Powered by Blogger.

Images Credit: MBC

Sinopsis The King Loves Episode 7


Anak panah yang ditembakkan Rin mengenai kudanya Won. Panik, Won langsung menghunus pedang sambil berlari ke arah Raja.

Jelas saja Raja semakin ketakutan. Tapi Won justru menggunakan pedangnya untuk melindungi Raja. Melihat tangan Rin agak berdarah dan panah yang membunuh kudanya Won, Raja tampaknya mulai mempercayai Won.

Tepat saat itu juga, para pengawal akhirnya datang dan langsung. Rin pun bergegas mengejar Moo Suk. Tapi para pengawal yang melihatnya lari, langsung mencurigainya dan mengejarnya.


Song In membawa San menjauh dari sana. San berusaha melawan tapi kalah kuat dari Song In. Song In terus menuntut identitasnya dan kesal karena dia jadi tak bisa melihat sesuatu gara-gara San. Itu adalah kejahatan pertama San.

San terlalu panik hingga tidak mencurigai maksud ucapannya dan terus berusaha memohon pada Song In untuk melepaskannya, dia buru-buru harus mengejar orang. Kalau Song In memberitahu tentang orang itu, dia bersedia menerima hukumannya nanti.

"Jadi, kau telah melakukan sebuah kejahatan?" Song In langsung mengayunkan belati itu untuk membunuh San.


Tapi tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Song In pun pergi. Rin lah yang datang dan langsung heran melihat San, sedang apa dia di sini. San balik tanya tentang pria berpakaian hitam dan membawa panah, apa Rin melihatnya.

Mendengar itu, Rin langsung menginterogasi San. Apa San tahu pria itu? Apa San melihat apa yang dilakukannya? Tiba-tiba terdengar suara terompet para prajurit istana. San langsung kabur sementara Rin hanya bisa diam karena para pengawal langsung menghunus pedang ke lehernya.


Rin pun dibawa menghadap Raja. Menteri Song langsung heboh menuduh Rin lah yang mencoba membunuh Raja dan Putra Mahkota. Raja santai, malah Permasuri Wonsung yang kesal, apa Rin sungguh ada di sana waktu itu.

Rin mengakuinya. Tapi saat Permaisuri tanya apakah Rin menembakkan panah itu, Won langsung membela Rin. Dia juga ada di sana waktu itu, tapi bukan dia yang menembak panah itu ke Raja. Rin tidak mungkin menyerangnya, Rin satu-satunya temannya.


"Mereka bilang kalau dia bersembunyi di sana."

"Apapun yang dilakukan Rin, itu atas perintahku."

Ucapannya jelas terlalu kontroversial sampai membuat permaisuri cemas. Seorang prajurit datang membawa dua buah panah yang digunakan untuk menyerang Raja dan Won itu, Kanselir Wang semakin gelisah karena mengenali panah itu. Kedua panah itu milik Putra Mahkota.


Rin dan Won semakin tegang mendengarnya. Jeon langsung semangat menyuruh Rin untuk mengakui kalau perbuatannya ini adalah perintah Putra Mahkota. Berpikir cepat, Won langsung merebut kedua anak panah itu dan tanya apakah Rin sudah menangkap pencuri kedua anak panah ini.

Rin cepat tanggap dan mengaku kalau dia menemukan seseorang yang mencurigakan, tapi dia kehilangan orang itu. Won mengklaim kalau dia sebenarnya sudah tahu kalau kedua anak  panahnya ini dicuri.

Makanya dia memerintahkan Rin untuk mencari pencurinya. Dia pikir mungkin pelakunya hanya ingin memberi peringatan. Tapi ternyata mereka berusaha membuat Raja mencurigainya dan membuat orang-orang yang setia pada Raja jadi saling mencurigai.


Semua orang tegang menunggu reaksi Raja. Entah apa yang Raja pikirkan. Tapi saat dia melihat luka di tangan Won, ia langsung berpaling ke Menteri Eun yang sontak memohon maaf dan menyatakan dirinya pantas mati.

Tapi Raja tak mempermasalahkannya, ia akan melanjutkan perburuannya. Tapi dia memperingatkan, jika ada panah lagi yang mengarah padanya maka dia akan menganggap Menteri Eun melakukan pengkhianatan dan seluruh keluarganya harus menanggung akibatnya.


Raja juga memutuskan untuk memberi Won waktu 7 hari untuk menangkap pelakunya. Ia lalu beranjak pergi, Menteri Song langsung heboh berusaha meminta Raja untuk menghukum Rin.

Tapi Raja malah balas mengomelinya, tidak mungkin Rin akan menembakkan anak panah kepadanya dan Won. Buat apa juga, biar dia jadi raja setelah membunuh mereka berdua? Ia bertanya langsung ke Rin, apa dia mencoba membunuh mereka demi menjadi raja? Rin menyangkal dan Raja mempercayainya.


Begitu Raja pergi, Permaisuri Wonsung menyatakan kalau Won sudah salah. Dan sekarang, Rin bukan lagi temannya putra Mahkota. Lagipula Raja tidak butuh teman, Raja hanya butuh bawahan dan musuh.

"Ibunda juga salah," balas Won. "Aku bukan Raja... lebih tepatnya, belum."


Kedua preman bekerja sama untuk mengambil jepit rambut dan menggunakannya untuk membebaskan diri. Tak lama kemudian, kedua pengawal mendengar suara gaduh dari dalam tenda. Tapi begitu masuk, mereka malah langsung diserang dengan ganasnya oleh kedua preman.


Rin mengomeli kebodohan Won, bagaimana bisa dia bilang bahwa semua yang Rin lakukan adalah atas perintah Won. Ada banyak orang yang berusaha menjatuhkan Rin dengan berbagai cara. Seharusnya Won tahu apa yang boleh dan tidak boleh dia katakan.

Won mulai kesal, dia tuh sudah menyelamatkan nyawa Rin, tahu. Jika bukan karenanya, Raja pasti sudah menghukum Rin.

"Karena itulah. Kenapa kau membela seseorang yang mungkin menembak Raja?"

"Apa kau yang menembak panah itu?"

"Lihatlah. Kau saja meragukanku."

"Aku tidak bilang kalau aku meragukanmu."

"Saudara kandungku sedang mengincar tahtamu, Yang Mulia."

"Itu kan kakakmu."

"Bagaimana bisa kau yakin kalau aku tidak akan melakukan hal yang serupa."


Won yakin. Karena pertama, keahlian Rin tidak main-main. Dia pernah ditembak dan lolos dua kali. Kedua, Rin juga pintar. Jika dia memang ingin membunuh mereka, Rin tidak akan melakukannya dengan cara yang bodoh.

Karena itulah dia tidak percya jika Rin yang menembakkan panah itu lalu tertangkap. Tapi yang tak disangkanya, Rin sendiri yang mengaku kalau memang dia yang menembakkan panah ke kudanya Won.


Tepat saat itu juga, prajurit memberitahu Rin kalau kedua pencuri itu melarikan diri. Rin sontak panik begitu mendapati kedua pengawal yang sekarang diikat dalam keadaan tel*njang. Menyadari kedua pencuri memakai seragam prajurit, Rin memerintahkan prajurit untuk membawa semua penjaga padanya.

Won tak peduli dan terus saja merecokinya, apa maksud Rin tadi. Rin memberitahunya kalau kedua orang itu yang kabur itulah yang menjual kedua anak panah itu, hanya mereka satu-satunya petunjuk mereka... Ah, ada satu orang lagi. Rin pun langsung pergi.


San terus berkeliaran dengan panik mencari keberadaan si tato ular itu. Melihat seorang pria membawa belati, dia langsung mencurinya. Dia akhirnya melihat seorang pria berpakaian hitam di depannya. San langsung menghampirinya, tapi ternyata dia bukan si tato ular.

Dia hendak pergi lagi, tapi beberapa prajurit istana menghadangnya, curiga karena San bawa senjata dan langsung menangkapnya. Untunglah Koo Hyung datang dan menyeretnya pergi dari sana.


Won dan Rin berkeliaran mencari keberadaan San. Won memutuskan tanya ke salah satu pelayan Menteri Eun dan berkata kalau dia sedang mencari salah satu pelayan rumah ini. Masalahnya, Won tidak tahu namanya.

Dia mencoba menggambarkan ciri-cirinya, tapi gambarannya tentang San ambigu sampai pelayan bingung sendiri mendengarnya. Pokoknya gadis itu terlihat aneh. "Tak peduli kapanpun aku melihatnya, dia terlihat aneh. Kau tidak tahu siapa dia?"

Pelayan bingung harus jawab apa, sama sekali tidak bisa memikirkan siapapun dengan ciri-ciri seambigu itu. Tanpa mereka sadari, pengawal Menteri Eun lewat di belakang mereka sambil mengawal San. Rin sempat menoleh, tapi tetap saja dia tidak melihat San.


Malam harinya, Bi Yeon membawakan bungkusan pakaiannya San dan sejumlah uang. Menteri Eun memaksa San untuk kembali ke gunung dan sebaiknya dia jangan kembali lagi untuk sementara waktu.

San ngotot mau tinggal sedikit lebih lama. Dia bertekad mau menangkap si pembunuh itu. Tujuh tahun lamanya, akhirnya dia menemukan si penjahat itu. Walaupun dia tidak melihat wajahnya, tapi San yakin bisa mengenalinya karena pria itu punya tato di lengannya. Penjahat itu juga yang menembakkan panah pada Raja.

Menteri Eun memotongnya dengan cepat dan mengingatkan San abhwa si penjahat itu dan siapapun orang yang ada di belakangnya, bukan sekedar penjahat biasa. Mereka adalah pemberontak yang tengah berusaha mengambil alih negeri ini.

"Itu sebabnya kita harus menangkapnya. Aku harus memberitahu pejabat? Biar mereka bisa membantu kita."

"Kita tidak akan melakukan apapun!" Tegas Menteri Eun. "Kita adalah pedagang. Siapapun rajanya atau orang yang mengincar tahta, bukan urusan kita. Kita hanya menginginkan hasil. Balas dendam pun seperti itu. Jika kerugian lebih besar daripada keuntungan maka sebaiknya menyerahlah untuk balas dendam."

"Meskipun kita menemukan orang yang membunuh Ibu?"

Lebih baik San melupakannya saja. Menteri Eun lalu memerintahkan Koo Hyung untuk membawa San kembali ke gunung besok, jangan ditunda lagi. San sungguh tak percaya mendengarnya.


Beberapa saat kemudian, Koo Hyung melapor ke Menteri Eun bahwa Jeon sepertinya tengah mengincar posisi Putra Mahkota. kabarnya, jumlah tentara yang diam-diam mereka latih, terus berkembang. Dan karena itulah Jeon membutuhkan kekayaa dan kekuasaan Menteri Eun.

Apa Menteri Eun berencana menikahkan Bi Yeon dengan Jeon untuk menggantikan San. Menteri Eun merasa itu akan berbahaya. Ia tahu betul bahwa si sisi Jeon, ada orang yang mirip ular (Song In). Orang itu pasti bisa mengetahui jati diri Bi Yeon dengan cepat. Yang penting sekarang, bawa saja San pergi.


Bi Yeon menyarankan San untuk menangis saja kalau ingin menangis. Tapi San ngotot kalau dia tidak menangis. Baiklah, kalau begitu Bi Yeon mau tanya. Apa Wang Jeon itu tampan seperti kata orang. Apa kepribadiannya sesuai dengan ketampanannya.

San bisa sedikit tertawa mendengarnya, memangnya kenapa? Bi Yeon mau menikahinya? Katanya Bi Yeon tidak mau. Tentu saja Bi Yeon mau menikahinya seandainya Jeon orang biasa. Jika dia orang hebat maka San lah yang harus menikah dengannya.

"Kurasa kau tidak bisa jadi putri seorang pedagang. Bagaimana bisa kau membuat kesimpulan seperti itu?" dengus San.

Bi Yeon dengar, keluarga Susagong adalah tertinggi selanjutnya di antara keluarga kerajaan, selain Raja sendiri. Kalau San menikah dengan Jeon, maka dia tidak akan perlu lagi tinggal di pegunungan seperti binatang buas.

Jadi Jeon itu seperti itu seperti apa? Apa San berhasil menemuinya? Tidak, gara-gara diganggu seseorang. Orang yang suka memberi sesuatu.


Won mondar-mandir sambil berusaha mengingat-ingat nama San. Dia memikirkan berbagai kemungkinan nama-nama bunga karena dia yakin nama San adalah nama bunga, tapi tak ada satupun yang cocok.

Rin sendiri punya ide untuk menemukan San melalui gambar wajahnya. Dia pun mencoba menggambar wajah San, tapi gambarnya ancur banget. Wkwkwk! Tapi dia tetap pede menyerahkan gambar itu ke Jin Gan dan menyuruhnya untuk mencari gadis itu dengan gambar ini.


Tak lama kemudian, Rin mendapati Won sedang ketawa gaje. Won mengakui kalau dia sedang memikirkan San, dia selalu tertawa setiap kali memikirkan wanita itu. Haruskah dia membuat sangkar burung besar di kediamannya dan membiarkan San tinggal di sana. Dengan begitu, dia akan bisa tertawa setiap hari saat bertemu dengannya.

Rin tampak tak senang mendengarnya, "Ada burung yang tidak bisa diam di dalam sangkar."

"Bagaimana kalau aku memberinya seluruh bukit agar dia tidak merasa dikurung? Aku akan menanam pohon hijau dan merah di mana-mana dan menanam bunga liar."

Memikirkan bunga liar, seketika itu pula Won ingat dengan nama San, namanya So Ah. Dia benar-benar senang bisa mengingatnya.

 

Keesokan harinya, Koo Hyung mengawal San dan tak terperdaya sedikit pun saat San berusaha melarikan diri. San pura-pura sakit perut dan ngotot mau masuk ke roko obat. Koo Hyung terpaksa mengizinkannya, tapi barang bawaan San harus ditinggal.

San sontak kesal. Tapi dia menurutinya lalu bergegas masuk ke toko obat dan keluar lewat pintu belakang. Dia baru saja keluar dari gang saat Koo Hyung tiba-tiba menghadangnya. San sontak melarikan diri ke arah lain sambil jejeritan seolah dia dikejar penjahat.


Saat melihat sebuah tandu seorang bangsawan, dia langsung menghampirinya sambil meminta pertolongan. Tandu itu ternyata milik Wang Dan, San pun langsung masuk ke sana sambil mengklaim kalau orang-orang itu mau menjualnya.

Koo Hyung mencoba menjelaskan kalau San adalah pelayan Tuan mereka. Tapi San berbohong bilang kalau dia tidak mengenal mereka. Dan jelas lebih mempercayai San dan menegaskan kalau San akan ikut dengannya. Jika mereka menginginkan wanita ini, maka Tuannya harus datang sendiri menjemputnya di rumah mereka.


Terpaksalah Koo Hyung harus melepaskannya. Dan heran, apa yang San lakukan di sini. Dia mau mencari orang, tapi sebelum itu, dia harus mencari pria lain dulu. Salah satu pria yang ada di rumah Dan waktu itu, tapi dia tak tahu siapa namanya. Apa Dan tahu dimana dia bisa menemukan pria itu?


Dan pun membawa San ke tempatnya Won. Kedua pengawal bayangan sampai melongo melihat kedua wanita itu datang. Jang Ui dan Jin Gan pun segera melaporkan kedatangan kedua wanita itu ke Won.

Dan datang membawakan sup herbal karena kemarin Putra Mahkota terluka saat berburu kemarin. Mendengar Putra Mahkota ada di sini, San berniat mau pergi saja. Tapi Dan melarangnya pergi dan meyakinkan kalau Putra Mahkota bukan orang yang menakutkan. Ah, San langsung mengerti kenapa Dan membuatkan sup herbal itu untuk Putra Mahkota.


Won malas mendengar Dan yang datang. Tapi begitu mendengar nama San, dia sontak keluar kamar. Tapi apakah menurut mereka, penampilannya kelihatan seperti Putra Mahkota. jang Ui bilang tidak sama sekali, tapi Won malah tersinggung. Apa maksudnya?

"Apa maksudmu aku tidak pantas jadi Putra Mahkota?"

Bersambung ke episode 8

1 comments:

Mohon pencerahaannya. Song In ini posisi nya apa ya? Kok dia ada di keluarga kanselir Wang. Trus kayanya suara nya paling vokal

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon