Powered by Blogger.

Images Credit: Hunan TV

Sinopsis Rush to the Dead Summer Episode 1


Bel terdengar berbunyi di sebuah sekolah SMA. Hari ini adalah hari perpisahan murid-murid kelas 3 tahun ke-3. Bu Guru Wen Ren masuk ke kelasnya untuk melakukan absen terakhir murid-muridnya. Tapi ia melihat tak ada satupun yang tampak bersemangat. Mereka menunduk sedih dengan mata berkaca-kaca akan perpisahan ini.

Ia mencoba membuat mereka bersemangat kembali dengan mengatakan candaan tentang novel terakhir Sir Arthur Conan Doyle. Namun, Bu Wen Ren juga sebenarnya sedih karena akan berpisah dengan mereka.


Ia lalu mengabsen murid-muridnya satu per satu. Dua diantara murid-murid itu adalah Li Xia (Zheng Shuang) dan yang duduk di belakangnya adalah Fu Xiao Si (Cheney Chen). Mereka benar-benar berusaha keras menahan air mata Bu Wen Ren memanggil nama-nama mereka.

Bu Wen Ren pun berusaha tetap tegar dan tersenyum lebar saat ia mengucap selamat untuk kelulusan mereka semua, sekarang mereka bebas. Tapi Song Ying Ying tak bisa lagi menahan tangisnya dan langsung maju menghampiri Bu Wen Ren.


Lalu satu per satu, semua murid pun maju memeluk ke Bu We Ren dengan berlinang air mata. Tapi kemudian mereka membuka jalan untuk Li Xia dan Xiao Si yang maju bersama dengan membawa sebuah kue bertuliskan, "Bu Wen Ren, kami mencintaimu."

"Bu Wen Ren, kau adalah wali kelas terbaik yang pernah kami miliki." Ujar Li Xia.

"Bu Wen Ren, kami mencintaimu!" Ucap mereka serempak.

Bu Wen Ren sungguh terharu dengan semua ini. Ia pun meniup lilinnya dan sontak semua orang bersorak dan bersuka cita merayakan kelulusan mereka ini. Lalu terdengar suara Li Xia yang menarasikan saat itu adalah musim panas tahun terakhir sekolah SMA mereka.


"Segalanya sama seperti biasanya, sinar mentari yang hangat, bau udara (musim panas), buru-burung berterbangan ke dalam hutan. Tak ada yang berubah, tapi perpisahan kami sudah semakin dekat. Saat itu, semua orang sedih sekaligus antusias. Masa depan perlahan mulai membentang. Kami belum percaya pada takdir."

"Kami mungkin lulus hari ini, tapi kami akan selalu menjadi murid SMA Qianchuan." Narasi Xiao Si.


Malam harinya, Xiao Si bertanya Li Xia mendaftar di universitas mana. Li Xia mengaku tak yakin. Xiao Si berkata kalau dia pasti akan senang jika mereka masuk universitas yang sama. Li Xia tersenyum mendengarnya, lalu mengalihkan perhatiannya pada teman mereka di sebelahnya, Lu Zhi Ang (Bai Jing Ting).

Li Xia mengomentari pencapaian Zhi Ang dan bagaimana selama ini dia melakukannya secara diam-diam dan merahasiakannya dari mereka. Zhi Ang mengaku kalau dia ingin mencapai cita-cita ibunya.

"Ibumu pasti akan sangat bangga," ujar Li Xia.


Teman mereka yang satu lagi, Cheng Qi Qi, berlari penuh semangat dengan membawakan lentera dan mengajak semua orang untuk menuliskan harapan masing-masing pada lentera itu. Orang bilang, jika mereka menulis harapan pada lentera lalu menerbangkannya ke angkasa maka harapan mereka akan terkabul.


Satu per satu, mereka menulis harapan-harapan mereka. Qi Qi berharap mereka akan bersama kembali cepat atau lambat. Zhi Ang berharap mereka semua akan baik saat dia tak di sini. Li Xia berharap mereka akan memiliki lebih banyak tahun-tahun bersama. Dan Xiao Si berharap musim panas ini bisa selamanya dan selalu sama. Bersama-sama, mereka menerbangkan lentera itu ke angkasa.

"Aku akan merindukan musim panas di Qianchuan," ujar Li Xia.

"Kalau kau merindukannya, maka kembalilah." Ujar Xiao Si.
 
Flashback ke tahun pertama mereka sekolah...


Hari itu adalah hari pertama mereka masuk sekolah. Fu Xiao Si dan Lu Zhi Ang yang merupakan teman sejak kecil, bertaruh akan siapa diantara mereka yang akan tiba di sekolah duluan dengan sepeda. Yang kalah harus menggambar 5 buah patung pahatan.

Awalnya, Xiao Si berhasil mendahului Zhi Ang. Tapi kemudian, Zhi Ang main curang dengan naik taksi. Jelas saja Xiao Si jadi ketinggalan. Tapi di tengah jalan, taksinya malah terjebak macet. Pfft! Terpaksalah akhirnya Zhi Ang harus menaiki sepedanya lagi.

 

Li Xia baru tiba di halte dekat sekolah. Dia sedang melintas saat Zhi Ang meluncur tepat ke arahnya. Tapi untunglah Zhi Ang cukup cekatan menghindarinya. Malah Xiao Si yang gagal menghindar dan jadilah mereka tubrukan dan keduanya sama-sama terjatuh ke aspal.

Mereka buru-buru mengambili kertas-kertas mereka yang berhamburan. Xiao Si dengan dinginnya menyalahkan Li Xia dan saat Li Xia meminta maaf, dia malah ceramah tentang teori kecelakaan yang kebanyakan disebabkan karena salah penilaian situasi di jalan.


Zhi Ang sengaja menunggu Xiao Si di depan gerbang sekolah dan Xiao Si dengan santainya terus melaju dengan sepedanya melewati gerbang sekolah lalu menyatakan dirinya menang. Soalnya dialah yang melewati gerbang sekolah lebih dulu.

 

Cheng Qi Qi yang merupakan anak orang kaya, diantarkan ke sekolah oleh kedua orang tuanya. Tapi sepanjang perjalanan, Ayahnya terus mencerewetinya untuk fokus sekolah dan jangan main-main terus apalagi sampai mempermalukan keluarga mereka.

Qi Qi lama-lama jadi sebal. Saat dia melihat Li Xia di jalan, dia langsung keluar dan bersikeras mau jalan sama Li Xia saja. Begitu Li Xia memastikan kedua orang tuanya pergi tak lama kemudian, Qi Qi pun langsung bersorak, akhirnya dia bisa bebas dari pengawasan orang tuanya. Mereka pun berjalan bergandengan tangan melewati gerbang sekolah.


Setelah mendapatkan seragam mereka, para murid baru pun mulai menata barang-barang mereka kamar asrama. Li Xia baru selesai ganti seragam sementara ketiga teman asramanya sudah keluar duluan.

Dia lalu meninggalkan masing-masing satu kue di meja belajar masing-masing sebagai hadiah perkenalan untuk ketiga teman asramanya. Dan baru saat itulah dia menyadari dokumen yang diambilnya di jalan tadi, sepertinya bukan miliknya.


Tapi dia tak sempat memikirkannya lebih jauh karena saat itu juga, terdengar pengumuman yang memanggil semua murid baru untuk berkumpul ke lapangan. Li Xia pun pergi dengan membawa kertas itu.

Qi Qi tidak sekelas dengan Li Xia tapi dia malah nekat keluar dari barisan kelasnya dan menghampiri Li Xia saat Kepala Sekolah sedang pidato. Dengan ceria dia memperkenalkan dirinya pada teman-teman sekelasnya Li Xia dan bagi-bagi permen untuk mereka.

Li Xia bercerita kalau Qi Qi adalah temannya sejak kecil. Satu hal yang paling membuat Li Xia iri dalam diri Qi Qi adalah dia orang yang mudah bergaul dengan siapa saja dan tak butuh lama bagi siapapun untuk menyukai Qi Qi.

Sementara Kepala Sekolah pidato, Li Xia dan Qi Qi malah sibuk bercanda sendiri yang sontak mendapat pelototan tajam dari Bu Wen Ren. Li Xia langsung diam. Tapi Qi Qi malah mengoceh terus sampai Li Xia harus menutup mulutnya dan membisikinya kalau bu guru itu adalah wali kelasnya dan dia guru yang menakutkan.


Setelah Kepala Sekolah selesai pidato, sekarang giliran perwakilan murid baru yang dipanggil ke atas panggung, dan perwakilan murid baru yang terpilih itu adalah Fu Xiao Si. Para murid perempuan sontak menjerit-jerit heboh mendengar nama Xiao Si.

Cuma Li Xia dan Qi Qi yang tidak ikutan heboh. Li Xia malah lucu mendengar nama Xiao Si, dan Qi Qi malah tidur di pundaknya Li Xia.

Tapi saat Xiao Si membuka dokumen pidatonya, dia malah baru sadar kalau itu bukan naskah pidatonya. Dia langsung sadar kalau kertas-kertasnya pasti tertukar dengan Li Xia saat mereka tubrukan tadi.

Xiao Si jadi bingung harus bagaimana. Terpaksa dia nekat naik panggung tanpa naskah. Tapi ujung-ujungnya dia malah membeku di tempat dengan tegang. Saat itulah, Li Xia akhirnya sadar kalau dokumen di tangannya itu adalah naskah pidatonya Xiao Si.

Para murid dan guru mulai kebingungan saat Xiao Si masih saja diam. Terlalu tegang untuk memikirkan sesuatu, Xiao Si akhirnya berkata singkat. "Tidak banyak yang harus kukatakan. Aku percaya bahwa yang paling penting bagi murid adalah fokus dengan nilai-nilai mereka. Terima kasih."

Dia langsung turun panggung. Dan biarpun pidatonya nggak banget, tapi para murid-murid perempuan tetap jejeritan heboh setengah mati mengagumi betapa kerennya Xiao Si.


Begitu upacara penerimaan murid baru selesai, Xiao Si pun langsung dipanggil menghadap Pak Dekan Mao yang langsung mendampratnya panjang lebar dan menuntut apa alasan ketidaksiapan Xiao Si. Tapi Xiao Si tetap lempeng aja dan santai berkata kalau dia tidak punya alasan.

Li Xia yang merasa bersalah, diam-diam menguping dari luar dan tetap menunggu di sana sampai Xiao Si keluar. Dia meminta maaf karena tak sengaja mengambil naskah pidatonya dan menawarkan diri untuk menjelaskan pada Dekan Mao. Tapi Xiao Si menolak dengan muka lempengnya, lalu pergi.


Melihat itu, Zhi Ang menjelaskan pada Li Xia kalau Xiao Si itu memang orang yang sarkastis dan ceplas-ceplos, tapi dia tidak bermaksud jahat kok.


Kedua sahabat lalu keluar dan memutuskan makan siang di sebuah kedai mie yang lagi promosi. Zhi Ang langsung menyinggung masalah pidato tadi lalu menggodai Xiao Si dengan bergoyang-goyang gaje ke kanan dan ke kiri.

"Ada apa denganmu? Lupa minum obat?" Kesal Xiao Si.

"Hei! Aku sudah mengenalmu lebih dari 10 tahun. Kau selalu berakting cool setiap hari. Ini pertama kalinya aku melihatmu mempermalukan dirimu sendiri di hadapan publik. Kau bisa gugup juga, yah?"

"Kapan kau pernah melihatku gugup?" Sangkal Xiao Si.

"Kau memegang telingamu saat kau gugup (Saat dia di tegang di atas panggung tadi). Kau pikir aku buta apa?" Kata Zhi Ang. Kesal, Xiao Si langsung menyodok hidung Zhi Ang pakai sumpit.


Li Xia dan Qi Qi makan siang di kantin. Qi Qi tak buang waktu untuk memberikan semua info yang didapatnya hari ini pada Li Xia. Dia berkata kalau dia sekolah ini adalah 3 peringatan supranatural.

Pertama, jangan duduk di meja barisan pertama kantin itu. Soalnya itu dijuluki 'Kursi Putus'. Siapapun yang duduk di sana, pasti akan putus. Kedua, jangan masuk ke studio seni tengah malam, katanya angker.

Dan yang ketiga, jangan kontak mata dengan guru wali kelas berwajah putih pucat (Bu Wen Ren) lebih dari tiga detik. Katanya bisa terjadi sesuatu yang buruk. Li Xia dengan sarkastis memberitahu Qi Qi untuk jadi dukun saja nanti setelah dia lulus. Tapi Qi Qi tetap ngotot mau mempercayai semua peringatan itu biar aman.

Li Xia lalu bertanya, apa yang akan Qi Qi lakukan jika dia bertemu lagi dengan orang aneh. Tapi Qi Qi malah jadi mengira ada yang membully Li Xia. Siapa orangnya? Kasih tahu dia, biar dia yang membela Li Xia. Tiba-tiba dia ingat ada janji makan siang bareng dengan teman-teman sekelasnya. Dia pun pergi meninggalkan Li Xia.


Selesai makan siang, Li Xia duduk di bangku lapangan lalu curhat di buku diary-nya bahwa sekarang dia sudah menjadi murid SMA. Dia lalu melukis pohon besar yang ada di sebelahnya lalu memejamkan mata sejenak. Tapi ujung-ujungnya dia malah ketiduran.


Bel berbunyi tak lama kemudian dan Bu Wen Ren menyapa murid-murid barunya. Tapi dua orang murid malah ngobrol sendiri dan mengejek namanya. Kesal, Bu Wen Ren langsung melempar kapur ke mereka tanpa ampun.

Li Xia akhirnya bangun tak lama kemudian dan langsung panik menyadari dirinya sudah terlambat masuk kelas. Bu Wen Ren sedang ceramah tentang ketepatan waktu, tepat saat Li Xia baru tiba di sana.

Bu Wen Ren menjadikan Li Xia sebagai contoh dan berkata bahwa siapapun yang datang terlambat seperti Li Xia maka dia harus datang ke kantor dan membaca pelajaran minggu depan.


Xiao Si dan Zhi Ang juga datang terlambat. Tapi Bu Wen Ren sama sekali tak memarahi mereka dan mempersilahkan mereka duduk. Dan baru setelah itu, Bu Wen Ren mempersilahkan Li Xia duduk juga.

Apa yang dilakukannya memang tidak adil. Tapi Bu Wen Ren dengan santainya memberitahu mereka bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya keadilan sempurna. Mereka bisa mendapatkan perlakuan istimewa seperti Xiao Si dan Zhi Ang, hanya jika mereka bisa menjadi juara satu dan dua setiap tahun seperti Xiao Si dan Zhi Ang. (Whoa, keren!)

Seorang gadis heboh sendiri saat Zhi Ang berpaling ke arahnya, mengira Zhi Ang menatapnya padahal dia sedang melihat jam dinding.


Teman sebangkunya Li Xia, Cheng Wen Jing, dengan antusias memberikan sebuah kertas berisi informasi tentang dua cowok cakep palig populer di sekolah yang duduk di belakang mereka itu.

Dia memberitahu kalau kedua cowok itu adalah sosok paling berpengaruh di sekolah. Lu Zhi Ang adalah yang populer diantara para cewek. Hobinya tidur, terutama di musim dingin.

Sementara Fu Xiao Si adalah murid yang paling direkomendasikan divisi bakat dan seni sekolah ini. Dia tampan dan berbakat. Penasaran, Li Xia pun menoleh ke Xiao Si tepat saat Xiao Si balasmenatapnya.

"Astaga, si Raja muka batu itu lagi." Gerutu Li Xia dalam batinnya.


Zhi Ang lebih ramah dan menyapa Li Xia. "Namamu bagus," puji Zhi Ang sebelum kemudian tidur padahal Bu Wen Ren sudah memulai pelajaran.

Bersambung ke episode 2

4 comments

Wah seru kaya nya d tunggu lanjutan nya,semangt thor bikn sinop nya.

Wah seru kaya nya d tunggu lanjutan nya,semangt thor bikn sinop nya.

Di rnggu unni klnjutannya faighting........😀😀😀😀

Di tnggu klnjutannya unni faighting........😀😀😀😀

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon