Powered by Blogger.

Images Credit: KBS2

Sinopsis  Fight For My Way Episode 13 - 1

Episode 13: Nam Il Tinggal Di Vila Namil.


Ae Ra dan Dong Man berjalan pulang sambil bergandengan tangan setelah membeli tteokbokki. Menanggapi pernyataan cinta Dong Man, Ae Ra berkata kalau dia juga mencintai Dong Man, dia sangat mencintai Dong Man. Dan karena itulah dia tidak setuju dengan keputusan Dong Man untuk melawan Tak Su.

Tapi Tak Su bukan preman biasa. Orang bilang kalau Tak Su itu petarung yang hebat dan Dong Man bakalan kalah dari Tak Su. Dong Man tidak peduli, lebih baik dia kalah daripada menghindari Tak Su. Dia akan menyesal selama 10 tahun jika dia menghindari Tak Su.

"Kau bukan hanya akan kalah, kau akan mati. Semua orang bilang begitu. Mereka bilang kalau kau akan dihabisi dan mereka akan menggotongmu keluar. Petarung baru bukan tandingan Tak Su."

"Jadi, kau setuju dengan mereka?"

Bukankah Ae Ra sendiri yang bilang kalau orang lain tidak mengenalnya. Ae Ra lah yang jauh lebih mengenalnya daripada siapapun karena mereka sudah bersama selama 20 tahun. Lalu apakah Ae Ra setuju dengan pendapat orang-orang itu, apa Ae Ra pikir dia akan kalah melawan Tak Su.

"Apa kau tidak memikirkan orang yang mencemaskanmu? Bagus kau bisa bertarung lagi, tapi tidak harus melawan Tak Su."

"Ae Ra, selama ini aku hidup dengan kepala tertunduk. Jantungku akhirnya berdebar lagi. Tidak bisakah kau percaya padaku?"


Ae Ra langsung mendesah kesal mendengar kekeraskepalaan Dong Man. Saat dia masuk ke kamarnya, Dong Man tiba-tiba menyeretnya kedalam kamarnya sendiri agar mereka bisa makan tteokbokki bersama.

Tapi Ae Ra langsung membanting sumpitnya dengan kesal lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil ngomel-ngomel. Kesal karena Dong Man tetap tak mau mendengarkannya bahkan setelah status hubungan mereka berubah. Kalau begini, buat apa Dong Man memacarinya, menciumnya dan bilang cinta.

Geli melihat kemarahan Ae Ra, Dong Man pindah duduk ke dekat Ae Ra tapi Ae Ra tetap tak mau menatap Dong Man. Ae Ra memperingatkan Dong Man kalau Dong Man bakalan menyesal jika dia memutuskan Dong Man.


Dong Man langsung memaksa Ae Ra balik menatapnya dan tanya apakah Ae Ra sungguh akan memutuskannya lalu memberinya kecupan singkat dua kali. Kesal, Ae Ra langsung mengibaskan tangan Dong Man dari kepalanya dan mengingatkan Dong Man kalau dulu Dong Man adalah anak buahnya di sekolah, dia selalu di atas dan Dong Man di bawah.

Dia langsung bangkit mau pergi, tapi Dong Man langsung menariknya kedalam pelukannya dan mengomentari Ae Ra yang sudah bisa makan tteokbokki dengan baik, sepertinya Ae Ra sudah tidak sakit perut lagi. Dong Man pun langsung mencium mesra bibir Ae Ra dan membuat Ae Ra terperangah dibuatnya.


Dong Man berdiri di depan kamarnya Sul Hee sambil membawa sebuah boneka pink. Dia ragu mengetuk pintu dan berniat mau meletakkannya di depan pintu saja. Tapi tepat saat itu juga, dia melihat Sul Hee baru kembali.

Dengan canggung dia memberikan boneka pink itu pada Sul Hee, tapi dia melihat Sul Hee membawa koran. Sul Hee mengaku kalau dia mau mencari rumah baru dan pekerjaan lain. Aneh rasanya jika mereka bersikap seperti orang asing setelah 6 tahun bersama, tapi tak enak juga jika mereka tinggal berdekatan.


Ae Ra berbaring di lengan Dong Man walaupun masih kesal. Dia berkata kalau dia hanya akan berbaring sebentar lalu pulang. Dong Man malah memintanya untuk menyanyikan sebuah lagunya Kim Wan Sun saja. Tapi ngomong-ngomong, dari mana Ae Ra bisa mengetahui lagu itu.

"Ayahku sering menyanyikannya sebagai pengantar tidurku." Jawab Ae Ra.

Dia menduga kalau Ayahnya mengetahui lagu itu, mungkin dari ibunya. Mendengar Ae Ra membicarakan ibunya, Dong Man berusaha menghiburnya dengan mendekapnya dan menepuk-nepuknya.

Ae Ra berkata kalau dia baik-baik saja. Dia memiliki seorang ayah yang sangat menyanyanginya dan juga Dong Man dan Sul Hee. Mereka lalu membiarkannya jadi pemimpin dan menyisakan yang terbaik untuknya.

Ae Ra mengaku tak tahu bagaimana cara merindukan ibunya karena tak pernah bertemu dengannya, ibunya juga tak pernah ada untuknya.


Keesokan paginya, Ibunya Joo Man datang membawakan makanan tapi malah mendapati isi kulkasnya Joo Man sudah penuh dengan makanan. Ibu tercengang melihatnya, apa Sul Hee yang membuat semua makanan itu untuk Joo Man.

Joo Man langsung mengalihkan topik dan menanyakan alasan kedatangan Ibu sepagi ini. Ibu hanya cemas karena Joo Man tidak mengangkat teleponnya, Sul Hee juga. Dia menelepon Sul Hee soalnya Sul Hee sendiri yang bilang kalau dia mau datang ke pesta saudaranya Joo Man.

Joo Man sontak kesal, untuk apa mengundang Sul Hee. Apa Ibu mau menyuruhnya cuci piring lagi. Ibu sontak menyangkal dan membela diri kalau dia tidak pernah menyuruh-nyuruh Sul Hee.

"Ibu memang tidak mengatakannya, tapi Ibu membuatnya melakukan itu."


Pada saat yang bersamaan, Ibunya Sul Hee juga datang mengunjungi putrinya. Tapi Ibu heran melihat boneka pink-nya Sul Hee yang tangannya tampak terangkat dan diikat. Sul Hee berkata kalau boneka itu sedang dihukum.

Yakin kalau boneka itu dari Joo Man, Ibu menduga kalau mereka pasti sedang bertengkar. Ibu memberitahu Sul Hee bahwa biarpun semua pria itu sama, tapi lebih baik tidak usah membanding-bandingkannya dengan pria lain.

Bersyukur saja karena Joo Man tidak lebih buruk dari yang lain. Yang penting dia setia, Joo Man kan tidak pernah selingkuh. Joo Man sangat menyukai Sul Hee, kan. Sul Hee diam saja.


Joo Man keluar bersama ibunya tak lama kemudian, bersamaan dengan Sul Hee yang juga keluar bersama ibunya. Kedua Ibu sontak saling menyapa dengan canggung. Ibu Joo Man mengusulkan agar mereka segera mengadakan pertemuan keluarga, tapi Ibu Sul Hee berkata kalau mereka tidak perlu terburu-buru.

Ibu Joo Man canggung mengingatkan tentang usia Sul Hee yang sudah semakin menua jadi lebih baik dipercepat. Tapi Ibu Sul Hee langsung membela putrinya dan mengingatkan Ibu Joo Man kalau anak-anak mereka seumuran.


Mengalihkan topik, Iu Joo Man ke pesta keluarga mereka akhir bulan ini. Tapi Joo Man menyela dan berkata kalau Sul Hee tidak akan hadir dan jangan menyuruh-nyuruh Sul Hee. "Kami sudah putus. Maafkan saya, bibi. Semuanya salah saya."


Beberapa saat kemudian, Ibu dan Dong Man duduk dan merenungkan masalah ini. Ibu menduga kalau Joo Man selalu menunda menikahi Sul Hee, pasti karena Joo Man tidak terlalu menyukai Sul Hee, kan. Baguslah kalau mereka putus, ini demi kebaikan mereka.

Tapi Joo Man mengoreksi. Dia belum menikahi Sul Hee karena dia tidak mau membuat Sul Hee menderita dan tinggal di apartemen studio. Ibu kaget, apa Sul Hee bilang kalau dia menginginkan sebuah rumah.

"Mana mungkin? Aku pernah bilang kalau aku tidak akan menikah jika bukan dengan Sul Hee."

"Sul Hee sungguh ingin putus denganmu?"

"Aku tidak akan pernah bertemu wanita sepertinya lagi, tapi dia akan dicintai ke mana pun dia pergi. Ibu tahu itu."

"Kenapa kalian putus?"

"Karena... aku sampah. Itulah alasannya."


Ibu Sul Hee mencemaskan putrinya. Tapi Sul Hee santai meyakinkan Ibu kalau dia tidak akan mati hanya karena putus cinta. Ibu sekarang mengerti kenapa belakangan ini Sul Hee tidak lagi bilang 'Urri Joo Man-ie'. Biasanya Sul Hee selalu tergila-gila pada Dong Man dan mengoceh tentang 'Urri Joo Man-ie' begini dan 'Urri Joo Man-ie' begitu.

"Jangan selalu memikirkan Joo Man. Pikirkan dirimu sendiri. Apa yang kau suka, apa yang kau inginkan. Hiduplah seperti itu. Kau adalah ratu dalam hidupmu."


Berusaha menahan emosinya, Sul Hee buru-buru menyuruh Ibu pergi. Tepat saat itu juga, Nyonya Hwang baru datang dan Sul Hee langsung memperkenalkan mereka. Tapi saat Nyonya Hwang hendak membuka kacamata hitamnya, dia langsung kaget melihat Ibu Sul Hee dan buru-buru memakai kacamata hitamnya kembali.

Ibu Sul Hee pun tercengang melihatnya dan refleks menyapanya seolah mereka kenalan yang sudah lama tak bertemu, sebelum kemudian meralat kalimatnya dan menyapa Nyonya Hwang seolah mereka baru kenal.


Ae Ra celingukan memperhatikan sekitar dan baru keluar dari kamar Dong Man begitu yakin keadaan aman. Dong Man menggerutu tak senang dengan cara Ae Ra yang keluar diam-diam seperti ini, mereka kan tidak melakukan apapun. Kalaupun ada yang melihat, mereka bilang saja kalau mereka itu seperti teman di barak tentara.

"Aku harus bilang apa pada Sul Hee? Seharusnya kau membangunkanku!"

"Kau bilang kau mau berbaring cuma sebentar. Kau bilang tidak bisa tidur kecuali di ranjangmu sendiri."

Ae Ra mengklaim kalau dia memang tidak bisa tidur. Tapi Dong Man tak mempercayainya sedikitpun, tuh ada air liur di bibir Ae Ra. "Memangnya kau anjing? Kau bisa tidur di mana saja."


Nyonya Hwang naik saat itu dan langsung mendesah kesal melihat si kaus jingga (Ae Ra) dan penghuni kamar 102 (Dong Man) sudah bersama-sama sepagi ini. Mereka tidak tidur sekamar, kan? Jangan berduaan sepagi ini.

Dia hendak naik lagi, tapi tiba-tiba saja dia oleng. Nyonya Hwang ternyata habis operasi mata. Dong Man dan Ae Ra akhirnya memapah Nyonya Hwang naik ke kamarnya. Ae Ra ngomel-ngomel karena Nyonya Hwang operasi mata seorang diri, Nam Il pergi ke mana. Nyonya Hwang mengklaim kalau dia tidak butuh orang lain lalu memencet passcode rumahnya.


Yang mengherankan, kamar Nyonya Hwang terkesan kosong. Ae Ra mengira kalau barang-barangnya Nyonya Hwang pasti belum diantarkan, tapi Nyonya Hwang berkata kalau dia tidak butuh banyak barang.

"Nyonya berpakaian bagus, tapi rumah nyonya begitu kosong." Komentar Dong Man.

"Setelah beberapa lama, rumahmu cenderung mengikuti kepribadianmu."

Di dapur, Ae Ra melihat isinya hanya beberapa tumpuk mie instan. Di atas rak, dia melihat beberapa buah foto-foto Nyonya Hwang yang menggendong seorang bayi. Nyonya Hwang kontan tegang melihat Ae Ra sedang memperhatikan foto itu.


Di tempat lain, Ibu Sul Hee menelepon Ibunya Dong Man dan melaporkan tentang Hwang Bok Hee, wanita itu sekarang tinggal di lantai atas apartemen anak-anak mereka. Mendengar itu, Ibu Dong Man langsung mengkonfrontasi Ayah yang saat itu sedang nyemir rambut.

Ibu curiga, apa Ayah sungguh tinggal di apartemennya Dong Man waktu itu.  Ayah tak mengerti apa maksud Ibu dan santai saja meminta Ibu membantu menyemir rambutnya. Ibu jadi semakin curiga melihat Ayah menyemir rambut.

Apa Ayah sungguh menemui Dong Man dan tidak tinggal di tempat lain. "Hwang Bok Hee dari Studio Foto Mawar. Kau menemuinya, bukan?"

Ayah terkejut mendengarnya. "Apa dia menelepon kemari? Apa dia mencariku?"


Ae Ra keheranan melihat foto bayi itu dan bertanya-tanya apakah Nam Il tinggal di Seosan waktu kecil. Penasaran, Dong Man ikut melihat foto itu. Dia setuju dengan Ae Ra, sepertinya wajah bayi itu familier.

"Ini foto nyonya saat masih muda, kan?" Tanya Dong Man.


Nyonya Hwang semakin tegang mendengarnya, teringat saat dia pernah memberikan sebuah permen untuk Dong Man kecil lalu membelai Dong Man layaknya Ibu membelai anaknya sendiri. Gugup, Nyonya Hwang buru-buru menyuruh mereka untuk menyeduhkan mie instan untuknya.

Sementara Dong Man menyiapkan mie instan, Ae Ra melihat ada beberapa poster dan salah satunya adalah poster Pencegahan Kanker Payudara.

"Ahjumma itu, dia terlihat necis di luar. Tapi di dalam dirinya, ada wanita tua yang kesepian." Bisik Dong Man.


Mereka turun tak lama kemudian bersamaan dengan Nam Il yang baru pulang dan keheranan melihat mereka turun dari lantai atas. Ae Ra bisa mengendus bau ayam goreng dari tubuh Nam Il.

Dia sontak mengomeli Nam Il karena dia malah makan ayam padahal Ibunya baru saja operasi mata, seharusnya dia menjaga ibunya dengan baik. Tapi Nam Il membela diri kalau dia punya restoran ayam dan dia bekerja semalaman. Tapi kenapa juga mereka mempedulikan ibunya.

"Kami mencegahnya kematiannya karena kecelakaan dan membuatkannya mie instan."

Nam Il malah tambah nyinyir. "Kalian pasti sangat sibuk. Kalian tukang ikut campur dan penuh perhatian."

"Itu cara berterima kasih yang sangat buruk!"


Ayah Dong Man diam-diam menelepon Ayahnya Ae Ra untuk mengabarkan tentang Hwang Bok Hee. Tangan Ayah Dong Man tampak terkepal saat mengucapkan nama itu. Dan Ayah Ae Ra pun langsung mengepalkan tangan saat mendengar nama itu.

 

Nam Il heran kenapa Nyonya Hwang operasi mata dan tidak pakai kacamata saja. Nyonya Hwang tidak mau, dia ingin kelihatan cantik sampai dia mati. Mendesah melihat ibunya, Nam Il meminta Nyonya Hwang untuk berhenti memikirkan 'anak itu'.

Saat Nyonya Hwang hendak menghindarinya, Nam Il bertanya-tanya. "Nam Il yang sebenarnya... tinggal di Vila Namil, iya kan?"

Tapi Nyonya Hwang tak menjawabnya dan langsung pergi.


Sejak putus dari Sul Hee, Joo Man jadi tidak bisa konsen dalam pekerjaannya sampai Pak Choi marah-marah padanya. Dia bahkan tak sadar saat menumpahkan kopi. "Aku hanya kehilangan Sul Hee. Tapi seluruh duniaku berantakan."


Sul Hee sekarang memutuskan untuk melakukan segala hal yang selama ini tak pernah dilakukannya. Membeli smartphone baru berwarna pink dan melakukan menikur, dia bahkan memilih permata yang paling mahal untuk menghiasi kukunya. Agak jauh darinya, dia melihat si pegawai magang cowok juga ada di sana, sedang memenikur kukunya. Pfft!


Tak Su dan Tae Hee sedang mendiskusikan pelatih yang akan mengajari Tak Su teknik lantai. Tae Hee yakin kalau Tak Su pasti akan menang, lagian yang mengajari Dong Man cuma Jang Ho. Mereka asyik berdiskusi tanpa mempedulikan Mantan Sunbae-nya Dong Man yang sedang berlatih di belakang mereka.

Tak Su lama-lama terganggu olehnya dan langsung mengisyaratkan Tae Hee untuk mengusirnya. Begitu dia pergi, Tak Su dan Tae Hee lagi-lagi membicarakan cara kotor. Mereka berniat mau menyuap perwakilan baru di RFC, tapi Tae Hee mengeluh karena orang itu sepertinya jauh lebih tegas.

Mungkin karena orang itu besar di luar negeri, Tae Hee sampai tidak bisa mengontaknya sama sekali. Tak Su kesal dan menyurub Tae Hee untuk memancing orang itu dengan lebih banyak uang.


Tak tahan lagi mendengarkan semua ini, Pelatih Choi tak segan lagi mencaci Tak Su. "Kau benar-benar sudah menjadi bedebah. Menang atau kalah, lakukan salah satunya. Jangan bersikap seperti bedebah. Jika orang yang kulatih selama 15 tahun kalah sebagai bedebah, aku akan terlihat buruk."

Kesal, Tak Su mengingatkan Pelatih Choi bahwa biarpun Pelatih Choi adalah pelatihnya dan dia adalah murid Pelatih Choi, tapi dia adalah bos dan Pelatih Choi cuma pegawainya.

"Pecat saja aku kalau kau mau." Geram Pelatih Choi, lalu pergi.


Tae Hee meyakinkan Tak Su untuk tidak cemas. Pecat saja dia, mereka bisa mencari pelatih lain. Tapi yang tidak disangkanya, Tak Su malah lebih memilih mengusir Tae Hee ketimbang Pelatih Choi. Tae Hee bisa digantikan siapapun, tapi Pelatih Choi tidak.

"Kau tahu kenapa Jang Ho memenangkan medali perak di olimpiade? Karena Pelatih Choi lah yang memenangkan medali emasnya."


Dong Man dan Jang Ho terkapar kelelahan setelah sesi latihan mereka. Jang Ho berkata dengan nafas ngos-ngosan kalau dia akan mencarikan pelatih lain untuk mengajari Dong Man teknik lantai. 

Tepat saat itu juga, pintu sasana mereka dibuka oleh seseorang yang membawa sebuah koper. Mengira yang datang adalah pelanggan yang mau menurunkan berat badan, Dong Man langsung nyerocos tentang promosi diskon.

Tapi begitu melihat siapa yang datang, Jang Ho kontan tercengang. Bibirnya bergetar shock saat mengucap nama orang itu, "John Karellas."

 

Pria bule itu membuka hoodie jaketnya dan memperlihatkan wajahnya dan Jang Ho bisa melihat tato di pergelangan tangan pria itu, tato yang sama dengan tato petarung dari Brasil yang mengalahkan Dong Man dulu.

Dia adalah keponakan keluarga Karellas yang pernah Jang Ho sebutkan dulu. Sang legenda UFC, John Karellas. John lalu menyerahkan sebuah surat dari Karl (si petarung yang disewa Tak Su untuk mengalahkan Dong Man dulu).


Dalam suratnya, Karl memberitahu mereka alasannya melakukan pertarungan memalukan itu adalah karena dia butuh uang untuk operasi istrinya, mereka kehilangan uang mereka karena ayahnya berjudi.

Karl sungguh merasa malu dan sedih atas perbuatannya itu. Dan karea itulah, dia menyatakan bersedia mengorbankan tubuhnya demi mereka dengan cara mengirim keponakannya ini pada mereka untuk melatih Dong Man.

John menjelaskan pada mereka kalau dia datang dengan memakai visa kerja selama 2 bulan. Dong Man senang, sepertinya dia bisa menang. Jang Ho dan Dong Man pun serempak mengucap thank you pada John.

Bersambung ke part 2

5 comments

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon