Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Chicago Typewriter Episode 9 - 2


Tae Min mengaku kalau hubungannya dengan ayahnya tidak baik. Ayahnya bahkan selalu membanding-bandingkannya dengan Se Joo sejak mereka kecil. Mendengar curhatan Tae Min, Seol yang awalnya menolak ajakan minum Tae Min, akhirnya mau juga pergi menemani Tae Min ke bar.

Dia berterima kasih pada Seol karena mau menemaninya. Dia merasa tenang setiap kali bersama Seol. Seol selalu membuatnya tertawa. Dan saat mereka sedang tidak bersama, dia merindukan Seol.

Seol tak nyaman mendengar pengakuannya itu. Tapi Tae Min memotongnya dengan cepat, dia tahu kalau Seol pasti akan menghindarinya lagi. Dia tidak akan meminta Seol jadi pacarnya, tapi dia ingin Seol menjadi temannya.

Tae Min berkata kalau Ayahnya selalu bersikap dingin padanya dan Ibunya selalu sibuk membela ayahnya. Dia mengira Se Joo adalah temannya, tapi Se Joo ternyata malah menjauhinya. Semua orang menghindarinya.

Saat Seol masih saja diam tak menjawab permintaan pertemanannya, Tae Min mengancam akan terus minum sampai Seol mau menjadi temannya.

 

Se Joo ngomel-ngomel kesal karena Jin Oh malah keasyikan nonton TV alih-alih bekerja. Tapi Jin Oh sedang fokus menonton berita tentang gedung pemerintahan Jepang yang sudah diruntuhkan pada hari kemerdekaan ke-50.

"Lalu sekarang Gwanghwamun (Gerbang Istana Gyeongbok) jadi apa?" Tanya Jin Oh antusias.

"Lilin-lin," jawab Se Joo malas.

Se Joo langsung mematikan TV-nya dengan kesal, sekarang waktunya kerja. Tapi Jin Oh ngotot ingin melihat tempat itu. Dia ingin melihat Gwanghwamun tanpa gedung pemerintahan Jepang. Se Joo tidak mau dan ngotot memaksa Jin Oh untuk kembali bekerja sebelum deadline.

Jin Oh sontak menundukkan kepalanya dengan lemas. Terpaksalah Se Joo akhirnya mengalah, apa Jin Oh begitu ingin ke sana. Jin Oh langsung manggut-manggut antusias.

 

Se Joo lalu membawa Jin Oh masuk kedalam wardrobe-nya dan menawarkan bajunya untuk Jin Oh. Tapi bagaimana caranya Jin Oh ganti baju, apa perlu dibakar bajunya. Jin Oh menyangkalnya, itu cara kuno. Dia menunjukkan cara yang lebih kekinian dengan cara memperhatikan penampilan Se Joo dari atas sampai ke bawah lalu berputar dan seketika dia ganti baju sama persis seperti bajunya Se Joo.

Jin Oh punya permintaan lain, "Bagaimana kalau kita ajak Seol ikut?"


Tae Min terbangun di ruang kerjanya dalam keadaan pusing. Seol meninggalkan pesan yang memberitahunya kalau dia dan supir yang membawa Tae Min pulang, dia juga mengakhiri pesannya dengan menyatakan dirinya sebagai temannya Tae Min.

Senang, Tae Min pun langsung menelepon Seol. Mereka baru saja ngobrol saat ponselnya Seol tiba-tiba direbut Se Joo yang dengan kesalnya memperingatkan Tae Min untuk tidak coba-coba datang kemari. Dia bahkan mengancam Tae Min untuk tidak menelepon Seol lagi.

Begitu menutup teleponnya, Se Joo memberitahu Seol kalau mereka harus pergi ke suatu tempat. Seol berusaha menolak dengan alasan masih kerja. Tapi Se Joo ngotot mau menunggu Seol sampai jam kerjanya selesai.


Se Joo lalu keluar dan menunggu di mobil. Jin Oh usul agar mereka kembali saja nanti. Tapi Se Joo mau tetap di sana, takut kalau-kalau Tae Min datang. Se Joo senyam-senyum memperhatikan Seol yang sedang bekerja, sama sekali tak menyadari Jin Oh yang memperhatikannya dengan sedih.


Melihat sedang ada yang menunggu Seol, Sunbae menyuruh Seol pulang cepat saja. Seol pun pergi dengan senang hati. Mereka naik city tour bus yang membawa mereka keliling kota. Jin Oh begitu terkagum-kagum sampai-sampai dia tak bisa berhenti mengoceh.

Kesal, Se Joo mengambil ponselnya, pura-pura menelepon padahal sedang membentak Jin Oh untuk diam. Saat melihat gedung stasiun, Jin Oh langsung meminta Se Joo untuk memotretnya. Se Joo pun mengeluarkan kameranya. Seol langsung pose, mengira Se Joo sedang memotretnya.

Se Joo menunjukkan hasil fotonya pada Jin Oh. Tapi tentu saja Seol kecewa karena ternyata Se Joo cuma memotret gedung stasiunnya. Karena Jin Oh terkagum-kagum dengan hasil potretannya, Se Joo nyerocos tentang perkembangan teknologi.

Kesal karena mengira Se Joo ngomong padanya, Seol langsung membentak Se Joo. "Kenapa kau tidak kencan dengan gedung Stasiun Seoul saja?!"


Mereka lalu jalan-jalan bersama dan berhenti di kios aksesoris. Jin Oh antusias mencobai kacamata hitam dan Se Joo langsung menyambarnya sebelum ada orang yang melihat kacamata melayang dengan sendirinya.

Jin Oh mengintip saat Seol sedang menulis permohonannya. Melihat itu, Se Joo langsung menempeleng kepala Jin Oh. Dalam kertas permohonanya, Seol berharap agar Se Joo lebih stabil.


Mereka lalu melanjutkan jalan-jalan sambil makan es krim. Se Joo mengulurkan es krimnya secara tak kentara agar Jin Oh juga bisa ikut menikmatinya. Mereka ketawa-ketiwi dengan gembira... sama persis seperti saat-saat penuh kegembiraan mereka di kehidupan masa lampau.

Jin Oh dan Seol mencereweti Se Joo tentang ini dan itu sambil terus menerus memanggilnya 'Penulis', sampai Se Joo kesal sendiri dibuatnya dan protes pada mereka untuk berhenti memanggilnya 'Penulis'.


Seol bingung, terus dia musti manggil Se Joo dengan sebutan apa. Se Joo canggung beralasan kalau dia hanya cemas orang-orang mengenalinya jika Seol terus menerus memanggilnya begitu di tempat ini.

Seol lalu mengajukan usul beberapa nama panggilan untuk Se Joo. Tapi Se Joo menolak semuanya. Seol jadi kesal, terus dia harus memanggilnya apa. Apa dia harus memanggil Se Joo sebagai 'Hyungnim'?

Langsung Se Joo langsung terhenti, teringat saat Soo Hyeon memanggil Hwi Young dengan sebutan 'Hyungnim'. Dia langsung setuju dengan nama panggilan itu. Tapi tiba-tiba dia merasa suasana berubah jadi sangat hening.


Dia langsung celingukan tapi malah tak melihat Jin Oh di sana. Cemas, Se Joo langsung pergi meninggalkan Seol untuk mencari Jin Oh dan akhirnya menemukan Jin Oh sedang memandangi Gwanghwamun.

Dia benar-benar terharu melihat gedung pemerintahan Jepang yang sudah tidak ada lagi di sana. Dulu mereka hanya bisa memberikan masa muda mereka (demi negara), ada begitu banyak anak-anak muda yang menghilang seperti bintang di langit. Tapi pada akhirnya mereka menang.

"Aku juga ingin hidup di tahun 2017. Aku ingin hidup di dunia yang seperti ini." Desah Jin Oh.

Se Joo memberitahu Jin Oh bahwa hidup adalah kesengsaraan tak peduli di zaman apapun kita hidup. Tidak ada yang namanya dunia sempurna. Setiap masa memiliki masalahnya masing-masing dan ada banyak hal yang tidak bisa kita atasi seorang diri. Mereka harus tetap bertahan dan berjuang sampai menang, seperti itulah dunia.


Tapi bagaimanapun, Se Joo berterima kasih pada Jin Oh karena berkat masa muda yang dia dan teman-temannya korbankan, sekarang mereka bisa hidup di masa seperti ini. Karena itulah, Se Joo meminta Jin Oh untuk menyampaikan pesannya pada para anak muda di zamannya Jin Oh bahwa mereka sudah berusaha keras hingga bisa menciptakan dunia yang seperti ini.

Jin Oh balas mengucapkan hal itu pada Se Joo, "Kau juga salah satu anak muda yang ikut berjuang di masa itu."

Seol memanggil Se Joo dari kejauhan saat itu. Sementara dia berjalan mendekati mereka sambil ngomel-ngomel, Jin Oh meminta sesuatu lagi pada Se Joo.


Beberapa saat kemudian, Se Joo menyuruh Seol berpose di depan Gwanghwamun tanpa menyadari kalau Jin Oh berdiri di sampingnya dan merangkul bahunya. Inilah permintaan Jin Oh, dia ingin Se Joo memotretnya bersama Seol walaupun dia menyadari kalau dia takkan kelihatan didalam foto.

Se Joo menyuruh mereka tersenyum lebar sebelum akhirnya memotret mereka. Tapi tentu saja dalam hasil fotonya, yang terlihat cuma Seol. Saat ada bule lewat, dia langsung minta bantuannya untuk memotret mereka. Ketiganya pun berpose bersama, walaupun dalam hasil akhirnya cuma Se Joo dan Seol yang terlihat.


Malam harinya, Jin Oh melihat-lihat foto mereka dengan sedih. Se Joo tanya apakah Jin Oh sedih karena dia tidak terlihat di foto bersama Seol. Jin Oh mengakui kalau dia bilang tidak sedih maka itu artinya dia berbohong. Tapi dia sungguh baik-baik saja.

"Walaupun aku tidak kehilangan, tapi kenangannya akan tetap ada."

Jin Oh senang melihat Seol masih periang, sehat, pemberani dan bahagia. Se Joo yakin kalau itu karena Seol berusaha keras untuk tampak bahagia. Seol tak mungkin bahagia sepenuhnya, dia harus melepaskan impiannya karena dihantui kenangan kehidupan masa lampaunya.

Jin Oh mengerti, jika Seol tidak berhenti menembak maka dia pasti akan jadi penembak jitu wanita. Se Joo jadi penasaran, bagaimana Soo Hyeon bisa belajar menembak.

Flashback.


Malam itu, Yul sedang rapat rahasia bersama rekan-rekan pemuda seperjuangannya dan membahas pengeboman di Shanghai dan kegagalan pembunuhan Perdana Menteri Jepang. Dia juga menginstruksikan salah seorang pria untuk tetap bekerja di kantor arsip sebagai mata-mata.


Soo Hyeon mengendap masuk ke bagian belakang club itu dan melihat seorang pria yang sedang berjaga di luar ruang pertemuan. Soo Hyeon langsung pura-pura heboh melaporkan pertengkaran yang sedang terjadi di dalam club dengan tujuan membuat pria itu menunjukkan ruang pertemuan rahasia itu.

Soo Hyeon lalu pura-pura pergi. Mempercayai omongan Soo Hyeon, pria itu hendak mengetuk ruang pertemuan dan saat itulah Soo Hyeon tiba-tiba muncul kembali.


Di dalam, Yul menginstruksikan semua orang untuk tetap di posisi masing-masing sampai ada instruksi selanjutnya. Seorang pria bertanya kapan mereka akan bertemu ketua mereka secara langsung.

Tapi meeting mereka tiba-tiba terpotong saat mereka mendengar suara-suara dari luar. Mereka sontak bersiap dengan senjata masing-masing dan mengarahkannya ke pintu. Yul perlahan membuka pintu sambil menodongkan senjata, tapi malah mendapati Soo Hyeon berdiri di sana.

Soo Hyeon menuntut Yul untuk mengizinkannya bergabung kedalam kelompok mereka. Jika tidak, maka dia akan melaporkan semuanya ke kantor polisi sekarang juga. Yul buru-buru menyuruh rekan-rekannya untuk menurunkan senjata dan membubarkan semua orang.


Begitu mereka tinggal berduaan, Soo Hyeon dengan santainya menyinggung Yul yang ternyata menggunakan semua uang yang dihasilkannya di Carpe Diem untuk membiayai pasukan pemberontak.

Dia tahu kalau mereka mau memberi pelajaran pada Jepang. Karena itulah dia memohon pada Yul untuk mengajarinya menembak agar dia bisa membalas dendam pada orang yang membunuh ayahnya.

Yul menolak jika tujuan Soo Hyeon hanya untuk balas dendam. Tapi Soo Hyeon bersikeras mau membela negara dengan menjadikan kematian ayahnya sebagai alasan. "Biarkan aku bertempur juga."

Tapi Yul mengaku kalau dia tidak punya hak untuk memberi izin. Dia akan menanyakannya dulu pada ketua organisasi mereka, tapi dia memperingatkan Seol untuk tutup mulut tentang apa yang dia lihat hari ini.

"Minta saja persetujuan darinya. Aku sudah siap mengorbankan nyawaku."


Yul pun langsung pergi menemui ketua organisasi mereka untuk menanyakan permintaan Soo Hyeon ini pada ketua mereka... yang ternyata Hwi Young. Dia setuju, jika Soo Hyeon punya keinginan dan bakat maka tidak ada salahnya mereka melatihnya jadi penembak.

Seorang penembak wanita akan sangat berguna untuk penyamaran. Yul tetap ragu mengingat Soo Hyeon tetaplah seorang perempuan yang lemah terlepas dari sifat tomboi-nya. Tapi Hwi Young yakin kalau Soo Hyeon akan melakukan yang terbaik.

"Siapa tahu, mungkin dia akan menjadi seorang penembak jitu yang mematikan."

Flashback end.


Se Joo tercengang mengetahui sosok dirinya di masa lalu yang ternyata membuat Soo Hyeon belajar menembak dan dia pula yang membuat Seol mengalami trauma pada pistol. Teringat saat Soo Hyeon menasehati Hwi Young untuk menulis sesuatu yang luar biasa, Se Joo bertanya-tanya...

"Apa mungkin Seol membunuh seseorang yang tidak seharusnya dia bunuh itu... atas perintah Hwi Young?"

"Aku juga tidak tahu tentang itu," aku Jin Oh. Se Joo menduga kalau lengan Soo Hyeon tertembak itu juga pasti karena dia.

Flashback.

 

Hwi Young memberikan informasi pada seorang pria tentang kedatangan seseorang bernama Yoo Jung Gil. Dia lalu pergi bergegas mau menyerahkan naskah novel murahannya ke percetakan.

Dan ternyata, di dalam novel itu ada pesan-pesan tersembunyi yang langsung bisa dipahami para kamerad-nya dan nama Soo Hyeon ikut disebutkan dalam misi mereka itu sebagai penembak.

Terdengar suara Yul yang cemas karena ini misi pertamanya Soo Hyeon. Hwi Young berkata bahwa Soo Hyeon harus melaksanakan misi ini agar bisa diterima sebagai kamerad mereka.

 

Hwi Young berjalan melewati rute pelarian mereka malam harinya dan berhenti di tengah jalan untuk mengecek jam sakunya dengan cemas saat tiba-tiba dia mendengar keributan di belakangnya lalu Soo Hyeon berlari ke arahnya dan langsung menyeretnya berlari bersamanya.

Mereka berlari dan berlari, tapi tiba-tiba jam sakunya Hwi Young terjatuh. Soo Hyeon bergegas kembali untuk memungutnya lalu lari lagi. Soo Hyeon lalu mendorongnya bersembunyi di sisi salah satu bangunan dan membekap mulutnya.


Dan saat itulah Soo Hyeon tercengang menyadari kemiripan setengah wajah Hwi Young dengan penyelamatnya di hutan dulu. Perlahan dia melepaskan kacamatanya Hwi Young dan jadi semakin yakin kalau Hwi Young lah pria bercadar penyelamatnya dulu.

Hwi Young pura-pura tak mengerti maksudnya. Tapi mereka tak sempat membicarakannya lebih jauh karena pasukan Jepang terdengar mendekat saat itu. Soo Hyun langsung memberitahu Hwi Young untuk melakukan sesuatu demi menyelamatkan negara mereka lalu melepaskan topinya untuk mengurai rambut panjangnya dan menarik wajah Hwi Young dan menciumnya.


Mereka terdiam seperti itu beberapa saat sebelum kemudian Hwi Young menjatuhkan kacamatanya lalu memeluk Soo Hyeon erat dan menciumnya dengan mesra.

Bersambung ke episode 10

1 comments:

Man to man dong lanjut.. 😉

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon