Powered by Blogger.

Images Credit: Line TV

Sinopsis Gasohug Episode 4


Pun, Ya dan Mong dipaksa tunduk oleh para preman. Si preman yang dilabrak Eve, sekarang merasa diatas angin bersama teman-temannya dan langsung memaksa Pun menunduk makin dalam dengan menggunakan kakinya.

Ya sontak tidak terima. Melihat itu, Ketua Preman langsung memukuli Ya dan menjejalkan kain pel ke mulutnya. Tepat saat itu juga, Eve akhirnya datang dan menghadapi mereka penuh keberanian. Apa yang mereka mau?


"Tenang. Aku hanya ingin tahu siapa yang cari perkara dengan Jon." Kata Ketua Preman.

"Aku orangnya! Kalau kau mau cari masalah, hadapi aku, jangan sakiti mereka. Ini tidak ada hubungannya dengan mereka."

Ketua preman makin nyinyir mendengarnya. "Wanita melindungi pria. Hei! Apa kalian semua pria? Bisa-bisanya kalian membiarkan wanita melindungi kalian... atau, jangan-jangan karena pacarmu ada di sini?"

Eve langsung terdiam gugup yang jelas mengkonfirmasi dugaan si Ketua Preman. Dengan menggunakan pionternya, dia mencoba mencari tahu siapa pacar Eve diantara ketiga pria itu sambil membaca ekspresi Eve.


Begitu melihat Eve tampak benar-benar gugup saat dia mengarahkan pointer ke wajahnya Pun, si Ketua Preman langsung menendang itunya Pun dan terus menghajarnya berulang kali. Eve sontak panik, berusaha menyuruh Ya dan Mong membantu Pun, tidak usah takut, mereka cuma anak-anak geng motor.

Si Ketua Preman jelas tidak terima dengan sebutan Eve tentang mereka dan jadi semakin kejam pada Pun. Melihat tak ada seorangpun yang berani melawan, Eve langsung berteriak menantang si Ketua Preman untuk menghadapinya langsung kalau dia berani.


Begitu Ketua Preman mendekatinya, Eve langsung menyemprot matanya. Kesal, Ketua Preman langsung menampar Eve keras-keras. Seketika itu pula, Pun tiba-tiba bangkit melawan mereka. Ya dan Mong pun akhirnya punya keberanian melawan mereka.


Tapi tiba-tiba saja si Ketua Preman menembakkan peluru peringatan lalu mengarahkan pistolnya ke Pun. Tapi untunglah tim polisi tiba saat itu juga dan para preman pun langsung dibekuk.


Tapi kedatangan polisi malah membuat Nom jadi semakin panik. Seharusnya Eve bilang dulu sebelum menelepon polisi tadi. Eve tiba-tiba cemas, menyadari alasan kepanikan Nom.

Saat polisi meminta trio petugas pom untuk ikut ke kantor polisi dan memberikan kesaksian mereka, Mong tiba-tiba berusaha melarikan diri. Polisi sontak curiga dan membekuk Mong sebelum dia sempat kabur.


Eve mondar-mandir gelisah di depan kantor polisi. Nom akhirnya keluar tak lama kemudian dengan kepala tertunduk lesu. Ia memberitahu Eve bahwa Ya dan Pun tidak bermasalah karena izin kerja mereka masih berlaku, tapi Mong ditangkap karena izin kerja Mong sudah kadaluarsa. Sekarang dia menunggu untuk dideportasi.

Eve cemas mendengarnya, Mong kan punya anak dan istri, lalu bagaimana dengan anak dan istrinya. Tentu saja mereka juga harus kembali Chiang Mai, jawab Nom.

"Lalu, apa ada cara lain untuk membantunya, Jae?"

"Hanya ini yang bisa kami lakukan."


Keesokan harinya, Eve berusaha menelepon sana-sini demi membantu Mong. Tapi tak ada satupun yang bersedia membantu. Mit sampai prihatin melihat kepanikan Eve. Cemas, dia meminta Eve untuk istirahat dulu saja, dia belum tidur sepanjang malam.

"Eve, dengarkan aku. Dalam hidupmu, ada banyak hal yang harus kau lakukan. Jika kau terus memikirkan masalah ini, lalu bagaimana dengan pekerjaanmu? Utamakan masa depanmu, Eve."


Ya datang tak lama kemudian, tapi dia sendirian. Dia memberitahu Eve kalau Pun sekarang mengantarkan Istri dan anaknya Mong pulang kampung ke Chiang Mai. Dan dia datang untuk mengantarkan surat yang dititipkan Pun untuk Eve.

Tapi surat itu ternyata surat perpisahan. Pun berterima kasih pada Eve atas segalanya, tapi sekarang dia memutuskan untuk tinggal di kampung halamannya dan mungkin mereka tidak akan bertemu lagi.

"Maaf karena aku tidak mengucap selamat tinggal. Dan mungkin aku tidak akan bisa menjadi insinyur seperti yang kau bilang. Terima kasih atas semua harapan yang selama ini kau berikan untuuku."


Eve langsung mengambil barang-barangnya, berniat mau mencari Pun. Mit berusaha menahannya, tapi keputusan Eve sudah bulat. Bukankah Mit sendiri yang menyuruhnya untuk mengutamakan masa depannya.

"Apa yang dilakukan Pun sekarang ini adalah menghancurkan masa depannya sendiri. Kau mengerti, kan?"


Mit akhirnya mengalah. Tapi... apa Eve bahkan tahu di mana rumahnya Pun? Err... tidak. Mereka pun sontak berpaling menatap Ya. Tak lama kemudian, Ya jejeritan histeris gara-gara Eve nekat ngebut.


Eve tampak naik ke tempat orang ramai berkumpul. Saat dia mendekat, dia malah melihat Pun terkapar di lantai. Eve sontak menjerit histeris... tapi semua itu ternyata cuma mimpi dan yang menjerit ternyata Ya gara-gara Eve ketiduran saat dia sedang menyetir dan hampir saja menabrak pinggir jalan.

Untunglah Eve sigap mengendalikan laju kendaraannya. Ya ketakutan setengah mati gara-gara itu. Dia berusaha membujuk Eve untuk istirahat dulu. Tapi mimpinya barusan malah membuat Eve makin panik hingga dia menolak istirahat dan langsung meminum minuman energi lalu tancap gas yang sontak membuat Ya jejeritan makin heboh.


Pagi-pagi sekali, Pun membeli bensin untuk sepeda motor bututnya ke seorang paman tetangga. Paman Ton senang melihatnya balik, sekarang Pun bisa membantu membangun desa ini. Saat Paman Ton mengisi bensinnya, Pun tersenyum sedih teringat pekerjaan yang sekarang ditinggalkannya.


Eve dan Ya akhirnya tiba di Chiang Mai. Ya sontak muntah-muntah gara-gara kebut-kebutan semalam suntuk kemarin. Eve mengedarkan pandangannya dan di sanalah dia melihat tasnya Pun tersampir di sebuah sepeda butut.

Eve sontak berlarian mencari keberadaan Pun hingga akhirnya dia menemukan sebuah tempat yang semalam dia lihat di dalam mimpinya. Eve langsung naik dan benar-benar mendapati Pun terbaring pingsan di sana dan seseorang tengah berusaha memompa dadanya.

Eve langsung menjerit panik memanggil-manggil Pun dan memohonnya untuk tidak mati... sampai saat dia menyadari kalau Pun ternyata baik-baik saja. Dia malah sedang keheranan melihat Eve, sedang apa Eve di sini?


Bingung, Eve mengedarkan pandangannya pada anak-anak yang menatapnya dengan tatapan kosong dan ada sebuah buku medis di lantai. Kepala Sekolah datang tak lama kemudian sambil menanyakan latihan mereka, tapi malah mendapati Eve di sana.

Ternyata mereka sedang latihan pertolongan pertama pada kecelakaan. Eve langsung ketawa garing.


Mereka kemudian bicara berdua di kelas kosong. Pun heran, kenapa Eve datang kemari. Tentu saja untuk membawa Pun kembali ke Bangkok. Tapi Pun merasa sudah tidak punya alasan untuk tetap tinggal di Bangkok, toh kuliahnya sudah selesai sekarang.

"Kau sudah gila apa? Kau bahkan belum menerima gelarmu."

"Aku tidak menginginkan gelarku, P'Eve. Aku juga sudah memutuskan untuk hidup di sini dan bekerja di sini. Apa kau tidak membaca surat yang kutulis untukmu?"

"Aku membacanya dan kau bilang kau tidak mau lagi jadi insinyur. Kenapa? Kau sudah belajar sekian lama. Apa kau mau membuangnya semudah itu?"

"Bukan begitu, P'Eve."

"Lalu apa?"


Pun langsung terdiam galau dan akhirnya memutuskan untuk membawa Eve ke lapangan di mana mereka bisa melihat pemandangan pegunungan di kejauhan. Dia menjelaskan bahwa di tiap-tiap gunung memiliki desa-desa dan suku-suku yang berbeda-beda.

Tapi berkat adanya sekolah ini, anak-anak dari semua suku punya kesempatan untuk belajar bersama dan bicara dengan bahasa yang sama. Mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar seperti anak-anak lainnya.


Eve tidak mengerti kenapa sebenarnya Pun memperlihatkan semua itu kepadanya. Pun mengaku bahwa dia bersam Ya dan Mong, tumbuh di sekolah ini. Pun sungguh merasa sangat beruntung.

Jika bukan karena Kepala Sekolah yang membantunya, mungkin dia takkan punya kesempatan untuk melanjutkan studinya sampai ke universitas dan tidak akan bisa memiliki gelar seperti orang Thailand lainnya.

"Tapi, seberapa tinggi pun aku belajar. Pada akhirnya, aku tetaplah orang Lahu."

"Apa hubungannya?"


"P'Eve, aku bukan orang Thailand. Aku tidak punya hak untuk menjadi insinyur seperti yang ada dalam mimpimu."

"Kalau begitu kenapa kau mempelajari ilmu teknik?"

"Aku hanya belajar demi ilmunya untuk membangun desa ini. Itu ilmu yang kurasa bisa sangat berguna."

Eve hendak mengatakan sesuatu lagi. Tapi Pun langsung memotongnya lagi dan menegaskan bahwa dia sebenarnya tidak pernah berpikiran untuk menjadi seorang insinyur dan dia tidak akan kembali ke Bangkok lagi.


Beberapa saat kemudian, Eve merenung sedih setelah membrowsing artikel tentang hukum Thailand yang melarang pekerja asing dalam beberapa bidang pekerjaan, salah satunya adalah pekerjaan yang berhubungan dengan teknik konstruksi.

Ya berkata kalau Pun itu memang bodoh. Tapi sekalinya dia memutuskan sesuatu, dia bisa jadi sangat keras kepala. Pun tidak akan kembali bahkan sekalipun Eve berusaha memohon-mohon sampai dia mati. Karena itulah, sebaiknya mereka kembali saja sekarang. Eve diam saja selama beberapa saat. Tapi sesaat kemudian, dia membuat keputusan.


Pun sedang mengajari anak-anak didiknya tentang jantung. Tapi kemudian, seorang anak tanya apa hubungan Pun dengan si Nona Cantik. Tepat saat itu juga, Eve tiba-tiba kembali dan bertanya untuk yang terakhir kalinya.

"Kau sungguh tidak akan kembali ke Bangkok?"

"Ya. Aku tidak akan kembali. Aku akan tinggal di sini."

"Oke. Kalau begitu, aku juga akan tinggal di sini!"

Bersambung ke episode 5

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon