakin, tidak mudah menemuinya. Kenapa Seol ingin bertemu dengannya. Seol mengklaim kalau dia hanya ingin tahu perkiraan akhir ceritanya. Se Joo heran, kenapa Seol begitu ingin tahu akhirnya.

"Entah apakah aku bisa menunggu sampai saat itu tiba atau tidak." Gumam Seol.

Dia lalu buru-buru masuk dengan alasan hampir telat kerja padahal begitu sampai di dalam, Seol langsung memuntahkan sarapannya. Se Joo keheranan di depan pintu, sungguh tak percaya Seol meninggalkannya begitu saja. Apa Seol sedang jual mahal sekarang.


Di rumah, Jin Oh memperhatikan Tae Min yang pingsan sambil bertanya-tanya keheranan, bagaimana bisa Tae Min melihatnya. Saat Tae Min hendak membuka mata, Jin Oh bergegas menghilang. Tae Min bingung kenapa dia bisa kembali ke kamar, apa kejadian tadi cuma mimpi.

Se Joo kembali saat dia turun. Dia meminta maaf atas kejadian kemarin dan pamit. Tapi Se Joo menahannya lalu membawanya ke ruang kerjanya untuk memberikan naskah asli Takdir padanya sesuai janjinya kemarin.

Se Joo sudah tidak memerlukanya lagi sekarang. Dia juga tidak ada rencana mengungkapkan ini pada publik. Dia menyimpan ini hanya karena ini mengingatkannya pada hal-hal yang gagal dia lindungi dan memacunya untuk bekerja lebih keras.


Tapi sekarang dia ingin berhenti menggunakan kemarahan sebagai motivasi diri. Dia akan menjaga orang-orang dan segala hal yang berharga baginya.

"Aku tidak akan dibutakan oleh masa lalu karena itu adalah tindakan bodoh. Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan dengan benda ini."

Tae Min menerima naskah itu. Tapi sebelum dia pergi, Se Joo menasehatinya untuk membebaskan diri dari masa lalu dan jangan mudah menyerah. Jin Oh cemas melihat Se Joo melepaskan Tae Min begitu saja. Apa tidak masalah memaafkannya semudah itu.

Se Joo meralat. Dia bukan memaafkan Tae Min, tapi hanya memberinya kesempatan kedua. Tapi Jin Oh mengingatkan bahwa ada orang-orang yang tidak berhak diberi kesempatan kedua, dia yakin kalau Tae Min akan mengkhianati Se Joo lagi. Karena Tae Min melakukan hal yang sama di masa lalu.

Se Joo penasaran, apa yang dilakukan Tae Min di kehidupan lampaunya. Jin Oh memang tidak ingat detil kehidupan masa lalu mereka. Tapi ada satu ingatan yang jelas.

Flashback.


Suatu malam, Heo Young Min (Tae Min di masa lalu) minum-minum di Carpe Diem sambil menonton penampilan Soo Hyeon. Seorang pria mabuk nekat naik panggung dan mencoba memaksa Soo Hyeon minum-minum bersamanya.

Soo Hyeon berusaha tetap sopan menolaknya. Tapi saat pria itu terus memaksa, Soo Hyeon mulai kesal dan mengumpati pria itu. Hwi Young dan Yul baru tiba saat itu. Pria itu marah dan langsung melayangkan tangan untuk menampar Soo Hyeon.

Tapi Young Min menghentikannya tepat waktu dan menghajarnya. Saat teman-teman pria itu berusaha menyerang Young Min, Hwi Young dan Yul maju menyerang mereka. Suasana pun jadi kacau.


Dan begitu segalanya usai tak lama kemudian, Young Min minum-minum bersama Hwi Young dan Yul. Mereka saling berterima kasih pada satu sama lain, lalu saling memperkenalkan diri masing-masing. Young Min memperkenalkan dirinya sebagai seorang penulis puisi. Dia mengaku belum bisa hidup dari pekerjaan menulisnya, tapi keluarganya tetap mendukungnya.

Dia mengaku mengenali Hwi Young yang dulu cukup terkenal saat dia masih sekolah. Saat Hwi Young bertanya apakah dia anggota kelompok literatur, Young Min menyangkalnya dan dengan rendah hati berkata kalau dia belum sampai level itu.


Dia berpapasan dengan Soo Hyeon aat dia hendak pergi. Soo Hyeon berterima kasih atas bantuannya lalu menanyakan keadaan Hwi Young dan Yul dengan memanggil mereka 'Oppadeul' soalnya Young Min masih belum pergi, jadi dia tidak berani memanggil mereka sebagai 'Hyungnim'.

Tapi sebutan itu sontak membuat Hwi Young dan Yul ketawa ngakak dan Soo Hyeon langsung mengomeli mereka karena kalah dari para pria mabuk. Young Min menoleh, tampak curiga memperhatikan Soo Hyeon.


Dia lalu berjalan melewati gang gelap dan bertemu dengan rekannya yang ternyata para polisi Jepang. Dia memberitahu mereka kalau ada yang aneh dengan Carpe Diem. Bisnis tempat itu jelas lancar, tapi laporan penjualannya rendah. Lalu kemana perginya semua keuntungan mereka.

Tapi saat rekannya mengusulkan untuk menyelidiki mereka, Young Min melarangnya. Lebih baik tunggu saja. Dia sudah melemparkan umpan untuk menangkap ikan yang lebih besar.

Flashback end.


Se Joo hampir tersedak saat mendengar Tae Min masa lalu ternyata agen rahasaia dari Kerajaan Jepang. Jadi, apakah Young Min yang membunuh Jin Oh. Entahlah, Jin Oh tidak ingat. Tapi yang pasti, Tae Min bukan orang baik dan bisa berbahaya kalau dibiarkan begitu saja.

Tapi Se Joo tidak setuju. Toh itu sudah jadi masa lalu dan dia tidak ingat. Tae Min yah Tae Min. Sekarang ini, Tae Min hanya punya dua pilihan. Membakar naskah asli Takdir atau membeberkan semuanya. Terserah Tae Min mau melakukan apapun yang diinginkannya. Sekarang ini, dia hanya ingin melupakan masa lalu.

"Masa lalu yang tersisa, tidak akan bisa diatasi. Masa lalu yang tidak terselesaikan, akan jadi masalah. Dan kesalahan yang tidak diluruskan, akan terulang. Aku sudah pernah melihat seseorang yang mencuri tulisan orang lain dan orang itu malah menyalahkan orang yang hasil kerjanya dia curi. Aku masih menyimpan dendam padanya." Ujar Jin Oh.


Dalam perjalanan pulang, Tae Min tak sengaja bertubrukan dengan seorang pria hingga tasnya terjatuh. Tae Min buru-buru memasukkan barang-barangnya kembali ke tas lalu bergegas masuk... tanpa menyadari Jin Oh ada di sana dan naskah Takdir itu sekarang ada di tangannya.

Tae Min langsung mencari pemantik api untuk membakar naskah itu, tapi malah mendapati naskah itu tidak ada didalam tasnya. Teringat pria yang menubruknya tadi, Tae Min jadi berpikir kalau pria itu adalah orang suruhan Se Joo yang mencuri naskahnya. Dia sontak marah mengira Se Joo mempermainkannya.

Si mahasiswi yang mengetahui rahasianya, meneleponnya saat itu dan memberitahunya kalau dia tidak bisa menunggu terlalu lama. Kesal, Tae Min langsung menelepon seseorang dan meminta orang untuk mencari tahu siapa si mahasiswi itu sebenarnya.


Bang Jin dan Bang Wool cemas menunggui Seol yang demam sepanjang hari. Bang Wool kesal menggerutui Ibunya Seol karena sudah membuat Seol jadi seperti ini. Bang Jin penasaran apa maksudnya dan langsung mengejar Bang Wool.

Seol lagi-lagi memimpikan saat dia menodongkan pistolnya ke arah Hwi Young dan teringat suara peringatan Madam Sophia bahwa seorang pejuang tidak boleh jatuh cinta pada siapapun. Seol langsung tersentak bangun dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya.

Bang Wool terbangun dini hari dan hampir saja jantungan melihat Seol sudah ada di depannya. Seol bertanya apa maksud Bang Wool waktu dia tanya apakah Seol pernah membawa guci kremasi. Bang Wool mengaku karena dia merasakan ada sebuah jiwa yang menyimpan banyak penyesalan atau kemarahan dan kepedihan yang mendalam ada di dekat Seol.

 
Seol lalu menunjukkan foto Se Joo dan meminta Bang Wool meramalnya. Tapi Bang Wool mengaku kalau dia sudah pernah membaca wajah Se Joo. Waktu itu, dia memberitahu Se Joo bahwa kematian akan sering mengetuk pintunya. Lalu tak lama setelah itu, dia mendengar Se Joo mengalami kecelakaan.

Wajah Se Joo menunjukkan kalau dia ditakdirkan hidup seorang diri dan banyak mengalami kesulitan hidup. Pria seperti itu harus berhati-hati dengan wanita yang akan menjadi jodohnya. Wanita yang tepat akan menjadi penguat energinya yang lemah.
 
Seol jadi semkain cemas mendengarnya, "Mungkinkah aku akan mendatangkan bahaya jika ada berada di sisinya? Katakan, apakah kami terlibat takdir yang buruk. Aku baik atau tidak untuknya?"

Bang Wool heran kenapa Seol bertanya seperti itu, sebelum kemudian menyadari kalau Ibunya Seol pasti mengatakan sesuatu yang aneh pada Seol. Apa yang Seol dengar sampai dia jadi begini. Seol tidak menjawab, malah bersikeras meminta Bang Wool untuk memberikan alamat Ibunya.

 

Keesokan harinya, Seol pergi ke restoran tempat ibunya bekerja. Tapi malah diberitahu kalau ibunya sudah berhenti kemarin. Seol akhirnya terduduk lesu di halte bis. Teringat ucapan semua orang tentang takdir, Seol mengeluarkan sebuah koin.

Dia memutuskan jika yang keluar kepala maka dia akan melanjutkan hubungannya dengan Se Joo, tapi jika yang keluar ekor maka dia akan berhenti. Seol pun melemparnya ke udara lalu menangkapnya dan perlahan membuka tangannya.


Se Joo dan Jin Oh duduk saling berdiam diri dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jin Oh memikirkan Tae Min yang tiba-tiba bisa melihatnya entah bagaimana. Sementara Se Joo cemas memikirkan Seol yang jelas-jelas aneh.

Secara bersamaan, kedua pria itu serempak mengeluh. Mereka jadi penasaran dan saling menanyakan kegalauan masing-masing. Jin Oh berbohong kalau dia hanya bingung dengan kelanjutkan kisah mereka, sementara Se Joo mencemaskan Seol yang tampak memaksakan diri untuk bersikap ceria.


Dia langsung beranjak bangkit dan mengancam Jin Oh untuk tidak mengikutinya atau dia akan panggil dukun pengusir hantu. Tepat saat itu juga, Seol meneleponnya. Se Joo sudah senang, tapi kemudian dia teringat Seol sok jual mahal kemarin dan berniat mau balas dendam.

Tapi saat Seol bilang kalau dia mau bertemu Se Joo, senyum Se Joo langsung mengembang seketika. Seol mengaku kalau hari ini dia meminta petunjuk pada Yang Maha Kuasa yang berupa uang koin dan mendapat jawabannya.

Katanya si dewa koin, dia tidak boleh bekerja dan harus bermain dengan Se Joo hari ini. Dia harus patuh, kalau tidak maka dia akan kena kutukan. Bahkan dalam perjalanan, Seol mengucap berbagai puja-puji untuk Se Joo dan mobil kerennya ini.


Mereka jalan-jalan dengan santainya tanpa mempedulikan orang-orang yang mengenali Se Joo. Tapi lama-lama Se Joo tidak nyaman dengan perhatian orang-orang dan langsung menyeret Seol ke kios penjual topi dan menyuruh Seol membeli dua topi biar tak ada yang mengenali mereka.

Setelah membeli topi, mereka lalu menikmati penampilan sebuah girlgroup dan Se Joo tampak antusias banget sampai Seol malu sendiri dibuatnya.


Mereka lalu masuk ke sebuah galeri seni. Seol tampak sedih saat menatap Se Joo sebelum kemudian merekamnya. Se Joo dengan pedenya berpose untuknya dan Seol langsung kabur.

Saat Se Joo hendak memasukkan uang donasi untuk mendukung penulis baru yang prospektif, dia ingin Seol memotretnya. Tapi Seol menolak dan langsung pergi.

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon