Powered by Blogger.

Images Credit: Line TV

Sinopsis Gasohug Episode 5


Setelah Eve membuat keputusan untuk tinggal bersama Pun di Chiang Mai, Pun memutuskan membawa Eve ke rumahnya. Eve tentu saja senang dan penasaran ingin melihat rumahnya Pun.

Awalnya jalan mulus. Tapi tak lama kemudian, tiba-tiba mereka melewati jalanan tak beraspal yang jelas saja membuat Eve tak nyaman. Dia langsung refleks merangkul Pun. Mereka lalu memasuki kawasan desa Lahu dan akhirnya tiba di rumah Pun tak lama kemudian.


Tapi yang tidak Eve sangka, rumahnya Pun ternyata sebuah gubuk kayu yang bahkan tak ada sambungan listriknya dan ada peliharaan seekor babi hitam besar di kandang. Eve sontak melongo tak percaya melihat apa yang ada di hadapannya.

Melihat reaksi Eve, Pun langsung berniat membawanya kembali. Eve bisa lihat sendiri, tidak ada pipa air di sini, tidak ada sinyal telepon, tidak ada listrik. Bagaimana bisa Eve tinggal di sini? Eve tidak akan bisa tinggal di sini.

"Kenapa aku tidak bisa? Jika kau bisa, maka aku juga pasti bisa."

"Tapi kau akan sangat kesusahan, P'Eve. Aku sudah terbiasa hidup di sini, tapi tidak pernah hidup di sini. Ayo, pergi."


Dia langsung menggenggam tangan Eve untuk membawanya pergi. Tapi tepat saat itu juga, Ibu dan saudaranya Pun pulang. Pun memperkenalkan Eve sebagai temannya dari Bangkok. Tapi Adiknya Pun tak percaya dan tanya apakah Eve ini pacarnya Pun.

Ibu bahkan langsung mengundangnya untuk menginap di rumah mereka. Yah, walaupun mungkin Eve bakalan kesulitan tinggal di sini. Eve malah senang banget, sama sekali tidak mempermasalahkan kesulitan apapun yang mungkin akan dihadapinya tinggal di rumah itu. Pun protes tak setuju, tapi Ibu malah mengomeli sikapnya. Terpaksalah Pun akhirnya mengalah.


Malam harinya, Eve mau mandi. Tapi yang ada cuma air dingin. Belum juga air itu menyentuh kulitnya, dia sudah menggigil duluan. Ibu dan adiknya Pun cemas dan berusaha menawarkan air hangat untuknya. Eve pasti tidak terbiasa mandi air dingin, dia bisa sakit nanti.

Tapi Eve malah mengklaim kalau dia tidak masalah, dia suka kok mandi air dingin. Tapi begitu dia menyiramkan air dingin itu ke tubuhnya, dia ;angsung jejeritan histeris.

Dia tengah mengeringkan rambutnya sambil menggigil saat Pun datang. Eve langsung tersenyum melihatnya, tapi Pun malah cuek. Saat dia kembali sesaat kemudian, dia tercengang melihat Eve yang langsung bisa bergaul akrab dengan keluarganya.


Saat Eve terbangun keesokan paginya, dia mendapati Pun sekeluarga sudah berkumpul di meja makan. Pun masih tanpa senyum seperti kemarin. Ibu cemas dengan sarapan yang dibuatnya, takutnya Eve tak bisa memakannya. Tapi Eve meyakinkan kalau dia bukan orang yang suka pilih-pilih makanan.

Ibu lalu menasehati Pun untuk makan yang banyak biar dia kuat kerja dengan menggunakan bahasa daerah dan Adik Pun menerjemahkannya untuk Eve. Hari ini, Pun akan kerja membangun jalan. Pun belajar teknik karena dia ingin membangun jalan yang layak untuk desa mereka.

"Tapi setelah studinya selesai, dia bahkan tidak mau menunggu gelarnya." Keluh Ibu. "Dia juga tahu kalau di desa ini, tak ada seorangpun yang pernah menerima gelar."

"Tidak masalah. Yang penting kan studi-ku selesai." Gerutu Pun.

Tapi Ibu tampak sedih mendengarnya. Adik Pun memberitahu Eve bahwa warga desa sebenarnya ingin foto kelulusan bersama Pun. Ibu bahkan sudah menyiapkan baju baru, tapi ternyata Ibu tidak bisa memakainya.


Berusaha mencairkan suasana, Eve mulai memakan sarapannya dan langsung kagum dengan masakan buatan Ibu. Daging babinya sangat lembut. Ibu senang, itu memang babi yang mereka besarkan sendiri.

Eve sontak shock mendengarnya. Dia langsung menoleh ke kandang dan mendapati babi besar yang kemarin di lihatnya sudah tak ada lagi. Ketakutan, Eve langsung berdoa pada arwah si babi dan memohon maaf karena sudah memakannya tadi.


Ya tiba-tiba muncul dari belakangnya sambil menirukan suara ringkikan babi. Eve hampir saja jantungan karenanya. Ya datang mencari Pun, tapi Eve memberitahunya kalau Pun sudah berangkat kerja. Ah, apa Ya punya sepeda motor? Apa dia boleh pinjam? Ya heran, untuk apa? Tapi Eve cuma menjawabnya dengan senyum ambigu.

Pun sedang mendiskusikan pembangunan jalan dengan seorang mandor. Tapi kemudian mereka melihat langit mulai mendung. Pak Mandor pun menyarankan agar mereka istirahat dulu.


Ya menelepon Pun saat itu dan terdengar cemas menanyakan apakah Eve sedang bersama Pun sekarang. Pun bingung, tidak. Apa ada masalah? Ya jadi cemas, "Khun Eve menghilang."

Mendengar itu, Pun sontak mengamuki Ya. Bisa-bisanya Ya membiarkan Eve pergi seorang diri. Ya tahu sendiri kalau jalannya berbahaya. Ya langsung membela diri, tadi dia mau mengantarkan Eve tapi Eve sendiri yang tidak mau dan terus bersikeras mau pergi sendiri.

"Dia mungkin pergi mencarimu. Kurasa dia akan segera kembali."

"Bagaimana kalau dia tidak kembali?! Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Apa yang harus kulakukan?!"

"Tenang dulu, Pun! Bicara pelan-pelan!"
Tiba-tiba saja mereka mengalami gangguan sinyal hingga membuat Pun makin panik, apalagi hujan deras mengguyur saat itu juga. Dia sudah mau pergi. Tapi tiba-tiba saja Pak Mandor memberitahunya kalau truk muatan mereka terjebak di lumpur dan mengajak Pun ke sana untuk membantu. Pun galau, tapi karena Pak Mandor terus menuntut, akhirnya dia mengalah.


Mereka tiba tak lama kemudian... dan di sanalah, Pun akhirnya menemukan Eve yang ternyata sedang berusaha membantu mendorong truk itu. Lega, Pun dan Pak Mandor pun langsung bergegas ikut membantu mendorong truk itu.


Hujan sudah reda saat akhirnya mereka berhasil mengeluarkan truk itu dari lumpur. Setelah semua orang pergi, Pun langsung mengomeli Eve. Tapi Eve menghentikannya sebelum dia sempat ngomel-ngomel karena mau memperlihatkan sesuatu pada Pun: Toga wisuda.

Ternyata Eve tadi pergi menemui Kepala Sekolah untuk minta dicarikan toga wisuda untuk Pun, tapi hanya ini yang bisa mereka temukan. Eve menyuruhnya memakainya sekarang mumpung masih siang. Pun hanya diam memandangnya, tersentuh dengan segala yang Eve lakukan untuknya.


Tak lama kemudian, semua orang desa sudah berkumpul untuk foto wisuda berdama Pun dan Eve yang memotret mereka. Adiknya Pun kagum pada Eve, dia baru dua hari di sini tapi sudah bisa mengendarai motor di jalan pegunungan.

"Aku hampir mati tadi." Canda Eve. Waktu aku turun gunung, jalannya sangat curam dan aku tidak bisa mengendalikan sepedanya. Tapi aku beruntung. Jika tidak, aku pasti sudah mati."

Tapi Pun tak suka dengan candaan Eve dan langsung mengomelinya. Eve jadi tak enak. Tepat saat itu juga, Ya datang dan Eve langsung mendorongnya untuk ikutan foto.


Beberapa saat kemudian, Pun meminta maaf karena tadi sudah marah-marah pada Ya. Ya juga merasa bersalah pada Pun karena telah meminjamkan sepedanya pada Eve.

"Tapi sejak pertama kali mengenalmu, aku belum pernah melihatmu semarah itu sebelumnya."

Memperhatikan Eve yang masih asyik bercanda tawa dengan keluarganya Pun, Ya berkomentar kalau Eve pasti sangat mencintai Pun sampai-sampai dia rela meninggalkan semua hal yang dimilikinya demi bersama Pun.


"Bagaimana denganmu? apa kau pernah berpikir untuk melakukan sesuatu untuknya?" Tanya Ya. Pun hanya diam menatap Eve.

Saat malam tiba, Pun menyuruh adik dan kedua keponakannya masuk lalu duduk di samping Eve. Tapi dia mulai cemas saat memperhatikan wajah Eve yang kelihatan memerah, apa dia sakit.

Eve mengklaim kalau dia baik-baik saja dan hanya lehernya saja yang sakit. Tapi Pun langsung menempelkan tangannya di kening Eve untuk mengecek suhu tubuhnya sambil memandanginya lekat-lekat sampai membuat Eve jadi malu.


Suasana jadi canggung gara-gara itu sampai saat Eve bercerita tentang apa yang dia diskusikan dengan  Kepala Sekolah tadi. Kepala Sekolah bilang, ada cara bagi Pun untuk bisa jadi insinyur. Yaitu, Pun harus menjadi warga negara Thailand.

"Kalau itu, aku tahu."

"Lalu kenapa kau tidak mendaftar?"

"Sejujurnya, tidak mudah untuk mendaftar. Tapi bahkan sekalipun aku jadi insinyur, tapi aku akan tetap menggunakan ilmuku untuk mengembangkan desa ini agar menjadi lebih baik. Begini saja, aku sudah cukup bangga."

"Tapi jika kau menjadi insinyur, maka kau bisa melakukan lebih banyak hal. Kau bisa membangun rumah, sekolah, kau bisa membangun banyak hal. Masa kau mau lulus hanya untuk membangun jalan?"


Pun mengangguk. Eve tidak mengerti, kenapa hanya itu yang Pun inginkan. Pun bercerita bahwa waktu dia masih kecil, ayahnya tergigit ular.

Perjalanan ke rumah sakit sebenarnya tak seberapa jauh, tapi mereka tak bisa mencapainya tepat waktu karena jalanannya yang tidak rata, dan ayahnya meninggal dunia sebelum mereka tiba di rumah sakit.

"Saat kau menghilang tadi, aku sangat ketakutan. Kukira sesuatu akan terjadi padamu seperti ayahku. Aku tidak akan sanggup menanggungnya jika sampai terjadi sesuatu padamu karena aku."


Terharu, Eve meyakinkan Pun bahwa bisa bertemu Pun saja, pria dalam mimpinya, dia sangat bahagia. Pun menatapnya dengan penuh cinta sebelum kemudian mendekat dan mencium Eve.


Keesokan paginya, Eve tiba-tiba bersin. Ibu jadi cemas, apalagi kemarin Eve kehujanan. Pun keluar tak lama kemudian untuk berangkat kerja dan dia pamit dengan senyum lebar pada Eve.

Eve malu-malu bertanya apakah Pun nanti akan pulang telat karena dia akan membuatkan makanan kesukaan Pun saat dia pulang nanti. Senang, Pun berjanji akan pulang lebih cepat nanti.


Tapi di jalan, Pun diberitahu Pak Mandor bahwa merrka akan lama menyelesaikan semua ini. Apalagi cuacanya sedang tidak mendukung, sebentar lagi sepertinya akan hujan lagi.

Mit menelepon Pun saat itu karena ponselnya Eve tidak bisa dihubungi sama sekali. Mit lalu menitip pesan untuk Eve, tadi dia bicara dengan bos mereka dan bos mereka ingin mempromosikan Eve bekerja di Italia.

Karena itulah, Eve harus segera kembali ke Bangkok secepat mungkin. Penting! Bos menginginkan jawaban sebelum minggu depan. Pun tercengang, menyadari dia dan Eve takkan bisa bersama.


Eve sedang membantu Ibu memasak. Sepertinya dia benar-benar sedang sakit tapi acuh. Hujan tiba-tiba turun lagi. Eve hendak membantu Ibu mengambil jemuran, tapi tiba-tiba saja kepalanya sakit hingga akhirnya dia pingsan. Ibu sontak panik.

Bersambung episode 6

1 comments:

Lanjut,min.
ceritanya makin bagua ja...

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon