Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis The King Loves Episode 4


Rin lalu pergi menemui Won yang memberinya salep obat untuk luka di bibirnya. Ini obat terbaik yang didapatnya dari tabib kerajaan. Dia bahkan membantu Rin mengoleskan obat itu di bibirnya sambil meminta pengertian Rin atas tindakan ibunya tadi.

Tahu sendiri kan kalau ibunya memang sangat peka terhadap Rin dan Kakaknya. Rin mengerti kok, dia mengakui kalau kakaknya memang sudah lama mengincar tahtanya Won. Tapi menurut Won, menjadi putra mahkota itu tidak selalu menyenangkan.  Mungkin seharusnya dia kasih saja tahtanya pada Kakaknya Rin, lalu dia sendiri akan jadi pangeran tiara.

“Itu tidak lucu.”

“Kurasa dia juga tidak akan tertawa biarpun aku cuma bercanda.”


Rin penasaran siapa yang dimaksud Won. Tapi Won terus saja nyerocos dan menduga-duga kalau si kunyuk itu mungkin masih dalam perjalanan soalnya dia jalan kaki tadi.

Won yakin kalau anak itu pasti diusir dari rumah karena gagal melindungi nyonya-nya lalu diselamatkan Guru Lee saat dia hampir mati kelaparan dan akhirnya menjadi muridnya Guru Lee. Rin langsung mengerti yang dimaksud Won sedari tadi ternyata San.

Won masih menyalahkan dirinya yang waktu itu tidak meminta bantuan siapapun dan membiarkan semua orang itu mati dan hampir saja membuat San terbunuh juga. Mungkin Rin sudah lupa, tapi dia tidak.


Rin buru-buru mengalihkan topik dengan mengambil obat itu lalu pergi. Di luar, dia memanggil pengawalnya Won dan memerintahkannya untuk mencari tahu tentang So Ah atas perintah Won. Dia berniat mau bilang untuk melaporkan hasilnya kepadanya, tapi kemudian berubah pikiran dan berkata kalau dia akan menemuinya sendiri.


Setibanya di rumah, Rin melihat Song In di sana sedang bersama kakaknya yang ternyata Wang Jeon. Jeon Cuma meliriknya sekilas dengan sinis lalu pergi.

Dalam flashback, Rin menyaksikan bagaimana kakaknya dengan kejam membunuhi para perampok itu. Dia bahkan mencuri dengar saat si pembunuh menyuruh anak buahnya untuk melapor ke Jeon kalau San melarikan diri.

Setelah kejadian itu, Rin langsung melabrak Jeon. Jeon balas melabraknya karena Rin dan Putra Mahkota bahkan tidak berbuat apapun untuk menolong orang-orang itu dan memperingatkan Rin untuk tutup mulut saja.


Jang Ui datang tak lama kemudian untuk melapor kalau So Ah sudah tiba di Jang Dan. Tapi Putra Mahkota memberinya perintah juga.


Saat Jin Gan melaporkan hal yang sama pada Won, Won cemas memikirkan San yang harus berjalan sendirian sejauh itu. Jin Gan tanya apa mereka harus terus mengikutinya atau menangkapnya. Won bingung, untuk apa ditangkap.

Tak lama kemudian, Kasim Kim datang membawakan makanan Won. Tapi malah mendapati Won sudah menghilang lagi. LOL.


San berhenti di tengah jalan karena lelah dan parahnya lagi, air minumnya habis. Tapi tiba-tiba ada pria yang lewat sambil bawa seember air. San langsung tanya letak sumur, tapi pria itu langsung saja mengisi ulang wadah minumnya San secara cuma-cuma lalu pergi.

San heran tapi tak terlalu ambil pusing dan langsung meminum airnya. Di tengah pasar, dia tidak sadar ada 3 preman yang sedang mengejarnya. Tapi bahkan sebelum mereka sempat menangkap San, kedua pengawal Won menghadang mereka dan menghajar mereka.
 
Saat dia hendak membeli bakpao, dia sebenarnya cuma punya satu koin, tapi si pedagang yang mukanya judes itu malah memberinya segunung bakpao sampai San melongo dibuatnya. Dia tidak sadar kalau di sampingnya ada Won dan Jin Gan yang pura-pura sedang membicarakan sebuah tempat minum terkenal di Ansan secara lantang biar San dengar.


San langsung pergi dengan hanya membawa dua bakpao, tapi si pedagang tiba-tiba mengejarnya hanya untuk memberikan sisa bakpao yang sudah dibungkusnya. Jadilah San makan dengan lahap sepanjang perjalanan sementara Won mengawasinya dari atas bukit.

“Ini pertama kalinya aku melihat wanita makan dengan begitu lahapnya. Kurasa gurunya tidak memberinya makan dengan baik. Mungkin aku perlu menyiapkan makanan lain. Bagaimana kalau daging kukus?” Gumam San dan Jin Gan langsung melesat pergi mencari makanan itu.

Tak sengaja San menjatuhkan bakpaonya ke rumput. Tapi dia cuek mengambilnya lagi dan memakannya. Won tersenyum melihatnya, lega melihat San hidup dengan baik dan mereka bisa bertemu lagi.


San berdiri didepan pintu rumahnya dengan sedih. Ia masih ingat bagaimana Ayahnya mengirimnya untuk pergi ke tempat Guru Lee. San bertanya-tanya, kapan dia bisa kembali ke rumah?


Ayah melarang, lebih baik dia tidak pulang. Sekarang orang-orang mengira kalau Bi Yeon yang punya bekas luka adalah San. Tapi kalau dia terus kembali, maka rahasianya akan segera terungkap. Seseorang tengah menarget keluarga mereka. Kalau mereka melakukan kesalahan, maka mereka bisa dituduh melakukan pengkhianatan.

San terus menangis, dia janji tak akan membiarkan rahasia itu terungkap. Dia tak akan memanggilnya ayah ataupun bernafas. Ia mohon untuk tetap tinggal bersamanya. Ayah memeluk putrinya, dia bisa saja dikirim ke Yuan sebagai upeti. Ayah meminta pengertian San, dia mengirim San pergi demi melindunginya.

Mulai sekarang, namanya bukan lagi San melainkan So Ah. Seperti bunga liar kecil di padang rumput yang luas, hiduplah dengan tenang.


Bi Yeon keluar kamar dengan tergesa-gesa. Ia menangis bahagia bertemu dengan nona mudanya lagi. San memeluk Bi Yeon yang tak bisa berhenti menangis, apa yang harus ia lakukan dengan gadis cengeng ini?

San bertanya tentang kesehatan ayahnya. Bi Yeon berkata  kalau Ayahnya sehat dan baru kembali dari perjalanan bisnis di Yuan. San pikir, dia harus mencari janda saleh yang bisa mengomeli ayahnya  dan mengurus kesehatannya.

Bi Yeon mendesah cemas, San curiga, jangan-jangan ayahnya memang bertemu janda. Bi Yeon menyangkal,  bukan janda melainkan orang yang  mencurigaka, tapi sepertinya Tuan baik-baik saja. Ah, San yakin kalau wanita itu bukan janda makanya ayah agak canggung dan menolaknya.

San antusias membicarakan pasangan untuk Ayahnya. Bi Yeon memintanya untuk istirahat dulu. Tapi San tidak mau, dia ingin menemui Ibunya lebih dulu. Dia mau bilang pada Ibunya supaya Ibu tetap waspada.


Kalau begitu, Bi Yeon meminta dia meletakkan ranselnya di sini. Tidak mau, San akan menginap di kamar pelayan saja. Di sana ada banyak mata yang melihat. Belum berjalan keluar, San lagi-lagi bersin. Bi Yeon khawatir Nona Mudanya terserang flu, lebih baik menginap disana saja.

Kriuk!! Perut San lagi-lagi keroncongan. Dia merapalkan banyak daftar makanan dengan wajah melas dan bergumam ingin memakannya.


Rin duduk diatap kediaman keluarga San. Begitu melihat San, dia sigap bersembunyi dan diam-diam mengawasi San. San pergi ke sebuah ruangan, dia ke sana untuk memberi hormat pada Ibunya. Tak berselang lama, ia terisak sendirian di kamar.


Tak lama kemudian, Rin melihat Menteri Eun terburu-buru masuk ke ruangan itu untuk menemui San. Menteri Eun senang melihat putrinya sekarang sudah tumbuh besar. Ia memegang tangannya, kenapa tangannya sangat kasar? Apa seniornya menyuruh dia memotong kayu dan mencuci baju?

San tersenyum. Sekarang dia malah mengurus beberapa junior. Mereka bahkan tak butuh diperintah lagi sekarang, mereka akan melakukannya walau cuma dilihat. Menteri Eun mengapus air mata San, lalu kenapa anak sepertinya masih gampang menangis?

“Kau sudah semakin menua, Tuanku. Setiap hari aku merindukanmu.”

“Aku juga merindukanmu.” Mereka berdua pun berpelukan melepas rindu. Rin melihat bayangan keduanya dan terkejut melihat interaksi aneh mereka berdua.

 

Won memberi makan anjing, anjing itu makan dengan sangat baik. Dia cerita kalau dia juga punya teman yang seperti itu. Orang itu pasti akan mengeluh kalau melihatnya lagi. Mungkin di akan mengeluh, bagaimana bisa membuat janji tanpa menentukan tempat dan waktu? Tapi, bukankah dia sudah berbuat baik dengan datang kesana duluan?


Rin menyendiri diluar sambil memandangi kelopak bunga sakura yang berguguran. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki seseorang. Kontan Rin bersembunyi dibalik tiang dan menyiapkan pisaunya. Haciiihh! terdengar suara seseorang bersin. Rin pun tersenyum mengetahui orang yang datang itu tak lain adalah San.


San masuk ke ruang tamu. Won senang melihat kedatangannya, terpesona melihat San pakai baju wanita. San sih cuek, dia duduk kemudian memakan daging milik Won. Won menyindirnya, harusnya kalau orang memakan makanan orang lain, dia mengatakan ‘aku akan memakannya dengan baik’ kemudian mengucapkan ‘terimakasih’.

“Kejahatan apa yang kau lakukan?” Tanya San

“Kejahatan?” Won heran.

San yakin kalau sampai prajurit istana datang untuk mencarinya, kejahatan yang dia lakukan bukanlah kejahatan biasa. Won balik bertanya, lalu kenapa dia membantu seorang penjahat untuk kabur?


San hanya ingin membalas budi. Balas budi apa? Balas budi karena Won sudah menyampaikan kata-kata ‘Jangan menyimpan dendam pada siapapun dan selalu tersenyum seperti itu’. Won kaget karena San ternyata mengingatnya, lalu kenapa dia pura-pura tak mengenalnya?

Yah, San memang selalu mengingat dan berterimakasih atas itu. Membantunya kabur hari ini adalah untuk balas budi dan araknya adalah untuk bunga hutang budinya. Jadi, sekarang semunya sudah impas diantara mereka.

Dia mengaku kalau sekarang ini dia hidup dalam persembunyian dan tak ada yang tahu kalau dia pelayan yang waktu itu. Tapi Won malah datang. Won mengernyit, maksudnya mereka tak boleh bertemu lagi?


“Ya. Aku datang untuk mengatakan itu. Kalau sampai kau mencoba mencariku lagi dan berbicara tentangku maka..”

“Maka?”

“Mungkin... aku akan membunuhmu.”

Won tersenyum miris mendengarnya. Dia berkata kalau kelahirannya adalah sebuah kejahatan. Jadi, kalau San membunuhnya mungkin akan ada banyak orang yang menangis bahagia. Ia selalu memikirkan hal itu, mungkin kalau dia mati maka kematiannya adalah yang terbaik. Jika dia mati, hanya ada satu orang yang menangis sedih.

“Teman yang bersamamu?”
 
Benar. Karena itulah, Won belum bisa mati, dia khawatir membuat temannya menangis. Tapi kalau dia sudah membuat keputusan, ia akan meminta bantuan San untuk membunuhnya. San heran, memangnya kenapa?

“Mungkin aku tak akan terlalu marah kalau aku mati ditanganmu. Kewenangan untuk membunuhku, aku berikan padamu. Jadi, aku harus selalu melihatmu.”


Tanpa mereka sadari, Rin berdiri diluar ruangan dan mendengar semua pembicaraan mereka.

Bersambung ke episode 5

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon