Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 8 - 2


Di cafe, Seol to the point menyinggungpekerjaannya sebagai asistennya Tae Min. Dia akan tetap melakukannya, tapi dia merasa tidak perlu lagi bekerja di ruang kerjanya Tae Min. Tae Min bertanya-tanya, apakah Se Joo yang melarang Seol?

Seol menyangkalnya dan beralasan kalau dia perlu membaca lebih banyak referensi di perpustakaan agar dia bisa mengerjakan pekerjaannya ini dengan baik. Tae Min ngotot agar mereka bekerja bersama saja.

Tapi Seol bersikeras menolaknya dengan sopan. Lebih baik dia mengirimkan naskahnya lewat email. Tae Min terpaksa menurutinya walaupun tampak jelas tidak menyukai hal itu.


Dia tersenyum manis pada Seol. Tapi begitu sendirian di ruang kerjanya, dia menuang alkohol sambil memikirkan sikap Seol tadi dengan kesal. Teringat ucapan Se Joo bahwa Se Joo tidak akan membiarkannya mengambil Seol, Tae Min menghabiskan alkoholnya sebelum kemudian membanting gelasnya dengan amarah membuncah.


Di rumah, Jin Oh mulai memasukkan kertas kedalam mesin ketiknya. Tapi Se Joo sendiri malah sedang galau. Mumpung Se Joo sepertinya belum ingin menulis, Jin Oh meminta Se Joo untuk memberinya pendapat.

Dia sedang berlatih untuk merasuki tubuh orang, dia sudah memilih beberapa kandidat untuk latihan ini dan meminta Se Joo untuk memilihkan satu yang paling disukai Seol. Dia lalu mengeluarkan beberapa foto artis: Seo Kang Joon, Choi Jin Hyuk dan Park Hyung Shik. Pfft!

Se Joo menanggapinya malas, pakai saja ketiga-tiganya. Jin Oh mencoba meminta Se Joo untuk menanyakannya pada Seol. Tapi Se Joo menanggapinya dingin, Jin Oh pikir dia bakalan mau melakukan hal tidak masuk akal ini untuk Jin Oh?
 

Tapi malam harinya, dia malah pergi menemui Seol dan meminta Seol memilih diantara foto ketiga artis itu. Hehe. Saat Seol cuma menatapnya, Se Joo langsung membuang foto-foto itu dengan gaya sok. Yah, dia tahu, pasti dialah yang paling disukai Seol.

Seol geli melihat tingkahnya, apa Se Joo kemari cuma untuk tanya itu. Se Joo kontan bingung musti jawab apa. Seol mengundangnya masuk, tapi Se Joo mencegahnya dan bertanya apakah Seol menyukai Tae Min, sebagai seorang pria.

Jin Oh mendengus kesal, jadi karena itu Se Joo datang kemari, tapi dia penasaran juga dengan jawaban Seol. Seol hendak bilang, "Tanpa memandang dia pria atau wanita..."
Tapi Se Joo langsung memotongnya dengan kesal, kenapa Seol suka sekali mengatakan kalimat itu. Memangnya penulis tidak punya jenis kelamin. Seol balas protes, dia kan cuma menjawab pertanyaan Se Joo. Kenapa Se Joo malah marah.

Se Joo mengerti, jadi itu artinya Seol tak punya perasaan apapun pada Tae Min. Puas, dia pun pamit pergi. Tapi Seol penasaran dengan wanita yang katanya Se Joo mirip dengannya itu. Se Joo dan Jin Oh langsung saling melirik dengan gugup lalu secara berbarengan, kedua pria itu sama-sama mengusulkan untuk jalan-jalan.

 

Mereka pun berjalan dalam diam. Se Joo terus diam sampai akhirnya Seol menyinggung Se Joo yang belum memberinya jawaban. Se Joo akhirnya berkata bahwa wanita itu adalah wanita yang keren, sangat pemberani dan punya tujuan, jago menembak dan juga seorang pejuang.

"Dia bilang padaku untuk menulis sesuatu yang luar biasa."

"Kedengarannya seperti Ryu Soo Hyeon." Komentar Seol.

Langkah Se Joo kontan terhenti mendengarnya, apa Seol tahu siapa Soo Hyeon. Tentu saja Seol tahu, dia kan karakter utama dalam novelnya Se Joo. Se Joo tampak kecewa mendengarnya. Seol mengerti, pasti wanita itulah inspirasinya Se Joo.

Lalu apa yang terjadi pada akhirnya. Sepertinya semua tidak berakhir bahagia. Se Joo mengaku tak ingat bagaimana akhirnya. Seol menduga kalau itu pastilah sebuah kenangan yang menyakitkan yang ingin Se Joo hapus dari ingatannya.


Seol tiba-tiba kesandung tali sepatunya sendiri. Tapi untunglah Se Joo sigap menangkapnya, tapi langsung buru-buru melepaskan pegangan tangannya. Soalnya dia takut kena pukul lagi seperti saat dia mencoba memeriksa kening Seol. Seol geli mendengarnya.

Menatap tali sepatunya yang terurai, Seol bertanya-tanya siapakah yang sedang merindukannya. Kata orang, kalau tali sepatu lepas, berarti ada orang yang sedang merindukannya.

Tapi Seol yakin itu cuma takhayul, mana ada orang yang merindukannya. Dia hendak mengikat tali sepatunya. Tapi Se Joo bergerak cepat membantunya mengikat tali sepatunya seraya memberitahu Seol bahwa ada seseorang yang merindukan Seol.


"Ada seseorang yang menunggu selama 100 tahun untuk bertemu denganmu. Ada seseorang yang tidak bisa meninggalkanmu karena takdir yang mengikat kalian."

Mungkin Seol tak tahu, tapi orang itu selalu memperhatikan Seol dari dekat. Karena itulah, Se Joo menyemangati Seol untuk terus bersikap berani. Jin Oh tersenyum haru pada Se Joo. Terharu, Seol bertanya siapa, apa makhluk gaib. Dia lalu cepat-cepat mengalihkan topik dengan mengajak Se Joo makan mie.

 

Di restoran, Seol bertanya kenapa Se Joo tidak menulis novel lagi. Se Joo mengingatkan Seol kalau Seol pernah bilang tidak mau jadi fan-nya lagi, jadi kenapa juga Seol menunggu kelanjutan novelnya.

"Aku penggemar pertamamu, aku punya hak." Ujar Seol.

Perkataan Seol itu sontak mengingatkan Se Joo akan ucapan Soo Hyeon. Membaca perubahan ekspresi Se Joo, Seol bisa langsung tahu kalau Se Joo pasti sedang memikirkan wanita itu. Seol langsung mengeluh kesal, rasanya seolah ada 3 orang di meja ini. Pfft! Dia tidak tahu kalau ada Jin Oh yang duduk ditengah-tengah mereka.


Mengalihkan topik, Se Joo tanya kenapa Seol berhenti menembak. Seol tanya balik, kenapa Se Joo mau tahu. Jangan-jangan Se Joo mau meninggalkannya setelah tahu rahasianya, sama seperti yang dilakukan semua orang.

"Siapa yang meninggalkanmu seperti itu?"

"Ibuku pergi dan semua impianku meninggalkanku."

Seol tampak sudah mabuk saat dia mengakui bahwa ucapannya yang dulu itu cuma omong kosong, bahwa dia akan memberitahu Se Joo kalau mereka sudah cukup dekat. Se Joo akhirnya tidak memaksanya untuk menjawab.

Tapi malah Seol sendiri yang berkata, "Saat aku memegang sendiri, aku merasa melihat kehidupanku yang sebelumnya."

Se Joo dan Jin Oh kontan tercengang mendengarnya. Seol mengaku kalau dia melihat dirinya sendiri menembak dan membunuh seseorang. Se Joo bertanya siapa. Seol mengaku tak tahu karena dia hanya bisa melihat punggung orang itu.

Tapi dia merasa orang itu sepertinya seseorang yang tidak seharusnya dibunuhnya. Setiap kali dia memikirkan saat itu, dia merasa sangat sedih, dia merasa sangat buruk dan hatinya serasa hancur. Tangannya tak bisa berhenti gemetaran hingga akhirnya dia tak bisa lagi memegang senjata. Ceritanya seram, kan? Seol pun langsung pingsan.


Keesokan harinya, kedua pria itu membahas masalah ini. Jin Oh tak menyangka kalau Seol ternyata punya ingatan akan kehidupan masa lalunya. Tapi sepertinya Seol tak tahu kalau Soo Hyeon adalah dirinya di masa lalu. Tapi Se Joo yakin bahwa Seol pasti akan menyadarinya begitu novel ini diterbitkan nanti.

Jin Oh menduga-duga, "Apa mungkin kalau orang yang dibunuhnya... adalah salah satu dari kita?"

Se Joo jadi ragu melanjutkan novel ini. Tapi Jin Oh tetap bersikeras menyelesaikan novel itu sesuai kontrak mereka, tak peduli apapun akhir novelnya nanti. Se Joo usul agar mereka menerbitkan novel ini atau tidak, hanya setelah mereka menyelesaikannya saja. Jin Oh setuju.

Maka mereka pun mulai bekerja. Se Joo yang mengetik sementara Jin Oh mendikte kisah mereka. Dulu, ada seorang pria bernama Ryu Sang Jin yang membantu Pasukan Pejuang menyembunyikan senjata dan bahan peledak ke Kyungsung. Soo Hyeon adalah putrinya orang itu dan hari itu pula adalah hari kematian Ayah Soo Hyeon.

Flashback,

 

Malam itu, pasukan Jepang menggerebek rumah Ryu Sang Jin sementara Jin Oh dan Hwi Young melihat itu dari kejauhan. Mereka kontan cemas menyadari rahasia mereka sudah bocor, tapi bagaimana bisa mereka mengetahuinya.

Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan, lalu seorang tentara mengumumkan kalau Ryu Sang Jin bunuh diri dan putrinya sekarang melarikan diri.


Soo Hyeon remaja berusaha melarikan diri secepat mungkin memasuki hutan. Sayangnya, 3 orang pasukan Jepang, tiba-tiba menghadangnya. Saat salah seorang pria menangkapnya, Soo Hyeon langsung menggigit tangan pria itu.

Kesal, pria itu langsung menampar Soo Hyeon. Dia sudah mau menendangnya, tapi tiba-tiba seseorang menembaki mereka. Hwi Young lah yang menyelamatkannya dan bergegas membawanya pergi dari sana.


Mereka baru berhenti setelah cukup jauh. Hwi Young menyuruh Soo Hyeon untuk berpisah arah dengannya karena tak aman bagi mereka untuk bergerak bersama-sama. Dia menyuruh Soo Hyeon untuk bersembunyi sampai segalanya sudah tenang.

Dia memberikan korek api Carpe Diem dan menyuruh Soo Hyeon pergi ke sana setelah keadaan aman dan cari seseorang bernama Shin Yul. Saat Soo Hyeon menunduk sedih, Hwi Young meyakinkannya untuk tidak merasa bersalah hanya karena dia selamat seorang diri. Dia harus bersikap berani.

Saat Hwi Young berbalik mau pergi, Soo Hyeon mencegahnya. Dia mengulurkan tangan untuk menarik lepas cadarnya Hwi Young. Tapi Hwi Young dengan cepat menangkap tangannya dan memperingatkan Soo Hyeon kalau dia tidak boleh melepaskan cadarnya dan jangan pula menanyakan namanya.

Dia langsung pergi meninggalkan Soo Hyeon dan bergegas kembali ke bagian belakang Carpe Diem. Dia meletakkan senjatanya kembali ke tempat persembunyiannya lalu mengobati lukanya sendiri.


Keesokan harinya, Soo Hyeon tiba di Carpe Diem. Dan pria bernama Shin Yul itu ternyata Jin Oh di masa lalu. Dia menyuruh Soo Hyeon untuk tetap menyamar jadi pria dan bersembunyi untuk sementara waktu.

Dia turut berduka atas meninggalnya Ayahnya Soo Hyeon dan bersimpati atas penderitaan Soo Hyeon sebelum dia sampai ke tempat ini.


Hwi Young masuk saat itu, tapi pura-pura seolah dia baru pertama kali bertemu Soo Hyeon. Dia bahkan berkomentar kalau Soo Hyeon mirip anak perempuan dan semakin getol menggodanya saat Soo Hyeon ngotot menyangkalnya. Kesal, Soo Hyeon langsung menyerang Hwi Young dan memperingatkan Hwi Young untuk tidak menyebutnya anak perempuan.

Hwi Young pura-pura kesakitan lalu menggoda Soo Hyeon dengan memukuli topinya Soo Hyeon. Mereka kejar-kejaran sambil bercanda tawa... sampai beberapa tahun berlalu dan Soo Hyeon tumbuh dewasa. Hwi Young mengejarnya, berusaha merebut kertas-kertasnya yang dicuri Soo Hyeon.

Flashback end.


Jin Oh mengakhiri ceritanya, seperti itulah saat-saat yang mereka habiskan bersama sampai Soo Hyeon tumbuh dewasa. Se Joo senang mengetahui kalau dia dan Seol sering bertengkar di kehidupan sebelumnya.

Dia mau tahu lanjutannya, saat Soo Hyeon tertembak. Tapi Jin Oh menolak memberitahukannya sekarang. Sesuai kontrak, satu hari hanya satu cerita.

"Kalau aku memberitahukan semuanya sekaligus, kau mungkin bakalan mengusirku karena aku sudah tidak berguna lagi."

 

Reporter Song memberitahu Nyonya Hong kalau Se Joo sepertinya sudah berhenti menulis. Nyonya Hong tentu saja senang lalu meminta Reporter Song untuk mencarikan daftar investor yang berinvestasi ke proyek novelnya Se Joo dan sebarkan gosip kalau Se Joo sudah berhenti menulis.

Dia juga meminta Reporter Song untuk mengabarinya jika ada investor yang menarik investasinya. Pokoknya Nyonya Hong bertekad mau menghancurkan Se Joo sampai dia tidak bisa bangkit lagi. Dia lalu menelepon pengacara untuk menanyakan masalah denda pembatalan kontrak.


Tuan Baek membrowsing novelnya Se Joo, tapi belum ada update. Tuan Baek mendesah, teringat saat dia masuk ke ruang kerja Se Joo dan melihat naskah Takdir di lantai (Tentu saja dia tidak bisa melihat Jin Oh yang menduduki naskah itu).

Seseorang meneleponnya saat itu dan memberitahunya kalau Se Joo tidak bisa memenuhi deadline novelnya karena Se Joo sudah berhenti menulis. Mendengar itu, Tuan Baek langsung pergi mendatangi Se Joo untuk menanyakan kebenaran kabar kalau Se Joo sudah berhenti menulis.

"Andalah orang yang menginginkanku berhenti menulis." Se Joo mengingatkan.

"Sepertinya kau salah paham padaku. Aku tak pernah ingin kau berhenti menulis."

Se Joo sinis mendengarnya. Jangan munafik. Dia bukan lagi bocah remaja yang pernah menganggap Tuan Baek sebagai penyelamatnya.

Flashback,


10 tahun yang lalu saat Se Joo berusaha memberitahu Tuan Baek bahwa bukan Tae Min yang menulis novel Takdir. Dia yakin kalau Tuan Baek pasti akan tahu kalau dia membaca gaya penulisan novel itu.

Tapi Tuan Baek malah menanggapinya dingin, mengklaim kalau ia tak yakin akan hal itu. Ia malah menyuruh Se Joo untuk membuktikan kalau dialah yang menulis Takdir. Ia bahkan meyakini kalau Se Joo pasti iri karena Tae Min memenangkan lomba mendahului Se Joo.

Se Joo benar-benar kecewa dan tak percaya mendengarnya. Dia memutuskan mengalah dan berjanji akan menutupi segalanya demi Tuan Baek yang selama ini sudah seperti sosok ayah dan guru baginya. Tapi saat itu pula, dia memutuskan hubungan dengan keluarga itu dan angkat kaki dari sana.

Flashback end.


Tuan Baek mengaku kalau waktu itu dia ingin mempercayai Tae Min. Ia tahu kalau selama ini Tae Min selalu berada di bawah bayang-bayang Se Joo dan ia selalu bersikap dingin pada putranya sendiri. Waktu itu ia hanya ingin mempercayai Tae Min sebagai seorang ayah.

"Kalau begitu, seharusnya sejak awal anda tidak usah membawa saya ke rumah anda."

Tidak seharusnya Tuan Baek membuatnya mempercayainya dan menghormatinya. Tidak seharusnya Tuan Baek membuatnya berpikir kalau Tuan Baek ayah dan penyelamatnya.

Alasannya tetap menyimpan naskah asli Takdir adalah agar dia bisa selalu ingat kalau dia tidak boleh mempercayai siapapun dan tidak boleh membiarkan orang lain membantunya. Dia harus bisa hidup di atas kakinya sendiri.

Tuan Baek cemas, apa yang akan Se Joo lakukan dengan naskah itu. Se Joo meyakinkannya untuk tidak cemas, dia akan menepati janjinya dan merahasiakan segalanya. Tuan Baek memberitahu Se Joo bahwa ia sungguh-sungguh kalau ia tak ingin Se Joo berhenti menulis.


Se Joo merenung sedih setelah Tuan Baek pergi. Jin Oh menghampirinya, tapi Se Joo mengusirnya, dia ingin sendirian. Jin Oh bersikeras kalau Se Joo tidak boleh sendirian di saat seperti ini.

Se Joo harus bersama seorang teman atau seseorang yang bisa menemaninya dalam situasi sulit. Se Joo mendesah lelah, Jin Oh bukan temannya jadi sebaiknya dia diam saja. Melihat sikap Se Joo belakangan ini, Jin Oh merasa tak ubahnya seperti melihat hantu.

Jin Oh menasehati Se Joo untuk marah saja kalau dia merasa marah, minta maaf kalau dia merasa menyesal, luruskan jika ada kesalahpahaman dan perbaiki jika dia membuat kesalahan. "Begitulah yang namanya hidup."

Se Joo masih hidup, jantungnya masih berdetak jadi dia bisa melakukan apa saja. Bisakah Se Joo membedakan siapa yang manusia dan siapa yang hantu diantara mereka berdua. Se Joo diam memikirkan ucapan Jin Oh itu.


Seol menatap keluar klinik, mengharapkan kedatangan Se Joo. Tapi tak ada siapapun di sana. Dia berjalan pulang dengan lesu, berpikir kalau Se Joo mungkin takkan datang lagi gara-gara pengakuannya malam itu.

Tapi setibanya di depan rumah, dia terkejut melihat Se Joo ada di sana menunggunya. Se Joo menyerahkan obat ke tangan Seol yang sontak membuat Seol menangis penuh haru. Se Joo sampai heran dibuatnya, padahal saat dia memberikan tas baru, Seol bahkan tidak merasa tersentuh.

"Kukira aku tidak akan bertemu denganmu lagi." Isak Seol. Dia kira kalau Se Joo takut padanya atau mengira dia sudah gila. Makanya dia mencoba menenangkan dirinya dengan berkata kalau dia akan baik-baik saja dengan semua ini.


Tapi dia juga berharap Se Joo akan datang menemuinya setidaknya sekali. Mengira kalau Se Joo datang karena merindukan Ryu Soo Hyeon, Seol bertanya apakah wanita itu bersama mereka saat ini.

"Siapa yang sedang kau lihat sekarang? Apa kau melihat wanita itu?"

"Aku melihatmu. Tidak ada orang lain di sini. Hanya ada kita. Hanya ada kau dan aku." jawab Se Joo.

Seol kontan berlinang air mata mendengarnya. Se Joo pun mendekap Seol, sementara Jin Oh hanya bisa melihat dari belakang.

Bersambung ke episode 9

4 comments

Finally.. Di lanjut juga.. Semangat yaa

akhirny dlnjut jg,,,cemungudthhh mba imaaa

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon