Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis The King Loves Episode 3


Saat Rin yang masih bergelantungan di jembatan, melihat San jatuh kedalam pelukan Won, dia menarasikan kisah pertemuannya dengan Won dari sudut pandangnya sendiri.

Saat dia pertama kali mendekati Won saat Won ditinggal sendirian di aula istana, betapa antusiasnya Won saat dia pertama kali masuk pasar rakyat Nam Dae. Won mengaku senang Rin mengikutinya dan memperbolehkan Rin memanggil namanya langsung dan bicara banmal padanya.

"Mulai sekarang, kau adalah temanku. Perlakukan aku sebagai teman. Ini perintah."

Saat dia memberitahukan perintah Won ini pada Ayahnya, Ayahnya menyemangatinya untuk memperlakukan Won seperti teman karena Won orang yang kesepian. Tapi Ayah juga memperingatkannya untuk tidak berteman dengan Won karena Won akan menjadi raja yang tidak boleh memiliki teman.

"Aku tidak mengerti ucapan ayah waktu itu. Bagaimana bisa seseorang hanya memberikan sebagian hatinya saja?"


Kembali ke masa kini, Rin tampak tak senang melihat kedekatan Won dan San walau dia tak mengatakan apapun. Hujan deras mengguyur saat mereka melanjutkan perjalanan dan bersusah payah mendaki gunung yang terjal sambil menggerutui gurunya San itu.


Mereka akhirnya tiba di puncak gunung dan menemukan gua penyimpanan arak itu. Tapi San memperingatkan mereka kalau hanya boleh mengambil cangkir saja. Rin menyuruh mereka masuk duluan sementara dia pergi mencari kayu bakar.

Won tanya apa Rin tidak mengenali gadis itu. Dia pelayan di rumah Keluarga Eun 7 tahun yang lalu. Won kagum juga dengan ingatannya sendiri yang ternyata cukup tajam sampai masih mengingat wajah pelayan 7 tahun yang lalu itu.

 

Rin mengaku tak ingat. Tapi begitu dia sendirian, dia sebenarnya masih mengingatnya. Dia ingat betul kejadian malam itu.

Flashback.


Saat Rin remaja mengendap-endap masuk ke rumah menteri Eun, sebenarnya dialah yang melihat San lebih dulu. Dia melihat San menangis dan membakar kertas untuk arwah para almarhum yang meninggal dunia demi melindunginya dan menerbangkan lentera untuk mereka.

"Aku yang pertama kali melihatnya. Anak itu menangis." Narasi Rin.

Tapi kemudian ada pelayan lewat. Rin pun menyembunyikan dirinya. Saat dia bangkit kembali, dia sudah mendapati San menyudutkan Won ke pohon. Dia hampir saja menghunus belati, tapi kemudian dia mendengar Won mengira San adalah pelayan lalu menggenggam tangan San dan menitipkan pesan terakhir Ibu San pada San.

Rin sedih melihat itu, tapi tak ada yang bisa dilakukannya. "Aku yang pertama kali melihatnya. Aku ingin memegang tangannya terlebih dulu."

Flashback end.


San melihat-lihat koleksi arak itu saat tiba-tiba saja Won berdiri di hadapannya. Won langsung cari perkara dan menyindirnya, San bodoh sejak lahir atau jadi bodoh saat dia tumbuh besar, bagaimana bisa San tidak mengenalinya.

Dia berusaha mengingatkan San kalau dulu So Ah tinggal di Janghadong. Tapi San langsung mengalihkan topik dengan mengomentari koleksi arak itu hingga akhirnya dia menemukan arak embun salju, tapi hanya ada satu guci. Pantas saja Guru Lee patah hati saat dia guci arak itu pecah.


Won cemas melihat wajah San yang tampak kedinginannya. Untunglah Rin akhirnya kembali dengan membawa kayu bakar. San kepedean saat melihat Rin melepas jaketnya. Dia langsung mengulurkan kedua tangannya biar Rin bisa memakaikan jaketnya dengan mudah. Eh, Rin malah memakaikan jaketnya ke Won. Wkwkwk. San kecewa.

Mengalihkan topik, San cepat-cepat menggelar tikar jerami dan mengajak mereka minum arak arab saja untuk menghangatkan tubuh mereka. Rin cemas, apa tidak masalah jika meminum arak Guru Lee.

"Dia akan lebih kesusahan mengurus mayat kita jika kita mati kedinginan. Lebih baik baginya jika kita minum satu guci."


Setelah menyalakan kayu bakar, Rin mulai membuka satu guci arak dan mengambil secangkir. San kepedean mengulurkan tangannya mengira Rin akan memberikan arak itu padanya, tapi Rin lagi-lagi memberikannya pada Won.

Won mencicipinya dan langsung kagum dengan rasanya, ini beda dari arak yang selama ini mereka minum. San merasa ada yang aneh dengan hubungan persahabatan kedua pria itu.

Entah apa yang San pikirkan, tapi Rin langsung panik sendiri dan berusaha menyangkal apapun yang San pikirkan tentang mereka. San sontak ketawa terpingkal-pingkal mendengar keluguan Rin. Tapi tawanya langsung terhenti seketika gara-gara perutnya keroncongan. Lapar.


Tanpa mereka ketahui, kedua pengawal Won (Jin Gan dan Jang Ui) sedang enak-enak makan di atas gua. Mereka tahu kalau makanannya Won ketinggalan di kudanya dan tasnya San terjatuh di jalan.

Mereka sadar betul orang-orang di gua pasti sedang kelaparan, mereka juga sadar kalau apa yang mereka lakukan ini namanya tidak setia. Tapi mereka terus saja makan sendiri dan tidak mempedulikan nasib Putra Mahkota mereka.


Song In sedang bersama kekasihnya saat dia mendapat kabar kalau Won pergi menemui Guru Lee, si rubah licik yang berpenampilan seperti pemabuk itu dan diasingkan oleh Raja karena telah membuat Raja murka.

Raja bahkan sampai melemparinya dengan bantal kayu saking marahnya. Tapi bahkan saat darah mengucur dari keningnya, Guru Lee masih menyalahkan Raja dan mengkritiki kepemimpinannya.

"Lalu mengapa Putra Mahkota ingin menemui pria seperti dia?" Tanya kekasihnya Song In.

Song In merasa tujuan Won itu tidak penting dan langsung mengalihkan perhatiannya untuk mencium kekasihnya.


Keesokan harinya saat rapat pagi, Raja kesal membahas Putra Mahkota yang sering tak ada di tempatnya. Menteri Song dengan penuh keberanian mengusulkan agar Raja menumbangkan Putra Mahkota saja karena Putra Mahkota adalah peranakan Goryeo dan Yuan, mereka tidak boleh menyerahkan Goryeo ke tangan keturunan Yuan. Bagaimana kalau Won sampai menyerahkan Goryeo pada Yuan.


Menteri lain langsung menentang ide itu dan berusaha membela Won. Won sering keliaran keluar istana itu demi memahami kehidupan rakyat. Tapi Raja langsung sinis mendengarnya. Apa setelah memahami kehidupan rakyat, Won akan mencoba mengajari ayahandanya yang bodoh ini. Dulu saja Won berusaha mengajarinya.

"Dia bahkan pernah bilang begini, 'Bagaimana bisa ayahanda menjauhkan diri dari pelayan yang setia dan dekat dengan para penjilat itu?' Mari kita lihat, siapa hamba setia dan tidak setia di antara kalian?"

Menteri Song langsung tersenyum licik mendengarnya. Raja lalu memerintahkan Kasim Choi untuk memanggil Putra Mahkota kemari sekarang juga. Kasim Choi langsung gelagapan panik dan terpaksa melapor kalau Won menghilang. Raja kesal dan memerintahkan mereka untuk segera membawa Won ke hadapannya sekarang.


Putri Wonsung diberitahu pelayannya tentang hilangnya Won dan sekarang Raja sedang mencarinya, tadi juga mereka membicarakan masalah penurunan Won lagi. Cemas, Putri Wonsung langsung keluar kamarnya.

Pengawalnya, Furatai, melapor bahwa ada kabar yang mengatakan Won pergi ke daerah Nam Dae dan sekarang Raja mengirim pasukan bersenjata untuk mencari Won.


Putri Wonsung datang ke paviliun Won dengan menyeret pedang. Ia menodong Kasim Kim dan bertanya dimana keberadaan Won. Kasim Kim bersujud gemetaran, Won tengah berada di wilayah Nam Dae.

Putri Wonsung tak percaya. “Kalau dia memang ada di Nam Dae, wilayah itu ada dalam pengawasan istana. Tak mungkin kalau dia akan mengirimkan prajurit kesana. Dimana Putera Mahkota?”

“Dia pergi ke gunung Doo Ta.” Aku Kasim Kim yang terpojok.


Puteri Wonsung mondar-mandir marah. Jadi Won pergi menemui Lee Seung Hyo yang dibuang setelah mengutarakan pemikirannya dihadapan Raja? Orang yang mendapatkan pujian dari rakyat karena kata-katanya pada Raja itu?

Won pasti berpikir bahwa dengan membawa Lee Seung Hyo kesisinya, maka para pejabat yang memihak Guru Lee akan mengikutinya?

Puteri Wonsung lalu memerintahkan anak buahnya untuk membawa Putera Mahkota kembali. Bawa dia sebelum orang-orang istana membawanya. Kalau sampai ada yang tahu Putera Mahkota menemui Lee Seung Hyo, dia akan dituduh melakukan pekhianatan. Lakukan segala cara untuk mendapatkan Won duluan sebelum pasukan Raja.

"Kita harus membuat Putra Mahkota seolah dia tak pernah menginjakkan kaki di Pegunungan Doo Ta."


Pada saat yang bersamaan, Song In menemui Raja dan melaporkan hal yang sama pada Raja. Raja pun murka mengetahui puteranya pergi menemui orang semacam itu.

Ia lalu menitahkan untuk membawa Putera Mahkota dengan cara apapun termasuk mengikatnya dan bakar kediaman Lee Seung Hyo kalau perlu. Tak lama kemudian, derap kuda terdengar. Puluhan pasukan bergerak secepat mungkin menuju Gunung Doo Ta.


Won kasihan melihat San duduk meringkuk diatas jerami tanpa selimut. Dia lalu menutupi tubuh San dengan menggunakan jubahnya Rin yang ia pakai. San tidur sangat pulas, mungkin dia tak akan sadar kalau ada yang menggendongnya.

Won terus memperhatikan wajah San, sebenarnya dia naif atau memang berani? Bagaimana bisa dia tidur sepulas ini disaat bersama dua orang pria? Rin tanya, apa dia yakin kalau San benar-benar tidur?

Untuk membuktikannya, Won melambaikan tangannya didepan wajah San. Tak ada reaksi, dia mengelus pipinya. Tapi kok pipinya terasa sangat dingin. Ia membandingkan suhu tubuh San dengan suhu tubuhnya. Apa tidak apa-apa kalau dia tidur dengan suhu sedingin itu?

“Tidur dengan suhu tubuh rendah itu tidak bagus.” Ujar Rin.


Won berbaring disebelah San untuk membuatnya agak hangat. Dia juga menyuruh Rin untuk tidur disisi kanan San. Rin agak canggung harus tidur bersama San, tapi dia tetap melakukannya sesuai instruksi Won.

Won terus memandangi San dengan tatapan hangat. Dia tersenyum mengatakan kalau San masih seperti yang dulu. Dia kelihatan aneh.


Mereka bertiga akhirnya sampai juga ke Perguruan keesokan harinya. Teman-teman San sudah menunggunya, dia menyuruhnya supaya bergegas menyiapkan arak guru. Ngomong-ngomong, siapa dua pria yang bersamanya?

“Mereka ingin memberikan satu gelas arak juga pada guru, aku juga berhutang pada mereka.”

Tidak bisa, mereka tak bisa memberikan dua gelas karena guru selalu minum satu gelas. Kalau begitu, San memberikan sekalian satu kendi arak itu untuk Won. Dia mau pergi ke Gaegyeong karena upacara kematian Nyonya-nya akan segera datang.

Teman San mewek, bagaimana dengan pertandingan gyeokgoo mereka? San izin tak bisa mengikutinya. Dia pun pamit pada Guru Lee, dia mau kembali ke Gaegyeong. Selamat menikmati arak dan kompetisi gyeokgoo-nya.


Won tak bisa menerima araknya begitu saja. Pasti ada alasan dibalik kemurahan hatinya. San malas berdebat, dia mengingatkan kalau sarapan guru bisa dingin. Won berjanji akan menggantinya. San menyuruh dia supaya buru-buru membenahi kebiasaannya itu, berhenti menaruh harga pada segala hal.

San menghentikan ucapan Won.. bukannya kenapa-napa, dia cuma mau bersin. Ia lalumengusap hidungnya menggunakan baju Won. San pergi tanpa mengatakan apapun. Won mengeluh jijik, tapi dia tak mempermasalahkannya. Dia malah memberitahu San tentang sebuah tempat menjual arak yang enak. Dia mengajaknya untuk datang kesana.


Prajurit kerajaan sudah dekat ke tempat perguruan. Jin Gan melihat mereka dan berniat untuk mengetahui apa yang terjadi. Tapi dia malah berpapasan dengan beberapa pria mencurigakan. Dia bertarung melawan pria itu. Namun bertepatan saat itu, Furatai muncul menghentikan mereka.


Guru Lee sudah menenggak arak yang ia inginkan. Tanpa buang waktu, Won memulai pertanyaannya. Jadi, keluarganya menangkap sekawanan domba dengan bantuan beberapa anjing gembala.

Tapi suatu hari, serigala datang dan membawa seekor anak domba dan salah satu anjing gembala. Akankah anjing serigala mengikuti jejak anjing gembala dan menjadi anjing gembala yang baik?

“Bagaimana aku tahu? Terserah anjing serigala untuk memilih.” Jawab Guru Lee enteng.

“Ada masalah. Kawanan domba takut pada anjing serigala. Apa yang harus dilakukan pada anjing serigala? Membuangnya? Atau karena takut masa depan,  maka membunuhnya?”


San berniat pergi, namun dia malah dikejutkan dengan Rin yang berlari panik dan melompati pagar. Rin menemui Jin Gan dan Jang Ui, keduanya memberitahu kalau mereka mendapat perintah supaya membawa Putera Mahkota Won kembali ke istana. Rin agak terkejut saat tahu kalau Furatai sendiri yang datang kesana menyampaikan pesan itu.

Prajurit kerajaan sampai ke perguruan. Murid perguruan pun coba menghadang mereka, beritahukan dulu apa yang membuat mereka datang kesana. Prajurit dengan angkuh berkata kalau mereka mendapat perintah Raja, jadi menyingkirlah.


Guru Lee memastikan kalau nama pria dihadapannya itu adalah Han Cheon (nama samaran Won). Didepan nama itu, apakah dia menambahkan kata ‘un’ untuk ‘pidato’? Asal orang Khan, Yuan berarti tidak berujung. Won pasti sedang berusaha membanggakan padanya dengan menggunakan analogi untuk mencoba memprediksikan kecenderungan politik masa depan?

Guru Lee tersenyum, ia sudah pernah melihat Won sebelumnya. Ia pun bersujud dan menyapanya sebagai Putera Mahkota. Won masih terdiam tak menjawab salam Guru Lee.


San menemui para prajurit yang sedang menggeledah semua ruangan disana. Ia memberitahukan kalau orang asal Gaegyeong berada di ruangan gurunya. Ia pun menunjukkan jalannya pada mereka. Orang itu sedang mendiskusikan sesuatu dengan gurunya dan tak memperbolehkan orang lain masuk.

Kepala Prajurit dengan sigap mengintruksikan bawahannya untuk berpencar. Ia pun masuk kedalam ruangan Guru Lee dan menemukan seorang pria berpakaian hitam ada disana. Namun begitu menoleh, dia bukan Won melainkan salah satu murid di perguruan.


Won sudah sampai ke istana dengan terburu-buru. Dia sengaja minum arak sebelum menemui Raja dan berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Dia mendengar kalau Ayahandanya memanggilnya, makanya dia buru-buru datang. Won bersujud memberikan hormat.

“Aku memanggilmu kemarin. Tapi kau datang sore hari berikutnya?”

“Siapa yang tahu matahari terbit begitu cepat? Aku sedang menyamar untuk lebih memahami kesusahan rakyat.”

Won menoleh dan melihat ada Song In yang berdiri tak jauh dari sana. Ia terus menatapnya hingga Song In kemudian pergi.


Raja menghampiri Won dan mencium bau menyengat, dia bahkan tak bisa berdiri di siang bolong tapi mengatakan kalau dia pergi menyamar.

Won memohon ampunan atas kelakuannya. Raja amat murka, dia meletakkan busurnya. Kalau saja Won kurang pintar, kalau saja dia kurang dewa, maka dia sudah mati. Raja memerintahkan para kasim mengangkat Won dan buka jendela supaya bau alkoholnya hilang.


Puteri Wonsung menemui Rin dan langsung menamparnya sampai berdarah. Dia menuduh Rin sengaja membawa Putera Mahkota kesana, lalu ayahnya nanti akan mengatakan kalau Putera Mahkota melakukan pemberontakan dan menyarankan supaya menurunkannya dari takhta.

Dia tahu kalau keluarga Rin mengincar takhta Putera Mahkota, siapa yang mau menggantikannya? Kakak laki-lakinya atau malah dia? Apa sebegitu inginnya dia menjadi Putera Mahkota sampai terus berada di sekeliling Won dan mempengaruhinya.


Won keluar dari paviliun Raja dan melihat Puteri Wonsung tengah bersama Rin. Puteri Wonsung tersenyum pada putranya. Tapi mulutnya masih komat-kamit memberikan ancaman pada Rin. Kalau sampai dia menyakiti putranya, maka dia akan membunuhnya lebih dulu. Mata Won terus tertuju pada Rin. Mereka berdua bersitatap dalam diam.

Bersambung ke episode 4

2 comments

Jadi won itu anak kandung raja atau bukan ya?bingung .-.

anak kandung, cuma kan ibunya won itu bukan orang asli goryeo

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon