Powered by Blogger.

Images Credit: KBS2

Sinopsis Fight For My Way Episode 15 - 2

Flashback.


Tengah malam, Ae Ra pulang ke rumah dan mendapati PD Jang ada didepan rumahnya. PD Jang berjalan menghampiri Ae Ra, ia menunjukkan box yang penuh bercak merah layaknya darah. Dia melihat tulisan di daring Ae Ra, katanya dia ingin makan stroberi.

Memang benar, tapi Ae Ra tak meminta PD Jang membelikannya. Dia sudah menyatakan perasaannya kepadanya satu hari setelah putus dengan pacarnya. Dia membuatnya dikucilkan anak-anak.

PD Jang memang sengaja melakukan itu, dia pikir kalau tidak ada yang menyukai Ae Ra maka Ae Ra akan bersedia pacaran dengannya. Ae Ra kesal mendengar alasan tak logisnya, jangan datang lagi kesana.

 

Ae Ra mau masuk ke rumah tapi PD Jang menahan tangannya. Tiba-tiba seseorang datang memukul wajah PD Jang, siapa lagi kalau bukan Dong Man. Dia sedang cuti wamil, kalau sampai dia melakukannya lagi, maka dia akan membawa senapan M2 menemuinya.

Flashback End.


Mengingat masa lalu itu, Dong Man bertanya, apa yang sebenarnya PD Jang inginkan? Dia ingin membalaskan dendam atau memang dia masih punya perasaan pada Ae Ra? Ia yakin kalau PD Jang sudah mengarang cerita supaya dia terlihat bodoh.

PD Jang menyuruh Dong Man untuk melihat siarannya sendiri. Tanpa cerita, memangnya dikira akan ada yang tertarik pada petarung tak dikenal. Ceritanya sudah ia sunting saling berhubungan, dan ia merekam tandukan yang disengaja. Dong Man terkejut, apa?


Dalam siarannya, PD Jang menyelipkan beberapa komentar dari ahli pegulat dan mereka mengklaim kalau apa yang dilakukan Tak Su adalah tindakan disengaja. Tae Hee khawatir kalau sampai mereka memutar tandukannya dalam gerakan lambat kemudian menyelipkan juga cuplikan wawancara. Orang-orang mereka tidak akan bisa membendung media lagi.

Tae Hee meminta Tak Su tak perlu tertekan, meskipun cuma gegar otak ringan, dia perlu santai dan tetap tenang. Tak Su menegaskan kalau dia tak mau bertanding dengan monster itu lagi. Suruhlah media untuk berhenti membicarakan ini dan jangan ijinkan adanya siaran ulang.


Ibu Dong Man menampol pundak ayah dengan keras. Dia menangis mengetahui anaknya terluka begitu, kenapa dia mengijinkan anaknya bertanding dan terluka begitu. Ayah kesal, itu kan namanya pertandingan olahraga. Ibu terus menangis, dia tak tega melihat putranya berdarah begitu.

Dong Hee memanggil Ayah, dia berkata kalau dia ingin bertemu dengan Oppa. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.


PD Jang mentraktir Dong Man makan. Dia menunjukkan foto-foto istri serta putrinya. Istrinya dulu adalah seorang idol, dia punya julukan ‘peri’. Dong Man tersenyum, dia sudah salah paham pada PD Jang. Kenapa dia harus menemui Ae Ra dan mengejarnya?

“Putriku sangat menggemaskan, bukan? Belum lama ini, dia diganggu di sekolah. Seorang anak bernama Choi Ji Ho memulainya. Ternyata dia berpikir bahwa jika tidak ada yang menyukai putriku, putriku hanya akan bermain dengannya.” Tutur PD Jang.

PD Jang berfikir kalau apa yang terjadi pada putrinya seperti karma. Makanya dia mencari mereka untuk menyingkirkan karmanya. Dong Man geli mendengar alasan itu, apa dia belakang rajin ke gereja?


Ae Ra membawa panci berisi mie. Nyonya Hwang mengomentari tingkahnya yang pergi ke rumah pria untuk makan. Dia tidak terlihat seperti calon ibu rumah tangga. Ae Ra bergumam sebal, usil sekali. Apa dia mau makan mie instan?

“Kau usil sekali.” balas Nyonya Hwang.

Ae Ra membawa pancinya naik. Dia mengajak Nyonya Hwang untuk makan bersama soalnya mereka sama-sama tak punya teman makan.


Ibu Joo Man datang ke rumah Dong Man untuk mengisi kulkasnya. Dia melihat obat yang disiapkan oleh Sul Hee. Selama 20 tahun, dia tak bisa menyembukan penyakit rinitis Joo Man tapi Sul Hee-lah yang sudah merawatnya. Ibu menghela nafas panjang.

Sul Hee pulang cepat untuk menyiapkan paket yang akan ia kirim. Ia berpapasan dengan Ibu Joo Man dan menyapanya. Ibu bertanya dengan hati-hati, sebenarnya apa alasannya putus dengan Joo Man? Apa karena dirinya? Atau karena saudarinya?

Bukan begitu, jawab Sul Hee tak enak. Ibu memintanya untuk jujur, apa mungkin Joo Man berselingkuh darinya? Sul Hee bingung untuk memberikan jawaban. Ibu sudah bisa menyimpulkan sendiri, “Si brengs*k itu..”


Sul Hee coba menjelaskan kalau yang terjadi bukan benar-benar perselingkuhan. Ibu memberitahukan jika Ayah Joo Man sebenarnya masih hidup. Dia meninggalkannya karena punya dua kekasih. Dia dua kali jatuh sakit karena hal itu, dia tak mau Sul Hee mengalami hal yang sama.

Seorang Ibu memang kadang licik. Kalau tahu anaknya berharga, dia harusnya tahu kalau anak lain pun berharga bagi keluarganya. Ibu merasa kalau ia hanya cemburu karena Joo Man selalu memperhatikan Sul Hee.

Tapi, kalau mereka bersama lagi, Ibu janji tidak akan datang kerumahnya lagi. Dia tak akan menyuruhnya datang ke pertemuan keluarga dan tidak akan membiarkannya berkomunikasi dengan saudari Joo Man lagi.

Sul Hee tertunduk menahan air mata, ia meminta maaf karena hubungannya dengan Joo Man berakhir. Ibu Joo Man mengerti, ia berharap supaya Sul Hee baik-baik saja meskipun mereka tak bertemu lagi. Ia pun masuk ke bus untuk pulang.


PD Jang dan Joo Man hendak berpisah. Joo Man berjanji kapan-kapan mampir ke tempatnya untuk bertemu dengan perinya. PD Jang tersenyum, ngomong-ngomong, apakah dia mengenal Hwang Bok Hee?

“Hwang Bok Hee?”

“Ya, Hwang Bok Hee yang itu.”


Melihat sup yang dibuat oleh Ae Ra, Nyonya Hwang langsung meremehkan masakannya. Ae Ra berkata kalau itu adalah rebusan makarel. Orangtuanya punya restoran rebusan ikan. Nyonya Hwang heran, lalu mana ada orang yang merebus ikan makarel?

Ceritanya, Ayah Ae Ra dulu adalah seorang nelayan tapi dia tak bisa menangkap ikan mahal. Tangkapannya paling ikan makarel, karena keluarganya adalah keluarga besar, saat itu Ayah hanya menangkap satu ikan. Ibu kesal kemudian merebus ikannya untuk dimakan sekeluarga.

Ae Ra masih terus ngoceh membicarakan usaha keluarganya yang tidak sukses. Nyonya Hwang mencicipi sup Ae Ra, ia memejamkan matanya sendiri. Tapi ia menahannya, dia menyuruh Ae Ra tidak ngoceh saat makan. Pencernaannya sedang buruk jadi lebih baik dia keluar dan bawa pancinya.

“Astaga. Kalau begitu, Bibi makan saja sendiri. Aku kembali nanti untuk mengambil pancinya.” Dengus Ae Ra kemudian pergi.


Setelah Ae Ra keluar dari rumahnya, Nyonya Hwang tak bisa menahan tangis pilunya lagi.

Flashback.

 

Nyonya Hwang menemui Pak Sutradara tengah berada diruang editing menonton video anak-anak yang sedang bermain. Nyonya Hwang membanting koran yang memuat berita tentang dirinya. Dalam koran itu tertulis judul ‘Aktris Film Dewasa, Hwang Bok Hee Ternyata Seorang Ibu Tunggal’.

Dengan beberapa kalimat saja Pak Sutradara sudah menghancurkan karir aktingnya. Dia sudah membuatnya mustahil menjadi seorang ibu.  Pak Sutradara masa bodoh dengan kemarahannya.

Nyonya Hwang sampai berlutut dihadapannya, dia memohon agar Pak Sutradara tidak menayangkan acara itu. Apa salah anaknya, Ae Ra, tolong jangan ganggu dia. Dia tak boleh memberitahukan pada seorang anak kalau Ibunya adalah aktris film dewasa, itu terlalu kejam.

Flashback end.


Nyonya Hwang membuka foto dirinya bersama anak kecil di pangkuannya. Foto itu rupanya sengaja dilipat, dan saat lipatannya dibuka, tampak Ayah Ae Ra juga ada dalam foto itu.

Flashback.


Setelah pergi meninggalkan rumah, Nyonya Hwang pulang untuk menemui Ae Ra. Dia menemani putrinya yang tengah tidur lelap. Ayah Ae Ra khawatir, kalau sampai Ibu melihatnya, dia pasti marah-marah.

“Oppa.. Aku bahkan tidak bisa merawat anakku dan diusir karena menanggalkan bajuku di sebuah film. Besok aku akan pergi ke Jepang. Apa aku tidak boleh bernyanyi untuk anakku sekali saja?”

Ayah Ae Ra akhirnya membiarkan Nyonya Hwang bersama Ae Ra. Nyonya Hwang tidak bisa menahan air matanya saat ia menyanyikan sebuah lagu. Ia akan berpisah dengan putrinya untuk waktu yang sangat lama.

Flashback end.


Dong Man membaca berita lama tentang Hwang Bok Hee. Ia teringat akan seorang bibi yang memberinya karamel. Bibi itu berpesan pada Dong Man untuk menjaga Ae Ra. Karamel Ahjumma?


Nam Il berpapasan dengan Ae Ra yang baru keluar dari rumahnya. Ia bertanya dengan sinis, kenapa dia sering sekali datang ke rumahnya? Dia cuma datang untuk makan bersama Bibi Hwang, jawab Ae Ra.

Nam Il bertanya alasan Ae Ra sangat perduli pada Ibunya. Kenapa dia berpura-pura baik padanya? Ia cenderung percaya kalau semua orang pada dasarnya adalah jahat. Setiap kali, ia ingin menguji Ae Ra. Apa dia benar-benar baik atau memang polos?

“Kau sangat sensitif. Kau seperti sedang pubertas. Tamparan adalah obat bagi berandal sepertinya.” Kesal Ae Ra.

Flashback.


Ucapan Ae Ra mengingatkannya ia akan pertemuannya dengan Nyonya Hwang. Saat itu, mereka di Jepang dan Nyonya Hwang memukul lengannya karena dia mentato lengannya. Nam Il protes, memangnya ada yang salah? Kenapa dia dipukul?

Kalau tidak nakal, Nyonya Hwang tidak akan memukulnya. Dia tidak akan membiarkan Kim Nam Il menjadi orang yang menyedihkan. Sekarang, Kim Nam Il adalah putra Hwang Bok Hee yang baik. Jika tamparan adalah obat, maka ia akan menamparnya.

Flashback end.


Nam Il sampai ke rumah dan melihat Nyonya Hwang duduk dengan murung. Ia bertanya kenapa ‘Nam Il’? Kenapa Ibu memilihnya padahal anak kandungnya perempuan? Apa pernah Ibu sesedih itu karena dirinya?

Nyonya Hwang sedang lelah, mereka bicara nanti. Nam Il mengingatkan saat bisnis Ibu bangkrut, dia terkena kanker, siapa yang sudah merawatnya? Dia-lah yang sudah merawatnya tapi Ae Ra tidak ada disampingnya. Ia mengajak Ibu untuk kembali ke Jepang saja.


Dong Man membantu Dong Hee yang datang untuk menemuinya. Ia melihat sepasang sepatu yang dikenakan Dong Hee, itu adalah sepatu yang ia belikan untuknya. Dengan hati-hati ia bertanya, bukankah Dong Hee ingin bertemu dengannya? Kenapa tak mau menatapnya?

Dong Hee masih canggung untuk menjawab. Dong Man mengajaknya masuk ke tempat latihannya. Namun tiba-tiba Dong Hee manahan tangannya, dia meminta Dong Man supaya tidak kalah lagi. Kenapa kakaknya membuat dia merasa bersalah selama 10 tahun? Dia kejam.

Dong Man menekankan kalau ini semua bukan karena dia. Dong Hee memberikan buku yang sedari tadi dipeluknya. Dia adalah penggemar kakaknya, ia butuh waktu selama 10 tahun untuk membuatnya. Dong Man membuka buku kliping buatan Dong Hee, ia terharu melihat adiknya selama ini selalu memperhatikannya.

Dong Hee memperingatkan sekali lagi supaya dia jangan sampai kalah lagi. Dia lebih tidak suka melihat kakaknya kalah daripada dia tak sanggup berjalan. Jadi, jangan kalah lagi.


Jang Ho mendaftar semua jadwal yang akan Dong Man lakukan hari ini. Ada pemotretan majalah, syuting iklan, pemotretan postel dll. Dan Asister Direktur di RFC juga menginginkan pertandingan ulang antara Dong Man dan Tak Su. Mereka ingin pertandingan yang adil.

Dong Man ragu, sepertinya dia tidak bisa bertanding lagi. Jang Ho mengira kalau dia tak mau melakukannya karena trauma. Bukan trauma, hanya saja Dong Man merasa jika ia melakukannya lagi maka ia harus merelakan hal yang besar.


Dong Man bertamu ke rumah Nyonya Hwang larut malam. Dia tersenyum menatapnya, Ahjumma..


Dia kemudian naik ke atap dan Ae Ra sudah duduk menantinya. Ae Ra meneteskan air mata mengatakan kalau dia sudah melihat artikelnya. Jadi siang tadi, Dong Man melakukan interview dengan para wartawan. Dia mengaku ketakutan saat tidak bisa mendengar, dia takut tak bisa bertanding lagi.

“Kalau begitu, kau akan bertarung lagi?”

“Ya. Aku meminta pertarungan ulang melawan Kim Tak Su.” Mantap Dong Man.

Ae Ra memutuskan agar hubungan mereka berakhir. Dong Man menggenggam tangannya, haruskah mereka benar-benar putus? Dia tak bisa melepaskannya. Ae Ra mengaku sudah melakukan cara yang egois saat Dong Man kehilangan pendengaran. Dia yang tidak pernah berdoa setiap hari minggu, dia pergi beribadah untuk berdoa saat itu.

“Agar kondisiku membaik?”


Bukan, Ae Ra memohon supaya Dong Man tidak bertarung lagi. Ia ingat dengan neneknya yang selalu berdoa menggunakan rosario saat ayah melaut. Tapi kemudian neneknya mengidap demensia, dia selalu meminta rosario dan terjebak dengan hal itu selamanya. Katanya, “Setiap kali ayahmu melaut, nenek sangat gelisah hingga tidak bisa bernapas."

Ae Ra sungguh tak sanggup kalau harus hidup seperti itu, meskipun hanya sepekan. Dong Man mengerti, tapi dia sendiri pun merasa ketakutan. Takut kena pukul, takut pendengarannya hilang, tapi yang lebih ia takutkan adalah ‘kembali’.

Kalau dia diberitahu semua ini hanyalah mimpi dan ia harus kembali menjadi pembasmi kutu, ia tak akan bertahan satu hari pun. Ia tak ingin seperti dulu. Dia tak mau hidup tanpa ada impian.

Sejujurnya, Ae Ra pun sudah tahu kalau Dong Man tidak akan berhenti. Dong Man masih terus membujuknya. Ae Ra memotong ucapan Dong Man, jadi mereka tak bisa berteman lagi?


Tidak. Dong Man tidak suka bertele-tele, dia tak mau putus dengan Ae Ra dan tidak ingin menjadi temannya. Ae Ra mengerti, kalau begitu sampai jumpa. Dong Man menghalangi Ae Ra. Dia tak bisa menahan tangisnya, apa mereka harus putus? Tidak bisakah Ae Ra terus mendampinginya?

Melihatnya saja Ae Ra sudah sulit, sangat sulit untuknya. Andai saja mereka tidak pernah memulainya. Ae Ra melepaskan tangan Dong Man yang menahannya. Dong Man membeku ditempatnya, dia pun menangis harus memutuskan hubungan mereka begini.

Epilog:


Saat Dong Man mengunjungi Nyonya Hwang, Dong Man memanggilnya 'Ahjumma' yang membuat Nyonya Hwang menyadari kalau Dong Man mengenalinya. Dong Man meminta Nyonya Hwang untuk melindungi Ae Ra sekarang. "Sepertinya... saya tidak bisa melindunginya lagi."

"Dong Man-ah, aku tidak pernah mengatakannya. Tapi aku sangat berterima kasih padamu."

"Tidak perlu berterima kasih. Jika dipikir-pikir, semuanya bukan karena karamel yang ahjumma berikan kepadaku. Sepertinya sejak awal... Ae Ra begitu berarti bagiku."

Bersambung ke episode 16

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon