Powered by Blogger.

Images Credit: Line TV

Sinopsis Gasohug Episode 6 [END]


Eve memimpikan kembali semua mimpi yang selama ini dialaminya dan menjadi kenyataan. Mimpi bekerja di sebuah perusahaan yang bagus, memiliki mobil hingga mendapatkan promosi ke Italia.

"Aku memiliki kehidupan yang diimpikan semua orang. Kehidupan yang diimpikan semua orang?"

Eve terbangun oleh suara Pun yang memanggil-manggilnya. Saat dia membuka matanya, dia mendapati Pun basah kuyup dan mencemaskannya. Tapi keadaannya sangat lemah hingga kemudian dia pingsan lagi.

Pun sontak makin panik. Tepat saat itu juga, adik Pun datang dan memberitahu kalau mobil sudah datang. Pun langsung bergegas membopong Eve dan melarikannya ke rumah sakit.


Dia begitu panik hingga meminta supir untuk lebih cepat. Tapi mobilnya malah terjebak dalam lumpur. Pun langsung turun dan berusaha keras mendorong mobil itu seorang diri tanpa mempedulikan hujan deras yang mengguyurnya. Teringat akan ketakutannya kalau Eve akan bernasib sama seperti ayahnya, membuat Pun semakin gigih mendorong mobil itu.


Saat Eve terbangun, dia mendapati dirinya di rumah sakit dan Pun menjaganya dengan gelisah. Sudah berapa lama dia tidur? Tanya Eve. Satu hari, dokter bilang kalau Eve demam dan dia sudah dikasih obat. Bagaimana keadaan Eve sekarang.

Dia baik-baik saja sekarang. Tapi dia memperhatikan Pun yang tampak bermasalah. Ada apa? Pun menyangkalnya lalu mengeluarkan sebuah gelang.

Dia memberitahu Eve bahwa ini adalah jimat yang dibuat oleh ibunya. Keluarganya percaya kalau gelang ini bisa menjaga Eve tetap sehat dan kuat. Dia lalu memakaikan gelang itu di tangan Eve.


Tapi Eve melihat barang-barangnya ada di sana. Kenapa Pun membawa semua barangnya, dia kan tidak akan lama tinggal di RS. Pun mengaku kalau dia sudah tahu bahwa Eve akan pergi ke Italia.

Kemarin Mit meneleponnya dan memberitahu kalau Eve mendapat promosi ke Italia. Dia harus segera kembali ke Bangkok untuk mengurus dokumen-dokumennya. Makanya dia mengepak barang-barangnya Eve. Dia juga sudah menyiapkan mobil.

"Tapi aku tidak mau pergi. Aku ingin tinggal di sini. Kan sudah kubilang. Aku sudah memutuskannya. Apa kau tidak ingat."

"Kau bilang, kau bisa memimpikan masa depan. Apa kau pernah memimpikan dirimu pergi ke Italia?"

Eve langsung terdiam yang jelas mengkonfirmasi pertanyaan Pun. Pun mengaku iri dengan kemampuan Eve dalam memimpikan masa depan. Karena sejak dia lahir, dia tidak pernah memimpikan apapun.


"Tapi sejak kau datang kemari, aku mulai memikirkan bagaimana masa depanku kelak. Aku membayangkan dirimu tinggal di sini bersamaku. Kita menikah, memiliki sebuah keluarga kecil dan bahagia bersama."


Tapi hari ini dia menyadari kalau itu mustahil. Eve memiliki masa depan yang bagus, tidak seperti masa depannya. Pun tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika Eve tetap tinggal di sini dan terjadi sesuatu padanya seperti ayahnya. Karena itulah, dia memohon agar Eve kembali ke Bangkok.

"Kalau begitu, kau juga kembalilah ke Bangkok bersamaku. Kumohon. Apa kau tak ingin bersamaku?"

Pun berusaha menahan emosinya dan hanya meminta maaf. Dia langsung beranjak pergi, Eve berusaha mencegahnya dengan berlinang air mata dan memohonnya untuk tidak pergi. "Aku mencintaimu."


Pun tak kuasa lagi menahan air matanya dan langsung kembali untuk memeluk Eve. "Aku juga mencintaimu, P'Eve. Tapi aku benar-benar bukan pria yang ada dalam mimpimu. Maafkan aku."

Pun langsung pergi, meninggalkan Eve yang hanya bisa menangis sedih dan tak berdaya menghentikannya.


Satu tahun telah berlalu.

Pun terbangun sambil menatap seragam kerjanya dengan sedih. Sekarang, desa mereka sudah memiliki jalan yang lebih layak. Tapi Pun hanya bisa termangu sedih menatap jalan keluar desanya.

Pak Kepala Sekolah datang tak lama kemudian dan menyuruh Pun untuk bersiap. Hari ini mereka akan berangkat ke Bangkok. Kepala Sekolah kagum melihat hasil kerjanya Pun. Setahun yang lalu, jalan itu masih berupa jalan tanah biasa, tapi sekarang sudah menjadi jalan aspal.


Begitu tiba di Bangkok, Pun langsung mengunjungi pom bensin. Semua orang menyambutnya dengan gembira, kecuali Mong yang sudah dideportasi. Pun mengaku kalau dia datang menemani Kepala Sekolah untuk urusan pekerjaan.

 "Sekarang kau sudah jadi insinyur besar, yah?" Goda Ya.

"Besar apanya? Aku cuma seorang pekerja konstruksi." Pun malu.

"Itu sama saja. Eh, boleh aku lihat kartu identitasmu?" Tanya Ya.

Pun menunjukkannya dan ternyata dia sudah resmi menjadi warga negara Thailand. Kitty berkomentar bahwa fotonya Pun cakep.

Ya cemburu, "Tapi tidak seganteng abang. Ya, kan. Sayang?"


Wkwkwk, ternyata Ya dan Kitty sudah jadian. Nom sontak memaksa mereka untuk kembali bekerja. Pun mengedarkan pandangannya dan saat itulah dia melihat bunga-bunga mawar yang membuat Pun teringat kembali akan kenangan saat pertama kali bertemu Eve dulu.

Menyadari apa yang dilihat Pun, Ya memberikan satu bunga untuknya. Pun mendesah sedih melihat coffee shop tempat Eve bekerja dulu.

"Kau merindukan tahun lalu, kan? Aku penasaran bagaimana kabar Khun Eve sekarang? Ngomong-ngomong tentang Italia. Aku juga ingin pergi ke sana, wanita-wanita di sana cantik-cantik."

 

Dengan memakai dandanan wanita, Mit mengajari seorang SD untuk mengucapkan bahasa Italia, tapi tentu saja anak itu tidak mengerti dan hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

"Hei! Berhentilah menggodai muridku," tegur Eve yang ternyata sekarang sudah beralih profesi jadi guru.


Ternyata dia tidak jadi pergi ke Italia dan memberikan kesempatan itu pada Mit. Mit sendiri baru kembali dengan penampilan barunya dan mengaku kalau dia senang di Italia.

"Semua ini berkat kau, temanku. Jika tidak, maka aku pasti takkan pernah pergi ke sana."

Tapi, dia baru tahu kalau Eve ternyata ingin menjadi guru. Eve mengaku kalau dia menjadi guru sejak dia pergi ke Chiang Mai. Mit turut senang melihat Rve akhirnya bisa menemukan jati dirinya. Tapi, apa Eve masih memimpikan masa depannya?

"Tidak. Aku sudah tidak bermimpi lagi sekitar satu tahunan mungkin."

"Sayang sekali."

"Tidak juga. Bagus malah. Aku tidak melakukan apapun yang ada di dalam mimpiku, jadi aku punya lebih banyak waktu untuk diriku sendiri."

"Melihatmu bahagia, aku juga bahagia."


Tepat setelah Mit pergi, Eve diberitahu guru lain bahwa hari ini sekolah mereka kedatangan tamu seorang kepala sekolah. Jadi dia meminta Eve untuk mengawasi anak-anak agar anak-anak tidak memgganggu tamu mereka.

Tamu mereka datang saat itu dan mereka adalah Kepala Sekolah dan Pun. Eve tak menyadarinya karena dia berdir membelakangi mereka. Sementara Kepala Sekolah berbincang dengan guru, Pun mengedarkan pandangannya dan melihat sosok punggung Eve di seberang.

Tapi perhatiannya teralih dengan cepat saat seorang anak tak sengaja menubruknya. Anak itu melihat bunga yang Pun bawa, Pun akhirnya memberikan bunganya untuk anak itu.


Anak itu lalu lari membawa bunga itu untuk diperlihatkan ke Eve. Eve penasaran dari mana dia mendapatkan bunga ini.

"Dari kakak itu," kata anak itu dambil menunjuk ke belakang. Tapi saat Eve menoleh, sudah tak ada siapa-siapa di sana.


Pun memasuki sebuah ruang kelas kosong dimana dia melihat sebuah prakarya di dinding bertuliskan 'Impianku'.

"Setiap orang memiliki impian yang berbeda-beda. Beberapa orang bermimpi bisa sukses dalam pekerjaan. Beberapa orang bermimpi memiliki keluarga yang hangat. Beberapa orang bermimpi akan kebahagiaan bersama. Beberapa orang memimpikan masa depan yang cerah...."


Eve kembali ke kamarnya dan termenung menatap dindingnya yang sekarang sudah kosong dan foto pemberian Pun.


Pun tengah dalam perjalanan pulang saat dia meneruskan narasinya, "... Tapi aku tidak pernah memimpikan apapun. Setiap kali aku tidur, yang kulihat hanyalah kegelapan."

Matanya mulai lelah hingga akhirnya dia tertidur. Tak berapa lama kemudian, Kepala Sekolah membangunkannya dan tanya apakah Pun tidak mau ke toilet karena mereka sekarang berhenti di pom bensin.


Tapi saat dia keluar, dia malah mendapati dirinya ada di pom bensin tempatnya dulu bekerja. Tempat itu kosong. Tapi saat dia menoleh, dia melihat Eve ada di belakangnya.

Mereka saling berpandangan, lalu perlahan mereka saling mendekat. Mereka membentangkan kedua tangan untuk saling memeluk satu sama lain... tepat saat kedunya tersentak bangun di tempat masing-masing. Ternyata mereka memimpikan hal yang sama.


Air mata Pun menitik dan langsung memutuskan untuk berhenti di sana saat itu juga. Eve langsung beranjak pergi sembari memohon agar dia mempercayai mimpinya satu kali lagi.

Secara bersamaan, mereka berlari dan terus berlari tanpa lelah sembari mengingat segala kenangan mereka selama ini hingga akhirnya mereka sampai di pom bensin sama persis seperti mimpi yang mereka alami barusan.

Mereka saling memandang sebelum kemudian saling berlari pada satu sama lain dan mengulurkan tangan mereka untuk saling memeluk.

-THE END-

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon